Minggu Biasa Kelima belas [C] – 14 Juli 2019 – Lukas 10: 25-27
Perjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.
Ketika ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “siapakah sesama kita yang akan kita kasihi?” Yesus menyodorkan tiga model. Mereka adalah seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Imam dan orang Lewi adalah kelompok istimewa dalam masyarakat Yahudi kuno. Mereka ditahbiskan untuk melayani di Bait Suci Yerusalem. Para imam yang merupakan keturunan Harun, akan menerima pengorbanan dari orang-orang Yahudi dan mempersembahkannya kepada Tuhan di altar. Sementara itu orang-orang Lewi mendapat tugas untuk mengurus Bait Allah, untuk melakukan pelayanan liturgi lainnya dan membantu para imam. Baik imam dan orang Lewi mewakili sekelompok orang terpilih yang mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, Hukum Taurat dan Bait Allah. Tanpa keraguan, mereka sangat mencintai agama mereka. Sementara itu, orang Samaria mewakili apa yang dibenci orang Yahudi. Orang-orang Yahudi memandang rendah orang-orang Samaria karena mereka dianggap sebagai produk perkawinan antara orang-orang Yahudi yang sesat dan bangsa-bangsa kafir lainnya. Orang Samaria juga dianggap sebagai para penyembah berhala karena menyembah Tuhan Yahwe tapi dengan tambahan dewa-dewa kecil lainnya.
Menurut standar agama Yahudi, imam dan orang Lewi jauh mengungguli orang Samaria, tetapi Yesus menjatuhkan bom nuklir ketika Ia menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan dalam cerita. Kita mungkin bertanya mengapa imam dan orang Lewi menolak untuk membantu? Salah satu alasannya adalah bahwa imam harus menjauh dari darah atau mayat apa pun, jika tidak ia akan najis selama tujuh hari dan ia ingin melayani Bait Suci [lihat Bil 19:11]. Lewi tampaknya sedikit lebih baik ketika dia mendekati korban, tetapi dia mengurungkan niatnya mungkin karena dia takut orang itu hanya menjadi umpan untuk menyergapnya. Tetapi, orang Samaria datang dan membantu tanpa ragu-ragu. Tidak hanya datang menyelamatkannya, orang Samaria memastikan bahwa sang korban akan disembuhkan dan pulih, meskipun ia harus menghabiskan uangnya sendiri.
Menempatkan diri pada posisi orang Samaria, kita tahu bahwa keputusannya untuk membantu korban yang adalah orang Yahudi adalah sangat berani dan bahkan gegabah. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Bagaimana jika dia kehabisan uang? Bagaimana jika korban tidak pernah mengucapkan terima kasih dan bahkan lebih membencinya? Namun, inilah arti mengasihi sesama kita. Mencintai seseorang berarti menunjukkan belas kasihan dan menunjukkan belas kasihan berarti memberi melampaui apa yang sudah seharusnya.
Salah satu karya yang tak terlupakan yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta adalah membangun rumah bagi orang yang kritis. Suatu hari, dia berjalan melewati rumah sakit dan melihat seorang wanita sangat sakit. Sang suster bergegas membawanya ke rumah sakit. Namun, orang di rumah sakit menolaknya, mengatakan, “tidak ada ruang untuknya di rumah sakit!” Bunda Teresa tetap berada di luar rumah sakit, memeluk wanita yang sekarat itu sampai dia menghembuskan nafas terakhir. Sejak itu, suster Teresa berjanji bahwa dia akan memastikan bahwa orang dapat meninggal dengan martabat. Pada hari-hari awal karyanya ini, Bunda Teresa diejek dan dikritik, namun ia dan saudara-saudaranya bertahan karena mereka tahu bagi mereka yang kritis, ini mungkin merupakan belas kasih terakhir yang mereka terima sebelum mereka meninggal.
Jika kita mengharapkan imbalan besar, itu bukan kasih, tapi investasi. Jika kita hanya ingin dihargai setelah berbuat baik, itu bukan kasih, itu hanya pamer. Jika kita tidak ingin terluka, itu bukan kasih, itu tidak lebih dari omong kosong. Kasih sesungguhnya itu tangguh, belas kasihan itu sesuatu yang heroik.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

In today’s Gospel, Jesus is sending His seventy disciples for a mission. Yes, we are reading it correctly; it is not just twelve disciples, but seventy. While we are used to the celebrated mission of the Twelve, Luke informs us about the less famous mission of the seventy. We are not sure who are these people, but for sure, these are people who have the same commitment, dedication, and passion like the big names like Peter, John, Andrew, and Matthew. They follow Jesus, leave everything and are willing to be dispatched into a difficult mission to preach the Kingdom, to heal the sick, and to drive out the demons. The story of the seventy disciples gives us a hint about those dedicated and more numerous disciples of Jesus and yet somehow forgotten. While the Twelve represents the well-known figures of the Church like the pope and the bishops, the seventy bring to mind the nameless yet countless priests, religious men and women, and laity who are tirelessly building up the Body of Christs.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengirim tujuh puluh murid-Nya untuk bermisi. Bukan hanya dua belas murid, tetapi tujuh puluh. Sementara kita terbiasa dengan misi Dua Belas Rasul yang lebih terkenal, Lukas memberi tahu kita tentang misi tujuh puluh murid yang kurang terkenal. Kita tidak yakin siapa orang-orang ini, tetapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen, dedikasi, dan semangat yang sama seperti Petrus, Yohanes, Andreas dan Matius. Mereka mengikuti Yesus, meninggalkan segalanya dan bersedia dikirim ke misi yang sulit untuk memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Kisah tujuh puluh murid memberi kita petunjuk tentang murid Yesus yang berdedikasi dan lebih banyak secara jumlah, namun terlupakan. Sementara Dua Belas Rasul mewakili tokoh-tokoh terkenal dari Gereja seperti paus dan para uskup, tujuh puluh murid mengingatkan kita akan para imam, biarawan-biarawati, kaum awam yang tak terkenal namun tak terhitung jumlahnya, dan yang tanpa lelah membangun Tubuh Kristus.
Today we listen to one of the most demanding and perhaps harsh teachings of Jesus. For those who follow Him, He demands total allegiance, and He shall become no less than their top priority in life. In both Jewish and Christian tradition, to honor our parents is one of the highest commandments. In fact, it is not a mere honoring, but it is to glorify [Hebrew word used is “kabad”] our parents. But, when a man asks Jesus to bury his father, Jesus tells him, “Let the dead bury the dead.” To one who requests to say goodbye to his family, Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God.” Very harsh. Is this truly Jesus whose heart is moved with pity towards the poor people? Is Jesus no longer observing the Ten Commandments?
Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?
Today the Church is celebrating the solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. In many countries like Indonesia, today is the best time for the children who are already prepared to receive their first Holy Communion. I still recall the day I partook of the sacred host and the holy wine. Many of us were around 10 years old, old enough to recognize the presence of Christ in the Eucharist and we were dressed in white. I was wearing long-sleeved white shirt with a tie and black pants. When the priest dipped the white bread into the chalice of wine and said, “the body and blood of Christ”, I said “Amen.” It was my first time to savor the sweetness of wine, and of course, alcoholic beverage!
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!
The distinctive mark of being Christian is the Holy Trinity. We share the claim of monotheism [only one God] with other prominent religions, yet our belief in one God in three divine persons enables us to stand unique among others. Doubtless, our God is one, yet the same undoubtedly, there are three persons in this one God. The Father is different from the Son and the Holy Spirit. The Son is also unique. And, the Holy Spirit maintains His personal identity. Yet, they remain always one! How is this possible?!
Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!
The Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].