Road to Emmaus, Road Back to God

3rd Sunday of Easter

April 26, 2020

Luke 24:13-35

emmaus 10The two disciples went back home to Emmaus. One of them was Cleopas, and his companion probably was his wife. Perhaps they got afraid of the Roman and Jewish authorities who might go after them after they killed Jesus, the leader. Or maybe, they just got their hope and expectation shattered when Jesus, their expected Messiah, was crucified.

Cleopas and his wife were doing what we usually do in times of sadness and troubles. They told stories and tried to make sense of what had happened. Yet, the thing did not go right. Their dialogue did not make them better. Instead, they became so depressed, and they even failed to recognize Jesus, who was very close. Indeed, we need someone to share our stories, but when this person is not prepared, despite his goodwill, our stories can go from bad to worse. We need to remember that the first dialogue in the Bible took place in the garden of Eden between Eve and the serpent.

Fortunately, Jesus intervened at the right moment. Jesus brought in the missing piece. Jesus offered the word of God. The couple was so blessed because they experienced the first-ever Bible study, and it was Jesus Himself who guided them. Yet, Jesus made it clear that they knew their scriptures, but they were lack of faith. When we read the Bible without faith, it is nothing more than a lovely and inspiring novel or an ancient and mysterious text. Only with faith, we encounter God who is telling His stories. No wonder Jesus said to them that the scriptures are about Him because Jesus is the same God who was present in the creation, who led the Hebrew peoples in their exodus, and who sent prophets to guide the Israelites in the promised land.

Cleopas and his wife remind us of the first couple who also failed to have faith in God, Adam, and Eve. After the first dialogue with Satan that led them to doom, they deserved nothing but death. Yet, God did not allow death to overcome them immediately, but instead He made them leather cloth as a sign of His protection, as well as the sign of the first blood sacrifice. When they left the beautiful garden as a consequence of their choice, it was also the last time we heard about what happened inside the garden. Why? God was no longer in the garden. He was following Adam and Eve. God did not wish they wondered even farther but guided them back to paradise. As God journeyed with Adam and Eve, he also walked with Cleopas and his wife, as they make their way to the new Eden. In the end of their journey, they recognized Jesus when He took bread, blessed, broke and shared it. These were the eucharistic gestures. They entered the new Paradise, the celebration of the Eucharist.

Our stories in life, even in the most destressing moment like now, make sense when God enters into the pictures with His stories. The journey to Emmaus sheds a brighter light on the purpose of the Holy Mass. In the Mass, we always begin with the reading of the scriptures because we are invited to see our little stories in God’s greatest stories. When we find the meaning of our lives in God, that is the time we discover Jesus alive and fresh in the breaking of the bread.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emaus: Perjalanan kembali kepada Tuhan

Minggu Paskah ke-3

26 April 2020

Lukas 24: 13-35

road to emmaus
Rowan LeCompte (American, 1925–2014) and Irene Matz LeCompte (American, 1926-1970), “Third Station of the Resurrection: The Walk to Emmaus” (detail), 1970. Mosaic, Resurrection Chapel, National Cathedral, Washington, DC. Photo: Victoria Emily Jones. Tags: woman

Kedua murid pulang ke Emaus. Salah satunya adalah Kleopas, dan temannya mungkin adalah istrinya sendiri [lih. Yoh 19:25]. Mungkin mereka takut pada otoritas Romawi dan Yahudi yang mungkin mengejar mereka setelah mereka menghabisi Yesus, sang pemimpin. Atau mungkin, mereka merasa harapan dan mimpi mereka hancur ketika Yesus, sang Mesias yang mereka harapkan, telah disalibkan.

Kleopas dan istrinya melakukan apa yang biasanya kita lakukan di saat kesedihan dan kesulitan melanda hidup kita. Mereka saling berbagi cerita dan mencoba memahami apa yang terjadi. Namun, bagi Kleopas dan istrinya, hal ini tidak berjalan dengan baik. Dialog yang terjadi tidak membuat mereka lebih baik. Sebaliknya, mereka menjadi lebih sedih, dan mereka bahkan tidak bisa mengenali Yesus, yang sebenarnya sangat dekat. Memang, kita membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita kita, tetapi ketika orang ini tidak siap, terlepas dari niat baiknya, kondisi kita bisa menjadi semakin buruk. Kita perlu ingat bahwa dialog pertama dalam Alkitab terjadi di taman Eden antara Hawa dan sang ular!

Yesus turun tangan pada saat yang tepat. Yesus membawa bagian penting yang hilang. Yesus membawa Sabda Allah. Pasangan ini sangat diberkati karena mereka mengalami Bible Study yang pertama, dan Yesus sendirilah yang membimbing mereka. Namun, Yesus menjelaskan bahwa mereka sebenarnya tahu Kitab Suci, tetapi mereka kurang iman. Ketika kita membaca Alkitab tanpa iman, buku ini tidak lebih dari sebuah novel yang indah atau sebuah teks kuno yang penuh misteri. Hanya dengan iman, kita bisa bertemu Tuhan yang menceritakan kisah-Nya di dalam Kitab Suci ini. Tidak heran Yesus berkata kepada mereka bahwa Kitab Suci adalah tentang Dia karena Yesus adalah Allah yang sama yang hadir dalam penciptaan, yang memimpin bani Ibrani dalam eksodus mereka, dan yang mengutus para nabi untuk membimbing orang Israel di tanah terjanji.

Kleopas dan istrinya mengingatkan kita tentang pasangan pertama yang juga gagal untuk beriman kepada Allah. Mereka adalah Adam dan Hawa. Setelah dialog pertama dengan Setan yang membawa mereka pada malapetaka, mereka sebenarnya layak menerima kematian. Namun, Tuhan tidak membiarkan kematian merenggut mereka dengan segera, tetapi sebaliknya Dia membuat bagi mereka pakaian dari kulit sebagai tanda perlindungan-Nya. Ketika mereka meninggalkan taman Eden yang indah sebagai konsekuensi dari pilihan mereka, itu juga terakhir kali kita mendengar tentang apa yang terjadi di dalam taman tersebut. Mengapa? Tuhan tidak ada lagi di taman itu. Dia mengikuti Adam dan Hawa yang pergi dari Eden. Tuhan tidak ingin mereka pergi lebih jauh dari-Nya tetapi dengan sabar membimbing mereka kembali ke surga. Tuhan tidak hanya membimbing dan menemani Adam dan Hawa, Dia juga berjalan dengan Kleopas dan istrinya, dan membimbing mereka ke sebuah tempat di mana mereka menemukan ke Eden yang baru. Mereka mengenali Yesus saat Dia mengambil, memberkati, memecah-mecah dan memberikan roti kepada mereka. Mereka mengenali Yesus saat Ekaristi kudus pertama setelah kebangkitan. Ekaristi adalah Firdaus yang baru.

Kisah-kisah kita dalam kehidupan, bahkan yang paling buruk sekalipun seperti di masa pandemi ini, hanya sungguh bermakna ketika Allah menjadi bagian dari cerita kita. Perjalanan ke Emaus memberi pengertian yang lebih dalam tentang tujuan Misa Kudus. Dalam Misa, kita selalu memulai dengan membaca Kitab Suci karena kita diundang untuk melihat kisah-kisah kecil kita dalam kisah-kisah terbesar Allah. Ketika kita menemukan makna hidup kita di dalam Allah, itulah saatnya kita menemukan Yesus sungguh hidup dalam liturgi Ekaristi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Divine Mercy

Second Sunday of Easter [A]

April 19, 2020

John 20:19-31

ViaDolorosa0181The second Sunday of Easter is also known as the Divine Mercy Sunday. The liturgical celebration of the Divine Mercy Sunday is declared in the year 2000 by Pope St. John Paul II who had a strong devotion to the Divine Mercy revealed to St. Faustina. Though the feast itself is something recent, the truth of divine mercy is fundamental in the Bible and Sacred Tradition. If there is one prevailing character of God, it is not other than mercy. In the Old Testament, there are at least two Hebrew words that can be translated as mercy. One is rāḥam and the other is ḥeṣedh.

The word Raham is closely related to a woman’s womb. It is the feeling and action that flow from the womb, the source and nurturer of new life. Mercy comes from the realization that we belong to the same womb, that we are siblings. Thus, when one of our brothers is suffering or struggling with a difficulty, we easily empathize with him and are moved to alleviate his hardship. Yet, mercy can be also understood as a maternal impulse towards someone who has come from her womb. It is the genuine yearning that moves a mother to do anything for her children. Mercy in this sense, I believe, is more proper to God. He cannot but be merciful and embrace our sufferings and even weakness because we are coming from God’s spiritual womb. No wonder, the Church dare asserts that we are God’s children.

The word “Hesedh” is also a powerful word and it may mean a steadfast love or a relentless fidelity to a covenant. Our God is a person who is unthinkably bold to tie Himself to a covenant with weak humans like Adam and his descendants. Because of this, the Bible is nothing but a story of a faithful God who gives Himself to unfaithful men and women. From Adam who failed to his duty to guard the garden, down to Peter who denied Jesus three times, humanity is terribly disloyal, but God remains faithful and offers His forgiveness to rebuild the shattered relationship.

The choice of the Second Sunday of Easter to be the Divine Mercy is an excellent decision because the Gospel speaks powerfully how God’s mercy operates. The risen Jesus appeared to the disciples and gave them the authority to forgive sins. This is the story of the institution of the sacrament of reconciliation. Forgiveness is the first and foremost manifestation of mercy. Though the authority to forgive belongs properly to God, the risen Christ has willed that this authority is shared with His apostles. Since the apostles are the first bishops, the same power is handed down to their successors. And the bishops shared this divine power and responsibility to their co-workers, the priests.

The Gospel begins with the disciples who were afraid. They were afraid for many reasons, but one of the strongest reasons was that they were afraid of Jesus. They have abandoned and been unfaithful to Him, and they heard that Jesus has risen. They thought that it was the time of judgment, time to get even. Yet, Jesus appeared and His first word is not a word of anger or judgment, but “peace” or “shalom”. The disciples should no longer be afraid and be at peace because despite their unfaithfulness because they have been forgiven.

The Easter season begins with the assurance that God is merciful and offering us the forgiveness we do not deserve. And this season invites us to forgive more because we are forgiven, to become the apostles of peace because we have received peace from Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerahiman Ilahi

Minggu Kedua Paskah [A]

19 April 2020

Yohanes 20: 19-31

confession at streetHari Minggu Paskah kedua juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ditetapkan pada tahun 2000 oleh St. Yohanes Paulus II yang memiliki devosi khusus kepada kerahiman Ilahi yang diwahyukan kepada St. Faustina. Meskipun perayaan liturgi ini sendiri adalah sesuatu yang baru, kebenaran akan kerahiman Ilahi adalah sesuatu yang mendasar dalam Alkitab dan Tradisi Suci. Jika ada satu karakter Allah yang paling penting, ini tidak lain adalah kerahiman-Nya. Dalam Perjanjian Lama, setidaknya ada dua kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai kerahiman. Yang satu adalah rāḥam dan yang lainnya adalah ḥeṣedh.

Kata “Raham” terkait erat dengan rahim wanita. “Raham” adalah perasaan dan tindakan yang mengalir dari rahim yang adalah sumber dan pemelihara kehidupan baru. Kerahiman datang dari kesadaran bahwa kita berasal dari rahim yang sama, bahwa kita bersaudara. Maka, ketika salah satu saudara kita menderita atau bergulat dengan kesulitan, kita dengan mudah berempati dan tergerak untuk meringankan kesulitannya. Namun, “raham” dapat juga dipahami sebagai perasaan keibuan terhadap seseorang yang telah datang dari rahimnya. Perasaan tulus inilah yang menggerakkan seorang ibu untuk melakukan segalanya untuk anak-anaknya. Kerahiman dalam pengertian ini lebih pantas bagi Tuhan. Dia tidak bisa tidak berbelas kasih dan merangkul penderitaan dan bahkan kelemahan kita karena kita datang dari “rahim rohani” Tuhan. Tidak heran, Gereja berani mengajarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Kata “Hesedh” juga merupakan kata yang penting dan ini bisa berarti kasih yang teguh atau kesetiaan yang tak kenal batas. Tuhan kita adalah pribadi yang sangat berani mengikat diri-Nya pada sebuah perjanjian dengan manusia yang lemah seperti Adam dan keturunannya. Karena itu, jika kita rangkum isi Alkitab, ini tidak lain adalah sebuah kisah tentang Allah yang setia yang memberikan diri-Nya kepada manusia yang tidak setia. Dari Adam yang gagal menjalankan tugasnya untuk menjaga taman, sampai ke Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali, umat manusia terkenal sebagai makhluk yang sulit untuk setia. Namun, Tuhan tetap setia dan memberikan pengampunan-Nya untuk membangun kembali hubungan yang hancur karena ulah manusia ini.

Pilihan Minggu Kedua Paskah untuk menjadi Minggu kerahiman Ilahi adalah keputusan yang sangat tepat karena Injil berbicara bagaimana kerahiman Ilahi beroperasi. Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid dan memberi mereka wewenang untuk mengampuni dosa. Ini adalah kisah tentang institusi sakramen rekonsiliasi. Pengampunan adalah manifestasi pertama dan utama dari kerahiman. Meskipun otoritas untuk mengampuni adalah milik Allah, Kristus yang bangkit telah menghendaki bahwa otoritas ini dibagikan kepada para rasul-Nya. Karena para rasul adalah para uskup pertama, kuasa yang sama diberikan kepada penerus mereka. Dan para uskup membagikan kuasa Ilahi dan tanggung jawab ini kepada rekan kerja mereka, para imam.

Injil dimulai dengan para murid yang takut. Mereka takut karena banyak sebab, tetapi salah satu alasan terkuat adalah mereka takut kepada Yesus. Mereka telah meninggalkan dan tidak setia kepada-Nya, dan mereka mendengar bahwa Yesus telah bangkit. Mereka berpikir bahwa ini adalah saat penghakiman, saat untuk membalas dendam. Namun, Yesus menampakkan diri dan kata-kata pertamanya bukanlah kata kemarahan atau penghakiman, tetapi “damai” atau “shalom”. Para murid seharusnya tidak lagi takut dan damai karena terlepas dari ketidaksetiaan mereka karena mereka telah diampuni.

Masa Paskah dimulai dengan jaminan bahwa Allah berbelas kasih dan menawarkan kepada kita pengampunan yang tidak pantas kita terima. Dan masa ini mengundang kita untuk lebih mengampuni karena kita telah diampuni, dan untuk menjadi rasul perdamaian karena kita telah menerima kedamaian dari Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Empty Tomb

Easter Sunday

April 12, 2020

John 20:1-9

ViaDolorosa0203Today is the day of resurrection. Today is the day Jesus has conquered sin and death. Today is the day of our victory. No wonder among the liturgical celebration of the Church, Easter is the grandest, the longest and the most spectacular. It is the time that the churches are flooded with the faithful. It is the time that parishioners got involved in many activities, practices, and services. It is the time when families gather and celebrate. It is the time the priests receive more blessings!

However, something strange this year. Our Easter celebration is silent and simple. It is like an empty tomb, quiet and dark. And like the empty tomb, our churches are also empty, the pews are without people, and our buildings are darker. This Easter, we do not hold burning candles in our hands. This Easter, we do not sing together the Exultet. This Easter, we still do not receive the holy communion.

We may be like Mary Magdalene or Peter who discovered the empty tomb. Mary Magdalene was confused and at a loss when she saw the empty tomb. She was weeping before the tomb because she thought the body of Jesus has been stolen. She loved Jesus so much, but she had to see His Lord tortured, crucified and buried. It was a painful and crushing experience to see someone she loved dying like an animal. As if not enough with all the pain, this time, the body was missing. Peter did not fare better. After he had told his Master that he would give his life for Him, less than a few hours, he denied Jesus, not once, not twice, but thrice. He realized that he was a coward, and this brought pain and terrible humiliation. To make things worse, he discovered the tomb empty and he failed to understand.

This year is different because God has invited us to go deeper into the tomb. In previous years, we may be dazzled by the shining angel. We focus ourselves on various preparations, on the beautiful songs, on the floral decorations, on a joyous atmosphere, or perhaps on the priests! But this year, God calls our attention to the empty tomb, to endure the silence, to bear the darkness, and to reflect deeper on how Jesus resurrected.

Jesus did not put a spectacular show on how He conquered death. Jesus did not take any selfies when He returned from the dead! Rather, Jesus rose in the secret of the cave. Jesus won over death in the silence of the tomb. Jesus saved us in the hidden and mysterious way. Yet, this is the resurrection, and this is the most beautiful moment in human history.

This year Easter gives us a powerful lesson. God has risen even in the empty tombs of our lives. God is alive even we are far from the church we love and serve. God is alive even when we feel the most powerless inside our homes. God is alive even when we are struggling with many difficulties caused by this pandemic.

Perhaps, it is the time we reflect more on how God works gently in our lives. Perhaps, it is the time to rethink our priorities in life and to place God in the center. Perhaps, it is the time to appreciate the people who love, to reconcile with people who are close to us.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

Kubur Kosong

Minggu Paskah

12 April 2020

Yohanes 20: 1-9

empty-tomb-29306808Hari ini adalah hari kebangkitan Yesus. Hari ini adalah hari Yesus mengalahkan dosa dan maut. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Tidak mengherankan di antara perayaan liturgi Gereja, Paskah adalah yang termegah, terpanjang dan paling spektakuler. Inilah saatnya gereja dibanjiri oleh umat beriman. Inilah saatnya umat paroki terlibat dalam banyak kegiatan, persiapan, dan pelayanan. Inilah saatnya keluarga berkumpul dan merayakan. Inilah saatnya para imam menerima lebih banyak berkat!

Namun, sesuatu yang aneh tahun ini. Perayaan Paskah kita sunyi dan sederhana. Hal ini seperti sebuah makam kosong, sunyi dan gelap. Dan seperti makam kosong, gereja-gereja kita juga kosong, bangku tanpa umat, dan bangunan kita lebih gelap. Paskah ini, kita tidak memegang lilin yang menyala di tangan kita. Paskah ini, kita tidak bernyanyi bersama Exultet. Paskah ini, kita masih belum menerima komuni suci.

Kita mungkin seperti Maria Magdalena atau Petrus yang menemukan makam kosong. Maria Magdalena bingung dan bingung ketika dia melihat makam kosong itu. Dia menangis di depan kuburan karena dia pikir tubuh Yesus telah dicuri. Dia sangat mengasihi Yesus, tetapi dia harus melihat Tuhannya disiksa, disalibkan dan dikuburkan. Itu adalah pengalaman yang menyakitkan dan menghancurkan untuk melihat seseorang yang dikasihinya mati seperti binatang. Seolah tidak cukup dengan semua rasa sakit, kali ini, tubuh itu hilang. Petrus juga mengalami hal sama. Setelah dia memberi tahu Gurunya bahwa dia akan memberikan hidupnya untuk-Nya, kurang dari beberapa jam, dia menyangkal Yesus, tidak hanya sekali, tidak dua kali, tetapi tiga kali. Dia menyadari bahwa dia adalah seorang pengecut, dan ini membawa rasa sakit dan penghinaan yang mengerikan. Untuk memperburuk keadaan, dia menemukan makam itu kosong dan dia gagal untuk mengerti.

Tahun ini berbeda karena Tuhan telah mengundang kita untuk masuk lebih dalam ke dalam kubur. Pada tahun-tahun sebelumnya, kita mungkin terpesona oleh malaikat yang bersinar. Kita memfokuskan diri pada berbagai persiapan, pada lagu-lagu indah, pada dekorasi bunga, pada suasana gembira, atau mungkin pada para imamnya! Tetapi tahun ini, Tuhan meminta perhatian kita pada makam kosong, untuk sendiri dalam kesunyian, hening dalam kegelapan, dan untuk merenungkan lebih dalam tentang bagaimana Yesus bangkit.

Yesus tidak menunjukkan pertunjukan yang spektakuler tentang bagaimana Ia menaklukkan maut. Yesus tidak mengambil foto narsis apa pun ketika Ia kembali dari kematian! Sebaliknya, Yesus bangkit dalam rahasia gua. Yesus menang atas maut dalam keheningan kubur. Yesus menyelamatkan kita dengan cara yang tersembunyi dan misterius. Namun, ini adalah kebangkitan, dan ini adalah momen paling indah dalam sejarah manusia.

Tahun Paskah ini memberi kita pelajaran yang kuat. Tuhan telah bangkit bahkan di kuburan kosong kehidupan kita. Tuhan itu hidup bahkan kita jauh dari gereja yang kita cintai dan layani. Tuhan itu hidup bahkan ketika kita merasakan yang paling tidak berdaya di dalam rumah kita. Tuhan itu hidup bahkan ketika kita berjuang dengan banyak kesulitan yang disebabkan oleh pandemi ini.

Mungkin, inilah saatnya kita lebih banyak merenungkan bagaimana Tuhan bekerja dengan lembut dalam hidup kita. Mungkin, inilah saatnya untuk memikirkan kembali prioritas kita dalam hidup dan menempatkan Tuhan sebagai prioritas kita. Mungkin, inilah saatnya untuk menghargai orang-orang yang mencintai, untuk berdamai dengan orang-orang yang dekat dengan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Pentecost and The New Law

Pentecost Sunday [June 9, 2019] John 20:19-23

pray overToday we are celebrating the great feast of Pentecost, where the Holy Spirit, the third divine person of the Holy Spirit, comes in the form of a tongue of fire and fills the hearts of the disciples. Why do we call this day as Pentecost? Why does the Holy Spirit just come 50 days after Jesus rose from the dead?

The simplistic answer will be: “It is the Holy Spirit’s business. It is up to Him!” Yet, our faith is not merely blind and stupid obedience, but a faith that seeks understanding. Our quest for an answer brings us back to the Old Testament. In the Jewish tradition and history, the feast of Pentecost or also known as the feast of Weeks is the day that they remember and celebrate the giving of the Law in Sinai. Fifty days after the Sabbath day of Passover, the Jewish people come together and celebrate another festival, the feast of the harvest. The big day is also called the feast of the Weeks because the Israelites wait for seven weeks. If seven is the number of covenants in the Bible, then seven weeks represents seven days times seven days, the fullness of covenant. In the Book of Exodus, we are going to discover that the day after seven weeks from the exodus from Egypt, God appeared in Mount Sinai, strike a covenant with Israel and gave them the Law to govern His people. If the Passover commemorates their liberation, the feast of the Weeks points to the day God gave His Law to Moses and Israel at Sinai. Then, if fifty days after the exodus from Egypt, the Israelites received the Mosaic Law, the disciples of Jesus, fifty days from the day of resurrection welcome the Holy Spirit, the new Law of Christ written in our hearts and souls.

To grasp the Pentecost, we need to comprehend the formative aspect of the Law. When God offered a covenant with Israelites, He expected them to behave like His people and not following the examples of other neighboring nations. To facilitate this, God gave Israel a set of Law to obey. The Law is to form Israelites as the people of God. With this in mind, we can now see the fundamental importance of the Pentecost for Jesus’ disciples. The Holy Spirit descends upon and dwells in the disciples as the New Law, and as the Old Law is to shape the old Israelites, so the New Law is to build the New Israel, the Church. That is why Pentecost is also considered the day that the Church was born, the birthday of the Church.

To receive the Holy Spirit in our hearts is an immense privilege, yet we are also to live in the Spirit. If ancient Israel calls themselves as the people of God because they obey the Law, so we may recognize ourselves the People of God when we follow the Spirit.  However, living in the Spirit is not about speaking in tongue or to join Charismatic groups. St. Paul clearly states to live in the Spirit is opposed to the urging of the flesh. When we detach ourselves from the works of the flesh like immorality, impurity, idolatry, hatred, division, wrath and jealousy [Gal 5:19], we already walk in the Spirit, and this is even harder than to speak in tongue. The Holy Spirit has given us His seven gifts, but do we strive to be wise, understanding, pious, persevering, knowledgeable in faith, fearful to offend the Lord [see Isa 11:1]? It would be the massive loss if we are celebrating the Pentecost, and yet we live as if we never receive the Holy Spirit.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pentakosta dan Hukum Baru

Minggu Pentakosta [9 Juni 2019] Yohanes 20: 19-23

pentecost mafaHari ini kita merayakan hari raya Pentakosta, hari raya Roh Kudus yang datang dalam bentuk lidah api dan memenuhi hati para murid. Pertanyaannya yang bisa kita angkat adalah: Mengapa kita menyebut hari ini sebagai Pentakosta? Mengapa Roh Kudus datang hanya 50 hari setelah Yesus bangkit dari kematian?

Iman kita bukan hanya ketaatan yang buta dan bodoh, tetapi iman yang mencari pengertian. Pencarian kita akan jawaban membawa kita kembali ke Perjanjian Lama. Dalam tradisi dan sejarah Yahudi, hari raya Pentakosta atau juga dikenal sebagai hari Tujuh Minggu adalah hari di mana mereka merayakan pemberian Hukum Taurat di Sinai. Lima puluh hari setelah hari Sabat Paskah Yahudi, orang-orang Israel berkumpul dan merayakan hari raya Pentakosta. Dalam Kitab Keluaran, kita akan menemukan bahwa sehari setelah tujuh minggu dari eksodus dari Mesir, Tuhan Allah menampakkan diri di Gunung Sinai, membuat perjanjian dengan Israel dan memberi mereka Hukum Taurat untuk mengatur umat-Nya. Jika Paskah Yahudi memperingati pembebasan mereka, hari raya Tujuh Minggu menunjuk pada hari Tuhan memberikan Hukum-Nya kepada Musa dan Israel di Sinai. Jadi, jika lima puluh hari setelah eksodus dari Mesir, orang Israel menerima Hukum Musa, para murid Yesus, lima puluh hari sejak hari kebangkitan menerima Roh Kudus, Hukum Kristus yang baru, yang tertulis dalam hati dan jiwa kita.

Untuk memahami Pentakosta, kita perlu memahami aspek formatif Hukum. Ketika Tuhan memberikan perjanjian dengan bangsa Israel, Dia menuntut mereka berperilaku seperti umat-Nya dan tidak mengikuti contoh bangsa-bangsa sekitar mereka. Untuk memfasilitasi ini, Allah memberi Israel seperangkat Hukum untuk dipatuhi. Sejatinya, Hukum Taurat adalah untuk membentuk bangsa Israel sebagai umat Allah. Dengan mengingat hal ini, kita sekarang dapat melihat pentingnya Pentakosta bagi para murid Yesus. Roh Kudus turun ke atas dan berdiam di dalam para murid sebagai Hukum Baru, dan sebagaimana Hukum Lama membentuk bangsa Israel yang lama, Hukum Baru adalah untuk membangun Israel Baru, yakni Gereja. Itulah sebabnya Pentakosta juga sebagai hari Gereja terbentuk atau hari lahir Gereja.

Menerima Roh Kudus di dalam hati kita adalah hak istimewa yang sangat besar, namun ini juga berarti kita juga harus hidup dalam Roh. Jika Israel kuno menyebut diri mereka sebagai umat Allah karena mereka mematuhi Hukum, maka kita dapat mengenali diri kita sendiri sebagai Umat Allah ketika kita mengikuti Roh. Namun, hidup dalam Roh bukanlah sekedar tentang bahasa roh atau bergabung dengan kelompok-kelompok Karismatik. St. Paulus dengan jelas menyatakan untuk hidup dalam Roh berlawanan dengan desakan kedagingan kita. Ketika kita melepaskan diri dari perbuatan kedagingan seperti amoralitas, penyembahan berhala, kebencian, perpecahan, kemarahan dan kecemburuan [Gal 5:19], kita sudah berjalan dalam Roh, dan ini bahkan lebih sulit daripada berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus telah memberikan kepada kita tujuh karunia-Nya, tetapi apakah kita berusaha untuk menjadi bijaksana, pengertian, saleh, tekun, berpengetahuan dalam iman, takut untuk menyinggung Tuhan [lihat Yesaya 11: 1]? Ini akan menjadi kehilangan terbesar kita jika kita merayakan Pentakosta, namun kita hidup seolah-olah kita tidak pernah menerima Roh Kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Inevitable

Ascension of Jesus Christ [June 2, 2019] Luke24:46-53

goodbyeIf you are a fan of Marvel universe movies, you will easily remember Thanos, the primary villain with twisted moral conviction. After he swept half of the living beings in the universe with the power of the infinity stones, he went into hiding. Yet, the Avenger found him and forced him to restore the world, but he said it was no longer possible because he has destroyed the stones, because what he did was inevitable, and he said, “I am inevitable”.

Thanos’ words echo the message of Jesus in today’s Gospel that any human relation will find its end. Separation is inevitable. Yet, it is natural for us that we do not want to be separated from our loved ones in life. Every separation surely will bring pain and anguish. I still remember when I needed to enter a seminary, and I had to be separated from my mother for good. My mother cried, and I shed some tears, too, but I guess my father was happy that I am leaving!

Thus, we can imagine that when Jesus is going up to heaven, and He will be no longer with the disciples, they are grief-stricken and full of anxiety. They would ask each other, what’s next? They are going to lose their Master, their hope, their expected Messiah and King. Yet, Jesus said that He is leaving for their own good.

Yes, separation can be painful and fearful, but Jesus assures us that separation is part of life, and it is good for us.

We take an example of my mother. Had my mother refused to let me go, I would not have been a priest and served you here in this celebration. Or another example, a mother who is pregnant. We know that she loves her baby, but she must let her baby go from her womb and let the baby breathe using his own lungs. Otherwise, the baby and the mother will both die. The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good.

Separation can also mean allowing our loved ones to face life’s adversities and pain. After I entered the seminary, my life did not get any comfortable, yet it went in the opposite direction. No more mother to wake me up, no more father to bring me to school or help in my assignment. But what does not kill you, builds you up. Often, we love so much our children, and we want to shield them from life’s trials and pain, but it may backfire. It may create a soft generation with deadly entitlement mentality: children who believe that they are entitled to the privileges of life, people who too quickly complain about life.

Jesus understands this, and He leaves disciples so that the disciples may grow and bear fruits. Jesus knows that He will stay and protect them; they will remain a group of crying men. After Jesus left, life did not get any easier for the disciples. Eleven out of twelve were martyred. Other Jesus’ followers shared the same lot. Yet, through adversaries, they grew and flourished.  True enough, after two thousand years, the Church Jesus founded, has become the biggest community in the world with more than 1/3 of the earth’s population as its members.

The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good and even fruitful.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salib dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [2 Juni 2019] Yohanes 17: 20-26

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Jn. 17:22)

Jesus christ in heavenAda tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang  tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.

Adalah dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, paradoksnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang tempo dulu. Spartan adalah salah satu bangsa terkuat di semenanjung Yunani kuno. Ini karena mereka melatih anak-anak mereka dalam kesulitan. Pada usia 7 tahun, anak laki-laki diambil dari orang tua mereka dan menjalani pelatihan intens di barak sampai mereka mencapai usia 20 tahun. Salah seorang Spartan yang paling terkenal adalah Leonidas, raja kota Sparta. Saat Persia menyerang semenanjung Yunani, dia bersama dengan 300 prajurit pilihannya menahan pasukan Persia yang jauh lebih unggul selama tiga hari di Thermopylae. Ketika mereka kehilangan pertahanan mereka, Leonidas menolak untuk mundur, dan dengan 300 pasukannya mengorbankan nyawa mereka untuk memberi waktu yang cukup bagi orang-orang Yunani untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik. Leonidas menerima kemuliaan bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi ia mau berkorban.

Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup tetapi merangkul mereka dan membiarkan diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Kalau tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang lembek dan tidak tahu berterima kasih. Para siswa tidak dapat menguasai keterampilan dan memperoleh pengetahuan sejati kecuali mereka tunduk pada disiplin studi. Atlet tidak dapat memenangkan medali, kecuali mereka berlatih dengan sangat intens.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita, para murid-Nya, sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Sementara kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kemuliaan, kesuksesan dan keberhasilan pribadi kita, kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Terutama dalam Injil Yohanes, waktu kemulian Yesus menunjuk pada salib-Nya. Yesus tidak pernah berbicara tentang Dia disalibkan, tetapi Dia dimuliakan.

Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap salib harian kita sebagai kemuliaan kita. Pada zaman Yesus, tidak seorang pun akan menganggap bahwa salib, alat penyiksa Romawi yang brutal, akan berubah menjadi jalan kemuliaan. Salib adalah sebuah absurditas, dan hanya karean kehadiran Yesus yang mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai saran kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan kita untuk memikul salib kita yakni kemampuan kita untuk menderita. Kita memikul salib kita, itu memperbesar kemampuan kita untuk mencintai. Saat kita mencintai sampai akhir, kita dapat menerima kemuliaan kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP