Bintang

Hari Raya Penampakan Tuhan. 8 Januari 2017 [Matius 2:1-12]

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia (Mat 2:2).”

graphics-epiphanyHari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh orang-orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.

Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa orang-orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting sehingga Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.

Sekarang jika kita melihat langit malam, kita dapat mengamati jutaan bintang. Kemudian, kita mungkin bertanya apa yang membuat bintang Yesus ini berbeda dari cahaya-cahaya yang lain? Orang Majus adalah ahli dalam bidang astronomi, atau ilmu tentang objek langit, dan mereka mampu untuk membedakan bintang mana yang akan membawa mereka ke Raja yang baru lahir. Bintang ini tidak hanya bersinar seperti yang lainnya, tetapi juga menerangi dan memberi panduan. Seperti nelayan yang berpengalaman, sebelum adanya GPS, mereka akan menggantungkan hidup mereka pada cahaya bintang-bintang, dan di antara miliaran bintang di langit, hanya sedikit yang benar-benar menunjukkan mereka arah yang benar dan membawa mereka kembali ke pelabuhan.

Kita semua dipanggil untuk menjadi bintang. Tapi godaan adalah kita sekedar bersinar dan menarik orang lain pada diri kita sendiri. Kita gagal untuk mengenali bahwa cahaya yang Allah telah berikan kepada kita adalah untuk menerangi dan membimbing orang lain kepada Yesus. Ketika St. Thomas Aquinas ditanya apa yang membuat Ordonya lebih menonjol dari Kongregasi lainnya, ia menjawab bahwa seperti halnya lebih baik untuk menerangi daripada sekedar bersinar, jadi lebih baik untuk berbagi buah kontemplasi daripada hanya sekedar berkontemplasi. Tentu saja, para Benediktin tidak akan setuju! Salah satu fitur utama dalam patung St. Dominikus adalah bintang di dahinya. Tentu saja, ini adalah simbol dari bimbingan dan arahan bagi siapa saja yang mencari Allah. Tak heran jika St. Dominikus kurang terkenal dibandingkan Dominikan lain seperti St. Thomas Aquinas, St. Katarina dari Siena atau St. Martin de Porres, karena sampai akhir hidupnya, seperti bintang yang membimbing, hidupnya selalu menunjuk kepada Allah.

Untuk memiliki cahaya tidaklah cukup. Kita mungkin menjadi bintang yang hanya bersinar terang. Kita beralih menjadi bintang kampus, bintang perusahaan, bintang paroki atau bahkan pengkhotbah bintang. Tentu saja, untuk menerima banyak perhatian dari banyak orang memberikan kepuasan, tapi ini bukan tujuan sebenarnya dari cahaya kita. Epifani adalah penampakan dari Tuhan, tapi siapa di antara kita telah mencoba untuk menutupi-Nya dengan cahaya kita yang menyilaukan? Berapa banyak dari kita yang membawa orang lain kepada Yesus? Namun, ini belum terlambat. Epifani adalah waktu bagi kita untuk menyelaraskan kembali dengan tujuan sejati dari cahaya kita: tidak hanya bersinar, tapi untuk menerangi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tahun Baru yang Sesungguhnya

Hari Raya Maria Bunda Allah. 1 Januari 2017. Lukas 2: 16-21

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkanny (Luk 2:19).”

happy-new-year-2017Hari ini, dunia merayakan tahun baru. Dan, banyak dari kita merayakannya dengan berpesta, menonton kembang api, menari dan menyanyi. Namun, hari ini, Gereja memutuskan untuk melawan arus dan merayakan sesuatu yang berbeda, Maria Bunda Allah. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari raya kewajiban yang berarti kita harus pergi ke gereja suka atau tidak. Saya ingat menghadiri Ekaristi pada 1 Januari di paroki saya di Bandung, dan sang imam tidak pernah sekalipun memberi ucapan Selamat Tahun Baru kepada jemaat sampai misa selesai!

Kita mungkin bertanya, “Mengapa kita harus masih merayakan Bunda Allah pada awal tahun?” Pertama, mengingat Maria sebagai ibu Yesus dalam konteks Natal adalah sesuatu yang tepat secara theologis dan liturgis. Jadi, tepat seminggu setelah kelahiran Kristus, kita menghormati wanita yang telah mempersembahkan rahimnya, tubuhnya dan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kedua, kita diingatkan bahwa awal yang benar tidak hanya sesuatu yang ditandai di dalam kalender kita, atau dengan perayaan-perayaan besar penuh kesenangan. Awal yang sejati terjadi di dalam diri kita. Seperti dalam proses kehamilan dan melahirkan, pada mulanya, perubahan ini tidak begitu jelas. Hal ini terjadi di dalam rahim, dan dibutuhkan beberapa waktu sebelum embrio tumbuh lebih besar dan membuat kehadirannya terasa. Proses ini sulit, tidak mudah untuk dipahami, dan kadang-kadang menyakitkan. Namun, di dalam rahim ini ada hidup yang membawa masa depan, yang belum begitu jelas, namun menarik dan penuh harapan.

Ketika Malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria, dia menjadi bingung dan takut.  Maria tahu jika ia berkata ya, hidupnya aka ada dalam bahaya besar. Tidak seperti beberapa masyarakat modern dimana perempuan yang belum menikah dan hamil adalah sesuatu yang lumrah, komunitas Yahudi kuno siap untuk menghukum pelanggaran ini. Maria mengandung praktis di luar nikah, dan dia harus menanggung semua konsekuensinya. Ia akan membawa aib untuk keluarganya, tunangannya, Joseph, dan dirinya sendiri. Bayinya mungkin akan disebut anak haram. Dan akhirnya, dia dan bayinya bisa dirajam sampai mati. Namun, imannya kepada Allah lebih besar dari ketakutannya. Diapun berani menerima dalam rahimnya, bayi kecil yang akan menjadi masa depan dunia.

Pada tahun 2006, misi Dominikan di Indonesia dimulai dalam kesederhanaan. Kami hanya terdiri dari dua imam, Pastor Adrian dan Robini, dan rekan Filipina, Rm. Terry dan seorang misionaris awam, Ms. Jemely. Praktis kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada institusi, tidak ada rumah, tidak ada uang. Kami bahkan tinggal di rumah kecil dan sederhana di dalam seminari keuskupan di Kalimantan. Kami harus bekerja keras hanya untuk mendukung kehidupan kami sehari-hari dan kami bergantung pada kemurahan hati banyak orang. Tak seorang pun di antara kami yakin apa yang masa depan akan bawa kepada kami. Tetapi, kami terus beriman kepada Allah. Sekarang, setelah 10 tahun, kami telah tumbuh secara signifikan. Kami memiliki dua rumah yang stabil di Pontianak dan Surabaya. Sekarang kita melayani banyak orang melalui berbagai karya kerasulan. Tentu saja, orang-orang muda dan berbakat datang dan bergabung dengan kami.

Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman kepada Allah karena bagi-Nya, tidak ada yang mustahil. Masa depan mungkin tidak pasti, menakutkan dan gelap, tetapi “bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan terus melengkapinya sampai hari Kristus Yesus (Fil 1:6).” Ini adalah semangat Tahun Baru yang benar, sebuah jiwa dari perubahan nyata, sebuah iman yang menjiwai kita untuk bergerak maju.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa yang Yesus Dapatkan dari Yusuf?

Minggu Advent ke-4. [18 Desember 2016] Matius 1: 18-24.

“Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat 1:19).”

jm_200_NT1.pd-P7.tiffJika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.

Sebagai contoh, Yesus mewarisi profesi Yusuf. Ayah-Nya adalah seorang tukang kayu, maka Yesus juga disebut sebagai tukang kayu (lih. Mar 6:3). Namun, pengaruh Yusuf tidak terbatas dalam hal profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Dalam Injil hari ini, Yusuf disebut sebagai ‘orang tulus’. Dalam masyarakat Yahudi, ‘orang yang tulus’ adalah gelar bagi seorang terhormat karena ia setia mengikuti Hukum Allah atau Hukum Taurat. Dia tidak hanya paham Hukum Taurat, namun Yusuf juga mengamalkannya. Sekarang, jika kita menempatkan diri pada posisi Yusuf ketika ia menerima kabar kehamilan Maria, apa perasaan Yusuf? Sebagai manusia biasa, ia tentunya sangat terluka, merasa dikhianati oleh tunangannya sendiri. Sebagai orang baik Nazareth, iapun harus menanggung malu.

Sebagai orang paham hukum, dia tahu Maria yang hamil diluar pernikahan, telah melakukan perzinahan, dan dosa ini patut dihukum mati (lih. Im 20:10). Penuh denga rasa sakit hati dan amarahnya, Yusuf bisa saja membuat tuduhan secara publik dan melempar batu pertama pada Maria. Dia memiliki semua hak untuk marajam Maria dan memuaskan dendam. Tapi, Yusuf memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menggunakan Hukum untuk pembalasan, Yusuf memutuskan untuk menggunakan Hukum yang sama untuk menyelamatkan hidup Maria, dan juga hidup Yesus dikandungan. Keputusannya bahkan menjadi lebih berarti karena ia memilih untuk menyelamatkan Maria sebelum Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dan menjelaskan penyebab kehamilan Maria. Meskipun sakit hati, Yusuf memilih untuk menerapkan Hukum secara penuh belas kasihan. Dan ini adalah apa yang Yusuf ajarkan kepada Yesus.

Yesus sering berargumentasi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang interpretasi Hukum Allah, dan bagi Yesus, belaskasih dan kerahiman perlu menjadi keutamaan daripada dendam dan kebencian. Tidak heran jika Yesus berani menyembuhkan orang pada hari Sabat (lih. Mat 12:10), mengizinkan murid-murid yang lapar untuk memetik gandum juga pada hari Sabat (lih. Mat 12: ) dan menolak untuk merajam wanita yang tertangkap dalam perzinahan (lih. Yoh 8:1-11). Akhirnya, Yesus menyatakan bahwa hukum yang paling penting dari semua hukum adalah Hukum cinta kasih. Ini semua Yesus pelajari dari Yusuf, bapak angkat-Nya.

Saat kita mempersiapkan diri untuk Natal, baik jika merenungkan Yusuf dan belajar dari dia. Apakah kita menggunakan dan membuat hukum-hukum dan peraturan dalam keluarga, kelompok dan masyarakat kita hanya untuk menghukum dan bahkan menghabisi sesama, atau untuk menyembuhkan mereka? Ketika kita disakiti, apa reaksi pertama kita? Membalas dendam atau bekerja untuk rekonsiliasi? Apa pemahaman kita tentang keadilan? Sebuah pembalasan atau restorasi kebaikan? Kita berdoa St. Yusuf akan membawa kita ke dalam masyarakat adil dan damai yang didasarkan pada rahmat dan kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialogue of Truth

Sunday of Advent. December 11, 2016 [Matthew 11:2-11]

 “Are you the one who is to come, or should we look for another? (Mat 11:3)”

dialogue The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.

Unfortunately, not everyone is trained to listen. Not everybody is humble enough to open their minds and heart to vast possibilities the truth offers. Not many have the endurance and perseverance to involve in long and tedious dialogue. We rather shut out ears and minds. We prefer to stay in our comfortable yet small world. Then, we are suspicious of those who are different from us. We even become violent towards those who initiate the conversation of truth with us.

Last week, we listened to John who preached the truth and invited people to conversion. Today, we discover that John was already in jail. He was imprisoned apparently because some people did not like to listen to what John said. These people did not want to be disturbed by the truth, and thus, they decided to silence John. I guess that situation is just not much different nowadays. Those who are able to listen and converse, simply come up with instant yet deadly solutions. Those who try to begin a dialogue of truth in social media immediately fall victims into online buzzing and bullying. In more serious situations, people involved in crimes and corruptions try to bribe, threaten or even kill those who begin to speak the truth. Pierre Claverie, OP, bishop of Oran in Algeria, dedicated his life in dialogue with his Muslim brothers and sisters, yet eventually he was murdered by the terrorists who hated his effort in building peace and harmony in Algeria.

In a dialogue of truth, we need to learn from John. In the prison, he was in doubt because Jesus was not behaving like the expected Messiah. Perhaps like other Jews, John also expected a Messiah who was a military and political leader, or perhaps he wanted a Messiah that dealt severely with sinners and outlaws. Jesus simply did not meet his standards. Yet, instead shutting down the possibilities and dealing with his own problems, he opened the conversation with Jesus through his disciples. Jesus graciously answered him by giving some concrete evident of His identity as the Messiah. Jesus also unlocked the new paradigm that helped John unearthed a more profound truth. The truth that set John free from his self-imprisonment.

The season of Advent invites us to this dialogue of truth. We are invited to be more listening to our family members even to the youngest member. We are challenged not to immediately condemn those people who have a different opinion with us but to find the truth in them. St. Thomas Aquinas always included the arguments of those who had opposing views because he believed that there were grains of truth in them as well as they sharpened his own position. It is time for us go out from our small and solitary world and to seek the vast and spacious truth. The Truth that liberates us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Adven: Masa untuk Menemukan Allah

Minggu pertama Adven. 27 November 2016. Matius 24: 37-44

 “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga (Mat 24:44).”

adventKita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.

Iman kita berbicara tentang dua Kedatangan Yesus. Secara historis, kedatangan Yesus yang pertama adalah di Betlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebagai seorang bayi kecil yang lemah lembut. Kita menyebut hari ini sebagai Natal pertama, sementara para teolog namakan momen sakral dalam sejarah ini sebagai Inkarnasi. Ini berarti Sang Sabda, pribadi kedua dari Trinitas, menjadi daging, dan tinggal di antara kita (lihat Yoh 1:14). Sementara Kedatangan Kedua menarik perhatian kita pada kedatangan-Nya sebagai Raja dan Hakim yang mengadili orang yang hidup dan mati. Kedatangan Kedua ini merupakan bagian integral dari sistem kepercayaan kita dan secara eksplisit tertulis di kedua syahadat Gereja: Syahadat para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel.

Pada kedatangan pertama, tak seorang pun menyangka Mesias akan lahir dalam kondisi yang sangat sederhana dan dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Pasa jaman Yesus, orang-orang Yahudi secara alami mengharapkan Mesias akan datang dari keluarga bangsawan yang berpengaruh dan kaya. Tetapi, ini bukan kehendak Allah. Meskipun kita semua percaya pada Kedatangan Kedua, tidak ada yang tahu kapan tepatnya ia akan datang. Ada banyak nabi-nabi mengumumkan akhir dunia, tapi tidak ada yang terbukti benar. Sebagaimana kedatangan pertama yang mengejutkan bangsa Yahudi, demikian juga kedatangan kedua akan membawa kejutan besar bagi kita semua.

Dengan demikian, untuk menghindari ekspektasi yang salah dan juga kelalaian, Gereja mengajak kita untuk merayakan masa Adven. Masa ini melatih kita untuk mengharapkan Kedatangan-Nya, dan untuk mengharapkannya dengan benar. Tapi, bagaimana Masa Adven membuat kita mempersiapkan diri dengan benar? Jawabannya terletak pada kedatangan Yesus yang ketiga. St. Bernard dari Clairvaux mengingatkan kita bahwa ada juga kedatangan ketiga Kristus. Hal ini terjadi antara kedatangan pertama dan kedatangan kedua Kristus. Yesus hadir dalam kehidupan kita sehari-hari dan mengetuk hati kita. Jika kita memiliki keutamaan untuk menemukan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, kitapun akan siap dengan kedatangan akhir-Nya.

Masa Adven mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah sebenarnya nyata dan beragam, kita hanya perlu mengerahkan usaha untuk membuka mata dan hati kita. Pertama, kehadiran-Nya ada pada sakramen, terutama Ekaristi. Setiap kali kita mengambil bagian Ekaristi, kita menerima Tubuh Kristus yang nyata dalam bentuk hosti suci. Kedua, kehadiran-Nya juga diwujudkan dalam Kitab Suci sebagai Firman Allah. St. Agustinus mengingatkan kita untuk tidak hanya membaca dan mempelajari Alkitab, tetapi juga berdoa dengan buku suci ini. Ia menulis, “Ketika kamu membaca Alkitab, Allah berbicara kepadamu; ketika kamu berdoa, kamu berbicara kepada Allah.” Ketiga, kita juga dilatih untuk mencari keberadaan-Nya yang tak terlihat di sekitar kita. Di pintu kamarnya, formator kami di seminari menggantung sebuah tulisan besar: “Latihlah pikiranmu untuk melihat yang baik dalam segala hal.” Ya, kita tidak bisa melihat Allah secara kasad mata, tetapi kita selalu dapat menemukan pekerjaan baik-Nya di sekitar kita. Ia hadir ketika kita memilih untuk memaafkan daripada membalas dendam. Dia ada ketika tiba-tiba anak-anak kita memberi kita pelukan hangat yang sangat kita dibutuhkan. Dia tidak jauh ketika seorang anak miskin kecil memutuskan untuk berbagi sepotong rotinya yang kecil untuk ibu yang sakit.

Bersiaplah dan temukan Tuhan di tengah-tengah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Raja di kayu Salib

Hari Raya Kristus Raja [November 20, 2016] Lukas 23: 35-43

 “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Luk 23:43)”

king-on-the-crossPerayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.

Yesus memulai karya-Nya dengan mewartakan Kerajaan Allah. Jika Allah adalah Raja dan Yesus adalah Anak Tunggal Allah, Yesus adalah pewaris sah tahta Kerajaan ini. Namun, Yesus Kristus sebagai raja lebih jelas terlihat dalam kisah sengsara dan wafat-Nya. Para pemimpin agama Yahudi menuduh Yesus menistaan agama Yahudi karena Yesus mengaku sebagai Mesias, Anak Allah, bahkan Allah sendiri (lih. Yoh 8:58). Namun, para pemimpin ini tidak ingin sekedar merajam Yesus. Mereka menginginkan kematian lebih menyakitkan dan memalukan bagi Yesus. Mereka memutuskan untuk membawa-Nya ke Pontius Pilatus, pemimpin Romawi, agar Yesus disalib. Karena Pilatus tidak mau mengurusi permasalahan agama, para pemimpin Yahudi menuduh Yesus memproklamirkan diri-Nya Raja orang-orang Yahudi. Untuk menjadi seorang raja dan memimpin pemberontakan melawan Kaisar Romawi adalah pengkhianatan dan makar, dan pantas dihukum mati. Yesus pun akhirnya dijatuhi  hukuman mati di kayu salib. Alasan Yesus disalib inipun dipaku di kayu yang sama: Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi, dalam bahasa Latin, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum atau INRI.

Dalam Injil hari ini, kita membaca dari St. Lukas yang menulis dengan indah. Bagi para musuh Yesus, penyaliban adalah kekalahan telak bagi Yesus sang raja dan Mesias. Salah satu tugas utama seorang raja dan Mesias adalah untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi Yesus dipaku di kayu salib, dan bahkan tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri. Orang-orang Yahudi yang membenci-Nya mengejek dia sebagai Mesias tidak berguna, sementara tentara Romawi mencemooh dia sebagai raja yang lemah. Bahkan salah satu penjahat yang tersalib ikut menghujat Yesus. Sungguh, Yesus tidak berdaya, sangat lemah dan menahan rasa sakit yang luar biasa dan berkepanjangan. Teman dan murid-murid-Nya meninggalkan dia. Pengikutnya lari dari-Nya. Kematian menunggu-Nya. Salib adalah momen kegagalan total bagi Yesus.

Namun, di saat kegelapan ini, ketika semua orang berpikir bahwa salib adalah akhir dari Kerajaan Yesus, Ia melakukan tindakan terbesar sebagai seorang raja. Dia mengampuni dan menyelamatkan sang penjahat yang bertobat di kayu salib. Daripada mengeluh atau mengutuk, dia mengucapkan berkat. Alih-alih membalas dendam, Dia menyembuhkan. Bukannya jatuh dalam keputusasaan, Dia justru memberi harapan. Kerajaan-Nya tidak berdasarkan kekerasan dan paksaan, tetapi pada keadilan dan belas kasih. Ini adalah Raja yang sejati, Yesus adalah Raja kita.

Jika kita menyambut Yesus sebagai Raja kita dan kita berbagi kerajaan-Nya dalam pembaptisan, sudah selayaknya bagi kita untuk menjalankan hidup kita seperti Yesus. Pada saat kita menghadapi banyak kesulitan, ketika kita terluka, dan ketika kita merasa begitu lemah, kita diberdayakan untuk bertindak seperti Kristus Raja: untuk memberkati, menyembuhkan, dan memberikan harapan. Ya, tentunya sangat sulit, tetapi jika kita memiliki seorang raja yang mampu mengasihi dihadapan semua keburukan, kita juga bisa mengasihi di tengah-tengah permasalahan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bait Allah

Minggu dalam Pekan Biasa ke-33 [13 November  2016] Lukas 21:5-19

 “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan (Luk 21:6)”

jesus-teaching-at-the-temple-2Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci.  Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.

Israel mengadopsi pola pikir yang hampir sama dan mereka membangun kuil-kuil mereka sendiri untuk Allah Israel. Bedanya tentunya adalah mereka tidak menyembah berhala, tetapi Allah yang benar. Awalnya, mereka memiliki beberapa kuil besar seperti di Bethel (lih. Kej 35: 1), Shiloh (lih. Yos 18: 1), dan Sikhem (lih. Kej 12:6). Namun, ketika Daud dan Salomo mencoba untuk mengkonsolidasikan suku-suku Israel menjadi satu bangsa yang bersatu, penyembahan Yahweh kemudian dipusatkan di kuil atau Bait Allah di Yerusalem. Akhirnya, Bait Yerusalem menjadi satu-satunya kuil di tanah Israel.

Di pusat Bait ini, ada tempat yang paling sakral bagi bangsa Yahudi yakni tempat Maha Kudus. Sekali setahun, hanya imam besar dapat masuk ke tempat ini dan mempersembahkan korban perdamaian bagi bangsa Israel. Yesus sendiri menyebut Bait Allah sebagai tempat Bapa-Nya. Tidak salah jika sang pemazmur bermadah bahwa ini adalah rumah Tuhan dan ke sana, suku-suku Israel datang, suku-suku-Nya Tuhan (Mzm 122: 4). Di zaman Yesus, Bait Allah telah secara struktural direnovasi dan dihiasi oleh Raja Herodes Agung. Tidak hanya ini menjadi situs paling suci bagi orang Yahudi, tapi mungkin ini adalah bangunan paling indah di Yerusalem. Karena keindahannya, pentingnya dan kesuciannya, orang Israel selalu berpikir bahwa Bait Allah tidak terhancurkan.

Namun, Yesus bernubuat bahwa Bait Allah yang megah inipun akan dihancurkan. Orang-orang Yahudi yang menghormati Bait Allah tentunya terkejut. Untuk mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Bait Allah sama saja dengan mengatakan hal buruk terhadap Tuhan sendiri yang tinggal di dalamnya. Tidak heran Yesus pun dituduh telah menghujat Allah, dan memang ini adalah salah satu tuduhan terhadap Yesus saat Ia dianiaya oleh penguasa Yahudi. Yesus kemudian disalibkan, dan pada tahun 70 Masehi, empat puluh tahun setelah Kristus meninggal, Bait Allah pun mengikuti nasib yang serupa dengan Yesus. Para prajurit Romawi di bawah jendral Titus merebut Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah. Nubuat Yesus berubah menjadi kenyataan. Apa yang masih hari ini adalah Tembok  bagian Barat dari Bait Allah, yang dikenal juga sebagai Tembok Ratapan.

Maka kita mungkin bertanya pada diri sendiri: Apakah kuil atau bait suci kita? Apa yang menjadi simbol kehadiran dan berkat Allah dalam hidup kita? Apa bagian dari hidup kita, yang kita berpikir, sangat penting dan tidak bisa dihancurkan? Apakah ini prestasi, kesuksesan, kekayaan kita atau status dan gelar dalam hidup kita? Apakah ini kita keluarga, persahabatan dan bahkan praktik-praktik keagamaan kita? Namun, semua hal ini bisa dihancurkan dalam seketika.

Memang, Bait Allah Yerusalem telah dihancurkan, tapi itu tidak berarti Tuhan juga hilang. Benar, Bait Allah selalu dikaitkan dengan Yang Mahatinggi, tetapi sebuah kuil atau Bait Allah ini bukanlah Allah itu sendiri. Ketika Yesus disalibkan, para murid berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, tetapi mereka salah. Yang berakhir adalah ekspektasi-ekspektasi semu mereka dan ide-ide yang salah tentang Yesus. Sungguh, Tuhan akan membiarkan simbol terbesar dari diri-Nya dalam hidup kita untuk dihancurkan, itu tidak berarti Tuhan kita hilang. Ini berarti bahwa Dia memanggil kita untuk mengatur kembali kehidupan kita, mencari sekali lagi yang paling penting dalam hidup, untuk tidak memuja diri kita sendiri tetapi Dia, Allah yang hidup, dan untuk menjalin hubungan yang lebih benar dan lebih dalam dengan-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Saat Yesus Melihat Kita…

Minggu ke-31 pada Pekan Biasa. 30 Oktober 2016 [Lukas 19: 1-10]

 “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk 19:5)

zacchaeus-2

Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi nyata bagi Zakheus. Dalam Injil hari ini, kita membaca bahwa Zakheus sebenarnya tidak berniat untuk bawa Yesus untuk tinggal di rumahnya, apalagi untuk mereformasi hidupnya. Setelah melakukan banyak mujizat, Yesus telah menjadi sensasi bagi bangsa Yahudi, dan banyak orang, termasuk Zakheus, bersemangat untuk melihat Yesus yang melintas di tengah kota. Namun, ia bertubuh pendek dan orang-orang yang lebih tinggi menghalangi dia. Zakheus ternyata cukup gigih dan ia memutuskan untuk memanjat pohon ara.

Namun, ketika Yesus melihat Zakheus, Dia memanggil namanya dan juga ingin tinggal di rumahnya. Zakheus pun sangat tersentuh oleh aksi yang tak terduga namun sungguh bermakna dari Yesus. Inipun membawa transformasi dalam diri Zakheus. Salah satu tanda-tanda nyata pertobatannya adalah ia menjadi sangat murah hati. Dulu dia mengambil keuntungan dari orang miskin, sekarang dia berikan kembali kepada mereka yang miskin dengan berlimpah. Lebih penting lagi, dengan murah hati ia menyerahkan dirinya kepada Yesus saat ia menyambut Dia di rumah dan hidupnya.

Namun, transformasi tidak hanya terjadi pada Zakheus. Hal ini juga terjadi di dalam diri Yesus. Dia sebenarnya berjalan menuju Yerusalem untuk menghadapi sengsara dan wafat-Nya. Yerikho adalah sebuah kota yang tidak jauh dari Yerusalem, dan dengan demikian, para peziarah akan melewati Yerikho dan beristirahat sejenak. Mencermati teks, kita menemukan bahwa maksud awal Yesus adalah sekedar melewati Yerikho. Dia tidak berencana untuk tinggal lama di Yerikho. Namun, ketika ia melihat Zakheus, dia mengubah rencana-Nya. Apa yang membuat Yesus mengubah rencana-Nya?

Menjadi seorang pemungut cukai, Zakheus dinilai sebagai pendosa publik. Menjadi pemungut cukai, ia terlibat dalam malapraktek pajak dan korupsi, dan dia juga dianggap sebagai kolaborator Kekaisaran Romawi, musuh dari orang Yahudi. Tidak hanya, seorang pemungut cukai biasa, ia adalah sang kepala, dan tentu semua mata di Yerikho menatapnya dengan kebencian. perawakannya yang pendek mungkin tidak hanya berarti batasan biologis, tetapi juga melambangkan statusnya dalam masyarakat. Tapi, Yesus mampu melihat ke kedalaman jiwa Zakheus dan menemukan jati dirinya yang sejati. Meskipun tertutup dosa dan kelemahan, Yesus dapat melihat citra Allah yang indah dalam Zakheus.

Yesus tidak hanya memanggil Zakheus. Dia juga ingin tinggal di tempat Zakheus. Dalam masyarakat Yahudi, seorang Yahudi yang baik akan menghindari kontak dengan orang-orang berdosa, karena takut ia akan tercemar. Tapi, Yesus menentang praktek ini, dan justru berbagi makanan yang sama dari meja yang sama di bawah atap yang sama dengan Zakheus. Dengan masuk ke rumahnya dan makan bersama-sama dengan dia, Yesus menunjukkan semua orang bahwa Dia memiliki belas kasih, dan ingin menjadi bagian dari kehidupan Zakheus. Hanya ketika Yesus menyatakan kasih-Nya, Zakheus mulai mengubah dirinya.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah kita, tapi pertemuan ini juga mengubah Yesus lebih dahulu. Allah kita bukanlah Allah yang pasif, yang duduk di takhtanya menunggu orang untuk datang dan menyembah-Nya. Dia mengambil inisiatif dan memeluk kita lebih dahulu dengan cara yang tak pernah kita dibayangkan. Ketika Dia melihat kita, Ia menemukan citra-Nya, dan ini adalah citra Allah yang ada sejak penciptaan. Meskipun terkubur dalam dosa dan kelemahan, Yesus tidak pernah kehilangan pandangan dari keindahan ini. Yesus berani mengubah rencana-Nya untuk kita, apakah kita berani juga untuk mengubah rencana kita untuk Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa yang Benar?

Minggu di Pekan Biasa ke-30 [23 Oktober 2016] Lukas 18: 9-14

 “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa kepada dirinya sendiri, begini, ‘Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu ,..” (Luk 18:11)

Minggu lalu, Yesus mengingatkan kita untuk berdoa tanpa lelah. Tapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari ketekunan dalam doa. Ini ada hubungannya dengan cara kita berdoa. Tidak hanya kuantitas, tetapi juga kualitas. Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita memiliki doa yang berkualitas?

Suatu hari, saya menemukan sebuah postingan Facebook yang bertuliskan, “Berdoalah bukan karena kamu membutuhkan sesuatu, tetapi karena kamu punya banyak hal yang perlu kamu syukuri.” Benar, semua yang saya miliki adalah karunia Allah. Saya bukan apa-apa tanpa Dia, dan sudah layak dan sepantasnya bersyukur kepada-Nya. Bahkan, bentuk ibadah tertinggi di Gereja adalah Ekaristi. Kata Ekaristi sebenarnya berarti ‘syukur’. Saya pun me-like postingan tersebut. Namun, ketika saya membaca perumpamaan dalam Injil hari ini, saya menyadari bahwa orang Farisi pun melakukan doa syukur. Bahkan, dalam bahasa Yunani, Ketika orang Farisi bersyukur, ia menggunakan kata ‘eucharisto’, akar kata dari Ekaristi. Sementara pemungut cukai dibenarkan karena ia memohon belas kasihan dan pengampunan. Apakah ini berarti doa permohonan lebih baik dan lebih efektif daripada doa syukur dan doa-doa jenis lainnya?

Namun, jika kita membaca dengan cermat, ada beberapa detail yang menarik dalam Perumpamaan ini. Yang pertama adalah orang Farisi berdoa sebagai pembenaran diri, menunjukkan perbuatan baiknya, dan merasa lebih baik dari yang lain, terutama pemungut cukai. Farisi sudah merasa diri benar, oleh karenanya ia tidak lagi membutuhkan pembenaran dari Allah. Sedangkan, pemungut cukai merendahkan diri, mengakui bahwa ia adalah orang berdosa dan membutuhkan belas kasihan Allah. Dengan demikian, doa membutuhkan disposisi yang tepat. Kerendahan hati adalah dasar dari doa. Sungguh, Daud sendiri bermadah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mzm 51:17)

Detail kedua yang sering kita lewatkan adalah orang Farisi ini sebenarnya berdoa kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah (perhatikan Luk 18:11 di atas). Benar bahwa ia menyebut Allah, tetapi ia berbicara dengan dirinya sendiri. Dia mempersembahkan doa kepada dirinya bukan kepada Allah. Jika kemudian doa adalah komunikasi kita dengan Allah, orang Farisi ini menghancurkan makna doa yang sesungguhnya. Mungkin, dengan menyebut Allah, ia ingin Allah menjadi penonton dan mendengarkan litani keberhasilannya, tetapi tidak benar-benar untuk membangun hubungan dengan Allah. Tentu, kegiatan semacam ini memuaskan rasanya, tapi ini bukanlah sebuah doa. Apa yang orang Farisi lakukan bukanlah doa yang sejati, tapi pujian bagi dirinya sendiri.

Kita mungkin mendengar Ekaristi Kudus setiap hari, berdoa brevir dengan tekun, dan mendaraskan rosario. Kita juga bisa mengikuti pertemuan doa Karismatik atau ‘Praise and Worship’. Kita juga dapat menghadiri Misa Tradisional Latin, atau kita memilih untuk melakukan mediasi dan kontemplasi. Namun, dari perumpamaan hari ini, kita bertanya kepada diri sendiri, apakah doa kita adalah doa yang benar? Apakah kita berdoa karena kita merasa hebat dan puas tentang hal itu? Apakah kita berdoa karena kita bangga dengan prestasi kita? Apakah kita berdoa karena kita lebih saleh dari yang lain? Apakah doa kita membuat kita lebih dekat kepada Allah atau hanya untuk diri kita sendiri? Adalah kerendahan hati dasar doa kita? Doa kita harus memiliki kuantitas dan kualitas. Kita berdoa dengan ketekunan dan disposisi yang tepat. Tapi lebih dari ini, doa kita harus menjadi doa yang benar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP