Perintah Ketiga

Minggu Ketiga Puluh dalam Masa Biasa [A]

25 Oktober 2026

Matius 22:34-40

Yesus mengajarkan dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat 22:37–39). Namun, tersirat di dalam perintah kedua tersebut sebuah kebenaran yang sangat penting, yakni supaya dapat mengasihi orang lain secara benar, kita harus terlebih dahulu mengasihi diri sendiri. Dalam pengertian inilah, kasih yang benar terhadap diri sendiri berfungsi sebagai perintah utama yang ketiga. Namun, apa sebenarnya arti mengasihi diri sendiri, dan apakah kita sudah tahu cara melakukannya dengan benar?

Santo Thomas Aquinas mendefinisikan kasih sebagai kehendak untuk mengusahakan kebaikan bagi orang lain (Summa Theologiae, I-II, q. 26, a. 4). Definisi ini berlaku juga bagi diri kita sendiri: kasih terhadap diri sendiri adalah kehendak untuk mengusahakan kebaikan sejati bagi diri kita sendiri. Keinginan mendasar untuk hidup dan menjaga kesejahteraan diri merupakan bukti nyata dari kasih untuk diri sendiri. Aquinas menekankan bahwa kasih bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah tindakan kehendak—sebuah komitmen yang teguh untuk bertindak. Berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat yang cukup merupakan bentuk nyata dari kasih terhadap diri sendiri karena semua itu meningkatkan kesejahteraan fisik kita. Bahkan ketika rasa malas muncul, kita perlu menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih tindakan-tindakan ini demi kebaikan diri sendiri.

Karena manusia lebih dari sekadar makhluk biologis, pola makan yang sehat dan olahraga baru memenuhi satu aspek dari kodrat kita. Sebagai makhluk berakal budi yang diciptakan oleh Allah, kita memiliki kapasitas untuk membangun masa depan yang bermakna. Kita menginvestasikan waktu bertahun-tahun dan sumber daya yang besar dalam pendidikan karena kita menyadari bahwa pertumbuhan intelektual memungkinkan kita untuk memperbaiki karakter dan menjalani hidup yang lebih bernilai. Oleh karena itu, mencari pengetahuan dan mengembangkan diri merupakan ekspresi otentik lainnya dari kasih terhadap diri sendiri.

Namun, pada tingkat yang paling mendasar, kita tidak hanya terdiri dari tubuh, melainkan juga jiwa yang kekal. Akibatnya, kebaikan tertinggi kita tidak terletak di dunia yang fana ini, melainkan dalam kehidupan kekal bersama Allah. Mengasihi diri sendiri berarti menghargai martabat luhur kita ini dengan menyadari bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27) serta diciptakan untuk kekekalan. Kita juga perlu menolak apa pun yang merendahkan martabat tersebut.

Sebaliknya, terlalu terpaku pada keinginan duniawi—seperti kekayaan, ketenaran, kesenangan jasmani, atau kesombongan—hingga merugikan orang lain, merusak lingkungan, atau mengorbankan integritas moral kita merupakan penyimpangan dari kasih terhadap diri sendiri. Sungguh tidak bijaksana menukar kebaikan abadi dengan hal-hal yang bersifat sementara, atau mengorbankan hubungan kita dengan Allah demi kesenangan duniawi yang sesaat.

Oleh karena itu, memelihara dan melindungi jiwa melalui praktik-praktik rohani bukanlah hal sekunder, melainkan kebutuhan yang sangat penting. Ekaristi bukanlah sekadar tradisi keluarga yang rutin atau kewajiban yang dipaksakan, melainkan santapan rohani yang sejati bagi jiwa kita. Doa jauh lebih dari sekadar tanda salib yang tergesa-gesa sebelum makan; doa adalah persekutuan yang hidup dengan Allah yang menjadi napas bagi jiwa kita. Demikian pula, Sakramen Tobat bukanlah sekadar mencari-cari kesalahan, melainkan sarana penyembuhan bagi jiwa kita yang terluka.

Pada akhirnya, kasih yang benar terhadap diri sendiri menjadi fondasi yang penting untuk mengasihi sesama. Tanpa memahami apa yang benar-benar baik bagi kesejahteraan fisik dan rohani kita sendiri, kita tidak akan dapat mengusahakan kebaikan sejati bagi orang lain secara efektif. Kasih yang benar terhadap diri sendiri ini juga menuntun kita secara langsung kepada kasih Allah, di mana kebaikan kita yang tertinggi dan utama terpenuhi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita mempraktikkan kasih yang benar terhadap diri sendiri dengan menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan rohani kita, ataukah kita puas hanya dengan kepuasan duniawi yang sementara? Seberapa efektifkah kita memanfaatkan kebiasaan sehari-hari, doa, dan sakramen untuk menyegarkan jiwa serta mempersiapkan diri bagi kehidupan kekal? Dengan cara apa kasih yang lebih dalam dan sehat terhadap diri sendiri dapat mengubah cara kita mengasihi sesama dan Allah?

Leave a Reply