Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. 18 Juni 2017 [Yohanes 6: 51-58]
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman (Yoh 6:54).”
Tidak ada yang menyangkal bahwa makan adalah masalah hidup dan mati, tapi selalu ada perbedaan yang signifikan antara seorang pengemis yang duduk di gerbang gereja dan kebanyakan dari kita yang dapat menikmati makanan lengkap tiga kali sehari. Pengemis itu akan bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana saya bisa makan hari ini?” Sementara, kita akan bertanya kepada diri sendiri, “Ke mana saya akan makan hari ini? Apakah suasana restoran nyaman? Apakah makanannya lezat sesuai cita rasa Indonsia? Apakah makanannya aman dari zat penyebab kanker?” Bagi sebagian orang, makan adalah tentang kelangsungan hidup, namun untuk beberapa dari kita, fenomena ini telah berkembang menjadi sesuatu rumit. Pasar memberi kita pilihan yang hampir tak terbatas tentang apa yang akan kita makan, dan tampaknya kita adalah raja dari makanan ini karena kita memiliki kekuasaan untuk memilih apa yang kita sukai. Tapi, kita sebenarnya perlahan berubah menjadi budak nafsu makan kita saat kita mengalihkan fokus bukan pada hal yang esensial tapi pada hal-hal sepele seperti bagaimana kita memuaskan hasrat kita yang terus berubah-ubah.
Apa yang kita makan, bagaimana kita makan, dan di mana kita makan mencerminkan siapa diri kita, masyarakat kita, dan dunia kita. Sementara kita bisa makan di restoran mahal, beberapa saudara-saudari kita hanya bisa memiliki satu mi instan untuk sepanjang hari. Ini artinya ada yang tidak beres dengan kita, dengan dunia kita. Suatu ketika saya menonton film pendek tentang dua wanita muda yang sedang makan ayam goreng di salah satu fast food. Mereka tidak mengkonsumsi semuanya dan membuang sisa makanan ke tong sampah. Setelah beberapa lama, seorang pria miskin datang dan mengambil sisa makanan itu. Dia membawanya pulang dan menyajikannya sebagai makan malam untuk keluarga kecilnya yang miskin. Namun, sebelum mereka makan, mereka berdoa dan mengucap syukur atas makanan tersebut!
Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan dalam Ekaristi, dan ini menjadi tanda keadilan dan kerahiman Allah. Ini adalah tanda kerahiman karena walaupun kita tidak layak mendapatkan tubuh dan darah-Nya yang kudus, Dia terus memberikan rahmat yang luar biasa ini kepada kita. Ini adalah tanda keadilan karena Dia tidak melakukan diskriminasi. Kita semua, apakah kita laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, sehat atau sakit, diciptakan menurut citra-Nya dan dengan demikian, kita semua diundang ke perjamuan suci-Nya ini. Ya, dalam Ekaristi, kita hanya menerima Yesus di hosti yang mungil dan tawar, namun roti kecil ini diberikan kepada semua orang yang datang kepada-Nya untuk menemukan kepenuhan hidup dan sukacita.
Santo Paulus dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus menegur jemaat di sana. Salah satu alasan utamanya adalah bahwa beberapa jemat (terutama yang kaya) menolak untuk berbagi perjamuan Ekaristi dengan jemaat lain (yang lebih miskin), dan bahkan mereka membiarkan mereka tanpa makanan. “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk (1 Kor 11: 20-21).” Bagi Paulus, ini adalah ketidakadilan dan pelanggaran berat terhadap Ekaristi, karena sama seperti Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya untuk semua orang, maka Ekaristi harus melambangkan pemberian diri Allah yang radikal ini.
Apakah kita seperti jemaat Korintus yang ikut Ekaristi namun menelantarkan saudara-saudari kita yang lapar dan miskin di sekitar kita? Apakah kita menjalani identitas kita sebagai citra Allah, dan dengan demikian, mencerminkan keadilan radikal Allah? Apakah kita menjadi lebih seperti Kristus, dan mewujudkan kerahiman-Nya yang tak terbatas? Apakah tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi sungguh mengubah kita?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.
Pentakosta adalah peringatan turunnya Roh Kudus atas para murid di ruang atas. Gambaran yang ada di dalam pikiran kita biasanya dramatis dan nyata. Murid-murid berkumpul di ruang atas, tiba-tiba angin kencang memenuhi ruangan, diikuti oleh munculnya lidah-lidah api. Terinspirasi oleh Roh Kudus, para murid mulai berbicara dalam berbagai bahasa, dan memberitakan Injil. Gambaran Pentakosta ini benar adanya karena ini berasal dari Kisah Para Rasul (bacaan pertama kita hari ini). Sebenarnya, Kisah Para Rasul juga mengatakan bahwa Pentakosta terjadi 50 hari setelah hari Minggu Paskah (Pentakosta sendiri berarti ’50’ dalam bahasa Yunani).
Gambaran tentang Kenaikan Yesus yang ada dalam benak kita adalah Yesus yang diangkat ke langit, sementara para murid dengan penuh doa memperhatikan-Nya menghilang secara perlahan-lahan. Tidak salah jika disebut ‘Kenaikan’ Yesus karena Kristus yang telah bangkit akhirnya naik ke surga, kembali kepada Bapa-Nya. Di dalam film Risen, Kenaikan Yesus digambarkan sedikit berbeda. Yesus tidak diangkat ke surga, tapi Dia hanya berdiri di hadapan para murid-Nya, dan tiba-tiba cahaya yang menyilaukan datang dan menelan Yesus, dan Diapun menghilang dari pandangan mereka. Meskipun memiliki rincian yang berbeda, Kenaikan Yesus berbicara kepada kita tentang Yesus yang memisahkan diri dari murid-murid-Nya, dan meninggalkan mereka karena Ia harus kembali kepada Bapa-Nya.
Pernahkah kamu melihat roh? Atau, jika anda kata roh disebutkan, gambaran apa yang muncul di benak Anda? Mungkin, hantu-hantu menakutkan dari beberapa cerita-cerita atau film horor Hollywood, atau sesuatu yang diluar kekuatan manusia dan tidak bisa dijelaskan. Kata ‘roh’ seringkali memunculkan gambaran yang mengerikan dan menyeramkan karena selalu berhubungan dengan kematian, dunia akhirat, dan fenomena paranormal yang tidak dapat dijelaskan.
Yesus hendak meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali kepada Bapa-Nya. Para murid bingung dan tidak mengerti. Beberapa takut kehilangan Mesias dan guru mereka. Beberapa tidak mengerti dengan tindakan dan perkataan Yesus. Namun, terlepas dari kebingungan dan ketakutan ini, Yesus mengingatkan mereka agar tidak merasa cemas dan tetap memiliki iman kepada Allah dan kepada-Nya.
Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?
Lukas menceritakan kisah Perjalanan ke Emaus dengan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah instruksi kateketis tentang Ekaristi. Kedua murid tersebut sebenarnya melarikan diri dari Yerusalem. Setelah kematian guru mereka, situasi berubah menjadi berbahaya bagi kehidupan mereka. Mereka takut pada penguasa Yahudi, dan harapan dan impian mereka untuk memiliki seorang Mesias hancur berantakan. Lebih baik mereka pergi dan kembali ke kehidupan yang dulu. Namun, Yesus dengan mengejutkan datang, menyembuhkan luka-luka mereka, dan menunjuk mereka kembali sebagai rasul-rasul-Nya. Mari kita lihat beberapa rincian Injil hari ini dan bagaimana narasi ini berbicara tentang Ekaristi.


Banyak teolog maupun umat awam kesulitan untuk memahami kata-kata Yesus di kayu salib ini. Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa terpisahkan dari Allah? Lalu, mengapa Allah yang penuh kasih bisa-bisanya meninggalkan Putra-Nya? Ini tidak masuk akal. Katekismus Gereja Katolik mencoba menjelaskan bahwa ini adalah konsekuensi dari dosa. Bukan karena Yesus telah melakukan dosa, tetapi Dia menanggung dosa dunia di kayu salib. Efek terbesar dari dosa adalah terpisahnya kita dari Allah. Dengan demikian, membawa beban terberat dari dosa, Yesus tidak bisa tidak merasakan efek mengerikan keterasingan dari Bapa-Nya sendiri.