Kuasa Terbesar

Minggu Biasa ke-29 [B]
17 Oktober 2021
Markus 10:35-45

Yakobus dan Yohanes sedang mencari posisi yang paling berharga di kerajaan Yesus. Duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri raja berarti memerintah bersama dengan raja itu sendiri. Kembali ke Perjanjian Lama, orang yang duduk di sebelah kanan Raja Solomon tidak lain adalah sang ibu, Batsyeba. Ibu ratu sangat dihormati oleh raja sendiri dan dia memiliki kekuatan yang sangat besar [1 Sam 1 – 2].

photocredit: ravi roshan

Apa yang membuat kisah Injil ini lebih menarik adalah bahwa Yakobus dan Yohanes berusaha mengambil posisi ini dengan cara yang cerdik. Mereka langsung pergi kepada Yesus, dan memanfaatkan kesempatan ketika murid-murid yang lain sedang sibuk dengan hal-hal lain. Tentunya, ketika murid-murid lain menyadari rencana mereka, mereka menjadi marah. Mengapa? Mereka juga menginginkan posisi yang sama, dan juga kekuatan yang menyertainya.

Mengapa para murid terobsesi dengan kekuasaan dan posisi? Mengapa kita sangat menginginkan kekuasaan? Secara sederhana, kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan orang lain. Ketika kita memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang perlu kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan, kita kuat dan berkuasa. Ketika kita dapat mengontrol dan mempengaruhi orang lain, kita bahkan menjadi lebih kuat dan berkuasa. Ketika kita kuat dan berkuasa, kita memegang kendali, dan ketika kita memegang kendali, kita merasa sebuah kepuasan dan kenikmatan. Tidak heran jika kita menginginkan kekuasaan.

Apakah kekuasaan sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak! Seperti hal-hal lain di dunia ini, kekuasaan adalah sarana dan dapat memiliki tujuan yang baik. Dengan kekuasaan, kita dapat melakukan hal-hal yang membuat kita tumbuh dan mencapai potensi maksimal kita. Dengan kekuasaan, kita dapat membantu orang lain dan masyarakat untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, dan kebaikan bersama. Dengan kekuasaan, kita dapat mencegah orang lain menyakiti diri sendiri dan orang lain. Namun, seperti hal-hal duniawi lainnya, kekuasaan rentan terhadap penyalahgunaan. Kekuatan yang sama dapat digunakan untuk memanipulasi dan menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain.

Yesus memahami dengan baik dinamika kekuasaan. Dia sendiri tidak mengajarkan bahwa kekuatan itu jahat, atau sesuatu yang harus dihilangkan. Sebaliknya, Dia menunjukkan tujuan kekuasaan yang sebenarnya. Yesus menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah tentang memiliki kekuatan militer atau ekonomi. Kekuasaan yang sejati adalah untuk saling melayani. Yesus bahkan mengajarkan hal yang lebih radikal bahwa orang yang paling bebas dan paling berkuasa adalah orang yang dengan bebas menyerahkan hidupnya agar orang lain dapat memiliki hidup sepenuhnya. Kekuatan sejati bukanlah tentang memiliki dan mengumpulkan lebih banyak kekuatan dan kendali, melainkan tentang memberi dan memberdayakan orang lain. Kekuasaan menghancurkan ketika di dalam hati kita diperbudak oleh dosa.

Apa yang menakjubkan tentang kekuasaan adalah bahwa hampir setiap orang memilikinya. Sekarang, kembali kepada kita untuk menggunakan kekuasaan ini untuk melayani sesama atau untuk menghancurkan mereka. Seorang ibu dapat menggunakan kekuasaannya atas bayi di dalam kandungannya dengan merawat bayinya, namun ibu yang sama dapat menggunakan kekuasaannya untuk membinasakan dan menggugurkan kandungannya. Seorang imam dapat menggunakan kuasanya untuk menguduskan umatnya dan mendidik mereka di jalan Tuhan, atau ia dapat menggunakannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih nyaman, dan bahkan popularitas. Yesus mengingatkan kita bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari pada seseorang yang dengan rela memberikan hidupnya agar orang lain dapat hidup sepenuhnya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Greatest Power

29th Sunday in Ordinary Time [B]
October 17, 2021
Mark 10:35-45

James and John are seeking second-most prized positions in the kingdom. To be seated at the king’s right and left means to co-reign with the king himself. Going back to the Old Testament, one who was seated at the right of King Salomon was no other than his queen-mother, Bathsheba. The king himself highly respected the queen-mother, and she was wielding considerable power [1 Sam 1 – 2].

photocredit: jasmin staab

What makes this episode more intriguing is that James and John attempt to grap this position by the shrewd plot. They go directly to Jesus and seize the opportunity when the rest of the disciples are busy with other things. Indeed, when the other disciples are aware of their plot, they become indignant. Why? They also desire the same spot and the power it brings.

Why is it that the disciples are obsessed with power and position? Why do we want power so badly? Simply put, power is the ability to control oneself and others. When we can do what we need to do and what we want to do, we are powerful. When we can control and influence others, we are even more powerful. When we are powerful, we are in control, and when we are in charge, we feel good about ourselves. No wonder if we want power.

Is power something terrible? Not at all! Like other things in this world, power may serve a good purpose. With power, we can perform things that make us grow and achieve our fullest potential. With power, we can help others, and the community achieves progress, prosperity, and the common good. With power, we can prevent others from harming themselves and others. However, like other earthly things, power is susceptible to abuse. The same power can be used to manipulate and destroy ourselves and others.

Jesus understands well the dynamics of power. He does not teach that power is evil, nor something to be eliminated. Instead, He points out the true purpose of power. Jesus shows that power is not about having military might or economic forces. The genuine use of power is to serve one another. Jesus even goes one step further that the freest and most powerful man is the one who freely gives up his life so that others may have life to the fullest. True power is not about having and accumulating more power and control but giving and empowering others. Power corrupts when inside our hearts are slaved by sins.

What is impressive about power is that practically everyone has it. Now, it is up to us to use this power to serve others or to destroy them. A mother may exercise her power over her baby in her womb by taking care of the baby, but the same mother may use her power to destroy and abort it. A priest can exercise his power to sanctify his people and educate them in the ways of the Lord, or he can use them to gain a more comfortable life and even popularity. Jesus reminds us that there is no greater power than one who freely offers his life so that others may live to the fullest.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: jasmin staab

Yesus dan Orang Kaya

Minggu Biasa ke-28 [B]
10 Oktober 2021
Markus 10:17-27

Ketika seorang kaya datang dan memohon untuk kehidupan kekal, Yesus menyebutkan dua prinsip paling mendasar dari agama Yahudi: ‘Shema’ dan Sepuluh Perintah Allah. Shema adalah kata Ibrani pertama dalam “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa…” [Ul 6:4]. Shema telah menjadi doa dasar dan pernyataan kredo bagi orang-orang Yahudi sejak zaman Yesus. Seorang Yahudi yang baik akan mendaraskan ‘Shema’ setidaknya tiga kali sehari. Yesus sedikit memodifikasi Shema ketika Dia berkata, “…Hanya Tuhan saja yang baik.” Yesus juga menyebutkan Sepuluh Perintah Allah, setidaknya paruh keduanya. Yesus menekankan kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menghindari hal-hal jahat bagi sesama.

photocredit: amirali

Yesus mengajarkan pria itu bahwa menjalankan Shema dan melakukan perintah Tuhan adalah apa yang perlu dia lakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal. Namun, ada sebuah kejutan yang menarik dalam cerita ini. Orang kaya itu mengatakan bahwa dia telah melakukan hal-hal itu sejak dia masih muda. Sekarang, alih-alih merasa puas dengan pencapaiannya, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Meskipun melakukan apa yang dituntut Hukum Allah dan percaya pada satu Tuhan Allah yang benar, pria itu tidak menemukan apa yang benar-benar ia rindukan. Dia berharap Yesus memberikan jawabannya, sebuah mata rantai yang hilang.

Yesus mengenali ketulusan pria itu dan mengasihinya. Yesus menawarkan kepadanya bagian terakhir yang akan memecahkan teka-teki hidupnya: mengikuti Yesus. Namun, Yesus juga tahu persis satu hambatan besar untuk mengikuti-Nya dan memperoleh hidup yang kekal. Orang ini terikat pada kekayaannya. Jadi, solusinya adalah secara radikal melepaskan diri dari kekayaan, seperti ‘unta melalui lubang jarum’.

Apakah kekayaan itu jahat? Sama sekali tidak! Harta benda adalah baik karena ini juga diciptakan oleh Tuhan dan berkat Tuhan. St Paulus mengingatkan kita bahwa yang jahat bukanlah kekayaan itu sendiri, tetapi cinta akan uang [1 Tim 6:10]. Kekayaan itu baik jika berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan, dan bukan tujuan akhir itu sendiri. Jika kita membaca Injil, kita juga akan melihat bagaimana Yesus mengizinkan diri-Nya dan pelayanan-Nya didukung oleh pria dan wanita yang kaya.

Mengikuti Yesus berarti menggunakan kekayaan kita untuk melayani Tuhan dan membantu orang lain terutama yang miskin. Mengikuti Yesus berarti kita menyadari bahwa kekayaan adalah berkat Tuhan. Mengikuti Yesus berarti mengakui bahwa mengejar harta benda duniawi tanpa Allah pasti akan kehilangan Allah, sumber segala kekayaan.

Namun, keputusan untuk mengikuti Yesus dan menjadikan prioritas kita yang lain seperti uang, ketenaran, dan kesuksesan sebagai sarana daripada tujuan adalah pilihan yang radikal. Harta duniawi ini sering memberi kita kesenangan dan perasaan aman instan. Dengan banyak uang, kita dapat melakukan apa yang kita inginkan, dan kita dapat memiliki apa yang kita mau. Namun, kesenangan dan keamanan ini hannyalah fatamorgana. Pada tahun 2008, krisis keuangan melanda banyak negara, dan banyak ekonomi runtuh. Paus Emeritus Benediktus XVI mengingatkan kita, “mereka yang hanya mencari kesuksesan, karier atau uang sedang membangun di atas pasir.” Benar, kekayaan tanpa Tuhan, tidak lain adalah ‘pasir’.

Kita mencari dahulu Kerajaan Allah, dan sisanya akan diberikan. Kita mengikuti Yesus terlebih dahulu, dan hal-hal lain akan mengikuti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Rich

28th Sunday in Ordinary Time
October 10, 2021
Mark 10:17-27

When the rich man begged for eternal life from Jesus, He mentioned the two most fundamental tenets of the Jewish religion: the ‘Shema’ and the Ten Commandments. Shema is the first Hebrew is ‘Hear O Israel, the Lord is God, the Lord alone…” [Deu 6:4]. Shema has become a basic prayer and creedal statement for the Jewish people since Jesus’ time. A good Jew will recite ‘Shema’ at least thrice a day. Jesus slightly modified Shema when He said, “…Only God alone is good.” Jesus also recited the Ten Commandments, at least the second half of it. Jesus emphasized the rich man’s obligations to do good and avoid harm to others.

Jesus seemed to tell the man that living the Shema and doing the Lord’s commandment was what he needed to do to gain eternal life. However, there was an intriguing twist in the story. The rich man said that he had done that since he was young. Now, instead of feeling satisfied with his accomplishment, he felt something remained missing. Despite doing what the Law required and believing in one true God, he did not find what he was honestly longing for. He expected Jesus to give him the answer, the missing link.

Jesus recognized the sincerity of the man and loved him. Jesus offered him the final piece that would solve his life’s puzzle: to follow Jesus. Yet, through His divine wisdom, Jesus was able also to identify one enormous obstacle to follow Jesus and gain eternal life. This man was attached to his wealth. Thus, the solution was to radically detach himself from the wealth, like ‘camel through an eye of a needle.

Is wealth evil? Not at all! Material possessions are good because this too is created by God and God’s blessing. St. Paul reminded us that evil is not the richness itself but the love of money [1 Tim 6:10]. Wealth is good if it serves as a means to an end and not the end itself. Jesus allowed Himself and His ministry to be supported by resourceful men and women.

To follow Jesus means using our wealth to serve God and help others, especially the poor. To follow Jesus means that we recognize that richness is God’s blessing to be shared. To follow Jesus is acknowledging that pursuit of earthly possessions without God is bound to lose God, the source of all wealth.

However, following Jesus and making our other priorities like money, fame, and success as means rather than the end is a radical choice. These earthly possessions often give us an instant pleasure and feeling of security. With a lot of money, we can do what we want and have what we desire. Yet, these pleasures and security are nothing but a mirage. In 2008, the financial crisis hit many countries hard, and many economies collapsed. Pope Emeritus Benedict XVI reminded us, “those who seek success, career or money are building on sand.” True, wealth without God is nothing but a ‘sand’.
We seek first the Kingdom of God, and the rest will follow. We follow Jesus first, and the other things will fall into place.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: vince gx

Mengapa Yesus Membenci Perceraian

Minggu ke-27 Masa Biasa
3 Oktober 2021
Markus 10:2-16

Beberapa orang menuduh Gereja ‘kolot’ karena mengajarkan pernikahan Katolik adalah monogami dan tidak terceraikan. Kita dikecam karena tidak peka dan tidak fleksibel terhadap berbagai masalah pernikahan yang mengguncang pasangan dan menuntut perceraian. Gereja Katolik disalahkan atas pernikahan yang tidak bahagia karena kita menolak untuk mendengarkan tuntutan masyarakat pasca-modern.

photocredit: John Appelagate

Namun, banyak yang lupa bahwa perceraian, perzinahan, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga lebih tua dari Yesus dan Gereja yang Dia dirikan. Hal-hal mengerikan ini telah terjadi sejak awal umat manusia. Apa yang ‘kolot’ dan menyebabkan ketidakbahagiaan tidak lain adalah dosa. Ajaran Yesus tentang pernikahan adalah radikal karena Dia melibas berbagai tembok tebal dosa dan kembali ke rencana awal Tuhan.

Ketika orang Farisi menguji Yesus dan mengungkit masalah perceraian. Mereka berharap bahwa Yesus akan berpihak pada pandangan konservatif tentang perceraian atau yang lebih terbuka. Lagi pula, Musa mengizinkan perceraian. Namun, Yesus memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan kebenaran sejati. Dia mencabut izin perceraian yang diberikan Musa. Yesus tahu betul bahwa Musa terpaksa mengeluarkan peraturan itu karena ketegaran hati dan dosa.

Yesus mengingatkan orang-orang Farisi tentang rencana awal Allah bagi pria dan wanita. Dengan mengutip Kitab Kejadian, Yesus mengajarkan bahwa pria dan wanita tidak dapat menemukan kebahagiaan sejati baik dalam ‘binatang’ atau benda, atau dalam memanipulasi pria atau wanita lain. Yesus, sebagai pencipta pernikahan, menegaskan kembali bahwa hanya dengan ‘meninggalkan ayah dan ibu’ dan ‘menjadi satu dengan istrinya’, manusia dapat menjadi satu tubuh yang utuh. Ini adalah bahasa simbolis bahwa pria dan wanita dapat menemukan kebahagiaan sejati dengan memberikan diri mereka sepenuhnya kepada satu sama lain.

Pernikahan monogami adalah institusi ilahi dan manusiawi untuk melindungi dan mendorong pasangan untuk memberikan hidup mereka sepenuhnya dan untuk mencintai secara radikal. Suami diundang untuk menjadi pria yang lebih dewasa, dan berperan sebagai pelindung, penyedia, dan pemimpin. Istri dipanggil untuk lebih mencintai, dan menjadi seseorang yang benar-benar merawat dan mendidik. Saat mereka saling memberi lebih banyak, semakin mereka tumbuh dan semakin mereka menemukan kembali diri mereka sendiri, dan semakin mereka menemukan sukacita.

Dengan pasangan yang lebih dewasa dan penuh kasih, pernikahan menjadi tempat terbaik untuk tumbuh bagi anak-anak kita. Di sinilah mereka diterima, dilindungi, dan dicintai. Di sinilah mereka belajar nilai-nilai terbaik pertama dalam hidup mereka: kasih, kesetiaan, keadilan, komitmen, dan pengorbanan.

Beberapa orang mengatakan bahwa pernikahan semacam ini terlalu rumit dan terlalu sulit untuk menjadi kenyataan. Namun, sejatinya ini adalah simple dan sangat indah. Yang membuat pernikahan menjadi rumit dan sulit adalah dosa. Kekerasan dalam rumah tangga menciptakan luka yang dalam dan traumatis, dan anak-anak kita tumbuh sebagai orang dewasa yang penuh kekerasan. Perzinaan menghancurkan kesetiaan dan kepercayaan, dan membentuk anak-anak menjadi seseorang yang tidak percaya diri. Perceraian melukai hubungan manusia secara permanen, dan membawa anak-anak kita ke dalam kekacauan.

Memang benar bahwa kehidupan pernikahan bisa sangat sulit, tetapi suami dan istri tidak pernah sendirian. Allah yang memanggil mereka ke dalam persekutuan, akan memberikan rahmat yang diperlukan. Dan dengan kasih karunia Tuhan, bahkan cobaan dan kesulitan dalam pernikahan dapat berubah menjadi kesempatan cinta dan pertumbuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Why Jesus Hates Divorce

27th Sunday in Ordinary Time
October 3, 2021
Mark 10:2-16

Some people accuse the Church of being old-fashioned because Catholic marriage is a monogamous and permanent union. We are denounced for being insensitive and inflexible to various marriage problems that rock the spouses and demand divorce. The Catholic Church is blamed for the unhappy marriages because we refuse to hear the demands of the post-modern societies.

photocredit: Sandy Millar

However, many forget that divorce, adultery, infidelity, and domestic violence are older than Jesus and the Church He founded. These awful things have been taking place since the dawn of humanity. What is old-fashioned and causing unhappiness is nothing but sin. Jesus’ teaching on marriage is radical because He bulldozes various thick walls of sins and returns to the original plan for God.

When the Pharisees tested Jesus and brought up the issue of divorce, they would expect that Jesus would like to take a side either with the conservative view of divorce or the more relaxed one. After all, Moses permitted divorce. Yet, Jesus seized the moment and dropped the bomb. He did not take a side, but He revoked Moses’ permit on divorce. Jesus knew well that Moses had been forced to issue that regulation because of the hardness of hearts.

Jesus reminded the Pharisees of the original plan of God for men and women. By quoting the Book of Genesis, Jesus taught that man and woman could find true happiness neither in ‘animals’ nor things nor manipulate another man or woman. Jesus, as the creator of marriage, reiterated that only by ‘leaving their father and mother’ and ‘be one with his wife’ can a man be one whole body. This is a powerful language that man and woman can find true wholeness by giving themselves totally to each other.

Monogamous marriage is a divine and human institution to protect and encourage spouses to give their lives entirely and love radically. Husbands are invited to become more mature men and assume the role of protector, provider, and leader. Wives are called to be more loving and to become someone who genuinely nurtures and educates. As they give each other more, the more they grow and the more they rediscover themselves, and the more they find greater joy.

With more mature and loving couples, marriage becomes the best place to grow for our children. It is where they are received, protected, and loved. Here, they learn the first best values in their lives: love, fidelity, justice, commitment, and sacrifice.

Some people say that this kind of marriage is too complicated and too beautiful to be true. Yet, it is pure and simply beautiful. What makes things in marriage complicated and challenging is sin. Domestic violence creates deep and traumatic wounds, and our children may grow as violent adults. Adultery destroys fidelity and trust and forms the children into someone who is distrustful. Divorce injures human relations permanently and leads our children into turmoil.

While it is true that marriage life can be extremely tough, husbands and wives are not never alone. God who calls them into communion will provide the necessary grace. And with God’s grace, even the trials and hardship in marriage can turn into an occasion of love and growth.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hell is Real [so also Heaven]

26th Sunday in Ordinary Time [B]
September 26, 2021
Mark 9:38-43, 45, 47-48

For Jesus, hell is real. Jesus talks about hell with no hold barred. Jesus is unrestrained to tell what He hates deeply: hell and what causes people to go there. Like His contemporary, Jesus calls this awful reality ‘Gehenna.’ The word Gehenna itself comes from a Hebrew language that means ‘the valley of Hinnom’. What’s impressive, it was a real place located south of Jerusalem. People of Jerusalem and environs would dump their garbage and waste there and burn them. The fire was unquenched, the odor was unbearable, poisonous smoke filled the place, and things were decaying. What was more ominous was the same place had been a place of idolatrous worships and child sacrifices in the Old Testament’s time [2 Kgs 23:10]. Because of these, the prophets cursed the site and gradually became the epitome of a damned place.

Jesus used two powerful symbolism to explain what took place there: “their worm does not die, and the fire is not quenched.” Some thought these two things were happening in hell, but the Church recognizes that these imageries speak deeper. Worms are animals that are mainly responsible for the body’s decomposition. Inside the tomb, the worms feast on the dead body. Fire surely can be excellent and beneficial, but fire can also be the source of destruction and pain. If in Gehenna, these worms do not die and fire does not cease, this symbolizes perpetual corruption and misery.

Jesus loathed hell because it was diametrically opposed to God and His plan. If heaven is the union with God, then hell is the separation with God. If there is one thing that cuts our relationship with God is sin. Thus, no wonder that Jesus was furious with those who cause others to sin and our tendencies to evil. Jesus precisely came to the world to save us from hell, but if we deliberately sin against God, then we render His crucifixion and death useless.

Jesus uses the metaphor of amputation to save our souls from sin. Jesus teaches us that sins are like gangrenous wounds that will gradually spread throughout the body and destroy it entirely. It may start with small things, but it slowly grows big. A drastic measure has to be taken to save a life. We need to cut it before it goes wild and uncurable. What makes this sin even heinous is not only gangrenous but also highly contagious. Innocent yet spiritually weak may quickly get infected. No wonder Jesus is even more indignant with people who spread these spiritual diseases.

We need to cut it with true repentance and humble recognition that we are sinners. We escape hell by saying no to ourselves daily and saying yes to God. We return to grace by asking God’s mercy and His forgiveness in sacramental confession. We heal our wounds through a life of humble prayers. We start our journey to heaven by carrying our crosses daily and by loving deeply and truly.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Neraka itu Nyata [Begitu juga Surga]

Minggu Biasa ke-26 [B]

26 September 2021

Markus 9:38-43, 45, 47-48

Bagi Yesus, neraka itu nyata. Yesus berbicara tentang neraka tanpa keraguan. Yesus tidak ragu untuk mengatakan apa yang sangat Dia benci: neraka dan apa yang menyebabkan orang pergi ke sana. Seperti orang-orang pada zaman-Nya, Yesus menyebut kenyataan yang paling mengerikan ini sebagai ‘Gehenna’. Kata ‘Gehenna’ sendiri berasal dari Bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti ‘lembah Hinom’. Lembah ini sungguh tempat nyata yang terletak di selatan Yerusalem pada zaman Yesus. Orang-orang Yerusalem dan sekitarnya akan membuang sampah, kotoran dan limbah mereka di sana dan membakarnya. Ini adalah gunung sampah  dimana api terus membara, bau menyengat, asap beracun memenuhi tempat itu, dan barang-barang terus membusuk. Yang lebih menakutkan adalah tempat yang sama untuk penyembahan berhala dan pengorbanan anak di zaman Perjanjian Lama [2 Raj 23:10]. Karena itu, tempat itu dikutuk oleh para nabi [Yer 7:31–32] dan kemudian menjadi lambang tempat terkutuk.

Yesus menggunakan dua simbolisme yang kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”. Beberapa orang mengira kedua hal ini adalah hal-hal yang sungguh terjadi di neraka, tetapi Gereja mengajarkan bahwa gambaran-gambaran ini berbicara sesuatu yang lebih dalam. Ulat adalah hewan yang terutama bertanggung jawab atas pembusukan tubuh. Di dalam kubur, cacing atau ulat hadir untuk mengurai jenasah. Api memang baik dan bermanfaat, tetapi api juga bisa menjadi sumber kehancuran dan sakit. Jika di dalam Gehenna, ulat-ulat ini tidak mati dan api tidak berhenti, ini melambangkan kerusakan dan penderitaan yang tiada akhir.

Yesus membenci neraka karena sangat bertentangan dengan Allah dan rencana-Nya. Jika surga adalah persatuan dengan Tuhan, maka neraka adalah pemisahan dengan Tuhan. Jika ada satu hal yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan adalah dosa. Jadi, tidak heran, Yesus sangat marah dengan orang-orang yang menyebabkan orang lain berdosa dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari neraka, tetapi jika kita dengan sengaja berbuat dosa terhadap Allah, maka kita membuat penyaliban dan kematian-Nya sia-sia.

Yesus menggunakan metafora amputasi untuk menyelamatkan jiwa kita dari dosa. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dosa seperti luka gangren spiritual yang lambat laun akan menyebar ke seluruh tubuh dan menghancurkannya seluruhnya. Ini mungkin dimulai dengan hal-hal kecil, tetapi secara bertahap tumbuh besar. Tindakan drastis harus diambil untuk menyelamatkan nyawa. Kita harus memotongnya sebelum menjadi liar dan tidak dapat disembuhkan. Apa yang membuat dosa ini bahkan keji tidak hanya menyebar ke seluruh jiwa, tetapi juga sangat menular sehingga orang-orang yang imun rohaninya lemah dapat dengan mudah terinfeksi. Tak heran, Yesus malah semakin murka dengan orang-orang yang menyebarkan penyakit rohani ini.

Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu memotongnya dengan pertobatan sejati dan kerendahan hati bahwa kita adalah orang berdosa. Kita lolos dari neraka dengan mengatakan tidak kepada diri kita sendiri setiap hari dan mengatakan ya kepada Tuhan. Kita kembali kepada rahmat Allah dengan memohon belas kasihan Tuhan dan pengampunan-Nya dalam sakramen pengakuan dosa. Kita menyembuhkan luka kita melalui kehidupan doa yang sejati. Kita memulai perjalanan kita ke surga dengan memikul salib kita setiap hari dan dengan mengasihi secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Anak-anak Kecil

Minggu ke-25 Waktu Biasa [B]
19 September 2021
Markus 9:30-37

Di antara banyak ciptaan hidup, bayi manusia adalah yang paling rentan. Setelah dilahirkan, beberapa spesies hewan dapat bertahan hidup sendiri dan bahkan langsung berburu. Bayi manusia yang ditinggalkan sendiri pasti akan mati. Anak kecil tidak hanya bergantung pada orang tuanya, tetapi mereka yang paling rentan terhadap berbagai penyakit. Tanpa gizi seimbang dan pengobatan yang tepat, bayi tidak akan tumbuh menjadi dewasa secara sempurna, melainkan akan mengalami pertumbuhan yang terhambat, mengindap berbagai penyakit, dan bahkan meninggal di usia dini. Menjadi bayi dan anak kecil, itu adalah tahap terlemah dari perkembangan manusia.

photocredit: alex Pasarelu

Tanpa perawatan dan perlindungan yang cukup dari orang dewasa, anak-anak dapat menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai pelecehan. Mereka harus melewatkan pendidikan dan bekerja di tempat-tempat berbahaya tanpa istirahat dan upah yang cukup. Beberapa bahkan diculik dan dijual sebagai budak atau budak seks. Di daerah yang dilanda perang, anak laki-laki direkrut menjadi tentara anak-anak, dan dipaksa untuk melakukan kekejaman dan pembunuhan.

Kita bersyukur bahwa dengan upaya nasional dan global untuk memerangi kekerasan terhadap anak, kita dapat berharap bahwa anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang lebih baik. Sekarang, mari kita kembali ke zaman Yesus. Kita dapat membayangkan bahwa kondisinya jauh lebih buruk bagi anak-anak. Angka kematian bayi sangat tinggi, dan anak-anak dengan pertumbuhan terhambat sangat banyak. Kita juga bisa membayangkan banyak anak kehilangan orang tua mereka lebih awal, karena kelaparan, bencana, dan perang. Banyak yang harus mengangkat pedang dan membunuh atau dibunuh. Yang terburuk di antara semuanya, anak-anak ditangkap dan ditumbalkan untuk dewa-dewa palsu. Ini adalah waktu terburuk untuk hidup bagi anak-anak.

Jadi, sikap Yesus untuk menyambut dan merangkul anak-anak kecil adalah sebuah gerakan revolusioner. Instruksi Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa mereka perlu menerima dan melayani anak-anak dalam nama-Nya adalah radikal. Para murid tidak benar-benar melayani sesama sampai mereka melayani anak-anak kecil, yakni mata rantai terlemah dari masyarakat kita. Yesus sendiri mengerti bagaimana menjadi seorang anak kecil. Dia adalah bagian dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Ia lahir di sebuah gua kotor yang penuh dengan binatang. Dia mengalami menjadi lemah dan rentan di tangan Maria dan Yusuf. Mungkin, Yesus kecil kadang-kadang lapar karena Yusuf mungkin tidak membawa cukup makanan. Mungkin, Yesus harus membantu ayah angkatnya sebagai tukang kayu sejak usia dini. Jadi, Yesus dengan berani mengajarkan bahwa menyambut seorang anak kecil berarti menyambut Dia.

Ajaran radikal ini memiliki implikasi yang besar. Gereja dengan tegas mengajarkan kesucian hidup, dan membela kehidupan anak-anak kecil bahkan yang belum lahir. Mengikuti ajaran Yesus, kita sangat menentang aborsi atau pembunuhan bayi. Sejak awal, kita membangun panti asuhan untuk anak yatim, dan merawat pendidikan mereka. Banyak juga yang terlibat langsung dalam pelacakan dan pengungkapan perdagangan anak. Lebih dari itu, Gereja berusaha keras untuk membentuk dan melindungi keluarga Katolik, dan mempersiapkan pria dan wanita untuk menjadi ayah dan ibu, karena kita percaya keluarga adalah tempat terbaik untuk menyambut anak-anak, dan memastikan pertumbuhan mereka yang baik.

Menerima anak-anak kecil berarti menerima Yesus, dan mengasihi anak-anak kecil ini berarti mengasihi Kristus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and Little Children

25th Sunday in Ordinary Time [B]
September 19, 2021
Mark 9:30-37

Among many animal species, human infants are the most vulnerable. After birth, some animals can survive on their own and even go hunting. Human babies left by themselves will surely die. The little children depend on their parents, and their weak bodies are the most susceptible to various illnesses. Without balanced nutrition and proper medical treatment, infants will not grow into perfect maturity but will experience stunted growth, develop chronic sicknesses, and even die early. Being an infant and a little child is the weakest stage of human development.

photocredit: isaac quesada

Without enough care and protection from adults, children may fall victim to domestic violence and various abuses. Young boys and girls have to miss education and work in dangerous places without enough rest and payment. Some even were abducted and sold into slavery or became sex slaves. In war-torn areas, the boys are recruited into child soldiers and forced to commit atrocities and murders.

Our world surely has improved and become a better place for children. With national and global efforts to combat child abuses, we hope that our children will grow into a better version of our generation. Now, let us go back to the time of Jesus. We can imagine that conditions were a lot worse for children. The infant mortality rate was extremely high, and children with stunted growth were numerous. We can also imagine many children lost their parents early due to famine, disasters, and wars. Many had to wield a sword and either kill or be killed. Worst among all, children were caught and sacrificed to the false gods. These were the worst time to live for children.

Thus, Jesus’ gesture to welcome and embrace little children is a revolutionary. Jesus’ instruction to His disciples that they need to receive and serve children in His name is radical. The disciples do not truly serve others until they serve the weakest link of our society. Jesus Himself understood how it was to become a little one. He was part of a low-income family of Joseph and Mary. He was born in a dirty cave full of animals. He experienced being weak and vulnerable at the hands of Mary and Joseph. Perhaps, little Jesus occasionally got hungry because Joseph might not bring enough food. Perhaps, Jesus had to help his foster father as a carpenter at an early age. Thus, Jesus boldly taught that to welcome a little child is to welcome Him.

This radical teaching has a great implication. The Church firmly teaches the sanctity of life and defends the lives of little children, even the unborn. Following the teaching of Jesus, we strongly oppose abortions or the killing of babies. Since the beginning, many religious men and women have built shelters for orphans and cared for their educations. Many also are involved directly in tracking and exposing child trafficking. More than that, the Church is putting a lot her effort into forming and protect the Christian families and preparing men and women to become fathers and mothers because we believe family is the best place to welcome children and ensure their upbringing.

To accept little children is to accept Jesus, and to love these little ones is to love Christ.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP