Be Not Afraid

12th Sunday in Ordinary Time [A]

June 21, 2020

Matthew 10:26-33

peter image 2Jesus never promises that the disciple will have easy and prosperous lives. Jesus demands the opposite. After being chosen, the twelve disciples are sent to preach that the Kingdom is at hand, and yet they will not go like any royal emissaries with their military escort. No! They will travel as simple men going on foot and carrying minimal provision. They will rely on the generosity of their hosts, and the worst part is that they are going to face rejection.

Naturally, humans as they are, they are growing fear. Yet, Jesus tells them that this mission is just “on the job training,” because they are going to undergo something even deadlier in the future. True enough, after the Pentecost, they will preach that Jesus is Lord, and they are facing severe rejection, terrible persecution, and even gruesome death. As Jesus teaches them, “the disciples are no greater than their master.” If Jesus, their master, is rejected, insulted, and condemned to death, the disciples will share the same path. Peter is crucified upside down, James, brother of John, is beheaded, and James son of Alpheus, is stoned to death.

Jesus understands their human and natural fear, but Jesus tells them that they shall not fear. Why? The answer of Jesus is simple. Why should we fear dying if we will perish anyway? The choices are whether we die as a witness to Christ or die running from Christ?

Furthermore, Jesus reveals the real reason why we should not be afraid: we have God, who is a loving and caring Father. Jesus gives a lucid yet simple explanation: how God treats a little sparrow. Sparrow is a kind of vertebrates that is practically worthless in the eyes of merchants, but for God, this little bird is His creatures, and when He created something, He has a good plan for it, and He sees to it that this plan will unfold providentially. In the word of Christian Philosopher Peter Kreeft, even God loves mosquitos. If God cares and loves the sparrow, would He not care and love for us? Again, Jesus points out a lovely truth: God knows better than we know ourselves, even He counts our hairs!

When a sparrow falls and dies, it is part of God’s perfect plan, and so when the disciples are experiencing rejections, trials, and even death, it is also part of God’s providence. Yes, often, our sufferings can be absurd. Why do we have to lose someone we love? Why do we suffer from incurable sickness? We do not understand, but even these terrible things in life are also parts of God’s providence.

We may not see it now, but perhaps we may see it at a later time, or perhaps, we never discover the reasons because of our too narrow minds. Yet, in God’s eyes, it is totally making sense. The gruesome death of martyrs, for example, is unthinkable. Still, Tertullian, a Christian apologist in 3rd century, saw it in a deeper perspective and wrote, “We spring up in greater numbers the more we are mown down by you: the blood of the Christians is the seed of Christianity.”

Jesus does not call us to enjoy a prosperous life but to be His witnesses. Though things may turn against us, Jesus tells us not to fear and worry because, in the end, all will work according to His beautiful plan because He loves us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dan Tubuh Kita

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – A

14 Juni 2020

Yohanes 6: 51-58

monstranHari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus berawal dari inisiatif St. Juliana dari Liege, yang meminta uskupnya dan sahabat-sahabatnya untuk menghormati  secara khusus sakramen Ekaristi, dan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Berdirinya Ekaristi sendiri terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, dan setiap Kamis Putih, Gereja merayakan peristiwa ini. Namun, karena Kamis Putih adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Trihari suci Paskah, perhatian diberikan pada persiapan bagi umat beriman untuk memasuki misteri Sengsara dan Kebangkitan Tuhan kita. Karena berakar di Kamis Putih, Hari Raya Corpus Christi dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Tritunggal. Namun, di beberapa negara seperti Indonesia, perayaan dipindahkan ke hari Minggu berikutnya untuk mengakomodasi partisipasi yang lebih besar dari umat beriman.

 Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa tubuh-Nya adalah makanan yang nyata, dan setiap orang yang ingin memiliki hidup yang kekal perlu menyantap tubuh-Nya. Kita mungkin bertanya-tanya: mengapa dalam kebijaksanaan-Nya, Yesus memutuskan untuk memberikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani kita? Mengapa Yesus tidak langsung menanamkan rahmat langsung ke jiwa kita? Jawabannya mungkin sangat sederhana. Hal ini dipilih Tuhan karena tubuh kita ini adalah nyata dan baik. Jika kita kembali ke kisah penciptaan di Buku Kejadian, Tuhan menciptakan pria dan wanita dalam kodrat manusia, termasuk tubuh kita, sebagai sesuatu yang sangat baik. Meskipun tubuh kita berasal dari tanah, tubuh kita telah dirancang dengan luar biasa untuk menerima roti ilahi, kehidupan rohani. Tubuh kita pada dasarnya baik, dan begitu baik sehingga tubuh kita bisa menerima rahmat. Dalam perkataan St Agustinus, “Capax Dei” (memiliki kemampuan untuk mengenal dan menerima Tuhan).

Sejak awal berdirinya, Gereja telah memerangi sebuah ajaran sesat yang disebut Gnostisisme. Intinya, gnostisisme mengajarkan ada dualisme dalam ciptaan, bahwa dunia spiritual itu baik dan dunia material, termasuk tubuh kita, adalah jahat. Jadi, setiap aspek ragawi dari kemanusiaan kita harus dibuang dan dihancurkan. Gereja dengan keras menentang ini karena Allah telah menciptakan dunia secara totalitas sebagai yang baik dan indah. Pertempuran berlanjut pada masa St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, yang berhadapan melawan kelompok Albigensia [adaptasi gnostisisme pada abad pertengahan). Syukurlah, kaum Albigentia tidak ada lagi, tetapi sayangnya, gnostisisme terus hidup.

Sebagai umat Kristiani, kita bersama Gereja terus memerangi gnostisisme modern. Jenis gnostisisme sangat sederhana dan tanpa disadari kita pun telah menjadi korban dari virus mematikan ini. Setiapkali kita memperlakukan tubuh kita hanya alat untuk mencapai kesuksesan dan popularitas, ketika kita menyalahgunakan tubuh kita untuk merasakan kenikmatan instan, ketika kita menjual tubuh kita sebagai keuntungan ekonomi belaka, kita tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap ini ajaran sesat ini.

Pesta Corpus Christi membawa kita kebenaran yang lebih besar dari tubuh kita. Dengan menjadi manusia dan akhirnya memberikan tubuh-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tubuh tidak hanya mampu menerima rahmat, tetapi juga mampu menjadi rahmat dan kasih bagi sesama. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus telah memberikan tubuh-Nya sebagai ekspresi kasih tertinggi. Namun, untuk dibagikan, tubuh-Nya harus dihancurkan, namun meski hancur, tubuh mulia ini dipersembahkan dalam ucapan syukur.

 Pada masa pandemi ini, kita tidak dapat menghadiri Misa Kudus, dan kita sangat merindukan Tubuh Kristus. Namun, kabar baiknya adalah bahwa inilah saatnya bagi kita untuk menjadi Tubuh Kristus bagi sesama kita yang membutuhkan. Hanya dengan membagikan tubuh kita dalam kasih, kita memenuhi tujuan kita sebagai makhluk ragawi yang diciptakan menurut citra-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christ’s Body and Our Body

Solemnity of Body and Blood of Christ [Corpus Christi] – A

June 14, 2020

John 6:51-58

eucharist 3The solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ takes its origin from the initiative of St. Juliana of Liege, who asked his bishop and his friends to honor, in a special way, the institution of the Eucharist, and the real presence of Jesus Christ in the Blessed Sacrament. The institution of the Eucharist itself took place in the Last Supper of the Lord, and every Holy Thursday, the Church celebrates this event. However, since Holy Thursday is an inseparable part of the Easter Triduum, the attention is given to the mystery of the Passion and Resurrection of our Lord. Because of its rootedness in Holy Thursday, the solemnity of Corpus Christi is celebrated on Thursday after the Trinity Sunday. Yet, in several countries, the celebration is moved to the next Sunday to accommodate the greater participation of the faithful.

 In the Gospel, Jesus insists that His body is real food, and everyone who wants to have eternal life shall consume His body. We may wonder: why does in His infinite wisdom, Jesus decide to give His body as food for our spiritual nourishment? Why not infuse the grace directly to our souls? The answer may surprisingly simple. It is because our body is real and good. God created man and woman in their fulness human nature, including their bodies, as something very good. Though our body comes from the ground, it has been marvelously designed to receive the bread of God, the spiritual life. Our bodies are fundamentally good, and so good that our bodies are inclined to grace. In the word of St. Augustine, “Capax Dei” (capable of knowing and receiving God).

Since the earliest time, the Church has battling perennial heresy called Gnosticism. In essence, gnosticism teaches there is dualism in our creation, and that the spiritual realm is good and the material world, including our body, is evil. Thus, any material aspect of our humanity has to be disposed of. The Church vehemently opposed this because God has created our material world as good and beautiful. The battle continues in time of St. Dominic de Guzman, the founder of Order of Preachers, who fought the Albigensians [the middle age adaptation of gnosticism). Gratefully, the Albigentians were no more, but unfortunately, the gnosticism lives on.

As Christians, we carry the battle of the Church against the modern-day gnosticism. The kind gnosticism is surprisingly simple without any need to learn a complex system of belief. When we consider our body a mere instrument to achieve success, when we abuse our bodies to feel instant pleasures, when we treat our bodies as mere economic gain, when we say that my body is my right, we unconsciously fall into the trap of this heresy.

But wait, there’s more! The feast of Corpus Christi brings us even greater truth of our body. By becoming man and finally giving His body, Jesus teaches us that body is not only capable of receiving grace, but it is also capable of becoming grace and love for others. In the Last Supper, Jesus has given as a supreme expression that is to offer His own body in love. And yet, to be shared, it has to be broken, and yet despite broken, it is offered in thanksgiving.

 In this time of the pandemic, we are not able to attend the Holy Mass, and we miss a lot the Body of Christ. Yet, the good news is that it is our time also for us to become the Body of Christ for our neighbors in need. Only through sharing our body in love, we fulfill our purpose as bodily creatures created in His image.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Image of the Trinity

Solemnity of the Most Holy Trinity [A]

June 7, 2020

John 3:16-18

Trinity 2We are re-entering the ordinary season of the Church, and one of the greatest feasts within the ordinary time is the solemnity of the Most Holy Trinity. The Church has placed the celebration of the great feast on Sunday after the Pentecost. The reason may not be that obvious, but if we look at the bigger picture, it is nothing but a natural procession of truth. In Easter, we are celebrating the resurrection of Jesus that cements the divinity of Christ. On the Pentecost, we witness the divinity of the Holy Spirit being affirmed [see last Sunday’s reflection]. Now, we are rejoicing for the Three divine persons in God.

The Trinity Sunday is admittedly the most dreaded by many preachers because many are still at a loss of how to show the beauty of this most profound truth, and others are afraid to explain the Trinity because they may spread erroneous concepts. After all, we are facing the source and summit of all mysteries, the mystery of all mysteries. However, it is not the right excuse not to bring forth the beauty of the Holy Trinity. The preachers have to roll up their sleeves and spend more time in researching and preparing our homilies.

In my reflection, I would like to bring you to the Old Testament. In the Old Testament, the reality of the Trinity is hidden in most parts, and yet the sacred truth comes up in the surprisingly key moments. Let us read Gen 1:1-3, “In the beginning when God created the heavens and the earth, the earth was a formless void and darkness covered the face of the deep, while a wind from God swept over the face of the waters. Then God said, “Let there be light,”; and there was light.” The early Christians like St. Irenaeus of Lyon, immediately saw this as Trinity working as one, God, the Spirit, and the Word. The good news is that the creation is the masterpiece of the Holy Trinity, and to a certain degree, it reflects the perfection of the Trinity.

And wait, something more! In Gen 1:26, when God created the man and the woman, God said, “let us create the man and woman in our image and likeness.” This passage is a bit strange because why God, who is one, suddenly self-refer in plural? The Jewish tradition would interpret that God is addressing His heavenly council, the angels, but again, the Christian tradition instinctively saw them as the three divine persons. The good news is that if we are created in the image of God, and if our God is the Trinity, then we are created in the image of Trinity.

This explains a lot of things. Indeed, we cannot fully comprehend the mystery, but we surprisingly are very close to this mystery. Trinity is both our origin and destiny. As the image of Trinity, we cannot discover real joy by hoarding things to ourselves. We cannot be selfish and truly delighted at the same time. Like the Father and the Son love each other in the Holy Spirit, we are called to give ourselves to others in life.

Why does the Catholic Church fearlessly defend the sacredness of marriage? Because through marriage, the man and woman may give themselves totally to each other in love. Their love is so strong that love can give birth to life. When this new life [children] come to their lives, their love can grow even exponentially. In loving and giving ourselves, we may find the fullness of our identity, the image of Trinity. Indeed, it is tough, but the good news is that we are designed to give love and life. Holy Trinity is our origin, and Holy Trinity is our destiny.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Trinitas

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

7 Juni 2020

Yohanes 3: 16-18

trinity 3Kita memasuki kembali masa biasa Gereja, dan salah satu perayaan terbesar dalam masa biasa adalah kesungguhan Tritunggal Mahakudus. Gereja telah menempatkan perayaan besar ini pada hari Minggu setelah Pentekosta. Alasannya mungkin tidak begitu jelas bagi kita, tetapi jika kita melihat gambaran yang lebih besar, itu sebenarnya adalah prosesi kebenaran yang wajar. Di Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus yang mengukuhkan keilahian Kristus, dan pada hari Pentekosta, kita menyaksikan keilahian Roh Kudus ditegaskan [lihat refleksi hari Minggu lalu]. Sekarang, kami bersukacita karena Tiga pribadi Ilahi di dalam Tuhan.

Tritunggal Minggu diakui sebagai yang paling ditakuti oleh banyak pastor atau romo karena banyak yang masih bingung bagaimana menunjukkan kebenaran yang paling dalam ini dan yang lain takut untuk menjelaskan Tritunggal karena bisa-bisa menyebarkan konsep yang keliru. Lagipula, kita berhadapan dengan sumber dan puncak semua misteri iman. Namun, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak menampilkan keindahan Tritunggal yang mahakudus. Para imam harus bekerja keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam belajar dan mempersiapkan homili.

Dalam renungan ini, saya ingin membawa kita semua kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, realitas Tritunggal tersembunyi di sebagian besar ayat, namun kebenaran suci ini tampak di saat-saat fundamental. Mari kita baca Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk  dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi” Umat Kristiani perdana seperti St. Irenaeus dari Lyon, segera melihat ini sebagai Trinitas yang bekerja sebagai satu, Allah, Roh dan Firman. Kabar baiknya adalah bahwa dunia dan segala ciptaan adalah mahakarya dari Tritunggal Mahakudus, dan sampat tingkat tertentu, ciptaan itu mencerminkan kesempurnaan Tritunggal.

Selain itu, dalam Kejadian 1:26, ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Perikop ini sedikit aneh karena Allah yang satu tiba-tiba menyebut diri sendiri dalam bentuk jamak. Tradisi Yahudi menafsirkan hal ini bahwa Allah berbicara kepada dewan surgawi-Nya, para malaikat, tetapi sekali lagi, tradisi Kristiani melihat ini sebagai tiga pribadi Ilahi. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Tritunggal, maka kita adalah citra Tritunggal.

Memang benar bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami misteri Ilahi, tetapi kita sebenarnya tidak jauh dari misteri ini. Bahkan, kita diundang untuk seperti Trinitas. Sebagai citra Trinitas, kita tidak dapat menemukan sukacita sejati dengan menimbun hal-hal duniawi seperti kekayaan, ketenaran untuk diri kita sendiri. Seperti Bapa dan Putra saling mengasihi dalam Roh Kudus, kita dipanggil untuk memberikan diri kita kepada sesama dalam kasih.

Ini mengapa Gereja Katolik terus menjaga kesakralan pernikahan. Karena melalui pernikahan, pria dan wanita dapat memberikan diri mereka sepenuhnya satu sama lain. Cinta kasih mereka begitu kuat sehingga cinta kasih ini bahkan bisa melahirkan kehidupan baru. Dan saat kehidupan baru ini [anak] datang di tengah hidup sang pria dan wanita, kasih mereka dapat semakin tumbuh bahkan secara eksponensial. Dan dalam pernikahan dan keluarga, kita menemukan identitas kita sebagai citra Trinitas, dan saat kita menemukan hal ini, kita menemukan makna terdalam hidup kita.

Memang mengasihi sangat sulit, tetapi kabar baiknya adalah kita dirancang untuk memberikan kasih dan kehidupan. Tritunggal Mahakudus adalah asal usul kita, dan Tritunggal Mahakudus adalah tujuan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Godaan

Hari Minggu Prapaskah Pertama

26 Februari 2020

Matius 4:1-11

temptation of jesus 2Hari Minggu Prapaskah pertama dimulai dengan kisah Yesus di padang gurun, berpuasa dan dicobai oleh iblis. Matius memberi kita lebih banyak perincian dalam kisah pencobaan, dan dari Matius, kita menemukan tiga pencobaan Kristus. Mengapa Setan menggoda Yesus? Kenapa tiga godaan?

Pencobaan Yesus terjadi setelah pembaptisan Yesus dan tepat sebelum Yesus memulai karya-Nya. Pencobaan-Nya membawa kita kembali ke pencobaan pertama di taman Eden. Ketika Setan merekayasa kejatuhan umat manusia dengan menipu Adam yang pertama, Setan yang sama melakukan serangan yang sama kepada Yesus, sang Adam yang baru.

Mengapa tiga? Para rabi Yahudi kuno percaya bahwa ular yang mewakili Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan tiga hal. “… ketika wanita itu melihat bahwa pohon itu baik untuk makanan, dan buah itu menyenangkan mata, dan bahwa pohon itu diinginkan untuk membuat orang bijak [Kej 3: 6].” Pertama, iblis menjadikan buah sebagai sesuatu yang baik untuk dimakan. Kedua, iblis membuat Hawa merasakan bahwa buah itu adalah pemandangan yang harus dilihat. Terakhir, iblis membuat Hawa percaya bahwa buah adalah sumber kebijaksanaan. Pencobaan pertama disebut dosa perut karena ia menyerang kedagingan kita yang lemah [kerakusan dan dosa seksual]. Yang kedua adalah dosa penglihatan karena melalui mata, kita melihat hal-hal yang tidak kita miliki, dan kita berhasrat untuk memilikinya [iri, posesif, dan mencuri]. Terakhir, tetapi yang paling ganas adalah dosa kesombongan. Godaan ini membuat orang berpikir bahwa mereka dapat melengserkan Tuhan dan menempatkan diri mereka sebagai tuhan-tuhan baru.

Ketika berhadapan dengan Yesus, iblis menerapkan teknik yang sama. Iblis menawarkan Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya untuk memuaskan rasa lapar-Nya. Iblis membawa Yesus untuk melihat semua hal indah di dunia untuk dimiliki. Dan, iblis meminta Yesus untuk menunjukkan kuasa-Nya untuk menunjukkan keilahian dan otoritas-Nya kepada orang-orang. Namun, Yesus tidak jatuh ke dalam pencobaan, dan dengan demikian, membatalkan kegagalan Adam yang pertama.

Bagaimana cara Yesus melawan serangan iblis? Tiga hal: puasa dan pantang, amal, dan doa. Puasa dan pantang telah menjadi praktik kuno untuk mengontrol hasrat kita. Sementara iblis ingin kita jatuh ke dalam dosa kedagingan dan menikmati kesenangan tubuh, puasa dan pantang mengendalikan nafsu kita. Sementara iblis memengaruhi kita untuk mendapatkan lebih banyak dan memiliki barang-barang bahkan dengan mengorbankan orang lain, amal memungkinkan kita untuk bermurah hati dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Sementara iblis berusaha meyakinkan kita bahwa kita dapat menjadi penguasa dalam hidup kita, doa mengingatkan kita bahwa Tuhan itu ada, dan kita bukan Dia.

Masa Prapaskah ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyadari kelemahan manusia kita dan bagaimana iblis mengeksploitasi mereka. Namun, kita bukannya tanpa harapan; Yesus memberi kita rahmat-Nya untuk melawan pencobaan ini dan tiga praktik Prapaskah [puasa, pantang, amal, dan doa] sebagai senjata kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love at the Heart

Seventh Sunday in Ordinary Time [A]

February 23, 2020

Matthew 5:38-48

praying n persecutionAt the heart of Jesus’ teaching in the Mount is the formation of the heart. However, the heart in the Bible is not limited to our affective side or emotions. It also stands for the center of intellectual capacity and freedom. The heart is the seat of life itself, and thus, represents who the man or woman is.

Last week, Jesus told us to purify our hearts from evil thoughts and wicked desires [Mat 5:17-37]. It is not enough not to do violence to others, but it is necessary to cleanse our hearts from anger and vengeance. It is not sufficient not to commit adultery, but we are required to remove from our hearts the lustful desires. Forming the hearts is more fundamental rather than simply and blindly following the written laws and regulations. The formation of the heart is about building up good habits, and virtuous character. A virtuous person is avoiding evil, not because of fear of the external laws, but strong motivation from within.

However, in today’s Gospel, Jesus demands even something higher. The purifying of the heart is just the first step, and we need to go to another and more difficult step: to love. It is precisely tougher because love is not merely about removing impure desires in our hearts or preventing us from doing evil, but it is about actively doing good. Moreover, this love [agape] is only real and meaningful if we are doing good, not in the conditions that are favorable to us, but rather in the face of evil and sufferings.

Since its foundation around two millennia ago, Christians remain the most persecuted people. Opendoorusa.org reported that numbers of persecutions and violence against Christians are on the rise. In 2019, more than 260 million Christians [one out of nine Christians in the world] are living in the places where they experience a high level of persecution. Almost 3 thousand Christians were killed because of their faith. More than 9 thousand churches and Christian buildings like schools were attacked. In Nigeria, priests and seminarians were abducted and tortured. Some were lucky to return alive, but many were found lifeless. In China, the government made national crackdown against Christians and shut down the churches. In Indonesia, things are better for the Christians because our rights are enshrined in the constitutions. Yet, in the grassroots, we continue to feel discriminated against and fear of being targeted by the extremists and terrorists.

Our destiny as Christians are not better than our brothers and sisters who belonged to the early Church. However, as our brothers and sisters in the past, our mission remains the same: to love our enemies, to respond evil with utter generosity, and be ready to fight for justice with gentleness. Christians are accused as weak people, but this is plain wrong. The world that is built by violence and bitterness is self-destruct, and unless we dare to be true followers of Christ, we cannot stop the downward mobility towards total ruin. We thank our predecessors who refused to be controlled by violent anger despite so much evil they had to endure. The world is a much better place with whose hearts are pure. St. Tertullian believed that the blood of martyrs is the seed of Christianity, and we believe also that the love of Christians are the seed of a better world.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Return to Our Hearts

Sixth Sunday in Ordinary Time [A]

February 16, 2020

Mat 5:17-37

heart 2Jesus is accused of unfaithful to the Law of Moses and the traditions of the elders. He no longer requires His disciples to performs ceremonial washings and many traditions of the elders [Mat 15:2]. Jesus heals people even during the Sabbath [Mark 3:1-6]. Jesus declares that all food is clean [Mark 7:19]. The worst part is when Jesus commands His disciples to drink His blood [see Lev 17:14; Mat 26:27-28]. Is Jesus breaking and changing the Law of Moses?

Today, Jesus makes a bold statement against His accusers, “Do not think that I come to abolish the Law, but to fulfill it.” The real and tough question is how Jesus completes the Law? Jesus’ answer is simple: by returning to original plans of God, or simply put, by going back to the essential. However, to go back to the essential, Jesus has to unload centuries-old unnecessary addition to the fundamental Law. Jesus has to remove tons of unessential.

Yet, the basic logic is: before we set aside the unessential, we need to know first what the essential is. For Jesus, what is essential and the original plan of God? Simply put, God wants us to share His divine life and happiness. To share this life, men and women have to give their hearts totally to God. And, Jesus understands that to give our hearts for the Lord, we need to purify our hearts. “… because from the heart comes to all evil things…[Mar 7:21]” and “Blessed are the pure in heart because they will see God [Mat 5:8].” No wonder, in today’s Gospel, to fulfill the Law, we need to purify our hearts from all negative emotions and thoughts. We must cleanse our hearts from prolonged anger, hatred, and vengeance because these things will breed violence and worse evil. We shall clean our hearts from lust because it simply leads to sexual immorality. Even Jesus hates divorce because it is the product of the hardness of our hearts.

One time, when I was still a brother, I listened to the sharing of some people who have become the victims of a child abused. Here I meet Rio [not his real name]. He told me that he was sexually abused by his father when he was around ten years. The incidents left him deeply traumatized, he grew up with some problems, and the situations brought him into despair. He event attempted to commit suicide, but fortunately, his friends came to his rescue. However, years later, when he heard that his father got a stroke, and it left him paralyzed, he decided to go home and take care of his father. I asked him what made him return and forgive his father? He said that it was challenging because of anger and hatred, but he realized that he had to forgive his father not because his father asks for it, but because he deserved peace of mind. Now, he returned to purify his broken heart with a sacrificial love towards his father.

Are we willing to remove non-essentials from our hearts? Are we willing to offer our hearts to the Lord? Are our hearts pure enough to be offered to the Lord?