Sebuah Perintah Baru: Kasih

Minggu Paskah Kelima. 24 April 2016 [Yohanes 13: 31-33a, 34-35]

 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34).”

god-is-loveAllah memberikan Hukum-Nya yang pertama di Gunung Sinai. Dengan Musa dan bangsa Israel, Dia membuat perjanjian bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Dan agar bisa hidup sebagai Jemaat yang kudus, Allah memberi mereka hukum dan perintah. Hukum ini terkenal sebagai Sepuluh Perintah Allah (Kel 19-20). Kemudian, beberapa abad setelah Musa, di kota tua Yerusalem, Allah memberikan perintah baru-Nya. Kali ini, Hukum-Nya lebih sederhana namun jauh lebih radikal. Yesus memberikan kepada para murid-Nya perintah teragung: saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi mereka.

Yohanes disebut sebagai murid yang terkasih. Mungkin, ini karena ia dikasihi oleh Yesus dengan mendalam, tapi saya percaya, hal ini juga karena di antara para murid, Yohanes lah yang paling bergulat untuk memahami kasih Yesus baginya dan bagi kita semua. Kasih Yesus sangat mencengangkan. Dalam budaya Isreal yang berasaskan gigi ganti gigi, mengampuni musuh tidaklah terpikirkan, tapi Yesus meminta murid-Nya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh, untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh mereka! Ketika masyarakat Israel membenci orang-orang berdosa, pemungut pajak, dan pelanggar hukum Taurat, Yesus menyambut mereka. Namun, Ia sendiri menuntut dari mereka untuk bertobat dan menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna. Ketika Dia ditinggalkan sendirian, disiksa dan disalibkan, Ia memanifestasikan kasih terbesar-Nya saat Dia mengampuni kita semua. Ini tidak berhenti di situ. Yesus yang bangkit dan memperbaharui kasih-Nya bagi para murid-Nya yang rapuh dan gagal mengasihi-Nya. Yohanes kemudian menyimpulkan di dalam suratnya, sungguh Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dia tidak hanya penuh kasih, penuh pengampunan dan kemurahan hati tapi Ia adalah kasih itu sendiri.

Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta, meskipun Dia sempurna dan mandiri? Karena kasih sejati itu berarti berbagi. Mengapa Allah terus menjaga dan memelihara ciptaan-Nya? Karena kasih berarti peduli. Mengapa Allah membuat kita manusia menurut citra-Nya? Karena kasih melahirkan kasih yang lain. Mengapa Allah memberi kita kebebasan meskipun kita cenderung menyalahgunakan kebebasan ini? Karena kasih tidaklah nyata kecuali ada kebebasan.

Mengasihi sungguh sulit dan penuh pengorbanan. Orang tua berjuang untuk memahami dan peduli dengan anak remaja mereka yang terlibat dalam kecanduan narkoba. Seorang istri berjuang mempertahankan pernikahannya yang mulai runtuh karena suaminya yang tidak setia. Seorang imam paroki berusaha untuk mendidik jemaatnya dalam iman meskipun begitu banyak kritik dan kesalahpahaman yang harus ia hadapi. Film Of Gods and Of Man adalah kisah nyata dari komunitas rahib Trappist di Aljazair, dan mereka akhirnya diculik dan dibunuh pada 1996 oleh teroris. Dalam satu pertemuan, mereka berdebat apakah akan meninggalkan biara dan penduduk desa Muslim yang mereka layani, atau tetap bertahan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu  rahib muda berkata kepada Prior, “Saya tidak menjadi seorang rahib untuk mati.” Dan sang Prior menjawab kembali, “Tapi kamu telah memberikan kehidupan kamu saat masuk biara.” Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal dan terus mengasihi sampai akhir.

