Minggu Advent ke-4. [18 Desember 2016] Matius 1: 18-24.
“Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat 1:19).”
Jika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.
Sebagai contoh, Yesus mewarisi profesi Yusuf. Ayah-Nya adalah seorang tukang kayu, maka Yesus juga disebut sebagai tukang kayu (lih. Mar 6:3). Namun, pengaruh Yusuf tidak terbatas dalam hal profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Dalam Injil hari ini, Yusuf disebut sebagai ‘orang tulus’. Dalam masyarakat Yahudi, ‘orang yang tulus’ adalah gelar bagi seorang terhormat karena ia setia mengikuti Hukum Allah atau Hukum Taurat. Dia tidak hanya paham Hukum Taurat, namun Yusuf juga mengamalkannya. Sekarang, jika kita menempatkan diri pada posisi Yusuf ketika ia menerima kabar kehamilan Maria, apa perasaan Yusuf? Sebagai manusia biasa, ia tentunya sangat terluka, merasa dikhianati oleh tunangannya sendiri. Sebagai orang baik Nazareth, iapun harus menanggung malu.
Sebagai orang paham hukum, dia tahu Maria yang hamil diluar pernikahan, telah melakukan perzinahan, dan dosa ini patut dihukum mati (lih. Im 20:10). Penuh denga rasa sakit hati dan amarahnya, Yusuf bisa saja membuat tuduhan secara publik dan melempar batu pertama pada Maria. Dia memiliki semua hak untuk marajam Maria dan memuaskan dendam. Tapi, Yusuf memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menggunakan Hukum untuk pembalasan, Yusuf memutuskan untuk menggunakan Hukum yang sama untuk menyelamatkan hidup Maria, dan juga hidup Yesus dikandungan. Keputusannya bahkan menjadi lebih berarti karena ia memilih untuk menyelamatkan Maria sebelum Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dan menjelaskan penyebab kehamilan Maria. Meskipun sakit hati, Yusuf memilih untuk menerapkan Hukum secara penuh belas kasihan. Dan ini adalah apa yang Yusuf ajarkan kepada Yesus.
Yesus sering berargumentasi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang interpretasi Hukum Allah, dan bagi Yesus, belaskasih dan kerahiman perlu menjadi keutamaan daripada dendam dan kebencian. Tidak heran jika Yesus berani menyembuhkan orang pada hari Sabat (lih. Mat 12:10), mengizinkan murid-murid yang lapar untuk memetik gandum juga pada hari Sabat (lih. Mat 12: ) dan menolak untuk merajam wanita yang tertangkap dalam perzinahan (lih. Yoh 8:1-11). Akhirnya, Yesus menyatakan bahwa hukum yang paling penting dari semua hukum adalah Hukum cinta kasih. Ini semua Yesus pelajari dari Yusuf, bapak angkat-Nya.
Saat kita mempersiapkan diri untuk Natal, baik jika merenungkan Yusuf dan belajar dari dia. Apakah kita menggunakan dan membuat hukum-hukum dan peraturan dalam keluarga, kelompok dan masyarakat kita hanya untuk menghukum dan bahkan menghabisi sesama, atau untuk menyembuhkan mereka? Ketika kita disakiti, apa reaksi pertama kita? Membalas dendam atau bekerja untuk rekonsiliasi? Apa pemahaman kita tentang keadilan? Sebuah pembalasan atau restorasi kebaikan? Kita berdoa St. Yusuf akan membawa kita ke dalam masyarakat adil dan damai yang didasarkan pada rahmat dan kasih.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.
Kita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.
Perayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.
Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci. Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.



Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.
Membaca Injil hari ini, tampaknya memiliki iman itu membuat kita memiliki kekuatan super. Jika saya memiliki iman, saya dapat menanam padi di dasar laut. Jika saya memiliki iman, saya bisa membuat mobil Lamborghini dari tumpukan sampah. Jika saya memiliki iman, saya bisa mengubah suara saya seindah Ed Sheeran. Tapi, iman tidak seperti itu. Iman bukanlah pertunjukan sulap untuk menghibur kita. Iman bukanlah jawaban instan bagi keinginan-keinginan kita. Namun, benar adanya bahwa bahkan iman terkecil pun dapat membuat berbedaan yang berarti dalam hidup kita.
Ketika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu.” Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”