Yesus, Anak Domba Allah kita

Minggu Kedua Masa Biasa [B]

17 Januari 2021

Yohanes 1: 35-42

Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”

Saya seorang Katolik sejak kecil dan saya tidak dapat mengingat lagi kapan saya mendengar Anak Domba Allah ini untuk pertama kalinya. Namun, saya tidak pernah bertanya mengapa Yesus dipanggil seperti itu. Mungkin, itu hanyalah salah satu gelar Yesus. Namun, Saya secara bertahap mempelajari kebenaran yang indah ini saat saya masuk seminari dan mendalami pembelajaran teologi dan Kitab Suci.

Jika kita menempatkan diri kita pada posisi para murid yang hidup di Palestina abad pertama, kita akan melihat betapa dalamnya gelar ini. Ketika para murid mendengar ‘Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,’ mereka dengan mudah mengerti apa yang dimaksud oleh Yohanes Pembaptis.

Pertama, domba adalah hewan korban utama di Bait Allah Yerusalem. Setiap hari anak domba disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Khususnya pada hari raya Paskah, ribuan ekor domba dibawa ke Bait Allah dan dikorbankan. Meskipun pengorbanan anak domba bukan satu-satunya cara untuk menyembah Tuhan yang benar, ini berfungsi sebagai cara beribadah yang utama. Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita mengakui bahwa penyembahan yang benar dan utama kepada Allah terjadi di dalam Yesus.

Kedua, salah satu hari raya Yahudi terpenting adalah hari raya Paskah. Ini merayakan kebebasan dari perbudakan bani Israel dari Mesir. Salah satu ciri utama dari perayaan ini adalah anak domba yang dikorbankan. Kitab Keluaran memberikan rincian bagaimana Paskah pertama harus diperingati. Anak domba berumur satu tahun yang tidak bercacat harus disembelih. Darahnya ditempatkan di tiang pintu rumah orang Israel dan tubuhnya yang dipanggang akan dimakan [lihat Keluaran 12]. Untuk menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menyadari bahwa kita diselamatkan oleh pengorbanan dan darah Yesus, dan kita juga perlu makan tubuh-Nya.

Ketiga, satu nubuat yang menghubungkan seorang manusia dengan seekor domba berasal dari Yesaya. Nabi besar ini berbicara tentang sosok misterius ‘hamba Tuhan yang menderita.’ Hamba Allah ini akan menebus Israel, tetapi Dia harus menanggung penderitaan dan kematian yang hebat, meskipun tidak bersalah. Sang Nabi menulis, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… [Yes 53: 7]. ” Dengan menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menerima Yesus sebagai Penebus kita yang menderita dan wafat bagi kita.

Sekarang, kita telah mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita perlu melakukan apa yang dilakukan para murid pertama: mereka ‘tinggal’ bersama Dia. Para murid tidak hanya mengenal dan menerima Yesus, tetapi mereka mengikuti dan tinggal bersama-Nya. Tidaklah cukup bagi kita untuk melihat Yesus sebagai Anak Domba, tetapi kita diundang untuk tinggal bersama-Nya, untuk menjadi murid-Nya yang sejati.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Daniel Sandvik

Jesus, Our Lamb of God

2nd Sunday of Ordinary Time [B]

January 17, 2021

John 1:35-42

John the Baptist identified Jesus as the ‘Lamb of God.’ If we are attending the celebration of the Eucharist, we cannot miss hearing this phrase. Just before the communion, the priest will hold the consecrated bread and wine, and present them to the faithful, then saying, “Behold the Lamb of God, Behold Him who takes away the sin of the world. Happy are those invited to the supper of the Lamb!”

I am a cradle Catholic, and I could no longer remember when I heard this Lamb of God for the first time. Yet, I never bother asking why Jesus is called such because it does not make much sense. Perhaps, it is just another fancy title of Jesus. I gradually learn this beautiful truth as I go deeper into my theology study and scriptures.

If we put ourselves in the shoes of the disciples who were living in the first century Palestine, we will see a lot more going on. When the disciples heard ‘the Lamb of God who takes away the sin of the world,” they quickly understood. It was undoubtedly mind-blowing, but they were expecting to hear that.

Firstly, a lamb was a primarily sacrificial animal in the Jerusalem temple. Every day lambs were slaughtered and offered to God. Especially during the feast day of Passover, thousands of lambs were brought to the Temple and sacrificed. It was a massive display of devotion to behold. Though the lamb’s sacrifice is not the only way to worship the true God, it serves as the ordinary way of worship. By calling Jesus the Lamb of God, we acknowledge that God’s true worship takes place in Jesus.

Secondly, one of the most important Jewish feasts is Passover. It celebrates the freedom from the slavery of God. One of the central features of this celebration is the sacrificed lamb. The Book Exodus gives the details of how the Passover has to be commemorated. An unblemished one-year-old lamb has to be slaughtered. Its blood was placed on the Jewish household doorpost, and its roasted body shall be eaten [see Exo 12]. To accept Jesus as the Lamb of God, we recognize that the sacrifice and blood of Jesus save us, and we need to eat also His body.

Thirdly, one prophesy that connects a person, and a lamb is from Isaiah. The great prophet spoke about the mysterious figure of ‘suffering servant of God.’ This man shall redeem Israel, but He has to endure great suffering and death, despite being innocent.  The prophet wrote, “He was oppressed, and he was afflicted, yet he did not open his mouth; like a lamb that is led to the slaughter… [Isa 53:7].” By receiving Jesus as the Lamb of God, we accept Jesus as our Redeemer who has to suffer and die for us.

Now, we have recognized Jesus as the Lamb of God; we need to do like the first disciples did: they remained with Him. The disciples did not merely know and accept Jesus, but they followed and stayed with Him. It is not enough for us to see Jesus as the Lamb, but we are invited to remain with Him, to become His true disciples.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: Daniel Sandvik

Baptism and the Cross

Baptism of the Lord

January 10, 2021

Mark 1:7-11

Baptism of the Lord is one of the defining moments in the life of Jesus. The synoptic gospels [Matthew, Mark, and Luke] writes this event, though with their own perspective and emphasis. We are in the liturgical year B, and thus, we are listening from the Gospel of Mark. Mark’s version is noticeably the shortest, but it does not mean it does not deliver a powerful message. The Baptism of Jesus in the River Jordan is a turning point in Jesus’ life. After this Jesus will be in the desert for 40 days, tempted by the devil, but he will prevail. Then, from this, Jesus will begin His public ministry and unreservedly move toward Jerusalem, to Cross, Death, and Resurrection.

Often, we ask, “why should John baptize Jesus?” We are well aware that John’s baptism is an outward sign of inner repentance. If a person repents, it means that the person has been living a sinful life. Does it mean that Jesus is a sinful man, He asks for John’s baptism? Surely, Jesus who is God, is perfectly sinless, but the question remains, “why should Jesus be baptized?”  Mark does not give us a straight answer, yet the Church offers us the reason. Catechism of the Catholic Church states, “The baptism of Jesus is on his part the acceptance and inauguration of his mission as God’s suffering Servant. He allows himself to be numbered among sinners… Already he is anticipating the “baptism” of his bloody death… [CCC 536].”

Simply put, Jesus’ baptism speaks of this solidarity with us sinners, and this solidarity does not stop in the symbolic baptism of John, but this will find its fulfillment in the cross. As sinners, we deserve to die, but it is God who dies for us. The Church’s answer is beautiful, but is it truly in the mind of the evangelists, especially Mark?

When Jesus is baptized, Mark describes the sky as ‘torn apart’ and a voice came, “You are my Son, the Beloved…” The Greek word for ‘tearing apart’ is ‘schizo,’ and the same word is employed again by Mark when he recounts the happening in the Temple when Jesus died on the cross: the giant curtain that separates the holy place and the holiest place inside the Jerusalem temple [see 15:38]. Meanwhile, Mark also recounts a Roman centurion proclaims that Jesus is truly the Son of God, after witnessing remarkable events during Jesus’ death. From here, we can draw an interesting insight. With this basic pattern between what happens in baptism and in the cross, Mark is telling us that these two events are indeed related. The Baptism points to the Cross, and the Cross is the fulfillment of the Baptism.

It reveals the reason why the Father is so ‘so well pleased with His Son.’ The reason is through baptism, Jesus signals to all of us His eagerness to do His Father’s will. Though Jesus is sinless, He takes up our burden of sin and dies for us as proof of the Father’s love for us.

If in His baptism, Jesus accepts the cross, we, as the baptized Christians, are also called to carry our crosses. As we share Christ’s cross and carry it faithfully, we can hope to love radically. As we love deeply, we may hope for our salvation.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pembaptisan Yesus dan Salib

Pembaptisan Tuhan

10 Januari 2021

Markus 1: 7-11

Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.

Seringkali, kita bertanya, “mengapa Yohanes harus membaptis Yesus?” Kita menyadari bahwa baptisan Yohanes adalah tanda lahiriah dari pertobatan batiniah. Jika seseorang menerima pembaptisan Yohanes, itu berarti orang tersebut membutuhkan pertobatan, dan berarti dia orang berdosa. Apakah ini berarti bahwa Yesus adalah orang yang berdosa, karena Dia meminta baptisan Yohanes? Yesus yang adalah Allah, tidak berdosa. Lalu, “mengapa Yesus tetap dibaptis?” Markus tidak memberi jawaban eksplisit, namun Gereja memberi kita alasannya. Di dalam Katekismus Gereja Katolik tertulis, “Baptisan Yesus adalah penerimaan dan pengukuhan misinya sebagai Hamba Allah yang menderita. Dia membiarkan dirinya terhitung di antara orang-orang berdosa … Dia sudah mengantisipasi ‘baptisan’ dari kematiannya yang berdarah … [KGK 536]. ”

Sederhananya, baptisan Yesus berbicara tentang solidaritas dengan kita para pendosa, dan solidaritas ini tidak berhenti pada baptisan Yohanes, tetapi ini akan menemukan pemenuhannya di kayu salib. Sebagai orang berdosa, kita pantas mati, tetapi Tuhanlah yang mati untuk kita. Pengertian Gereja ini sungguh indah, tetapi apakah ini benar-benar ada di benak para penginjil, terutama Markus?

Ketika Yesus dibaptis, Markus menggambarkan langit ‘terbelah’ dan suara terdengar, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi , kepada-Mulah Aku berkenan.” Kata Yunani untuk ‘membelah’ adalah ‘schizo,’ dan kata yang sama digunakan lagi oleh Markus ketika dia menceritakan kejadian di Bait Allah ketika Yesus wafat di kayu salib: tirai raksasa yang memisahkan tempat suci dan tempat tersuci di dalam Bait Suci Yerusalem, terbelah [lih. 15:38]. Sementara itu, Markus juga menceritakan seorang perwira Romawi yang menyatakan bahwa Yesus adalah benar-benar Putra Allah setelah menyaksikan kejadian luar biasa saat kematian Yesus. Dengan pola dasar antara apa yang terjadi di saat pembaptisan dan di kayu salib, Markus ingin mengatakan kepada kita bahwa kedua peristiwa ini memang terkait. Baptisan menunjuk ke Salib, dan Salib adalah penggenapan dari Baptisan Yesus.

Dari sini, kita tahu kenapa Bapa ‘berkenan kepada Putra-Nya.’ Ini karena melalui pembaptisan-Nya, Yesus memberi tanda kepada kita semua bahwa Dia akan melakukan kehendak Bapa-Nya yakni menuju Salib dan Kebangkitan. Meskipun Yesus tidak berdosa, Dia memikul beban dosa kita dan mati untuk kita sebagai bukti kasih Bapa bagi kita.

Jika dalam baptisan-Nya, Yesus menerima salib, kita sebagai umat Kristiani yang telah dibaptis juga dipanggil untuk memikul salib kita. Saat kita berpartisipasi di salib Kristus dan memikulnya dengan setia, kita bisa berharap untuk mengasihi lebih dalam. Saat kita mengasihi lebih dalam, kita bisa berharap untuk keselamatan kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

King of Mercy

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe [A]

November 22, 2020

Matthew 25:31-46

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!

Today we are celebrating the solemnity of Jesus Christ, the King of the Universe. Yet, it is a bit difficult to imagine Christ as a king. He never wears a crown except for thorns. He never sat on the throne except for the cross. And, He never possessed an army except for a bunch of coward disciples.  Is Jesus truly a king? The answer is an absolute yes. Jesus, as the king, is one of the dominant topics in the Gospels. Angel Gabriel announces to Mary, “the Lord God will give to him [Jesus] the throne of his ancestor David. He will reign over the house of Jacob forever, and of his kingdom there will be no end. [Luk 1:32-33]” One of the criminals crucified with Jesus cries, “Jesus, remember me when you come into your kingdom. [Luk 23:42]” And throughout His public ministry, Jesus is tirelessly proclaiming and building the kingdom of God.

In today’s Gospel, Jesus reveals that he is not just an ordinary king, not just a king among many kings. He is the king of kings, and only He can bring people to eternal life and everlasting damnation. We are reminded that since Jesus is the king of the universe, we are all His subjects. However, whether we are good subjects or bad ones, we still have to choose. Like with other kingdoms, we still need to at least two basic things: acknowledging Jesus as our king and being His loyal servant.

The good news is that He does not require us, His subjects, to wage war against other countries or pay taxes! He is the king of mercy, and thus, His order is: do the Works of Mercy. In the Catholic tradition, there are seven corporal works of mercy. These are: to feed the hungry, give water to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit the imprisoned, and bury the dead. The seven corporal works of mercy are not complete with the seven spiritual works of mercy. These are: to instruct the ignorant, counsel the doubtful, admonish the sinners, bear patiently those who wrong us, forgive offenses, comfort the afflicted, and pray for the living and the dead.

Doing these are not always easy, but it is necessary because it proves our loyalty to the great king. Negligence to do works of mercy brings a serious consequence: to be expelled from the kingdom. The choice is ours, and the time is now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: robert nyman

Raja Belas Kasih

Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam [A]

22 November 2020

Matius 25: 31-46

Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!

Hari ini kita merayakan Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Namun, agak sulit membayangkan Kristus sebagai seorang raja. Dia tidak pernah memakai mahkota kecuali dari duri. Dia tidak pernah duduk di singgasana kecuali salib. Dan, Dia tidak pernah memiliki pasukan kecuali sekelompok murid-murid yang pengecut. Apakah Yesus benar-benar seorang raja? Jawabannya ya! Faktanya, Yesus sebagai raja adalah salah satu topik dominan dalam Injil. Malaikat Gabriel menyatakan kepada Maria, “…Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan [Luk 1: 32-33].” Salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus berseru, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja [Luk 23:42].” Dan sepanjang pelayanan publik-Nya, Yesus tanpa lelah mewartakan dan membangun kerajaan Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan bahwa dia bukan hanya raja biasa, bukan hanya raja di antara banyak raja. Dia adalah raja dari segala raja, dan hanya Dia yang dapat membawa orang ke kehidupan kekal atau maut yang abadi. Kita diingatkan bahwa karena Yesus adalah raja alam semesta, kita semua adalah abdi-Nya. Namun, kita tetap harus memilih, apakah kita abdi yang baik atau buruk. Seperti halnya kerajaan lainnya, kita masih melakukan setidaknya dua hal dasar: mengakui Yesus sebagai raja kita dan menjadi abdi-Nya yang setia.

Kabar baiknya adalah untuk menjadi abdi-Nya yang setia, Dia tidak menuntut kita untuk berperang melawan negara lain, atau bahkan membayar pajak! Dia adalah raja belas kasih, dan dengan demikian, perintah-Nya adalah: lakukan karya-karya Belas Kasih. Dalam tradisi Katolik, ada tujuh karya belas kasih jasmani. Ini adalah: memberi makan yang lapar, memberi air kepada yang haus, memberi pakaian bagi yang telanjang, melindungi para tunawisma, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan menguburkan yang meninggal. Tujuh karya belas kasih jasmani tidak lengkap tanpa tujuh karya belas kasih rohani. Ini adalah: Menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang yang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, dan berdoa untuk orang yang hidup dan mati.

Melakukan hal-hal ini tidak selalu mudah, tetapi perlu karena itu membuktikan kesetiaan kita kepada sang raja agung. Kelalaian melakukan perbuatan belas kasih membawa konsekuensi serius: diusir dari kerajaan. Pilihan ada di tangan kita dan waktunya sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Arturo Rey

The Master’s Trust

33rd Sunday in Ordinary Time

November 15, 2020

Matthew 25:14-30

The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.

To seek the value of this parable, we need to discover the surprising twists in the story. This time, I would like to invite you all to focus on the master of the servants. The master is giving a total of 8 talents to his three servants [literally slaves]. If we pause a moment, we begin to realize how fantastic amount of money they receive. The act of giving presupposes either two things: either the master is unimaginable rich that he does not care really about these talents, or he is utterly generous and trusting. I believe it is the second reason.

To entrust these talents entails grave risks. One possibility is that the servants may fail in their trading, and thus, the master may lose his money. Another chance is the servants may run away with talents, and therefore, the master may lose both his money and his servants. Yet, despite these nightmarish possibilities, the master is firm in his decision. He trusts his servants, and it pays off. Except for his lazy servant, the master earns double!

From this, we learn a precious lesson. The best way to expand our talent is by sharing it with others. The usual way to develop our talents is by practicing it often. However, this method does not bring us exponential growth. Yet, by sharing the talents, the possibility of growth is unimaginable. Yet again, the parable is not simply about talents, but the relationship between the master and the servants, on the trust and faith of the master and gratitude of the servants. Indeed, the ability to recognize the master’s trust produces gratitude, and gratitude propels the servants to do their best.

One probable reason that the servant becomes lazy is that he fails to recognize his master’s trust and focuses on the smallness of his talent. Ironically, one talent is still a huge amount of wealth! Thus, instead of gratitude, envy creeps in, and laziness prevails. We also notice that the servant is not losing the talent, but he still receives the punishment. Though the talent is not missing, the trust of the master has been lost. And when this trust’s lost, everything is lost.

Learning from this parable, we are called to have that ability to recognize God’s “trust” and love in us. Different talents we have are just a simple manifestation of this love. Slaves as we are, we do not deserve anything from God, but God has given us superabundantly. From this realization, only gratitude shall naturally flow. But, if we miss the point, we may fall into many other sins: envy, anger, slander, or simply laziness. Again, it is not about the talents we have, but the trust and love God has in us.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Di Balik Talenta

Minggu ke-33 di Masa Biasa

15 November 2020

Matius 25: 14-30

Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.

Untuk mencari makna dari perumpamaan ini, kita perlu menemukan bagian dari cerita yang mengejutkan. Kali ini, saya ingin mengajak kita semua fokus pada tuan para hamba ini. Tuannya memberikan total 8 talenta kepada hamba-hambanya [secara harfiah adalah budak]. Jika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari betapa fantastisnya jumlah uang yang mereka terima. Tindakan memberi mengandaikan salah satu dari dua hal: entah sang tuan adalah orang yang sangat kaya sehingga dia tidak benar-benar peduli dengan talenta-talenta ini, atau dia sangat murah hati dan percaya kepada para hambanya. Saya percaya dia adalah orang yang murah hati dan percaya kepada hambanya.

Mempercayakan talenta ini memiliki risiko besar. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa para hamba bisa gagal dalam usaha mereka dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uangnya. Kemungkinan lain adalah para hamba bisa saja kabur dengan membawa talenta, dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uang dan para hambanya. Namun, terlepas dari kemungkinan sangat buruk ini, sang tuan teguh dalam keputusannya. Dia mempercayai para hambanya, dan kepercayaannya berbuah. Kecuali untuk hambanya yang malas, sang tuan mendapat dua kali lipat!

Dari sini, kita mendapat pelajaran berharga. Cara terbaik untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Cara yang biasa untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan menggunakannya. Namun, metode ini tidak membawa kita pertumbuhan eksponensial. Namun, dengan berbagi talenta, kemungkinan untuk berkembang tidak terbayangkan. Lebih dari itu, perumpamaan ini bukan hanya tentang talenta, tetapi tentang hubungan antara tuan dan hambanya, tentang kepercayaan dan kasih sang tuan dan rasa syukur para hamba. Memang, kemampuan untuk melihat kepercayaan sang tuan akan menghasilkan rasa syukur, dan rasa syukur mendorong para hamba untuk melakukan yang terbaik.

Salah satu kemungkinan alasan hamba menjadi malas adalah karena dia gagal mengenali kepercayaan tuannya dan berfokus pada kecilnya talenta yang ia terima. Ironisnya, satu talenta masih merupakan kekayaan yang sangat besar! Jadi, alih-alih bersyukur, iri hati menghancurkan jiwanya dan kemalasanlah yang menang. Kita juga memperhatikan bahwa hamba ketiga tidak kehilangan talenta, tetapi dia masih menerima hukuman. Meskipun talentanya tidak hilang, kepercayaan tuannya telah hilang. Dan saat kepercayaan ini hilang, semuanya akan hilang.

Belajar dari perumpamaan ini, kita dipanggil untuk memiliki kemampuan untuk mengenali kepercayaan dan kasih Tuhan kepada kita. Berbagai talenta yang kita miliki hanyalah perwujudan sederhana dari kasih ini. Sebagai hamba kita, kita tidak pantas mendapatkan apa pun dari Tuhan, tetapi Tuhan telah memberi kita secara berlebihan. Dari kesadaran ini, hanya rasa syukur yang mengalir dengan sendirinya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat hal ini, kita mungkin jatuh ke dalam banyak dosa lain: iri hati, kemarahan, fitnah, atau sekadar kemalasan. Sekali lagi, ini bukan tentang talenta yang kita miliki, tetapi kepercayaan dan kemurahan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foolish Virgins

32nd Sunday in Ordinary Time

November 8, 2020

Matthew 25:1-13

A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.

The second stage is the wedding party. It begins with the groom fetch the bride from her ancestral house, and bring her to his home with a procession of dance and music. Since the procession usually takes place in the evening, fire and torches are indispensable. The ten virgins are part of the wedding ceremony which we may call today as the bridesmaids. They may be some of the close friends of the bride and even relatives of the couples. They are stationed not far from the wedding place to welcome the married couple. Since there is no internet and GPS, the ten virgins may not be able to locate precisely where the procession is, but they are expected to be ready.

It is interesting to see the attitude of the five foolish virgins. In Greek, the virgins are called as “moros” where we get the English word moron. It is undoubtedly a harsh word. Jesus applies the same word after His sermon on the Mount and points to people who listen to His preaching without practising them, “like a foolish man who built his house on sand [Mat 7:26].” Yet, if we observe, what we see that the virgins are doing foolish things. Not only they fail to prepare for the unexpected arrival of the groom, but they also look for the oil in the middle of the night. They are not living in the modern era where we can easily purchase it at the 24-hour convenient stores. The merchants are expectedly unavailable, and we can imagine how they rushingly search the vendors, and frantically knock their doors. This may cause unnecessary inconveniences and bring absolute shame to the couples. This may be the reason also why the wedding’s host refuses to admit these five foolish virgins.

This parable of Jesus gives us a potent reminder not to become foolish in living our lives as Christians. We are given a particular role and mission in our lives. Some of us are called to be married couples and parents.  Some of us are serving as priests or religious men and women. Some of us are teachers of the faith; some of us are leaders of the community, and others are servants. In whatever role we are, Jesus asks us to be wise in doing our ministries and demands us not to do foolish things as to scandalize others or even cause others unnecessary suffering.

If we, as Christians, act foolishly, we bring shame, not only to ourselves but Christ Himself. But, if we think and produce wise deeds, we bring glory to the Lord, and more people will praise our God.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebodohan

Minggu ke-32 di Masa Biasa

8 November 2020

Matius 25: 1-13

Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.

Tahap kedua adalah pesta pernikahan. Ini dimulai dengan pengantin pria menjemput sang istri dari rumah keluarganya, dan membawanya ke rumahnya dengan prosesi tarian dan musik. Karena prosesi biasanya berlangsung pada malam hari, api dan obor sangat diperlukan. Sepuluh gadis ini adalah mungkin beberapa teman dekat dari pengantin wanita dan bahkan kerabat dari pasangan tersebut. Mereka ditempatkan tidak jauh dari tempat pernikahan untuk menyambut pasangan suami istri tersebut. Karena tidak ada internet dan GPS, kesepuluh perawan mungkin tidak dapat mengetahui posisi prosesi tersebut dengan tepat, tetapi mereka diharapkan siap kapanpun pasangan ini datang.

Mari kita perhatikan sikap dari lima gadis yang bodoh ini. Dalam bahasa Yunani, kelima gadis ini disebut “moros” di mana kita mendapatkan kata dalam bahasa Inggris “moron”. Itu pasti kata yang keras. Namun, jika kita amati dengan seksama, apa yang dilakukan perawan ini sungguh bodoh dan ceroboh. Bukan hanya gagal mempersiapkan kedatangan pengantin, mereka juga mencari minyak di tengah malam. Mereka tidak hidup di era modern di mana kita dapat dengan mudah membeli barang-barang di toko seperti indomart atau alfamart. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka dengan tergesa-gesa mencari pedagang, dan dengan panik mengetuk pintu toko atau rumah mereka. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan kegaduhan yang tidak perlu dan menimbulkan rasa malu bagi sang pasangan. Ini mungkin juga menjadi alasan mengapa tuan rumah menolak untuk menerima lima gadis bodoh ini.

Perumpamaan Yesus ini memberi kita peringatan yang kuat untuk tidak menjadi bodoh dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristiani. Kita diberi peran dan misi tertentu dalam hidup kita. Beberapa dari kita dipanggil untuk menjadi pasangan suami-istri dan orang tua, dan beberapa dari kita melayani sebagai imam atau rohaniawan seperti para suster. Beberapa dari kita adalah pendidik iman, beberapa dari kita adalah pemimpin komunitas dan yang lainnya terlibat dalam berbagai pelayanan. Dalam peran apapun kita miliki, Yesus meminta kita untuk bijak dalam melakukan hidup dan pelayanan kita, dan menuntut kita untuk tidak melakukan hal-hal bodoh dan bahkan menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi orang lain.

Jika kita, sebagai orang Kristiani, bertindak bodoh, kita tidak hanya mempermalukan diri kita sendiri, tetapi juga Kristus sendiri. Tapi, jika kita menghasilkan perbuatan bijak, kita membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan lebih banyak orang akan memuji Tuhan kita.

St. Josemaria Escriva pernah berkata, “wajah murung, tidak sopan, tampil konyol, tidak ramah. Itukah caramu berharap untuk mengispirasi orang lain untuk mengikuti Kristus?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP