Hari Minggu Biasa ke-22 [28 Agustus 2016] Lukas 14:1, 7-14
“Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta (Luk:14:13).”
Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi memiliki cara unik saat perjamuan makan. Alih-alih duduk seperti biasanya, orang-orang Yahudi akan merebahkan diri pada kursi panjang dan menyenderkan tubuh mereka pada meja yang cukup rendah di mana makanan dan anggur yang disajikan. Di dalam budaya Yunani-Romawi kuno, cara makan seperti ini adalah tanda orang yang bebas, sedangkan budak akan berdiri dan melayani para tamu. Selain merebahkan diri, posisi mereka di meja perjamuan akan menunjukkan seberapa pentingnya mereka bagi tuan rumah. Semakin dekat mereka dengan tuan rumah, semakin pentinglah dia bagi sang tuan rumah. Dengan demikian, orang yang duduk di samping tuan rumah adalah tamu yang paling penting.
Yesus melihat bahwa beberapa tamu ingin menduduki tempat penting di meja makan. Tentu saja, menempatkan diri di tempat terhormat, akan memberikan kebanggaan tersendiri, tapi lebih dari itu, semakin dekat mereka ke tuan rumah, semakin baik koneksi mereka dengan tuan rumah yang tidak lain adalah Farisi yang terkemuka dan berpengaruh di kota tersebut.
Dari zaman dahulu hingga kini, membuat koneksi dengan seseorang yang memiliki otoritas dan kekuasaan akan memberi kita posisi yang lebih baik untuk memperbaiki kehidupan kita atau mencapai tujuan kita. Dengan koneksi yang baik, seorang pengangguran bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Dengan koneksi, seorang karyawan bisa mendapatkan promosi yang diidamkannya. Dengan koneksi, siswa dapat menikmati kepercayaan dari guru-gurunya. John Maxwell, seorang pembicara kawakan, menceritakan bagaimana ia mampu memenangkan hati istrinya Margaret, meskipun banyak pelamar tampan lainnya. Caranya sederhana: dia berhasil membuat koneksi yang baik dengan ibunya Margaret! Saya kira salah satu alasan mengapa saya memiliki kesempatan berkhotbah lebih banyak dari frater-frater yang lain adalah bahwa saya terkoneksi dengan teman-teman baik yang juga aktif di Gereja.
Yesus tidak berniat untuk menghapus koneksi semacam ini. Bahkan, Dia sendiri adalah koneksi kita dengan Bapa (lih. 1 Tim 2: 5). Dalam Injil hari ini, apa yang Yesus inginkan adalah memberi pemahaman baru kita tentang koneksi ini. Kita tidak boleh menggunakan koneksi hanya untuk mencapai rencana individu dan egois kita, melainkan untuk pemberdayaan sesama. Yesus mengajak sang tuan rumah untuk mengundang orang miskin dalam perjamuan mereka. Ini bukan hanya tentang memberi makan orang yang lapar, tapi tuan rumah yang kaya diharapkan mau membuat koneksi dengan orang yang tidak mampu. Dengan koneksi seperti ini, terbuka juga peluang bagi sang tuan rumah untuk memberdayakan mereka yang lemah baik secara ekonomi, sosial maupun politik.
Saya sangat beruntung untuk bertemu dengan misionaris awam dari Korea bernama Anna. Meninggalkan karirnya yang menjanjikan di AS, Anna memutuskan untuk melayani di Filipina. Dia menceritakan kepada saya apa yang dia lakukan untuk membantu orang-orang miskin. Dia mengumpulkan ibu-ibu miskin yang tinggal di dekat rumahnya dan menciptakan proyek mata pencaharian. Dia mengajari mereka bagaimana membuat lilin dan menjualnya di paroki-paroki terdekat. Sebagian besar ibu-ibu ini putus sekolah dan berharap pada belas kasihan suami mereka. Tapi, dengan proyek ini, mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka, mendukung keluarga mereka dan yang lebih penting lagi, ibu-ibu itu sekarang memiliki kemandirian finansial dan tidak lagi tergantung pada suami mereka. Anna membangun koneksi dengan ibu-ibu ini dan koneksi memberdayakan mereka.
Yesus memanggil kita untuk menjadi tuan rumah yang baik. Ini berarti kita yang diberkahi dengan banyak talenta dan berkat diajak untuk membangun koneksi dengan orang-orang yang belum beruntung. Hendaknya koneksi kita memberdayakan orang lain, dan tidak sekedar menguntungkan diri kita sendiri.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Keselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Hidup di antara gadget-gadget digital super-canggih dan berbagai teknologi nano, kegiatan membuat api tampak seperti sangat primitif dan sia-sia. Mengapa kita harus membuat api dan menyebabkan polusi jika kita memiliki lampu LED yang hemat energi di rumah kita? Namun, membuat api sebenarnya adalah salah satu penemuan manusia yang paling awal dan signifikan. Api merevolusi kehidupan nenek moyang kita dan memberi kita keuntungan besar atas makhluk lainnya. Api membawa kehangatan dan kenyamanan dalam cuaca dingin. Api melindungi kita dari predator yang lebih besar dan ganas. Api memberikan cahaya yang menghapus kegelapan. Api juga diperlukan untuk menempa penemuan dan teknologi lain, seperti berbagai alat dan senjata.
Apakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?
Keserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.
Ketika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi. Saya pernah menulis bahwa Tuhan bukanlah ATM spiritual dan doa kita adalah kartu ATM. Setelah memasukan ‘kartu ATM doa’ dan mengetikan ‘password Amin’, Allah akan serta-merta menghasilkan apa yang kita inginkan. Tapi, saya menyadari bahwa setiap pagi, ketika saya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dan bunda Maria La Naval, doa-doa saya adalah doa permohonan. Saya meminta Tuhan banyak hal, seperti sarapan yang enak, kemudahan dalam ujian, kadang-kadang berharap bisa dapat cuti lebih awal dan panjang. Tentu saja, saya berdoa juga bagi orang-orang yang saya kasihi dan mereka yang telah saya janjikan untuk didoakan.
uti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.
Para ahli Taurat mewakili kelompok intelektual elit di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Saat sebagian besar dari bangsa Yahudi berjuang untuk mengisi perut mereka, kelompok ahli Taurat memiliki akses langka untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita bisa menduga bahwa para ahli hukum Taurat adalah cukup kaya untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci bangsa Yahudi tak terganggu. Dibandingkan dengan orang-orang Yahudi biasa, mereka tentunya ahli dengan berbagai rincian dan interpretasi hukum Taurat. Tidak heran, mereka bisa dengan mudah menjadi tinggi hati atau sombong.
Menjadi murid Yesus adalah sulit. Dan hal ini semakin sulit karena kita diutus untuk mewartakan kedamaian. Sekarang ini, kedamaian adalah hal yang paling sulit dipromosikan. Dalam dunia yang mabuk dengan ideologi fundamentalis dan kepimikiran sempit, kekerasan telah menjadi makanan sehari-hari. Di Suriah dan Irak, perang tampaknya tak akan berakhir, dan setiap harinya, mengklaim nyawa orang-orang tak berdosa. Bom bunuh diri dan penembakan gila-gilaan menjadi kejadian umum. Baru-baru ini, beberapa orang yang tidak dikenal meledakkan diri di dalam bandara sibuk di Istanbul, Turki, menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai banyak lainnya. Beberapa minggu yang lalu, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam sebuah bar di Orlando, AS, dan membunuh lebih 50 orang. Ini adalah kasus terburuk dalam sejarah AS.
Mengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.