Apa yang Yesus Dapatkan dari Yusuf?

Minggu Advent ke-4. [18 Desember 2016] Matius 1: 18-24.

“Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat 1:19).”

jm_200_NT1.pd-P7.tiffJika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.

Sebagai contoh, Yesus mewarisi profesi Yusuf. Ayah-Nya adalah seorang tukang kayu, maka Yesus juga disebut sebagai tukang kayu (lih. Mar 6:3). Namun, pengaruh Yusuf tidak terbatas dalam hal profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Dalam Injil hari ini, Yusuf disebut sebagai ‘orang tulus’. Dalam masyarakat Yahudi, ‘orang yang tulus’ adalah gelar bagi seorang terhormat karena ia setia mengikuti Hukum Allah atau Hukum Taurat. Dia tidak hanya paham Hukum Taurat, namun Yusuf juga mengamalkannya. Sekarang, jika kita menempatkan diri pada posisi Yusuf ketika ia menerima kabar kehamilan Maria, apa perasaan Yusuf? Sebagai manusia biasa, ia tentunya sangat terluka, merasa dikhianati oleh tunangannya sendiri. Sebagai orang baik Nazareth, iapun harus menanggung malu.

Sebagai orang paham hukum, dia tahu Maria yang hamil diluar pernikahan, telah melakukan perzinahan, dan dosa ini patut dihukum mati (lih. Im 20:10). Penuh denga rasa sakit hati dan amarahnya, Yusuf bisa saja membuat tuduhan secara publik dan melempar batu pertama pada Maria. Dia memiliki semua hak untuk marajam Maria dan memuaskan dendam. Tapi, Yusuf memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menggunakan Hukum untuk pembalasan, Yusuf memutuskan untuk menggunakan Hukum yang sama untuk menyelamatkan hidup Maria, dan juga hidup Yesus dikandungan. Keputusannya bahkan menjadi lebih berarti karena ia memilih untuk menyelamatkan Maria sebelum Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dan menjelaskan penyebab kehamilan Maria. Meskipun sakit hati, Yusuf memilih untuk menerapkan Hukum secara penuh belas kasihan. Dan ini adalah apa yang Yusuf ajarkan kepada Yesus.

Yesus sering berargumentasi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang interpretasi Hukum Allah, dan bagi Yesus, belaskasih dan kerahiman perlu menjadi keutamaan daripada dendam dan kebencian. Tidak heran jika Yesus berani menyembuhkan orang pada hari Sabat (lih. Mat 12:10), mengizinkan murid-murid yang lapar untuk memetik gandum juga pada hari Sabat (lih. Mat 12: ) dan menolak untuk merajam wanita yang tertangkap dalam perzinahan (lih. Yoh 8:1-11). Akhirnya, Yesus menyatakan bahwa hukum yang paling penting dari semua hukum adalah Hukum cinta kasih. Ini semua Yesus pelajari dari Yusuf, bapak angkat-Nya.

Saat kita mempersiapkan diri untuk Natal, baik jika merenungkan Yusuf dan belajar dari dia. Apakah kita menggunakan dan membuat hukum-hukum dan peraturan dalam keluarga, kelompok dan masyarakat kita hanya untuk menghukum dan bahkan menghabisi sesama, atau untuk menyembuhkan mereka? Ketika kita disakiti, apa reaksi pertama kita? Membalas dendam atau bekerja untuk rekonsiliasi? Apa pemahaman kita tentang keadilan? Sebuah pembalasan atau restorasi kebaikan? Kita berdoa St. Yusuf akan membawa kita ke dalam masyarakat adil dan damai yang didasarkan pada rahmat dan kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialogue of Truth

Sunday of Advent. December 11, 2016 [Matthew 11:2-11]

 “Are you the one who is to come, or should we look for another? (Mat 11:3)”

dialogue The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.

Unfortunately, not everyone is trained to listen. Not everybody is humble enough to open their minds and heart to vast possibilities the truth offers. Not many have the endurance and perseverance to involve in long and tedious dialogue. We rather shut out ears and minds. We prefer to stay in our comfortable yet small world. Then, we are suspicious of those who are different from us. We even become violent towards those who initiate the conversation of truth with us.

Last week, we listened to John who preached the truth and invited people to conversion. Today, we discover that John was already in jail. He was imprisoned apparently because some people did not like to listen to what John said. These people did not want to be disturbed by the truth, and thus, they decided to silence John. I guess that situation is just not much different nowadays. Those who are able to listen and converse, simply come up with instant yet deadly solutions. Those who try to begin a dialogue of truth in social media immediately fall victims into online buzzing and bullying. In more serious situations, people involved in crimes and corruptions try to bribe, threaten or even kill those who begin to speak the truth. Pierre Claverie, OP, bishop of Oran in Algeria, dedicated his life in dialogue with his Muslim brothers and sisters, yet eventually he was murdered by the terrorists who hated his effort in building peace and harmony in Algeria.

In a dialogue of truth, we need to learn from John. In the prison, he was in doubt because Jesus was not behaving like the expected Messiah. Perhaps like other Jews, John also expected a Messiah who was a military and political leader, or perhaps he wanted a Messiah that dealt severely with sinners and outlaws. Jesus simply did not meet his standards. Yet, instead shutting down the possibilities and dealing with his own problems, he opened the conversation with Jesus through his disciples. Jesus graciously answered him by giving some concrete evident of His identity as the Messiah. Jesus also unlocked the new paradigm that helped John unearthed a more profound truth. The truth that set John free from his self-imprisonment.

The season of Advent invites us to this dialogue of truth. We are invited to be more listening to our family members even to the youngest member. We are challenged not to immediately condemn those people who have a different opinion with us but to find the truth in them. St. Thomas Aquinas always included the arguments of those who had opposing views because he believed that there were grains of truth in them as well as they sharpened his own position. It is time for us go out from our small and solitary world and to seek the vast and spacious truth. The Truth that liberates us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Adven: Masa untuk Menemukan Allah

Minggu pertama Adven. 27 November 2016. Matius 24: 37-44

 “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga (Mat 24:44).”

adventKita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.

Iman kita berbicara tentang dua Kedatangan Yesus. Secara historis, kedatangan Yesus yang pertama adalah di Betlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebagai seorang bayi kecil yang lemah lembut. Kita menyebut hari ini sebagai Natal pertama, sementara para teolog namakan momen sakral dalam sejarah ini sebagai Inkarnasi. Ini berarti Sang Sabda, pribadi kedua dari Trinitas, menjadi daging, dan tinggal di antara kita (lihat Yoh 1:14). Sementara Kedatangan Kedua menarik perhatian kita pada kedatangan-Nya sebagai Raja dan Hakim yang mengadili orang yang hidup dan mati. Kedatangan Kedua ini merupakan bagian integral dari sistem kepercayaan kita dan secara eksplisit tertulis di kedua syahadat Gereja: Syahadat para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel.

Pada kedatangan pertama, tak seorang pun menyangka Mesias akan lahir dalam kondisi yang sangat sederhana dan dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Pasa jaman Yesus, orang-orang Yahudi secara alami mengharapkan Mesias akan datang dari keluarga bangsawan yang berpengaruh dan kaya. Tetapi, ini bukan kehendak Allah. Meskipun kita semua percaya pada Kedatangan Kedua, tidak ada yang tahu kapan tepatnya ia akan datang. Ada banyak nabi-nabi mengumumkan akhir dunia, tapi tidak ada yang terbukti benar. Sebagaimana kedatangan pertama yang mengejutkan bangsa Yahudi, demikian juga kedatangan kedua akan membawa kejutan besar bagi kita semua.

Dengan demikian, untuk menghindari ekspektasi yang salah dan juga kelalaian, Gereja mengajak kita untuk merayakan masa Adven. Masa ini melatih kita untuk mengharapkan Kedatangan-Nya, dan untuk mengharapkannya dengan benar. Tapi, bagaimana Masa Adven membuat kita mempersiapkan diri dengan benar? Jawabannya terletak pada kedatangan Yesus yang ketiga. St. Bernard dari Clairvaux mengingatkan kita bahwa ada juga kedatangan ketiga Kristus. Hal ini terjadi antara kedatangan pertama dan kedatangan kedua Kristus. Yesus hadir dalam kehidupan kita sehari-hari dan mengetuk hati kita. Jika kita memiliki keutamaan untuk menemukan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, kitapun akan siap dengan kedatangan akhir-Nya.

Masa Adven mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah sebenarnya nyata dan beragam, kita hanya perlu mengerahkan usaha untuk membuka mata dan hati kita. Pertama, kehadiran-Nya ada pada sakramen, terutama Ekaristi. Setiap kali kita mengambil bagian Ekaristi, kita menerima Tubuh Kristus yang nyata dalam bentuk hosti suci. Kedua, kehadiran-Nya juga diwujudkan dalam Kitab Suci sebagai Firman Allah. St. Agustinus mengingatkan kita untuk tidak hanya membaca dan mempelajari Alkitab, tetapi juga berdoa dengan buku suci ini. Ia menulis, “Ketika kamu membaca Alkitab, Allah berbicara kepadamu; ketika kamu berdoa, kamu berbicara kepada Allah.” Ketiga, kita juga dilatih untuk mencari keberadaan-Nya yang tak terlihat di sekitar kita. Di pintu kamarnya, formator kami di seminari menggantung sebuah tulisan besar: “Latihlah pikiranmu untuk melihat yang baik dalam segala hal.” Ya, kita tidak bisa melihat Allah secara kasad mata, tetapi kita selalu dapat menemukan pekerjaan baik-Nya di sekitar kita. Ia hadir ketika kita memilih untuk memaafkan daripada membalas dendam. Dia ada ketika tiba-tiba anak-anak kita memberi kita pelukan hangat yang sangat kita dibutuhkan. Dia tidak jauh ketika seorang anak miskin kecil memutuskan untuk berbagi sepotong rotinya yang kecil untuk ibu yang sakit.

Bersiaplah dan temukan Tuhan di tengah-tengah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Raja di kayu Salib

Hari Raya Kristus Raja [November 20, 2016] Lukas 23: 35-43

 “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Luk 23:43)”

king-on-the-crossPerayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.

Yesus memulai karya-Nya dengan mewartakan Kerajaan Allah. Jika Allah adalah Raja dan Yesus adalah Anak Tunggal Allah, Yesus adalah pewaris sah tahta Kerajaan ini. Namun, Yesus Kristus sebagai raja lebih jelas terlihat dalam kisah sengsara dan wafat-Nya. Para pemimpin agama Yahudi menuduh Yesus menistaan agama Yahudi karena Yesus mengaku sebagai Mesias, Anak Allah, bahkan Allah sendiri (lih. Yoh 8:58). Namun, para pemimpin ini tidak ingin sekedar merajam Yesus. Mereka menginginkan kematian lebih menyakitkan dan memalukan bagi Yesus. Mereka memutuskan untuk membawa-Nya ke Pontius Pilatus, pemimpin Romawi, agar Yesus disalib. Karena Pilatus tidak mau mengurusi permasalahan agama, para pemimpin Yahudi menuduh Yesus memproklamirkan diri-Nya Raja orang-orang Yahudi. Untuk menjadi seorang raja dan memimpin pemberontakan melawan Kaisar Romawi adalah pengkhianatan dan makar, dan pantas dihukum mati. Yesus pun akhirnya dijatuhi  hukuman mati di kayu salib. Alasan Yesus disalib inipun dipaku di kayu yang sama: Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi, dalam bahasa Latin, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum atau INRI.

Dalam Injil hari ini, kita membaca dari St. Lukas yang menulis dengan indah. Bagi para musuh Yesus, penyaliban adalah kekalahan telak bagi Yesus sang raja dan Mesias. Salah satu tugas utama seorang raja dan Mesias adalah untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi Yesus dipaku di kayu salib, dan bahkan tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri. Orang-orang Yahudi yang membenci-Nya mengejek dia sebagai Mesias tidak berguna, sementara tentara Romawi mencemooh dia sebagai raja yang lemah. Bahkan salah satu penjahat yang tersalib ikut menghujat Yesus. Sungguh, Yesus tidak berdaya, sangat lemah dan menahan rasa sakit yang luar biasa dan berkepanjangan. Teman dan murid-murid-Nya meninggalkan dia. Pengikutnya lari dari-Nya. Kematian menunggu-Nya. Salib adalah momen kegagalan total bagi Yesus.

Namun, di saat kegelapan ini, ketika semua orang berpikir bahwa salib adalah akhir dari Kerajaan Yesus, Ia melakukan tindakan terbesar sebagai seorang raja. Dia mengampuni dan menyelamatkan sang penjahat yang bertobat di kayu salib. Daripada mengeluh atau mengutuk, dia mengucapkan berkat. Alih-alih membalas dendam, Dia menyembuhkan. Bukannya jatuh dalam keputusasaan, Dia justru memberi harapan. Kerajaan-Nya tidak berdasarkan kekerasan dan paksaan, tetapi pada keadilan dan belas kasih. Ini adalah Raja yang sejati, Yesus adalah Raja kita.

Jika kita menyambut Yesus sebagai Raja kita dan kita berbagi kerajaan-Nya dalam pembaptisan, sudah selayaknya bagi kita untuk menjalankan hidup kita seperti Yesus. Pada saat kita menghadapi banyak kesulitan, ketika kita terluka, dan ketika kita merasa begitu lemah, kita diberdayakan untuk bertindak seperti Kristus Raja: untuk memberkati, menyembuhkan, dan memberikan harapan. Ya, tentunya sangat sulit, tetapi jika kita memiliki seorang raja yang mampu mengasihi dihadapan semua keburukan, kita juga bisa mengasihi di tengah-tengah permasalahan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bait Allah

Minggu dalam Pekan Biasa ke-33 [13 November  2016] Lukas 21:5-19

 “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan (Luk 21:6)”

jesus-teaching-at-the-temple-2Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci.  Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.

Israel mengadopsi pola pikir yang hampir sama dan mereka membangun kuil-kuil mereka sendiri untuk Allah Israel. Bedanya tentunya adalah mereka tidak menyembah berhala, tetapi Allah yang benar. Awalnya, mereka memiliki beberapa kuil besar seperti di Bethel (lih. Kej 35: 1), Shiloh (lih. Yos 18: 1), dan Sikhem (lih. Kej 12:6). Namun, ketika Daud dan Salomo mencoba untuk mengkonsolidasikan suku-suku Israel menjadi satu bangsa yang bersatu, penyembahan Yahweh kemudian dipusatkan di kuil atau Bait Allah di Yerusalem. Akhirnya, Bait Yerusalem menjadi satu-satunya kuil di tanah Israel.

Di pusat Bait ini, ada tempat yang paling sakral bagi bangsa Yahudi yakni tempat Maha Kudus. Sekali setahun, hanya imam besar dapat masuk ke tempat ini dan mempersembahkan korban perdamaian bagi bangsa Israel. Yesus sendiri menyebut Bait Allah sebagai tempat Bapa-Nya. Tidak salah jika sang pemazmur bermadah bahwa ini adalah rumah Tuhan dan ke sana, suku-suku Israel datang, suku-suku-Nya Tuhan (Mzm 122: 4). Di zaman Yesus, Bait Allah telah secara struktural direnovasi dan dihiasi oleh Raja Herodes Agung. Tidak hanya ini menjadi situs paling suci bagi orang Yahudi, tapi mungkin ini adalah bangunan paling indah di Yerusalem. Karena keindahannya, pentingnya dan kesuciannya, orang Israel selalu berpikir bahwa Bait Allah tidak terhancurkan.

Namun, Yesus bernubuat bahwa Bait Allah yang megah inipun akan dihancurkan. Orang-orang Yahudi yang menghormati Bait Allah tentunya terkejut. Untuk mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Bait Allah sama saja dengan mengatakan hal buruk terhadap Tuhan sendiri yang tinggal di dalamnya. Tidak heran Yesus pun dituduh telah menghujat Allah, dan memang ini adalah salah satu tuduhan terhadap Yesus saat Ia dianiaya oleh penguasa Yahudi. Yesus kemudian disalibkan, dan pada tahun 70 Masehi, empat puluh tahun setelah Kristus meninggal, Bait Allah pun mengikuti nasib yang serupa dengan Yesus. Para prajurit Romawi di bawah jendral Titus merebut Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah. Nubuat Yesus berubah menjadi kenyataan. Apa yang masih hari ini adalah Tembok  bagian Barat dari Bait Allah, yang dikenal juga sebagai Tembok Ratapan.

Maka kita mungkin bertanya pada diri sendiri: Apakah kuil atau bait suci kita? Apa yang menjadi simbol kehadiran dan berkat Allah dalam hidup kita? Apa bagian dari hidup kita, yang kita berpikir, sangat penting dan tidak bisa dihancurkan? Apakah ini prestasi, kesuksesan, kekayaan kita atau status dan gelar dalam hidup kita? Apakah ini kita keluarga, persahabatan dan bahkan praktik-praktik keagamaan kita? Namun, semua hal ini bisa dihancurkan dalam seketika.

Memang, Bait Allah Yerusalem telah dihancurkan, tapi itu tidak berarti Tuhan juga hilang. Benar, Bait Allah selalu dikaitkan dengan Yang Mahatinggi, tetapi sebuah kuil atau Bait Allah ini bukanlah Allah itu sendiri. Ketika Yesus disalibkan, para murid berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, tetapi mereka salah. Yang berakhir adalah ekspektasi-ekspektasi semu mereka dan ide-ide yang salah tentang Yesus. Sungguh, Tuhan akan membiarkan simbol terbesar dari diri-Nya dalam hidup kita untuk dihancurkan, itu tidak berarti Tuhan kita hilang. Ini berarti bahwa Dia memanggil kita untuk mengatur kembali kehidupan kita, mencari sekali lagi yang paling penting dalam hidup, untuk tidak memuja diri kita sendiri tetapi Dia, Allah yang hidup, dan untuk menjalin hubungan yang lebih benar dan lebih dalam dengan-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Saat Yesus Melihat Kita…

Minggu ke-31 pada Pekan Biasa. 30 Oktober 2016 [Lukas 19: 1-10]

 “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk 19:5)

zacchaeus-2

Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi nyata bagi Zakheus. Dalam Injil hari ini, kita membaca bahwa Zakheus sebenarnya tidak berniat untuk bawa Yesus untuk tinggal di rumahnya, apalagi untuk mereformasi hidupnya. Setelah melakukan banyak mujizat, Yesus telah menjadi sensasi bagi bangsa Yahudi, dan banyak orang, termasuk Zakheus, bersemangat untuk melihat Yesus yang melintas di tengah kota. Namun, ia bertubuh pendek dan orang-orang yang lebih tinggi menghalangi dia. Zakheus ternyata cukup gigih dan ia memutuskan untuk memanjat pohon ara.

Namun, ketika Yesus melihat Zakheus, Dia memanggil namanya dan juga ingin tinggal di rumahnya. Zakheus pun sangat tersentuh oleh aksi yang tak terduga namun sungguh bermakna dari Yesus. Inipun membawa transformasi dalam diri Zakheus. Salah satu tanda-tanda nyata pertobatannya adalah ia menjadi sangat murah hati. Dulu dia mengambil keuntungan dari orang miskin, sekarang dia berikan kembali kepada mereka yang miskin dengan berlimpah. Lebih penting lagi, dengan murah hati ia menyerahkan dirinya kepada Yesus saat ia menyambut Dia di rumah dan hidupnya.

Namun, transformasi tidak hanya terjadi pada Zakheus. Hal ini juga terjadi di dalam diri Yesus. Dia sebenarnya berjalan menuju Yerusalem untuk menghadapi sengsara dan wafat-Nya. Yerikho adalah sebuah kota yang tidak jauh dari Yerusalem, dan dengan demikian, para peziarah akan melewati Yerikho dan beristirahat sejenak. Mencermati teks, kita menemukan bahwa maksud awal Yesus adalah sekedar melewati Yerikho. Dia tidak berencana untuk tinggal lama di Yerikho. Namun, ketika ia melihat Zakheus, dia mengubah rencana-Nya. Apa yang membuat Yesus mengubah rencana-Nya?

Menjadi seorang pemungut cukai, Zakheus dinilai sebagai pendosa publik. Menjadi pemungut cukai, ia terlibat dalam malapraktek pajak dan korupsi, dan dia juga dianggap sebagai kolaborator Kekaisaran Romawi, musuh dari orang Yahudi. Tidak hanya, seorang pemungut cukai biasa, ia adalah sang kepala, dan tentu semua mata di Yerikho menatapnya dengan kebencian. perawakannya yang pendek mungkin tidak hanya berarti batasan biologis, tetapi juga melambangkan statusnya dalam masyarakat. Tapi, Yesus mampu melihat ke kedalaman jiwa Zakheus dan menemukan jati dirinya yang sejati. Meskipun tertutup dosa dan kelemahan, Yesus dapat melihat citra Allah yang indah dalam Zakheus.

Yesus tidak hanya memanggil Zakheus. Dia juga ingin tinggal di tempat Zakheus. Dalam masyarakat Yahudi, seorang Yahudi yang baik akan menghindari kontak dengan orang-orang berdosa, karena takut ia akan tercemar. Tapi, Yesus menentang praktek ini, dan justru berbagi makanan yang sama dari meja yang sama di bawah atap yang sama dengan Zakheus. Dengan masuk ke rumahnya dan makan bersama-sama dengan dia, Yesus menunjukkan semua orang bahwa Dia memiliki belas kasih, dan ingin menjadi bagian dari kehidupan Zakheus. Hanya ketika Yesus menyatakan kasih-Nya, Zakheus mulai mengubah dirinya.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah kita, tapi pertemuan ini juga mengubah Yesus lebih dahulu. Allah kita bukanlah Allah yang pasif, yang duduk di takhtanya menunggu orang untuk datang dan menyembah-Nya. Dia mengambil inisiatif dan memeluk kita lebih dahulu dengan cara yang tak pernah kita dibayangkan. Ketika Dia melihat kita, Ia menemukan citra-Nya, dan ini adalah citra Allah yang ada sejak penciptaan. Meskipun terkubur dalam dosa dan kelemahan, Yesus tidak pernah kehilangan pandangan dari keindahan ini. Yesus berani mengubah rencana-Nya untuk kita, apakah kita berani juga untuk mengubah rencana kita untuk Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa yang Benar?

Minggu di Pekan Biasa ke-30 [23 Oktober 2016] Lukas 18: 9-14

 “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa kepada dirinya sendiri, begini, ‘Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu ,..” (Luk 18:11)

Minggu lalu, Yesus mengingatkan kita untuk berdoa tanpa lelah. Tapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari ketekunan dalam doa. Ini ada hubungannya dengan cara kita berdoa. Tidak hanya kuantitas, tetapi juga kualitas. Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita memiliki doa yang berkualitas?

Suatu hari, saya menemukan sebuah postingan Facebook yang bertuliskan, “Berdoalah bukan karena kamu membutuhkan sesuatu, tetapi karena kamu punya banyak hal yang perlu kamu syukuri.” Benar, semua yang saya miliki adalah karunia Allah. Saya bukan apa-apa tanpa Dia, dan sudah layak dan sepantasnya bersyukur kepada-Nya. Bahkan, bentuk ibadah tertinggi di Gereja adalah Ekaristi. Kata Ekaristi sebenarnya berarti ‘syukur’. Saya pun me-like postingan tersebut. Namun, ketika saya membaca perumpamaan dalam Injil hari ini, saya menyadari bahwa orang Farisi pun melakukan doa syukur. Bahkan, dalam bahasa Yunani, Ketika orang Farisi bersyukur, ia menggunakan kata ‘eucharisto’, akar kata dari Ekaristi. Sementara pemungut cukai dibenarkan karena ia memohon belas kasihan dan pengampunan. Apakah ini berarti doa permohonan lebih baik dan lebih efektif daripada doa syukur dan doa-doa jenis lainnya?

Namun, jika kita membaca dengan cermat, ada beberapa detail yang menarik dalam Perumpamaan ini. Yang pertama adalah orang Farisi berdoa sebagai pembenaran diri, menunjukkan perbuatan baiknya, dan merasa lebih baik dari yang lain, terutama pemungut cukai. Farisi sudah merasa diri benar, oleh karenanya ia tidak lagi membutuhkan pembenaran dari Allah. Sedangkan, pemungut cukai merendahkan diri, mengakui bahwa ia adalah orang berdosa dan membutuhkan belas kasihan Allah. Dengan demikian, doa membutuhkan disposisi yang tepat. Kerendahan hati adalah dasar dari doa. Sungguh, Daud sendiri bermadah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mzm 51:17)

Detail kedua yang sering kita lewatkan adalah orang Farisi ini sebenarnya berdoa kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah (perhatikan Luk 18:11 di atas). Benar bahwa ia menyebut Allah, tetapi ia berbicara dengan dirinya sendiri. Dia mempersembahkan doa kepada dirinya bukan kepada Allah. Jika kemudian doa adalah komunikasi kita dengan Allah, orang Farisi ini menghancurkan makna doa yang sesungguhnya. Mungkin, dengan menyebut Allah, ia ingin Allah menjadi penonton dan mendengarkan litani keberhasilannya, tetapi tidak benar-benar untuk membangun hubungan dengan Allah. Tentu, kegiatan semacam ini memuaskan rasanya, tapi ini bukanlah sebuah doa. Apa yang orang Farisi lakukan bukanlah doa yang sejati, tapi pujian bagi dirinya sendiri.

Kita mungkin mendengar Ekaristi Kudus setiap hari, berdoa brevir dengan tekun, dan mendaraskan rosario. Kita juga bisa mengikuti pertemuan doa Karismatik atau ‘Praise and Worship’. Kita juga dapat menghadiri Misa Tradisional Latin, atau kita memilih untuk melakukan mediasi dan kontemplasi. Namun, dari perumpamaan hari ini, kita bertanya kepada diri sendiri, apakah doa kita adalah doa yang benar? Apakah kita berdoa karena kita merasa hebat dan puas tentang hal itu? Apakah kita berdoa karena kita bangga dengan prestasi kita? Apakah kita berdoa karena kita lebih saleh dari yang lain? Apakah doa kita membuat kita lebih dekat kepada Allah atau hanya untuk diri kita sendiri? Adalah kerendahan hati dasar doa kita? Doa kita harus memiliki kuantitas dan kualitas. Kita berdoa dengan ketekunan dan disposisi yang tepat. Tapi lebih dari ini, doa kita harus menjadi doa yang benar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan yang Tidak Pernah Jenuh

Minggu dalam Pekan Biasa ke-29 [16 Oktober 2016] Lukas 18: 1-8

“…namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia… (Luk 18:5)”

persistent-widow-1Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.

Saat ini kita merasa lemah dan lelah, godaan akan datang dan merayu kita untuk meninggalkan komitmen yang kita telah buat. Kita bahkan digoda untuk melakukan hal-hal gila dan berbuat dosa. Kita menjadi seperti hakim dalam Injil hari ini, yang ‘tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.’ Kita mulai melakukan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita menyakiti orang yang kita cintai. Kita membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Namun, kita sangat diberkati karena kita memiliki Allah yang seperti janda dalam Injil hari ini. Dia mengetuk hati kita siang dan malam sampai kita mau memberikan keadilan bagi-Nya dan sesama kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk setia dengan komitmen kita, berulang kali mendorong kita untuk bertekun dalam melakukan yang baik, dan tak henti-hentinya memanggil kita kembali setiap kali kita goyah.

Kasih dan perhatian-Nya yang tak henti-henti ini terwujud dalam cara yang sangat lembut di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia menempatkan sukacita kecil di dalam doa harian kita, meskipun kadang membosankan. Dia memberi kita keluarga dan teman-teman yang setia mendukung kita dalam waktu-waktu sulit. Dia memberikan kita dengan berkat-berkat sederhana yang kita cenderung abaikan. Salah satu faktor penopang dalam panggilan saya adalah Tuhan memberi saya sebuah komunitas. Memang, kadang-kadang hidup dalam komunitas cukup merepotkan, apalagi dengan watak yang berbeda-beda, tetapi ini juga menyediakan ekosistem dan struktur hidup untuk menopang kehidupan Dominikan saya. Frater-frater akan mengetuk pintu kamar saya agar saya tidak terlambat dalam doa, memberi kesempatan untuk berkhotbah, dan juga mengevaluasi saya agar saya berkembang, dan tentunya, mereka menkoreksi saya jika saya melakukan kesalahan. komunitas saya adalah cara Allah mengomeli saya.

Kita mungkin jenuh dengan banyak hal. Kita kelelahan dalam menjaga komitmen kita entah sebagai suami-istri atau orang tua. Kita bosan melakukan kewajiban kita sebagai pelajar atau pelayanan kita sebagai imam atau rohaniawan. Namun, kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang terus-menerus mengasihi kita dan tidak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menyerah pada diri kita sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah hanya untuk membuka mata, telinga dan hati kita kepada ‘omelan’-Nya yang tak henti. Karena Ia seperti janda yang tak kenal lelah memperjuangkan keadilan bagi-Nya dan bagi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Imam Sebesar Biji Sesawi

Minggu dalam Pekan Biasa ke-27 [2 Oktober 2016] Lukas 17: 5-10

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…(Luk 17:6)”

mustard-seed-in-bottleMembaca Injil hari ini, tampaknya memiliki iman itu membuat kita memiliki kekuatan super. Jika saya memiliki iman, saya dapat menanam padi di dasar laut. Jika saya memiliki iman, saya bisa membuat mobil Lamborghini dari tumpukan sampah. Jika saya memiliki iman, saya bisa mengubah suara saya seindah Ed Sheeran. Tapi, iman tidak seperti itu. Iman bukanlah pertunjukan sulap untuk menghibur kita. Iman bukanlah jawaban instan bagi keinginan-keinginan kita. Namun, benar adanya bahwa bahkan iman terkecil pun dapat membuat berbedaan yang berarti dalam hidup kita.

Yesus berbicara tentang iman dalam ukuran biji sesawi, dan ini melambangkan iman kita yang kecil. Namun walaupun kecil, iman kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup kita, bahkan melakukan hal-hal yang mustahil. Benar, hidup kita praktis tidak berubah. Kita masih berjuang dengan kesulitan keuangan. Kita masih harus berurusan dengan bos yang buat stres atau dosen teror. Kita tetep harus melalui kemacetan luarbiasa setiap hari, terutama di kota-kota besar seperti Manila dan Jakarta. Kita bergulat dengan berbagai penyakit yang menjangkiti tubuh kita, dan kita tidak tahu bagaimana untuk membayar obat dan biaya perawatan. Ya, hidup kita tidak berubah, namun pada saat yang sama, iman kecil kita akan membuat hidup kita menjadi baru. Bagaimana ini mungkin?

Dengan iman, kita diberdayakan untuk percaya pada Tuhan yang tak terlihat. Jika kita mampu melihat Tuhan yang tidak terlihat, kita juga bisa menemukan kasih dan rahmat-Nya yang tak terlihat dan bekerja dalam hidup kita. Tuhan tidak tidur dan tidak membiarkan kita berjuang sendirian dengan berbagai permasalah hidup. Kita mengingat Petrus, orang yang imannya kecil, yang berusaha untuk berjalan di atas air, tapi gagal dan mulai tenggelam. Dalam iman kecilnya, ia melihat Yesus memegang tangannya dan ia diselamatkan. Seperti Petrus, kita jatuh ke samudra permasalahan dan kesulitan, tapi kita tidak tenggelam karena dengan iman kecil kita, kita melihat Yesus memegang tangan kita.

Kita belajar dari banyak orang kudus. Iman mereka tidak membuat hidup mereka lebih baik. Banyak, seperti St. Fransiskus dari Assisi dan St. Martin de Porres, tetap miskin sepanjang hidup mereka. Banyak yang masih berurusan dengan berbagai masalah, seperti Bunda Teresa Kalkuta yang berjuang untuk mempertahankan karya amal dan Kongregasi mudanya, atau St. Bernadette Soubirous yang menanggung sakit luar biasa akibat TBC tulang. Bahkan tidak sedikit juga dengan kejam disiksa dan dieksekusi karena iman ini. Tapi, iman kecil yang mereka memiliki justru membuat mereka lebih murah hati, lebih tekun, dan bahkan bahagia di tengah-tengah ini pencobaan. Sebagai St. Lorenzo Ruiz, martyr pertama Filipina dan juga Dominikan awam, berseru ketika ia hendak dieksekusi di Jepang, “Saya seorang Katolik dan sepenuh hati menerima kematian bagi Allah; jika saya memiliki seribu nyawa, semua ini akan saya persembahkan kepada-Nya.” Iman tidak menghapus penderitaan kita, tetapi memberdayakan kita untuk melihat Allah yang bekerja dan ini cukup untuk mengubah siapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Kita

Minggu pada Pekan Biasa ke-26 [25 September 2016] Lukas 16: 19-31

 “Lazarus, menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. (Luk 16: 20-21).”

lazarusKetika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu.” Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”

Membaca lebih teliti Injil hari ini, orang kaya dikirim ke alam maut bukan karena hal-hal baik yang ia terima dalam hidup. Bahkan, jika ini sungguh alasannya, ini akan menjadi tidak adil bagi dia dan kita. Banyak dari kita bekerja dengan tekun, dan kita layak untuk menikmati hasil kerja keras kita. Dia ada di sana bukan karena hal-hal baik yang ia terima, tetapi karena dia tidak peduli kepada Lazarus, saudaranya yang miskin dan menderita.

Jika kita memperhatikan jarak antara orang kaya dan Lazarus, ada sesuatu yang tidak biasa. Awalnya, Lazarus ada di luar pintu, tapi kemudian ketika ia makan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu, dia benar-benar berada di dalam rumah. Bahkan, Lazarus sebenarnya berada di bawah meja orang kaya tersebut. Kita bisa menduga bahwa Lazarus sebenarnya adalah anggota keluarga sang kaya. Dengan kedekatan yang ekstrim ini, sang kaya tetap bertindak seolah-olah Lazarus tidak pernah ada. Apa yang mengirimnya ke akhirat bukanlah hal-hal baik yang ia terima, tetapi ia tega mengabaikan dan masa bodoh dengan saudaranya sendiri yang miskin.

Kita mungkin memiliki nasib yang sama dengan orang kaya ini jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang miskin di sekitar kita. Bahkan, ketidakpedulian kita mungkin menjadi penyebab kemiskinan dan penderitaan mereka. Kadang-kadang, kita merasa puas setelah menyumbangkan uang bagi para pengemis, tetapi apakah ini cukup? Memang, kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ribuan pengungsi di Suriah yang dilanda perang, tetapi apakah kita melakukan sesuatu bagi mereka yang dekat dengan kita? Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan mencari uang, sehingga kitapun lupa untuk berbagi? Apakah kita menutup mata kita terhadap anggota keluarga kita yang bergulat dengan pendidikan anak-anak mereka? Apakah kita diam saja terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat kita?

Kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan hal-hal baik yang kita terima dalam hidup ini. Namun, kita ingat juga saudara-saudara kita yang berada di luar pintu kita, mereka yang hanya di bawah meja kita, menunggu sisa-sisa makanan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP