Minggu Biasa ke-24 [17 September 2017] Matius 18: 21-35
“Bergerak dengan belas kasihan tuan hamba itu membiarkannya pergi dan memaafkannya pinjaman. (Mat 18:27) “
Mengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.
Meskipun terkadang bercampur dengan keinginan untuk membalas dendam, kabar baiknya adalah bahwa rasa keadilan adalah sesuatu yang tertanam dalam setiap jiwa manusia. Rasa keadilan yang kita miliki adalah apa yang kita sebut keadilan manusia. Keadilan semacam ini sangat penting untuk kehidupan kita sehari-hari karena ini mendorong kita untuk menghargai perbuatan baik dan menghukum perbuatan salah. Jika kita bekerja keras untuk perusahaan kita, kita layak mendapatkan upah yang baik, tapi jika kita tidak melakukan pekerjaan kita, perusahaan memiliki hak untuk memecat kita. Jika kita belajar dengan giat, kita mengharapkan nilai bagus, tapi jika kita malas, jangan berharap kita berhasil. Jika kita membayar pajak, kita ingin pemerintah menyediakan layanan publik yang andal. Rasa keadilan ini mengatur kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita marah jika ada pelanggaran keadilan ini. Kita marah saat mengetahui rekan kerja kita yang tidak banyak bekerja, mendapat gaji yang sama. Meskipun saya tidak ingin fokus pada nilai, saya biasanya kesal mengetahui bahwa setelah mengerahkan banyak usaha, saya mendapat nilai yang lebih rendah daripada teman sekelas yang tidak belajar. Kita akan marah jika pajak kita masuk ke saku pejabat pemerintah yang korup dan tidak kompeten.
Dengan rasa keadilan ini, tidak ada tempat untuk pengampunan. Dengan demikian, usulan Petrus untuk mengampuni tujuh kali terdengar luar biasa. Namun, Yesus mengundang kita untuk memahami rasa keadilan yang berbeda, keadilan Tuhan. Keadilan manusia dimulai dengan kita, apa yang kita layak dapatkan, tapi keadilan Tuhan dimulai dengan Tuhan. Seperti raja dalam perumpamaan hari ini, dia menuntut hambanya untuk membayar hutangnya yang sangat besar. Ini adalah keadilan manusia. Namun, sang raja tahu bahwa dia begitu kaya sehingga pembayaran hutang hambanya tidak akan menambah banyak perbendaharaannya. Jadi, saat sang hamba memohon belas kasihan, raja bisa dengan mudah memaafkannya. Toh, ia tidak kehilangan apa-apa. Hutang sang hamba sekarang berubah menjadi kekayaannya, dan dari orang yang sangat miskin karena hutangnya yang besar, dia menjadi kaya secara instan. Si hamba kemudian diharapkan bisa melakukan keadilan yang sama seperti sang raja, dan juga memaafkan sesama hamba yang berutang padanya. Sayangnya, dia tetap diperintah oleh keadilan manusia dan bahkan termakan oleh dendam. Hal ini membawa malapetaka baginya.
Kita berutang kepada Tuhan segalanya, hidup kita, semua yang kita miliki, dan bahkan penebusan kita, namun segala yang kita lakukan tak akan sanggup untuk membayar-Nya atau menambah kemuliaan-Nya karena Dia itu sempurna. Dalam rahmat dan kesempurnaan-Nya, Tuhan mengampuni kita. Utang kita yang besar kepada Tuhan telah terhapus, dan faktanya, berubah menjadi kekayaan kita. Rahmat dan pengampunan tidak hanya mungkin tapi juga ciri keadilan Tuhan. Seperti sang hamba, kita harus mengampuni saudara dan saudari kita karena kita telah menjadi kaya karena keadilan-Nya. Kita memaafkan karena kita telah dimaafkan. Kita memaafkan karena kita kaya akan rahmat-Nya. Kita memaafkan karena keadilan Tuhan menuntutnya.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Yesus mengerti bahwa komunitas manusia, termasuk komunitas murid-murid-Nya sendiri, atau Gereja, akan selalu dipengaruhi oleh kelemahan manusia dan dosa. Bahkan di dalam komunitas yang berorientasi pada Kristus, seperti biara, paroki, dan berbagai pelayanan dan kelompok di Gereja, tak dapat dihindari bahwa kita saling menyakiti. Dengan demikian, Yesus menguraikan sebuah prosedur rekonsiliasi untuk mengatasi kesalahpahaman, pertengkaran, dan konflik. Ini dimulai dengan dialog pribadi atau empat mata, kemudian ketika hal itu tidak berhasil, kita meminta bantuan seorang saksi atau mediator, dan masih belum berhasil, kita naik ke tingkat komunitas.
Kita mendengar sebuah pertukaran kata-kata yang paling panas dalam Injil, dan ini tidak tanggung-tanggung karena melibatkan Yesus dan Simon Petrus. Sang Rasul menegur Yesus karena telah menyatakan kepada murid-murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh, tetapi bangkit pada hari ketiga. Sebaliknya, Yesus menegur Petrus dan memanggilnya “Setan”. Mengapa pertengkaran yang hebat ini terjadi antara Yesus, yang adalah Tuhan yang maha pengasih, dan muridnya yang terpuji, Simon yang baru saja dinyatakan sebagai batu karang Gereja?
Yesus bertanya kepada murid-murid siapakah Dia, dan Simon menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Simon Petrus menjawab dengan benar, dan Yesus sendiri mengungkapkan bahwa jawabannya tidak berasal dari kelemahan manusiawi, namun dari Bapa di surga. Dulu saya berpikir bahwa pewahyuan ini terjadi secara instan di dalam pikiran Simon. Seperti Archimedes yang menemukan Hukum Hidrostatis, Simon juga berteriak “Eureka! Aku telah menemukannya!”


Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.
Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.
Dari perumpamaan-perumpamaan hari ini, kita menyadari bahwa Yesus sejatinya menghargai kerja, kemampuan mengunakan teknologi dan kegiatan ekonomi manusia. Perumpamaan-perumpamaan tersebut berbicara tentang seseorang yang membeli dan menjual tanah, pedagang melakukan transaksi, dan nelayan menangkap dan memilih ikan mengunakan jaring. Namun, apresiasi Yesus hadir dengan sebuah kondisi: aktivitas manusia ini harus jujur dan juga adil.
Dari beberapa perumpamaan yang Yesus katakan kepada kita di dalam Injil hari ini, kita belajar bahwa Yesus sangat peka dengan bagaimana alam bekerja. Dia mengamati bagaimana biji gandum, lalang dan sesawi tumbuh, dan bagaimana ragi akan mempengaruhi adonan roti. Yesus juga memperhatikan kecerdasan manusia dalam bekerja dengan alam bagi kepentingan dan kebaikan komunitas manusia. Pria dan wanita mengolah tanah, mematuhi siklus alam, menabur benih yang disiapkan dengan baik, menjaga pertumbuhan dan kemudian memanen hasilnya untuk kebaikan komunitas. Penggunaan ragi adalah metode masak yang sangat kuno. Wanita akan menempatkan ragi dalam adonan, dan mikroorganisme ini akan berinteraksi dengan karbohidrat dalam tepung, menciptakan karbon dioksida, dan sebagai akibatnya, adonan ragi akan berkembang. Meski roti tidak beragi akan bertahan lebih lama, ragi ini akan membuat roti lebih lembut dan lebih nikmat untuk dikonsumsi.
Looking carefully into the parable, we find something strange. The agrarian land in Palestine was not as fertile and arable like many other countries like Indonesia and Philippines. It was expected that some seeds would fall into stony grounds, or be outgrown by the thorny plans. Yet, the Israelite farmers knew very well that seeds were their lifeline and wasting three-quarter of their seeds was just unthinkable. To add to this oddity, Jesus assured that this waste of seeds would be compensated with super abundant result of thirty to hundredfold harvest. A seasoned farmer recognized that an ordinary wheat seed planted in the Palestinian soil would yield just enough for the family. Thus, many of Jesus’ listeners would wonder, “What is he talking about? He is just a carpenter, and now he is talking to us from a boat about agriculture?” Even His disciples were puzzled and approached Him for clarification.