Kristus, Raja Hidup Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

21 November 2021

Yohanes 18:33-37

Minggu Kristus Raja adalah hari Minggu terakhir dalam Tahun Liturgi. Perayaan ini adalah peringatan yang tepat bagi kita semua bahwa pada akhirnya, Yesus adalah raja kita. Namun, bagi banyak dari kita, kita tidak benar-benar tahu apa artinya menjadi hamba pada seorang raja. Beberapa dari kita mungkin memiliki raja atau ratu sebagai kepala negara kita, tetapi biasanya mereka tidak terlibat dalam kehidupan kita sehari-hari. Faktanya, di dunia, kita hanya memiliki sedikit monarki absolut seperti Sultan Brunei, Raja Arab Saudi, dan Paus!

Hidup dalam masyarakat modern, kita menghargai dan menjaga kebebasan dan otonomi pribadi. Kita memperjuangkan hak-hak dasar kita, dan kita bahkan berjuang ke pengadilan untuk menuntut keadilan atas hak-hak kita. Pelanggaran hak asasi manusia dianggap sebagai kejahatan berat. Di alam demokrasi, kita memutuskan bagaimana kita ingin diatur dengan memilih pejabat publik yang kita inginkan. Kita memilih di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita ingin hidup. Mereka yang ingin membatasi kebebasan kita adalah tiran dan diktator. Jadi, ketika kita merayakan Hari Raya Kristus Raja, gelar rajawi Yesus ini tidak terlalu berarti bagi kita. Kita dapat dengan mudah melihat Yesus sebagai sahabat dan saudara kita, tetapi Yesus sebagai raja kita adalah konsep yang asing.

Namun, dalam Injil, Yesus sebagai raja adalah salah satu identitas-Nya yang paling mendasar. Yesus disebut Kristus, yang berarti yang diurapi, dan gelar ini terutama mengacu pada seorang raja seperti raja Daud. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan membangun Kerajaan Allah dan memilih dua belas rasul sebagai suku baru Israel. Tindakannya hanya masuk akal jika Yesus adalah raja kerajaan itu. Dalam Injil hari ini, Pilatus bertanya kepada Yesus apakah Dia seorang raja, dan Yesus memberikan jawaban tegas-Nya. Di kayu salib, penjahat yang bertobat berkata kepada Yesus, “Ingatlah aku ketika kamu datang sebagai raja!” Bahkan, di salib-Nya, identitas-Nya tertulis dengan jelas, “Yesus Raja orang Yahudi.”

Apa artinya memiliki Yesus sebagai raja kita? Mengapa itu penting bagi kita? Jawabannya adalah yang paling penting bagi kita. Yesus bukan hanya seorang raja, sama seperti raja-raja lainnya, tetapi Dia juga pencipta hidup kita. Dia merancang kodrat kita bahwa kita hanya akan sampai pada tujuan sejati kita di dalam Tuhan. Jadi, menerima Yesus sebagai raja kita, dan hidup sesuai dengan rencana-Nya, adalah jalan pasti kita menuju kemuliaan dan kebahagiaan sejati.

Iblis mengetahui hal ini dengan sangat baik, dan dia menggoda orang tua pertama kita untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi ‘tuhan’ tanpa Tuhan. Strategi yang sama masih digunakan sampai hari ini, dan kita dibuat untuk percaya bahwa kebebasan tanpa Tuhan adalah apa yang kita butuhkan. Kita mencoba untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita, kita membesarkan ego kita, dan kita berperilaku seperti raja-ratu kecil. Namun sejatinya, ini adalah sumber frustrasi, kekhawatiran, dan ketidakbahagiaan kita. Hanya saat kita mati bagi diri kita sendiri dan sekali lagi mengizinkan Yesus meraja di dalam hati kita, kita menjadi sungguh merdeka, autentik dan bahagia.

Hidup Kristus Raja!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christ, the King of Our Lives

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [B]
November 21, 2021
John 18:33-37

Christ the King Sunday is the ultimate Sunday of the Liturgical Year. The feast is a fitting reminder for all of us that, in the end, Jesus is our king. Yet, we do not have any idea what it means to be a subject to a king for many of us. Some may have kings or queens as their heads of state, but ordinarily, they do not involve in our daily lives. In fact, we have only very few absolute monarchs in the world, like the Sultan of Brunei, King of Saudi Arabia, and the Pope!

Living in modern societies, we cherish and value personal freedom and autonomy. We fight for our fundamental rights, and we go to the courts to demand justice. The violations of human rights are considered serious crimes. We decide how we want to be governed by electing our desired public officials. We choose where, how, and with whom we want to live. Those who want to limit our freedom are tyrants and dictators. Thus, when we celebrate the feast of Christ the King, this royal title of Jesus does not mean too much for us. We can easily relate to Jesus as our friend and brother, but not Jesus as our king.

Yet, in the Gospel, Jesus as a king is one of His most fundamental identities. Jesus is called the Christ, meaning the anointed one, and this title refers primarily to a king like King David. Jesus begins His ministry by building the Kingdom of God and chooses twelve apostles as the new tribes of Israel. His actions only make sense if Jesus is the king of that kingdom. In today’s Gospel, Pilate asks Jesus whether He is a king, and Jesus gives His affirmative answer. On the cross, the repented criminal says to Jesus, “remember me when you come as a king!” In fact, on His cross, His identity is written, “Jesus King of the Jews.”

What does it mean to have Jesus as our king? Why does it matter to us? The answer is that it is all that matters. Jesus is not only a king, just like any other kings, but He is also the author of our being. He designs our nature that we will only arrive at our true purpose in God. Thus, accepting Jesus as our king, and living according to His plans, is our sure path to true glory and happiness.

The devil knows this too well, and he seduced our first parents to believe that they can be ‘gods’ without God. The same strategy is still employed today, and we are made to think that freedom apart from God is what we need. We are trying to control everything in our lives, boost our egos, and play little gods. Yet, this is the source of our frustration, worries and unhappiness. Only when we die to ourselves and once again allow Jesus to reign in our hearts, we are the freest and authentic.
Live Christ the King!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: Daniel Gutko

Pertobatan dan Akhir Zaman

Minggu Biasa ke-33 [B]
14 November 2021
Markus 13:24-32

Kita mendekati akhir tahun. Kita berada di pertengahan November, dan kita akan mengakhiri 2021 setidaknya 50 hari lagi. Pada saat yang sama, kita berada pada hari Minggu ke-33 pada Masa Biasa, dan minggu depan, kita akan merayakan Kristus Raja, hari Minggu pamungkas dalam tahun Liturgi. Dengan demikian, Gereja memberi kita Injil yang berbicara tentang akhir zaman.

photocredit: Austrian National Library

Yesus sedang bersama murid-murid-Nya di Bukit Zaitun tepat di sebelah timur Yerusalem, menghadap Bait Allah. Salah satu murid-Nya mengklaim bahwa Bait Allah dibangun dengan megah dan sungguh, Bait Allah menjadi salah satu keajaiban kuno. Bangunan ini dibangun dengan mengumpulkan ribuan batu besar. Satu balok batu bahkan bisa mencapai lebih dari 10 ton. Tidak hanya megah, itu juga indah. Emas dan batu mulia menghiasi bangunan suci ini. Tidak heran jika banyak orang berharap bahwa Bait Allah akan bertahan selamanya.

Namun, Yesus memiliki pandang berbeda. Dia menyatakan penghakiman-Nya atas Yerusalem, dan Bait Allah akan dibakar dan dihancurkan hanya dalam satu generasi setelah Yesus. Sungguh, penghakiman Yesus menjadi kenyataan ketika pada tahun 70 M, Titus dan tentara Romawinya mengepung dan akhirnya meratakan Yerusalem. Josephus, seorang sejarawan Yahudi, menceritakan bahwa selama pengepungan, ratusan orang disalibkan setiap hari dan orang-orang di dalam kota terpaksa melakukan praktik kanibalisme untuk bertahan hidup. Bait Allah terbakar, dan setelah beberapa waktu, bangunan paling indah di zaman kuno tinggal reruntuhan dan puing-puing saja.

Mengapa Yesus mengucapkan penghakiman yang begitu mengerikan ke kota Yerusalem, ke tempat suci di Israel? Itu karena Yerusalem, terutama para penatua, menolak Yesus, dan menolak Yesus berarti menolak Tuhan sendiri. Namun, penghakiman semacam ini bukanlah pertama kalinya. Dalam Perjanjian Lama, para nabi terus memperingatkan bangsa Israel untuk kembali kepada Allah. Namun, Israel, yang diwakili oleh raja dan imamnya, menolak panggilan itu, dan bahkan menganiaya para nabi Allah. Kerajaan Israel akhirnya menghadapi penghakimannya. Kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur pada 721 SM, dan kerajaan selatan diasingkan oleh kekaisaran Babilonia pada 587 SM.

Yesus tidak bertindak seperti seorang nabi malapetaka yang pesimistis. Yesus pada dasarnya membangkitkan pesan para nabi pendahulu-Nya. Pesan Injil Yesus adalah pertobatan. Kita dipanggil untuk percaya kepada Yesus, dan ini bukan hanya di bibir kita, tetapi juga dalam hidup kita. Yesus mengkritik para pemimpin agama di zaman-Nya, baik para imam maupun kaum awam, yang melakukan tugas keagamaan mereka sebagai sebuah pertunjukan, tetapi secara diam-diam melakukan kejahatan terhadap kaum miskin Israel. Jika kita gagal untuk bertobat, kita mungkin akan menghadapi bencana yang sama.

Sering kali, saya mendengar beberapa orang berkata, “Saya akan mengakui dosa-dosa saya ketika saya sudah tua.” Atau, “Saya tidak perlu berubah karena ketika saya sekarat, saya akan menerima pengurapan orang sakit, dan saya akan pergi ke surga.” Pemikiran seperti ini berbahaya. Mengapa? Pertama, ini adalah penyalahgunaan rahmat, sebuah dosa serius. Kedua, jika kita tidak bertobat sekarang, semakin keras hati kita, dan semakin sulit untuk keluar dari jeratan dosa kita.
Penghakiman Yesus mungkin tentang akhir Yerusalem dan akhir zaman, tetapi intinya adalah tentang pertobatan kita di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Repentance and the End of Time

33rd Sunday in Ordinary Time [B]
November 14, 2021
Mark 13:24-32

We are nearing the end of the year. We are in the middle of November, and we are going to end 2021. At the same time, we are at the 33rd Sunday in Ordinary Time, and next week, we will celebrate Christ the King, the ultimate Sunday of the Liturgical year. Thus, the Church provides us with the Gospel that speaks about the end.

Danie Franco

Jesus was with his disciples on the Mount of Olive just at the east side of Jerusalem, facing the Temple. One of His disciples claimed that the Temple was magnificently built, and indeed, it turned to be one of the ancient wonders. The building was constructed by putting together thousand massive stones. One stone block could even reach more than 10 tons. Not only imposingly grand, but it was also majestic. The gold and precious stones adorned this holy structure. No wonder if people would expect that the Temple would last forever.

However, Jesus disagreed. He pronounced His judgment over Jerusalem, and the Temple would be burned and destroyed just within a generation after Jesus. Indeed, Jesus’ judgment became a reality when in 70 AD, Titus and his Roman army besieged and eventually razed Jerusalem to the ground. Josephus, a Jewish historian, narrated that a hundred people were crucified every day during the siege and people inside the city resorted to cannibalism to survive. The Temple was burning, and after some time, the most beautiful edifice in ancient times was nothing but ruins and rubbles.

Why did Jesus pronounce such terrible judgment to the city of Jerusalem, to the sacred place in Israel? Jerusalem, especially the elders, rejected Jesus, and refusing Jesus means to deny God Himself. This was not, however, that the first time. In the Old Testament, the prophets kept warning the Israelites to return to God. However, most of the time, Israel, represented by its kings and priests, declined the call and even persecuted the prophets of God. The Kingdom of Israel was eventually facing its judgment. The Assyrian empire decimated the northern kingdom in 721 BC, and the Babylonian empire exiled the southern kingdom in 587 BC.

Jesus was not acting like a pessimistic prophet of doom. Jesus resurrected the message of the prophets. The message of the Gospel is repentance. We are called to believe in Jesus, which is not only in our lips but also in our lives. Jesus criticized the religious leaders in His time, both the priests and the laity. They performed their religious duties for a show but secretly committed crimes against the poor of Israel. If we fail to repent, we might court the same disaster.

Often, I hear some people say, ‘I will confess my sins when I am old.” Or, “I do not need to change because when I am dying, I will receive the anointing of the sick, and I will go to heaven.” This kind of thinking is dangerous. Why? Firstly, it is an abuse of grace, a severe sin. Secondly, if we do not repent now, the more obstinate, we become, and the harder it is to get out from our vices.

Jesus’ judgment might be about the end of Jerusalem and the world, but the core is about repentance here and now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Photocredit: Danie Franco

Janda Miskin: Kritik untuk Gereja

Minggu Biasa ke-32 [B]

7 November 2021

Markus 12:38-44

Kita memiliki dua karakter utama dalam Injil kita hari ini. Yang pertama adalah para ahli Taurat dan yang kedua adalah sang janda miskin. Ahli Taurat adalah kelas elit masyarakat Israel kuno. Mereka adalah orang-orang terpelajar karena mereka tahu cara membaca dan menulis, keterampilan yang sangat berharga pada masa itu. Kemampuan dan hak istimewa mereka untuk mengakses Kitab-Kita Taurat membuat mereka sangat berpengaruh karena mereka mengerti dan mengajarkan Hukum Allah, dan orang-orang biasa harus mendengarkan mereka. Di sisi lain, ada janda miskin. Menjadi seorang wanita di zaman Yesus tentu bukan hal yang mudah. Selain menghadapi diskriminasi, wanita umumnya tidak diperbolehkan memiliki atau mewarisi properti. Hal ini menyebabkan mereka sangat bergantung pada anggota keluarga laki-laki mereka, seperti ayah, saudara laki-laki, atau suami. Jadi, jika seorang wanita kehilangan suaminya, dia kehilangan pelindung dan pemberi nafkahnya, dan jika seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki, dia adalah yang paling miskin di antara para janda. Tapi, Tuhan Yesus memberikan kejutan.

Yesus memuji janda miskin dan mengecam para ahli Taurat. Kemiskinan dan kesengsaraan janda miskin tidak menghentikannya untuk bermurah hati. Mungkin, dia mempersembahkan kepada Tuhan dua koin kecil terakhir yang dia miliki, dan dia mungkin akan kelaparan sepanjang hari. Namun, kasih dan imannya kepada Tuhan sangat besar. Dia tidak berpegang koin yang dapat penyelamatan hidupnya, tetapi dia percaya bahwa Tuhan akan menjaganya.

Sementara itu, tanpa berpikir dua kali, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat. Yesus mengungkapkan alasan-Nya: ahli-ahli Taurat berada di puncak masyarakat Israel dan hierarki agama Yahudi, tetapi yang mereka pedulikan adalah kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menggunakan setiap kesempatan untuk menambah kemuliaan dan popularitas mereka. Mereka menginginkan kursi terbaik, tempat tertinggi, dan kehormatan terbesar dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi-aksi megalomania ini dapat ditolerir, tetapi ada satu hal yang hampir tidak bisa dimaafkan. Menggunakan pengetahuan mereka akan Hukum untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama mereka yang miskin. Ada kemungkinan bahwa janda miskin menjadi salah satu korban mereka. Dengan hak-hak istimewa dan kebijaksanaan, mereka seharusnya membantu dan meningkatkan kehidupan orang-orang Israel yang miskin. Namun, mereka melakukan yang sebaliknya, dan menjadi penyebab penderitaan dan penindasan yang lebih besar bagi orang-orang sederhana ini. Mereka adalah ahli hukum Taurat, tetapi mereka menjadi pelanggar pertama hukum Allah ini, “Jangan mengambil keuntungan dari seorang janda atau anak yatim!” [Kel 22:22].

Injil hari ini adalah tamparan bagi banyak dari kita, terutama bagi kita yang dipercayakan dengan pewartaan Sabda Allah, dengan posisi otoritas di Gereja, dan dengan kuasa sakramen. Berkali-kali, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kasih dan pelayanannya, terutama kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Sebagai imam, saya harus bertanggung jawab dalam menggunakan properti dan harta benda Gereja, saya dipanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, saya harus mempersembahkan hidup saya untuk umat, jika tidak, saya akan melakukan ketidakadilan yang serius kepada umat Allah. Kita berdoa agar kita tidak menerima penghukuman yang sama seperti para ahli Taurat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Poor Widow: A reminder for all of us

32nd Sunday in Ordinary Time [B]
November 7, 2021
Mark 12:38-44

We have two main characters in our Gospel today. The first one is the scribes and then the poor widow. The scribes are the elite class of the ancient Israelite society. They are the learned ones because they know how to read and write, extremely precious skills during those times. Their ability to access the Torah makes them powerful because they read and teach the Law, and ordinary people should listen to them. At the other end of the spectrum, we have the poor widow. Being a woman in the time of Jesus is undoubtedly not the best time. Women generally are not allowed to possess or inherit properties. This causes them to rely heavily on their male family members, like their father, siblings, or husbands. Thus, if a woman loses her husband, she loses her protector and provider, and a widow with no sons is the neediest. But, here comes the surprise.

photocredit: Connor Hall

Jesus praises the poor widow because her poverty and misery do not stop her from becoming generous. Perhaps, she offers to the Lord the last two small coins she has, and she may go hungry for the rest of the day. Yet, her love and faith in God are enormous. She does not hold to her life-saving coins, but she trusts that God will take care of her.

Meanwhile, without a second thought, Jesus condemns the scribes. Jesus reveals His reason: the scribes are at the top of the Israelite society and Jewish religious hierarchy, but they care about their self-interests. They use every opportunity to advance their glories and fame. They desire the best seats, the highest place, and the greatest honor from the people around them. This megalomanic tendency can be tolerated, but there is one thing that is almost unforgivable. By using their knowledge of the Law, they are manipulating and exploiting the poor neighbors. There is a possibility that the poor widow is one of their victims. No wonder that Jesus calls them ‘the devourers of the poor widows. With their privileges and wisdom, they are supposed to aid and improve the lives of the poor Israelites. Yet, they do the opposite and turn to cause greater suffering for these simple people. They are masters of the Law, but they stand in direct opposition to God’s Law, “Do not take advantage of a widow or an orphan” [Exo 22:22].

Today’s Gospel is a slap on the face for many of us, especially for the people who are entrusted with God’s Word, with positions of authority in the Church, and with the power of the sacraments. Time and again, Jesus reminds His disciples that the first shall be the servant of all. The higher the position is, the greater love and service will be, especially to the poor and the needy. As priests, we must be responsible for using Church’s properties and goods, we are called to serve with dedication, we are to offer our lives for the people, otherwise, we shall commit grave injustice to the people of God. We pray that we will not receive the same condemnation as the scribes.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan tidak akan Cemburu

Minggu Biasa ke-31 [B]
31 Oktober 2021
Markus 12:28-34

Beberapa hari yang lalu, saya memberikan seminar tentang rosario, dan saya menerima pertanyaan yang cukup sulit, “Bagaimana jika devosi kita kepada Santa Perawan Maria membuat kita mencintai Maria lebih daripada Yesus?” Reaksi pertama saya adalah bahwa kasih kita kepada Yesus harus terbesar dibandingkan kepada siapa pun atau apa pun. Saya tidak mungkin salah dengan memberikan jawaban itu. Namun, dalam hati saya tidak puas dengan jawaban saya. Jika mencintai Yesus adalah satu-satunya hal yang penting, mengapa kita harus mencintai Bunda-Nya, mengapa kita harus menghormati St Yosef, ayah angkat-Nya, dan mengapa kita harus melayani Gereja-Nya? Kemudian, saya menyadari bahwa dengan logika ini, saya dapat mengatakan bahwa seorang suami tidak harus mencintai istrinya sepenuhnya, cukup cinta Yesus; seorang ibu tidak harus merawat anak-anaknya secara total, cukup cinta Yesus; seorang imam tidak harus melayani umatnya dengan penuh komitmen, cukup cinta Yesus. Logika ini mungkin menyesatkan.

photocredit: debby hudson

Injil hari ini menceritakan tentang Yesus yang mengajar kita yang pertama dan terutama dari semua hukum: Mengasihi Allah dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita, dengan segenap akal budi kita, dan dengan segenap kekuatan kita, dan kedua, untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Sangat menarik bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dengan apa yang kita miliki saja sudah cukup. Dia menambahkan perintah kedua, untuk mengasihi sesama kita, dan Hukum kedua tidak dapat dipisahkan dari Hukum pertama. Kenapa? Kuncinya adalah bahwa mengasihi sesama kita adalah bagian tak terpisahkan dari mengasihi Tuhan.

Kasih kita kepada Bunda Maria, seperti kasih kita kepada keluarga dan teman-teman kita, tidak bertentangan dengan kasih kepada Kristus. St. Yusuf, St Padre Pio, St. Dominikus tidak bersaing dengan Tuhan dalam memenangkan cinta kasih kita. Kasih kita kepada sesama sejatinya adalah ekspresi kasih kita kepada Yesus. St. Bernard dari Clairvaux, dalam tulisannya ‘On the Love of God’, menulis bahwa jenis kasih tertinggi adalah mengasihi diri kita sendiri dan sesama demi Tuhan. Sederhananya, semakin kita mengasihi Bunda Maria, semakin kita mencintai keluarga kita, dan semakin kita mengasihi Yesus. Jika kita masuk lebih dalam ke dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa Allah adalah kasih [1 Yoh 4:8]. Tuhan tidak sedang bersaing dengan keluarga dan teman-teman kita, dan merasa cemburu ketika terkadang kita memprioritaskan anak-anak kita. Kenapa? Karena Tuhan adalah kasih itu sendiri yang mengikat kita dengan orang yang kita cintai. Semakin kita secara otentik mengasihi sesama kita, semakin besar Tuhan di hati kita.

Bagaimana kita menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan kita sehari-hari? Memang ada kalanya kita harus memilih antara Tuhan dan hal-hal lain, seperti negara. St Thomas More, ketika dia akan dieksekusi, berkata, “hamba raja yang baik, tetapi Tuhan adalah yang pertama.” Namun, ini adalah kasus luar biasa. Sebagian besar, untuk mengasihi Tuhan dan untuk mengasihi sesama berjalan bersama-sama. Setiap hari Minggu, kita dapat membawa anak-anak kita ke Gereja dan beribadah bersama sebagai keluarga. Setiap malam, pasangan suami-istri bisa berdoa bersama. Pada bulan Oktober, keluarga dan komunitas dapat berdoa rosario bersama. Semakin dekat kita dengan satu sama lain, semakin dekat kita dengan Bunda Maria, dan tentunya semakin dekat lagi dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God will not be Jealous

31st Sunday in Ordinary Time [B]
October 31, 2021
Mark 12:28-34

A few days ago, I gave a seminar on the rosary, and I received a tricky question, “What if our devotion to the Blessed Virgin Mary make us love Mary than Jesus?” Honestly, my instinctive reaction was that our love for Jesus should be greatest to anyone or anything. I could not be wrong with that answer. However, the same question bothers me. If to love Jesus is the only thing matters, why should we love His Mother, why we should honor St. Joseph, His foster father, and why should we serve His Church? Then, I realized that with this logic, I could say that a husband does not have to love his wife totally, just Jesus; a mother does not have to take care of her children fully, just Jesus; a priest does not have to serve his people committedly, just Jesus. This logic may be misleading.

photocredit: Francesco Alberti

Today’s Gospel tells us Jesus, who teaches us the first of all commandments: To love God with all our hearts, with all our souls, with all our minds, and with all our strength, and secondly, to love our neighbors like ourselves. Interestingly, Jesus does not say only to love God with what we have is enough. He adds the second commandment: love our neighbors, and the Second Law is inseparable from the First Law. The key is that to love our neighbors is part and parcel of loving God.

Our love for the Blessed Virgin Mary, like our love for our family and friends, is not in opposition to Christ. St. Joseph, St. Padre Pio, St. Dominic are not competing with God in winning our loves. Our love for our neighbors is an expression of the love of Jesus. St. Bernard of Clairvaux, in his treatise ‘On the Love of God’, wrote that the highest kind of love is to love ourselves and others for God’s sake. To put it simply, the more we love the Blessed Virgin, the more we love our family, and the more we love Jesus. If we go deeper into the Bible, we will discover that God is love [1 John 4:8]. God is not competing with your family and friends and feeling jealous when sometimes you prioritize your kids. God is the love that binds us with our loved ones. The more we authentically love our neighbors, the greater God is our hearts.

How do we apply this truth in our daily lives? Indeed, there are times, we need to choose between God and other things, like the state. St. Thomas More, when he was about to be executed, said, “the king’s good servant, but God’s first.” Yet, these are exceptional cases. Most of the time, to love God and to love our neighbors go together. During Sundays, we can bring our children to the Church and worship together as a family. Every night, couples can spend time together in prayer of thanksgiving. In October, families, and communities can pray together the rosary. We are growing closer to each other, closer to our Mother, and even closer to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Vision

30th Sunday in Ordinary Time [B]
October 24, 2021
Mark 10:46-52

The story of Bartimaeus is arguably one of the most compelling and beautiful stories in the Gospel. It speaks of a man crushed by unimaginable hardship who relentlessly seeks redemption and meaning in his life. He has to live with blindness and has been struggling with darkness his entire life. Things get worse as a society, and perhaps his family rejects him as a failure. Instead of getting proper help as a person with disabilities, he must face the cruel reality of discrimination. To survive, he must beg from those people who go in and out of the city of Jericho. I do not think that Bartimaeus is some lazy guy who squanders the government’s social program. He is genuinely a victim of an oppressive system. He is the wrong man in the wrong place and at the wrong time.

photocredit: ryoji Iwata

When Jesus is passing by, Bartimaeus does what he does best: to beg. He recognizes Jesus as the Son of David, the long-awaited Messiah, and begs for pity. Jesus hears his cry for help and calls him. However, something is interesting takes place. Jesus asks him, “what do you want me to do for you?” at first glance, the question seems silly. Of course, Bartimaeus longs to see! Yet, why does Jesus ask that question despite the apparent fact?

Jesus certainly knows what Bartimaeus needs, yet Jesus, as a good teacher, guides him to articulate his deepest desire. Then the miracle happens on a much deeper level. Bartimaeus no longer calls Jesus, ‘Son of David,’ a royal Messiah, and powerful king, but he addresses Jesus as ‘Rabouni’ [my teacher]. Bartimaeus is not simply longing for a perfect 20/20 vision, but fundamentally an intimate communion with Jesus: from a respectful yet distant relation between king and his subject to a warm and empowering friendship between a master and His disciple.

Thus, Bartimaeus’ second request, ‘I want to see,’ must be understood in this light. When his eyes are opened, the first person he sees will be no other than Jesus, his beloved master. His vision is meaningless unless it is to see Jesus. His deepest desire is to see Jesus and to be with Jesus. No wonder if the story ends with Bartimaeus following Jesus in His way.

The story of Bartimaeus is impactful and classic because his story is ours as well. We are blinded by many things that make our souls destitute and lamentable. We are chasing things that impoverish our spiritual lives. We may have the best the world can offer, but we know that we are missing something.

Beato Carlo Acutis famously said, “We are born original, yet many die as photocopies.” We are all born as God’s beautiful and unique image, but as we grow as ‘photocopies’ of celebrities, we watch on TV. We are looking up to social media influencers who parade their sports cars and wealth. We are imitating ‘charismatic’ public figures who do not live virtuous lives. We are blinded and soon die as ugly ‘photocopies.’ Thus, following the lead of the excellent teacher, we need to articulate what our deepest longing in this life is. Hopefully, like St. Thomas Aquinas, we will be able to say, “Nothing but you, O Lord!”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: ryoji iwata

Visi Sejati

Minggu ke-30 Masa Biasa [B]
24 Oktober 2021
Markus 10:46-52

Kisah Bartimeus adalah salah satu kisah yang paling indah dalam Injil. Cerita ini berkisah tentang seorang pria yang dihancurkan oleh kesulitan hidup yang tak terbayangkan, namun dia tanpa henti mencari penebusan dan makna hidupnya. Dia harus hidup dengan kebutaan dan berjuang dengan kegelapan sepanjang hidupnya. Segalanya menjadi lebih buruk karena masyarakat dan mungkin keluarganya menolaknya dan melihat dia sebagai kegagalan. Alih-alih mendapatkan bantuan yang layak sebagai penyandang disabilitas, ia harus menghadapi diskriminasi yang kejam. Untuk bertahan hidup ia harus mengemis dari orang-orang yang keluar masuk kota Yeriko. Bartimaeus bukanlah seorang pengemis malas yang menyia-nyiakan program sosial pemerintah. Dia benar-benar korban dari sistem yang tidak adil pada zamannya.

Minggu ke-30 Masa Biasa [B]
24 Oktober 2021
Markus 10:46-52

Kisah Bartimeus adalah salah satu kisah yang paling indah dalam Injil. Cerita ini berkisah tentang seorang pria yang dihancurkan oleh kesulitan hidup yang tak terbayangkan, namun dia tanpa henti mencari penebusan dan makna hidupnya. Dia harus hidup dengan kebutaan dan berjuang dengan kegelapan sepanjang hidupnya. Segalanya menjadi lebih buruk karena masyarakat dan mungkin keluarganya menolaknya dan melihat dia sebagai kegagalan. Alih-alih mendapatkan bantuan yang layak sebagai penyandang disabilitas, ia harus menghadapi diskriminasi yang kejam. Untuk bertahan hidup ia harus mengemis dari orang-orang yang keluar masuk kota Yeriko. Bartimaeus bukanlah seorang pengemis malas yang menyia-nyiakan program sosial pemerintah. Dia benar-benar korban dari sistem yang tidak adil pada zamannya.
photocredit: riccardo annandale

Ketika Yesus melewati Yeriko menuju Yerusalem, Bartimeus melakukan apa yang biasa dilakukan: mengemis. Dia mengakui Yesus sebagai Anak Daud, Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu, dan memohon belas kasihan. Yesus mendengar teriakan minta tolong dan memanggilnya. Namun, ada hal menarik yang terjadi. Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kamu ingin aku lakukan bagimu?” Tampaknya, pertanyaan ini tampak konyol. Tentu saja, Bartimeus ingin melihat! Namun, mengapa Yesus menanyakan pertanyaan itu meskipun faktanya sudah jelas?

Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan Bartimeus, namun Yesus, sebagai guru yang baik, membimbingnya untuk mengartikulasikan keinginannya yang terdalam. Yesus memampukan Bartimeus untuk bersuara. Kemudian mukjizat terjadi di tingkat yang jauh lebih dalam. Bartimeus tidak lagi menyebut Yesus, ‘Anak Daud,’ seorang Mesias dan raja yang berkuasa, tetapi dia menyebut Yesus sebagai ‘Rabouni’ [guruku]. Bartimeus tidak hanya merindukan penglihatan mata yang sempurna, tetapi sejatinya persekutuan yang intim dengan Yesus: dari hubungan yang saling menghormati namun jauh antara raja dan rakyatnya, menjadi persahabatan yang hangat dan memberdayakan antara seorang guru dan murid-Nya.

Jadi, permintaan kedua Bartimeus, ‘Saya ingin melihat’, harus dipahami dalam konteks ini. Ketika matanya terbuka, orang pertama yang dilihatnya tidak lain adalah Yesus, gurunya yang terkasih. Penglihatannya tidak ada artinya kecuali untuk melihat Yesus. Keinginan terdalamnya adalah untuk melihat Yesus dan bersama Yesus. Tak heran jika cerita berakhir dengan Bartimeus mengikuti Yesus di jalan-Nya.

Kisah Bartimeus sangat indah dan tergolong kisah klasik karena cerita ini adalah milik kita juga. Kita dibutakan oleh banyak hal yang membuat jiwa kita melarat dan menyedihkan. Kita mengejar hal-hal yang memiskinkan kehidupan rohani kita. Kita mungkin memiliki yang terbaik yang dapat ditawarkan dunia, tetapi kita tahu bahwa kita kehilangan yang paling penting.

Beato Carlo Acutis pernah berkata, “Kita dilahirkan sebagai orisinal, namun banyak yang mati sebagai fotokopian.” Kita semua dilahirkan sebagai citra Tuhan yang indah dan unik, tetapi kita tumbuh sebagai ‘fotokopi’ selebriti yang kita tonton di TV. Kita mengidolakan influencer media sosial yang memamerkan mobil sport dan kekayaan mereka. Kita meniru tokoh masyarakat yang ‘karismatik’ tetapi tidak hidup berbudi luhur. Kita dibutakan dan akhirnya mati sebagai ‘fotokopi’ yang jelek. Jadi, mengikuti petunjuk sang guru yang baik, kita perlu mengartikulasikan apa kerinduan terdalam kita dalam hidup ini. Mudah-mudahan, seperti St. Thomas Aquinas, kita akan dapat berkata, “Tidak ada yang lain selain Engkau, ya Tuhan!”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP