Hari Raya Penampakan Tuhan. 8 Januari 2017 [Matius 2:1-12]
“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia (Mat 2:2).”
Hari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh orang-orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.
Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa orang-orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting sehingga Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.
Sekarang jika kita melihat langit malam, kita dapat mengamati jutaan bintang. Kemudian, kita mungkin bertanya apa yang membuat bintang Yesus ini berbeda dari cahaya-cahaya yang lain? Orang Majus adalah ahli dalam bidang astronomi, atau ilmu tentang objek langit, dan mereka mampu untuk membedakan bintang mana yang akan membawa mereka ke Raja yang baru lahir. Bintang ini tidak hanya bersinar seperti yang lainnya, tetapi juga menerangi dan memberi panduan. Seperti nelayan yang berpengalaman, sebelum adanya GPS, mereka akan menggantungkan hidup mereka pada cahaya bintang-bintang, dan di antara miliaran bintang di langit, hanya sedikit yang benar-benar menunjukkan mereka arah yang benar dan membawa mereka kembali ke pelabuhan.
Kita semua dipanggil untuk menjadi bintang. Tapi godaan adalah kita sekedar bersinar dan menarik orang lain pada diri kita sendiri. Kita gagal untuk mengenali bahwa cahaya yang Allah telah berikan kepada kita adalah untuk menerangi dan membimbing orang lain kepada Yesus. Ketika St. Thomas Aquinas ditanya apa yang membuat Ordonya lebih menonjol dari Kongregasi lainnya, ia menjawab bahwa seperti halnya lebih baik untuk menerangi daripada sekedar bersinar, jadi lebih baik untuk berbagi buah kontemplasi daripada hanya sekedar berkontemplasi. Tentu saja, para Benediktin tidak akan setuju! Salah satu fitur utama dalam patung St. Dominikus adalah bintang di dahinya. Tentu saja, ini adalah simbol dari bimbingan dan arahan bagi siapa saja yang mencari Allah. Tak heran jika St. Dominikus kurang terkenal dibandingkan Dominikan lain seperti St. Thomas Aquinas, St. Katarina dari Siena atau St. Martin de Porres, karena sampai akhir hidupnya, seperti bintang yang membimbing, hidupnya selalu menunjuk kepada Allah.
Untuk memiliki cahaya tidaklah cukup. Kita mungkin menjadi bintang yang hanya bersinar terang. Kita beralih menjadi bintang kampus, bintang perusahaan, bintang paroki atau bahkan pengkhotbah bintang. Tentu saja, untuk menerima banyak perhatian dari banyak orang memberikan kepuasan, tapi ini bukan tujuan sebenarnya dari cahaya kita. Epifani adalah penampakan dari Tuhan, tapi siapa di antara kita telah mencoba untuk menutupi-Nya dengan cahaya kita yang menyilaukan? Berapa banyak dari kita yang membawa orang lain kepada Yesus? Namun, ini belum terlambat. Epifani adalah waktu bagi kita untuk menyelaraskan kembali dengan tujuan sejati dari cahaya kita: tidak hanya bersinar, tapi untuk menerangi.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Hari ini, dunia merayakan tahun baru. Dan, banyak dari kita merayakannya dengan berpesta, menonton kembang api, menari dan menyanyi. Namun, hari ini, Gereja memutuskan untuk melawan arus dan merayakan sesuatu yang berbeda, Maria Bunda Allah. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari raya kewajiban yang berarti kita harus pergi ke gereja suka atau tidak. Saya ingat menghadiri Ekaristi pada 1 Januari di paroki saya di Bandung, dan sang imam tidak pernah sekalipun memberi ucapan Selamat Tahun Baru kepada jemaat sampai misa selesai!

Jika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.
The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.
Kita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.
Perayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.
Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci. Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.

