Mengasihilah dan Kamu akan Hidup!

Minggu Biasa ke-15/ 10 Juli 2016 [Lukas 10: 25-37]

 “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? (Luk 10:25)”

jesus and scholarPara ahli Taurat mewakili kelompok intelektual elit di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Saat sebagian besar dari bangsa Yahudi berjuang untuk mengisi perut mereka, kelompok ahli Taurat memiliki akses langka untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita bisa menduga bahwa para ahli hukum Taurat adalah cukup kaya untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci bangsa Yahudi tak terganggu. Dibandingkan dengan orang-orang Yahudi biasa, mereka tentunya ahli dengan berbagai rincian dan interpretasi hukum Taurat. Tidak heran, mereka bisa dengan mudah menjadi tinggi hati atau sombong.

Lukas menggambarkan sang ahli Taurat sebagai salah seseorang yang ‘berdiri’ dan ‘mencobai’ Yesus. Jelas, ia datang membawa superioritas intelektualnya dan menantang Yesus untuk membuktikan bahwa ia jauh lebih baik dari-Nya. Dia mungkin berpikir, “Yesus, anak tukang kayu; dia tahu apa-apa!” Tapi, kesombongannya tidak memberinya apa-apa selain kekalahan. Dia menyerang Yesus dengan pertanyaan yang paling sulit. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Namun, Yesus menyadari niatnya. Yesus mengingatkan bahwa jawabannya terletak di jantung Taurat itu sendiri, dan memungkinkan dia untuk menjawab pertanyaannya sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Ul 6: 5).” Jawabannya sangat sederhana tapi sungguh benar, dan setiap orang Yahudi yang bersama Yesus, akan segera memberikan anggukan mereka.

Menolak untuk menerima kekalahannya, sang ahli Taurat membuat upaya terakhir untuk membenarkan dirinya sendiri. Dia meminta Yesus untuk menjelaskan siapakah ‘sesama’ ini yang dia harus menkasihi. Yesus kemudian menerangkan kepadanya salah satu perumpamaan terindah yang pernah kita dengar: Orang Samaria yang Baik. Mengasihi berarti mengasihi secara radikal. Mengasihi berarti berbuat baik bahkan bagi mereka yang tidak layak kita kasihi. Namun, Yesus tidak hanya untuk memaksa sarjana untuk mengakui kekalahannya, namun Dia juga mengajak sang ahli untuk merefleksikan tujuan hidupnya lebih dalam sebagai seorang Yahudi.

Ada kalanya, kita sangat yakin dengan diri kita sendiri. Kita merasa kita mengetahui banyak hal. Kita terlibat dalam diskusi dan perdebatan tentang berbagai isu di Gereja dan masyarakat. Kita mengambil kubu, baik di kelompok progresif ataupun konservatif, dan berdebat tanpa henti. Kita belajar teologi, spiritualitas dan kepemimpinan, dan kita merasa kita lebih baik dari seluruh Gereja. Kita terlibat dalam sebuah pelayanan atau kelompok tertentu begitu lama, dan kita melihat dengan rendah para pendatang baru di dalam kelompok. Secara tidak sadar, kita menjadi seperti ahli Taurat di dalam Injil ini yang berdiri dan mencobai sesama. Saya akui juga kadang, saya memiliki sikap sombong ini. Ketika saya mengajar, saya sering memproyeksikan diri saya sebagai guru yang mahatahu dan melemparkan pertanyaan yang paling sulit untuk murid-murid saya. Sungguh menyenangkan ketika saya tahu bahwa hanya saya yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tuhan, ampunilah aku!

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini suatu kebenaran sederhana namun mendasar: kesombongan hanya membawa kekalahan, hanya kerendahan hati yang dapat membawa kita kehidupan yang kekal. Dan kerendahan hati ini hanya bisa dipraktekkan di dalam kasih. Meminjam kata-kata Santo Paulus, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Kor 13: 2-3).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mewartakan Kedamaian

Minggu Biasa ke-14/ 3 Juli 2016/ Lukas 10: 1-12, 17-20

 “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. (Luk 10: 5).”

sending 72 - 2Menjadi murid Yesus adalah sulit. Dan hal ini semakin sulit karena kita diutus untuk mewartakan kedamaian. Sekarang ini, kedamaian adalah hal yang paling sulit dipromosikan. Dalam dunia yang mabuk dengan ideologi fundamentalis dan kepimikiran sempit, kekerasan telah menjadi makanan sehari-hari. Di Suriah dan Irak, perang tampaknya tak akan berakhir, dan setiap harinya, mengklaim nyawa orang-orang tak berdosa. Bom bunuh diri dan penembakan gila-gilaan menjadi kejadian umum. Baru-baru ini, beberapa orang yang tidak dikenal meledakkan diri di dalam bandara sibuk di Istanbul, Turki, menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai banyak lainnya. Beberapa minggu yang lalu, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam sebuah bar di Orlando, AS, dan membunuh lebih 50 orang. Ini adalah kasus terburuk dalam sejarah AS.

Kekerasan menelurkan kekerasan. Ketakutan akan kekerasan bahkan melahirkan lebih banyak kekerasan. Beberapa hari yang lalu, saya bercakap-cakap dengan Prof. Steven Friesen dari University of Texas. Kami membahas banyak hal, tapi satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rasa takut telah mempengaruhi banyak orang Amerika. Sebuah undang-undang telah disahkan bahwa sekarang mahasiswa dapat membawa senjata di dalam kampus dan ruang kelas. Prof. Friesen tidak bisa menemukan logika di dalamnya. Para siswa tidak diperbolehkan untuk merokok di dalam kampus, tapi mereka diizinkan untuk membawa senjata api!

Yang memprihatinkan adalah budaya kekerasan tidak jauh dari hidup kita sehari-hari. Kekerasan fisik adalah salah satu yang paling jelas, tetapi bukan satu-satunya. Kekerasan dapat mengambil bentuk intimidasi, pelecehan baik seksual dan perkataan, diskriminasi dan bahkan ketidakpedulian. Kekerasan bisa terjadi di tempat kerja kita dan rumah kita sendiri. Kita mungkin melakukan kekerasan terhadap teman-teman, anggota keluarga kita dan bahkan lingkungan kita. Bagian suramnya adalah bahwa sering, kita tidak sadar melakukan hal ini. Saat memberikan rekoleksi dan retret bagi kaum muda, saya bersyukur bisauk mendengarkan kisah-kisah pribadi mereka. Hal ini memprihatinkan bahwa beberapa dari mereka ini adalah  korban kekerasan dalam rumah tangga. Pertumbuhan intelektual dan emosional mereka terhambat, dan mereka menanggung pengalaman traumatis di sepanjang hidup mereka. Ketakutan saya adalah bahwa mereka akan mewujudkan kemarahan dan kebencian yang tersembunyi dan berubah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Kita adalah murid-murid Kristus. Ini berarti kita diutus untuk mengajarkan kedamaian. Kita mungkin bergabung dengan gerakan anti-kekerasan dalam masyarakat kita. Namun, tempat terbaik untuk mewartakan kedamaian dalam diri kita sendiri. Kita memeriksa hidup kita sendiri dan kita mungkin akan terkejut dengan tidak kekerasan yang kita lakukan setiap hari. Memberitakan perdamaian berarti kita berhenti melakukan kekerasan yang terkadang sangat halus, untuk meminta maaf, dan untuk memperbaiki keadaan. Saya harus mengakui bahwa kadang-kadang, saya melakukan kekerasan. Terlibat dalam pelayanan dan formasi kaum awam, terkadang, saya harus mendorong orang untuk melakukan yang terbaik. Namun, alih-alih membantu mereka, aku menyakiti mereka.

Memang benar memberitakan kedamaian adalah sulit. Kadang-kadang, dalam mewartakan kedamaian, kita menerima kekerasan. Kadang-kadang, kita tidak kecewa oleh hasilnya. Kadang, meskipun upaya yang terbaik, kita tetap melakukan kekerasan bahkan untuk orang-orang yang kita cintai. Namun, kita boleh menyerah. Tanpa mewartakan damai, kita akan selalu menjadi bagian dari kekerasan. Tanpa mewartakan damai, kita tidak akan pernah mencapai kedamaian dalam diri kita sendiri. Tanpa mewartakan damai, kita berhenti mengikuti Kristus di jalan salib.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,  OP

Tuntutan Kasih

Minggu Biasa ke-13/26 Juni 2016 [Lukas 9:51-62]

 “Biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk 9:60).”

following jesusMengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.

Hal Kedua adalah hasrat kita untuk keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk mencari kenyamanan dan kehidupan yang menyenangkan adalah bagian dari sifat kita, dan ini tidak lepas dari usaha kita mengumpulkan kekayaan. Mentalitas modern juga melatih kita untuk mencintai kerja dan bersaing untuk posisi tertinggi dan sukses terbesar. Ketika kita bekerja keras dan berprestasi di berbagai bidang hidup kita, seperti dalam karir, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja, ini memberi kita kepuasaan. Namun, Yesus juga menginginkan kita untuk lepaskan hal ini. Yesus secara sederhana mengatakan, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Hal ketiga adalah yang paling sulit. Ini adalah keluarga. Ketika seorang pengikut Yesus ingin menguburkan ayahnya, Yesus membuat pernyataan kuat namun simbolik, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sebagai orang Indonesia, saya memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Hampir semua peristiwa besar dalam hidup saya seperti wisuda dan kaul kekal, orang tua saya hadir dengan bangga. Meskipun, ini berarti mereka perlu terbang ke Manila dan menghabiskan banyak uang. Sama halnya juga dengan frater-frater OP Filipina, tidak terpikirkan bagi mereka untuk benar-benar melepaskan diri dari keluarga mereka. Namun, bahkan yang paling berharga ini, Yesus ingin kita sisihkan.

Sepertinya permintaan yang Yesus tidak hanya sangat sulit, tetapi juga mustahil. Mengapa harus seperti ini? Membaca Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus telah menetapkan tujuan-Nya ke Yerusalem. Dia tahu betul bahwa tidak ada apa-apa selain kegagalan dan kematian-Nya di sana. Namun, Dia tetap melakukan ini karena Dia taat pada kehendak Bapa-Nya. Apakah kehendak Bapa? Hal ini adalah tuntutan kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengajak kita untuk membenahi prioritas kasih kita secara radikal. Ketika kita mengasihi Allah, maka selebihnya akan berada di tempat yang tepat.

Ketika kita melihat Allah terlebih dahulu, kita akan mencoba sebaik mungkin untuk mengasihi orang yang membenci kita karena mereka juga diciptakan sebagai citra Allah juga. Ketika kita mencari Tuhan terlebih dahulu, harta benda, kesuksesan dan keamanan hidup dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Dan, sebagai berkat, kita dengan mudah berbagi dengan sesama. Ketika kita mengasihi Allah terlebih dahulu, kasih kita untuk keluarga kita akan dimurnikan, karena kita akan membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Seorang teman bercerita bagaimana keluarga sangat penting baginya. Tapi, semua mulai berantakan, karena adiknya terterat dalam kecanduan narkoba. Awalnya, ia tidak suka adiknya menjalani rehabilitasi dan terpisah dari keluarga untuk waktu yang lama. Tapi, setelah doa yang panjang, ia memutuskan untuk membawa adiknya untuk masuk pusat pemulihan. Ini adalah keputusan yang menyakitkan, tapi kasihnya kepada Allah telah membawa dia ke sebuah kasih yang lebih besar untuk sang adik. Sekarang, ia menjadi lebih saleh dan ia menghadiri misa setiap hari untuk pemulihan adiknya.

Untuk mengikuti Yesus adalah sulit, tetapi ini adalah bagian dari tuntutan kasih. Dan hanya kasih kita kepada Allah membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?”

Minggu Biasa ke-12. 19 Juni 2016 [Lukas 9:18-24]

quo vadisApa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?

Kristus berasal dari kata Yunani ‘Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin umat-Nya, Dia memerintahkan Nabi Samuel untuk pergi ke Betlehem ke rumah Isai dan mencari Daud. Ketika sang nabi menemukannya, ia mengurapi Daud dengan minyak suci. Roh Tuhan kemudian bergegas dan memenuhi Daud (1 Sam 16: 1-14). Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.

Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Pada awal misi pewartaan-Nya, Yesus pergi ke rumah ibadat di Nazaret dan menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.

Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?

Untuk menjawab dengan benar, kita perlu mengerti pertanyaan Yesus dengan benar. Saat, kita mengerti pertanyaan Yesus “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Apakah kita berani memberikan jawaban yang benar? St. Paulus mengingatkan siapa kita sebenarnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus;  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Gal 2: 19-20).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Para Perempuan

Minggu Biasa ke-11. 12 Juni 2016 [Lukas 7:36-8:3]

 “Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. (Luk 7:47).”

Lukas memiliki perhatiawomen disciples 2n khusus bagi peran perempuan dalam kehidupan Yesus dan Gereja. Di Injilnya, ia memastikan bahwa perempuan memiliki peran penting. Di antara keempat Injil, hanya Matius dan Lukas menulis kisah kelahiran Yesus. Sementara Matius memiliki Joseph sebagai karakter utama, Lukas memilih Maria sebagai protagonisnya. Karena Lukas, kita bisa merenungkan kisah-kisah besar seperti Maria menerima Kabar Gembira, Maria mengunjungi Elizabet. Karena Lukas juga, kita bisa ikut bernyanyi Kidung Maria atau Magnificat.

Dalam Injil hari ini, Lukas menulis beberapa perempuan dan kontribusi penting mereka. Yang pertama adalah perempuan yang tak bernama dan memohon pengampunan. Perempuan itu menjadi kontras dengan tuan rumah laki-laki, Simon orang Farisi. Sementara Simon merasa benar dan tidak membutuhkan pertobatan, perempuan itu menyadari dosa-dosanya dan meminta pengampunan Yesus. Yesus mempersembahkan sang perempuan sebagai model yang baik bagi kita, orang-orang Kristiani. Sering seperti Simon orang Farisi, kita merasa tidak membutuhkan pertobatan karena kita adalah orang-orang Gereja. Kita pergi ke Gereja secara teratur dan kita aktif di berbagai pelayanan. Kita merasa benar. Tapi, kita melupakan kebenaran dasar bahwa kita adalah orang berdosa dan membutuhkan rahmat-Nya. St Paulus mengingatkan kita, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (Rom 3: 23-24).”

Saat kita sadar bahwa kita bukanlah apa-apa tanpa kasih-Nya, dan semua yang kita miliki, adalah karunia-Nya, kita hanya bisa bersyukur dan rendah hati. Sang perempuan menunjukkan kasih yang besar kepada Yesus, karena ia menerima pengampunan. Kita akan mengasihi dan melayani Tuhan karena kita diampuni dan dikasihi. Perempuan yang bertobat mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dan rasa syukur adalah disposisi yang tepat untuk melayani Tuhan, dan bukan karena kita baik, mampu, dan berbakat.

Setelah kisah perempuan bertobat ini, Lukas juga menyebutkan beberapa perempuan: Maria Magdalena, Yohana, Susanna dan beberapa yang lainnya. Semua memiliki kesamaan. Mereka mendukung Yesus dan misi pewartaan-Nya dengan kekayaan mereka. Benar bahwa murid laki-laki, seperti Petrus, Yohanes dan Yakobus selalu menjadi sorotan, tetapi Lukas memberi kita gambaran bahwa pelayanan mereka praktis tidak mungkin tanpa dukungan dari para perempuan yang murah hati ini. Gereja kita mewarisi tradisi apostolik. Ini berarti para rasul dan penerus mereka yang adalah kaum pria mengambil pucuk kepemimpinan. Namun, kita perlu ingat tanpa kemurahan hati perempuan, Gereja yang kita cintai ini akan pincang.

Saya sendiri mengalami kemurahan hati Injili ini. Saya adalah bagian dari kelompok lektor Paroki Sto. Domingo di Metro Manila dan banyak anggotanya adalah perempuan. Saya selalu kagum dengan kemurahan hati mereka dalam membagikan waktu, tenaga dan dana bagi paroki dan pelayanan meskipun berbagai masalah dan keterbatasan yang mereka harus hadapi. Saya juga anggota dari keluarga Dominikan, dan rekan perempuan kita telah memainkan peran tak tergantikan. Sebelum Santo Dominikus de Guzman membentuk Ordo Pengkhotbah, ia terlebih dahulu mendirikan biara para biarawati Dominikan di Prouille. Salah satu alasannya adalah untuk mendukung secara rohani misi pewartaannya dan saudara-saudaranya. Sampai hari ini, para suster Dominikan berada di garis terdepan dalam mendukung para imam, frater dan awam. Tentu saja, banyak perempuan murah hati yang selalu mendukung dan mendoakan saya di perjalan panggilan ini. Secara khusus, ibu saya sendiri telah bermurah hati dalam mempersembahkan saya ke Gereja. Tanpa kemurahan hati mereka, saya akan tidak berada di tempat saya sekarang. Memang, tanpa kemurahan hati perempuan, Gereja akan tidak berada di tempat ini sekarang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan Kehidupan

Minggu Biasa ke-10. 5 Juni 2016 [Lukas 7: 11-17]

“Yesus berkata, ‘Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of Nain 2Tampaknya Alkitab mengandung banyak kematian. Hampir semua tokoh di dalam Alkitab meninggal dunia. Beberapa dari mereka beruntung karena meninggal dalam damai, seperti Abraham, Daud dan Yosua. Namun, kebanyakan mengalami kematian tragis. Abel dibunuh oleh saudaranya sendiri. Musa meninggal sebelum ia bisa masuk Tanah Perjanjian. Yakobus, rasul pertama yang menjadi martir setelah dipenggal. Dan kita tidak lupa sangat banyak individu yang tak bernama menjadi korban perang, penyakit dan bencana alam di Alkitab. Dalam Injil hari ini, seseorang meninggal dalam usia muda dan meninggalkan ibunya yang janda sendirian. Masa ini adalah masa buruk untuk tinggal dan hidup.

Kita bersyukur karena kita hidup di dunia yang lebih baik di mana ekspetasi hidup jauh lebih tinggi daripada zaman Yesus. Dengan teknologi medis modern dan praktisi medis yang terlatih dan handal, kita bisa menikmati kwantitas dan kualitas hidup yang lebih baik. Jika saja pemuda dari Nain hidup hari ini, dia tidak akan mati dalam usia muda. Namun, dengan semua kemajuan yang kita miliki, kematian tetap menjadi realitas yang tidak terhidarkan. Tak salah jika Benjamin Franklin berkata, “Di dunia ini tidak ada hal yang pasti kecuali kematian dan pajak.” Hal-hal ini dapat memdorong kita untuk berpikir bahwa Allah adalah tuhan yang tidak peduli dengan ciptaan-Nya dan mengizinkan kita untuk menderita dan akhirnya kehilangan hidup ini.

Tergerak oleh belas kasihan, Yesus menghidupkan kembali sang pemuda. Membangkitkan orang dari kematian merupakan salah satu mujizat terbesar Yesus, dan ini tidak hanya tercatat dalam Injil Lukas, tetapi dalam keempat Injil. Kisah pemuda dari Nain menyerupai kisah anak perempuan dari kepala rumah ibadat di Matius 9 dan Markus 5, dan kisah Lazarus, saudara Maria dan Marta di Yohanes 11. Namun, kita paham bahwa sang pemuda yang dihidupkan kembali akhirnya akan menemui kematian lagi. Yesus tampaknya sekedar mensiasati kematian dan memberikan harapan palsu kepada sang janda dan orang banyak yang mengharapkan kedatangan ‘nabi besar’.

Kita perlu memahami bahwa mujizat-mujizat Yesus bukanlah solusi instan untuk permasalah kita, tetapi pada dasarnya adalah pedagogis, yang berarti mujizat dirancang untuk mengajari kita nilai-nilai utama. Yesus datang untuk memperbaiki pola pikir bangsa Israel dan kita tentang Tuhan. Saat ibu janda yang berduka dan kerumunan yang lesu berjalan menuju kuburan, yang menjadi simbol keputusasaan, Yesus menghentikan mereka dan menunjuk ke arah yang berbeda. Mereka tidak dapat menemukan Allah di antara orang mati, karena Dia bukan Tuhan orang mati, melainkan orang hidup (Mrk 12:27). Tak dapat disangkal, kita semua akan menghadapi kematian, tetapi hidup bukanlah tentang kematian, tapi tentang hidup, dan bagaimana kita menghidupi hidup sepenuhnya.

Ya, kita mati setiap hari karena dosa-dosa kita, kegagalan, dan permasalahan. Seperti orang-orang yang menyertai sang janda, kita berjalan menuju kuburan keputusasaan. Kita remuk oleh beratnya masalah keuangan. Kita luluh karena beban kerja yang berat. Kita tertekan oleh kesulitan dalam keluarga. Kita lupa untuk hidup secara penuh karena kita memusatkan perhatian kita pada kematian. Tapi, kita tidak boleh putus asa karena Allah kita bukanlah Allah kematian namun kehidupan, dan Putra-Nya datang untuk membawa kita sekali lagi kepada hidup. “Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memiliki lebih berlimpah (Yoh 10:10).”

Bersama dengan St. Paulus, kita akan berani mengatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. (2 Kor 4: 8-10).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Trinitas, Misteri Kasih

Hari Raya Tritunggal Mahakudus. 22 Mei 2016 [Yohanes 16:12-15]

“Roh itu datang, yaitu Dia yang menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbing-Nya untuk mengenal seluruh kebenaran. (Yoh 16:13).”

Holy Trinity 1Misteri Tritunggal Mahakudus adalah ajaran yang paling mendasar tetapi juga yang paling sulit untuk dimengerti. Pemikir-pemikir besar Gereja, seperti Santo Agustinus dari Hippo, St. Thomas Aquinas dan Karl Rahner telah berusaha untuk memahami misteri ini, tetapi penjelasan mereka menabrak dinding raksasa. Suatu hari, ketika St. Agustinus sedang berjalan di sepanjang pantai, bermeditasi tentang misteri Tritunggal Mahakudus, uskup yang kudus ini melihat seorang anak kecil menggali lubang di pasir. Dia datang mendekat dan melihat bahwa anak itu mencoba untuk memindahkan air laut ke dalam lubang kecil. St Agustinus kemudian mengatakan kepada anak itu bahwa apa yang ia lakukan adalah sia-sia. Tiba-tiba anak kecil itu menjawab, ‘Sama halnya dengan apa yang kamu lakukan, ketika kamu mencoba mengerti Tritunggal di dalam kepalamu yang kecil.’

Namun, kita tidak boleh putus asa. Untuk mendapatkan gambaran yang sedikit lebih jelas tentang Tritunggal, kita mencoba melihat bahwa misteri Tritunggal sebagai misteri Kasih. Kata ‘Misteri’ berarti sesuatu yang kita tidak dapat sepenuhnya pahami, namun kita tahu bahwa kenyataan ini begitu benar dan tak terbantahkan. Kasih adalah misteri karena seringkali kita tidak bisa benar-benar memahami kasih, tapi kita yakin bahwa kasih itu nyata dan tak terbantahkan. Sebagai orang tua, kita mengasihi anak-anak kita, kita merawat mereka, dan menginginkan hal-hal yang terbaik bagi mereka, namun seringkali kita tidak mengerti mengapa mereka tidak menghargai kita, dan sering menjadi sulit untuk dikasihi. Seorang pemuda yang jatuh cinta dengan seorang gadis, seringkali kesulitan untuk mendapatkan hatinya, tapi dia tahu bahwa kasih dan cintanya bagi sang gadis itu benar adanya. Bahkan, bagi pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun, kadang-kadang, mereka masih menghadapi jalan berbatu dan gagal untuk memahami satu sama lain, tetapi lagi-lagi, mereka tidak pernah meragukan kasih mereka satu sama lain.

Trinitas adalah kasih. Uskup Robert Baron dari Los Angeles, menjelaskan bahwa kasih sejati selalu melibatkan yang mengasihi, yang menerima kasih, dan kasih itu sendiri yang menyatukan mereka berdua. Di dalam kasih, ada dinamis yang indah dari tiga kasih. Kasih adalah salah satu, namun juga adalah tiga. Di dalam Trinitas, Allah Bapa mengasihi Allah Putra dengan total, dan Allah Putra mengasihi Allah Bapa secara radikal, dan kasih yang menyatukan Allah Bapa dan Putra adalah Allah Roh Kudus. Tidak heran, St. Yohanes menulis bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:6). Kasih sejati bukan tentang teori, tapi transformasi kehidupan. Kita bisa membahas tentang Tritunggal selama berjam-jam, namun percuma jika kita gagal untuk membantu pengemis menderita kelaparan yang sangat membutuhkan makanan. St. Thomas Aquinas telah menulis tentang Allah dengan sangat baik. Tulisannya tentang Tritunggal tetap menjadi pedoman bagi siswa teologi yang berusaha untuk memahami lebih baik misteri ini. Pada akhir hidupnya, Tuhan di kayu salib menampakkan diri kepada Thomas dan bertanya apa yang ia harapkan sebagai imbalan atas kerja kerasnya. St. Thomas dengan rendah hati menjawab, ‘Hanya Engkau Tuhan, hanya Engkau.’ Bagi Thomas, semua apa yang ia tulis seperti jerami dibandingkan dengan Kasih ia secara pribadi temui.

Sungguh, Tritunggal Mahakudus adalah misteri yang tidak terselami, tetapi setiap kali kita peduli terhadap sesama, membantu teman-teman kita, mengampuni musuh-musuh kita dan mengasihi secara total, Trinitas menjadi nyata dan menampakan diri dalam diri kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Koneksi

Hari Raya Pentakosta. 15 Mei 2016 [Yohanes 14: 15-16,23-25]

“Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah Para Rasul 2: 4).”

pentecostPertama kalinya saya menghadiri pertemuan doa Karismatik Katolik adalah sekitar 10 tahun yang lalu di Singapura. Pertemuan ini ditandai dengan musik yang upbeat dan doa yang intensif. Di tengah ibadat dan disaat doa-doa semakin intens, tiba-tiba saya menyaksikan beberapa peserta mulai mengalami sesuatu yang tidak biasa dan mengucapkan kata-kata tidak jelas. Awalnya, saya tercengang, tapi saya segera menyadari bahwa mereka sedang berbicara dalam bahasa roh. Phenomena ini merujuk pada seseorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan mulai bernubuat sesuai kehendak Roh. Fenomena ini sudah ada sejak Gereja berdiri. St. Paulus sendiri menulis “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. (1 Kor 14: 2)”

Awalnya, saya berpikir bahwa fenomena bahasa Roh ini adalah apa yang terjadi pada hari Pentakosta pertama. Ketika Bunda Maria dan para murid berkumpul di hari ke-lima puluh setelah kebangkitan Yesus dan Roh Kudus turun atas mereka dan memenuhi mereka dengan kuasa-Nya. Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun, saya salah, mereka tidak berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus menganugerahkan karunia yang berbeda. Ini adalah karunia bahasa pengertian dan pemahaman. Para Rasul tidak berbicara bahasa yang aneh tapi diberdayakan untuk mengkomunikasikan dengan jelas Injil Yesus Kristus. Umat dari berbagai daerah seperti Suriah, Asia Kecil (Turki), Semenanjung Arab, Afrika Utara, bahkan Eropa, tentu berbicara dalam banyak bahasa, tapi mereka mampu memahami para rasul yang sebenarnya orang asli Palestina. Roh memampukan mereka untuk membangun koneksi.

Pentakosta dan karunia bahasa berbicara realitas yang lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia adalah Roh yang menyatukan kita. Dia menyembuhkan perpecahan dan kecenderungan kita untuk menjadi egois. Dalam Pentakosta, Roh menghapus kutukan Menara Babel dalam Buku Kejadian 11. Ini adalah kisah simbolis tentang keinginan egosentris manusia untuk mengalahkan Tuhan, untuk menjadi setara dengan Allah, dengan membangun sebuah menara super tinggi yang dapat mencapai Tuhan dengan upaya mereka sendiri. Namun, ambisi manusia dan keserakahan akan kekuasaan membawa perpecahan dan keruntuhan bagi umat manusia. Mungkin, salah satu pencitraan modern dari Menara Babel adalah TV series yang paling diantisipasi Game of Thrones. Seri ini dengan cerdas menceritakan bagaimana nafsu manusia untuk menjadi raja di Tahta Besi membuai berbagai karakter dalam seri tersebut untuk menggunakan berbagai trik licik dan kotor untuk menghancurkan saingan mereka. Tujuh Kerajaan, sebelumnya bersatu, terbagi, jatuh dan mereka pun saling menghancurkan.

John Maxwell dalam bukunya, Everyone Communicates, Few Connects, berpendapat bahwa kepemimpinan sejati hanya mungkin jika sang pemimpin memiliki kemampuan sang untuk membangun koneksi dengan orang lain. Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah juga mengatakan, “Jika Anda ingin memenangkan seseorang untuk tujuan Anda, meyakinkanlah dia bahwa Anda adalah temannya yang tulus.” Namun, fondasi dari kemampuan membangun koneksi adalah kita mau menjadikan orang lain sebagai tujuan kita dan bukan diri kita sendiri. Ini berarti menyisihkan ambisi kosong dan hasrat kita untuk mendapatkan semua hal bagi diri kita sendiri dan kita membuat orang lain, kekhawatiran mereka, perjuangan mereka menjadi bagian dari hidup kita. Ini adalah karya Roh Kudus: menyembuhkan, mempersatukan dan memberdayakan kita.

Roh Kudus datang agar kita sekali lagi mampu membangun koneksi dengan Tuhan dan satu sama lain, koneksi yang rusak oleh dosa Adam dan Menara Babel. Memang benar bahwa tidak selalu kita mengalami bahasa roh atau perasaan ‘high’ seperti yang dialami pada pertemuan doa karismatik, tetapi ini tidak berarti Roh Kudus tidak berkerja. Bahkan, kebanyakan, Dia bekerja dalam keheningan dan cara-cara yang sederhana. Dia bekerja ketika kita menjadi lebih tekun dan tabah dalam penderitaan hidup. Dia bekerja ketika kita lebih sabar mengasihi mereka yang sering memberi kita masalah. Dia memberi kita kegembiraan sederhana dalam realisasi-realisasi kecil dari berbagai berkat yang kita terima saat ini. Saya percaya saat anda membaca refleksi ini dan menemukan makna, ini adalah pekerjaan-Nya di dalam kita.

Saat kita merayakan Pentakosta, kita berdoa agar kita dapat terus membuka diri kepada kasih karunia Roh Kudus dan mengijinkan Dia untuk membuat hidup kita berbuah.

  Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Berkat

Pesta Kenaikan Tuhan Yesus. 5 Mei 2016 [Lukas 24: 46-53]

“Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Luk 24:51).”

ascension n cross

Cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan adalah dengan memberkati. Setiap kali saya berangkat ke Filipina dan melanjutkan formasi, orang tua saya akan memeluk dan memberkati saya dengan menandai dahi dengan tanda salib kecil. Rekan-rekan Filipina memiliki tradisi ‘Mano Po’ di awal dan akhir perjumpaan dengan orang-orang yang dituakan. Mereka akan memegang tangan orang tua mereka, dan menempatkannya di dahi mereka. Hal ini, saya percaya, adalah sebuah tanda dari berkat dan hormat. Setiap kali seorang frater Dominikan di Manila akan ditahbiskan, malam sebelumnya ia akan menerima berkat dari komunitas dan ia akan berlutut dan semua frater dan romo berdoa bersama dan memberkati dia. Pada akhirnya, setiap perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat dan perutusan.

Namun, apa arti dari memberkati? Dalam bahasa Latin, memberkati adalah ‘benedicere’. Kata ini berasal dari dua kata Latin lainnya: ‘bene’ (baik) dan ‘dicere’ (mengucapkan). Dengan demikian, untuk memberkati adalah untuk mengucapkan kata yang baik. Karena kata cenderung menjadi daging, kita berharap bahwa kata-kata baik yang kita ucapkan pada giliran akan menjadi kenyataan juga. Jika kita teliti dengan seksama kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1, kita melihat Allah melakukan tiga tindakan terhadap ciptaan-Nya: menciptakan, melihat kebaikan dan memberkati. Ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah memastikan bahwa ciptaan-Nya adalah baik dan karena kebaikan ini, Iapun memberkati mereka. Memberkati tidak hanya tindakan manusia, tetapi juga ilahi. Memberkati tidak hanya mengucapkan yang baik, tetapi juga menemukan hal yang baik. Memberkati ini tidak hanya bersabda dengan kata-kata yang baik dan bagus, tetapi berharap hal-hal baik ini menjadi kenyataan.

Seperti Bapa telah memberkati ciptaan-Nya sebelum Ia beristirahat di hari ketujuh, sang Putra juga memberkati para murid yang dikasihi-Nya sebelum Ia naik ke surga. Ketika Tuhan memberkati Adam dan Hawa, Ia mengatakan, “Jadilah subur dan bertambah banyaklah! (Kej 1:28 – terjemahan sendiri)” Berkat Tuhan mengartikulasikan, menegaskan dan meremajakan kebaikan dalam diri kita. Karena kebaikan kita ditegaskan kembali, berkat memberdayakan pria dan wanita untuk berbuah, bahagia dan bermurah hati dengan sesama. Berkat Tuhan mengubah kita menjadi berkat juga bagi sesama.

Untuk memberkati adalah panggilan kita sebagai murid-murid Kristus. Catherine Marie Hilkert, OP pernah berkata bahwa ‘pewartaan’ adalah mengartikulasikan rahmat, maka tidak salah jika pewartaan dimengerti sebagai mengartikulasikan kebaikan. Sayangnya, bukannya berkat, kita memilih untuk mengutuk. Dalam bahasa Latin, mengutuk adalah ‘maledicere’, untuk berbicara buruk. Sama seperti berkat, kata-kata buruk cenderung menjadi daging. Keluarga rusak karena kita lupa untuk mengatakan berkat, dan fokus pada saling menyalahkan. Intoleransi, kekerasan dan bahkan terorisme berlatar belakang agama mulai di mimbar suci. Sayangnya, di saat pemilu, dari Amerika Serikat sampai ke Indonesia dan Filipina, para politisi yang mengejar posisi saling mengumpat, saling tuduh, dan mempekerjakan trik jahat. Seolah-olah kehilangan akal sehat, para pemilih berubah menjadi pendukung fanatik dan emotional, rela melakukan apa saja untuk calon yang mereka kagumi.

Dunia kita telah rusak dan cacat akibat kutukan yang kita ucapkan. Adam dan Hawa mengatakan tidak kepada Allah dan menyalahkan satu sama lain. Sebagai keturunan mereka, kita meneruskan kutukan yang menghancurkan ini. Kita sangat membutuhkan berkat untuk membatalkan lingkaran setan ini. Kemudian, Yesus datang dan memeluk segala kutuk di salib-Nya dan membuat kita berbuah lagi dalam kebangkitan-Nya. Sekarang, Ia naik ke surga dan sebelum Dia pergi, Dia memastikan bahwa berkat-Nya tetap tinggal. Kenaikan-Nya mengingatkan kita bahwa kita memiliki misi untuk mengartikulasikan kebaikan dan membiarkan diri kita menjadi berkat bagi sesama. Hanya dengan menjadi berkat, kita dapat menyembuhkan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan dunia ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Menjadi Kasih Allah

Minggu Paskah Keenam. 1 Mei 2016 [Yohanes 14: 23-29]

“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

keep calm jesus loves youSuatu hari, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu personel keamanan di biara kami Santo Domingo. Saya bertanya jika dia melihat Tuhan saat ini, pertanyaan apa yang akan ia berikan kepada Allah? Pertanyaan di luar dugaan saya. Dalam bahasa Tagalog, ia akan mengatakan, ‘Panginoon, Mahal mo ba ako?’ [Tuhan, apakah Engkau mengasihi aku?] Terkejut dengan pertanyaannya, saya bertanya lebih lanjut, ‘Mengapa pertanyaan itu?’ Dia menjawab, ‘Frater, saya orang miskin dan hidup dengan banyak permasalahan. Kadang-kadang, saya tidak merasakan kehadiran dan cinta-Nya.’ Saya menyadari bahwa pertanyaannya adalah valid dan juga pertanyaan dari banyak orang.

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?’

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Di akhir pembicaraan saya dengan sang satpam, saya memberikan dia sebungkus makanan yang saya bawa dari mal. Setelah menerima makanan, dia berkata kepada saya, ‘Bolehkah saya berbagi makanan ini dengan beberapa anak-anak miskin di luar Gereja?’ Tindakannya membuat saya terkejut tapi sangat menyejukan hati. Menjadi seorang satuan pengamanan di Metro Manila, adalah pekerjaan yang berbahaya dengan penghasilan kecil, ditambah lagi begitu banyak masalah yang ia harus hadapi, namun kemiskinannya tidak mencegah dia untuk berbagi berkat sederhana yang ia memiliki, kasih yang ia terima. Memang, dia mempertanyakan kasih Allah, tetapi ia sendiri tidak pernah berhenti mengasihi orang lain. Pria sederhana ini telah menjadi perwujudan kasih Allah bagi sesama. Kasih Allah mengubah perlahan-lahan sesuai dengan citra-Nya, dan tanpa kita sadari, kita juga telah menjadi perwujudan dari kasih-Nya kepada sesama.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP