Penderitaan sebagai Jalan Tuhan

Minggu ke-28 pada Masa Biasa – 13 Oktober 2019 – Lukas 17: 11-19

jesushealstenlepers6Penderitaan, penyakit, dan kematian menyerang tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah orang Yahudi atau orang Samaria, apakah kaya atau miskin, apakah tua atau muda. Pada zaman Yesus, kusta atau penyakit Hansen masih merupakan salah satu penyakit yang paling mengerikan. Itu memakan kulit kita dan membuat kita jelek. Ini sangat menular, dan dengan demikian, dikucilkan dari komunitas. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan dengan demikian membawa kematian yang lambat dan menyakitkan.

Kita berterima kasih kepada Tuhan, bahwa kusta sekarang dapat disembuhkan,  tetapi umat manusia terus berjuang dengan penyakit mematikan yang membawa penderitaan dan kematian yang tak terhitung. Ketika saya masih seorang frater dalam formasi, saya ditugaskan ke rumah sakit di Manila untuk mendampingi para pasien. Tugas saya adalah menemani orang-orang yang bergulat dengan penyakit yang mengerikan. Beberapa berjuang melawan kanker dan mereka harus menjalani kemoterapi yang menyakitkan. Beberapa mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis dengan sabar. Beberapa adalah korban HIV yang tak berdaya dan harus menanggung berbagai komplikasi.

Saya tidak pernah lupa bertemu dengan seorang pemuda di rumah sakit itu. Sebutlah dia sebagai John. Dia adalah lulusan perguruan tinggi yang baru diwisuda, dan dia memiliki harapan besar untuk kehidupan masa depannya. Namun, semua berubah ketika hanya beberapa minggu setelah lulus, ia didiagnosis menderita kanker, stadium 3. Dengan demikian, untuk bertahan hidup ia harus mengambil pengobatan yang sangat agresif seperti operasi dan kemoterapi. Di rumah sakit, saya belajar bagaimana kemoterapi yang menyakitkan ini tidak ada jaminan bahwa perawatan ini akan berhasil. Bahkan, itu bisa menghancurkan tubuh dalam proses. Dia kehilangan rambutnya, kehilangan nafsu makan, dan setiap kali dia mencoba makan, dia akan muntah. Dia menjadi sangat lemah dan sakit-sakitan.

Suatu hari, saya memutuskan untuk mengunjunginya dan mengobrol sedikit. Saya melihat kasus yang sangat menyedihkan, tetapi yang mengejutkan saya, dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan sebenarnya bersyukur. Awalnya, saya pikir obatnya bekerja, tetapi sebenarnya tidak demikian. Saya bingung dengan jawabannya. Saat berhadapan dengan pasien dengan penyakit serius, kita diberitahu tentang lima tahap menghadapi duka: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak ada di dalam tahapan ini dimana orang yang sakit akan bersyukur. Namun, John bersyukur atas kondisinya. Mengapa?

Ketika saya bertanya lebih lanjut, saya mendengar jawaban yang tak terlupakan. Dia mengatakan bahwa dalam penyakit dan penderitaannya, dia menemukan apa yang benar-benar penting dan sangat diperlukan dalam hidupnya. Dia mulai mengerti bagaimana kasih orang tuanya membuat hidupnya lebih bermakna. Dia melihat bagaimana Tuhan telah memberikan kehidupan yang sederhana namun sepenuhnya cuma-cuma. Setiap nafas, setiap detak jantung, setiap kenangan adalah anugerah berharga dari Tuhan. Dia tidak bisa tidak bersyukur atas berkat sederhana dari Tuhan, meskipun dia sakit parah.

John mengajarkan saya bahwa penderitaan kadang-kadang cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Ketika kita menderita, kita menyadari tubuh indah kita bukanlah segalanya, kekayaan kita kosong, dan ambisi kita seperti nafas yang lewat. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak menderita seperti John, tetapi kita tidak harus menunggu sampai sakit, untuk menemukan hal-hal yang penting. Waktunya sekarang dan tempatnya ada di sini untuk kita bertanya, apakah yang paling penting di dalam hidup ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Catholic Faith

27th Sunday in Ordinary Time [C] – October 6, 2019 – Luke 17:5-10

mustard seed n crossIf there is one most powerful force in the universe, it will be faith. Jesus teaches us that even faith as small as a mustard seed can do the impossible. Jesus preaches that with this little faith, we can command a sycamore tree be uprooted and be planted in the sea. One of the smallest things on earth can move the most significant reality in the world. The sycamore tree has both deep, strong and widespread roots. It is just impossible to uproot it when it has grown mature. Yet, Jesus surprises further even by saying that we can replant this on the bed of the ocean. That makes it doubly impossible. Jesus is pushing his teaching on faith beyond natural human reasoning!

The question is whether Jesus is merely exaggerating the power of faith, or He is unveiling the deepest of truth of faith. To answer this question, we need to know first what is faith? Surely there are several definitions of faith. In the broadest sense, it is a belief in the divine, something that is much more powerful than us, something beyond us. In many religious traditions, this transcendence is a person that is called God. This faith makes us different those who claim themselves as atheists. In narrower sense, it refers to a belief in a particular set of teachings about the divine. In this sense, the Catholic faith is different from the Protestant Lutheran faith.

St. Thomas Aquinas reminds us that faith is basically an ascent of the intellect. This is precisely what faith is mighty. It does not rely on earthly possession, nor our biological nature, nor our emotions. If we base our faith on moods, every time, we feel unhappy or depressed, and we may lose our faith. Mother Teresa of Calcutta once wrote in her diary that she did not feel the presence of God in her life for almost ten years. If she had depended on her emotion, she would have lost her faith. If we place our faith in our bodily wellbeing, the moment we get sick, or our body weakens, we may lose faith. Padre Pio of Pietrelcina received the gift of stigmata and had to endure the excruciating pain of the crucifixion for more than 50 years. Had he relied on his body, he would have lost his faith long time ago.

It is the ascent of the intellect that makes faith unbelievably powerful. When I was ordained to both to the diaconate and to the priesthood, especially during the most essential part of the ceremony, the laying of bishop’s hands on my head, I confess that I did not feel anything but a little pressure on my head. Does it mean my ordination invalid? Fortunately, the validity of my ordination is not based on my feelings! It is the faith, my faith, my bishop’s faith, the faith of the people, the faith of the Church. It is the faith that allows the unseen, unfelt grace of God to transform my soul into a soul of Jesus, the priest.

Our Catholic faith is indeed the mustard seed that moves a mountain. It is the faith that make our ears to hear the Word of God in the ordinary pages of the Scriptures. It is the faith that opens our minds to see the Body of Christ in a small tiny bread. It is the faith that encourages us to be humble before God and confess our sins before a priest. It is the faith that empowers many Christians to persevere in persecutions and to readily give their blood for Jesus. It is the faith that enables us to sacrifice our lives for others and to love the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Katolik kita

Minggu ke-27 dalam Waktu Biasa [C] – 6 Oktober 2019 – Lukas 17: 5-10

faith n fishJika ada satu kekuatan paling dahsyat di alam semesta, ini adalah iman. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman sekecil biji sesawi dapat melakukan hal yang mustahil. Yesus menyatakan bahwa dengan iman yang kecil ini, kita dapat memerintahkan pohon ara dicabut dan ditanam di laut. Salah satu hal terkecil di bumi dapat menggerakkan realitas paling besar di dunia. Pohon ara memiliki akar yang dalam, kuat dan menyebar. Tidak mungkin mencabutnya ketika sudah dewasa. Namun, Yesus bahkan mengatakan bahwa kita tidak hanya mampu mencabutnya tetapi juga menanam kembali ini di dasar samudera. Itu membuatnya mustahilnya doble! Inilah hebatnya iman yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah apakah Yesus hanya melebih-lebihkan kekuatan iman, atau Ia sedang mengungkap kebenaran iman yang paling dalam. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu dulu apa itu iman? Tentunya ada beberapa definisi iman. Dalam arti yang lebih luas, iman adalah kepercayaan pada yang ilahi, sesuatu yang jauh lebih kuat dari kita. Dalam banyak tradisi keagamaan, yang ilahi ini adalah pribadi yang disebut Tuhan. Iman ini membuat kita berbeda dengan mereka yang mengklaim diri mereka sebagai ateis. Dalam arti yang lebih sempit, ini merujuk pada kepercayaan pada serangkaian ajaran tertentu tentang yang ilahi. Dalam pengertian ini, iman Katolik berbeda dari iman Lutheran Protestan.

Thomas Aquinas mengingatkan kita bahwa iman pada dasarnya adalah persetujuan dari akal budi dan kehendak. Inilah kenapa iman menjadi luar biasa kuat. Iman tidak bergantung pada kepemilikan duniawi, atau sifat biologis kita, atau emosi kita. Jika kita mendasarkan iman kita pada suasana hati, setiap saat kita merasa tidak bahagia atau tertekan, kita mungkin kehilangan iman kita. Bunda Teresa dari Calcutta pernah menulis dalam buku hariannya bahwa dia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya selama hampir sepuluh tahun. Jika dia hanya bergantung pada emosinya, dia akan kehilangan imannya. Jika kita menempatkan iman kita pada kesejahteraan tubuh kita, saat kita sakit, atau tubuh kita melemah, kita mungkin kehilangan iman. Padre Pio dari Pietrelcina menerima karisma stigmata dan harus menanggung rasa sakit yang luar biasa penyaliban selama lebih dari 50 tahun. Jika dia mengandalkan tubuhnya, dia akan kehilangan imannya juga.

Persetujuan akal budi inilah yang membuat iman sangat kuat. Ketika saya ditahbiskan menjadi imam, bagian yang terpenting dari upacara ini adalah penumpangan tangan uskup di atas kepala saya. Namun, saya mengakui bahwa saya tidak merasakan apa pun kecuali sedikit tekanan di kepala saya. Apakah itu berarti tahbisan saya tidak valid? Syukurnya, validitas penahbisan saya tidak didasarkan pada perasaan saya! Ini adalah iman, iman saya, iman uskup saya, iman umat, iman Gereja. Imanlah yang memungkinkan rahmat Allah yang tak terlihat dan tak terasa mengubah jiwa saya menjadi seperti jiwa Yesus, sang imam.

Iman Katolik kita memang benih sesawi yang menggerakkan gunung. Iman inilah yang membuka pikiran kita untuk melihat Tubuh Kristus dalam roti kecil putih tak berasa. Iman inilah yang mendorong kita untuk menjadi rendah hati di hadapan Allah dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan seorang imam. Iman inilah yang memberdayakan banyak orang beriman untuk bertahan dalam penganiayaan dan siap memberikan darah mereka bagi Yesus. Iman yang memampukan kita untuk mengorbankan hidup kita untuk orang lain dan untuk mengasihi sampai akhirnya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rich Man and Lazarus

Reflection on the 26th Sunday in Ordinary Time [C] – September 29, 2019 – Luke 16:19-31

LazarusOnce again, we listen to one of Jesus’s most remarkable stories. There is a rich man, and this guy is insanely wealthy. He is described as someone clothed with purple and fine linen. In ancient time, fine purple linen is an utmost luxury, and usually only nobilities could afford to buy this kind of cloth. Before the coming of synthetic coloring, purple dye is coming from snails of Mediterranean Sea, and it takes thousands of snails just to dye one ordinary garment. This rich guy is also throwing party every night. At the time of Jesus, where majority must toil to earn a little and to have something to eat, to enjoy feast every night is madly extravagant. At that time, fork, knife, and napkins were not common; thus, people are eating with their hands. In very wealthy houses, they will cleanse their hands by wiping them on hunks of bread that will be thrown away. These are pieces of bread Lazarus longs to receive.

Lazarus is a Latinized form of Eleazar, meaning “God is my help.” Yet, it seems that he does not get much help from the Lord during his lifetime. He is a beggar, and as one living with terrible hygiene, skin diseases come and plague his body. Even the dogs are licking his wounds. He is now no different from a dog! However, God is just and gives His help to Lazarus in his death. He is brought by the angels to Abraham’s bosom to receive comfort, while the superrich guy is thrown to hell.

This is a powerful story that reminds us that apathy can send us to hell. The rich guy possesses tremendous amount of wealth, and yet he closes his eyes on his brother who is greatly in distress. A deeper root of apathy is just our selfishness. We only care about ourselves. We notice how the rich guy in hell asks Lazarus to quench his thirst, his immediate need. Then, the rich guy suddenly remembers that he has other brothers and he wants Lazarus to warn them. It might be a hint of empathy, but it can be the sign of deeper selfishness. He wants only those close to him are saved. He never utters any single word of sorry to Lazarus, for being too cruel. Fr. Richard Rohr, a Franciscan spiritual writer, once says, “The ego hates losing – even to God.”

God hates apathy because apathy is directly opposed to His mercy. The word Mercy in Latin is Misericordia, and it means the heart of those who are suffering. In the Bible, if there is one thing that always moves God, it is when someone begs for mercy. Pope Benedict XVI reminds us that God is mercy, and He cannot be but merciful. Thus, apathy is simply against God; it is a rejection of heaven.

Surely, we do not have to solve all the problem of the world; neither do we have to become the wealthiest guy in the world to care for others. We just need to look outside ourselves, outside our gadgets, outside our social media, outside places and people that give us comfort. Perhaps, our kids need someone to talk with, someone who can listen without judging. Maybe, the person beside us is having a bad day, and our little smile may help significantly. After all, Mother Teresa of Calcutta once said, “We shall never know all the good that a simple smile can do.”

Let us make our mission today to say a kind word and do a kind deed to someone who needs it. As Mother Teresa once again says, “Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Kaya dan Lazarus

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [C] – 29 September 2019 – Lukas 16: 19-31

The Rich Man and Lazarus - Luke 16:19-31

Sekali lagi, kita mendengarkan salah satu kisah Yesus yang sangat mengesankan. Ada seorang yang sangat kaya. Dia digambarkan sebagai seseorang yang berpakaian jubah ungu dan halus. Pada zaman itu, kain ungu yang halus adalah kemewahan tak terbayangkan, dan biasanya hanya bangsawan yang mampu membeli kain semacam ini. Sebelum adanya pewarnaan sintetis, pewarna ungu berasal dari siput Laut Mediterania, dan dibutuhkan ribuan siput hanya untuk mewarnai satu pakaian biasa. Pria kaya ini juga mengadakan pesta setiap malam. Pada zaman Yesus, di mana mayoritas harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit dan memiliki sesuatu untuk dimakan, untuk menikmati pesta setiap malam adalah sebuah kegilaan. Pada waktu itu, orang makan masih menggunakan tangan. Di rumah-rumah orang yang sangat kaya, mereka akan membersihkan tangan mereka dengan menyekanya pada roti yang kemudian dibuang. Ini adalah potongan roti yang diterima Lazarus.

Lazarus adalah bentuk latin dari kata Ibrani Eleazar, yang berarti “Tuhan adalah pertolongan saya.” Namun, tampaknya ia tidak mendapatkan banyak bantuan dari Tuhan selama masa hidupnya. Dia adalah seorang pengemis, dan sebagai orang yang hidup dengan kebersihan yang buruk, penyakit kulit datang dan menghancurkan tubuhnya. Bahkan anjing-anjing itu menjilati luka-lukanya. Dia sekarang tidak berbeda dari seekor anjing! Namun, Tuhan itu adil dan memberikan bantuan-Nya kepada Lazarus dalam kematiannya. Dia dibawa oleh malaikat ke pangkuan Abraham untuk menerima penghiburan, sementara pria super kaya terlempar ke neraka.

Ini adalah kisah yang mengingatkan kita bahwa sikap apatis dapat mengirim kita ke neraka. Orang kaya itu memiliki kekayaan luar biasa, namun ia menutup mata pada saudaranya yang sangat kesulitan. Akar apatis yang lebih dalam sebenarnya keegoisan kita. Kita hanya peduli pada diri sendiri. Kita perhatikan bagaimana orang kaya di neraka meminta Lazarus untuk memuaskan dahaga, hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Kemudian, pria kaya itu tiba-tiba ingat bahwa ia memiliki saudara laki-laki lain dan ia ingin Lazarus memperingatkan mereka. Hal ini mungkin ada sedikit empati, tetapi hal ini bisa menjadi tanda keegoisan yang lebih dalam. Dia ingin hanya mereka yang dekat dengannya yang diselamatkan. Dia tidak pernah mengucapkan kata maaf pada Lazarus. Dia hanya memikirkan dirinya bahkan saat di neraka.

 Tuhan membenci sikap apatis karena sikap apatis secara langsung bertentangan dengan belas kasihan-Nya. Kata Belas kasih dalam bahasa Latin adalah Misericordia, dan itu berarti hati kepada mereka yang menderita. Dalam Alkitab, jika ada satu hal yang selalu menggerakkan Tuhan, itu adalah ketika seseorang memohon belas kasihan. Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa Tuhan itu belas kasihan, dan Dia tidak bisa tidak berbelas kasih. Jadi, apatis melawan Tuhan; itu adalah penolakan dari surga.

Tentunya, kita tidak harus menyelesaikan semua masalah dunia; kita juga tidak harus menjadi orang terkaya di dunia untuk memberi perhatian kita kepada sesama. Kita hanya perlu melihat ke luar diri kita sendiri, di luar gadget kita, di luar media sosial kita, di luar tempat dan orang-orang yang memberi kita kenyamanan. Mungkin, anak-anak kita membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Mungkin, orang di samping kita mengalami hari yang buruk, dan senyum kecil kita dapat membantu secara signifikan. Bagaimanapun, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Kita tidak akan pernah tahu semua kebaikan yang dapat dilakukan dengan senyum sederhana.”

Mari kita membuat misi hari ini untuk mengucapkan kata-kata baik dan melakukan perbuatan baik kepada seseorang yang membutuhkannya. Dan Bunda Teresa sekali lagi berkata, “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah untuk diucapkan, tetapi gema mereka benar-benar tak ada habisnya.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Heart of the Gospel

Reflection on the 24th Sunday in Ordinary Time [C] – September 15, 2019 – Luke 15:1-32

shepherdChapter 15 of the Gospel of Luke contains three of the most heartwarming as well as powerful parables in the entire Bible. These three parables are known as the parable of the lost sheep, the parable of the lost coin, and the parable of the prodigal son. If we look closer into these three parables, what is so stunning and astonishing is how Jesus bends, twists and stretches human logic and natural tendency to nail His point.

In ancient Israel, shepherds knew that to pastor the flock of sheep was not an easy job because they had to lead their flocks in constant search for food and water in the wilderness. Sheep was naturally dumb animal and possessed no natural defense mechanism. As a sheep looked for food, it quickly went astray and was exposed to imminent threats like wolves, hyaenas or robbers. The shepherd had to exert extra effort to watch over their sheep. Yet, occasionally, a sheep or two got lost, and the shepherd had to go into search and rescue mission.

However, Jesus tells us about a good shepherd who dares to leave the other sheep to search for a single lost sheep. Along the way, he may stumble upon life-threating dangers like robbers or pack of wolves. There is no assurance that he will find his sheep. He is practically risking his own life for this dumb sheep. What even remarkable is that after the shepherd discovers his lost animal, he rejoices exceedingly and throws a party for the finding. His mission is a huge success, and it is time to share the joy with others. It is simply heartwarming story. Then, when Jesus’ listeners are still mesmerized, Jesus drops the bomb. He points out that God is this good shepherd! God is the woman who rejoices for the small coin. God is the father who accepts and celebrates for his runaway son who returns. Through these parables, Jesus teaches us our God is merciful, and His mercy is beyond our wildest imagination. This is why they have been called “the Gospel of the Gospel” because the three parables carry the heart of the Gospel, that is the mercy of God.

Every one of us is like the lost sheep, the lost coin or the lost son. There are points in our lives we are so low and feeling meaningless. No amount of worldly happiness can fill our hearts until Jesus finds us. Carolyn Kolleger was a successful American model and movie actress. As a baby, she was baptized Catholic, but she never knew and loved her faith. As a model, she never thought anything else but herself. She also got married to Erwin Kolleger, a businessman, who enjoyed worldly pleasures. They were rich, throwing a lot of parties, drinking alcohol and even consuming drugs. Until she got pregnant. She did not want to lose her career and was pushed by her husband, she aborted the baby. She did it not only once but thrice. She got depressed, and her marriage was about to collapse. Until a priest came and helped Carolyn and Edwin. They began to meet a Catholic counselor who helped their marriage. Carolyn decided to repent and go back They were received back into the Catholic Church. She prayed the rosary and read the Bible on more regular basis, and attended the Eucharist. Eventually her husband also followed her and rebuilt their marriage and family, not based on worldly measures, but faith, hope, and love. They were blessed with four children and find true happiness.

This is our God, a compassionate and merciful God who tirelessly seeks His lost sons and daughter.

Hati dari segala Injil

Renungan pada Minggu ke-24 dalam Waktu Biasa [C] – 15 September 2019 – Lukas 15: 1-32

lost sheepBab 15 dari Injil Lukas berisi tiga perumpamaan yang paling mengharukan dan indah di seluruh Alkitab. Tiga perumpamaan ini dikenal sebagai perumpamaan tentang domba yang hilang, perumpamaan tentang koin yang hilang, dan juga perumpamaan tentang anak yang hilang. Jika kita melihat lebih dekat ke dalam ketiga perumpamaan ini, apa yang begitu menakjubkan dan mencengangkan adalah bagaimana Yesus membengkokkan, memutar dan merentangkan logika manusia dan budaya Israel untuk menyampaikan poin terdalam-Nya.

Di Israel kuno, para gembala tahu bahwa untuk menggembalakan kawanan domba bukanlah pekerjaan yang mudah karena mereka harus memimpin kawanan mereka untuk mencari makanan dan air di tanah Palestina yang gersang. Domba secara alami adalah hewan bodoh dan tidak memiliki mekanisme pertahanan alami. Ketika seekor domba mencari makanan, ia dengan mudah tersesat dan ia bisa saja menjadi mangsa serigala, atau diambil oleh perampok. Gembala harus mengerahkan upaya ekstra untuk menjaga domba mereka. Namun, kadang-kadang, satu atau dua domba tersesat, dan gembala harus pergi untuk menyelamatkannya.

Namun, Yesus memberi tahu para pendengarnya tentang seorang gembala yang berani meninggalkan domba-domba lain untuk mencari satu domba yang hilang. Sepanjang jalan, ia mungkin menemukan bahaya yang mengancam jiwanya sendiri seperti perampok atau serigala. Tidak ada jaminan dia akan menemukan domba-dombanya yang hilang. Dia praktis mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk domba bodoh ini. Yang bahkan luar biasa adalah bahwa setelah sang gembala menemukan hewannya yang hilang, ia sangat bersukacita. Misinya adalah sukses besar dan sekarang saatnya untuk berbagi sukacita dengan orang lain. Ini kisah yang mengharukan. Kemudian, ketika para pendengar Yesus masih terpesona, Yesus menerangkan poin utama-Nya. Dia menunjukkan bahwa Tuhan adalah gembala yang baik ini! Tuhan adalah wanita yang bersukacita atas koin kecil yang ia temukan. Tuhan adalah ayah yang menerima dan merayakan putranya yang durhaka yang kini kembali. Melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa Allah kita penuh belas kasihan dan kemurahan-Nya berada di luar imajinasi kita yang paling liar sekalipun. Inilah sebabnya mengapa perumpamaan ini disebut sebagai “Hati dari segala Injil” karena ketiga perumpamaan berbicara inti dari Injil yakni kerahiman Allah.

Kita masing-masing seperti domba yang hilang, koin yang hilang atau putra yang hilang. Ada waktu-waktu di dalam hidup kita, kita merasa sangat rendah dan merasa tidak berarti dan hilang. Tidak ada kebahagiaan duniawi yang dapat mengisi hati kita, sampai Yesus menemukan kita.

Carolyn Kolleger adalah model dan aktris film Amerika yang sukses. Dia dibaptis Katolik sewaktu kecil, tetapi dia tidak pernah tahu dan menghidupi imannya. Sebagai model, dia tidak pernah memikirkan hal lain selain dirinya sendiri. Dia juga menikah dengan Erwin Kolleger, seorang pengusaha, yang menikmati kesenangan duniawi. Mereka menyatakan diri sebagai orang sekuler. Mereka bergelimpangan harta, mengadakan banyak pesta, minum alkohol dan bahkan mengonsumsi narkoba. Sampai, dia hamil. Dia tidak ingin kehilangan karirnya dan didorong oleh suaminya, dia menggugurkan bayinya. Dia melakukannya bukan hanya sekali tetapi tiga kali. Akhirnya, dia mengalami depresi, dan pernikahannya hampir runtuh. Sampai, seorang pastor datang dan membantu Carolyn dan Edwin. Mereka mulai menemui seorang pembimbing rohani yang membantu pernikahan mereka. Carolyn memutuskan untuk bertobat dan kembali ke Gereja. Dia berdoa rosario dan membaca Alkitab secara lebih teratur, dan menghadiri Ekaristi. Akhirnya, suaminya juga mengikutinya, dan membangun kembali pernikahan dan keluarga mereka bukan atas dasar harta duniawi, tetapi iman, harapan, dan kasih. Mereka diberkati dengan empat anak dan menemukan kebahagiaan sejati.

Ini adalah Tuhan kita, Tuhan yang penuh belas kasih dan penyayang yang tanpa lelah mencari putra dan putri-Nya yang hilang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love and Hate

23rd Sunday in Ordinary Time [C] – September 8, 2019 – Luke 14:25-33

carrying crossToday we listen to one of Jesus’ hard sayings. If we want to follow Jesus, we need to hate our fathers, mothers, our other siblings, and even our own lives; otherwise we are not worthy of Him [Luk 14:25]. Is Jesus serious? Jesus must be kidding around. NO, he means what he says. So, how are we going to understand this hard saying? Jesus teaches love, mercy, and compassion, and the only thing He hates is a sin. Does Jesus change his mind and now turn to be the promoter of hatred? If we can hate our family, we now hate practically everyone. Is this what Jesus intending to say?

To answer this hard question, we need to comprehend also the broader context. Jesus is journeying towards Jerusalem, and He knows well what awaits Him in this city: crucifixion and death. There are crowds following Jesus because Jesus is a popular public figure. Many want to be healed, others wish to see Jesus’s miracles, and the rest just like to listen to His authoritative teachings. This is the crowd mentality: following something or someone because of our selfish interest. This is not true discipleship. This is entertainment.

Jesus understands this too well, and He needs to rebuke them that following Him is not entertainment. He makes them decide whether to remain as a crowd or to become disciples, to leave or to walk in His way of the cross. Yet, this kind of decision is only possible when we are not attached to things and persons we hold dear. We cannot carry our cross unless we are ready to give up our lives.

The question remains, though, is Jesus promoting hatred? One of Jesus’ favorite style in preaching is hyperbole, or to exaggerate to emphasize a point. For example, Jesus once says, “And if your eye causes you to sin, tear it out and throw it away [Matt. 18:9]” Of course, Jesus does not literally demand us to plug our eyes out, but He strongly underlines the severe consequences of sin. Thus, when Jesus speaks that we need to “hate” our parents and our lives, Jesus does not mean to promote hatred and violence. Jesus powerfully reminds the people that unless they love Jesus above all, we are not worthy to be His followers.

This has tremendous implications in our lives. Yes, we need to love our family, but we should love Jesus first, or we should love our parents in Jesus. It is just natural to cling to life, but this life only has true meaning when it is offered to Jesus. In marriage, the couple should love each other, but unless they love Jesus first, the marriage will simply be a social contract. It is the duty of the husband to lead his wife to love Jesus and the wife to follow Jesus together with her husband. It is also the primary duty of parents to teach their children to love God and His Law.

Jesus surely loves His mother, Mary and respect his foster father, Joseph, but it is clear to Jesus that His love for them is rooted and directed to His Father in heaven. It is true discipleship, that unless we hate our lives and everything else, we are not worthy of Him.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Cinta dan Benci

Minggu ke-23 dalam Waktu Biasa [C] – 8 September 2019 – Lukas 14: 25-33

carrying cross 2Hari ini kita mendengarkan salah satu ucapan keras Yesus. Jika kita ingin mengikuti Yesus, kita perlu membenci ayah, ibu, saudara kita, dan bahkan hidup kita sendiri; kalau tidak, kita tidak layak bagi-Nya [Luk 14:25]. Apakah Yesus serius? Yesus pasti bercanda!? TIDAK, Dia tidak bercanda dan sungguh-sungguh dengan apa yang Dia katakan. Jadi, bagaimana kita bisa memahami perkataan yang sulit ini? Yesus mengajarkan cinta kasih, belas kasihan, dan pengampunan, dan satu-satunya hal yang Ia benci adalah dosa. Apakah Yesus berubah pikiran dan sekarang berubah menjadi provokator kebencian? Jika kita bisa membenci keluarga kita, kita sekarang bisa membenci semua orang. Apakah ini yang ingin dikatakan Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan sulit ini, kita perlu memahami juga konteks perkataan-Nya yang lebih luas. Yesus sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem, dan Dia tahu benar apa yang menanti-Nya di kota ini: penyaliban dan kematian. Ada banyak orang yang mengikuti Yesus karena Yesus adalah public figure yang sangat populer. Banyak yang ingin disembuhkan, yang lain ingin melihat mukjizat Yesus, dan sisanya hanya ingin mendengarkan ajaran-Nya yang penuh kuasa. Ini adalah mentalitas kerumunan: mengikuti sesuatu atau seseorang karena kepentingan egois kita. Ini bukan murid-murid sejati. Ini adalah hiburan.

Yesus memahami hal ini dengan baik, dan Dia perlu menegur mereka bahwa mengikuti-Nya bukanlah hiburan. Dia membuat mereka memutuskan apakah akan tetap sebagai kerumunan atau menjadi murid, untuk pergi atau berjalan di jalan salib-Nya. Namun, keputusan semacam ini hanya mungkin terjadi ketika kita tidak terikat pada hal-hal dan orang yang kita sayangi. Kita tidak dapat memikul salib kita kecuali kita siap untuk menyerahkan hidup kita.

Pertanyaannya tetap, apakah Yesus mempromosikan kebencian? Salah satu gaya favorit Yesus dalam berkhotbah adalah hiperbola, atau melebih-lebihkan untuk menekankan suatu hal. Sebagai contoh, Yesus pernah berkata, “jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. [Mat. 18: 9] ” Tentu saja, Yesus tidak secara harfiah menuntut kita untuk mencabut mata kita, tetapi Dia dengan kuat menggarisbawahi konsekuensi menyedihkan dari dosa. Jadi, ketika Yesus berbicara bahwa kita perlu “membenci” orang tua kita dan hidup kita, Yesus tidak bermaksud untuk mempromosikan kebencian dan kekerasan. Yesus dengan kuat mengingatkan orang-orang bahwa kecuali mereka mencintai Yesus di atas segalanya, kita tidak layak menjadi pengikut-Nya.

Ini memiliki implikasi yang luar biasa dalam kehidupan kita. Ya, kita perlu mencintai keluarga kita, tetapi kita harus mengasihi Yesus terlebih dahulu, atau kita harus mengasihi orang tua kita di dalam Yesus. Adalah wajar untuk berpegang teguh pada kehidupan, tetapi kehidupan ini hanya memiliki makna yang sebenarnya ketika ditawarkan kepada Yesus. Dalam pernikahan, pasangan harus saling mencintai, tetapi kecuali mereka mencintai Yesus terlebih dahulu, pernikahan itu hanya akan menjadi kontrak sosial. Adalah tugas suami untuk memimpin istrinya untuk mengasihi Yesus dan istri untuk mengikuti Yesus bersama suaminya. Adalah juga tugas utama orang tua untuk mengajar anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan Hukum-Nya.

Yesus pasti mencintai ibu-Nya, Maria dan menghormati ayah angkatnya, Yusuf, tetapi jelas bagi Yesus bahwa kasih-Nya bagi mereka berakar dan diarahkan kepada Bapa-Nya di surga. Adalah murid yang sejati yang mau membenci hidup kita dan segala hal lainnya demi Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Learn to Be Humble

22nd Sunday in the Ordinary Time [C] – September 1, 2019 – Luke 14: 1, 7-14

humus 1Humility is actually being simple and doing simple, yet it is so simple that many of us find it difficult to be and do.  It seems paradoxical but it is the reality that we experience in our day to day life. It is because we are living in the world that is so proud with itself and it continuously influences us to become proud as well. We can practically be proud of anything. We can be proud of our personality, family and clan, personal achievements, successful careers and status in life. We can be proud of the good things we have done or even the bad things we have committed. Eventually, the awful irony in our life is when we are even proud of our humility.

Pride occupies a prominent place among the seven deadly sins or vices. It seduces people believe that we are self-sufficient and we do not need others and God. We are our own god. The Bible says that the angel of light has fallen from heaven [see Isa 14:12], and according to the Latin tradition, his name is Lucifer, the brightest angel in heaven. He and some other angels revolted against God since they were too proud to serve God that would become man. If lust aligns us with animals, pride makes us coequal with the fallen angels.

To remedy this terrible pride, humility is then chiefly necessary. But, it is simply difficult to become one since it leads us to acknowledge our true nature that we own nothing and everything we have is a gift. Humility is derived from Latin word humus which means soil. Humility brings back us to the ground after the air of pride lifts us our nose up.

Humility is also primarily important since it enables us to listen and through listening we are able to be obedient (Latin word ob-audire means to listen attentively). With pride just around the corner, it is difficult to listen since we start believing that we are the center of the universe and everything else revolves around us. Simon Tugwell, OP writes that humble prayer is just to take a break from our tyrannical and dictatorial self that occupies the center of our life and let God be God. In the same line of thought, Henry Nouwen writes that a sincere prayer is just like opening our tightly closed fist.

St. Augustine believes that humility is one of the most fundamental virtues especially in our relationship with God. He says, “Are you thinking of raising the great fabric of spirituality? Attend first of all to the foundation of humility.” It is because humility is the virtue that facilitates us in listening to God’s words and in following them. In humility, we participate in Mary’s words, “I am the servant of the Lord. Be it done to me according to your word.” And not, “I am the boss here. Be it done to me and to you according to my word.” In humility, we pray in Jesus’ prayer, “Your will be done.” And not, “Your will be changed”.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Spiritual Director of Presidium Refugis Peccatorum