Mewartakan Iman

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [12 Agustus 2018] Yohanes 6: 41-51

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 48 Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

faith1Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”

Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunistas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum dan dia mengatakan, ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke Gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan, saya sendiri memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sanget berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka menjadi pewartaan yang terbaik dan paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa serta berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka, di mana saya berdoa dengan semua iman saya sebab saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap misa, kita menerima rahmat dan ditantang luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup? Apakah iman kita mampu memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amin

Minggu ke-18 Pada Masa Biasa [5 Agustus 2018] Yohanes 6: 24-35

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29)

amen 2Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kami dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebut lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, ada juga beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin dari pada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!

Amin adalah kata yang sederhana namun sangat kuat. Amin menunjukkan penegasan dan persetujuan kita yang kuat terhadap sesuatu. Ini adalah manifesto paling ringkas dari iman kita. Amin adalah bahasa alkitabiah, dan sebenarnya, ini berasal dari kata Ibrani, yang berarti “Sungguh!” Atau “Terjadilah!”. Sangat menarik untuk dicatat bahwa penggunaan awal kata amin dalam Alkitab adalah untuk menegaskan kutukan dan hukuman (lihat Bil 5:22; Ul 27:15). Syukurlah, Kitab Mazmur mengajarkan kita untuk menggunakan amin untuk menegaskan berkat Tuhan. Yesus sendiri suka mengatakan Amin [walaupun dalam alkitab Bahasa Indonesia kata ‘Amin’ diganti dengan kata ‘sesungguhnya’). Ia menggunakan amin untuk menegaskan kebenaran dan kuasa firman-Nya (lihat Mat 5:18; Mat 8: 5). Ada pergeseran radikal di sini. Berbeda dengan praktik biasa untuk menegaskan berkat Tuhan, Yesus mengatakan amin pada kata-kata-Nya sendiri. Ini karena kata-kata Yesus adalah berkat Tuhan. Dengan demikian, belajar dari tradisi Alkitab, kita mengatakan amin untuk menegaskan berkat-berkat Tuhan. Lebih dari itu, belajar dari Yesus, kita mengatakan amin untuk mengekspresikan iman kita dalam Firman-Nya, dan akhirnya kepada Yesus sendiri. Tak mengejutkan bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru yang menyatakan amin kepada Yesus tidak lain adalah ibu-Nya, Maria. Di hapadapan malaikat Gabriel, dia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” singkatnya, “Amin!” (Lihat Luk 1:38)

Salah satu amin terbesar yang kita nyatakan adalah ketika kita menerima Ekaristi. Bagi ratusan juta umat Katolik yang menerima Komuni Suci setiap hari Minggu, mengatakan amin tampaknya biasa-biasa saja. Namun, ini sebenarnya menjadi amin yang paling sulit yang kita katakan. Untuk percaya dan menegaskan bahwa hosti kecil putih adalah Tubuh Kristus yang mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanda iman yang luar biasa besar. Saya percaya ini adalah ajakan Yesus untuk percaya kepada-Nya dalam Ekaristi. Berkaitan dengan Injil hari Minggu ini, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Yesus, yang diutus oleh Bapa (lihat Yoh 6:29). Membaca bab 6 dari Injil Yohanes ini, kita menemukan bahwa percaya kepada Yesus berarti menerima bahwa Dia adalah Roti Kehidupan, dan mereka yang memakan Roti ini akan memiliki hidup yang kekal (lihat Yoh 6:51). Jadi, untuk mengatakan amin yang dipenuhi oleh iman kepada Ekaristi adalah pemenuhan kata-kata Yesus, dan menuntun kita pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai umat yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita mengatakan Amin dalam kepenuhan iman atau ini hanya sebuah kata yang diulang-ulang? Apakah Amin kita memungkinkan kita untuk mengenali berkat harian yang kita terima? Seperti Maria, apakah iman kita terwujud dalam tindakan sehari-hari kita, dan membuat perbedaan dalam kehidupan kita?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih dari Roti

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [29 Juli 2018] Yohanes 6: 1-15

Yesus berkata kepada Filipus, ” Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)

barley loaves 2Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.

Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.

Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.

Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menghadapi Kematian

Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa [22 Juli 2018] Markus 6: 30-34

Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31)

person-in-hospital-bed-holding-hands-05Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.

Namun, hak istimewa terbesar bagi saya adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani beberapa orang dalam perjalanan mereka menghadapi kematian. Kita tidak suka berbicara tentang kematian karena kita semua takut akan kematian, dan banyak yang masih memandang kematian sebagai hal tabu. Namun, di rumah sakit, memerangi kematian adalah aktivitas sehari-hari baik bagi pasien maupun para tenaga kerja medis. Kematian menjadi menakutkan karena hal ini mengakhiri hidup kita, menghancurkan impian kita, dan memutuskan hubungan kita dengan orang yang kita cintai. Saya berteman dengan seorang pria muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas dengan banyak mimpi di dalam benaknya, namun kanker merampas impiannya dan dia harus menjalani kemoterapi yang merusak tubuhnya. Saya juga menemani seorang remaja yang mengalami gagal ginjal dan harus menghabiskan banyak uang untuk dialisis dan obatnya. Dia pun tidak bisa menyelesaikan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan mengejar mimpinya. Seorang ibu muda harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di kampung halaman, pindah ke Manila, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, hanya untuk sembuh dari kanker payudaranya. Keinginannya hanya satu untuk bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Namun, ketika saya melakukan perjalanan bersama mereka, saya menemukan bahwa kematian tidak hanya menakutkan tetapi juga sebuah kesempatan istimewa. Memang benar bahwa menghadapi kematian dapat memicu banyak perasaan negatif seperti penyangkalan, kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Seseorang dapat menyalahkan dirinya sendiri, atau marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Seseorang yang hanya bisa bergantung pada kemurahan hati orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak berdaya dan bahkan putus asa. Namun, ketika pasien mulai menerima situasinya, menghadapi kematian dapat berubah menjadi momen rahmat. Seseorang yang sedang menghadapi kematian dapat melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sebagai orang sehat, kita bisa melakukan banyak hal; kita bekerja keras, kita mencapai banyak hal. Dengan begitu banyak hal di hidup kita, kita cenderung mengabaikan apa yang paling penting dalam hidup kita. Menghadapi kematian memperlambat kita, dan memberi kita waktu untuk berpikir jernih. Ini memberi kita kesempatan langka untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dan untuk melakukan misi terakhir yang Tuhan percayakan kepada kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat. Setelah bekerja keras menjalankan misi mereka, Yesus membawa mereka ke tempat yang sepi. Setelah berhasil dalam pewartaan mereka, para murid dapat dengan mudah menjadi angkuh dan penuh dengan diri mereka sendiri. Namun, peristirahatan yang sejati dapat menenangkan mereka dan mengarahkan kembali diri mereka kepada Yesus, sumber dari misi dan kesuksesan mereka.

Kita tidak harus menderita penyakit berat yang menghadapi kematian dan merenungkan hal-hal yang sungguh penting dalam hidup. Kita selalu dapat beristirahat, melalui doa dan refleksi. Tentunya, selalu baik untuk merefleksikan kata-kata Santo Yohanes dari Salib, “di saat kita mencapai senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita berdasarkan  harta duniawi dan keberhasilan kita, tetapi pada seberapa besar kita mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Debu di Kakimu

Minggu kelima belas pada Masa Biasa [15 Juli 2018] Markus 6:7-13

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”  (Markus 6:11)

feet of jesusInjil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.

 

Saat ini, saya sedang menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien dan selama kunjungan saya akan mendengarkan pasien serta mendampingi mereka dalam masa pemulihan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang sembuh dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan bermartabat. Saya percaya bahwa mereka merupakan rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi oleh praktisi medis untuk memenuhi kebutuhan pemulihan secara emosional dan spiritual.

 

Dalam beberapa kunjungan saya, saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi dan apatis. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketidakpercayaan

Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa [8 Juli 2018] Markus 6: 1-6

“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)

jesus at nazarethKetika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.

Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.

Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.

Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, iman memungkinkan kuasa Allah untuk melakukan lebih banyak lagi dalam kehidupan kita, dan iman yang sama mengilhami kita untuk melihat karya Allah di dalam kita. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2:1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5:25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).

Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Sang Perempuan

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [1 Juli 2018] Markus 5: 21-43

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

woman with hemorrhageInjil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

 Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-muridnya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Anak Sebagai Tanda Belas Kasih Allah

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis [24 Juni 2018] Lukas 1:57-66.80

“Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.” (Lk. 1:58)

child in church 2Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada dua tokoh protagonis pada Injil kita hari ini, Elizabeth, dan Zakharia. Santo Lukas mendeskripsikan pasangan itu sebagai “orang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk 1: 6) ”. Tapi, mereka tidak memiliki anak. Kemungkinan memiliki anak juga mendekati nol karena Elizabeth adalah mandul dan Zakharia sudah tua. Dalam masyarakat Yahudi kuno, anak dianggap sebagai berkat Tuhan dan sumber kehormatan, dan kemandulan adalah kutukan dan rasa malu.

Namun, malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya akan hamil meskipun usia mereka yang lanjut. Melihat lebih dekat makna dari nama pasangan ini, kitapun bisa berefleksi lebih dalam. Zakharia dalam bahasa Ibrani berarti “mengingat”, dan Elisabet berasal dari dua kata Ibrani, “Eli” dan “Sabath” berarti janji Tuhan. Dengan demikian, kedua nama itu bisa berarti Tuhan mengingat janji-Nya. Dalam Kitab Suci, ketika Tuhan mengingat, ini bukan sekedar berarti Tuhan mengingat kembali sesuatu dari memori, tetapi ini berarti Tuhan memenuhi apa yang pernah dijanjikan-Nya. Karena Allah telah memenuhi janji-Nya kepada leluhur Zakharia, maka Allah juga mengingat janji-Nya kepada Elisabet. Kisah Elizabeth menggemakan kisah-kisah para wanita hebat dalam Perjanjian Lama: Sarah (Kej 15: 3; 16: 1), Ribka (Kej 25:21), Rahel (Kej 29:31; 30: 1), ibu dari Simson dan istri Manoah (Hak 13: 2-3), dan Hana (1 Sam 1: 2).

Apa janji Tuhan kepada Elizabeth dan Zakharia, dan juga bagi kita semua? St. Lukas menunjukkan kepada kita bahwa janji Allah adalah Dia akan menunjukkan rahmat dan belas kasihan-Nya kepada Elisabeth dan Zakharia (lihat Luk 1:58). Kelahiran Yohanes Pembaptis menjadi tanda rahmat dan belas kasihan Allah terhadap pasangan yang saleh ini. Dengan demikian, kelahiran setiap anak adalah tanda bahwa janji Allah digenapi, tanda belas kasihan Allah kepada setiap orang tua. Kita ingat bahwa rahmat belas kasihan bukanlah sesuatu yang pantas kita terima. Belas kasih adalah berkat dan anugerah. Melalui setiap anak, Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita, dan bersama-sama dengan Elizabeth dan Zakharia, kita juga akan bersukacita.

Namun, hal ini tidak mudah. Kita hidup di dunia yang semakin merasa tidak nyaman dengan kehadiran anak-anak kecil di sekitar kita. Ada mentalitas jahat yang merayap ke generasi zaman now. Ini adalah mentalitas yang mempromosikan kesuksesan individu sebagai nilai kebahagiaan yang utama. Jadi, apa pun yang menghalangi kesuksesan harus diberantas. Ini termasuk pernikahan, kehidupan berkeluarga dan akhirnya anak-anak. Mereka tidak lagi dilihat sebagai anugerah yang diterima dengan rasa syukur, tetapi beban yang harus dihindari. Ketika saya mengunjungi Korea Selatan tahun lalu, sahabat saya dari negeri tersebut mengatakan bahwa generasi muda Korea bekerja sangat keras sampai mereka tidak lagi membuat pernikahan dan memiliki anak sebagai prioritas mereka. Memang, tidak seperti di Filipina atau Indonesia, tidak mudah menemukan anak-anak kecil bermain dengan bebas di Seoul. Saya kira penurunan pertumbuhan penduduk adalah masalah di banyak negara yang maju.

Kita tidak menyangkal fakta bahwa untuk membesarkan anak-anak adalah tanggung jawab yang melelahkan, dan kita juga tidak menyangkal kenyataan bahwa tidak semua dipanggil untuk menjadi orang tua. Namun, adalah sebuah kebenaran bahwa anak-anak adalah anugerah tidak hanya bagi keluarga tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia, dan dengan demikian, kita semua memiliki panggilan suci untuk melindungi dan menjaga kesejahteraan anak-anak kita. Kita akan melindungi anak-anak kita dari segala bentuk pelecehan, dari efek melemahkan kemiskinan, dan dari mentalitas egosentris dan kontrasepsi. Menghargai sebuah pemberian berarti menghormati sang pemberi, dan dengan demikian, menghormati setiap anak berarti menghormati Tuhan yang memberi mereka kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kematian Tiga Imam

(refleksi seorang frater atas kematian tiga romo di Filipina)

17 Juni 2018

 

paez ventura niloGereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Rm. Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Rm. Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya yang dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Pablo David, DD dari Caloocan, Metro Manila, mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Keluarga-Nya

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [10 Juni 2018] Markus 3: 20-35

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’ (Mrk 3:35).”

aku indonesia
picture by Harry Setiawan SJ

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang.

 

Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina saya, “Jika rumah kamu terbakar, apa hal pertama yang akan kamu selamatkan?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tetapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus menyambut dengan baik Maria, ibu-Nya, dan saudara-saudaranya yang datang dan mencari Dia. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya, “Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’”(Mrk 3:34-35) Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dan saudara-saudara-Nya dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah orang tua-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria dan sanak saudara-Nya. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Korupsi, nepotisme, dan kronisme adalah praktik jahat yang berakar dalam keluarga. Sisi ekstrim lainnya adalah ketika saudara saling bertikai, bahkan membunuh, karena rebutan warisan seolah-olah mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP