Menjadi Manusia yang Utuh

Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13

 “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).”

dishonest-stewardKita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, “Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, “Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.

Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).

Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.

Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.

Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Satu Gembala, Satu Kawanan Domba

Minggu ke-24 pada Pekan Biasa. 11 September 2016 [Lukas 15: 1-10]

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Luk 15:6).”

lost-sheepPerumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.

Dari kebenaran ini, kita bertanya: Mengapa sebagian dari kita sesat? Mengapa sebagian dari kita tidak lagi pergi ke Gereja atau aktif di paroki? Mengapa beberapa meninggalkan Gereja? Mengapa beberapa akhirnya menjadi musuh dan pembenci Gereja? Biasanya kita akan dengan mudah menyatakan bahwa ini adalah kesalahan mereka. Namun, bukankah kita semua adalah domba dari kawanan yang sama, berbagi padang rumput yang sama dan memiliki Gembala yang sama? Jika ada saudara kita yang tersesat, kita juga ikut bertanggung jawab.

Sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka gagal dan hilang. Kita cenderung melihat mereka sebagai masalah untuk diselesaikan, objek rusak siap untuk dibuang. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudara-saudari kita, domba-domba gembalaan Yesus. Mungkin, saudara-saudari kita tidak lagi pergi ke Gereja karena kita tidak lagi peduli dengan kesulitan mereka. Mungkin, mereka meninggalkan Gereja karena hidup kita tidak lagi menjadi kesaksian iman dalam Yesus.

Kebijakan pemerintahan baru di Filipina untuk memerangi narkoba telah mencapai titik yang memprihatinkan. Lebih dari dua ribu jiwa telah melayang hanya dalam waktu dua bulan. Memang, banyak dari mereka yang terbunuh adalah pengedar skala kecil dan pengguna, dan jika kita melihat mereka hanya sebagai masalah dan hama bagi masyarakat, kematian tampaknya jawaban tercepat dan mudah. Tapi, jika kita sakit kepala, apakah kita akan memotong kepala kita? Apakah kita pernah bertanya mengapa mereka menjadi korban dari jerat narkoba? Sebagain besar dari mereka yang tewas sebenarnya adalah orang miskin. Narkoba menjadi solusi instan mencari uang atau menghilangkan lapar. Apakah kita pernah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan mereka? Ketidakpedualian kita secara tidak langsung telah menyebabkan mereka jatuh ke dalam kemiskinan, kesengsaraan dan narkoba.

Rm. Gerard Timoner III, OP, provincial kami di Filipnia, selalu mengajarkan kami bahwa  ‘brothers shepherding brothers’ atau menjadi pengembala bagi sesama frater di seminari. Ini berarti bahwa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat frater-frater di formasi tidak hanya terletak pada formator, tetapi juga pada setiap frater. Kita perlu menjadi gembala bagi sesama, terutama ketika para gembala utama tampak jauh. Baru-baru ini, ia juga berbagi dengan kami apa yang ia peroleh dari Kapitel Umum Dominikan di Bologna, Italia, bulan Agustus lalu. Dia menekankan bahwa untuk mempromosikan panggilan Dominikan tidak hanya berarti sibuk merekrut anggota baru, tetapi lebih penting adalah memperhatikan dan menjaga panggilan dari saudara-saudara kita sendiri di dalam Ordo.

Untuk menjadi domba-domba Kristus berarti bahwa kita juga adalah bagian dari kawanan domba yang lebih besar. Seperti halnya Yesus menjaga setiap dari kita, kita juga perlu untuk menjaga satu sama lain. Sebagai Gembala yang Baik mencari domba yang hilang, kita juga akan mencari saudara-saudari kita yang hilang dalam perjalanan mereka. Tentunya, tidak mudah, tapi kita akan selalu ingat bahwa mereka juga masih saudara-saudara kita, domba-domba Kristus, seperti kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Murid Yesus

Minggu pada Pekan Biasa ke-23. [4 September 2016] Lukas 14:25-33

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk 14:26).”

ISRAEL-PALESTINIAN-RELIGION-CHRISTIANTY-EASTER

Menjadi seorang murid adalah jati diri penting dari pengikut Yesus. Pada masa kini, seorang murid dapat berarti seorang siswa sebuah sekolah tertentu. Seperti Frater Bayu adalah mahasiswa University of Santo Tomas, Manila. Namun, di zaman dahulu, terutama dalam tradisi Timur dan Yahudi, menjadi murid memiliki pemahaman yang berbeda. Seorang murid tidak hanya akan menerima ajaran gurunya, tapi benar-benar mengikuti sang guru kemanapun dia akan pergi dan tinggal. Murid tidak hanya akan belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga menyaksikan dan meniru bagaimana sang guru menjalani hidupnya. Mereka berbagi makan yang sama, dan mereka adalah bagian dari sukacita dan pergulatan sang guru. Dengan demikian, menjadi murid tidak hanya tentang pendidikan intelektual, tetapi merupakan formasi holistik. Pada dasarnya sang murid akan menjadi bagian hidup sang guru.

Oleh karena itu, masuk akal bagi kita sekarang, ketika Yesus menuntut agar para murid harus ‘membenci’ keluarga mereka serta kehidupan mereka. Untuk mengikuti Yesus kemanapun dia pergi berarti para murid harus meninggalkan keluarga, kehidupan dan pekerjaan yang mereka memiliki. ‘Membenci’ tidak berarti bahwa mereka membuat permusuhan dengan keluarga mereka, melainkan menjadikan mereka sebagai prioritas sekunder. Yesus adalah keluarga baru mereka, prioritas pertama mereka dan kehidupan nyata mereka sekarang.

Yesus sendiri memberi kita citra pemuridan: mengikuti Dia adalah seperti membawa salib. Untuk menjadi murid Kristus memang sulit dan menuntut radikal re-orientasi hidup kita. Namun, kabar baiknya adalah bahwa untuk menjadi murid Yesus bukanlah hal yang mustahil. Tidak sedikit pria dan wanita muda meninggalkan karir yang menjanjikan, masuk ke biara dan membaktikan diri bagi Tuhan dalam doa. Pria dan wanita awam mempersembahkan diri mereka sebagai misionaris dan dikirim ke penjuru dunia untuk berbagi sukacita Injil. Evangelizasi Filipina 400 tahun lalu hampir tidak mungkin kalau bukan karena imam-imam Spanyol yang bersemangat yang selama berbulan-bulan berlayar, mempertaruhkan nyawa mereka dan banyak yang tidak pernah kembali ke tanah air mereka. Ini adalah saudara dan saudari kita secara nyata meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus.

Namun, menjadi murid Yesus tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan keluarga kita. Mengikuti Kristus dapat terjadi dalam keluarga. Ketika seorang pria dan seorang wanita memutuskan untuk meninggalkan keluarga asal mereka, dan membangun keluarga Kristiani mereka sendiri, maka mereka telah menjadi komunitas para murid Kristus. Ketika orang tua berkomitmen dalam tugas sulit untuk membesarkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang jujur dan beriman, mereka mengikuti Kristus. Lebih mendasar, menjadi murid Kristus terlihat jelas di dalam sakramen, terutama Ekaristi. Dalam Ekaristi, kita menjadi murid yang mendengarkan ajaran-Nya dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya di hosti suci. Akhirnya, kita diutus untuk memberitakan apa yang telah kita pelajari dan hidupi dalam Ekaristi.

Kita terus berdoa agar kita dapat menjadi murid-Nya sejati dan banyak juga akan terinspirasi untuk mengikuti-Nya dan berbagi kehidupan-Nya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Koneksi

Hari Minggu Biasa ke-22 [28 Agustus 2016] Lukas 14:1, 7-14

 “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta (Luk:14:13).”

jesus dining 2Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi memiliki cara unik saat perjamuan makan. Alih-alih duduk seperti biasanya, orang-orang Yahudi akan merebahkan diri pada kursi panjang dan menyenderkan tubuh mereka pada meja yang cukup rendah di mana makanan dan anggur yang disajikan. Di dalam budaya Yunani-Romawi kuno, cara makan seperti ini adalah tanda orang yang bebas, sedangkan budak akan berdiri dan melayani para tamu. Selain merebahkan diri, posisi mereka di meja perjamuan akan menunjukkan seberapa pentingnya mereka bagi tuan rumah. Semakin dekat mereka dengan tuan rumah, semakin pentinglah dia bagi sang tuan rumah. Dengan demikian, orang yang duduk di samping tuan rumah adalah tamu yang paling penting.

Yesus melihat bahwa beberapa tamu ingin menduduki tempat penting di meja makan. Tentu saja, menempatkan diri di tempat terhormat, akan memberikan kebanggaan tersendiri, tapi lebih dari itu, semakin dekat mereka ke tuan rumah, semakin baik koneksi mereka dengan tuan rumah yang tidak lain adalah  Farisi yang terkemuka dan berpengaruh di kota tersebut.

Dari zaman dahulu hingga kini, membuat koneksi dengan seseorang yang memiliki otoritas dan kekuasaan akan memberi kita posisi yang lebih baik untuk memperbaiki kehidupan kita atau mencapai tujuan kita. Dengan koneksi yang baik, seorang pengangguran bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Dengan koneksi, seorang karyawan bisa mendapatkan promosi yang diidamkannya. Dengan koneksi, siswa dapat menikmati kepercayaan dari guru-gurunya. John Maxwell, seorang pembicara kawakan, menceritakan bagaimana ia mampu memenangkan hati istrinya Margaret, meskipun banyak pelamar tampan lainnya. Caranya sederhana: dia berhasil membuat koneksi yang baik dengan ibunya Margaret! Saya kira salah satu alasan mengapa saya memiliki kesempatan berkhotbah lebih banyak dari frater-frater yang lain adalah bahwa saya terkoneksi dengan teman-teman baik yang juga aktif di Gereja.

Yesus tidak berniat untuk menghapus koneksi semacam ini. Bahkan, Dia sendiri adalah koneksi kita dengan Bapa (lih. 1 Tim 2: 5). Dalam Injil hari ini, apa yang Yesus inginkan adalah memberi pemahaman baru kita tentang koneksi ini. Kita tidak boleh menggunakan koneksi hanya untuk mencapai rencana individu dan egois kita, melainkan untuk pemberdayaan sesama. Yesus mengajak sang tuan rumah untuk mengundang orang miskin dalam perjamuan mereka. Ini bukan hanya tentang memberi makan orang yang lapar, tapi tuan rumah yang kaya diharapkan mau membuat koneksi dengan orang yang tidak mampu. Dengan koneksi seperti ini, terbuka juga peluang bagi sang tuan rumah untuk memberdayakan mereka yang lemah baik secara ekonomi, sosial maupun politik.

Saya sangat beruntung untuk bertemu dengan misionaris awam dari Korea bernama Anna. Meninggalkan karirnya yang menjanjikan di AS, Anna memutuskan untuk melayani di Filipina. Dia menceritakan kepada saya apa yang dia lakukan untuk membantu orang-orang miskin. Dia mengumpulkan ibu-ibu miskin yang tinggal di dekat rumahnya dan menciptakan proyek mata pencaharian. Dia mengajari mereka bagaimana membuat lilin dan menjualnya di paroki-paroki terdekat. Sebagian besar ibu-ibu ini putus sekolah dan berharap pada belas kasihan suami mereka. Tapi, dengan proyek ini, mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka, mendukung keluarga mereka dan yang lebih penting lagi, ibu-ibu itu sekarang memiliki kemandirian finansial dan tidak lagi tergantung pada suami mereka. Anna membangun koneksi dengan ibu-ibu ini dan koneksi memberdayakan mereka.

Yesus memanggil kita untuk menjadi tuan rumah yang baik. Ini berarti kita yang diberkahi dengan banyak talenta dan berkat diajak untuk membangun koneksi dengan orang-orang yang belum beruntung. Hendaknya koneksi kita memberdayakan orang lain, dan tidak sekedar menguntungkan diri kita sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keselamatan: Rahmat dan Pilihan

Minggu dalam Pekan Biasa ke-21. Lukas 13: 22-30 [21 Agustus 2016]

 “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan? (Luk 13:23)”

narrow gateKeselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada sebuah kisah tentang seorang pastor mengunjungi pembuat sabun guna beli pasokan untuk parokinya. Tiba-tiba, pembuat sabun bertanya, “Apa baiknya agama? Lihatlah semua penderitaan dan kejahatan di dunia! Penderitaan tetap ada, bahkan setelah agama bertahun-tahun mengajar tentang kebaikan dan perdamaian. Kejahatan tetap ada, setelah semua doa dan khotbah. Jika agama yang baik dan benar, mengapa kita harus terus menderita?” Sang pastor diam saja. Kemudian dia melihat seorang anak bermain di selokan depan toko sabun, dan pastor berkata, “Lihatlah anak itu. Kamu mengatakan bahwa sabun membuat orang bersih, tetapi kamu melihat banyak kotoran pada anak itu. Apa baiknya sabun? Dengan semua sabun di dunia, anak itu masih kotor. Aku bertanya-tanya seberapa efektif sabun buatanmu sebenarnya?” Sang pembuat sabun pun protes, “Tapi, Pastor, sabun tidak berguna kecuali saat digunakan dengan benar.” Sang Pastor pun menjawab, “Tepat sekali!”

Untuk menjadikan rahmat keselamatan bagian hidup kita bukan pekerjaan mudah. Yesus sendiri bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk 13:24).” Hal ini sulit karena menuntut transformasi radikal dari hati kita, atau metanoia. Setiap kekuatan eksternal yang dipaksakan kepada kita, seperti aturan, hukum dan perintah, tidak akan bertahan lama. Karunia keselamatan tidak bisa dipaksakan dari luar, tetapi harus tumbuh dari dalam diri kita sehingga efeknya akan stabil dan permanen dalam diri kita.

Panggilan untuk menghidupi karya keselamatan ini sebenarnya adalah panggilan sejak dari nabi-nabi Perjanjian Lama. Para nabi mengingatkan Israel bahwa mereka memang telah dipilih oleh Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, diselamatkan dari Mesir dan tinggal di tanah terjanji. Namun, rahmat yang indah ini tidak akan bertahan kecuali mereka juga mereformasi hati mereka dan benar-benar menjadi umat Allah. Allah, melalui Nabi Yehezkiel, menuntut ini, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (Yehezkiel 36:26).”

Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghidupi keselamatan kita sehari-hari. Ya, kita bisa dibaptis sebagai Katolik atau Kristen, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita beriman kepada Allah yang Esa, tapi kita juga membaca horoskop, konsultasi peramal dan menggunakan jimat pelindung. Kita bisa dengan mudah berteriak, “God is good all the time!” tapi kita memiliki banyak keluhan dalam hidup kita. Kita diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita tetap benci dan dendam, bahkan senang ketika musuh kita tertimpa kemalangan.

 Allah akan menghapus hati berbatu dan menempatkan hati alami, jika kita membuka hati kita. Kita diselamatkan jika kita menghidupi rahmat keselamatan. Kita akan masuk ke Kerajaan-Nya, jika bersama-sama dengan Yesus, kita memasuki pintu yang sesak setiap harinya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Api Yesus

 Minggu Biasa ke-20 [14 Agustus 2016] Lukas 12:49-53

 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49)”

pentecost 2Hidup di antara gadget-gadget digital super-canggih dan berbagai teknologi nano, kegiatan membuat api tampak seperti sangat primitif dan sia-sia. Mengapa kita harus membuat api dan menyebabkan polusi jika kita memiliki lampu LED yang hemat energi di rumah kita? Namun, membuat api sebenarnya adalah salah satu penemuan manusia yang paling awal dan signifikan. Api merevolusi kehidupan nenek moyang kita dan memberi kita keuntungan besar atas makhluk lainnya. Api membawa kehangatan dan kenyamanan dalam cuaca dingin. Api melindungi kita dari predator yang lebih besar dan ganas. Api memberikan cahaya yang menghapus kegelapan. Api juga diperlukan untuk menempa penemuan dan teknologi lain, seperti berbagai alat dan senjata.

Namun, api juga dapat menimbulkan masalah serius. Hampir setiap tahun, api membakar ribuan hektar hutan Kalimantan dan menghasilkan asap berskala global. Api juga merupakan masalah serius di kota-kota padat penduduk seperti Manila. Seorang petugas pemadam kebakaran pernah melakukan seminar di seminari. Dia mengatakan bahwa api hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk membakar seluruh tubuh anak kecil. Karena ini, api telah menjadi simbol baik dari kekuatan yang dahsyat dari alam dan juga kecerdasan manusia. Api dapat membawa kehancuran berat seperti api membakar dan mengkonsumsi hampir segala sesuatu. Namun, hal itu juga memberikan kreativitas, harapan dan masa depan kemanusiaan.

Ketika Yesus berkata ia membawa api untuk dunia, Lukas menggunakan kata Yunani ‘phur’. Jika diterjemahkan kata ini berarti api besar yang membara, bukan sekedar api yang kecil. Jadi, Yesus datang ke dunia untuk membawa energi dan kekuatan transformatif yang dahsyat. Api ini dapat menghancurkan dosa-dosa dan kebiasaan buruk kita. Namun, jauh lebih penting adalah api ini memberikan energi dan memberdayakan kita untuk menjadi kreatif dalam karya dan pewartaan dan dalam kehidupan Kristiani kita. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah-lidah api. Api yang sama ini memberanikan para murid yang masih ketakutan, dan menggerakan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dengan kesegaran yang baru. Mereka membuat terobosan kreatif saat mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa, sesuai kebutuhan pendengar mereka.

Orang-orang kudus adalah orang-orang yang terbakar api Kristus. Kehidupan mereka memberikan contoh karya Roh Kudus yang selalu segar dan transformatif. Ketika St. Dominikus de Guzman melihat kebutuhan untuk memberitakan Injil dan membawa kembali para bidaah Albigensian di Perancis Selatan, iapun  mendirikan Ordo religius yang tugas utamanya adalah berkhotbah. Dan ini menjadi ordo pertama yang memiliki ke khasan ini di Gereja Katolik. Ketika para Misionaris Spanyol pertama kali datang ke Kepulauan Filipina, salah satu prioritas utama mereka adalah bagaimana memahami bahasa dan budaya lokal, sehingga pewartaan mereka dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang Filipina. Bahkan sejak abad ke-16, para misionaris Dominikan telah menghasilkan buku tata bahasa dan kamus berbagai bahasa di Filipina seperti Tagalog, Bisaya, dan Ivatan.

Ini adalah keinginan-Nya untuk membakar dunia dalam api, tetapi apakah api Kristus telah menyentuh kehidupan kita? Apakah Ekaristi dan Sakramen rekonsiliasi memperbaharui kita? Apakah kita merasakan energi untuk terlibat dalam pewartaan kabar baik, atau kita sudah merasa cukup dengan Misa Mingguan? Apakah kita memiliki ketekunan ditengah cobaan hidup? Apakah kita memungkinkan Roh untuk menghidupkan kehidupan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menyerahkan Semuanya

Minggu Biasa ke-19 [7 Agustus 2016] Lukas 12: 32-48

 “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Luk 12:34).”

giving handsApakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?

St. Dominikus de Guzman yang hari rayanya akan kita sambut besok, adalah contoh untuk diteladani. Ketika ia menjadi kanon regular di Katedral Osma, Spanyol, dia sejatinya adalah seorang yang dipersiapkan sebagai pemimpin. Dia terpilih sub-prior pada usia yang sangat muda. Menjadi sub-prior berarti ia adalah wakil dari pemimpin utama Katedral dan dipersiapkan untuk menjadi Uskup. Osma adalah kota tua berbenteng, makmur dan memiliki Gereja yang indah. Osma menyediakan ketenangan dan kenyamanan bagi Dominikus saat perang dan kelaparan melanda Spanyol di abad pertengahan. Dia juga dipersiapkan untuk mengemban posisi Uskup di Osma. Namun, Dominikus memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Menghadapi kesulitan besar dan bahaya yang mengancam hidupnya, ia pergi untuk memberitakan Injil di Perancis Selatan di mana kelompok sesat, Albigentians, telah berakar.

St. Dominikus dan banyak orang kudus lainnya menjadi teladan pemberian diri yang total, tapi berapa banyak dari kita yang bisa melakukan apa St. Dominikus telah lakukan? Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak siap untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak bisa begitu saja menjual segala yang kita miliki karena kita perlu untuk membesarkan anak-anak kita dan mengirim mereka ke sekolah. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan studi kita karena kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjalankan bisnis kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan para pekerja dan keluarga mereka. Saya sendiri harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk melepaskan koleksi buku-buku saya.

Kita terjerat dalam kompleksitas kehidupan. Namun, di dalam hati kita, kita selalu merasakan kerinduan untuk menyerahkan segalanya demi Kerajaan Allah. Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengorbanan sederhana setiap hari.

Seorang ibu yang bangun pagi, mempersiapkan sarapan untuk keluarga, membawa anak-anaknya ke sekolah, pergi bekerja untuk mencari nafkah, memasak makan malam untuk suaminya, dan pada dasarnya menyisihkan mimpinya untuk bekerja dengan kaum miskin, benar-benar memberikan dirinya kepada Tuhan. Saya punya teman frater yang cerdas dan sangat bertekad untuk menjadi seorang imam. Saya yakin bahwa dia bisa menjadi seorang imam yang baik suatu hari nanti. Tapi, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, saudara-saudaranya yang masih belajar, dan ibunya berpenghasilan sangat pas-pasan. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meninggalkan seminari dan bekerja untuk membantu keluarganya. Dia mengorbankan harapannya untuk melayani Tuhan sebagai imam, namun ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, dengan merawat keluarganya.

Saya percaya bahwa Tuhan penuh belas kasih. Dia mengerti pergulatan kita sehari-hari untuk mengikuti-Nya. Dengan demikian, Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia memberdayakan kita dalam pergulatan kita dan kasih karunia-Nya memungkinkan kita untuk menyerahkan hidup kita secara total ditengah-tengah kompleksitas kehidupan di dunia ini.

St. Dominikus de Guzman, doakanlah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menaklukan Ketamakan

Minggu Biasa kedelapan belas. 31 Juli 2016 [Lukas 12:13-21]

“…jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Luk 12:21)”

Fr Jacques hamelKeserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.

Kadang-kadang, kita dapat dengan mudah menuduh beberapa orang di pemerintahan dan dunia bisnis sebagai serakah. Memang, dengan posisi kekuasaan dan kapasitas intelektual, mereka dapat menyedot sejumlah besar uang hanya untuk diri mereka sendiri. Dana dari para masyarakat pembayar pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, malah masuk ke kantong pribadi mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa keserakahan tidak hanya mempengaruhi mereka yang kaya tetapi semua orang, termasuk juga orang miskin.

Film Slumdog Millionaire (2008) mengkisahkan Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian agama di daerah kumuh di India, mereka dipaksa untuk tinggal di tempat pembuangan sampah. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Salah satu adegan yang mengungkapkan bentuk keserakahan yang mengerikan adalah salah satu anak laki-laki dengan suara merdu, Arwind, dibutakan. Jamal berkomentar kemudian, “penyanyi buta berpenghasilan ganda.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film ini tidak sekedar fiksi belaka, tetapi banyak peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupan kita.

Ketamakan bahkan lebih menghacurkan karena dosa ini tidak hanya tentang kekayaan. Ketamakan adalah dosa yang menghancurkan identitas kita sebagai manusia, diciptakan sebagai citra Allah, dengan kapasitas untuk mengasihi dan berbagi. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Minggu ini, kita menemukan orang kaya hanya peduli dirinya sendiri, panenanya, hartanya, hidupnya dan masa depannya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain, apalagi Tuhan di dalam hatinya. Keserakahan menghancurkan kemanusiaan kita sampai keintinya. Kita menggemgam erat kehidupan kita dan apa yang kita miliki, dan gagal untuk melihat bahwa semua yang kita miliki adalah berkat untuk dibagikan.

Hanya beberapa hari yang lalu, Romo Jacques Hamel dibunuh di dalam Gereja oleh teroris bersenjata. Gereja Saint Etienne-du-Rouvray di Perancis utara diserbu saat misa pagi. Dia dan seorang umat akhirnya meninggal setelah leher mereka digorok. Sementara dunia terkejut dengan tindakan pengecut keji ini, kita sekali lagi diundang untuk melihat lebih dalam kehidupan imam yang sederhana ini yang memberi hidupnya sampai akhir. Kita mungkin percaya bahwa hidup dirampas darinya, tapi kita lupa bahwa sebenarnya dia telah memberikan hidupnya jauh sebelum hari kemartirannya. Dia hidup sederhana dan pada usia 84, dia tetap setia merayakan sakramen dan melayani umat Tuhan setiap hari dalam hidupnya. Dia memberikan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Kematiannya bukanlah suatu kerugian, tapi sebuah peneguhan atas kemurahan hatinya yang menginspirasi dunia. Sebagaimana St. Tertulian pernah berkata, “Darah para martir adalah benih umat Kristiani.”

Kemurahan hati dari Rm. Hamel ini adalah refleksi dari panggilan terdalam kita sebagai manusia, sebagai citra Allah. Dan hanya dalam kasih yang sejati dan kemurahan hati yang melimpah, kita dapat melawan keserakahan dan ketamakan yang menjangkiti jiwa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa kepada Bapa Kita

Minggu Biasa ke-17. [24 Juli 2016] Lukas 11:1-13

 “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (Luk 11: 2-3)”

dominican rosaryKetika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi. Saya pernah menulis bahwa Tuhan bukanlah ATM spiritual dan doa kita adalah kartu ATM. Setelah memasukan ‘kartu ATM doa’ dan mengetikan ‘password Amin’, Allah akan serta-merta menghasilkan apa yang kita inginkan. Tapi, saya menyadari bahwa setiap pagi, ketika saya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dan bunda Maria La Naval, doa-doa saya adalah doa permohonan. Saya meminta Tuhan banyak hal, seperti sarapan yang enak, kemudahan dalam ujian, kadang-kadang berharap bisa dapat cuti lebih awal dan panjang. Tentu saja, saya berdoa juga bagi orang-orang yang saya kasihi dan mereka yang telah saya janjikan untuk didoakan.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid bagaimana berdoa. Ia mengajar mereka doa yang paling indah, ‘Doa Bapa Kami.’ Meskipun versi Lukas lebih pendek dari versi Matius, keduanya mengandung sikap dasar yang sama. Ini adalah doa permohonan. Kita meminta Kerajaan-Nya datang. Kita meminta rejeki yang cukup. Kita memohon pengampunan dan pembebasan dari yang jahat. Kita memohon Tuhan memberikan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk berdoa dengan rendah hati, tetapi juga berdoa dengan penuh keyakinan. Kita berdoa dengan yakin karena bagi Yesus, Tuhan adalah Bapa yang peduli dan penuh kasih. Saya sadar bahwa tidak semua memiliki pengalaman yang menyenangkan dengan ayah kita. Banyak dari kita, seperti saya sendiri, beruntung memiliki ayah yang bias diandalkan. Tapi, beberapa dari kita harus berurusan dengan ayah kasar dan keras. Dan beberapa dari kita tidak tahu siapa ayah kita sebenarnya. Tetapi, Yesus meyakinkan kita bahwa Bapa kita di surga adalah bapa yang paling peduli, paling penuh kasih dan terbaik. “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya? (Luk 11: 11-13)”

Kadang-kadang, kita bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita. Kita perlu ingat bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Ia tidak menjawab doa kita mungkin apa yang kita inginkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Ada sesuatu yang lebih baik telah disiapkan bagi kita. Dia selalu menjawab doa-doa kita, tetapi seringkali, kita tidak mendengarkan jawaban terbaik-Nya.

Bentuk doa paling agung dalam tradisi Katolik adalah Ekaristi Kudus. Ekaristi sebenarnya berarti doa syukur (dari bahasa Yunani ‘eucharistein’, untuk bersyukur), namun Ekaristi juga bisa diartikan sebagai doa permohonan. Bahkan, dalam Ekaristi, kita memohon Tuhan sesuatu yang paling kita butuhkan, keselamatan kita dan keselamatan dunia. Untuk mencapai hal ini, kita mempersembahkan sebuah kurban yang paling baik kepada Bapa, yakni Yesus Kristus sendiri. Tentunya, Bapa akan bahagia menerima kurban yang paling sempurna ini. Bapa pun melimpahi kita dengan rahmat-Nya. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa keselamatan kita bergantung dalam doa.

Kita berdoa karena ini adalah siapa kita. Kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan. Kita bergantung seluruhnya pada Allah. Kita berlutut di hadapan-Nya. Namun juga, kita berdoa karena kita yakin Dia akan mendengarkan doa kita. Kita yakin bahwa Tuhan akan memperhatikan dan memberikan yang terbaik. Kita berdoa karena Allah adalah Bapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert atau Ekstrovert?

Minggu Biasa ke-16. [17 Juli 2016] Lukas 10: 38-42

 “Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42).”

Beberapa minggu yang lalu, saya mengikMartha and Mary by He Qiuti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.

Membaca Injil hari ini, kita menemukan dua protagonis, Marta dan Maria. Tak diragukan lagi, Marta secara dominin adalah ekstrovert. Dia melakukan semua pekerjaan. Dia sangat aktif. Bahkan, dia tidak segan-segan terlibat pembicaraan dengan Yesus. Sementara Maria adalah tipikal introvert. Dia bisa tenang, diam dan hanya mendengarkan Yesus. Dia bahkan tidak bergerak di kaki Yesus. Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulutnya.

Dalam cerita, ketika Marta mengeluh kepada Yesus karena saudaranya yang diam saja, Yesus membela Maria. Apakah ini berarti bahwa Yesus lebih meyukai pribadi introvert daripada ekstrovert? Saya rasa tidak. Jika kita melihat kehidupan Yesus, kita dapat mengatakan bahwa Yesus secara dominan adalah ekstrovert. Ia melakukan banyak hal: penyembuhan, mengusir roh jahat, memberi makan, melakukan mujizat, dan mengajar. Dia terlibat dalam kehidupan banyak orang. Dia menghadiri banyak pesta dan perayaan, dan bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa (lit. Mat 11:19)!

Jadi, mengapa Yesus berkata kepada Marta, “Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik (Luk 10:42)?” Saya percaya Yesus tidak pilih kasih. Sebaliknya, Yesus  bermaksud mengingatkan Marta bahwa ia telah kehilangan tujuan utama dari pelayanannya. Yesus tidak alergi dengan Marta yang adalah ekstrovert, tapi Marta membandingkan dirinya dengan saudaranya. Lebih buruk lagi, ia memaksakan caranya sebagai cara terbaik terbaik untuk melayani Tuhan. Saat ia terhanyut di dalam dirinya sendiri, Marta kehilangan Yesus.

Maria memilih bagian yang lebih baik karena ia tidak memaksakan kehendaknya dan membiarkan Marta menjadi Marta. Dia tidak mengeluh ketika Marta melakukan sesuatu yang berbeda darinya, karena ia fokus pada Yesus. Maria menolak godaan untuk membuat dirinya sebagai pusat pelayanan dan kehidupannya, dan menjadikan dirinya sabagai tuhan kecil. Jadi, tidak hanya dia membolehkan Marta menjadi Marta, ia juga membolehkan Yesus menjadi Tuhan. Ini adalah bagian yang terbaik.

Kita semua, dengan kepribadian yang unik dan bakat yang berbeda, dipanggil untuk menjadi murid Yesus, dan untuk berkontribusi dalam membangun Gereja-Nya. Gereja membutuhkan baik introvert dan ekstrovert. Bahkan, ketika kita bekerja bersama-sama, kita dapat berkontribusi secara signifikan lebih besar dari kontribusi individu kita masing-masing. Beberapa frater-frater saya di komunitas menikmati bermisi dan berkhotbah di banyak tempat. Saya mengakui bahwa saya harus mengerahkan usaha ekstra untuk sekedar pergi keluar seminari, dan jauh lebih mudah bagi saya untuk menghabiskan berjam-jam membaca dan menulis. Kami kemudian bekerja sama. Saya menawarkan berbagai materi pewartaan dan frater-frater saya melakukan aksi pewartaan yang sebenarnya.

Bahayanya adalah ketika kita hanya berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara dan mulai mengeluh tentang orang-orang yang berbeda dari kita. Kita tidak lagi memikirkan Kristus, tetapi diri kita sendiri, dan membuat diri kita sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita berdoa agar kita dapat memilih bagian yang lebih baik karena kita bekerja bersama-sama untuk melayani Tuhan, dan di dalam karya dan kehidupan kita, Tuhan benar-benar dimuliakan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP