Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa [22 Juli 2018] Markus 6: 30-34
Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31)
Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.
Namun, hak istimewa terbesar bagi saya adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani beberapa orang dalam perjalanan mereka menghadapi kematian. Kita tidak suka berbicara tentang kematian karena kita semua takut akan kematian, dan banyak yang masih memandang kematian sebagai hal tabu. Namun, di rumah sakit, memerangi kematian adalah aktivitas sehari-hari baik bagi pasien maupun para tenaga kerja medis. Kematian menjadi menakutkan karena hal ini mengakhiri hidup kita, menghancurkan impian kita, dan memutuskan hubungan kita dengan orang yang kita cintai. Saya berteman dengan seorang pria muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas dengan banyak mimpi di dalam benaknya, namun kanker merampas impiannya dan dia harus menjalani kemoterapi yang merusak tubuhnya. Saya juga menemani seorang remaja yang mengalami gagal ginjal dan harus menghabiskan banyak uang untuk dialisis dan obatnya. Dia pun tidak bisa menyelesaikan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan mengejar mimpinya. Seorang ibu muda harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di kampung halaman, pindah ke Manila, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, hanya untuk sembuh dari kanker payudaranya. Keinginannya hanya satu untuk bersatu kembali dengan anak-anaknya.
Namun, ketika saya melakukan perjalanan bersama mereka, saya menemukan bahwa kematian tidak hanya menakutkan tetapi juga sebuah kesempatan istimewa. Memang benar bahwa menghadapi kematian dapat memicu banyak perasaan negatif seperti penyangkalan, kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Seseorang dapat menyalahkan dirinya sendiri, atau marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Seseorang yang hanya bisa bergantung pada kemurahan hati orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak berdaya dan bahkan putus asa. Namun, ketika pasien mulai menerima situasinya, menghadapi kematian dapat berubah menjadi momen rahmat. Seseorang yang sedang menghadapi kematian dapat melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sebagai orang sehat, kita bisa melakukan banyak hal; kita bekerja keras, kita mencapai banyak hal. Dengan begitu banyak hal di hidup kita, kita cenderung mengabaikan apa yang paling penting dalam hidup kita. Menghadapi kematian memperlambat kita, dan memberi kita waktu untuk berpikir jernih. Ini memberi kita kesempatan langka untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dan untuk melakukan misi terakhir yang Tuhan percayakan kepada kita.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat. Setelah bekerja keras menjalankan misi mereka, Yesus membawa mereka ke tempat yang sepi. Setelah berhasil dalam pewartaan mereka, para murid dapat dengan mudah menjadi angkuh dan penuh dengan diri mereka sendiri. Namun, peristirahatan yang sejati dapat menenangkan mereka dan mengarahkan kembali diri mereka kepada Yesus, sumber dari misi dan kesuksesan mereka.
Kita tidak harus menderita penyakit berat yang menghadapi kematian dan merenungkan hal-hal yang sungguh penting dalam hidup. Kita selalu dapat beristirahat, melalui doa dan refleksi. Tentunya, selalu baik untuk merefleksikan kata-kata Santo Yohanes dari Salib, “di saat kita mencapai senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita berdasarkan harta duniawi dan keberhasilan kita, tetapi pada seberapa besar kita mengasihi.”
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Injil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.
Ketika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.
Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.
Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada dua tokoh protagonis pada Injil kita hari ini, Elizabeth, dan Zakharia. Santo Lukas mendeskripsikan pasangan itu sebagai “orang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk 1: 6) ”. Tapi, mereka tidak memiliki anak. Kemungkinan memiliki anak juga mendekati nol karena Elizabeth adalah mandul dan Zakharia sudah tua. Dalam masyarakat Yahudi kuno, anak dianggap sebagai berkat Tuhan dan sumber kehormatan, dan kemandulan adalah kutukan dan rasa malu.
Gereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.
Tubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.
Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom. Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?