Keselamatan: Rahmat dan Pilihan

Minggu dalam Pekan Biasa ke-21. Lukas 13: 22-30 [21 Agustus 2016]

 “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan? (Luk 13:23)”

narrow gateKeselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada sebuah kisah tentang seorang pastor mengunjungi pembuat sabun guna beli pasokan untuk parokinya. Tiba-tiba, pembuat sabun bertanya, “Apa baiknya agama? Lihatlah semua penderitaan dan kejahatan di dunia! Penderitaan tetap ada, bahkan setelah agama bertahun-tahun mengajar tentang kebaikan dan perdamaian. Kejahatan tetap ada, setelah semua doa dan khotbah. Jika agama yang baik dan benar, mengapa kita harus terus menderita?” Sang pastor diam saja. Kemudian dia melihat seorang anak bermain di selokan depan toko sabun, dan pastor berkata, “Lihatlah anak itu. Kamu mengatakan bahwa sabun membuat orang bersih, tetapi kamu melihat banyak kotoran pada anak itu. Apa baiknya sabun? Dengan semua sabun di dunia, anak itu masih kotor. Aku bertanya-tanya seberapa efektif sabun buatanmu sebenarnya?” Sang pembuat sabun pun protes, “Tapi, Pastor, sabun tidak berguna kecuali saat digunakan dengan benar.” Sang Pastor pun menjawab, “Tepat sekali!”

Untuk menjadikan rahmat keselamatan bagian hidup kita bukan pekerjaan mudah. Yesus sendiri bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk 13:24).” Hal ini sulit karena menuntut transformasi radikal dari hati kita, atau metanoia. Setiap kekuatan eksternal yang dipaksakan kepada kita, seperti aturan, hukum dan perintah, tidak akan bertahan lama. Karunia keselamatan tidak bisa dipaksakan dari luar, tetapi harus tumbuh dari dalam diri kita sehingga efeknya akan stabil dan permanen dalam diri kita.

Panggilan untuk menghidupi karya keselamatan ini sebenarnya adalah panggilan sejak dari nabi-nabi Perjanjian Lama. Para nabi mengingatkan Israel bahwa mereka memang telah dipilih oleh Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, diselamatkan dari Mesir dan tinggal di tanah terjanji. Namun, rahmat yang indah ini tidak akan bertahan kecuali mereka juga mereformasi hati mereka dan benar-benar menjadi umat Allah. Allah, melalui Nabi Yehezkiel, menuntut ini, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (Yehezkiel 36:26).”

Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghidupi keselamatan kita sehari-hari. Ya, kita bisa dibaptis sebagai Katolik atau Kristen, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita beriman kepada Allah yang Esa, tapi kita juga membaca horoskop, konsultasi peramal dan menggunakan jimat pelindung. Kita bisa dengan mudah berteriak, “God is good all the time!” tapi kita memiliki banyak keluhan dalam hidup kita. Kita diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita tetap benci dan dendam, bahkan senang ketika musuh kita tertimpa kemalangan.

 Allah akan menghapus hati berbatu dan menempatkan hati alami, jika kita membuka hati kita. Kita diselamatkan jika kita menghidupi rahmat keselamatan. Kita akan masuk ke Kerajaan-Nya, jika bersama-sama dengan Yesus, kita memasuki pintu yang sesak setiap harinya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Api Yesus

 Minggu Biasa ke-20 [14 Agustus 2016] Lukas 12:49-53

 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49)”

pentecost 2Hidup di antara gadget-gadget digital super-canggih dan berbagai teknologi nano, kegiatan membuat api tampak seperti sangat primitif dan sia-sia. Mengapa kita harus membuat api dan menyebabkan polusi jika kita memiliki lampu LED yang hemat energi di rumah kita? Namun, membuat api sebenarnya adalah salah satu penemuan manusia yang paling awal dan signifikan. Api merevolusi kehidupan nenek moyang kita dan memberi kita keuntungan besar atas makhluk lainnya. Api membawa kehangatan dan kenyamanan dalam cuaca dingin. Api melindungi kita dari predator yang lebih besar dan ganas. Api memberikan cahaya yang menghapus kegelapan. Api juga diperlukan untuk menempa penemuan dan teknologi lain, seperti berbagai alat dan senjata.

Namun, api juga dapat menimbulkan masalah serius. Hampir setiap tahun, api membakar ribuan hektar hutan Kalimantan dan menghasilkan asap berskala global. Api juga merupakan masalah serius di kota-kota padat penduduk seperti Manila. Seorang petugas pemadam kebakaran pernah melakukan seminar di seminari. Dia mengatakan bahwa api hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk membakar seluruh tubuh anak kecil. Karena ini, api telah menjadi simbol baik dari kekuatan yang dahsyat dari alam dan juga kecerdasan manusia. Api dapat membawa kehancuran berat seperti api membakar dan mengkonsumsi hampir segala sesuatu. Namun, hal itu juga memberikan kreativitas, harapan dan masa depan kemanusiaan.

Ketika Yesus berkata ia membawa api untuk dunia, Lukas menggunakan kata Yunani ‘phur’. Jika diterjemahkan kata ini berarti api besar yang membara, bukan sekedar api yang kecil. Jadi, Yesus datang ke dunia untuk membawa energi dan kekuatan transformatif yang dahsyat. Api ini dapat menghancurkan dosa-dosa dan kebiasaan buruk kita. Namun, jauh lebih penting adalah api ini memberikan energi dan memberdayakan kita untuk menjadi kreatif dalam karya dan pewartaan dan dalam kehidupan Kristiani kita. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah-lidah api. Api yang sama ini memberanikan para murid yang masih ketakutan, dan menggerakan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dengan kesegaran yang baru. Mereka membuat terobosan kreatif saat mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa, sesuai kebutuhan pendengar mereka.

Orang-orang kudus adalah orang-orang yang terbakar api Kristus. Kehidupan mereka memberikan contoh karya Roh Kudus yang selalu segar dan transformatif. Ketika St. Dominikus de Guzman melihat kebutuhan untuk memberitakan Injil dan membawa kembali para bidaah Albigensian di Perancis Selatan, iapun  mendirikan Ordo religius yang tugas utamanya adalah berkhotbah. Dan ini menjadi ordo pertama yang memiliki ke khasan ini di Gereja Katolik. Ketika para Misionaris Spanyol pertama kali datang ke Kepulauan Filipina, salah satu prioritas utama mereka adalah bagaimana memahami bahasa dan budaya lokal, sehingga pewartaan mereka dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang Filipina. Bahkan sejak abad ke-16, para misionaris Dominikan telah menghasilkan buku tata bahasa dan kamus berbagai bahasa di Filipina seperti Tagalog, Bisaya, dan Ivatan.

Ini adalah keinginan-Nya untuk membakar dunia dalam api, tetapi apakah api Kristus telah menyentuh kehidupan kita? Apakah Ekaristi dan Sakramen rekonsiliasi memperbaharui kita? Apakah kita merasakan energi untuk terlibat dalam pewartaan kabar baik, atau kita sudah merasa cukup dengan Misa Mingguan? Apakah kita memiliki ketekunan ditengah cobaan hidup? Apakah kita memungkinkan Roh untuk menghidupkan kehidupan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menyerahkan Semuanya

Minggu Biasa ke-19 [7 Agustus 2016] Lukas 12: 32-48

 “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Luk 12:34).”

giving handsApakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?

St. Dominikus de Guzman yang hari rayanya akan kita sambut besok, adalah contoh untuk diteladani. Ketika ia menjadi kanon regular di Katedral Osma, Spanyol, dia sejatinya adalah seorang yang dipersiapkan sebagai pemimpin. Dia terpilih sub-prior pada usia yang sangat muda. Menjadi sub-prior berarti ia adalah wakil dari pemimpin utama Katedral dan dipersiapkan untuk menjadi Uskup. Osma adalah kota tua berbenteng, makmur dan memiliki Gereja yang indah. Osma menyediakan ketenangan dan kenyamanan bagi Dominikus saat perang dan kelaparan melanda Spanyol di abad pertengahan. Dia juga dipersiapkan untuk mengemban posisi Uskup di Osma. Namun, Dominikus memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Menghadapi kesulitan besar dan bahaya yang mengancam hidupnya, ia pergi untuk memberitakan Injil di Perancis Selatan di mana kelompok sesat, Albigentians, telah berakar.

St. Dominikus dan banyak orang kudus lainnya menjadi teladan pemberian diri yang total, tapi berapa banyak dari kita yang bisa melakukan apa St. Dominikus telah lakukan? Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak siap untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak bisa begitu saja menjual segala yang kita miliki karena kita perlu untuk membesarkan anak-anak kita dan mengirim mereka ke sekolah. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan studi kita karena kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjalankan bisnis kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan para pekerja dan keluarga mereka. Saya sendiri harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk melepaskan koleksi buku-buku saya.

Kita terjerat dalam kompleksitas kehidupan. Namun, di dalam hati kita, kita selalu merasakan kerinduan untuk menyerahkan segalanya demi Kerajaan Allah. Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengorbanan sederhana setiap hari.

Seorang ibu yang bangun pagi, mempersiapkan sarapan untuk keluarga, membawa anak-anaknya ke sekolah, pergi bekerja untuk mencari nafkah, memasak makan malam untuk suaminya, dan pada dasarnya menyisihkan mimpinya untuk bekerja dengan kaum miskin, benar-benar memberikan dirinya kepada Tuhan. Saya punya teman frater yang cerdas dan sangat bertekad untuk menjadi seorang imam. Saya yakin bahwa dia bisa menjadi seorang imam yang baik suatu hari nanti. Tapi, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, saudara-saudaranya yang masih belajar, dan ibunya berpenghasilan sangat pas-pasan. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meninggalkan seminari dan bekerja untuk membantu keluarganya. Dia mengorbankan harapannya untuk melayani Tuhan sebagai imam, namun ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, dengan merawat keluarganya.

Saya percaya bahwa Tuhan penuh belas kasih. Dia mengerti pergulatan kita sehari-hari untuk mengikuti-Nya. Dengan demikian, Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia memberdayakan kita dalam pergulatan kita dan kasih karunia-Nya memungkinkan kita untuk menyerahkan hidup kita secara total ditengah-tengah kompleksitas kehidupan di dunia ini.

St. Dominikus de Guzman, doakanlah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menaklukan Ketamakan

Minggu Biasa kedelapan belas. 31 Juli 2016 [Lukas 12:13-21]

“…jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Luk 12:21)”

Fr Jacques hamelKeserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.

Kadang-kadang, kita dapat dengan mudah menuduh beberapa orang di pemerintahan dan dunia bisnis sebagai serakah. Memang, dengan posisi kekuasaan dan kapasitas intelektual, mereka dapat menyedot sejumlah besar uang hanya untuk diri mereka sendiri. Dana dari para masyarakat pembayar pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, malah masuk ke kantong pribadi mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa keserakahan tidak hanya mempengaruhi mereka yang kaya tetapi semua orang, termasuk juga orang miskin.

Film Slumdog Millionaire (2008) mengkisahkan Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian agama di daerah kumuh di India, mereka dipaksa untuk tinggal di tempat pembuangan sampah. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Salah satu adegan yang mengungkapkan bentuk keserakahan yang mengerikan adalah salah satu anak laki-laki dengan suara merdu, Arwind, dibutakan. Jamal berkomentar kemudian, “penyanyi buta berpenghasilan ganda.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film ini tidak sekedar fiksi belaka, tetapi banyak peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupan kita.

Ketamakan bahkan lebih menghacurkan karena dosa ini tidak hanya tentang kekayaan. Ketamakan adalah dosa yang menghancurkan identitas kita sebagai manusia, diciptakan sebagai citra Allah, dengan kapasitas untuk mengasihi dan berbagi. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Minggu ini, kita menemukan orang kaya hanya peduli dirinya sendiri, panenanya, hartanya, hidupnya dan masa depannya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain, apalagi Tuhan di dalam hatinya. Keserakahan menghancurkan kemanusiaan kita sampai keintinya. Kita menggemgam erat kehidupan kita dan apa yang kita miliki, dan gagal untuk melihat bahwa semua yang kita miliki adalah berkat untuk dibagikan.

Hanya beberapa hari yang lalu, Romo Jacques Hamel dibunuh di dalam Gereja oleh teroris bersenjata. Gereja Saint Etienne-du-Rouvray di Perancis utara diserbu saat misa pagi. Dia dan seorang umat akhirnya meninggal setelah leher mereka digorok. Sementara dunia terkejut dengan tindakan pengecut keji ini, kita sekali lagi diundang untuk melihat lebih dalam kehidupan imam yang sederhana ini yang memberi hidupnya sampai akhir. Kita mungkin percaya bahwa hidup dirampas darinya, tapi kita lupa bahwa sebenarnya dia telah memberikan hidupnya jauh sebelum hari kemartirannya. Dia hidup sederhana dan pada usia 84, dia tetap setia merayakan sakramen dan melayani umat Tuhan setiap hari dalam hidupnya. Dia memberikan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Kematiannya bukanlah suatu kerugian, tapi sebuah peneguhan atas kemurahan hatinya yang menginspirasi dunia. Sebagaimana St. Tertulian pernah berkata, Darah para martir adalah benih umat Kristiani.

Kemurahan hati dari Rm. Hamel ini adalah refleksi dari panggilan terdalam kita sebagai manusia, sebagai citra Allah. Dan hanya dalam kasih yang sejati dan kemurahan hati yang melimpah, kita dapat melawan keserakahan dan ketamakan yang menjangkiti jiwa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa kepada Bapa Kita

Minggu Biasa ke-17. [24 Juli 2016] Lukas 11:1-13

 “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (Luk 11: 2-3)”

dominican rosaryKetika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi. Saya pernah menulis bahwa Tuhan bukanlah ATM spiritual dan doa kita adalah kartu ATM. Setelah memasukan ‘kartu ATM doa’ dan mengetikan ‘password Amin’, Allah akan serta-merta menghasilkan apa yang kita inginkan. Tapi, saya menyadari bahwa setiap pagi, ketika saya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dan bunda Maria La Naval, doa-doa saya adalah doa permohonan. Saya meminta Tuhan banyak hal, seperti sarapan yang enak, kemudahan dalam ujian, kadang-kadang berharap bisa dapat cuti lebih awal dan panjang. Tentu saja, saya berdoa juga bagi orang-orang yang saya kasihi dan mereka yang telah saya janjikan untuk didoakan.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid bagaimana berdoa. Ia mengajar mereka doa yang paling indah, ‘Doa Bapa Kami.’ Meskipun versi Lukas lebih pendek dari versi Matius, keduanya mengandung sikap dasar yang sama. Ini adalah doa permohonan. Kita meminta Kerajaan-Nya datang. Kita meminta rejeki yang cukup. Kita memohon pengampunan dan pembebasan dari yang jahat. Kita memohon Tuhan memberikan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk berdoa dengan rendah hati, tetapi juga berdoa dengan penuh keyakinan. Kita berdoa dengan yakin karena bagi Yesus, Tuhan adalah Bapa yang peduli dan penuh kasih. Saya sadar bahwa tidak semua memiliki pengalaman yang menyenangkan dengan ayah kita. Banyak dari kita, seperti saya sendiri, beruntung memiliki ayah yang bias diandalkan. Tapi, beberapa dari kita harus berurusan dengan ayah kasar dan keras. Dan beberapa dari kita tidak tahu siapa ayah kita sebenarnya. Tetapi, Yesus meyakinkan kita bahwa Bapa kita di surga adalah bapa yang paling peduli, paling penuh kasih dan terbaik. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya? (Luk 11: 11-13)”

Kadang-kadang, kita bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita. Kita perlu ingat bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Ia tidak menjawab doa kita mungkin apa yang kita inginkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Ada sesuatu yang lebih baik telah disiapkan bagi kita. Dia selalu menjawab doa-doa kita, tetapi seringkali, kita tidak mendengarkan jawaban terbaik-Nya.

Bentuk doa paling agung dalam tradisi Katolik adalah Ekaristi Kudus. Ekaristi sebenarnya berarti doa syukur (dari bahasa Yunani ‘eucharistein’, untuk bersyukur), namun Ekaristi juga bisa diartikan sebagai doa permohonan. Bahkan, dalam Ekaristi, kita memohon Tuhan sesuatu yang paling kita butuhkan, keselamatan kita dan keselamatan dunia. Untuk mencapai hal ini, kita mempersembahkan sebuah kurban yang paling baik kepada Bapa, yakni Yesus Kristus sendiri. Tentunya, Bapa akan bahagia menerima kurban yang paling sempurna ini. Bapa pun melimpahi kita dengan rahmat-Nya. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa keselamatan kita bergantung dalam doa.

Kita berdoa karena ini adalah siapa kita. Kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan. Kita bergantung seluruhnya pada Allah. Kita berlutut di hadapan-Nya. Namun juga, kita berdoa karena kita yakin Dia akan mendengarkan doa kita. Kita yakin bahwa Tuhan akan memperhatikan dan memberikan yang terbaik. Kita berdoa karena Allah adalah Bapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert atau Ekstrovert?

Minggu Biasa ke-16. [17 Juli 2016] Lukas 10: 38-42

 Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42).”

Beberapa minggu yang lalu, saya mengikMartha and Mary by He Qiuti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.

Membaca Injil hari ini, kita menemukan dua protagonis, Marta dan Maria. Tak diragukan lagi, Marta secara dominin adalah ekstrovert. Dia melakukan semua pekerjaan. Dia sangat aktif. Bahkan, dia tidak segan-segan terlibat pembicaraan dengan Yesus. Sementara Maria adalah tipikal introvert. Dia bisa tenang, diam dan hanya mendengarkan Yesus. Dia bahkan tidak bergerak di kaki Yesus. Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulutnya.

Dalam cerita, ketika Marta mengeluh kepada Yesus karena saudaranya yang diam saja, Yesus membela Maria. Apakah ini berarti bahwa Yesus lebih meyukai pribadi introvert daripada ekstrovert? Saya rasa tidak. Jika kita melihat kehidupan Yesus, kita dapat mengatakan bahwa Yesus secara dominan adalah ekstrovert. Ia melakukan banyak hal: penyembuhan, mengusir roh jahat, memberi makan, melakukan mujizat, dan mengajar. Dia terlibat dalam kehidupan banyak orang. Dia menghadiri banyak pesta dan perayaan, dan bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa (lit. Mat 11:19)!

Jadi, mengapa Yesus berkata kepada Marta, Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik (Luk 10:42)?” Saya percaya Yesus tidak pilih kasih. Sebaliknya, Yesus  bermaksud mengingatkan Marta bahwa ia telah kehilangan tujuan utama dari pelayanannya. Yesus tidak alergi dengan Marta yang adalah ekstrovert, tapi Marta membandingkan dirinya dengan saudaranya. Lebih buruk lagi, ia memaksakan caranya sebagai cara terbaik terbaik untuk melayani Tuhan. Saat ia terhanyut di dalam dirinya sendiri, Marta kehilangan Yesus.

Maria memilih bagian yang lebih baik karena ia tidak memaksakan kehendaknya dan membiarkan Marta menjadi Marta. Dia tidak mengeluh ketika Marta melakukan sesuatu yang berbeda darinya, karena ia fokus pada Yesus. Maria menolak godaan untuk membuat dirinya sebagai pusat pelayanan dan kehidupannya, dan menjadikan dirinya sabagai tuhan kecil. Jadi, tidak hanya dia membolehkan Marta menjadi Marta, ia juga membolehkan Yesus menjadi Tuhan. Ini adalah bagian yang terbaik.

Kita semua, dengan kepribadian yang unik dan bakat yang berbeda, dipanggil untuk menjadi murid Yesus, dan untuk berkontribusi dalam membangun Gereja-Nya. Gereja membutuhkan baik introvert dan ekstrovert. Bahkan, ketika kita bekerja bersama-sama, kita dapat berkontribusi secara signifikan lebih besar dari kontribusi individu kita masing-masing. Beberapa frater-frater saya di komunitas menikmati bermisi dan berkhotbah di banyak tempat. Saya mengakui bahwa saya harus mengerahkan usaha ekstra untuk sekedar pergi keluar seminari, dan jauh lebih mudah bagi saya untuk menghabiskan berjam-jam membaca dan menulis. Kami kemudian bekerja sama. Saya menawarkan berbagai materi pewartaan dan frater-frater saya melakukan aksi pewartaan yang sebenarnya.

Bahayanya adalah ketika kita hanya berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara dan mulai mengeluh tentang orang-orang yang berbeda dari kita. Kita tidak lagi memikirkan Kristus, tetapi diri kita sendiri, dan membuat diri kita sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita berdoa agar kita dapat memilih bagian yang lebih baik karena kita bekerja bersama-sama untuk melayani Tuhan, dan di dalam karya dan kehidupan kita, Tuhan benar-benar dimuliakan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengasihilah dan Kamu akan Hidup!

Minggu Biasa ke-15/ 10 Juli 2016 [Lukas 10: 25-37]

 “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? (Luk 10:25)”

jesus and scholarPara ahli Taurat mewakili kelompok intelektual elit di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Saat sebagian besar dari bangsa Yahudi berjuang untuk mengisi perut mereka, kelompok ahli Taurat memiliki akses langka untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita bisa menduga bahwa para ahli hukum Taurat adalah cukup kaya untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci bangsa Yahudi tak terganggu. Dibandingkan dengan orang-orang Yahudi biasa, mereka tentunya ahli dengan berbagai rincian dan interpretasi hukum Taurat. Tidak heran, mereka bisa dengan mudah menjadi tinggi hati atau sombong.

Lukas menggambarkan sang ahli Taurat sebagai salah seseorang yang ‘berdiri’ dan ‘mencobai’ Yesus. Jelas, ia datang membawa superioritas intelektualnya dan menantang Yesus untuk membuktikan bahwa ia jauh lebih baik dari-Nya. Dia mungkin berpikir, Yesus, anak tukang kayu; dia tahu apa-apa! Tapi, kesombongannya tidak memberinya apa-apa selain kekalahan. Dia menyerang Yesus dengan pertanyaan yang paling sulit. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Namun, Yesus menyadari niatnya. Yesus mengingatkan bahwa jawabannya terletak di jantung Taurat itu sendiri, dan memungkinkan dia untuk menjawab pertanyaannya sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Ul 6: 5).” Jawabannya sangat sederhana tapi sungguh benar, dan setiap orang Yahudi yang bersama Yesus, akan segera memberikan anggukan mereka.

Menolak untuk menerima kekalahannya, sang ahli Taurat membuat upaya terakhir untuk membenarkan dirinya sendiri. Dia meminta Yesus untuk menjelaskan siapakah ‘sesama’ ini yang dia harus menkasihi. Yesus kemudian menerangkan kepadanya salah satu perumpamaan terindah yang pernah kita dengar: Orang Samaria yang Baik. Mengasihi berarti mengasihi secara radikal. Mengasihi berarti berbuat baik bahkan bagi mereka yang tidak layak kita kasihi. Namun, Yesus tidak hanya untuk memaksa sarjana untuk mengakui kekalahannya, namun Dia juga mengajak sang ahli untuk merefleksikan tujuan hidupnya lebih dalam sebagai seorang Yahudi.

Ada kalanya, kita sangat yakin dengan diri kita sendiri. Kita merasa kita mengetahui banyak hal. Kita terlibat dalam diskusi dan perdebatan tentang berbagai isu di Gereja dan masyarakat. Kita mengambil kubu, baik di kelompok progresif ataupun konservatif, dan berdebat tanpa henti. Kita belajar teologi, spiritualitas dan kepemimpinan, dan kita merasa kita lebih baik dari seluruh Gereja. Kita terlibat dalam sebuah pelayanan atau kelompok tertentu begitu lama, dan kita melihat dengan rendah para pendatang baru di dalam kelompok. Secara tidak sadar, kita menjadi seperti ahli Taurat di dalam Injil ini yang berdiri dan mencobai sesama. Saya akui juga kadang, saya memiliki sikap sombong ini. Ketika saya mengajar, saya sering memproyeksikan diri saya sebagai guru yang mahatahu dan melemparkan pertanyaan yang paling sulit untuk murid-murid saya. Sungguh menyenangkan ketika saya tahu bahwa hanya saya yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tuhan, ampunilah aku!

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini suatu kebenaran sederhana namun mendasar: kesombongan hanya membawa kekalahan, hanya kerendahan hati yang dapat membawa kita kehidupan yang kekal. Dan kerendahan hati ini hanya bisa dipraktekkan di dalam kasih. Meminjam kata-kata Santo Paulus, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Kor 13: 2-3).

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mewartakan Kedamaian

Minggu Biasa ke-14/ 3 Juli 2016/ Lukas 10: 1-12, 17-20

 “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. (Luk 10: 5).”

sending 72 - 2Menjadi murid Yesus adalah sulit. Dan hal ini semakin sulit karena kita diutus untuk mewartakan kedamaian. Sekarang ini, kedamaian adalah hal yang paling sulit dipromosikan. Dalam dunia yang mabuk dengan ideologi fundamentalis dan kepimikiran sempit, kekerasan telah menjadi makanan sehari-hari. Di Suriah dan Irak, perang tampaknya tak akan berakhir, dan setiap harinya, mengklaim nyawa orang-orang tak berdosa. Bom bunuh diri dan penembakan gila-gilaan menjadi kejadian umum. Baru-baru ini, beberapa orang yang tidak dikenal meledakkan diri di dalam bandara sibuk di Istanbul, Turki, menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai banyak lainnya. Beberapa minggu yang lalu, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam sebuah bar di Orlando, AS, dan membunuh lebih 50 orang. Ini adalah kasus terburuk dalam sejarah AS.

Kekerasan menelurkan kekerasan. Ketakutan akan kekerasan bahkan melahirkan lebih banyak kekerasan. Beberapa hari yang lalu, saya bercakap-cakap dengan Prof. Steven Friesen dari University of Texas. Kami membahas banyak hal, tapi satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rasa takut telah mempengaruhi banyak orang Amerika. Sebuah undang-undang telah disahkan bahwa sekarang mahasiswa dapat membawa senjata di dalam kampus dan ruang kelas. Prof. Friesen tidak bisa menemukan logika di dalamnya. Para siswa tidak diperbolehkan untuk merokok di dalam kampus, tapi mereka diizinkan untuk membawa senjata api!

Yang memprihatinkan adalah budaya kekerasan tidak jauh dari hidup kita sehari-hari. Kekerasan fisik adalah salah satu yang paling jelas, tetapi bukan satu-satunya. Kekerasan dapat mengambil bentuk intimidasi, pelecehan baik seksual dan perkataan, diskriminasi dan bahkan ketidakpedulian. Kekerasan bisa terjadi di tempat kerja kita dan rumah kita sendiri. Kita mungkin melakukan kekerasan terhadap teman-teman, anggota keluarga kita dan bahkan lingkungan kita. Bagian suramnya adalah bahwa sering, kita tidak sadar melakukan hal ini. Saat memberikan rekoleksi dan retret bagi kaum muda, saya bersyukur bisauk mendengarkan kisah-kisah pribadi mereka. Hal ini memprihatinkan bahwa beberapa dari mereka ini adalah  korban kekerasan dalam rumah tangga. Pertumbuhan intelektual dan emosional mereka terhambat, dan mereka menanggung pengalaman traumatis di sepanjang hidup mereka. Ketakutan saya adalah bahwa mereka akan mewujudkan kemarahan dan kebencian yang tersembunyi dan berubah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Kita adalah murid-murid Kristus. Ini berarti kita diutus untuk mengajarkan kedamaian. Kita mungkin bergabung dengan gerakan anti-kekerasan dalam masyarakat kita. Namun, tempat terbaik untuk mewartakan kedamaian dalam diri kita sendiri. Kita memeriksa hidup kita sendiri dan kita mungkin akan terkejut dengan tidak kekerasan yang kita lakukan setiap hari. Memberitakan perdamaian berarti kita berhenti melakukan kekerasan yang terkadang sangat halus, untuk meminta maaf, dan untuk memperbaiki keadaan. Saya harus mengakui bahwa kadang-kadang, saya melakukan kekerasan. Terlibat dalam pelayanan dan formasi kaum awam, terkadang, saya harus mendorong orang untuk melakukan yang terbaik. Namun, alih-alih membantu mereka, aku menyakiti mereka.

Memang benar memberitakan kedamaian adalah sulit. Kadang-kadang, dalam mewartakan kedamaian, kita menerima kekerasan. Kadang-kadang, kita tidak kecewa oleh hasilnya. Kadang, meskipun upaya yang terbaik, kita tetap melakukan kekerasan bahkan untuk orang-orang yang kita cintai. Namun, kita boleh menyerah. Tanpa mewartakan damai, kita akan selalu menjadi bagian dari kekerasan. Tanpa mewartakan damai, kita tidak akan pernah mencapai kedamaian dalam diri kita sendiri. Tanpa mewartakan damai, kita berhenti mengikuti Kristus di jalan salib.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,  OP

Tuntutan Kasih

Minggu Biasa ke-13/26 Juni 2016 [Lukas 9:51-62]

 “Biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk 9:60).”

following jesusMengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.

Hal Kedua adalah hasrat kita untuk keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk mencari kenyamanan dan kehidupan yang menyenangkan adalah bagian dari sifat kita, dan ini tidak lepas dari usaha kita mengumpulkan kekayaan. Mentalitas modern juga melatih kita untuk mencintai kerja dan bersaing untuk posisi tertinggi dan sukses terbesar. Ketika kita bekerja keras dan berprestasi di berbagai bidang hidup kita, seperti dalam karir, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja, ini memberi kita kepuasaan. Namun, Yesus juga menginginkan kita untuk lepaskan hal ini. Yesus secara sederhana mengatakan, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Hal ketiga adalah yang paling sulit. Ini adalah keluarga. Ketika seorang pengikut Yesus ingin menguburkan ayahnya, Yesus membuat pernyataan kuat namun simbolik, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sebagai orang Indonesia, saya memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Hampir semua peristiwa besar dalam hidup saya seperti wisuda dan kaul kekal, orang tua saya hadir dengan bangga. Meskipun, ini berarti mereka perlu terbang ke Manila dan menghabiskan banyak uang. Sama halnya juga dengan frater-frater OP Filipina, tidak terpikirkan bagi mereka untuk benar-benar melepaskan diri dari keluarga mereka. Namun, bahkan yang paling berharga ini, Yesus ingin kita sisihkan.

Sepertinya permintaan yang Yesus tidak hanya sangat sulit, tetapi juga mustahil. Mengapa harus seperti ini? Membaca Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus telah menetapkan tujuan-Nya ke Yerusalem. Dia tahu betul bahwa tidak ada apa-apa selain kegagalan dan kematian-Nya di sana. Namun, Dia tetap melakukan ini karena Dia taat pada kehendak Bapa-Nya. Apakah kehendak Bapa? Hal ini adalah tuntutan kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengajak kita untuk membenahi prioritas kasih kita secara radikal. Ketika kita mengasihi Allah, maka selebihnya akan berada di tempat yang tepat.

Ketika kita melihat Allah terlebih dahulu, kita akan mencoba sebaik mungkin untuk mengasihi orang yang membenci kita karena mereka juga diciptakan sebagai citra Allah juga. Ketika kita mencari Tuhan terlebih dahulu, harta benda, kesuksesan dan keamanan hidup dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Dan, sebagai berkat, kita dengan mudah berbagi dengan sesama. Ketika kita mengasihi Allah terlebih dahulu, kasih kita untuk keluarga kita akan dimurnikan, karena kita akan membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Seorang teman bercerita bagaimana keluarga sangat penting baginya. Tapi, semua mulai berantakan, karena adiknya terterat dalam kecanduan narkoba. Awalnya, ia tidak suka adiknya menjalani rehabilitasi dan terpisah dari keluarga untuk waktu yang lama. Tapi, setelah doa yang panjang, ia memutuskan untuk membawa adiknya untuk masuk pusat pemulihan. Ini adalah keputusan yang menyakitkan, tapi kasihnya kepada Allah telah membawa dia ke sebuah kasih yang lebih besar untuk sang adik. Sekarang, ia menjadi lebih saleh dan ia menghadiri misa setiap hari untuk pemulihan adiknya.

Untuk mengikuti Yesus adalah sulit, tetapi ini adalah bagian dari tuntutan kasih. Dan hanya kasih kita kepada Allah membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?”

Minggu Biasa ke-12. 19 Juni 2016 [Lukas 9:18-24]

quo vadisApa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?

Kristus berasal dari kata Yunani ‘Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin umat-Nya, Dia memerintahkan Nabi Samuel untuk pergi ke Betlehem ke rumah Isai dan mencari Daud. Ketika sang nabi menemukannya, ia mengurapi Daud dengan minyak suci. Roh Tuhan kemudian bergegas dan memenuhi Daud (1 Sam 16: 1-14). Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.

Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Pada awal misi pewartaan-Nya, Yesus pergi ke rumah ibadat di Nazaret dan menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.

Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?

Untuk menjawab dengan benar, kita perlu mengerti pertanyaan Yesus dengan benar. Saat, kita mengerti pertanyaan Yesus “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Apakah kita berani memberikan jawaban yang benar? St. Paulus mengingatkan siapa kita sebenarnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus;  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Gal 2: 19-20).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP