Neraka itu Nyata [Begitu juga Surga]

Minggu Biasa ke-26 [B]

26 September 2021

Markus 9:38-43, 45, 47-48

Bagi Yesus, neraka itu nyata. Yesus berbicara tentang neraka tanpa keraguan. Yesus tidak ragu untuk mengatakan apa yang sangat Dia benci: neraka dan apa yang menyebabkan orang pergi ke sana. Seperti orang-orang pada zaman-Nya, Yesus menyebut kenyataan yang paling mengerikan ini sebagai ‘Gehenna’. Kata ‘Gehenna’ sendiri berasal dari Bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti ‘lembah Hinom’. Lembah ini sungguh tempat nyata yang terletak di selatan Yerusalem pada zaman Yesus. Orang-orang Yerusalem dan sekitarnya akan membuang sampah, kotoran dan limbah mereka di sana dan membakarnya. Ini adalah gunung sampah  dimana api terus membara, bau menyengat, asap beracun memenuhi tempat itu, dan barang-barang terus membusuk. Yang lebih menakutkan adalah tempat yang sama untuk penyembahan berhala dan pengorbanan anak di zaman Perjanjian Lama [2 Raj 23:10]. Karena itu, tempat itu dikutuk oleh para nabi [Yer 7:31–32] dan kemudian menjadi lambang tempat terkutuk.

Yesus menggunakan dua simbolisme yang kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”. Beberapa orang mengira kedua hal ini adalah hal-hal yang sungguh terjadi di neraka, tetapi Gereja mengajarkan bahwa gambaran-gambaran ini berbicara sesuatu yang lebih dalam. Ulat adalah hewan yang terutama bertanggung jawab atas pembusukan tubuh. Di dalam kubur, cacing atau ulat hadir untuk mengurai jenasah. Api memang baik dan bermanfaat, tetapi api juga bisa menjadi sumber kehancuran dan sakit. Jika di dalam Gehenna, ulat-ulat ini tidak mati dan api tidak berhenti, ini melambangkan kerusakan dan penderitaan yang tiada akhir.

Yesus membenci neraka karena sangat bertentangan dengan Allah dan rencana-Nya. Jika surga adalah persatuan dengan Tuhan, maka neraka adalah pemisahan dengan Tuhan. Jika ada satu hal yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan adalah dosa. Jadi, tidak heran, Yesus sangat marah dengan orang-orang yang menyebabkan orang lain berdosa dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari neraka, tetapi jika kita dengan sengaja berbuat dosa terhadap Allah, maka kita membuat penyaliban dan kematian-Nya sia-sia.

Yesus menggunakan metafora amputasi untuk menyelamatkan jiwa kita dari dosa. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dosa seperti luka gangren spiritual yang lambat laun akan menyebar ke seluruh tubuh dan menghancurkannya seluruhnya. Ini mungkin dimulai dengan hal-hal kecil, tetapi secara bertahap tumbuh besar. Tindakan drastis harus diambil untuk menyelamatkan nyawa. Kita harus memotongnya sebelum menjadi liar dan tidak dapat disembuhkan. Apa yang membuat dosa ini bahkan keji tidak hanya menyebar ke seluruh jiwa, tetapi juga sangat menular sehingga orang-orang yang imun rohaninya lemah dapat dengan mudah terinfeksi. Tak heran, Yesus malah semakin murka dengan orang-orang yang menyebarkan penyakit rohani ini.

Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu memotongnya dengan pertobatan sejati dan kerendahan hati bahwa kita adalah orang berdosa. Kita lolos dari neraka dengan mengatakan tidak kepada diri kita sendiri setiap hari dan mengatakan ya kepada Tuhan. Kita kembali kepada rahmat Allah dengan memohon belas kasihan Tuhan dan pengampunan-Nya dalam sakramen pengakuan dosa. Kita menyembuhkan luka kita melalui kehidupan doa yang sejati. Kita memulai perjalanan kita ke surga dengan memikul salib kita setiap hari dan dengan mengasihi secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Anak-anak Kecil

Minggu ke-25 Waktu Biasa [B]
19 September 2021
Markus 9:30-37

Di antara banyak ciptaan hidup, bayi manusia adalah yang paling rentan. Setelah dilahirkan, beberapa spesies hewan dapat bertahan hidup sendiri dan bahkan langsung berburu. Bayi manusia yang ditinggalkan sendiri pasti akan mati. Anak kecil tidak hanya bergantung pada orang tuanya, tetapi mereka yang paling rentan terhadap berbagai penyakit. Tanpa gizi seimbang dan pengobatan yang tepat, bayi tidak akan tumbuh menjadi dewasa secara sempurna, melainkan akan mengalami pertumbuhan yang terhambat, mengindap berbagai penyakit, dan bahkan meninggal di usia dini. Menjadi bayi dan anak kecil, itu adalah tahap terlemah dari perkembangan manusia.

photocredit: alex Pasarelu

Tanpa perawatan dan perlindungan yang cukup dari orang dewasa, anak-anak dapat menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai pelecehan. Mereka harus melewatkan pendidikan dan bekerja di tempat-tempat berbahaya tanpa istirahat dan upah yang cukup. Beberapa bahkan diculik dan dijual sebagai budak atau budak seks. Di daerah yang dilanda perang, anak laki-laki direkrut menjadi tentara anak-anak, dan dipaksa untuk melakukan kekejaman dan pembunuhan.

Kita bersyukur bahwa dengan upaya nasional dan global untuk memerangi kekerasan terhadap anak, kita dapat berharap bahwa anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang lebih baik. Sekarang, mari kita kembali ke zaman Yesus. Kita dapat membayangkan bahwa kondisinya jauh lebih buruk bagi anak-anak. Angka kematian bayi sangat tinggi, dan anak-anak dengan pertumbuhan terhambat sangat banyak. Kita juga bisa membayangkan banyak anak kehilangan orang tua mereka lebih awal, karena kelaparan, bencana, dan perang. Banyak yang harus mengangkat pedang dan membunuh atau dibunuh. Yang terburuk di antara semuanya, anak-anak ditangkap dan ditumbalkan untuk dewa-dewa palsu. Ini adalah waktu terburuk untuk hidup bagi anak-anak.

Jadi, sikap Yesus untuk menyambut dan merangkul anak-anak kecil adalah sebuah gerakan revolusioner. Instruksi Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa mereka perlu menerima dan melayani anak-anak dalam nama-Nya adalah radikal. Para murid tidak benar-benar melayani sesama sampai mereka melayani anak-anak kecil, yakni mata rantai terlemah dari masyarakat kita. Yesus sendiri mengerti bagaimana menjadi seorang anak kecil. Dia adalah bagian dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Ia lahir di sebuah gua kotor yang penuh dengan binatang. Dia mengalami menjadi lemah dan rentan di tangan Maria dan Yusuf. Mungkin, Yesus kecil kadang-kadang lapar karena Yusuf mungkin tidak membawa cukup makanan. Mungkin, Yesus harus membantu ayah angkatnya sebagai tukang kayu sejak usia dini. Jadi, Yesus dengan berani mengajarkan bahwa menyambut seorang anak kecil berarti menyambut Dia.

Ajaran radikal ini memiliki implikasi yang besar. Gereja dengan tegas mengajarkan kesucian hidup, dan membela kehidupan anak-anak kecil bahkan yang belum lahir. Mengikuti ajaran Yesus, kita sangat menentang aborsi atau pembunuhan bayi. Sejak awal, kita membangun panti asuhan untuk anak yatim, dan merawat pendidikan mereka. Banyak juga yang terlibat langsung dalam pelacakan dan pengungkapan perdagangan anak. Lebih dari itu, Gereja berusaha keras untuk membentuk dan melindungi keluarga Katolik, dan mempersiapkan pria dan wanita untuk menjadi ayah dan ibu, karena kita percaya keluarga adalah tempat terbaik untuk menyambut anak-anak, dan memastikan pertumbuhan mereka yang baik.

Menerima anak-anak kecil berarti menerima Yesus, dan mengasihi anak-anak kecil ini berarti mengasihi Kristus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and Little Children

25th Sunday in Ordinary Time [B]
September 19, 2021
Mark 9:30-37

Among many animal species, human infants are the most vulnerable. After birth, some animals can survive on their own and even go hunting. Human babies left by themselves will surely die. The little children depend on their parents, and their weak bodies are the most susceptible to various illnesses. Without balanced nutrition and proper medical treatment, infants will not grow into perfect maturity but will experience stunted growth, develop chronic sicknesses, and even die early. Being an infant and a little child is the weakest stage of human development.

photocredit: isaac quesada

Without enough care and protection from adults, children may fall victim to domestic violence and various abuses. Young boys and girls have to miss education and work in dangerous places without enough rest and payment. Some even were abducted and sold into slavery or became sex slaves. In war-torn areas, the boys are recruited into child soldiers and forced to commit atrocities and murders.

Our world surely has improved and become a better place for children. With national and global efforts to combat child abuses, we hope that our children will grow into a better version of our generation. Now, let us go back to the time of Jesus. We can imagine that conditions were a lot worse for children. The infant mortality rate was extremely high, and children with stunted growth were numerous. We can also imagine many children lost their parents early due to famine, disasters, and wars. Many had to wield a sword and either kill or be killed. Worst among all, children were caught and sacrificed to the false gods. These were the worst time to live for children.

Thus, Jesus’ gesture to welcome and embrace little children is a revolutionary. Jesus’ instruction to His disciples that they need to receive and serve children in His name is radical. The disciples do not truly serve others until they serve the weakest link of our society. Jesus Himself understood how it was to become a little one. He was part of a low-income family of Joseph and Mary. He was born in a dirty cave full of animals. He experienced being weak and vulnerable at the hands of Mary and Joseph. Perhaps, little Jesus occasionally got hungry because Joseph might not bring enough food. Perhaps, Jesus had to help his foster father as a carpenter at an early age. Thus, Jesus boldly taught that to welcome a little child is to welcome Him.

This radical teaching has a great implication. The Church firmly teaches the sanctity of life and defends the lives of little children, even the unborn. Following the teaching of Jesus, we strongly oppose abortions or the killing of babies. Since the beginning, many religious men and women have built shelters for orphans and cared for their educations. Many also are involved directly in tracking and exposing child trafficking. More than that, the Church is putting a lot her effort into forming and protect the Christian families and preparing men and women to become fathers and mothers because we believe family is the best place to welcome children and ensure their upbringing.

To accept little children is to accept Jesus, and to love these little ones is to love Christ.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuntutan yang Mustahil

Minggu ke-24 Masa Biasa [B]
12 September 2021
Markus 8:27-35

Sekali lagi, kita menjumpai perkataan Yesus yang keras. Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya dan orang-orang lain yang ingin mengikuti-Nya, dan mengatakan setidaknya tiga syarat jika mereka benar-benar berkomitmen kepada-Nya dan misi-Nya. Tiga kondisi ini adalah “sangkallah dirimu, pikul salibmu dan ikutlah Aku!” Persyaratan ini benar-benar menantang dan berat bagi semua murid Yesus dari segala zaman dan tempat. Namun, apa artinya kondisi-kondisi ini bagi para murid pertama Yesus?

Syarat pertama adalah menyangkal diri kita sendiri. Ini berarti mengatakan tidak pada diri kita sendiri, tetapi apa arti ‘menyangkal diri’ bagi Petrus, Yakobus, Yohanes dan mereka yang mendengarkan Yesus untuk pertama kalinya? Jika kita mempertimbangkan konteks sejarah, banyak murid dan pengikut Yesus mengharapkan Dia menjadi Mesias seperti raja Daud, seorang jenderal yang brilian, raja yang dominan secara politik. Yesus akan bergerak melawan pasukan Romawi dan dengan penuh kemenangan menginjak-injak mereka. Namun, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Mesias yang akan menderita dan mati, dan oleh karena itu, mereka yang ingin mengikuti-Nya harus mengatakan tidak pada cita-cita dan harapan yang mereka junjung tinggi, tidak pada alasan awal mereka mencari Yesus.

Syarat kedua adalah memikul salib mereka. Ini biasanya berarti bahwa kita harus setia menanggung berbagai kesulitan dan pengorbanan dalam mengikuti Yesus. Namun, bagi Simon, Andreas, dan murid-murid lainnya, salib tidak memiliki arti lain selain menghadapi salah satu hukuman mati paling mengerikan dalam sejarah manusia. Mereka benar-benar harus mati dengan cara yang mengerikan dalam mengikuti Yesus.

Syarat ketiga adalah mengikuti Yesus. Hal biasa ini berarti bahwa kita tidak hanya percaya kepada Yesus, tetapi kita juga harus hidup sesuai dengan ajaran dan perintah-Nya. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya pada kesempatan lain, “Tetapi orang yang mendengar dan tidak bertindak sama seperti orang yang membangun rumah di atas tanah tanpa dasar [Luk 6:49].” Namun, bagi Matius, Filipus, dan murid-murid pertamanya yang lain, mengikuti Yesus ini berarti secara harfiah berjalan bersama Yesus menuju Yerusalem. Di kota ini, Yesus akan menghadapi otoritas Yahudi dan penjajah Romawi, dan juga pertarungan terakhir-Nya dengan kekuatan kegelapan. Mengikuti Yesus berarti bahwa para murid memulai jalan salib mereka.

Pada dasarnya, Yesus meminta murid-murid-Nya untuk mempersembahkan hidup dan bahkan mati untuk Yesus. Ini adalah permintaan yang gila, namun yang lebih gila lagi adalah murid-murid-Nya benar-benar mengikuti-Nya. Mereka melepaskan gagasan tentang mesias yang salah dan memeluk Yesus sebagai Mesias yang menderita. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan Yesus ke Yerusalem, dan menyaksikan bagaimana Guru mereka disalibkan dan mati. Akhirnya, mereka sendiri memikul salib mereka dan menghadapi kematian yang mengerikan. Simon Petrus dan Andreas dipaku di kayu salib seperti Guru mereka, dan sisanya nasibnya tidak jauh berbeda. Bagaimana ini mungkin?

Jawabannya adalah bahwa meskipun tuntutan Yesus hampir tidak mungkin secara manusiawi, Tuhan memberikan rahmat yang diperlukan untuk memenuhi kondisi ini. Seperti yang Tuhan katakan kepada Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna [2 Kor 12:9].” Tanpa bantuan adikodrati, kemanusiaan kita yang lemah tidak akan mampu. Jika kemudian, para rasul yang mengandalkan rahmat Allah, dapat mempersembahkan hidup bagi Kristus dan mencapai hidup yang kekal, sekarang giliran kita untuk mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam kita sehingga Allah dapat melakukan keajaiban-keajaiban besar di dalam kita, dan akhirnya kita menerima kepenuhan. kehidupan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Impossible Demands

24th Sunday in Ordinary Time [B]
September 12, 2021
Mark 8:27-35

We encounter another Jesus’ hard saying. Jesus gathered His disciples and other people who wished to follow Him and said at least three conditions if they committed to Him and His mission. These three are “deny yourselves, carry your crosses and follow Me!” These requirements are genuinely challenging and demanding for all Jesus’ disciples from every age and place. Yet, what do these conditions mean for Jesus’ first followers?

The first condition is to deny ourselves. This means to say no to ourselves, but what does it mean for Peter, James, John, and those who listened to Jesus for the first time? Considering the historical context, many Jesus’ disciples and followers expected Him to be the Messiah-like King David, a brilliant general, a politically dominant king. Jesus would march against the Roman forces and triumphantly trample them. Yet, Jesus introduced Himself as the Messiah who would suffer and die. Therefore, those who wanted to follow Him must say no to the very ideal and expectation they held dear, not to the initial reason they look for Jesus.

The second condition is to carry their crosses. This usually means that we need to endure various hardships and sacrifices in following Jesus faithfully. However, for Simon, Andrew, and the rest of the disciples, the cross had no other meaning but to face one of the most gruesome capital punishments in human history. They literally must die in horrible ways in following Jesus.

The third condition is to follow Jesus. This ordinary means that we must not only say we believe in Jesus, but we need to live up also to His teachings and commandments. Jesus told his disciples on another occasion, “But the one who hears and does not act is like a man who built a house on the ground without a foundation [Luk 6:49].” However, for Matthew, Philip, and His other first disciples, following Jesus means walking with Jesus toward Jerusalem. In this city, Jesus would confront the Jewish authorities and the Roman colonizers and have a final showdown with the forces of darkness. To follow Jesus means that the disciples began their way of the cross.

Basically, Jesus was asking His disciples to offer their lives and die. This is a crazy demand, yet what more insane is that His disciples literally followed Him. They gave up the idea of the triumphalist Messiah and embraced Jesus as the suffering servant of the Lord. They decided to travel with Jesus to Jerusalem and witnessed how their Master crucified and died. Finally, they carried their crosses and faced horrible deaths. Simon Peter and Andrew were nailed on the cross like their Teacher, and the rest shared the same lot. How is this impossible?

The answer is that though Jesus’ demands are almost humanly impossible, God gives necessary grace to fulfill these conditions. As the Lord told Paul, “My grace is sufficient for you, for power is made perfect in weakness [2 Cor 12:9].” Without supernatural help, our frail humanity will stand a chance. If then, the apostles who relied on God’s grace could offer the lives for Christ and attain eternal life, it is now our turn to allow God’s grace to work in us so God may do great wonders in us, and we finally receive the fullness of life.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Food for Eternal Life

18th Sunday in Ordinary Time [B]

August 1, 2021

John 6:24-35

The people were looking for Jesus because they wanted to eat the bread more. They wished that their stomach would be filled. Jesus reminded them that they should not seek food that perishes but for food that endures eternal life. Unfortunately, people failed to understand. They thought it was like Old Testament’s manna constantly given to the Israelites in the wilderness for forty years. There would be bread for every day for the rest of their lives.

photocredit: finding dan

Going back to the Old Testament, we listen to the story of the Israelites who complained because they were hungry. However, just a few hours before, they just witnessed how God parted the red sea and destroyed the mighty Egyptian force through Moses. They knew well how God brought the Egyptians to their knees. Yet, when their stomachs were empty, they forgot all of this and demanded the return to the land of slavery. They even accused God of plotting their death in the wilderness. When it comes to survival instinct, the Israelites were too eager to embrace slavery rather than stay loyal to the God of freedom.

Jesus reminds us that there is more to life than filling our stomachs. Indeed, it is essential to eat and nourish our bodies, but even this physical food is also coming from God’s providence. Often, we are too preoccupied to look for earthly bread in its various forms, successful careers, political influence, fame, and wealth. We seek these things to the point that we are willing to go back to the slavery of sin and abandon the God of freedom.

This time of the pandemic, we might find ourselves in the position of the Israelites. Some of us are hungry because we are just losing our economic stability. Some of us are battling sickness. Some of us are losing our beloved family members. Some of us cannot do what we used to love to do. Some of us cannot go to the Church and do our services. In these dire needs, we are facing the temptation to complain against the Lord. We may get disappointed and angry with the Lord. We are more ready to abandon the Lord. We easily forget the mighty deeds the Lord has wrought in our lives. Like our ancestors, the Israelites, we are absorbed in our sufferings and blaming God for our misfortunes. We forget our God who allows this suffering is the God who controls the forces of nature.

Let us learn from the saints. Ignatius of Loyola is one of the excellent examples. He used to be a man who hungered for worldly glory. He put his life in the line to prove his gallantry in the siege of Pamplona. Yet, when his legs were severely wounded and permanently limped, his ambitions were scattered. Yet, at the same time, he read the lives of Christ and the saints, and he realized that the greater glory that the world could ever offer. The true path of grandeur is to work for the greater glory of God. He left everything and worked for the food that will not perish. Eventually, he ended up as a saint.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Makanan untuk Kehidupan Kekal

Minggu Biasa ke-18 [B]

1 Agustus 2021

Yohanes 6:24-35

Banyak orang mencari Yesus karena mereka ingin makan roti lebih banyak, mereka berharap perut mereka kenyang. Namun, Yesus mengingatkan mereka agar mereka tidak mencari makanan yang dapat binasa, melainkan makanan yang bertahan untuk hidup yang kekal. Sayangnya, mereka gagal untuk paham. Mereka mengira makanan yang Yesus beri seperti manna Perjanjian Lama yang terus-menerus diberikan kepada orang Israel di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka mengira bahwa akan ada roti bagi mereka setiap hari secara cuma-cuma. Perut mereka selalu terisi dan mereka selalu dijauhkan dari penderitaan. Namun, ini bukanlah roti yang Yesus tawarkan.

photocredit: ian dooley

Kembali ke Perjanjian Lama, kita mendengarkan kisah orang Israel yang mengeluh karena lapar. Namun, hanya beberapa jam sebelumnya, mereka baru saja menyaksikan bagaimana Tuhan melalui Musa membelah laut merah dan menghancurkan kekuatan besar Mesir. Mereka tahu betul bagaimana Tuhan membuat orang Mesir bertekuk lutut dengan 10 tulah. Namun, ketika perut mereka kosong, mereka melupakan semua ini, dan menuntut kembali ke tanah perbudakan. Mereka bahkan menuduh Tuhan merencanakan kematian mereka di padang gurun. Dalam hal naluri bertahan hidup, orang Israel terlalu bersemangat untuk memilih perbudakan, daripada tetap setia kepada Tuhan kemerdekaan.

Yesus mengingatkan kita bahwa hidup ini lebih dari sekadar mengisi perut kita. Memang, makan dan memelihara tubuh kita adalah hal yang sangat penting, tetapi bahkan makanan fisik ini juga berasal dari pemeliharaan Tuhan. Seringkali, kita terlalu sibuk mencari roti duniawi dalam berbagai bentuknya, karier yang sukses, pengaruh politik, ketenaran, dan kekayaan. Kami mencari hal-hal ini sampai kami bersedia kembali ke perbudakan dosa, dan meninggalkan Tuhan kebebasan.

Saat pandemi ini, kita mungkin menemukan diri kita berada di posisi orang Israel. Beberapa dari kita lapar karena kita baru saja kehilangan stabilitas ekonomi kita. Beberapa dari kita sedang berjuang melawan penyakit. Beberapa dari kita kehilangan anggota keluarga tercinta. Beberapa dari kita tidak dapat melakukan apa yang dulu suka dilakukan. Beberapa dari kita tidak dapat pergi ke Gereja dan melakukan pelayanan kita. Dalam kebutuhan yang mendesak ini, kita menghadapi godaan untuk mengeluh kepada Tuhan. Kita mungkin kecewa dan marah kepada Tuhan. Kita lebih siap untuk meninggalkan Tuhan. Kita dengan mudah melupakan perbuatan-perbuatan besar yang Tuhan telah lakukan dalam hidup kita. Seperti nenek moyang kita, orang Israel, kita tenggelam dalam penderitaan kita, dan menyalahkan Tuhan atas kemalangan kita. Kita melupakan Tuhan kita yang membiarkan penderitaan ini adalah Tuhan yang mengendalikan kekuatan alam.

Mari kita belajar dari orang-orang kudus. Ignatius dari Loyola adalah salah satu contoh yang sangat baik. Dia dulunya adalah seorang pria yang haus akan kemuliaan duniawi. Bahkan, dia mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuktikan kegagahannya dalam mempertahankan benteng Pamplona. Namun, ketika kakinya terluka parah, dan menjadi pincang secara permanen, ambisinya hancur. Namun, pada saat yang sama, dia membaca kehidupan Kristus dan orang-orang kudus, dan dia menyadari bahwa kemuliaan yang lebih besar yang tidak dapat ditawarkan dunia. Jalan keagungan yang sebenarnya adalah bekerja untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar. Dia meninggalkan segalanya dan bekerja untuk makanan yang tidak akan binasa. Akhirnya, dia berakhir sebagai santo.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reclining

17th Sunday in Ordinary Time [B]
July 25, 2021
John 6:1-15

The miracle of the multiplication of the bread is one of the few stories that recorded by the four evangelists. The event must be impressively memorable and powerful for the disciples and other witnesses. Why did the four evangelists opt to include this story in their gospels?

photocredit: annie theby


There are many possible motives, but one obvious reason is that the story of the multiplication of the bread serves as a sign to the greater miracle, the Eucharist. If we try to observe the details of the story, we will discover some striking similarities with the happening in the Last Supper of the Lord, the first Eucharist. One special action is that Jesus ordered to them to recline. To ask a classroom of 40 students to take their seats is tough job, and here Jesus asked five thousand men not only to sit, but to recline! Yet, John the evangelist did not tell us that the people turned to be chaotic, and all seemed to be fine and smooth.


This gesture of reclining seems to be ordinary, yet in ancient time, to recline is to be able to rest, and in fact, it is the gesture of a freeman. Slave was expected to serve when their masters eat, and they would spend most of their time doing labor, thus, they did not have much time to enjoy their meals, lest to recline. By asking the people to recline, Jesus was giving them the rest they truly desired.


The gesture of reclining while enjoying the food was a typical ancient way to have a banquet. The host and the guests would share a low table that they may recline, consume the meals, share stories, and enjoy the entertainments. Jesus Himself often was invited to attend such banquets [see Luk 7:36]. By asking the people to recline and offer them food, Jesus acted as the host of great banquet, and the people were His honored guests.


Lastly, when Jesus took the bread, gave thanks, and gave it to the people, our catholic instinct should immediately tingle. These are the actions in the Eucharist. Yet, St. John added another important detail: reclining. The gesture of reclining is the same gesture the disciples had in the Last Supper [See John 13:12]. In a sense, the people who reclined and received the bread from Jesus were sharing in the first the Eucharist of Jesus.


Every time we participate in the Eucharist, surely, we are expected not to recline on the altar! Yet, we receive even greater gifts than five thousand people from the gospel. Not only we have a break from our works and chores on Sunday, but we enjoy the true rest in God. We are reminded that of our purpose is not simply here on earth, but in God. Not only we attend a religious service, but we become part of the divine banquet of God’s children. We are not slave to our works, to this world, to power of darkness, but men and women freed by God’s grace. Not only we partake in physical food, but the bread of life, Jesus Christ Himself. Truly, the Eucharist is heaven on earth.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duduk

Minggu ke-17 Waktu Biasa [B]

25 Juli 2021

Yohanes 6:1-15

Mukjizat penggandaan roti adalah salah satu dari sedikit cerita yang dicatat oleh keempat penginjil. Tidak bisa disangkal bahwa peristiwa ini pasti sangat mengesankan bagi para murid dan saksi-saksi sehingga mereka tidak bisa melupakannya. Namun, dari sekian banyak cerita tentang Yesus, mengapa keempat penginjil sepakat untuk memasukkan kisah ini dalam Injil mereka?

Photocredit: nataliya vaitkevich

Ada banyak kemungkinan, tetapi satu alasan utama adalah bahwa kisah penggandaan roti berfungsi sebagai tanda yang merujuk pada mukjizat yang jauh lebih besar, Ekaristi. Jika kita mencoba mengamati detail cerita ini, kita akan menemukan beberapa kesamaan yang mencolok dengan yang terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, Ekaristi pertama. Dikatakan dalam Injil, Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya, mengucap syukur [Bahasa Yunani – eucharistesas], dan memberikannya. Aksi-aksi yang sama dilakukan Yesus saat Ekaristi pertama.

Namun ada satu tindakan khusus yang Yesus perintahkan orang banyak untuk lakukan: duduk. Tidak ada yang aneh dengan posisi duduk, tetapi jika kita cermati kata Yunani yang digunakan, kita akan mengerti bahwa Yesus meminta orang-orang tidak untuk duduk biasa, tetapi duduk dengan bersandar, atau duduk santai. 

Gerakan duduk santai ini tampaknya biasa-biasa saja, namun pada zaman kuno, duduk semacam ini adalah untuk dapat beristirahat dan bersantai, dan pada kenyataannya, ini adalah gerakan dan postur orang merdeka saat mereka makan. Berbeda dengan seorang budak yang akan melayani ketika tuannya makan, dan mereka akan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bekerja, sehingga, mereka tidak punya banyak waktu untuk menikmati makanan mereka dan bersantai. Dengan meminta orang-orang untuk berbaring, Yesus memberi mereka istirahat yang benar-benar mereka inginkan.

Sikap duduk bersandar sambil menikmati makanan adalah cara kuno yang khas untuk mengadakan perjamuan makan atau pesta. Tuan rumah dan para tamu akan berbagi meja rendah sehingga mereka dapat bersandar pada meja tersebut, menikmati makanan, berbagi cerita, dan menikmati hiburan. Yesus sendiri beberapa kali diundang untuk menghadiri perjamuan seperti itu [lihat Luk 7:36]. Dengan meminta orang-orang untuk berbaring dan menawarkan mereka makan, Yesus bertindak sebagai tuan rumah perjamuan besar, dan orang-orang itu adalah tamu kehormatan-Nya.

Terakhir, kita tahu bahwa tindakan-tindakan Yesus di mukjizat pelipat gandaan roti ini berhubungan erat dengan Ekaristi. Namun, St. Yohanes juga mengingatkan kita bahwa duduk bersandar juga berhubungan dengan Ekaristi. Gerakan duduk bersandar ini adalah gerakan yang sama yang dilakukan para murid dalam Perjamuan Terakhir [lihat Yohanes 13:12, kata Yunani ‘anapasein’]. Dalam arti tertentu, orang-orang yang duduk bersandar ini dan menerima roti dari Yesus ikut ambil bagian dalam Ekaristi Yesus yang pertama.

Setiap kali kita berpartisipasi dalam Ekaristi, tentunya kita diharapkan untuk tidak duduk bersandar dan santai-santai saja! Namun, kita menerima rahmat yang lebih besar dari lima ribu orang di Injil hari ini. Tidak hanya kita bisa beristirahat dari pekerjaan dan tugas-tugas kita pada hari Minggu, tetapi kita menikmati istirahat yang sejati di dalam Tuhan. Kita diingatkan bahwa tujuan kita bukan hanya di bumi ini, tetapi di dalam Tuhan. Tidak hanya kita menghadiri sebuah ibadah, tetapi kita menjadi bagian dari perjamuan ilahi. Kita bukan budak pekerjaan kita, dari dunia ini, dari kuasa kegelapan, tetapi pria dan wanita yang dimerdekakan oleh kasih karunia Tuhan. Tidak hanya kita mengambil bagian dalam makanan fisik, tetapi roti hidup, Yesus Kristus sendiri. Sungguh, Ekaristi adalah surga di dunia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Rest

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 18, 2021

Mark 6:30-34

Last week, we listened to the stories of Jesus sending His disciples. This Sunday, we discover that the disciples have performed well and made their report back to Jesus. The mission was hugely successful. Many people were healed, and they longed to hear the word of God. The disciples became an instant sensation, and many people wanted to see them.

photocredit: ricardo esquivel

However, the creator of our nature recognized that the disciples are also human and not a bunch of superheroes. Their bodies, just like ours, needed rest. Jesus knew well that the disciples would get burnt out without enough rest, and they would develop physical and emotional problems. Jesus understood how essential rest is. Thus, as the Good Shepherd, Jesus brought his disciples to have a proper rest.

Why do we need rests? It is just something natural. As our bodies produce energy to spend for our activities, they also come out with wastes. Resting like sleeping is one of the biological mechanisms to dispose of unhealthy by-products. During our rest, our body repairs itself and recharges itself. Without sleep, we will experience physical and mental problems like fatigue, headache, emotional imbalance, anxiety, decreased immune system, depression, inability to concentrate, and eventually death.

Many people are living in the cities, and the demands of works and life are immensely insane. People are forced to work extremely hard and stay longer at work. These lead to sleep deprivation and other health issues. Often, this kind of mentality influences how we do and perceive our religious life. On the one hand, we tend to see that going to the church is just another obligation and burden that we need to carry. It is just additional work for us. On the other hand, we are also inclined to treat and measure our services and worship by the same standards we have in our workplaces. However, we miss the point.

To understand better why we need a rest, we shall go back to the creation story in the book of Genesis. God created the world in six days, and on the seventh day, God rested. Did God feel tired and need a rest? Surely, the almighty God did not need to rest. Then, why God created the 7th day and rested? The answer is that the seventh day is a rest day for us, man and woman. God invited Adam and Eve to rest with Him on the seventh day. From here, we understand that resting is not simply about our biological needs, but it is the purpose why we are created: Resting with God. Our bodily rest is fundamentally a reflection of our spiritual rests.

When Jesus invited his disciple to rest with Him, it was not only a physical recharge but a spiritual unity with Jesus. This is the same with us now. Our prayer life, our ministries, our worship are manifestations of our spiritual rests and unity with the Lord. It is heaven on earth. It is also a preparation for us to receive eternal rest.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP