Minggu Paskah Kedua – Minggu Kerahiman Ilahi. 3 April 2016 [Yohanes 20:19-31]
“Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya(Yoh 20:25).”
Di dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?
Thomas mencari luka-luka Yesus karena ia bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dengan luka-luka yang diterima Yesus di salib. Thomas sebenarnya sedang mencari dirinya sendirinya dan tidak hanya Yesus. Jauh di dalam jiwanya, Thomas mengakui bahwa ia adalah luka-luka Kristus. Thomas yang pernah berkata, “Marilah kita pergi untuk mati bersama-Nya (Yoh 11:16)!”, tapi ia akhirnya melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali. Yudas menjual-Nya dengan harga seorang budak. Selebihnya meninggalkan-Nya ke tangan para pembunuh-Nya. Kisah-kisah para murid adalah kisah kegagalan, kelemahan dan pengkhianatan. Mereka telah menyalibkan Yesus. Mereka adalah luka-luka Kristus.
Kita juga adalah luka-luka Kristus. Kita adalah kisah kegagalan, keegoisan dan ketidaksetiaan. Kita mungkin telah mengkhianati teman-teman kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita mungkin telah melakukan kekerasan bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai. Kita mungkin telah berbohong untuk melindungi reputasi baik kita dan menutupi kesalahan kita. Dalam bukunya, Blood and Earth, Kevin Bales menulis tentang bagaimana hasrat kita untuk barang-barang yang lebih murah mendorong perbudakan manusia modern di negara-negara dunia ketiga. Siapa tahu bahwa telepon selular yang kita gunakan untuk membaca refleksi ini, sebenarnya, adalah hasil kerja dari orang-orang yang bekerja di kondisi yang tidak manusiawi di Afrika dan Asia. Dan siapa tahu pola konsumsi makanan kita sebenarnya telah merusak jutaan hektar tanah dan menyakiti sang bumi.
Sama seperti para murid, kita lemah, tak berdaya dan terluka. Kita telah menyalibkan Yesus dan kita menyadari luka-luka Yesus adalah diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa pesan dari Paskah. Ya, kita adalah luka-luka, tapi kita adalah luka-luka Kristus yang bangkit. Ya, kita lemah, rapuh dan berdosa, tapi kita tidak kehilangan harapan karena kita tidak menanggung luka-luka ini sendirian. Yesus menanggung kita, dan semua ketidaksempurnaan kita, dan mengubah hal-hali ini di dalam kebangkitan-Nya. Pada Januari 2015, Paus Fransiskus mengunjungi kota Tacloban, Filipina yang luluh lantah oleh topan Yolanda, dan dia sangat sedih dengan kehancuran ia lihat dan akan ribuan hidup yang telah hilang di kejadian ini. Di hadapan kehancuran total ini, Paus Fransiskus menunjukkan tangannya kepada Tuhan di salib, dan berkata kepada para penduduk Tacloban,
“Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tetapi Tuhan tahu harus berkata apa bagimu. Beberapa dari kalian telah kehilangan bagian dari keluarga kalian. Yang bisa saya lakukan adalah berdiam diri dan berjalan dengan kalian semua dengan hati saya yang diam. Banyak dari kalian telah bertanya kepada Tuhan – mengapa Tuhan? Dan kepada setiap dari kita, Kristus menjawab dengan hati-Nya dari salib. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kalian. Mari kita lihat kepada Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia mengerti kita karena ia menjalani semua cobaan dan penderitaan yang telah kita alami.”
Thomas hanya terfokus pada luka, tetapi ketika ia mulai menyentuh Yesus dan melihat Tuhan yang Bangkit, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita menjadi seorang Kristiani bukan untuk melarikan diri dari penderitaan dunia ini atau juga menjadi putus asa, tapi untuk menghadapi cobaan hidup dengan penuh harapan karena walaupun kita lemah, rapuh dan berdosa, Yesus yang telah mengalami yang terburuk dari dunia ini, tapi akhirnya bangkit dan membawa kita bersama-sama didalam tubuh-Nya yang mulia.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP




Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?
Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.
Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.
Bagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).
Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.
“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”
