To Receive a Prophet

13th Sunday in Ordinary Time [A]
July 2, 2023
Matthew 10:37-42

Jesus said, “Whoever receives a prophet because he is a prophet will receive a prophet’s reward,” At first glance, this statement seems usual, but at a closer look, there is something extraordinary. A prophet of God will receive his reward, but should not a person who welcomes a prophet gains something less? After all, that person simply provides a temporary shelter, perhaps water and food; indeed, he does not labor as hard as the prophet. Then, why did Jesus insist that the host of a prophet shall receive a prophet’s reward?

TThe neo-gothic fresco of big prophets Isaiah, Jeremiah, Ezekiel, Daniel by Leopold Bruckner from end of 19. cent. in Saint Nicholas church.

To understand the main reason behind Jesus’ extraordinary statement is that we need to know the roles of God’s prophets. A prophet, or in Hebrew נָבִיא (nabi), is a person who receives a gift/charisma to speak on behalf of God. In everyday use, the prophet foretells the future, but when it comes to the prophets of God in the Bible, predicting the future is only one aspect of their roles. The fundamental role of the prophet of God is to remind the people of their covenant with the Lord God and foretell the ugly things that would happen if they persisted in their sins. Thus, prophets of God are synonymous with the preachers of repentance.

Amos spoke against idolatry in Bethel. Elijah confronted wicked kings and queens. Jeremiah preached against injustice and evil deeds committed by Judah. John the Baptist criticized Herod Antipas for marrying his brother’s wife. These are several famous names in the Bible, but they sufficiently tell us what true prophets are. They speak the truth, and truth can be very inconvenient. Thus, many do not like true prophets and even persecute them. Jesus Himself told us, “A prophet is not without honor except in his own country and in his own house (Mat 13:57).”

It is not easy to receive a true prophet. It is hard to accept someone who speaks inconvenient truths about us. We naturally like people who praise and adore us, but we hate people who remind us about our wrongdoings. However, if we open ourselves and welcome the prophet of God into our lives, we receive the prophet’s reward. Yet, again, what is the prophet’s reward?
We may see the answer in the story of Jonah. He preached against the city of Nineveh. The people welcomed and listened to him. They repented, and they survived the disaster that would befall them. The Nineveh was saved because they accepted Jonah. Thus, the prophet’s reward is none other than salvation. As the prophet is saved when he faithfully preaches God’s word to the people despite rejection and persecution, the people will also be saved as they receive the prophet and repent.

Jesus invites us not only to be a prophet who speaks the truth and fidelity to God but also to be someone who accepts a prophet of God in our lives. Receiving is not only welcoming them into our houses but, more fundamentally, listening to their words and being moved toward God. How are the prophets in our lives? Do we reject them, or do we welcome them? What is the inconvenient truth they say that is for us to accept?

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

25 Juni 2023

Matius 10:26-33

Takut adalah salah satu emosi manusia yang paling mendasar dan primitif. Rasa takut dapat didefinisikan sebagai reaksi emosional dan fisiologis terhadap bahaya atau ancaman yang dirasakan. Pada manusia dan banyak hewan, bagian kuno dari otak kita yang disebut amigdala memainkan peran penting dalam mengatur rasa takut. Ketika potensi ancaman terhadap kehidupan kita dirasakan, amigdala melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini meningkatkan kewaspadaan kita dan memperkuat tubuh kita, dan dengan demikian, meningkatkan peluang kita untuk menyelamatkan hidup kita. Amigdala (dan rasa takut) bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kita.

Akan tetapi, ada masalah besar. Otak kita, tidak seperti otak hewan, jauh lebih kompleks dan pintar. Amigdala hanyalah bagian yang kecil dari sistem yang lebih besar. Seiring dengan semakin majunya otak kita, pemahaman kita akan rasa takut pun semakin rumit. Kita tidak hanya takut pada bahaya fisik di depan mata kita, seperti api atau hewan buas, tapi juga pada potensi ancaman dan bahaya yang sebenarnya belum ada, atau bahkan tidak akan pernah ada. Dalam batas-batas tertentu, jenis ketakutan ini sesuatu yang normal, tetapi saat ketakutan ini berlebihan, ini menjadi permasalahan serius dalam hidup kita. Ketakutan ini muncul dalam berbagai bentuk seperti ‘overthinking,’ ‘comfort zone’, dan ‘insecurity (minder)’. Ketakutan ini melumpuhkan kita dan bahkan menekan pertumbuhan otentik kita.

Apa yang Yesus ajarkan kepada kita tentang rasa takut? Kita sering membaca dalam Injil bahwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jangan takut!” Namun, apakah ini berarti Yesus ingin kita menekan emosi kita? Apakah Yesus memerintahkan kita untuk bersikap gegabah dan mengabaikan rasa takut sama sekali? Injil hari ini memberi kita kebijaksanaan yang lebih dalam tentang ajaran Yesus tentang rasa takut. Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam Gehena (mat 10:28).” Yesus tidak meminta kita untuk mati rasa terhadap semua jenis takut, melainkan untuk mengetahui apa atau siapa yang benar-benar harus kita takuti.

Yesus sangat memahami bahwa rasa takut adalah emosi dasar manusia. Rasa takut memiliki tujuan penting untuk bertahan hidup; tanpa rasa takut, spesies manusia sudah lama punah. Oleh karena itu, membedakan antara objek ketakutan yang nyata dan yang semu sangat penting untuk menangani rasa takut kita dengan benar. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa kita bukan hanya makhluk duniawi tetapi terutama makhluk yang diciptakan untuk Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu lebih takut pada hal-hal yang akan memisahkan kita dari Allah, terutama dosa. Ya, secara alamiah kita takut akan hal-hal yang membahayakan tubuh kita, tetapi kita harus lebih takut akan hal-hal yang membahayakan jiwa kita, bahkan jika hal-hal tersebut memberikan kenyamanan dan keamanan bagi tubuh kita. Ajaran Yesus selaras dengan hikmat Perjanjian Lama: takutlah akan Tuhan (lihat Pkh. 12:13; Mzm. 34:9). Kita tidak takut kepada Tuhan karena Dia menakutkan, tetapi kita takut kehilangan Dia untuk selama-lamanya.

Sekarang, saatnya kita mengevaluasi hidup kita. Apa saja objek takut yang semu dalam hidup kita yang menghalangi kita untuk bertumbuh dan mengasihi Tuhan dan sesama kita? Apakah kita lebih takut pada hal-hal yang membahayakan kehidupan duniawi kita atau hal-hal yang menjauhkan kita dari kehidupan kekal? Apakah kita siap untuk menghadapi rasa takut kita demi Yesus?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fear

12th Sunday in Ordinary Time [A]
June 25, 2023
Matthew 10:26-33

Fear is one of the most basic and primitive human emotions. Fear can be defined as an emotional and physiological reaction to perceived dangers or threats. In humans and many animals, an archaic part of our brain called the amygdala plays an important role in regulating fear. When potential threats to our lives are perceived, the amygdala releases stress hormones like cortisol and adrenalin. These hormones heighten our alertness and strengthen our bodies, and thus, increase our chances of survival. The amygdala (and its fear) is responsible for our survival.

However, there is a big problem. Our brains, unlike animal brains, are much more complex and advanced. Amygdala is just a very small part of a bigger system. As our intellect goes sophisticated, our understanding of fear is getting complicated. We are afraid not only of physical danger before our eyes, like fire, explosion, and venomous animals but also of potential threats and dangers that do not exist yet. Here comes the problem. We fear something that is not a real danger or even something that is not real. This fear manifests in different forms like ‘overthinking,’ ‘staying in your comfort zone,’ and ‘insecurity.’ This fear paralyzes us and even suppresses our authentic growth.

How does Jesus teach us about fear? We often read in the Gospel that Jesus said to His disciples, “Do not fear!” Yet, what does it mean ‘to have no fear’? Does it mean Jesus wants us to repress our emotions? Does Jesus instruct us to be reckless and disregard fear altogether? Today’s Gospel gives us a deeper insight into Jesus’ teaching on fear. Jesus said, “And do not be afraid of those who kill the body but cannot kill the soul; rather, be afraid of the one who can destroy both soul and body in Gehenna.” Jesus did not ask us to be numb to all kinds of fear but rather to know what or who we must truly fear.

Jesus knows well that fear is fundamental emotion of a human person. Fear serves the critical purpose of survival; without it, the human species would have ceased to exist long ago. Thus, distinguishing between the real objects of fear and the fake ones is imperative in properly handling our fear. However, Jesus reminds us that we are not simply earthly beings but primarily beings created for God. Consequently, we must fear the most things that will separate us from God. Yes, we are naturally afraid of those things that harm our bodies, but we must fear those things that harm our souls more, even if these things give us comfort and security from bodily harm. Jesus’ teaching is in harmony with Old Testament’s wisdom: one must fear the Lord (see Ecc 12:13; Psa 34:9). We do not fear the Lord because He is fearsome, but we fear that we may lose Him for eternity.

Now, it is our time to reflect and evaluate our lives. What are the false objects of fear in our lives prevent us from growing and loving God and our neighbors? Do we fear more those things that harm our earthly lives or those that put us away from eternal life? Are we ready to face our fear for the sake of Jesus?

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekaristi dan Manna

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Corpus Christi)
11 Juni 2023
Yohanes 6:51-58

Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau juga disebut Hari Raya Corpus Christi (bahasa Latin yang berarti “Tubuh Kristus”). Melalui hari Minggu ini, Gereja mengundang seluruh umat beriman untuk merenungkan sekaligus merayakan salah satu misteri dan mukjizat agung iman Katolik, yaitu kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam setiap Ekaristi. Seperti yang kita dengar dari Injil Yohanes, Yesus benar-benar memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan yang nyata, dan mereka yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan memiliki hidup yang kekal (Yohanes 6:51). Namun, apakah kita benar-benar memakan Tubuh dan Darah Yesus? Apakah itu berarti kita memakan daging manusia, dan dengan demikian, kita melakukan kanibalisme?

Ya, kita memang makan dan minum Tubuh dan Darah Kristus, tetapi kita tidak melakukan tindakan kanibalisme. Mengapa demikian? Cara termudah untuk menjawab tuduhan ini adalah dengan pergi ke Gereja dan mengamati liturgi Ekaristi itu sendiri. Dalam perayaan misa, tidak ada orang yang memakan daging mentah atau vampir yang menghisap darah segar. Tidak ada yang bersifat kanibal sama sekali dalam Ekaristi. Jadi, di manakah Tubuh dan Darah Kristus? Jawabannya mungkin sedikit rumit. Roti dan anggur yang dipersembahkan dan dikonsekrasikan oleh imam bukan lagi roti dan anggur biasa. Ya, apa yang terlihat tetap sama, tetapi kodratnya berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang sesungguhnya. Dalam perspektif ini, kita mengambil bagian dalam Yesus bukan dengan cara kanibal, melainkan dengan cara ekaristi.

Namun, ada hal yang lebih menarik lagi jika kita membaca perkataan Yesus dengan seksama. Ketika Yesus menjelaskan tentang realitas Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan yang sejati, Yesus membuat perbandingan tipologis dengan Manna yang diterima bangsa Israel di padang gurun. Apakah Manna itu? Banyak dari kita beranggapan bahwa Manna hanyalah sejenis roti biasa. Namun, jika kita membaca dengan seksama Kitab Keluaran 16, reaksi orang Israel yang melihat dan mengambil Manna itu sangat terkejut karena mereka tidak pernah melihat makanan semacam itu sebelumnya. Faktanya, kata Manna berasal dari bahasa Ibrani מָן הוּא (baca: man hu; Kel 16:15), yang secara harafiah berarti “apakah ini?” Orang Israel ragu-ragu, tetapi Musa meyakinkan mereka bahwa ini adalah roti yang datang dari surga untuk menopang mereka dalam perjalanan melalui padang gurun.

Dari perbandingan tipologis ini, Yesus ingin kita melihat Tubuh-Nya seperti Manna dalam Perjanjian Lama. Sebagaimana Manna adalah makanan sejati yang berasal dari surga, demikian juga Tubuh Yesus adalah makanan sejati yang berasal dari surga. Sebagaimana Manna adalah makanan yang menopang perjalanan bangsa Israel di padang gurun, demikian juga Tubuh Yesus adalah makanan yang menopang perjalanan kita di bumi. Sebagaimana Manna terlihat seperti roti biasa, namun pada kenyataannya merupakan sesuatu yang melampaui pemahaman bangsa Israel, demikian juga Tubuh Kristus terlihat seperti roti biasa, namun pada kenyataannya merupakan rahmat terbesar yang melampaui pemahaman kita.

Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya, seluruh diri-Nya kepada kita sebagai roti kehidupan yang menyehatkan dan melestarikan kita di lembah duka ini. Ekaristi menjadi bukti kasih-Nya, bahwa Dia akan menyertai kita sampai akhir zaman.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Kita Percaya kepada Tritunggal Mahakudus

Hari Raya Tritunggal Mahakudus
4 Juni 2023
Yohanes 3:16-18

Pada hari Minggu setelah Pentekosta, Gereja merayakan misteri dari segala misteri, yaitu Tritunggal Mahakudus, Satu Allah dalam Tiga Pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tidak diragukan lagi, kebenaran ini sangat sulit untuk dipahami, apalagi dijelaskan. Namun, mengapa Gereja bersikeras untuk mengajarkan hal ini dan bahkan merayakan misteri ini? Mengapa Gereja tidak mengajarkan sesuatu yang lebih sederhana daripada misteri Tritunggal, dan mungkin, Gereja dapat memperoleh lebih banyak pengikut?

Gereja tidak dapat mengubah ajaran tentang Tritunggal Mahakudus. Mengapa? Karena ini adalah kebenaran Injil! Seandainya Gereja memproklamasikan versi Allah yang telah dipermudah, Gereja akan berada dalam kesalahan besar dan kehilangan identitasnya sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus. Kenyataannya, ada upaya-upaya untuk mengubah misteri ini sejak awal sejarah Gereja. Ada beberapa teolog yang mengusulkan bahwa Allah itu hanya satu satu pribadi (bukan tiga), dan Dia hanya menampakkan diri dalam berbagai ‘mode’ ketika berhadapan dengan ciptaan. Dia adalah Bapa ketika Dia menciptakan dunia, Putra ketika Dia menyelamatkannya, dan Roh Kudus ketika Dia menguduskannya. Ajaran ini secara tradisional disebut sebagai modalisme, dan Gereja menolak tegas ajaran ini.

Ajaran lain mengatakan bahwa Bapa adalah satu-satunya Allah, sementara Yesus (dan Roh Kudus) bukanlah ilahi, dan dengan demikian tidak ada ‘Tritunggal’. Salah satu pencetus pandangan ini adalah Arius dari Aleksandria dari abad ke-4 Masehi. Dia mengatakan bahwa Yesus bukanlah ilahi, melainkan makhluk ciptaan yang dikaruniai kekuatan super. Pada masa itu, hal ini menjadi kontroversi besar, dan kesederhanaan ajaran Arius menarik banyak orang. Gereja tahu bahwa ajaran ini tidak benar dan dengan tegas menyatakannya sebagai ajaran yang salah, dan karena itu Gereja harus mengalami penganiayaan. Banyak umat beriman memilih mati daripada meninggalkan misteri Tritunggal Mahakudus.

Mengapa kita tidak memilih ajaran tentang Tuhan yang lebih sederhana? Mengapa Gereja mempertahankan kebenaran yang sangat kompleks dan sulit tentang Tritunggal Mahakudus? Ajaran-ajaran yang sederhana mungkin menarik dan mudah diterima, tetapi bukan berarti ajaran-ajaran yang lebih kompleks secara otomatis salah atau tidak relevan. Sebagai contoh, penjumlahan dan pengurangan adalah hal yang paling mendasar dan paling sederhana dalam matematika, tetapi matematika juga mengandung aljabar dan geometri yang kompleks. Apakah ini berarti kita dapat dengan mudah mengabaikan aljabar dan menganggapnya salah karena terlalu rumit untuk kita pahami? Tentu saja tidak! Kebenaran tidak berubah meskipun kita tidak menyukainya atau mengabaikannya. Kebenaran tetap ada meskipun kita mencoba untuk menggantinya.

Bagi Gereja, misteri Tritunggal Mahakudus bukanlah satu kebenaran di antara kebenaran lainnya, melainkan kebenaran dari segala kebenaran. Bahkan, kebenaran inilah yang menyelamatkan. Seperti halnya mempelajari kebenaran matematika yang dapat membantu kita dalam membangun rumah dan dengan demikian, meningkatkan kehidupan kita. Demikian pula mempelajari dan menghayati kebenaran tertinggi, misteri Tritunggal, dapat membawa kita lebih dekat kepada kehidupan kekal. Akan tetapi, jika kita mempercayai dan mengajarkan pemahaman yang salah tentang Allah kita, hal ini dapat menyesatkan kita dan bahkan membahayakan keselamatan jiwa kita. Inilah sebabnya mengapa kita senantiasa percaya, mengajarkan dan menghidupi misteri Tritunggal Mahakudus.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Why We Believe in the Holy Trinity

The Most Holy Trinity

June 4, 2023

John 3:16-18

On Sunday after Pentecost, the Church celebrates the mystery of all mysteries, the Most Holy Trinity. Doubtless, this truth is most challenging to understand, let alone to explain. Yet, why does the Church insist on teaching this and even celebrate the mystery? Why doesn’t the Church teach something more straightforward than the mystery of the Trinity, and perhaps, the Church could have gained more followers?

The Church cannot change the teaching of the Holy Trinity. Why? It is the truth of the Gospel! Had the Church proclaimed watered-down versions of God, the Church would be in grave error and lose its identity as the Church founded by Christ. In fact, there have been attempts to change this mystery since the beginning of the Church’s history. Some theologians proposed that God is one, but He appeared in different modes when dealing with creation. He was the Father when He created the world, the Son when He saved it, and the Holy Spirit when He sanctified it. This teaching is traditionally called modalism. The Church rejected this teaching.

Another teaching says that the Father is the only God, while Jesus (and the Holy Spirit) are not divine, and thus there is no ‘Trinity’. One of the proponents of this view is Arius of Alexandria from the fourth century AD. He said that Jesus was not divine, but a created being gifted with superpowers. In his own words about Jesus, “There was time that he was not.” At that time, it was a huge controversy, and the simplicity of his teaching attracted a lot of people. The Church declared it a false teaching, and because of that, the Church had to endure persecution. Many faithful chose death rather than renounce the mystery of the Holy Trinity.

Why don’t we go for the simpler teaching of God? Why does the Church stand for the highly complex and difficult truth of the Holy Trinity? Simple teachings may be attractive and easy to accept, but it does not mean that more complex teachings are automatically false or irrelevant. For example, addition and subtraction are foundational and simplest in mathematics, but the same mathematics also contains complex algebra and geometry. Does it mean we can easily ignore algebra and dismiss it as false because it is too complex to understand? Certainly not! The truth does not change even if we do not like it or ignore it. The truth remains, even though we try to water it down.

For the Church, the mystery of the Holy Trinity is not just any truth but the truth of all truths and the mystery of all mysteries. In fact, it is the truth that saves. Studying mathematical truths can help us in building houses and, thus, improve our lives, so researching and living the ultimate reality, the mystery of the Trinity, can bring us closer and closer to eternal life. However, the opposite is also true. If we believe and teach the wrong understandings of our God, this may lead us astray and put our souls in a precarious situation. This is why we constantly believe, teach, and live the mystery of the Holy Trinity.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi lemah?

Minggu ke-7 dalam Waktu Biasa [A]
19 Februari 2023
Matius 5:38-48

Pada hari Minggu ini, kita akan menemukan salah satu ajaran moral Yesus yang paling kontroversial. Karena ajaran ini, kita, umat Kristiani, sering dituduh sebagai orang yang lemah, bodoh, dan tunduk pada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Namun pada saat yang sama, ketika kita mencoba memperjuangkan keadilan, lawan-lawan kita dengan mudah menggunakan ayat-ayat ini untuk melemahkan kita. Mereka menuduh kita tidak berbelas kasih dan tidak tahu mengampuni. Jadi, bagaimana kita memahami ajaran ini? Apakah ini berarti bahwa seorang istri harus pasrah saja dengan perlakuan kasar suaminya? Apakah itu berarti kita harus menutup mata terhadap kejahatan dan ketidakadilan di sekitar kita?

Yesus membuka pengajaran-Nya dengan mengutip Hukum Taurat Musa, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi (lih. Kel. 21:24).” Bagi telinga orang modern, hukum ini terdengar kejam dan primitif, tetapi tujuan sebenarnya dari hukum ini adalah untuk mencegah pembalasan yang berlebihan. Ketika seseorang mencuri seekor domba, ia harus mengembalikan seekor domba atau hal yang setara. Musuh-musuhnya tidak dapat menuntut seluruh rumahnya sebagai ganti seekor domba. Hukum ini bertujuan untuk menumbukan rasa keadilan, untuk mengekang eskalasi kekerasan yang tidak perlu.

Kemudian, Yesus mengubah hukum Musa ini dengan mengucapkan ajaran baru, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat!” Bagi Yesus, kita harus lebih dari sekadar mencari pembalasan yang setimpal. Namun, apakah itu berarti kita harus menerima semua dengan pasrah dan pasif? Jika kita melihat lebih dalam ke dalam Perjanjian Lama, kita akan menemukan ajaran yang serupa seperti Amsal 24:29, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan berbuat kepadanya seperti yang diperbuatnya kepadaku.” (lihat juga Yes 50:6). Dengan demikian, ajaran Yesus untuk tidak membalas kejahatan bukanlah ajaran yang unik bagi Yesus. Jadi, apakah Yesus benar-benar memperbaharui Hukum Taurat Musa?

Ajaran Yesus yang inovatif bukanlah tentang menerima kejahatan secara pasif, melainkan secara aktif menaklukkan kejahatan dengan kebaikan. Kita dapat memahami hal ini jika kita memperhatikan dengan seksama contoh yang Yesus berikan. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu (Mat 5:40).” Baju (bahasa Yunani: χιτών, chiton) biasanya merupakan kain sederhana yang dipakai untuk menutupi tubuh, sedangkan jubah (bahasa Yunani: ἱμάτιον, himation) merupakan pakaian yang lebih mahal, dan dikenakan di atas baju. Jadi, Yesus mengatakan bahwa jika seseorang meminta pakaian sederhana kita, jangan hanya memberikan pakaian yang biasa saja, tetapi juga pakaian yang lebih berharga. Tindakan ini pasti akan membingungkan banyak orang, tetapi ini juga menunjukkan ketulusan dan upaya kita untuk mengakhiri permusuhan, serta membuka kemungkinan rekonsiliasi dan bahkan persahabatan.

Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya harus mengakui bahwa tidak ada resep tunggal untuk semua orang. Penerapannya tergantung pada konteks dan kebijaksanaan kita. Salah satu contoh kasus yang baik adalah Santo Yohanes Paulus II dan Ali Agca. Pada tanggal 13 Mei 1981, Ali berusaha membunuh Paus di Lapangan St. Petrus, Roma. Dia menembak beberapa kali dan melukai bapa suci. Namun mukjizat terjadi. Paus lolos dari maut, dan selamat dari upaya jahat tersebut. Ali ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Apa yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II terhadap Ali? Dia memaafkan Ali dan bahkan mengunjunginya di penjara. Tindakan ini cukup berani, karena Ali bisa saja menyerang Paus dan membunuhnya. Namun, pertemuan itu berlangsung dengan baik, dan keduanya berjabat tangan. Ya, Ali diampuni, tapi, apakah itu berarti Ali bisa langsung keluar dari penjara? Tidak sama sekali, Ali tetap menjalani hukuman penjara selama dua puluh tahun, karena itu adalah keadilan, tetapi pada saat yang sama, rekonsiliasi terjadi.

Menjadi pengikut Yesus sungguh sulit karena kita tidak hanya mencari keadilan, tetapi juga harus membawa musuh-musuh kita lebih dekat kepada Yesus. Namun, dengan rahmat Allah, hal ini bisa terjadi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Winning Your Enemies

7th Sunday in Ordinary Time [A]
February 19, 2023
Matthew 5:38-48

This Sunday, we encounter one of the most controversial of Jesus’ moral teachings. Because of these teachings, we, Christians, are often accused as being weak, stupid, and submissive in face of evil. Yet at the same time, when we try to fight for justice, our opponents readily utilize these verses against us. They accuse us as not being compassionate, loving and forgiving. So, how do we understand this? Does it mean that a wife simply must endure her abuse husband? Does it mean we do close our eyes to evil and injustice around us?


Jesus opens His teaching with quoting the Law of Moses, “An eye for an eye and a tooth for a tooth (see Exo 21:24).” For modern ears, this law sounds cruel and even barbaric, but the real purpose of this law is to prevent excessive retaliation. When someone stole a lamb, he shall return a lamb or its equivalent. His enemies cannot demand his entire house in place of a lamb. The law is to promote sense of justice, to curb unnecessary violence, and escalation.


Then, Jesus transforms this law of Moses by pronouncing a new teaching, “do not resist evil!” For Jesus, we must go beyond seeking an equal retribution. But, does it mean we have to helplessly become a punching bag?
If we look deeper into the Old Testament, we will discover similar teachings like Proverbs 24:29, “Do not say, “I will do to him as he has done to me.” (check also Isa 50:6). Thus, Jesus’ teaching to resist no evil is not unique to Jesus. So, does Jesus truly transform the Law of Moses then?


Jesus’ ground-breaking teaching is not on passively receiving evil, but rather actively conquering evil with goodness. We can understand this if we look carefully Jesus’ examples. “If anyone wants to go to law with you over your tunic, hand him your cloak as well (Mat 5:40).” Tunic (Greek: χιτών, chiton) is usually a simple cloth and worn to cover the body, while clock (Greek: ἱμάτιον, himation) is more expensive garment, and put over the tunic. Thus, Jesus is saying that if someone demands your simple cloth, do not only give the ordinary one, but also the more precious garment. The action will surely puzzle many people, but it also shows our sincerity and effort to end enmity, as well as open the possibility of reconciliation and even friendship.


The real challenge is how to apply Jesus’ teaching in our daily lives. I must admit there is no one-size-fits-all answer. The application depends on your context and our prudence. One good example will be St. John Paul II and Ali Agca. On May 13, 1981, he attempted to assassinate the Pope. He shot several times and wounded the holy man. Miraculously, the Pope escaped death, and survived the evil attempt. Ali was arrested and sentenced to prison. What did Pope John Paul II do to Ali? He forgave Ali and even visited him in prison. The act was daring enough, because Ali might attack the Pope, and kill him for sure. Yet, the meeting was cordial, as both shook hands. Yes, Ali was forgiven, but, does it mean Ali can immediately walk out of prison? Not at all, Ali served his imprisonment for twenty years, because it is justice, but at the same time, the reconciliation takes place.
Being followers of Jesus is truly tough because we do not only look for justice, but also we need to bring our enemies closer to Jesus. Yet, with God’s grace, this is made possible.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Laws of the Hearts

6th Sunday in Ordinary Time
February 12, 2023
Matthew 5:17-37

Having heard Jesus’ teachings on the keys to happiness (the Beatitudes) and our identities as the Salt of the Earth and the Light of the World, we are now delving into the heart of Jesus’ moral teachings. Here, Jesus makes it clear that He has come not to abolish the Law and the Prophets, but to fulfil them. Jesus’ teachings are not at odds with the Old Testament, but instead perfect and transform it. Yet, why does Jesus have to transform it?

photocredit: Levi Meir

The first reason is that many laws in the Old Testament were given by God to consecrate and separate the Israelites as a holy nation for the Lord alone. The ancient Israelites were living among the gentiles who worshiped many gods, and lived immoral conducts. The God of Israel is the only true God, and He wanted the Israelites to worship Him alone and live according to His true goodness. Thus, God gave the Ten Commandments, forbidding the worship of other gods (idols) and prohibiting behaviours such as murder, adultery, theft, and other evil practices that were common among the gentiles.

However, God’s laws do not only about morality, but also various details in liturgical life (for example, the Book of Leviticus) and also civil conducts (for example, the Book of Deuteronomy). God’s laws and regulations in the Old Testament are numerous and details. Why are so many rules?

One of the fundamental reasons is the hardness of the hearts. The formation of Israelites as the people of God was proven to be tough process. As they lapsed into previous idolatrous and sinful lifestyles, God placed new and stricter laws. At the same time, God allowed certain concessions like permitting divorce (Deu 24:1-4).

Jesus understands the true purpose behind his Father’s giving of the Law and why the Israelites were given so many laws – because of the hardness of their hearts. Jesus is well aware that without proper heart formation, an increase in rules will be ineffective. Thus, Jesus says, “For out of the heart come evil intentions, murder, adultery, fornication, theft, false witness, slander (Mat 15:19).” Laws and regulations are generally good because they guide us in doing something properly. They also protect us from harms, as well as give clarity in midst of confusion. Yet, no matter how good the laws are, as long as the hearts are hard, the men will always find a way to bend the laws.

So how can we have a renewed and humble hearts? The first and the most important factor is the grace of God. Only God’s grace can make our stony hearts into a living and new hearts (see Eze 36:26). This is why sacramental life is truly fundamental, especially through the participation of the holy Eucharist every Sunday (even better, every day) and regular confessions.

Secondly, hearts are formed by virtues, and virtue is no other than a good habit. Forming good habits can be difficult, but we can always begin with simple, consistent steps. Instead of saying bad words when we are angry, we can pause and choose another better alternative, like saying prayers. We can also explore with other habits.

Lastly, our hearts should be guided by our right reasons. It is wise to seek to understand the reasons behind the laws we follow. Knowing that laws (especially the Laws of God) are there for our goodness make us docile to follow them. God is the perfect Father and He made His Laws for the true maturity of His children.

“O Lord, create a pure and humble hearts in me!”

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Engkaulah Terang Dunia

Minggu ke-5 Waktu Biasa [A]
5 Februari 2023
Matius 5:13-16

Setelah Yesus membuka pengajaran-Nya di bukit dengan Sabda Bahagia, Ia melanjutkan dengan menjelaskan identitas murid-murid-Nya. “Engkau adalah terang dunia.” Mengapa Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai terang dunia? Terang adalah salah satu tema penting dalam Alkitab. Kembali ke kisah penciptaan, salah satu hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah terang. “Jadilah terang! Dan terang itu jadi (Kejadian 1:1).” Sekali lagi, mengapa terang menjadi topik penting dalam Alkitab?

Ini ada hubungannya dengan kodrat dasar manusia itu sendiri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk cahaya atau terang. Hidup kita bergantung pada cahaya di sekitar kita. Yang paling penting adalah cahaya matahari, tetapi juga cahaya yang berasal dari sumber-sumber lain baik yang alami maupun buatan. Kita membutuhkan cahaya untuk menavigasi dunia kita. Untuk bekerja, bergerak, membaca, menggunakan gadget adalah beberapa aktivitas yang bergantung pada cahaya. Mata kita, salah satu organ yang paling kompleks dalam tubuh kita, pada dasarnya adalah reseptor (penerima) cahaya yang baik. Cahaya tidak hanya menjadi dasar untuk navigasi dan aktivitas kita, tetapi juga sangat penting untuk pertumbuhan dan fungsi biologis kita. Cahaya matahari yang tepat membantu tubuh kita menghasilkan beberapa senyawa kimia penting, seperti vitamin D dan hormon dopamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan depresi, penurunan fungsi kognitif dan gangguan siklus bangun-tidur (ritme sirkadian).

Allah yang menciptakan kita dan juga terang, sangat mengetahui hubungan antara manusia dan terang. Oleh karena itu, Yesus menyebut kita sebagai terang dunia. Seperti halnya terang bagi tubuh kita, adalah misi kita untuk membantu orang lain di sekitar kita untuk menavigasi kehidupan mereka menuju kebahagiaan sejati (silakan cek refleksi saya minggu lalu mengenai kebahagiaan) dan bertumbuh menjadi pribadi dewasa dan kudus.

Namun, bagaimana cara kita menjadi terang dunia? Yesus memberikan jawabannya, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16).” Kita diharapkan untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain, dan perbuatan baik dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dalam tradisi Katolik, kita memiliki tujuh karya kasih jasmani dan juga rohani. Karya-karya tersebut contohnya adalah memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang sakit, mengajar orang lain tentang iman, mengingatkan orang lain untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Kita juga dapat memulai perbuatan baik kita dari rumah dan keluarga, seperti memberi makan anak-anak kita dengan makanan yang sehat, dan mengajar anak-anak kita dalam iman dan moralitas.
Namun, kita juga harus berhati-hati karena sebagai terang, godaannya adalah untuk bersinar dan menarik orang lain kepada diri kita sendiri, bukannya menuntun mereka kepada Kristus. Kita harus ingat bahwa terang kita adalah agar orang lain dapat ‘memuliakan Bapa kita yang di surga’ bukan memuliakan diri kita sendiri. Bahaya kedua adalah kita kehabisan bahan bakar. Kita merasa lelah setelah melakukan banyak pekerjaan baik. Solusinya bisa sesederhana dengan beristirahat dan tidur yang cukup, serta pola hidup yang sehat, atau mungkin kita perlu mengatur ulang prioritas hidup kita. Namun, secara rohani, kita harus ingat bahwa terang yang sejati adalah Kristus sendiri. Dia berkata, “Akulah terang dunia (Yoh 8:12).” Kita adalah terang dunia karena kita ada di dalam Kristus dan berpartisipasi dalam dan merefleksikan terang-Nya (lih. Gal 2:20). Kita tidak boleh lupa untuk menyatukan diri kita dalam terang yang sejati melalui doa-doa kita dan sakramen-sakramen kudus, terutama Ekaristi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP