Hari Raya Para Kudus
1 November 2026
Matius 5:1-12
Hari ini, kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Orang-orang kudus adalah mereka yang telah mendahului kita dan kini hidup bersama Allah di surga. Beberapa di antara mereka mungkin kita kenal dengan baik, seperti Santo Fransiskus dari Assisi, Santo Padre Pio, dan Santa Katarina dari Siena; namun, ada jutaan orang kudus lain yang tidak kita kenal, yang terus mendoakan kita. Kata “kudus” sendiri berhubungan dengan kata Ibrani “kadosh”. Namun, pertanyaannya, mengapa mereka yang berada di surga disebut kudus, dan apa sebenarnya arti menjadi kudus itu?

Sering kali, kita mengaitkan kekudusan dengan kebaikan moral, keindahan estetis, atau kesalehan religius. Meskipun kaitan-kaitan tersebut benar, hal itu belum sepenuhnya mencakup pemahaman alkitabiah mengenai konsep kekudusan. Dalam bahasa Ibrani, kata untuk kudus adalah kadosh, yang terutama berkaitan dengan Allah sendiri. Karena Allah sebagai Pencipta pada dasarnya berbeda dari seluruh ciptaan, kekudusan merujuk pada keadaan-Nya yang terpisah dari segala sesuatu yang lain. Kuasa, keagungan, dan kemuliaan-Nya berada jauh melampaui makhluk ciptaan mana pun.
Di antara berbagai sifat Allah, kekudusan tampak sangat menonjol dalam Kitab Suci. Pertama, “kudus” adalah satu-satunya sifat Allah yang diulang tiga kali secara berturut-turut dalam Kitab Suci: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam…” (Yes 6:3; Wahyu 4:8). Dalam bahasa Ibrani kuno, pengulangan sebuah kata sebanyak tiga kali merupakan bentuk penekanan tertinggi dan bahkan mutlak. Alkitab tidak pernah mengatakan “Allah adalah kasih, kasih, kasih” atau “Allah adalah kuasa, kuasa, kuasa.” Kedua, karena kadosh berarti “dipisahkan” atau “menjadi milik Allah secara khusus,” maka kekudusan menjadi sifat yang melandasi semua sifat Allah lainnya. Kasih-Nya adalah kasih yang kudus, keadilan-Nya adalah keadilan yang kudus, dan kuasa-Nya adalah kuasa yang kudus.
Meskipun kekudusan menunjukkan perbedaan mutlak antara Allah dan kita, kabar baiknya adalah Allah kita bukanlah Allah yang jauh atau terisolasi. Ia berkehendak untuk membagikan kemuliaan dan kebaikan-Nya kepada ciptaan-Nya, dan salah satu cara mendasar bagi-Nya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menjadikan makhluk ciptaan-Nya kudus. Proses ini disebut pengudusan (kadang juga disebut konsekrasi), di mana kita dipisahkan dari dunia untuk menjadi milik Allah sepenuhnya.
Pemahaman mengenai kekudusan ini sanggatlah penting. Para kudus berada di surga bukan karena mereka secara alami lebih baik, lebih benar secara moral, atau lebih saleh daripada orang lain. Para kudus berada di surga karena Allah yang Mahakudus memanggil mereka untuk ambil bagian dalam kekudusan dan sukacita-Nya, serta menguduskan mereka melalui rahmat-Nya. Pada saat yang sama, para kudus tidak sekadar menerima rahmat ini secara pasif lalu berdiam diri. Mereka secara aktif menyambut panggilan tersebut dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah.
Kita pun dipanggil untuk menjadi kudus. Faktanya, tujuan akhir kita hanya memiliki dua kemungkinan: menjadi orang kudus dan hidup bersama Allah, atau menolak kekudusan dan tetap terpisah dari-Nya. Karena telah dikuduskan melalui baptisan, kita tidak boleh tinggal diam, melainkan harus hidup secara aktif bagi Allah, sebagaimana telah diteladankan oleh para kudus di surga.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Manila
Pertanyaan Refleksi:
Bagaimanakah kita secara aktif membiarkan kasih karunia Allah memisahkan kita dari dunia dan mengubah kehidupan kita sehari-hari? Dalam hal apa kita masih sering terjebak mengukur kehidupan rohani hanya berdasarkan usaha moral pribadi, alih-alih bersandar pada panggilan kudus Allah? Langkah nyata apa yang dapat kita ambil hari ini untuk berhenti berdiam diri dan lebih sungguh-sungguh menghidupi panggilan baptisan kita menjadi orang kudus?
