Minggu Paskah Kelima. 24 April 2016 [Yohanes 13: 31-33a, 34-35]
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34).”
Allah memberikan Hukum-Nya yang pertama di Gunung Sinai. Dengan Musa dan bangsa Israel, Dia membuat perjanjian bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Dan agar bisa hidup sebagai Jemaat yang kudus, Allah memberi mereka hukum dan perintah. Hukum ini terkenal sebagai Sepuluh Perintah Allah (Kel 19-20). Kemudian, beberapa abad setelah Musa, di kota tua Yerusalem, Allah memberikan perintah baru-Nya. Kali ini, Hukum-Nya lebih sederhana namun jauh lebih radikal. Yesus memberikan kepada para murid-Nya perintah teragung: saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi mereka.
Yohanes disebut sebagai murid yang terkasih. Mungkin, ini karena ia dikasihi oleh Yesus dengan mendalam, tapi saya percaya, hal ini juga karena di antara para murid, Yohanes lah yang paling bergulat untuk memahami kasih Yesus baginya dan bagi kita semua. Kasih Yesus sangat mencengangkan. Dalam budaya Isreal yang berasaskan gigi ganti gigi, mengampuni musuh tidaklah terpikirkan, tapi Yesus meminta murid-Nya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh, untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh mereka! Ketika masyarakat Israel membenci orang-orang berdosa, pemungut pajak, dan pelanggar hukum Taurat, Yesus menyambut mereka. Namun, Ia sendiri menuntut dari mereka untuk bertobat dan menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna. Ketika Dia ditinggalkan sendirian, disiksa dan disalibkan, Ia memanifestasikan kasih terbesar-Nya saat Dia mengampuni kita semua. Ini tidak berhenti di situ. Yesus yang bangkit dan memperbaharui kasih-Nya bagi para murid-Nya yang rapuh dan gagal mengasihi-Nya. Yohanes kemudian menyimpulkan di dalam suratnya, sungguh Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dia tidak hanya penuh kasih, penuh pengampunan dan kemurahan hati tapi Ia adalah kasih itu sendiri.
Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta, meskipun Dia sempurna dan mandiri? Karena kasih sejati itu berarti berbagi. Mengapa Allah terus menjaga dan memelihara ciptaan-Nya? Karena kasih berarti peduli. Mengapa Allah membuat kita manusia menurut citra-Nya? Karena kasih melahirkan kasih yang lain. Mengapa Allah memberi kita kebebasan meskipun kita cenderung menyalahgunakan kebebasan ini? Karena kasih tidaklah nyata kecuali ada kebebasan.
Mengasihi sungguh sulit dan penuh pengorbanan. Orang tua berjuang untuk memahami dan peduli dengan anak remaja mereka yang terlibat dalam kecanduan narkoba. Seorang istri berjuang mempertahankan pernikahannya yang mulai runtuh karena suaminya yang tidak setia. Seorang imam paroki berusaha untuk mendidik jemaatnya dalam iman meskipun begitu banyak kritik dan kesalahpahaman yang harus ia hadapi. Film Of Gods and Of Man adalah kisah nyata dari komunitas rahib Trappist di Aljazair, dan mereka akhirnya diculik dan dibunuh pada 1996 oleh teroris. Dalam satu pertemuan, mereka berdebat apakah akan meninggalkan biara dan penduduk desa Muslim yang mereka layani, atau tetap bertahan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu rahib muda berkata kepada Prior, “Saya tidak menjadi seorang rahib untuk mati.” Dan sang Prior menjawab kembali, “Tapi kamu telah memberikan kehidupan kamu saat masuk biara.” Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal dan terus mengasihi sampai akhir.
Suatu kali, saya menghadapi krisis yang mendalam tentang panggilan saya. Jujur, saya bingung: baik menjadi awam maupun imam adalah panggilan suci dan bermartabat. Kemudian, formator saya akan memberikan nasihat berharga: “Bayu, pilihlah jalan yang menuntunmu pada penderitaan dan pengorbanan yang lebih besar, karena disana kamu akan mengasihi lebih besar.” Sungguh, mengasihi adalah sulit, tetapi hanya melalui kasih, kita bisa menjadi Murid Kristus, dan mencerminkan citra-Nya.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Salah satu citra terindah Yesus adalah Gembala yang Baik. Citra ini bahkan lebih indah ketika kita mencoba untuk melihat situasi Palestina pada zaman Yesus. Hidup sebagai seorang gembala adalah sulit dan melelahkan. Rumput terbatas dan domba akan terus berkelana. Karena tidak ada pagar pembantas, gembala akan memantau domba-dombanya sepanjang waktu, jika tidak, domba akan hilang. Medan di Yudea kasar dan berbatu, dan ini memaksa gembala mengerahkan energi ekstra. Selain itu, tugas gembala juga berbahaya. Hewan liar, terutama serigala, siap untuk menyerang dan melahap domba. Tidak hanya predator liar, perampok dan pencuri juga ingin membajak domba-dombanya.
Membaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, ‘Friend in need is friend indeed.’
Di dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?
Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.
Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.
Bagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).
Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.