Belajar untuk Rendah Hati

Minggu Biasa ke-22 Pada Masa Biasa [C] – 1 September 2019 – Lukas 14:1, 7-14

humus 2Kerendahan hati sebenarnya adalah melakukan hal yang sederhana dan menjadi orang yang sederhana, tetapi karena hal ini sangat sederhana, banyak dari kita merasa sulit untuk melakukannya. Inilah adalah paradoks yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dikarenakan kita hidup di dunia yang begitu sombong dengan dirinya sendiri, dengan segala kemajuan, kejayaan, kekayaan, dan dunia ini terus memengaruhi kita untuk menjadi angkuh. Kita bisa jadi sombong karena banyak hal. Kita bisa sombong karena kepribadian, keluarga dan klan kita, prestasi pribadi, karier dan status yang sukses dalam hidup. Kita bisa menyombongkan hal-hal baik yang telah kita lakukan atau bahkan hal-hal buruk yang telah kita lakukan. Akhirnya, ironi mengerikan dalam hidup kita adalah ketika kita bahkan menyombongkan kerendahan hati kita.

Dalam tradisi Gereja, keangkuhan atau tinggi hati menempati tempat yang menonjol di antara tujuh dosa yang mematikan. Keangkuhan membuat kita percaya bahwa kita bisa menjadi independen dan kita tidak membutuhkan orang lain dan Tuhan. Kita adalah tuhan bagi diri kita sendiri. Kitab Suci berbicara tentang seorang malaikat cahaya yang jatuh dari surga [Lih Yes 14:12]. Menurut tradisi dia bernama Lucifer, malaikat paling bercahaya di surga. Dia dan bersama komplotannya memberontak melawan Tuhan karena mereka terlalu angkuh untuk melayani Tuhan yang akan menjadi manusia. Jika hawa nafsu menyejajarkan kita dengan para binatang, kesombongan membuat kita setara dengan malaikat, tetapi malaikat yang jatuh.

Untuk mengalahkan kesombongan yang mengerikan ini, kerendahan hati sangat dibutuhkan. Tetapi, sulit untuk menjadi rendah hati karena hal ini menuntun kita untuk mengakui siapa diri kita sejatinya, bahwa kita tidak memiliki apa pun dan semua yang kita miliki adalah berkat. Kerendahan hati dalam Bahasa Latin adalah “humilitas” yang berasal dari akar kata “humus” yang berarti tanah. Kerendahan hati membawa kita kembali ke tanah setelah kita terbang dan lupa daratan.

Kerendahan hati juga sangat penting karena memungkinkan kita untuk mendengarkan dan melalui mendengarkan kita dapat taat. Dengan keangkuhan di dalam hati kita, sulit untuk mendengarkan karena kita mulai percaya bahwa kita adalah pusat alam semesta dan segala sesuatu yang lain berputar di sekitar kita. Simon Tugwell, OP menulis bahwa doa yang rendah hati memampukan kita untuk mengambil jeda dari tirani diri dan kediktatoran kita yang menempati pusat kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Sejalan dengan pemikiran ini, Henry Nouwen menulis bahwa doa yang tulus dan rendah hati sama seperti membuka kepalan tangan kita yang tertutup rapat.

Kerendahan hati adalah keutamaan yang memfasilitasi kita dalam mendengarkan kata-kata Tuhan dan mengikuti-Nya. Dalam kerendahan hati, kita berperan serta dalam kata-kata Mary, “Aku adalah hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Dan tidak, “Saya bos di sini. Jadilah kepadaku dan kepadamu sesuai dengan kata-kata saya.” Dalam kerendahan hati, kita mampu berdoa dalam doa Yesus sendiri, “terjadilah kehendak-Mu.” Dan bukan, “Kehendak-Mu akan diubah sesuai denga kehendakku.”

Tak salah jika saat St. Agustinus ditanya apakah tiga syarat untuk masuk surga, Dia menjawab, “Yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Athletes for Salvation

20th Sunday in Ordinary Time [C] – August 25, 2019 – Luke 13:22-30

training-2Salvation is one of the burning topics of discussion in Christian circles. In several discussions I facilitated, I often encountered some participants asked: Who will be saved? By what means are we going to be saved? When will be saved? Do we need to believe in Jesus to be saved? The answers can be as simple as yes or no, but often, the audience with critical minds demand more comprehensive and sensible answers. Yet, I always bring the listeners to see salvation from a different and deeper angle.

I ask them: what is salvation? Most of the people will immediately reply: We are saved from sins. The answer is correct, yet it is not complete and in fact, rather shallow. The good analogy will be the Israelites in Egypt. They were liberated from slavery, yet their freedom is not merely for freedom’s sake. They were freed so that they may worship their God without fear. Like the Israelites, we are also saved from sin, but this freedom from the slavery of sins is for something greater. We are called to share His divine life, to be with Him and enjoy His being. This is what we mean as being holy and being a saint. We are holy when we are united and participating in that Person who is the source of all holiness.

However, Jesus reminds us today that the way to salvation and holiness is not an easy and instant way. While faith is the beginning of our salvation, surely it does not end there. Jesus himself says, “Strive to enter through the narrow door… (Lk. 13:24)” The word “strive” in original Greek is “agonizomai” which means to participate in a contest or gymnastic game. The image is of an athlete who subjects himself to rigorous training and discipline and competes against the best competitors in the field. That is why to achieve a crown is an agonizing process. St. Paul picks up this idea of Jesus when he exhorts the Church in Corinth to “…Run to win. Every athlete exercises discipline in every way. They do it to win a perishable crown, but we an imperishable one. (1 Cor. 9:25)”

One of the most decorative Olympians is American swimmer Michael Phelps. In peak training phases, Phelps swims around 80,000 meters a week. He practices twice a day, at least. Phelps trains for around five to six hours a day at six days a week. Not only in the swimming pool, but he also builds his winning form through weightlifting and crazy diet regiment. But what many of us probably do not know is that Michael was suffering from Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). People with ADHD have trouble with focus, restlessness, and impulsiveness, yet Phelps was able to overcome this disorder and transform it into power. From one who had difficulty to focus, he is able to remain hyperfocused on his goal. Thus, he won 15 Olympic gold medals.

Salvation is essentially a gift. Nobody can claim that he has the right to this salvation. Yet, this gift, though free, is not cheap. We are striving and struggling every day, like an athlete who competes for the medals. We are doing our best so that we are worthy to receive this gift. We are fighting a battle every day against sins and adversaries that pull us away from God. We are putting our best effort that the gift in our hands will become truly a blessing for us and not a curse. So at the end of our lives, together with St. Paul, we may say, “I have competed well; I have finished the race; I have kept the faith. (2 Tim. 4:7)”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Atlit untuk Keselamatan

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa [C] -25 Agustus 2019 – Lukas 13: 22-30

Narrow-GateKeselamatan adalah salah satu topik diskusi yang membakar. Dalam beberapa diskusi yang saya fasilitasi, saya sering menemui beberapa peserta yang bertanya: Siapa yang akan diselamatkan? Dengan cara apa kita akan diselamatkan? Kapan akan diselamatkan? Apakah kita perlu percaya kepada Yesus untuk diselamatkan? Jawabannya bisa sesederhana ya atau tidak, tetapi seringkali, peserta dengan pikiran kritis menuntut jawaban yang lebih komprehensif dan masuk akal. Namun, saya selalu membawa pendengar untuk melihat keselamatan dari sudut yang berbeda dan lebih dalam.

Saya bertanya kepada mereka: apakah keselamatan itu sebenarnya? Sebagian besar orang akan segera menjawab: Kita diselamatkan dari dosa, dari neraka. Jawabannya benar, namun tidak lengkap dan pada kenyataannya, dangkal. Analogi yang baik adalah orang Israel di Mesir. Mereka dibebaskan dari perbudakan, namun kebebasan mereka bukan hanya demi kebebasan. Mereka dibebaskan sehingga mereka dapat menyembah Tuhan mereka tanpa rasa takut. Seperti orang Israel, kita juga diselamatkan dari dosa, tetapi kebebasan dari perbudakan dosa ini adalah untuk sesuatu yang lebih besar. Kita dipanggil untuk berbagi kehidupan ilahi-Nya, untuk bersama-Nya dan menikmati keberadaan-Nya. Inilah yang Kita maksud sebagai kudus. Kita kudus ketika kita dipersatukan dan berpartisipasi dalam Pribadi yang merupakan sumber dari semua kekudusan. Inilah kebahagian sejati, inilah surga: merengkuh Tuhan.

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini bahwa jalan menuju keselamatan dan kekudusan bukanlah cara yang mudah dan instan. Sementara iman adalah awal dari keselamatan kita, tetapi ini bukanlah akhir. Yesus sendiri berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit… (Luk. 13:24)” Kata “berjuang” dalam bahasa Yunani asli adalah “agonizomai” yang secara harfiah berarti ikut serta dalam pertandingan atau perlombaan olah raga. Gambarannya adalah seorang atlet yang menekuni pelatihan dan disiplin yang ketat, dan bersaing dengan para pesaing terbaik di bidangnya. Itulah sebabnya untuk merengkuh medali adalah proses yang menyakitkan. Santo Paulus mengambil gagasan Yesus ini ketika ia mendorong Gereja di Korintus untuk “… Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1 Kor. 9:25) ”

Salah satu atlet Olimpiade paling terkenal adalah perenang Amerika Michael Phelps. Dalam fase pelatihan, Phelps berenang sekitar 80.000 meter seminggu. Dia berlatih dua kali sehari, setidaknya. Phelps melatih sekitar lima hingga enam jam sehari pada enam hari seminggu. Tidak hanya di kolam renang, ia membangun tubuh kemenangannya melalui latihan angkat berat dan diet yang gila. Tetapi kita sering tidak tahu bahwa Michael menderita Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Orang dengan ADHD memiliki masalah dengan fokus, gelisah dan impulsif, namun Phelps mampu mengatasi gangguan ini dan mengubahnya menjadi kekuatan. Dari orang yang mengalami kesulitan untuk fokus, dia mampu tetap fokus pada tujuannya. Dengan demikian, ia memenangkan 15 medali emas Olimpiade.

Keselamatan pada dasarnya adalah anugerah. Tidak ada yang dapat mengklaim bahwa ia memiliki hak untuk keselamatan ini. Namun, anugerah ini, meskipun cuma-cuma, tidak murahan. Kita berjuang setiap hari, seperti atlet yang bersaing untuk medali. Kita melakukan yang terbaik sehingga kita layak menerima hadiah ini. Kita setiap hari berperang melawan dosa dan musuh yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kita berusaha sekuat tenaga agar anugerah di tangan kita menjadi benar-benar berkah bagi dan bukan kutukan. Jadi di akhir hidup kita, bersama dengan St. Paul, kita dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Tim. 4: 7)”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Faithful and Wise Stewards

19th Sunday in Ordinary Time [C] – August 11, 2019 – Luke 12:32-48

light lampIn ancient Israel, the masters of the house were often leaving their homes for business trips or attending social gatherings like weddings. They would entrust their houses and their possessions to chief servants. And this was the world without a cellular phone, internet, and GPS. Thus, the servants have no idea of the ETA (estimated time of arrival) of their masters. It could be 8 PM, midnight or even early in the morning. The best attitude of a servant in this scenario is to be always vigilant and prepared for the arrival of his master.

However, being prepared is not understood as being idle or passivity, like someone who does nothing but waits near the door, and opens the door when the master knocks. Jesus says, “Gird your loins and light your lamps… (Lk. 12:35)” In ancient Israel, people were wearing robe or tunic. It is a long dress that covers the entire body, from the neck down to the leg. When people are working, they gird their loins with a robe or belt, to make sure that their tunic will not get in the way. In short, the servants are doing their jobs, making sure that the house is in order, and ready to receive any order just in case their masters arrive. This is a kind of readiness and preparedness that Jesus asks of His disciples.

This kind of preparedness naturally comes the humble recognition of who we are. If the servant accepts that he is a servant and aware that the house belongs to his master, he will not act as if he is the owner of the house and neglect his jobs, but perform his tasks well despite the absence of his master. So, we need also to recognize who we are and do the works that follow from our identity well. If our pride gets in the way, and we fail to understand who we are. We start playing God, and we begin doing whatever we please, even to confidently predict the end of the world.

Based on the Scriptures, the Church always believes that Jesus will come for the second time in glory and bring the final judgment to the world. We do not know when Jesus will come as the King and those who prophesy that they understand when, turn to be a dangerous hoax. In 1997, Marshall Applewhite predicted that the earth would be destroyed by the alien spaceships, and the only way to survive was to “transfer” their souls to another planet by committing suicide. Marshall and 36 followers killed themselves, yet the earth’s destruction never happened. Marshall was playing God, and he brought calamity to himself and his followers.

Be ready for the coming of Jesus means that we realize who we are before God. If we are God’s children, we love and obey our Father, and care for the other creations because God cares for them as well. If we are God’s disciples, we faithfully follow Him and continuously learn from Him. If we are fathers, we love, protect, and provide for their family. If we are mothers, we love, care, and educate our children. And when the Lord truly comes, we may be one of those “Blessed servants who are faithful and prudent [see Lk. 12:42]”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hamba yang Setia dan Bijaksana

Minggu ke-19 dalam Waktu Biasa [C] – 11 Agustus 2019 – Lukas 12: 32-48

faithful servantDi Israel kuno, tuan rumah sering meninggalkan rumah mereka untuk perjalanan bisnis atau menghadiri pertemuan sosial seperti pernikahan. Mereka akan mempercayakan rumah dan harta benda mereka kepada seorang hamba yang adalah hamba utama. Dan kita perlu ingat bahwa ini adalah dunia tanpa telepon seluler, internet dan GPS. Dengan demikian, para pelayan tidak tahu dengan pasti waktu kedatangan dari tuan mereka. Bisa jadi jam 8 malam, tengah malam atau bahkan dini hari. Sikap terbaik seorang pelayan dalam skenario ini adalah untuk selalu waspada dan siap menghadapi kedatangan tuannya.

Namun, bersiap tidak dipahami seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu di dekat pintu, dan hanya membuka pintu ketika tuannya mengetuk. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala… (Luk. 12:35)” Di Israel kuno, orang-orang mengenakan jubah [tunik] sebagai pakaian sehari-hari. Ini adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, dari leher hingga kaki. Ketika orang-orang bekerja, mereka mengikat pinggang mereka, untuk memastikan bahwa tunik mereka tidak akan menghalangi kerja mereka. Singkatnya, Yesus mengingatkan bahwa para pelayan tetap melakukan pekerjaan mereka walaupun tuan mereka tidak ada, memastikan bahwa rumah sudah rapi, dan siap untuk menerima perintah apa pun sewaktu-waktu tuan mereka tiba. Ini adalah kesiapan yang Yesus minta dari para murid-Nya termasuk kita.

Kesiapsiagaan semacam ini secara alami datang dari pengakuan rendah hati tentang siapa kita. Jika hamba menerima bahwa dia adalah hamba dan dia sadar bahwa rumah itu milik tuannya, dia tidak akan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan mengabaikan pekerjaannya, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik meskipun tuannya sedang tidak ada. Jadi, kita juga perlu mengenali siapa diri kita dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan identitas kita dengan baik. Satu hal yang menghambat kita mengenali siapa diri kita adalah keangkuhan. Saat kita dipenuhi kesombongan, Kita mulai bertingkah seperti tuhan dan kita mulai melakukan apa pun yang kita suka, bahkan untuk memprediksi akhir dunia dengan penuh percaya diri.

Berdasarkan Kitab Suci, Gereja selalu percaya bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya dalam kemuliaan dan membawa penghakiman terakhir ke dunia. Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang sebagai Raja, dan mereka yang bernubuat bahwa mereka tahu kapan, adalah sebuah hoax yang berbahaya. Pada tahun 1997, Marshall Applewhite meramalkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh pesawat ruang angkasa alien dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah “memindahkan” jiwa mereka ke planet lain dengan melakukan bunuh diri. Marshall dan 36 pengikut pun bunuh diri, namun alien tidak pernah datang menyerang dan kehancuran bumi tidak pernah terjadi. Marshall bertingkah seperti tuhan dan dia membawa malapetaka bagi dirinya dan para pengikutnya.

Kesiapan untuk kedatangan Yesus berarti kita menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita mencintai dan menaati Bapa kita, dan merawat ciptaan lain karena Tuhan juga memperhatikan mereka. Jika kita adalah murid Tuhan, kita dengan setia mengikuti-Nya dan terus-menerus belajar dari-Nya. Jika kita adalah ayah, kita mencintai, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Jika kita adalah ibu, kita mencintai, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Dan ketika Tuhan benar-benar datang, kita mungkin salah satu dari mereka “Hamba yang setia dan bijaksana [lihat Luk 12:42]”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Greed

18th Sunday in Ordinary Time [C] – August 4, 2019 – Luke 12:13-21

fool rich man 2We were all born without bringing anything with us, and for sure, when we die, we will bring nothing with us. Job once said, “Naked I came forth from my mother’s womb, and naked shall I go back there. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!” (Job 1:21). However, as we grow up and old, we begin to acquire things and possessions. Some are given, but some we earn it. As we are accumulating, we start attaching ourselves to these material belongings. Some of us are obsessed with collecting bags, shoes, and clothes, some others with more expensive things like electronic devices and cars. We believe these are ours, and we can own them until the Kingdom comes.

This kind of attachment is rooted in a bigger and more sinister vice: greed. St. Thomas Aquinas defines greed or avarice as “an inordinate desire for wealth or money.” To desire for richness and possession is not evil itself because, in essence, money and belongings are a means to achieve higher goals in life. However, the problem arises when we are confusing between means and the end. Greed enters the picture when we make money as our goal and no longer a means. We begin to measure our happiness and meaningfulness of our lives in terms of wealth. When we place wealth as our yardstick of happiness, all other problems start flooding our lives. When we do not have enough money, we become anxious, but when we have more than enough money, we are also anxious about how to hoard them. We think that the more we have, the happier we become, but the truth is, the more we acquire, the more we feel lacking. An ancient Roman proverb once said that desire for wealth is like drinking seawater; the more you drink, the thirstier you get.

What sickening about this vice is that it brings other sins along. St. Thomas mentions treachery, corruption, fraud, anxiety, insensibility to mercy, and even violence as the daughters of greed. Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with a sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

So how are we going to cure this vice? If greed makes us turn means as goal, our response should return the right order: to make wealth as our means to achieve higher goals. If we are blessed with a lot of money, we praise the Lord and use this money to praise the Lord even more. If we do not have enough money, we are called to have more faith in God’s providence.  It is the time to use our worldly possession to make “heavenly investment” that no thief can reach, nor moth destroy (Lk. 12:33)

Fr. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketamakan

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [C] – 4 Agustus 2019 – Lukas 12: 13-21

fool rich manKita semua dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan sama ketika kita mati, kita tidak akan membawa apa pun. Ayub pernah berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai memperoleh banyak hal dan harta benda. Ketika kita mulai mengakumulasi, kita mulai terikat pada barang-barang materi ini. Beberapa dari kita terobsesi dalam mengumpulkan tas, sepatu, dan baju, beberapa lainnya dengan barang-barang yang lebih mahal seperti perangkat elektronik, mobil dan bahkan mobil. Kita mulai percaya ini adalah milik kita, dan kita dapat memilikinya bahkan sampai kita masuk surga.

Keterikatan semacam ini berakar pada sifat buruk yang lebih besar dan lebih jahat: ketamakan. St Thomas Aquinas mendefinisikan keserakahan atau ketamakan sebagai “keinginan yang tidak teratur akan kekayaan atau uang”. Keinginan untuk kekayaan dan kepemilikan bukanlah sesuatu yang jahat karena pada dasarnya, uang dan barang adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidup. Namun, masalah muncul ketika kita mulai tidak bisa melihat mana yang sarana dan mana yang tujuan. Keserakahan memasuki hidup kita ketika kita membuat uang sebagai tujuan kita dan bukan lagi sarana. Kita mulai mengukur kebahagiaan dan arti hidup kita dalam hal kekayaan yang kita akumulasikan. Ketika kita menempatkan kekayaan sebagai tolok ukur kebahagiaan kita, semua masalah lain akan membanjiri hidup kita. Ketika kita tidak memiliki cukup uang, kita menjadi khawatir, tetapi ketika kita memiliki lebih dari cukup uang, kita juga cemas bagaimana agar orang lain tidak mencurinya. Kita berpikir bahwa semakin banyak kita miliki, semakin bahagialah kita, tetapi kebenaran adalah semakin banyak yang kita dapatkan, semakin kita merasa kurang. Sebuah pepatah Romawi kuno pernah mengatakan bahwa hasrat akan kekayaan seperti minum air laut; semakin banyak Anda minum, semakin Anda haus.

Yang memuakkan tentang ketamakan ini adalah hal ini membawa dosa-dosa lain. St. Thomas menyebutkan pengkhianatan, korupsi, penipuan, kecemasan, ketidak pekaan terhadap sesama, dan bahkan kekerasan sebagai anak-anak keserakahan. Film Slumdog Millionaire (2008) menceritakan kepada kita kisah Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan ini. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian religius di daerah kumuh di India, mereka terpaksa tinggal di TPA. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Satu adegan khusus yang mengungkapkan manifestasi mengerikan dari keserakahan adalah seorang bocah lelaki dengan suara bagus, Arwind, dibutakan. Jamal kemudian berkomentar, “Penyanyi tunanetra mendapat gaji dua kali lipat.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film tersebut tidak sepenuhnya fiksi, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.

Jadi bagaimana kita akan menyembuhkan ketamakan ini? Jika keserakahan membuat kita membalikkan antara sarana dan tujuan, respons kita haruslah mengembalikan urutan yang benar: menjadikan kekayaan sebagai sarana kita untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jika kita diberkati dengan banyak uang, kita memuji Tuhan, dan menggunakan harta ini untuk lebih memuji Tuhan. Jika kita tidak memiliki cukup uang, kita dipanggil untuk lebih percaya kepada pemeliharaan Allah. Ini adalah waktu untuk menggunakan kepemilikan duniawi kita untuk melakukan “investasi surgawi” yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (Luk. 12:33)

Rm. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Martha, Martha

16th Sunday in Ordinary Time [C] – July 21, 2019 – Luke 10:38-42

To perform works to serve the Lord is certainly good and praiseworthy. And these works are numerous and varied. These acts may directly serve Him in the Church, especially during the liturgy. We may participate in the worship as the choir members, lectors, altar servers, ministers of the Holy Communion, or even as the presiders of the Eucharist itself, the priest. Yet, we may also serve Him through others as we involve in charitable initiatives to help the poor, to fight for justice and peace and integrity of creation. We have many ways, but the goal is one: to honor and glorify Him.

In today’s Gospel, we encounter Martha and Mary of Bethania. They both are serving Jesus, and they perform it according to their unique characters. Mary, more reserved and perhaps an introvert, chooses to stay close to the Master and listen to Him. While Marta, predominantly active and perhaps extrovert, prefers to provide Jesus with the best accommodation. Both want to make Jesus feel welcome in their way. However, there is a little problem. It seems that Jesus is playing little favoritism. He favors Mary over Martha and tells Martha that Mary has chosen a better part.

Surely Jesus does not play favoritism, and surely it is not because Mary is more beautiful than Martha!  Yet, we still have to explain Jesus’ choice. First, we need to see that both are good, but one is just happened to be better than the other. Is it the act of listening better than the act of giving hospitality? In an ancient Jewish context, to provide the hospitality to a guest is one of the prime values. We remember how Lot was offering even his daughters to protect his guests [see Gen 19]! By this standard, Martha is doing a better thing, but Jesus insists that it is not hers. Why?

Again, we need to understand better our Scriptures. The act of listening is fundamental in both Old and New Testament. Every devout Jew in the time of Jesus as well as in our time, daily prays a creedal prayer they call as “Shema Israel” – it was taken straight from Deu 6:4-5 “Hear, O Israel! The LORD is our God, the LORD alone! Therefore, you shall love the LORD, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.” Acts of listening do not only mean to hear voices and receive information, but it is also to obey what one has heard. Jesus Himself says, “Everyone who listens to these words of mine and acts on them will be like a wise man who built his house on the rock. (Mat 7:24)” Mary is taking a better part because she has listened to Jesus, who is the LORD, and she listens because she loves her LORD.

Martha has a little problem with her service because she imposes her ways to Mary, perhaps thinking her way of service is the best one. But more than that, Martha becomes overburdened in her serving, and Jesus points out that Martha is anxious and worried with many things. Martha is losing the purpose of her service; she is losing Jesus in the process of serving. What a loss!

Learning from Mary and Martha, we may ask ourselves, “What is the point of our services? Where are we going with many activities we have in the Church? Do we hear the voice of Christ in our ministries? Do we love Jesus in our serving or we discover ourselves in the end?”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Marta, Marta

Minggu Biasa ke-16 [C] – 21 Juli 2019 – Lukas 10:38-42

martha-and-mary-1Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.

Dalam Injil hari ini, kita bertemu Marta dan Maria dari Bethania. Mereka berdua melayani Yesus dan mereka melakukannya sesuai dengan karakter unik mereka sendiri. Maria lebih pendiam dan mungkin seorang introvert, memilih untuk tetap dekat dengan Tuan dan mendengarkan-Nya. Sementara Marta, yang sebagian besar aktif dan mungkin ekstrovert, lebih suka memberi Yesus akomodasi terbaik. Keduanya ingin membuat Yesus merasa disambut dengan cara mereka sendiri. Namun, ada sedikit masalah. Tampaknya Yesus pilih kasih. Dia lebih menyukai Maria daripada Marta dan memberi tahu Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik.

Tentunya Yesus tidak pilih kasih, dan tentu saja itu bukan karena Maria lebih cantik dari Marta! Namun, kita masih harus menjelaskan pilihan Yesus. Pertama, kita perlu melihat bahwa keduanya baik, tetapi yang satu lebih baik dari yang lain karena sebuah alasan. Apakah tindakan mendengarkan lebih baik daripada memberi keramahan? Dalam konteks Yahudi kuno, memberikan keramahan pada seorang tamu adalah salah satu nilai utama. Kita ingat bagaimana Lot menawarkan bahkan putrinya sendiri untuk melindungi tamunya [lihat Kejadian 19]! Dengan standar ini, Marta melakukan hal yang lebih baik, tetapi Yesus berpendapat lain. Mengapa?

Sekali lagi, kita perlu lebih memahami Kitab Suci kita. Tindakan mendengarkan adalah tindakan mendasar baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Setiap orang Yahudi yang saleh di zaman Yesus maupun di zaman sekarang, setiap hari mendaraskan doa syahadat yang mereka sebut sebagai “Shema Israel” – itu diambil langsung dari Ul 6: 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tindakan mendengarkan tidak hanya berarti mendengar suara dan menerima informasi, tetapi juga untuk mematuhi apa telah didengarkan. Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Mat 7:24)” Maria mengambil bagian yang lebih baik karena dia telah mendengarkan Yesus yang adalah TUHAN, dan dia mendengarkan karena dia mengasihi TUHAN.

Marta memiliki sedikit masalah dengan pelayanannya karena dia memaksakan jalannya kepada Maria, mungkin dia berpikir cara pelayanannya adalah yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, Marta menjadi terlalu terbebani dalam pelayanannya, dan Yesus menunjukkan bahwa Marta sendiri penuh kecemasan dan khawatir dengan banyak hal. Marta kehilangan tujuan pelayanannya; dia kehilangan Yesus dalam proses melayani. Betapa malang ya!

Belajar dari Maria dan Marta, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya pelayanan kita? Kemana kita akan pergi dengan banyak kegiatan yang kita miliki di Gereja? Apakah kita mendengar suara Kristus dalam pelayanan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Yesus dalam pelayanan kita atau pada akhirnya kita melayani diri kita sendiri?”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful Samaritan

Fifteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – July 14, 2019 – Luke 10:25-27

do it anyway 2The journey from Jericho to Jerusalem was notoriously dangerous. The path was narrow, steep, filled by sudden turnings. The road became the favorite spot for the robbers to ambush any unguarded traveler. Some criminals were often violent, not only they took everything from the victims, but they would beat them mercilessly. Up to early twentieth century, some tourists and pilgrims were caught off guard when they passed this path, as their cars were ambushed and robbed. The brigands would swiftly escape before the police came.

When the teacher of the Law asks Jesus, “who is our neighbor whom we shall love?” Jesus offers him three models to imitate. They are a priest, a Levite and a Samaritan. The priest and the Levite are a privileged social class in ancient Jewish society. They are consecrated to serve in the Temple of Jerusalem. The priests who are the descendants of Aaron, are to accept sacrifice from the people and offer the sacrifice to the Lord at the altar. Meanwhile the Levites are assigned to take care of the temple, to do other liturgical services and assist the priests. Both the priest and the Levite represent a group of people who are dedicating themselves to the Lord, the Law and the Temple, who love their religion dearly. Meanwhile the Samaritan represents what the Jews hate. The pure Jews look down the Samaritans because they are products of intermarriage between unorthodox Jews and other pagan nations as well as idolaters who worship God plus other smaller gods.

By religious standard, the priest and the Levite outrank the Samaritan, but Jesus drops the nuclear bomb as He makes the Samaritan as the hero of the story. We may ask why the priest and Levite refuse to help? One reason is that the priest needs to be away from any blood or dead body, otherwise he would be impure for seven days and he will not be able to serve the Temple [see Num 19:11]. The Levi seems to do little better as he goes nearer to the victim, but he decided not to help perhaps because he is afraid that the guy just serves a decoy to ambush him. Here comes the Samaritan who helps without hesitation. Not only coming to his rescue, the Samaritan makes sure that the victim will be healed and recover, though he must spend his own resources.

Placing ourselves in the shoes of the Samaritan man, we know that his decision to help the victim is daring and even reckless. What if it was just a set-up for ambush? What if he runs out of money? What if the victim would never thank him and even hate him even more? Yet, this is what to love our neighbor means. To love someone is to show mercy and to show mercy means to give beyond what is due.

One of the memorable works Mother Teresa did in Calcutta was to establish a home for the dying. One day, she walked pass a hospital and saw a woman who terribly sick. The mother rushed her to the hospital. Yet, the person in the hospital refused her, saying, “there is no room for her in the hospital!” Mother Teresa stayed outside of the hospital, embracing the dying lady till she breathed her last. Since then, the saint promised that she would make sure that the dying would die with dignity. In the early days of this hospice, Mother Teresa was ridiculed and criticized, yet she and her sisters persevered because they knew that for those who were dying, this may be the last act of mercy they received before they passed away.

If we expect something big in return, it is not love, it is investment. If we just want to be appreciated after doing good, it is not love, it is a showoff. If we do not want to get hurt, it is not love, it is comfort zone. Love is tough, mercy is heroic.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP