Minggu Kedua Masa Biasa [B]
17 Januari 2021
Yohanes 1: 35-42
Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”
Saya seorang Katolik sejak kecil dan saya tidak dapat mengingat lagi kapan saya mendengar Anak Domba Allah ini untuk pertama kalinya. Namun, saya tidak pernah bertanya mengapa Yesus dipanggil seperti itu. Mungkin, itu hanyalah salah satu gelar Yesus. Namun, Saya secara bertahap mempelajari kebenaran yang indah ini saat saya masuk seminari dan mendalami pembelajaran teologi dan Kitab Suci.
Jika kita menempatkan diri kita pada posisi para murid yang hidup di Palestina abad pertama, kita akan melihat betapa dalamnya gelar ini. Ketika para murid mendengar ‘Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,’ mereka dengan mudah mengerti apa yang dimaksud oleh Yohanes Pembaptis.
Pertama, domba adalah hewan korban utama di Bait Allah Yerusalem. Setiap hari anak domba disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Khususnya pada hari raya Paskah, ribuan ekor domba dibawa ke Bait Allah dan dikorbankan. Meskipun pengorbanan anak domba bukan satu-satunya cara untuk menyembah Tuhan yang benar, ini berfungsi sebagai cara beribadah yang utama. Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita mengakui bahwa penyembahan yang benar dan utama kepada Allah terjadi di dalam Yesus.
Kedua, salah satu hari raya Yahudi terpenting adalah hari raya Paskah. Ini merayakan kebebasan dari perbudakan bani Israel dari Mesir. Salah satu ciri utama dari perayaan ini adalah anak domba yang dikorbankan. Kitab Keluaran memberikan rincian bagaimana Paskah pertama harus diperingati. Anak domba berumur satu tahun yang tidak bercacat harus disembelih. Darahnya ditempatkan di tiang pintu rumah orang Israel dan tubuhnya yang dipanggang akan dimakan [lihat Keluaran 12]. Untuk menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menyadari bahwa kita diselamatkan oleh pengorbanan dan darah Yesus, dan kita juga perlu makan tubuh-Nya.
Ketiga, satu nubuat yang menghubungkan seorang manusia dengan seekor domba berasal dari Yesaya. Nabi besar ini berbicara tentang sosok misterius ‘hamba Tuhan yang menderita.’ Hamba Allah ini akan menebus Israel, tetapi Dia harus menanggung penderitaan dan kematian yang hebat, meskipun tidak bersalah. Sang Nabi menulis, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… [Yes 53: 7]. ” Dengan menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menerima Yesus sebagai Penebus kita yang menderita dan wafat bagi kita.
Sekarang, kita telah mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita perlu melakukan apa yang dilakukan para murid pertama: mereka ‘tinggal’ bersama Dia. Para murid tidak hanya mengenal dan menerima Yesus, tetapi mereka mengikuti dan tinggal bersama-Nya. Tidaklah cukup bagi kita untuk melihat Yesus sebagai Anak Domba, tetapi kita diundang untuk tinggal bersama-Nya, untuk menjadi murid-Nya yang sejati.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: Daniel Sandvik

John the Baptist identified Jesus as the ‘Lamb of God.’ If we are attending the celebration of the Eucharist, we cannot miss hearing this phrase. Just before the communion, the priest will hold the consecrated bread and wine, and present them to the faithful, then saying, “Behold the Lamb of God, Behold Him who takes away the sin of the world. Happy are those invited to the supper of the Lamb!”
Baptism of the Lord is one of the defining moments in the life of Jesus. The synoptic gospels [Matthew, Mark, and Luke] writes this event, though with their own perspective and emphasis. We are in the liturgical year B, and thus, we are listening from the Gospel of Mark. Mark’s version is noticeably the shortest, but it does not mean it does not deliver a powerful message. The Baptism of Jesus in the River Jordan is a turning point in Jesus’ life. After this Jesus will be in the desert for 40 days, tempted by the devil, but he will prevail. Then, from this, Jesus will begin His public ministry and unreservedly move toward Jerusalem, to Cross, Death, and Resurrection.
Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.
To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!
Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!
The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.
Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.
A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.
Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.