Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [30 September 2018] Markus 9: 36-43, 45, 47-48
“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah. (Mk. 9:43) ”
Ketika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa meyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.
Dalam Injil hari ini, kata-kata Yesus sangat keras. Dia ingin orang yang menyebabkan orang lain berbuat dosa, dibuang ke laut. Dia ingin tangan dan kaki dipotong, dan mata tercungkil. Dia bahkan menggambarkan Gehenna dengan detail yang lebih jelas, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam (Mk. 9:48).” Yesus kali ini tampaknya jauh berbeda dengan Yesus yang lembut dan penuh belas kasihan. Apa yang sedang terjadi? Apakah Yesus mempromosikan kekerasan? Apakah Yesus seorang penderita skizofrenia atau memiliki kepribadian ganda?
Tidak ada yang salah dengan Yesus. Namun, dia menjadi penuh semangat karena dia mengajar tentang hal yang serius dengan konsekuensi sangat berat. Ini tidak lain adalah dosa. Yesus tahu benar bahwa dosa merusak, dan seperti akar yang tumbuh, dosa merusak ke segala sisi. Dosa menghancurkan jiwa kita, sesama kita, lingkungan kita dan bahkan hubungan kudus kita dengan Tuhan. Apa yang lebih menyeramkan tentang dosa adalah dosa merusak hati nurani kita dan membuat kita percaya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Dalam bukunya ‘The Name of God is Mercy, Paus Fransiskus berbicara tentang efek dari korupsi dosa, “Korupsi jiwa bukanlah suatu tindakan tetapi suatu kondisi, keadaan pribadi dan sosial yang menjadi kebiasaan hidup… Orang yang korup selalu memiliki muka untuk mengatakan, ‘Bukan aku!’ … Dia adalah orang yang pergi ke Misa setiap Minggu tetapi tidak memiliki masalah menggunakan posisinya yang kuat untuk meminta suap … lalu dia memamerkan kepada teman-temannya tentang cara-cara liciknya tersebut.”
Seperti dalam kasus orang yang bergulat dengan diabetes dan memiliki gangren di jarinya, lebih baik baginya untuk mengamputasi jari untuk mencegah penyebaran infeksi, dan dengan demikian, menyelamatkan organ lain, dan hidupnya. Demikian juga dengan dosa. Yesus memerintahkan kita untuk “mengamputasi” area-area dalam hidup kita yang dirusak oleh dosa, untuk menyelamatkan jiwa kita. Tapi, ini tidak mudah. Seperti beberapa pasien yang saya layani, mereka menolak menyerahkan bagian-bagian berharga dari tubuh mereka. Mereka menolak, marah dan frustrasi, dan mencoba tawar-menawar dengan dokter untuk menghindari amputasi. Dengan mentalitas yang sama, kita sering menyangkal bahwa kita memelihara sifat buruk kita. Kita menjadi marah ketika orang mengoreksi kita dan mengungkapkan dosa-dosa kita. Kita juga tawar-menawar dengan Tuhan untuk tetap menyimpan dosa-dosa favorit kita, dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi lebih baik dalam aspek-aspek lain dari kehidupan kita. Namun, ini tidak akan pernah berhasil. “Amputasi” radikal diperlukan untuk menyelamatkan jiwa kita yang sakit.
Namun, kabar baiknya adalah bahwa jiwa kita tidak seperti tubuh yang tidak akan mendapatkan kembali anggota badan yang hilang, jiwa kita bahkan akan tumbuh bahkan lebih kudus setelah “amputasi”. Hubungan antara orang lain akan dimurnikan, sikap kita terhadap lingkungan akan dipenuhi dengan perhatian dan belas kasihan, dan cinta kita kepada Tuhan akan diperdalam.
Apa dosa-dosa kita yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan? Apakah kita cukup rendah hati untuk menerima koreksi? Apakah kita cukup berani untuk mengakui dosa-dosa kita? Apakah kita meminta rahmat Tuhan untuk mempersiapkan kita untuk sakramen pengakuan dosa?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [daikon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.
Beberapa tahun yang lalu, saya memberikan ceramah pengantar Kristologi bagi sekelompok profesional muda Filipina yang ingin memperdalam spiritualitas mereka. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah, “Menurut kamu, siapakah Yesus itu?” Jawabannya beragam. Beberapa memberikan formula dogmatis seperti Yesus adalah Allah, ada yang mengutip Alkitab dan mengatakan Yesus adalah Firman yang menjadi daging, seseorang menyatakan dengan berani bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan, dan sisanya berbagi keyakinan pribadi seperti Yesus adalah sahabat terdekat mereka, atau Yesus adalah Gembala mereka. Semua jawaban ini benar, tetapi tidak ada yang mengklaim bahwa Yesus adalah Kristus. Mempertimbangkan bahwa ceramah kami adalah Kristologi, kami sepertinya lupa akan identitas dasar Yesus, dalam bahasa Yunani, “Christos,” dalam bahasa Ibrani, “Mesias,” yang berarti “Yang Diurapi”. Untungnya, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Simon Petrus mampu mengucapkan identitas dasar ini ketika Yesus Sendiri menanyakan pertanyaan ini.
Minggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat ataupun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini? “Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.
Dalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”
Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kami dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebut lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, ada juga beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin dari pada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!
Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.