Suatu kali, saya menghadapi krisis yang mendalam tentang panggilan saya. Jujur, saya bingung: baik menjadi awam maupun imam adalah panggilan suci dan bermartabat. Kemudian, formator saya akan memberikan nasihat berharga: “Bayu, pilihlah jalan yang menuntunmu pada penderitaan dan pengorbanan yang lebih besar, karena disana kamu akan mengasihi lebih besar.” Sungguh, mengasihi adalah sulit, tetapi hanya melalui kasih, kita bisa menjadi Murid Kristus, dan mencerminkan citra-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Gembala yang Baik

Minggu Paskah Keempat. 17 April 2016 [Yohanes 10: 27-30]

“Domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh 10:27).”

pope francis crossSalah satu citra terindah Yesus adalah Gembala yang Baik. Citra ini bahkan lebih indah ketika kita mencoba untuk melihat situasi Palestina pada zaman Yesus. Hidup sebagai seorang gembala adalah sulit dan melelahkan. Rumput terbatas dan domba akan terus berkelana. Karena tidak ada pagar pembantas, gembala akan memantau domba-dombanya sepanjang waktu, jika tidak, domba akan hilang. Medan di Yudea kasar dan berbatu, dan ini memaksa gembala mengerahkan energi ekstra. Selain itu, tugas gembala juga berbahaya. Hewan liar, terutama serigala, siap untuk menyerang dan melahap domba. Tidak hanya predator liar, perampok dan pencuri juga ingin membajak domba-dombanya.

Domba di Yudea diternakan terutama untuk wol. Jadi, gembala bisa hidup bersama dengan domba-dombanya untuk bertahun-tahun. Tak heran jika ia tahu baik setiap domba, karakter, dan bahkan fitur fisik mereka yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti si ‘kaki kecil’ atau si ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba menjadi begitu akrab dengan suara gembala. H.V. Morton, seorang sarjana Alkitab,  menceritakan pertemuannya dengan dua gembala yang berbagi gua yang sama untuk melindungi ternak mereka di malam hari. Bagaimana mereka akan memisahkan domba mereka? Di pagi hari, satu gembala berdiri beberapa meter dari gua dan dengan hanya menyuarakan suaranya yang khas, domba-dombanya segera berlari ke arahnya. Sementara domba milik gembala lainnya tetap di gua!

Gembala yang baik adalah simbol dari dedikasi, pengorbanan, dan kasih sejati. Tak heran jika bangsa Israel melihat Tuhan sebagai gembala mereka. Mazmur 23 adalah salah satu puisi terindah di Alkitab, menggambarkan Allah sebagai Gembala yang Baik. Ingat bahwa beberapa pemimpin besar Israel sejatinya adalah gembala. Musa sedang mengembalakan ternak ayah mertuanya saat dia dipanggil oleh Allah dalam semak yang terbakar (Kel 3). David juga sedang mengurus domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia menjadi raja (1 Sam 16).

Yesus memahami hal ini dan Dia mengambil identitas ini pada dirinya sendiri. Tidak hanya gembala biasa, Dia adalah Gembala yang Baik. Dia mengenal kita sebagai pribadi unik dan berharga. Dia merawat kita, dan mencari kita jika kita tersesat. Ia melindungi kita dari berbagai bahaya. Bahkan Dia bersedia menyerahkan nyawa-Nya hanya untuk menyelamatkan kita.

Sekarang, kita bukanlah domba biasa. Kita adalah manusia, dengan kecerdasan dan kehendak bebas. Maka, untuk menjadi domba Kristus, kita perlu menjadi sesuatu yang lebih. Ini berarti bahwa kita juga dipanggil untuk menjadi gembala yang baik. Seorang imam adalah gembala yang baik untuk umatnya. Seorang suami atau istri adalah gembala yang baik bagi pasangannya. Orang tua adalah gembala yang baik bagi anak-anak mereka. Fr. Gerard Timoner, OP, provinsi kita, pernah mengingatkan kita bahwa ‘saudara-penggembalaan-saudara’ harus semangat kita formasi kita.

Menjadi seorang gembala yang baik tidak pernah mudah. Seperti Kristus, kita akan memberikan diri kita secara total kepada orang lain. Tapi, hanya dalam  pemberian total, hidup kita menemukan maknanya. John Maxwell, guru kepemimpinan, pernah berkata bahwa keberhasilan manusia tidak berdasarkan berapa banyak orang melayaninya, tapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Sementara, Zig Ziglar, pembicara inspirasional besar Amerika, mengingatkan kita bahwa kita bisa mendapatkan segala sesuatu kita inginkan di dalam hidup jika kita cukup membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada dasarnya, kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Gembala Baik, kita adalah citra Gembala yang Baik. Maka, tujuan dan misi dalam hidup kita addalah menjadi gembala yang baik dan merawat domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Minggu Paskah ketiga. Yohanes 21:1-19 [8 April 2016]

jesus n peter 2aMembaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, ‘Friend in need is friend indeed.’

Yesus bertanya, “Petrus, apakah kamu mengasihiku secara radikal dan total?” Namun, Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau sebagai sahabat.” Yesus menuntut kasih yang radikal atau ‘agepe’ tiga kali, dan tiga kali juga, Petrus hanya bisa memberikan Yesus kasih persahabatan atau ‘philia’. Hal ini tampaknya sebuah penyangkalan Petrus terhadap Yesus. Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI dengan rendah hati membela Petrus bahwa pada saat itu, ‘phileo’ adalah terbaik yang dapat Petrus berikan.

Dialog kasih antara Yesus dan Petrus juga adalah dialog kita dengan Tuhan. Yesus menuntut kita kasih yang radikal dan tanpa pamrih. Tapi, mengasihi itu sungguh sulit. Seorang teman bercerita bagaimana ia memiliki keinginan untuk melayani di Gereja, namun ia adalah tulang punggung keluarga dan harus bekerja 12 jam sehari, termasuk akhir pekan. Bagimana kita bisa mengasihi Allah, ketika hidup kita berantakan? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan, ketika pernikahan kita luluh lantah, ketika anak kita masuk rehabilitasi karena kecanduan atau penjara karena kenakalan remaja mereka? Bagaimana kita bisa menkasihi ketika pekerjaan atau bisnis kita berantakan, dan teman-teman kita yang meninggalkan kita sendirian? Bagaimana kita bisa menkasihi Tuhan jika kita dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita kasihi begitu banyak? Saat gagal mengasihi dan dikasihi, kita berhenti mengasihi dan terkunci dalam isolasi sempit buatan kita sendiri.

Namun, ketika Petrus gagal memenuhi harapan Yesus, Yesus tidak marah. Dia tidak pernah mengatakan, “Kamu adalah sebuah kegagalan dan kesalahan.” Sebaliknya, Dia bahkan memberi Petrus tanggung jawab yang lebih besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu benar betapa sulitnya untuk mengasihi. Dia sendiri harus mati di salib hanya untuk membuktikan kasih-Nya bagi kita. Namun, Dia tidak melihat ini sebagai kegagalan. Dia yang telah memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, tahu persis potensi kita untuk mengasihi. Petrus pun yang terus bergulat untuk mengasihi Yesus, akhirnya membuktikan kasihnya kepada Yesus dengan setia mengembalakan domba-domba-Nya sampai akhir hayatnya. Petrus pun disalibkan karena ia menolak untuk meninggalkan umat Kristiani di Roma.

Ketika kita gagal untuk mengasihi Allah, Dia tidak meninggalkan kita, dan pada kenyataannya, Dia memberi kita lebih banyak misi untuk menkasihi. Mengapa? Karena Yesus tahu persis bahwa hanya melalui kesulitan ini, kita dapat memperluas kemampuan kita untuk menkasihi. Kasih tanpa cobaan dan kesengsaraan adalah kasih dangkal dan lemah. St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Jadi, ketika kita berjuang untuk menkasihi di dalam kehidupan, kita akan ingat bahwa bukan kita yang menkasihi, tapi Allah sendiri di dalam kita.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Luka-Luka Yesus

Minggu Paskah Kedua – Minggu Kerahiman Ilahi. 3 April 2016 [Yohanes 20:19-31]

 “Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya(Yoh 20:25).”

wounds of jesusDi dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Thomas mencari luka-luka Yesus karena ia bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dengan luka-luka yang diterima Yesus di salib. Thomas sebenarnya sedang mencari dirinya sendirinya dan tidak hanya Yesus. Jauh di dalam jiwanya, Thomas mengakui bahwa ia adalah luka-luka Kristus. Thomas yang pernah berkata, “Marilah kita pergi untuk mati bersama-Nya (Yoh 11:16)!”, tapi ia akhirnya melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali. Yudas menjual-Nya dengan harga seorang budak. Selebihnya meninggalkan-Nya ke tangan para pembunuh-Nya. Kisah-kisah para murid adalah kisah kegagalan, kelemahan dan pengkhianatan. Mereka telah menyalibkan Yesus. Mereka adalah luka-luka Kristus.

Kita juga adalah luka-luka Kristus. Kita adalah kisah kegagalan, keegoisan dan ketidaksetiaan. Kita mungkin telah mengkhianati teman-teman kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita mungkin telah melakukan kekerasan bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai. Kita mungkin telah berbohong untuk melindungi reputasi baik kita dan menutupi kesalahan kita. Dalam bukunya, Blood and Earth, Kevin Bales menulis tentang bagaimana hasrat kita untuk barang-barang yang lebih murah mendorong perbudakan manusia modern di negara-negara dunia ketiga. Siapa tahu bahwa telepon selular yang kita gunakan untuk membaca refleksi ini, sebenarnya, adalah hasil kerja dari orang-orang yang bekerja di kondisi yang tidak manusiawi di Afrika dan Asia. Dan siapa tahu pola konsumsi makanan kita sebenarnya telah merusak jutaan hektar tanah dan menyakiti sang bumi.

Sama seperti para murid, kita lemah, tak berdaya dan terluka. Kita telah menyalibkan Yesus dan kita menyadari luka-luka Yesus adalah diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa pesan dari Paskah. Ya, kita adalah luka-luka, tapi kita adalah luka-luka Kristus yang bangkit. Ya, kita lemah, rapuh dan berdosa, tapi kita tidak kehilangan harapan karena kita tidak menanggung luka-luka ini sendirian. Yesus menanggung kita, dan semua ketidaksempurnaan kita, dan mengubah hal-hali ini di dalam kebangkitan-Nya. Pada Januari 2015, Paus Fransiskus mengunjungi kota Tacloban, Filipina yang luluh lantah oleh topan Yolanda, dan dia sangat sedih dengan kehancuran ia lihat dan akan ribuan hidup yang telah hilang di kejadian ini. Di hadapan kehancuran total ini, Paus Fransiskus menunjukkan tangannya kepada Tuhan di salib, dan berkata kepada para penduduk Tacloban,

 “Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tetapi Tuhan tahu harus berkata apa bagimu. Beberapa dari kalian telah kehilangan bagian dari keluarga kalian. Yang bisa saya lakukan adalah berdiam diri dan berjalan dengan kalian semua dengan hati saya yang diam. Banyak dari kalian telah bertanya kepada Tuhan – mengapa Tuhan? Dan kepada setiap dari kita, Kristus menjawab dengan hati-Nya dari salib. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kalian. Mari kita lihat kepada Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia mengerti kita karena ia menjalani semua cobaan dan penderitaan yang telah kita alami.”

Thomas hanya terfokus pada luka, tetapi ketika ia mulai menyentuh Yesus dan melihat Tuhan yang Bangkit, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita menjadi seorang Kristiani bukan untuk melarikan diri dari penderitaan dunia ini atau juga menjadi putus asa, tapi untuk menghadapi cobaan hidup dengan penuh harapan karena walaupun kita lemah, rapuh dan berdosa, Yesus yang telah mengalami yang terburuk dari dunia ini, tapi akhirnya bangkit dan membawa kita bersama-sama didalam tubuh-Nya yang mulia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Melihat Makam yang Kosong

Minggu Paskah. 27 Maret 2016 [Yohanes 20:1-9]

“Maka masuklah juga murid yang dikasihi Yesus, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya (Yoh 20:8).”

 Apa yang Kamu lihat dalam kubur yang kosong? Melihat kubur yang kosong, Maria Magdalena  ketakutan, sedih dan bingung. Dimana Yesus? Apakah Dia dipindah ke makam lainnya? Apakah seseorang mencuri tubuh-Nya? Petrus, pemimpin para rasul, tidak mengerti kenapa kubur menjadi kosong dan pulang kebingungan. Semua hal-hal yang terjadi di sekitar mereka sungguh sangat menyedihkan. Yesus dikhianati, ditolak, disiksa, disalib dan sekarang dia hilang!

Dulu Ia adalah seorang pengkhotbah karismatik, tapi kemudian, Ia mati. Dulu Ia adalah seorang pemimpin inspirasional, tapi kemudian Ia dikubur. Dulu Dia disambut sebagai raja dan Mesias, namun kemudian Dia disalibkan oleh orang-orang yang menyambut Dia. Bahkan makam di mana tubuhnya terbaring, tidak luput dari kekejaman ini. Semua harapan hancur, semua mimpi pudar, dan semuanya hanya kekosongan dan kegelapan, seperti kubur yang kosong.

Ketika semuanya tampak begitu tidak masuk akal dan putus asa, satu satu murid tidak menyerah. Ia adalah murid yang mengasihi Yesus dan dikasihi Yesus. Sungguh, kasih menjadi titik nadir perubahan. Hanya mata kasih yang dapat menembus kubur yang kosong dan paling gelap dan melihat makna di dalamnya. Bagi mereka yang mengasihi, Yesus tidak hilang, dan bahkan tidak mati. Ia hidup, hadir dan penuh bersemangat. Paskah adalah sebuah perayaan akan iman kita yang mengusir kehampaan makna, akan harapan yang menang atas keputusasaan. Dan semua ini, hanya mungkin bila ada kasih yang mengalahkan segalanya. Seperti St. Paulus yang berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13). “

Paskah adalah waktu bagi kita untuk belajar untuk melihat dengan mata sang rasul yang mengasihi Yesus, untuk melihat melalui mata kasih. Sebagai sang rasul melihat Tuhan yang bangkit di kubur yang kosong, kita akan melihat Kristus yang bangkit di dalam kekosongan hidup ini. Dengan mata kasih, seorang ibu tidak akan melihat bayi di dalam rahimnya hanya sebagai penyusup atau beban berat, tapi sebuah hidup yang memegang masa depan yang cerah. Dengan mata kasih, seorang istri tidak akan melihat suaminya yang tua, sakit-sakitan dan penuh dengan ketidaksempurnaan sebagai sebuah kesalahan, tapi sebuah jiwa pemberani yang telah mendedikasikan hidupnya bagi dia.

Pada tahun 2006, setelah presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, memenangkan pemilu, dia mengadakan operasi Murambatsvina, ‘pembersihan sampah.’ Ia memerintahkan pembongkaran rumah-rumah mereka yang menolak untuk memilih dia selama pemilu. Lebih dari 700.000 orang menyaksikan rumah mereka dibuldoser. Mereka menjadi pengungsi di tanah air mereka sendiri dan harus memulai hidup mereka lagi dari puing-puing reruntuhan. Di tengah-tengah kehancuran ini, ada sebuah tenda plastik kecil, bernama ‘the Young Generation Pre-School.’ Ini adalah rumah bagi seorang wanita muda bernama Evelyn, dan dia menggunakan tenda ini sebagai sekolah. Ada sekitar belasan murid-muridnya di bawah usia delapan tahun, hampir semua mengidap HIV-positif dan TB. Kadang-kadang ada makanan untuk makan, tetapi biasanya, tidak ada. Namun, Evelyn tidak pernah menyerah mengurus anak-anak ini dan bahkan anak-anak menyanyikan lagu-lagu menyambut gembira setiap kali ada tamu yang mengunjungi mereka. Romo Timothy Radcliffe, OP pernah mengunjungi dan melihat kondisinya, ia bertanya mengapa dia melakukan itu. Dia hanya punya satu alasan sederhana bahwa dia menkasihi anak-anak begitu banyak dan memang menemukan makna dan sukacita dalam apa yang dia lakukan.

Paskah adalah waktu ketika Yesus bangkit, mengalahkan kematian, memperbaharui kemanusiaan kita rusak dan dunia yang remuk. Dan semua ini berawal di kubur yang kosong. Sekarang pertanyaan adalah: Apa yang Kamu lihat di kubur yang kosong?

 Selamat Hari Paskah!

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP

Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, “Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9).” Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)” Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Sang Perempuan

Minggu Prapaskah Kelima. 13 Maret 2016 [Yohanes 8: 1-11]

“Jawab sang perempuan, ‘Tidak ada, Tuhan.’”

jesus and woman caught in adultery 5Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.

Injil kita hari ini jarang dilihat sebagai kisah seorang perempuan yang dieksploitasi oleh beberapa kelompok laki-laki Yahudi yang adalah pemuka agama, tapi hal ini benar-benar terjadi. Kitab Imamat telah mengatur bahwa baik laki-laki dan perempuan yang berzinah harus dihukum mati (Im 20:10), tetapi orang-orang Farisi hanya membawa paksa sang perempuan. Tujuan mereka sangat jelas: untuk menjebak Yesus, dan selebihnya adalah sarana untuk mencapai tujuan ini, termasuk jika mereka harus menggunakan dan merajam sang perempuan. Di sinilah terletak alasan mendasar mengapa banyak perempuan selalu menjadi korban pelanggaran dan kekerasan: objektifikasi dan depersonalisasi perempuan. Perempuan yang berzina ini telah kehilangan kepribadian dan menjadi sekedar alat bagi orang-orang Farisi dalam mencapai tujuan mereka. Saya percaya motif ini jugalah yang memgaruhi kaum lelaki dari berbagai generasi. Para laki-laki yang tak berhati menjadikan perempuan sebagai objek kepuasan seksual, tenaga kerja yang murah, atau sebuah langkah menuju kesuksesan.

Yesus harus menghentikan hal ini. Tidak hanya Dia menyelamatkan sang perempuan yang adalah korban, tapi ia harus menantang mentalitas korup dan dominasi kasar kaum adam ini. Dia kemudian menulis di tanah. Apa yang Ia tulis telah menjadi subyek perdebatan dan diskusi selama berabad-abad, dan tak seorang pun benar-benar tahu apa yang Yesus tulis. Namun, dugaan saya adalah Yesus menulis, “Di mana lelaki yang berzinah? Kok hanya sang perempuan?” Yesus membaca niat jahat para Farisi yang tidak hanya ditujukan kepada-Nya tetapi juga kepada sang perempuan. Mereka merencanakan kematian bagi Yesus dan sang perempuan, dan Hukum Yahudi mengatakan bahwa pembunuh dan mereka yang merencanakan pembunuhan harus dihukum mati (Im 21:14). Tentunya, pembunuhan adalah perbuatan yang jauh lebih jahat dari perzinahan. Ketika Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu,” Yesus paham benar motivasi jahat mereka untuk membunuh-Nya dan sang perempuan. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga patut dihukum mati dan mereka harusnya melempar batu kepada diri mereka sendiri. Kalah dalam pertempuran, mereka pun meninggalkan Yesus dan sang perempuan.

Namun, cerita tidak berakhir di sana. Yesus memiliki satu misi lagi. Setelah dijadikan sekedar objek dan kehilangan harga dirinya oleh dosa dan para lelaki kejam itu, Yesus memulihkan martabatnya dengan memberikan suara kembali kepadanya. Yesus tidak mengungkap nama sang perempuan, tapi Yesus memungkinkan dia untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Dia menjawab Yesus, “Tidak ada, Tuhan.” Sungguh, tidak ada lagi laki-laki yang akan membuatnya sebagai obyek belaka dan tidak ada lagi yang akan menurunkan derajatnya. Dia adalah putri perempuan dari Allah dan dia akan tetap sebagai demikian.

Kita hidup dua ribu tahun setelah Yesus, namun banyak perempuan masih menjadi korban objektifikasi dan depersonalisasi. Seperti Yesus berjuang untuk sang perempuan, kita akan juga berjuang bagi para perempuan di sekitar kita. Jika Yesus mampu mengekspos eksploitasi perempuan pada zaman-Nya, kita akan juga mengekspos berbagai bentuk pelanggaran di sekitar kita. Jika Yesus memulihkan martabat sang perempuan, kita juga akan menghormati martabat para perempuan di sekitar kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Belas Kasih: Sebuah Kesempatan Kedua

Minggu Pra-Paskah ketiga. Lukas 13:1-9 [28 Februari 2016]

“Mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:9)”

jesus n fig tree 2Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.

Dalam pembelajaran saya tentang belas kasih, saya menemukan sebuah cerita tentang seorang prajurit Perancis muda yang melarikan diri dari tugasnya sebagai pasukan Napoleon, tapi ia segera tertangkap. Dia diadili di mahkamah militer, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Mendengar hal ini, sang ibu memohon Napoleon untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Napoleon mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan sang anak sungguh melampaui batas; keadilan menuntut hidupnya. Sang ibu menangis dan memohon belas kasihan. Napoleon menjawab bahwa anaknya tidak pantas mendapat belas kasihan. Dan sang ibu pun berkata, “Aku tahu bahwa ia tidak layak mendapat belas kasihan, tetapi jika ia layak mendapatkannya, ini bukanlah belas kasihan.”

Kerahiman Allah mengalir dari kasih-Nya. Namun, karena Allah begitu mengasihi kita, Dia juga memungkinkan kita tumbuh dalam kebebasan. Tuhan memberi kita kesempatan kedua, tapi terserah kita untuk meraih kesempatan ini atau menyia-nyiakannya. St. Agustinus pun pernah berkata, “Allah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Dia tidak menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan demikian, musuh terbesar dari belas kasihan adalah hilangnya harapan akan belas kasih Allah. Kita berasumsi bahwa kita tidak lagi tidak lagi mampu berubah. Kita menolak kesempatan kedua dari Allah karena kita melihatnya sebagai sama sekali tidak berguna. Sungguh, untuk menabur benih keputusasaan adalah pekerjaan sang Jahat. Penulis, pengacara, ekonom, dan aktor Ben Stein mengatakan, “Jiwa manusia tidak pernah selesai ketika dikalahkan. Ia selesai ketika menyerah.” Kegagalan dan kelemahan kita mengkondisikan kita untuk percaya bahwa kita tidak berharga, dan saat kita meragukan belas kasihan Allah, sang jahat telah menang atas kita.

Inggris bisa saja kalah dari Jerman dalam Perang Dunia II, jika bukan karena Winston Churchill. Dia adalah perdana menteri Inggris selama masa tergelap Perang Dunia II. Dia pernah ditanya oleh seorang wartawan tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler yang membombardir Inggris siang dan malam. Dengan lugas, ia berkata, “Senjata terbesar Inggris adalah selalu harapan.” Sungguh harapan adalah senjata terbesar kita melawan sang jahat.

Paus Fransiskus, melalui inisiatifnya menyatakan tahun ini sebagai Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, dan beliau membuka pintu-pintu kerahiman di berbagai penjuru dunia sehingga setiap orang dapat merasakan kasih dan kemurahan hati Allah. Namun, kita tidak akan pernah menerima anugerah ini, kecuali kita memutuskan melewati ambang pintu ini. Kita perlu percaya bahwa rahmat-Nya mengalahkan segalanya keterbatasan kita, dan Kasih-Nya menghapus banyak dosa. Ketika Paus Fransiskus mengunjungi AS pada bulan September 2015, ia bertemu dengan para tahanan di sana dan ia mengingatkan mereka untuk tidak kehilangan harapan akan belas kasih Allah, “Marilah kita melihat ke Yesus, yang mencuci kaki kita. Dia adalah ‘jalan, dan kebenaran, dan hidup.’ Dia datang untuk menyelamatkan kita dari kebohongan yang mengatakan bahwa kita tidak bisa beruhah. Dia membantu kita di dalam perjalanan sepanjang jalan kehidupan dan kepenuhan. Semoga kekuatan kasih dan kebangkitan-Nya selalu menjadi jalan yang kamu mencapai kehidupan baru.”

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Turun Gunung

Minggu Prapaskah Kedua. 21 Februari 2016 [Lukas 9: 28-36]

“Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28).”

 

transfigurationBagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).

Peristiwa penting lainnya dimana Yesus menghabiskan waktu dalam doa adalah Transfigurasi. Dua penginjil, Matius dan Lukas, menulis kisah Transfigurasi dalam Injil mereka, tapi hanya itu Lukas yang mengatakan tujuan mengapa Yesus dan ketiga murid-Nya naik ke Gunung. Yakni untuk berdoa. Bagi Lukas, Transfigurasi adalah sebuah momen doa. Sungguh, merenungkan Injil hari ini dalam konteks doa akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan.

Pertama, Yesus mengajak para murid untuk mendaki Gunung dan berdoa. Hasrat kita untuk bertemu dengan-Nya dan berdoa sebenarnya adalah inisiatif Allah. Jika kita mampu berdoa, itu karena Tuhan memanggil kita dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Liturgi Brevir selalu dimulai dengan ayat “Ya Allah, bersegeralah membuka mulutku (Mzm 51:15).” Ini adalah keyakinan bahwa tanpa rahmat dan bantuan-Nya, kita tidak dapat berdoa. Kita, umat Katolik, membuka doa kita dengan tanda salib dan menyebutkan, “Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.” Hal ini lahir dari keyakinan bahwa terpisah dari Allah Tritunggal, kata-kata manusiawi kita akan sia-sia di dalam doa. St. Paulus menyatakan hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, “Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. (Rom 8:26).”

Kedua, Transfigurasi mengajarkan kita bahwa kadang, doa-doa kita memberikan kenikmatan dan kepuasan, tapi ini bukan yang paling penting. Kita seperti tiga murid yang sangat takjub di hadapan Yesus yang berubah wujud. Ini adalah saat ketika kita merasakan kedamaian di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita menikmati doa Rosario. Kita terinspirasi oleh homili dan merasa diperkuat oleh Komuni Kudus dalam Ekaristi. Kadang, saya menghadiri worship service sarat dengan lagu-lagu pujian dan khotbah menggebu-gebu. Sesungguhnya, hal ini memberi perasaan sangat gembira dan membebaskan apalagi bagi mereka yang memiliki banyak permasalahan dalam hidup.

Tentunya, seperti para murid, kita ingin menikmati kegembiraan dalam doa ini lebih lama lagi dan membangun ‘kemah’. Namun, Tuhan tidak ingin kita tinggal lama di sana. Dia meminta para murid untuk turun dan menghadapi dunia. Jika kita memilih tinggal dan menolak untuk turun, doa-doa kita tidak lagi tulus. Mereka menjadi candu yang membantu kita melarikan diri dari realitas hidup. Jika ini terjadi, perkataan Karl Marx bahwa ‘Agama adalah opium bagi masyarakat’ sungguh menjadi kenyataan.

St. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa Transfigurasi akan bawa akhirnya Yesus dan murid-muridnya pada sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Doa sungguhnya harus memberdayakan kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian dan kerendahan hati, dan tidak memberi kita tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ekaristi, sebagai puncak dari semua ibadah Kristiani, tidak berakhir dengan mengatakan “Tetap tinggal dan jangan pulang!” Ungkapan terakhir dalam Misa selalu dalam semangat misionaris, seperti “Pergilah, kita diutus!”. Kita diutus untuk berbagi buah dari doa-doa kita kepada sesama. Jika kita benar-benar menemukan Kristus dalam doa kita, bersama dengan Kristus, kita akan turun Gunung dan berjalan menghadapi Yerusalem kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Allah di Padang Gurun

Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]

“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”

jesus temptation 2Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.

Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.

Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.

Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.

Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP