Minggu ke-30 di Waktu Biasa [A]
25 Oktober 2020
Matius 22: 34-50
Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.
Bagi orang-orang yang mengerti Taurat, jawabannya sebenarnya tidak sulit, dan mungkin kita juga sudah tahu jawabannya. Hukum yang paling mendasar di antara hukum-hukum itu adalah Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah hukum pertama yang diberikan kepada orang Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Sepuluh Perintah Allah sendiri diurutkan berdasarkan tingkat keutamaannya, yang berarti yang pertama adalah yang paling esensial, dan yang terakhir adalah yang tidak terlalu esensial. Oleh karena itu, yang pertama di antara Sepuluh Perintah adalah yang terbesar di antara 613 hukum. Perintah pertama berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu … tidak ada Allah lain selain Aku [Kel 20: 2-3].”
Namun, Yesus tidak ingin terkurung dari jawaban standar yang sudah ada, dan merekonstruksi jawaban-Nya sendiri yang akan menjadi dasar moral Gereja. Jawaban Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu … Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Meskipun jawabannya tidak biasa, tetapi tetap ortodoks karena sumbernya juga adalah Hukum Musa. Untuk mengasihi Tuhan dengan segala yang kita miliki, sebenarnya berakar pada doa dasar Yahudi “Shema” [lihat Ulangan 6: 4-6], dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, juga mengalir dari kitab Imamat [19:18]. Apa yang Yesus lakukan adalah Dia secara radikal mengubah orientasi Hukum Musa. Alih-alih membatasi diri pada Sepuluh Perintah yang bersifat larangan, Yesus menetapkan kasih yang proaktif sebagai arahannya. Kasih mencari kebaikan yang dikasihi, dan kasih tidak pernah berhenti sampai kita bersatu dengan yang kita kasihi. Mematuhi 10 Perintah adalah dasar, tapi itu minimum. Yesus mengajarkan kita untuk tidak sekedar memenuhi yang minimum, tetapi untuk aktif memenuhi kehendak Allah sampai kita bersatu dengan Tuhan dan sesama di dalam Tuhan.
Sebelumnya, saya berpikir bahwa perintah Yesus adalah kata-kata yang indah dan imut. Saya mengasihi Tuhan dengan pergi ke Gereja setiap hari Minggu, terutama selama Natal dan Paskah, dan saya mengasihi sesama dengan sesekali membantu mereka atau memberi sumbangan kepada orang miskin. Tapi saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah berkata, “ini adalah saran, anjuran atau nasihat terbesar saya.” Apa yang Yesus katakan kepada kita, “Ini adalah perintah yang terutama!” Hukum dimaksudkan untuk ditaati, dan di sini, kita berurusan dengan hukum terbesar! Untuk mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita bukanlah pilihan, itu adalah suatu keharusan, dan untuk mengasihi saudara dan saudari kita tidak didasarkan pada kenyamanan kita, tetapi itu adalah kewajiban ilahi. Mengasihi Tuhan itu bukan pekerjaan paruh waktu atau mengasihi sesama kita bukanlah hobi. Ini adalah perintah terbesar Yesus.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photo: Anna Earl

To understand today’s Gospel, we need to make time travel to the time of Jesus. The Jewish people in the first century AD Palestine were not free people, and they were subject to the Roman empire. Being subjects, they were required to submit heavy taxes. This money would eventually use to pay the army that maintained “the security” of Palestine. Naturally, paying taxes was one of the most irritating and politically charged issues. “Why should I pay for my own oppression?”
Untuk memahami Injil hari ini, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi Palestina bukanlah orang-orang merdeka, dan mereka tunduk pada kekaisaran Romawi. Sebagai penduduk jajahan, mereka diharuskan membayar pajak yang cukup berat. Uang ini pada akhirnya akan digunakan untuk membayar tentara yang menjaga “keamanan” di Palestina. Tak ayal, membayar pajak adalah salah satu hal yang paling dibenci dan menimbulkan gejolak. “Mengapa saya harus membayar untuk penindasan saya sendiri?”
To understand the parable, we need to see the surprising elements that Jesus offers. Firstly, this is no ordinary wedding, but the royal wedding of the king’s son. Surely, people in the royal list are honored and privileged guests, but they refuse to come, decline the invitation twice and even mistreat the king’s servants. What they do are unthinkable! They fail to see how precious the invitation and rather choose their own trivial business. They are like throwing insult to the king who has honored them. No wonder, the king punishes them.
Untuk memahami perumpamaan yang kita dengar Minggu ini, kita perlu melihat elemen-elemen yang mengejutkan. Pertama, perjamuan ini bukalah perjamuan pernikahan biasa, tapi pernikahan putra raja. Tentunya, orang-orang dalam daftar undangan adalah tamu terhormat dan istimewa, tetapi mereka menolak untuk datang sampai dua kali dan bahkan menganiaya para utusan raja. Apa yang mereka lakukan tidak terpikirkan! Mereka gagal untuk melihat betapa berharganya undangan tersebut dan malah memilih urusan-urusan sepele mereka sendiri. Mereka sama saja melontarkan hinaan kepada raja yang telah menghormati mereka. Tak heran, raja menghukum mereka.
The vineyard owner in today’s parable is extraordinary. He knows that the tenants are greedy and corrupt, and if I had been the owner, I would have expelled the tenants right away. Yet, this owner is doing the opposite. He keeps sending His envoys and pleading with them, to the point of giving his own son, the true heir. This vineyard owner must be crazy! Yet, that is how much merciful, and patient God is. However, that is not the end of the story. The thing is if we keep abusing God’s mercy, His justice will eventually prevail.
Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan hari ini luar biasa tak terduga. Dia tahu bahwa para penyewa adalah serakah dan korup, dan jika saya menjadi dia, saya akan segera mengusir para penyewa itu. Namun, pemilik ini melakukan yang sebaliknya. Dia terus mengirim utusannya dan sampai memberikan putranya sendiri, pewaris sejati. Pemilik kebun anggur ini pasti sudah gila! Dan, itulah citra Tuhan kita yang sangat penuh belas kasih dan sabar. Namun, itu bukanlah akhir dari cerita. Perumpamaan ditutup dengan sebuah penghakiman: jika kita terus menyalahgunakan belas kasihan Tuhan, keadilan-Nya pada akhirnya akan meraja.
Untuk memahami perumpamaan tentang dua anak laki-laki pemilik kebun anggur ini, kita perlu membaca seluruh Matius pasal 21. Yesus baru saja memasuki kota Yerusalem dan disambut oleh orang-orang dengan teriakan “Hosana” dan ranting palem. Kemudian, Dia pergi ke area Bait Allah untuk menyucikannya dari malpraktek yang terjadi. Jadi, para penatua dan imam kepala, yang bertanggung jawab atas Bait Allah, mempertanyakan Yesus, “siapa kamu? Dengan wewenang apa Anda bertindak demikian? ”
Reading the entire Matthew chapter 21, we will get the sense of the parable of the two sons of the vineyard owner. Jesus just entered the city of Jerusalem and was welcomed by the people with a shout of “Hosanna” and palm branches. Then, he proceeded to the Temple area to cleanse it from the malpractices plaguing the holy ground. Thus, the elders and chief priests, the one who was in charge of the Temple, questioned Jesus, “who are you? By what authority do you act and teach?”