Jesus the Sower

15th Sunday in Ordinary Time [A]

July 12, 2020

Matthew 13:1-23

Processed with VSCO with e1 preset

In today’s Gospel, we observe the reaction of the disciples after Jesus spoke His first parable. They were puzzled and confused. Why? because Jesus took a sudden change of method. In previous chapters, Jesus taught them plainly, like in the sermon of the Mount [Mat 5-7], and His teachings were as clear as broad daylight. Yet, Jesus made an unexpected turn that makes many people, and including His disciple lost. What really happened?

To understand the parable, we need to see that parable has been used even before Jesus, in the Old Testament. One of the classic examples is the parable of the prophet Nathan addressed to king David [See 1 King 12]. King David has done unthinkably grave sin by committing adultery with Bathsheba and orchestrating the murder of her husband, Uriah. Then, prophet Nathan confronted David, yet indirectly by narrating him a parable. It was about a rich man who forcefully robbed a ewe of a poor man. Listening to the story, David was infuriated and declared that the rich man should die. Then, Nathan dropped the bomb: “David, you are the rich man!” Fortunately, David was a kindhearted and faithful king, and he repented when he was reminded.

That is the power of a parable. It is an indirect and concealed message to make people think deeper about themselves. Jesus began to talk in parables as Jesus realizes that the opposition of the Pharisees and the scribes were worsening, and many people who just want to be entertained rather than to follow Jesus.

Thus, the parable of the sower expresses the real condition of Jesus’ ministry. The elders and the Pharisees were like the pathway. They heard Jesus’ preaching, but still chose to be under the influence of darkness, and sought to destroy Jesus. Many people were like the rocky ground because they simply looked for Jesus to satisfy their needs. Others were like soil filled with thorns because they followed Jesus for a time, but when the trials came, they abandoned Jesus. Lastly, the rich soil was the disciples.

The parable of the sower is not reflecting different kinds of hearers of Jesus during His time, but it is also revealing the reality of our time. Some of us are like the pathway, perhaps we were baptized Catholics, but we never live as such, and still living in sin. Some of us are like rocky ground. We treat Jesus and His Church as a place of entertainment, and we simply look for ourselves rather than God. Some of us are like soil filled with thorns. We are elated of being Christians, but we do not go deeper in our faith, and when the trials or doubts hit, we easily leave the Lord. And hopefully, many of us are like rich soil. We do our best to receive God’s Word and see to it that it will grow and bear fruits.

The good news is the word of God is exceedingly powerful that even it can bear fruit is the rocky ground. Yet, the initial grace is free but it is not cheap, and we need our part. It is our mission to transform even the rocky ground into the rich soil for the Lord.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus Sang Penabur

Minggu ke-15 dalam Masa Biasa [A]

12 Juli 2020

Matius 13: 1-23

child confessionDalam Injil hari ini, kita mengamati reaksi para murid setelah Yesus berbicara perumpamaan-Nya yang pertama. Mereka bingung dan heran! Mengapa? Karena Yesus tiba-tiba mengubah metode pengajaran-Nya. Dalam bab-bab sebelumnya, Yesus mengajar mereka dengan jelas, seperti dalam khotbah di Bukit [Mat 5-7], dan ajaran-Nya sangat mudah dimengerti walaupun kadang sulit untuk dilaksanakan. Namun, Yesus membuat perubahan tak terduga yang membuat banyak orang dan termasuk murid-Nya tak paham dengan mengunakan perumpamaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Untuk memahami perumpamaan Yesus, kita perlu melihat bahwa perumpamaan telah digunakan bahkan sebelum Yesus, secara khusus dalam Perjanjian Lama. Salah satu contoh klasik adalah perumpamaan dari nabi Natan yang ditujukan kepada raja Daud [Lihat 1 Raja 12].

Raja Daud telah melakukan dosa yang sangat besar dengan melakukan perzinaan dengan Batsyeba dan merencanakan pembunuhan suaminya, Uria. Kemudian, nabi Nathan mengecam Daud, namun secara tidak langsung dengan menceritakan sebuah perumpamaan. Ini tentang seorang pria kaya yang dengan paksa merampak anak domba seorang pria miskin. Mendengarkan cerita itu, Daud geram dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus mati. Kemudian, Nathan membuka kartunya, “Daud, kamu adalah orang kaya itu!” Untungnya, Daud adalah raja yang baik hati dan setia, dan dia bertobat ketika dia ditegur.

Itulah kekuatan perumpamaan. Ini adalah pesan tersembunyi yang tidak langsung untuk membuat orang berpikir lebih dalam tentang diri mereka sendiri. Yesus mulai berbicara dalam perumpamaan ketika Yesus menyadari bahwa pertentangan dari orang-orang Farisi dan penatua semakin memburuk, dan banyak orang yang hanya ingin dihibur daripada mengikuti Yesus.

Dengan demikian, perumpamaan tentang penabur mengungkapkan kondisi nyata dari pewartaan Yesus. Para penatua dan orang-orang Farisi seperti jalan setapak. Mereka mendengar khotbah Yesus, tetapi masih memilih untuk berada di bawah pengaruh kegelapan, dan berusaha untuk menghancurkan Yesus. Banyak orang seperti tanah berbatu karena mereka hanya mencari Yesus untuk memuaskan kebutuhan mereka. Yang lain seperti tanah yang dipenuhi duri karena mereka mengikuti Yesus untuk sementara waktu, tetapi ketika pencobaan datang, mereka meninggalkan Yesus. Terakhir, tanah subur adalah para murid.

Perumpamaan tentang penabur tidak mencerminkan berbagai jenis pendengar tentang Yesus selama masa-Nya, tetapi juga mengungkapkan realitas zaman kita. Sebagian dari kita seperti jalan setapak, mungkin kita dibaptis Katolik, tetapi kita tidak pernah hidup seperti itu, dan masih hidup dalam dosa. Beberapa dari kita seperti tanah berbatu. Kita memperlakukan Yesus dan Gereja-Nya sebagai tempat hiburan, dan kita hanya mencari diri sendiri daripada Tuhan. Sebagian dari kita seperti tanah yang dipenuhi duri. Kita gembira menjadi orang Kristen, tetapi kita tidak masuk lebih dalam iman kita, dan ketika pencobaan atau keraguan melanda, kita dengan mudah meninggalkan Tuhan. Dan semoga, banyak dari kita seperti tanah subur. Kita melakukan yang terbaik untuk menerima Firman Tuhan dan memastikan bahwa itu akan tumbuh dan menghasilkan buah.

Kabar baiknya adalah firman Tuhan sangat berdayaguna sehingga bahkan dapat berbuah adalah tanah yang berbatu-batu sekalipun. Rahmat sungguh cuma-cuma tetapi tidak murahan, dan kita perlu melakukan bagian kita. Adalah misi kita untuk mengubah tanah berbatu menjadi tanah yang subur bagi Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yoke of Jesus

14th Sunday in Ordinary Time [A]

July 5, 2020

Matthew 11:25-30

finding cross 2From the previous two Sundays, we learn that Jesus lays down the cost of following Him, how to become His disciples. And they are extremely tough. One has to follow Jesus wherever He goes. One must love Jesus above anyone else. One must be ready to suffer persecutions and hardships, carry his cross, and give up his life for Jesus. It is Jesus or nothing at all. However, following Jesus is not all about hardship and sacrifice. Today we hear that to walking with Him, we receive certain “perks” that others cannot even dare to offer.

Today’s Gospel is one of my personal favorites. Here, Jesus is presenting His other side. Last Sundays, we witness Jesus, who is firm and resolve in following the Father’s will, and He demands the same thing from His disciples. Now, He is showing Himself as one who is gentle and humble. He even promises to give rest to those who come to Him. Yet, there is an interestingly powerful point that Jesus makes: that in order to have rest, we need to carry the yoke of Jesus. A yoke is a device placed on the shoulders to carry weight. For Jesus, rest is not throwing away the yoke. We need to carry our yoke, our daily responsibilities, and mission in life. Yet, despite carrying the yoke, it will be easy. How is that possible?

We remember that Jesus is a carpenter’s son and Himself a carpenter. He knows well that a yoke that does not fit the shoulder will only add more burden and hurt. Yet, the yoke that is designed perfectly to fit the shoulder, will feel easy and even comfortable. This is the yoke of Jesus, a yoke that fits each of us.

The second point is that there is a kind of yoke that can be shouldered by two animals or persons, “a double yoke.” I do believe that this is a kind of yoke that Jesus offers to us. Why double yoke? Because Jesus will bring together yoke with us. He shoulders the yoke with us. And when we feel exhausted, that’s the time He takes over and we find rest.

But, wait, there is more! In the Gospel of Matthew, twice Jesus instructs His disciples to carry something in their shoulders. The first one is to carry the cross [Mat 10:38, and the second thing is the yoke [Mat 11:29]. Jesus seems to make a real connection between the two: His yoke is our cross. If this is true, then the implication is massive. Our daily cross is actually easy because it perfectly fits us and even, Jesus is carrying it with us. I do believe most of the time, it is Jesus who carries our crosses. At first, Jesus sounds exceedingly tough with His nearly impossible demands, especially to carry our cross, but looking our Gospel deeper, we realize that most the time, it is Jesus who shoulders our crosses. That is the reason only His cross, we find the true rest and consolation.

If we find ourselves still burdened and exhausted with our lives, we may ask: Are we carrying the cross of Jesus? Are we bringing the yoke alone and relying solely on our strength? Are we shouldering unnecessary burdens that should be unloaded a long time ago?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuk Yesus

Minggu ke-14 dalam Waktu Biasa [A]

5 Juli 2020

Matius 11: 25-30

jesus carry crossDari dua hari Minggu sebelumnya, Yesus menunjukkan apa yang harus kita serahkan untuk menjadi murid-Nya. Dan hal-hal yang harus kita lepaskan demi Yesus sanggatlah sulit. Kita harus mengikuti Yesus ke mana pun Dia pergi. Kita harus mengasihi Yesus lebih dari yang lain bahkan orang tua kita. Kita harus siap untuk menderita, menanggung  kesulitan, memikul salib, dan menyerahkan hidup bagi Yesus. Pilihannya adalah Yesus atau tidak sama sekali. Namun, mengikuti Yesus tidak semua tentang kesulitan dan pengorbanan. Hari ini kita mendengarkan bahwa menjadi murid-Nya, kita menerima “hal-hal baik” yang hanya Yesus bisa berikan.

Injil Hari Ini adalah salah satu favorit pribadi saya. Di sini, Yesus menunjukkan sisi yang lain. Hari Minggu terakhir, kita menyaksikan Yesus, yang teguh dan teguh dalam mengikuti kehendak Bapa, dan Dia menuntut hal yang sama dari para murid-Nya. Sekarang, Dia menunjukkan diri-Nya sebagai orang yang lembut dan rendah hati. Dia bahkan berjanji untuk memberi kelegaan atau istirahat kepada mereka yang datang kepada-Nya. Namun, ada satu hal menarik dari apa yang Yesus katakan: bahwa untuk beristirahat, kita perlu memikul kuk Yesus. Kuk adalah alat yang diletakkan di atas bahu untuk membawa beban. Bagi Yesus, istirahat bukanlah membuang kuk. Kita perlu memikul kuk kita, tanggung jawab kita sehari-hari, dan misi dalam hidup. Namun, meski membawa kuk, justru kita akan mendapatkan kelegaan. Bagaimana mungkin?

Kita ingat bahwa Yesus adalah putra seorang tukang kayu dan dia sendiri seorang tukang kayu. Dia tahu betul bahwa kuk yang tidak pas di bahu hanya akan menambah beban dan membuat sakit. Namun, kuk yang dirancang sempurna dan pas dengan bahu akan terasa mudah dan bahkan nyaman diangkat. Ini adalah kuk Yesus, kuk yang cocok untuk kita masing-masing, karena Dia adalah tukang kayu yang baik.

Poin kedua adalah bahwa ada semacam kuk yang bisa dipikul oleh dua binatang secara bersamaan, atau kita sebut “kuk ganda.” Saya percaya bahwa ini adalah jenis kuk yang ditawarkan Yesus kepada kita. Mengapa kuk ganda? Karena kita tidak pernah sendirian membawa kuk ini, dan Yesus akan membawa kuk bersama kita. Dan ketika kita merasa lelah, itulah saatnya Dia mengambil alih dan kita menemukan istirahat dan kelegaan.

Dalam Injil Matius, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membawa dua hal di pundak mereka. Yang pertama adalah memikul salib [Mat 10:38], dan yang kedua adalah kuk [Mat 11:29]. Yesus tampaknya membuat hubungan nyata antara keduanya: kuk-Nya adalah salib kita. Jika ini benar, maka implikasinya sangat besar. Salib harian kita sebenarnya tidak seberat yang kita duga karena sangat cocok untuk kita dan bahkan, Yesus membawanya bersama kita. Saya percaya bahwa dalam banyak momen dalam hidup kita, Yesuslah yang membawa salib kita. Pada awalnya, Yesus terdengar sangat tegas dengan tuntutan-Nya yang hampir mustahil, terutama untuk memikul salib kita, tetapi melihat Injil kita lebih dalam, kita menyadari bahwa tidak hanya salib kita ini pas buat kita, Yesus juga yang memikul salib kita. Itulah alasan kenapa memanggul salib-Nya, kita menemukan istirahat dan penghiburan sejati.

Jika kita menemukan diri kita masih terbebani dan kelelahan dengan hidup kita, kita bisa bertanya: Apakah kita memikul salib Yesus atau salib yang lain? Apakah kita membawa kuk sendirian dan hanya mengandalkan kekuatan kita? Apakah kita memikul beban yang tidak perlu yang seharusnya diturunkan sejak lama?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus or Nothing

13th Sunday in Ordinary Time

June 28, 2020

Matthew 10:37-42

Processed with VSCO with p5 preset

In many cultures like Indonesia, Filipino, and Chinese, to honor our parents is of prime importance. In Indonesia, to highlight the value, a folklore “Malin Kudang” was taught even in elementary. In essence, Malin not only failed to respect his parents, but also deliberately ignored them. Thus, his mother cursed him into a stone. it is just unforgivable to disrespect someone who gave your life and raise you to life.

Respecting the parents is also one of the highest values for the Jewish people. What is remarkable is that they are not honoring their parents because it is something natural to do, but because it is a divine commandment. Going back to the Decalogue, to honor our mothers and fathers is, in fact, the fourth commandment, highest among the commandments regulating the human community. Even the Hebrew word used is “kabad”, which can mean “to honor” but may mean also to glorify. Thus, God instructed the Israelites and Christians as well not simply honor but to glorify our parents.

However, today’s Gospel tells us that Jesus demands even something unthinkable, that if we love our parents more than Jesus, we are not worthy of Him. Peter, Andrew, and John and the rest of the disciples have left their stable jobs and the comfort of their home to follow Jesus, but Jesus even lays down a more radical requirement. To follow Him is not just physically be present with Him, but the disciples have to give their total love for Jesus above everyone else. Who is this Jesus who requires His followers the love beyond our parents?

The answer is not that complicated. Jesus deserves all the love and loyalty we have simply because He is God. In Book of Deuteronomy [6:4-5], Moses instructed Israelites how to love and honor God, “Hear, O Israel! The Lord is our God, the Lord alone! Therefore, you shall love the Lord, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.”

And how did Jesus know that His disciples love Him more than anybody else, and not merely lips service? As proof of their love, Jesus asks them to show this: “take up your cross and follow me!” In Jesus’ time, the cross is a most gruesome torture and execution method and is designed to prolong the agony. In essence, Jesus tells His disciples if they really love Him above all else, they need to be ready to endure prolonged suffering and even die a horrible death for Him. When we face Jesus, the choice is: all for Jesus or none at all.

Does it mean we shall stop loving our parents and children? Does it mean we no longer do good works for others and just stay in prayers for as long as we can? Not at all. Loving God above other things places us in the right perspective and orients us to the right destination. Now we may love others including our family for the love of God. It means that when we love them, we bring them closer to God. Now we may do our works and service for God, not for the sake of gaining personal benefits. When we work hard and we are blessed with success, the first thing we remember is to give praise to the Lord. And, if we encounter roadblocks in our lives or if we need to endure suffering, we are not losing hope because this is also an opportunity to love God even more.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus atau Tidak Sama Sekali

Minggu ke-13 dalam Masa Biasa

28 Juni 2020

Matius 10: 37-42

simon cyreneDalam banyak budaya seperti di Indonesia, Filipina dan Cina, menghormati orang tua kita adalah hal yang sangat penting. Di Indonesia, untuk mendidik nilai ini, cerita rakyat “Malin Kudang” diajarkan bahkan di sekolah dasar. Intinya, Malin tidak hanya gagal menghormati orang tuanya, tetapi juga sengaja mengabaikan ibunya yang sudah tua. Karena itu, dia dikutuk menjadi batu. Adalah sesuatu yang tidak termaafkan untuk tidak menghormati seseorang yang telah memberikan hidup kita dan mendidik kita untuk  hidup.

Menghargai orang tua juga merupakan salah satu nilai tertinggi bagi bangsa Yahudi. Yang luar biasa adalah bahwa mereka tidak menghormati orang tua mereka karena itu adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan, tetapi karena itu adalah perintah Ilahi. Kembali ke Sepuluh Perintah Allah, untuk menghormati ibu dan ayah kita sebenarnya adalah perintah keempat, tertinggi di antara perintah-perintah yang mengatur komunitas manusia. Bahkan kata Ibrani yang digunakan adalah “kabad”, yang dapat berarti “untuk menghormati” tetapi bisa juga berarti “memuliakan”. Karena itu, Tuhan memerintahkan baik orang Israel dan maupun umat Kristiani untuk tidak hanya menghormati tetapi juga untuk memuliakan orang tua kita.

Namun, Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus menuntut bahkan sesuatu yang tidak terpikirkan, bahwa jika kita mengasihi orang tua kita lebih daripada Yesus, kita tidak layak bagi-Nya. Petrus, Andreas, dan Yohanes serta murid-murid lainnya telah meninggalkan pekerjaan mereka yang stabil dan kenyamanan rumah mereka untuk mengikuti Yesus, tetapi Yesus bahkan menetapkan persyaratan yang lebih radikal. Untuk mengikuti-Nya tidak hanya secara fisik hadir bersama-Nya, tetapi para murid harus memberikan kasih total mereka kepada Yesus di atas semua orang. Siapakah Yesus ini sehingga Dia patut menerima kasih para pengikut-Nya lebih dari orang tua kita?

Jawabannya tidak terlalu rumit. Yesus pantas mendapatkan semua cinta dan kesetiaan yang kita miliki hanya karena Dia adalah Allah. Dalam Kitab Ulangan [6:4-5], Musa menginstruksikan orang Israel cara untuk mengasihi dan menghormati Allah, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Hanya Allah yang layak menerima segalanya dari kita.

Dan bagaimana Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya mengasihi Dia lebih dari yang lain, dan bukan hanya sekedar kata-kata saja? Sebagai bukti kasih mereka, Yesus meminta mereka untuk menunjukkan ini: “Pikullah salibmu dan ikuti aku!” Pada zaman Yesus, salib adalah metode penyiksaan dan eksekusi yang paling mengerikan, dan dirancang untuk memperpanjang penderitaan. Intinya, Yesus memberi tahu para murid-Nya jika mereka benar-benar mencintai-Nya di atas segalanya, mereka harus siap untuk menanggung penderitaan yang berkepanjangan dan bahkan mati bagi-Nya. Ketika kita menghadapi Yesus, pilihannya adalah: semua untuk Yesus atau tidak sama sekali.

Apakah itu berarti kita akan berhenti mencintai orang tua dan anak-anak kita? Apakah itu berarti kita tidak lagi melakukan pekerjaan baik untuk orang lain dan hanya berdoa selama yang kita bisa? Tentu saja tidak. Mengasihi Tuhan di atas hal-hal lain menempatkan kita dalam perspektif yang benar dan mengarahkan kita ke tujuan yang benar. Sekarang kita dapat mengasihi orang lain termasuk keluarga kita sebagai bentuk kasih kita  bagi Tuhan. Ini berarti bahwa ketika kita mencintai mereka, kita membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Sekarang kita dapat melakukan pekerjaan dan pelayanan kita untuk Tuhan, bukan demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ketika kita bekerja keras dan kita diberkati dengan kesuksesan, hal pertama yang kita ingat adalah untuk memuji Tuhan. Dan, jika kita menghadapi hambatan dalam hidup kita atau jika kita perlu menanggung penderitaan, kita tidak kehilangan harapan karena ini juga merupakan kesempatan untuk lebih mengasihi sesama dan Tuhan lebih dalam.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be Not Afraid

12th Sunday in Ordinary Time [A]

June 21, 2020

Matthew 10:26-33

peter image 2Jesus never promises that the disciple will have easy and prosperous lives. Jesus demands the opposite. After being chosen, the twelve disciples are sent to preach that the Kingdom is at hand, and yet they will not go like any royal emissaries with their military escort. No! They will travel as simple men going on foot and carrying minimal provision. They will rely on the generosity of their hosts, and the worst part is that they are going to face rejection.

Naturally, humans as they are, they are growing fear. Yet, Jesus tells them that this mission is just “on the job training,” because they are going to undergo something even deadlier in the future. True enough, after the Pentecost, they will preach that Jesus is Lord, and they are facing severe rejection, terrible persecution, and even gruesome death. As Jesus teaches them, “the disciples are no greater than their master.” If Jesus, their master, is rejected, insulted, and condemned to death, the disciples will share the same path. Peter is crucified upside down, James, brother of John, is beheaded, and James son of Alpheus, is stoned to death.

Jesus understands their human and natural fear, but Jesus tells them that they shall not fear. Why? The answer of Jesus is simple. Why should we fear dying if we will perish anyway? The choices are whether we die as a witness to Christ or die running from Christ?

Furthermore, Jesus reveals the real reason why we should not be afraid: we have God, who is a loving and caring Father. Jesus gives a lucid yet simple explanation: how God treats a little sparrow. Sparrow is a kind of vertebrates that is practically worthless in the eyes of merchants, but for God, this little bird is His creatures, and when He created something, He has a good plan for it, and He sees to it that this plan will unfold providentially. In the word of Christian Philosopher Peter Kreeft, even God loves mosquitos. If God cares and loves the sparrow, would He not care and love for us? Again, Jesus points out a lovely truth: God knows better than we know ourselves, even He counts our hairs!

When a sparrow falls and dies, it is part of God’s perfect plan, and so when the disciples are experiencing rejections, trials, and even death, it is also part of God’s providence. Yes, often, our sufferings can be absurd. Why do we have to lose someone we love? Why do we suffer from incurable sickness? We do not understand, but even these terrible things in life are also parts of God’s providence.

We may not see it now, but perhaps we may see it at a later time, or perhaps, we never discover the reasons because of our too narrow minds. Yet, in God’s eyes, it is totally making sense. The gruesome death of martyrs, for example, is unthinkable. Still, Tertullian, a Christian apologist in 3rd century, saw it in a deeper perspective and wrote, “We spring up in greater numbers the more we are mown down by you: the blood of the Christians is the seed of Christianity.”

Jesus does not call us to enjoy a prosperous life but to be His witnesses. Though things may turn against us, Jesus tells us not to fear and worry because, in the end, all will work according to His beautiful plan because He loves us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dan Tubuh Kita

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – A

14 Juni 2020

Yohanes 6: 51-58

monstranHari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus berawal dari inisiatif St. Juliana dari Liege, yang meminta uskupnya dan sahabat-sahabatnya untuk menghormati  secara khusus sakramen Ekaristi, dan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Berdirinya Ekaristi sendiri terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, dan setiap Kamis Putih, Gereja merayakan peristiwa ini. Namun, karena Kamis Putih adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Trihari suci Paskah, perhatian diberikan pada persiapan bagi umat beriman untuk memasuki misteri Sengsara dan Kebangkitan Tuhan kita. Karena berakar di Kamis Putih, Hari Raya Corpus Christi dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Tritunggal. Namun, di beberapa negara seperti Indonesia, perayaan dipindahkan ke hari Minggu berikutnya untuk mengakomodasi partisipasi yang lebih besar dari umat beriman.

 Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa tubuh-Nya adalah makanan yang nyata, dan setiap orang yang ingin memiliki hidup yang kekal perlu menyantap tubuh-Nya. Kita mungkin bertanya-tanya: mengapa dalam kebijaksanaan-Nya, Yesus memutuskan untuk memberikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani kita? Mengapa Yesus tidak langsung menanamkan rahmat langsung ke jiwa kita? Jawabannya mungkin sangat sederhana. Hal ini dipilih Tuhan karena tubuh kita ini adalah nyata dan baik. Jika kita kembali ke kisah penciptaan di Buku Kejadian, Tuhan menciptakan pria dan wanita dalam kodrat manusia, termasuk tubuh kita, sebagai sesuatu yang sangat baik. Meskipun tubuh kita berasal dari tanah, tubuh kita telah dirancang dengan luar biasa untuk menerima roti ilahi, kehidupan rohani. Tubuh kita pada dasarnya baik, dan begitu baik sehingga tubuh kita bisa menerima rahmat. Dalam perkataan St Agustinus, “Capax Dei” (memiliki kemampuan untuk mengenal dan menerima Tuhan).

Sejak awal berdirinya, Gereja telah memerangi sebuah ajaran sesat yang disebut Gnostisisme. Intinya, gnostisisme mengajarkan ada dualisme dalam ciptaan, bahwa dunia spiritual itu baik dan dunia material, termasuk tubuh kita, adalah jahat. Jadi, setiap aspek ragawi dari kemanusiaan kita harus dibuang dan dihancurkan. Gereja dengan keras menentang ini karena Allah telah menciptakan dunia secara totalitas sebagai yang baik dan indah. Pertempuran berlanjut pada masa St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, yang berhadapan melawan kelompok Albigensia [adaptasi gnostisisme pada abad pertengahan). Syukurlah, kaum Albigentia tidak ada lagi, tetapi sayangnya, gnostisisme terus hidup.

Sebagai umat Kristiani, kita bersama Gereja terus memerangi gnostisisme modern. Jenis gnostisisme sangat sederhana dan tanpa disadari kita pun telah menjadi korban dari virus mematikan ini. Setiapkali kita memperlakukan tubuh kita hanya alat untuk mencapai kesuksesan dan popularitas, ketika kita menyalahgunakan tubuh kita untuk merasakan kenikmatan instan, ketika kita menjual tubuh kita sebagai keuntungan ekonomi belaka, kita tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap ini ajaran sesat ini.

Pesta Corpus Christi membawa kita kebenaran yang lebih besar dari tubuh kita. Dengan menjadi manusia dan akhirnya memberikan tubuh-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tubuh tidak hanya mampu menerima rahmat, tetapi juga mampu menjadi rahmat dan kasih bagi sesama. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus telah memberikan tubuh-Nya sebagai ekspresi kasih tertinggi. Namun, untuk dibagikan, tubuh-Nya harus dihancurkan, namun meski hancur, tubuh mulia ini dipersembahkan dalam ucapan syukur.

 Pada masa pandemi ini, kita tidak dapat menghadiri Misa Kudus, dan kita sangat merindukan Tubuh Kristus. Namun, kabar baiknya adalah bahwa inilah saatnya bagi kita untuk menjadi Tubuh Kristus bagi sesama kita yang membutuhkan. Hanya dengan membagikan tubuh kita dalam kasih, kita memenuhi tujuan kita sebagai makhluk ragawi yang diciptakan menurut citra-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christ’s Body and Our Body

Solemnity of Body and Blood of Christ [Corpus Christi] – A

June 14, 2020

John 6:51-58

eucharist 3The solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ takes its origin from the initiative of St. Juliana of Liege, who asked his bishop and his friends to honor, in a special way, the institution of the Eucharist, and the real presence of Jesus Christ in the Blessed Sacrament. The institution of the Eucharist itself took place in the Last Supper of the Lord, and every Holy Thursday, the Church celebrates this event. However, since Holy Thursday is an inseparable part of the Easter Triduum, the attention is given to the mystery of the Passion and Resurrection of our Lord. Because of its rootedness in Holy Thursday, the solemnity of Corpus Christi is celebrated on Thursday after the Trinity Sunday. Yet, in several countries, the celebration is moved to the next Sunday to accommodate the greater participation of the faithful.

 In the Gospel, Jesus insists that His body is real food, and everyone who wants to have eternal life shall consume His body. We may wonder: why does in His infinite wisdom, Jesus decide to give His body as food for our spiritual nourishment? Why not infuse the grace directly to our souls? The answer may surprisingly simple. It is because our body is real and good. God created man and woman in their fulness human nature, including their bodies, as something very good. Though our body comes from the ground, it has been marvelously designed to receive the bread of God, the spiritual life. Our bodies are fundamentally good, and so good that our bodies are inclined to grace. In the word of St. Augustine, “Capax Dei” (capable of knowing and receiving God).

Since the earliest time, the Church has battling perennial heresy called Gnosticism. In essence, gnosticism teaches there is dualism in our creation, and that the spiritual realm is good and the material world, including our body, is evil. Thus, any material aspect of our humanity has to be disposed of. The Church vehemently opposed this because God has created our material world as good and beautiful. The battle continues in time of St. Dominic de Guzman, the founder of Order of Preachers, who fought the Albigensians [the middle age adaptation of gnosticism). Gratefully, the Albigentians were no more, but unfortunately, the gnosticism lives on.

As Christians, we carry the battle of the Church against the modern-day gnosticism. The kind gnosticism is surprisingly simple without any need to learn a complex system of belief. When we consider our body a mere instrument to achieve success, when we abuse our bodies to feel instant pleasures, when we treat our bodies as mere economic gain, when we say that my body is my right, we unconsciously fall into the trap of this heresy.

But wait, there’s more! The feast of Corpus Christi brings us even greater truth of our body. By becoming man and finally giving His body, Jesus teaches us that body is not only capable of receiving grace, but it is also capable of becoming grace and love for others. In the Last Supper, Jesus has given as a supreme expression that is to offer His own body in love. And yet, to be shared, it has to be broken, and yet despite broken, it is offered in thanksgiving.

 In this time of the pandemic, we are not able to attend the Holy Mass, and we miss a lot the Body of Christ. Yet, the good news is that it is our time also for us to become the Body of Christ for our neighbors in need. Only through sharing our body in love, we fulfill our purpose as bodily creatures created in His image.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP