Turun Gunung

Minggu Prapaskah Kedua. 21 Februari 2016 [Lukas 9: 28-36]

“Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28).”

 

transfigurationBagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).

Peristiwa penting lainnya dimana Yesus menghabiskan waktu dalam doa adalah Transfigurasi. Dua penginjil, Matius dan Lukas, menulis kisah Transfigurasi dalam Injil mereka, tapi hanya itu Lukas yang mengatakan tujuan mengapa Yesus dan ketiga murid-Nya naik ke Gunung. Yakni untuk berdoa. Bagi Lukas, Transfigurasi adalah sebuah momen doa. Sungguh, merenungkan Injil hari ini dalam konteks doa akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan.

Pertama, Yesus mengajak para murid untuk mendaki Gunung dan berdoa. Hasrat kita untuk bertemu dengan-Nya dan berdoa sebenarnya adalah inisiatif Allah. Jika kita mampu berdoa, itu karena Tuhan memanggil kita dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Liturgi Brevir selalu dimulai dengan ayat Ya Allah, bersegeralah membuka mulutku (Mzm 51:15).” Ini adalah keyakinan bahwa tanpa rahmat dan bantuan-Nya, kita tidak dapat berdoa. Kita, umat Katolik, membuka doa kita dengan tanda salib dan menyebutkan, Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.” Hal ini lahir dari keyakinan bahwa terpisah dari Allah Tritunggal, kata-kata manusiawi kita akan sia-sia di dalam doa. St. Paulus menyatakan hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. (Rom 8:26).”

Kedua, Transfigurasi mengajarkan kita bahwa kadang, doa-doa kita memberikan kenikmatan dan kepuasan, tapi ini bukan yang paling penting. Kita seperti tiga murid yang sangat takjub di hadapan Yesus yang berubah wujud. Ini adalah saat ketika kita merasakan kedamaian di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita menikmati doa Rosario. Kita terinspirasi oleh homili dan merasa diperkuat oleh Komuni Kudus dalam Ekaristi. Kadang, saya menghadiri worship service sarat dengan lagu-lagu pujian dan khotbah menggebu-gebu. Sesungguhnya, hal ini memberi perasaan sangat gembira dan membebaskan apalagi bagi mereka yang memiliki banyak permasalahan dalam hidup.

Tentunya, seperti para murid, kita ingin menikmati kegembiraan dalam doa ini lebih lama lagi dan membangun ‘kemah’. Namun, Tuhan tidak ingin kita tinggal lama di sana. Dia meminta para murid untuk turun dan menghadapi dunia. Jika kita memilih tinggal dan menolak untuk turun, doa-doa kita tidak lagi tulus. Mereka menjadi candu yang membantu kita melarikan diri dari realitas hidup. Jika ini terjadi, perkataan Karl Marx bahwa ‘Agama adalah opium bagi masyarakat’ sungguh menjadi kenyataan.

St. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa Transfigurasi akan bawa akhirnya Yesus dan murid-muridnya pada sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Doa sungguhnya harus memberdayakan kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian dan kerendahan hati, dan tidak memberi kita tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ekaristi, sebagai puncak dari semua ibadah Kristiani, tidak berakhir dengan mengatakan Tetap tinggal dan jangan pulang! Ungkapan terakhir dalam Misa selalu dalam semangat misionaris, seperti Pergilah, kita diutus!”. Kita diutus untuk berbagi buah dari doa-doa kita kepada sesama. Jika kita benar-benar menemukan Kristus dalam doa kita, bersama dengan Kristus, kita akan turun Gunung dan berjalan menghadapi Yerusalem kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Word of God in the Desert

First Sunday of Lent. February 14, 2016 [Luke 4:1-13]

“Filled with the Holy Spirit, Jesus returned from the Jordan and was led by the Spirit into the desert (Luk 4:1).”

jesus temptationToday’s Gospel shows us that the Holy Spirit led Jesus to the desert. Yes, the Holy Spirit will not spare us from the desert! The desert experience can be anything that spells dryness and emptiness in our lives and souls. Out of nowhere, a seminarian enters into a desert as he is feeling unexplainable meaninglessness in his chosen vocation. A mother begins to experience exhaustion in fulfilling her difficult mission to rear her children. Through her journals, it was revealed that even holy person like Mother Teresa of Calcutta went through ’the eclipse of God’ when she did not sense the presence of God for almost 10 years in her life.

The Gospel reminds us as well that in the desert, Jesus was tempted by the devil. Walking through the desert experiences, the devil knows well that our defense is at its lowest and surely he will take his change to make us fall from our commitment. The seminarian starts seeing another way of life as more attractive and a solution to his emptiness. Now, not only dryness, he is also facing a crisis. Tired of spending time with her children, the mother starts thinking to shift her focus on something else like her career, hobbies, or friends. The devil is an extremely smart creature. He will manipulate our basic desires and longings. He offers us little compromises that eventually destroy all together our commitment. The seminarian begins not attending prayers, a student is becoming lazy in study and a husband starts spending more time outside his own house and family.

How then do we counter this situation? Jesus gave the answer: the Word of God. In the desert, Jesus was firmly rooted in the Word of His Father, and resisted the temptations. In the midst of life’s dryness and challenges, we shall turn ourselves into the Word of God. Doubtless, we can do our own bible reading and study. This very reflection and other reflections are an invitation to go deeper into the Word of God. Or, praying the rosary is one effective way to meditate the life of Jesus and to refuse temptation. But, the only place that the Word of God is in the most powerful and unique form is at the Eucharist. In the Eucharist, the Word of God is lavishly shared to us through the biblical readings and expanded through the homily. Most importantly, the Word of God finally is made flesh and we partake of it at the Holy Communion.

When the devil tempted hungry Jesus to change the stone into bread, Jesus resisted by pointing that we truly live because of the real Bread, the Word made flesh, the Eucharist. When the evil one attempted to allure the Son of God to exhibit His power at the temple of Jerusalem, Jesus outsmarted him by showing him that the Temple is the home of the Word, and not place of showoff. When the prince of darkness asked Jesus to worship him in exchange for the world’s glory and richness, Jesus confronted him with the truth that only God and His Word in the Eucharist worthy of all worship.

The Holy Spirit will indeed lead us into the desert, but it is not to destroy us, but to allow us to find how we truly are, persons rooted in the Word of God, in the Eucharist.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Allah di Padang Gurun

Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]

“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”

jesus temptation 2Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.

Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.

Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.

Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.

Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Vocation and Preaching

5th Sunday in Ordinary Time. February 7, 2016 [Luke 5:1-11]

“Then he sat down acalling the disciplesnd taught the crowds from the boat of Simon (Luk 5:3).”

Everyone has its own vocation story. Whether priests, religious or lay persons, we have those moments that open our eyes to where God calls us. One Filipino Dominican priest recalled that his vocation to the Order of Preachers started because of his former girlfriend. One day, his girlfriend brought him to Santo Domingo Church to pray before our Lady of La Naval, and when they were there, he saw a band of Dominican brothers entered the Church for the prayer. He was mystified with their appearance and he began to fall in love with the Dominican habit. The rest is history. For lay persons, the vocation stories might not be obvious, but there are those tipping points that brought them to serve the Lord passionately in the family, workplace or the Church.

Today’s Gospel introduces to us the vocation story of Simon Peter. The story appeared in all four Gospels and this points to the truth on how important Simon Peter is in the college of Apostles. Luke gave us a slightly different background from other Evangelists. He did not begin the story with Peter working as fisherman, but with Jesus preaching and teaching. Simon must be inspired by Jesus’ preaching, and this explained why Simon was so docile when Jesus asked him to go into the deep, despite the fact that Peter was a seasoned fisherman and Jesus was a carpenter’s son. Like the story of Peter, all sincere vocation stories takes its origin in the preaching of the Word of God.

Every time I have the opportunity to speak before the Dominican laity, I always make a point to explain that their first preaching has to be in the family. Before we have outreach programs for the poor or the imprisoned, family has to be our mission. To teach and raise their children into good Christians are never easy, but if the parents refuse to do that, who else will do? In fact, the vocations to the priesthood and religious lives may greatly diminish had the evangelization in the family failed. I owe my vocation and faith to my parents. They never ceased preaching both in words and in deeds to us. I always recalled how my mother taught me praying the rosary, and my father brought us to the Church every Sunday as family. They taught me also by example as they showed me the virtues of fidelity, sacrifice and love. I love God and the Church, because I saw how my parents also love God and the Church.

When St. Dominic established the Order of Preachers, the first religious congregation in the Catholic Church, that has active orientation toward evangelization, he did not abolish the community life. In fact, he included it as an essential element of Dominican life because before we go out, our community is the first preaching mission. A good preaching in the community surely safeguards and nurtures vocations of the preachers. Thus, I am deeply saddened when I heard that a brother or sister left the convent because they no longer felt happiness within the community. Or, children have problematic behaviors because their parents did not become a good example for them. This is the sign of our failure as preachers for one another.

Jesus reminded that our vocation is rooted, nurtured and flourishing because of preaching of the Gospel. We have different callings with their unique stories, but as Fr. Timothy Radcliffe, OP once said, we may enter the Order (or any state of life) for the wrong reasons, but we must stay for the right reason. We believe that one of that the right reasons is a good preaching among us.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan dan Pewartaan

 

Minggu ke-5 dalam Masa Biasa. 7 Februari 2016 [Lukas 5:1-11]

 

calling of peter“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”

 

Setiap orang memiliki kisah panggilannya sendiri. Entah itu seorang imam, biarawan atau orang awam, kita memiliki momen-momen yang membuka mata kita akan tujuan hidup kita sesaui kehendak Allah. Seorang imam Dominikan dari Filipina menceritakan bahwa panggilannya di Ordo Pengkhotbah dimulai gara-gara mantan pacarnya mengajaknya untuk berdoa di Gereja Santo Domingo, Quezon City. Ketika mereka ada di sana, ia melihat kelompok para frater Dominikan memasuki Gereja untuk berdoa. Ia terkagum-kagum dengan penampilan mereka dan ia mulai jatuh cinta dengan jubah Dominikan. Akhirnya iapun memilih masuk dan menjadi imam. Bagi para awam, kisah panggilan mungkin tidak selalu dramatis, tetapi ada titik-titik penting yang membawa kita untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat dalam keluarga, tempat kerja atau Gereja.

Injil hari ini menceritakan kisah panggilan Simon Petrus. Kisah ini muncul di keempat Injil dan hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya Simon Petrus di antara para rasul. Lukas memberi kita latar belakang yang sedikit berbeda dari penginjil lainnya. Dia tidak memulai kisahnya dengan Petrus yang sibuk bekerja sebagai nelayan, tetapi dengan Yesus yang berkhotbah dan mengajar. Simon tentunya terinspirasi oleh khotbah Yesus, dan hal ini menjelaskan mengapa Simon siap sedia ketika Yesus memintanya untuk bertolak ke tempat yang dalam, meskipun faktanya bahwa Petrus adalah seorang nelayan berpengalaman dan Yesus adalah anak seorang tukang kayu. Seperti kisah Petrus, semua kisah panggilan berakar di dalam pewartaan Firman Allah.

Setiap kali saya berbicara kepada Dominikan awam, saya selalu menjelaskan bahwa pewartaan pertama mereka harus terjadi di dalam keluarga. Sebelum kita memiliki program pelayanan bagi masyarakat miskin atau kunjungan ke penjara, keluarga harus menjadi misi pertama kita. Untuk mengajar dan membesarkan anak kita menjadi seorang Kristiani yang baik tentunya sulit luar biasa, tetapi jika para orang tua menolak untuk melakukannya ini, siapa lagi yang akan melakukannya? Bahkan, panggilan imamat dan biarawan dapat sangat berkurang jika evangelisasi dalam keluarga gagal. Panggilan dan iman saya tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Saya selalu ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya berdoa rosario, dan ayah saya membawa kami ke Gereja setiap hari Minggu sebagai keluarga. Mereka mendidik saya juga dengan teladan mereka sebagaimana mereka menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan dan kasih. Saya mengasihi Tuhan dan Gereja, karena saya melihat bagaimana orang tua saya juga mengasihi Tuhan dan Gereja.

Ketika St. Dominikus mendirikan Ordo Pengkhotbah, kongregasi pertama dalam Gereja Katolik, yang memiliki orientasi aktif dalam evangelisasi, dia tidak menghapuskan kehidupan berkomunitas. Sebaliknya, ia menjadikan hal ini sebagai unsur penting dari kehidupan Dominikan karena sebelum kita pergi keluar, komunitas kita adalah misi pewartaan pertama kita. Sebuah pewartaan yang baik di komunitas pasti menjaga dan memelihara panggilan para anggotanya. Jujur, saya sangat sedih ketika saya mendengar bahwa frater atau suster meninggalkan biara karena mereka tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam komunitas mereka. Atau, anak-anak memiliki prilaku bermasalah karena orang tua mereka tidak memberi teladan yang baik. Ini adalah tanda kegagalan kita sebagai pewarta.

Yesus mengingatkan bahwa panggilan kita berakar, terpelihara dan berkembang di dalam pewartaan Injil. Kita memiliki pemanggilan yang berbeda dengan kisah-kisah yang unik, tetapi sebagai Romo Timothy Radcliffe, OP pernah katakan, kita mungkin masuk ke Ordo (atau panggilan sebagai awam) untuk alasan yang tidak tepat, tapi kita harus tinggal karena alasan yang tepat. Kita percaya bahwa salah satu yang alasan yang tepat adalah pewartaan Kabar Baik di antara kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nothing is Impossible

Fourth Sunday in Ordinary Time. January 31, 2016 [Luke 4:21-30]

“Isn’t this the son of Joseph? (Luk 4:22)”

‘Impossible’ is not part of Jesus’ vocabulary. He multiplied the bread and filled the hungry multitude. He walked on water and calmed the storm. He healed the woman with hemorrhage, opened the eyes of Bartimaeus, and expelled the demons. He forgave the adulterous woman and challenged the legalism of the authorities. He raised Lazarus and Himself resurrected. Not even death can limit Him.

Yet, ‘impossible’ and ‘limitation’ seemed to be the mindset of the people of Nazareth. When they saw Jesus came home and proclaimed the Word of God with authority, the Nazarene amazement was short-lived and they turned the tide against Jesus. One might say, ‘That’s impossible! He is Jesus, the son of the poor carpenter Joseph. He is lowly, ordinary, and incapable. Who does he think himself? God?’ Grace was just around the corner, but they closed their hearts, limited their possibilities, and hampered their own growth. Not only they boxed themselves in narrow-mindedness, they also tried to impose their limitations on Jesus. When Jesus refused to be placed under their closed-mindedness, they attempted to get rid of Jesus. Thus, nothing much happened in Nazareth.

Jesus further explained that this refusal to God’s grace had been a perennial problems of Israel. The great prophets Elijah and Elisha could have done mighty deeds for Israel, but they did not because they were rejected by their own people. Now, this mentality of putting limits to oneself does not solely belong to the Israelites. Unconsciously, this attitude may creep into our lives. We may listen to the Word of God every Sunday in the Eucharist, but do we allow the very Word to be fulfilled in our lives? Is Sunday Worship all about feeling-good experience, and yet going home, we act as if nothing happens to us? We are celebrating the Jubilee Year of Mercy, but does it help us being more merciful and compassionate? Sometimes we are like ‘Shoe’, the main character in old comic strip Shoe by Jeff MacNelly. When Shoe is pitching in a baseball game, in the conference in the mound, his catcher says, “You’ve got to have faith in your curve ball.” “It’s easy for him to say,” grumbles Shoe. “When it comes to believing in myself, I am an agnostic.”

A friend of mine did the incredible in her young age. She finished her doctorate at the age of 27 in Japan. What makes her more incredible is she turned down lucrative offers of big companies and volunteered as elementary school teacher in a far-flung area. She is currently serving the people of Nunukan, North Borneo Province, at the border of civilization. Once she texted me and told how difficult it was to teach, especially when people do not really appreciate yet the importance of education. I was speechless, having no word of consolation, but she immediately replied, ‘It is difficult to love.” Her answer made me smile since I know that despite her troublesome situations, she never stops loving. In the Annunciation, archangel Gabriel said to Mary, “For God, there is nothing impossible.” We shall not put limit to God’s grace, to our own growth in faith and to our ability to love. When we believe and open our hearts to God’s grace, the ‘impossible’ things begin to happen in our lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP

Tidak Ada yang Mustahil

Minggu Biasa ke-4. 31 Januari 2016 [Lukas 4:21-30]

“Bukankah Ia ini anak Yusuf? (Luk 4:22)”

Kata ‘mustahil’ tidak ada di dalam kosa kata Yesus. Dia melipatgandakan roti dan memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia berjalan di atas air dan menenangkan badai. Ia menyembuhkan wanita dengan perdarahan, membuka mata Bartimeus, dan mengusir setan. Dia mengampuni perempuan yang berzina dan menantang legalisme dari pihak berwenang. Dia membangkitkan Lazarus dan Dia sendiri bangkit dari kematian.

Namun, kata-kata seperti ‘tidak mungkin’ dan ‘tidak bisa’ tampaknya menjadi pola pikir orang-orang Nazaret. Ketika mereka melihat Yesus datang dan memberitakan Firman Tuhan dengan otoritas, orang Nazaret heran dan mereka mulai menyerang Yesus. Mereka mungkin berkata, Mustahil! Dia adalah Yesus, anak dari Joseph, tukang kayu miskin. Dia itu biasa-biasa saja dan tidak memiliki kemampuan. Memangnya dia pikir dirinya siapa? Tuhan?’ Rahmat Tuhan ada di depan mata mereka, tapi mereka menutup hati mereka, membatasi kemungkinan mereka untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya mereka mengkotakan diri di dalam pikiran yang sempit, mereka juga mencoba untuk memaksakan keterbatasan mereka pada Yesus. Ketika Yesus menolak untuk dibatasi oleh pikiran mereka yang sempit, mereka berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Oleh karena ini, Yesus tidak berbuat banyak di kampung halaman-Nya sendiri.

Yesus sendiri menjelaskan bahwa penolakan akan rahmat Tuhan telah menjadi masalah kuno bangsa Israel. Nabi-nabi besar seperti Elia dan Elisa bisa saja melakukan perbuatan-perbuatan besar bagi Israel, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka ditolak. Ironisnya, justru orang-orang bukan Israel yang malah percaya dan menerima rahmat dari mereka. Sekarang, mentalitas yang membatasi ini bukanlah milik orang Israel semata. Tanpa kita sadari, mental kerdil ini dapat merayap masuk ke dalam hidup kita. Kita mungkin mendengarkan Sabda Tuhan setiap hari Minggu dalam perjamuan Ekaristi, tetapi apakah kita membuka diri terhadap Firman untuk terpenuhi di dalam hidup kita? Kita bernyanyi dan memuji Tuhan pada Sunday Worship, tetapi apakah saat kita pulang, kita bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kita? Tahun ini, kita merayakan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, tapi apakah ini membantu kita menjadi lebih berbelas kasih kepada sesama? Kadang-kadang kita seperti ‘Shoe’, tokoh utama dalam komik ‘Shoe’ oleh Jeff MacNelly. Ketika Shoe akan menjadi pelempar bola di pertandingan bisbol, teman satu timnya mengatakan, Kamu harus percaya pada lemparan bolamu yang melengkung. Sangat mudah baginya untuk mengatakan itu,” Shoe menggerutu. “Ketika aku harus percaya pada diri sendiri, aku adalah seorang agnostik.”

Seorang teman baik saya melakukan hal yang luar biasa di usia muda. Dia menyelesai pendidikan S3 pada usia 27 di Jepang. Apa yang membuat dia lebih luar biasa adalah ia menolak tawaran menggiurkan dari perusahaan besar dan memilih menjadi guru sukarelawan sekolah dasar di pedalaman. Dia saat ini melayani masyarakat di Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, di daerah perbatasan. Beberapa hari yang lalu dia mengirim pesan dan mengatakan betapa sulitnya untuk mengajar, terutama ketika orang tidak benar-benar menghargai betapa pentingnya pendidikan. Saya terdiam, tidak memiliki kata-kata penghiburan, tapi ia segera menjawab, Mengasihi itu sulit. Jawabannya membuat saya tersenyum karena saya tahu bahwa meskipun situasi sungguh sulit, dia tidak putus asa dan tidak pernah berhenti mengasihi. Dalam Kabar Sukacita, malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria, Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1:37).” Diciptakan dalam citra Allah, kita tidak akan membatasi kasih karunia Allah, pertumbuhan kita di dalam iman dan kemampuan kita untuk mengasihi. Saat kita percaya dan membuka diri kita pada rahmat, hal-hal luarbiasa yang kita pikir ‘mustahil’ sungguh akan terjadi di dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Melawan Fundamentalisme

Minggu ketiga di Masa Biasa. 24 Januari 2016 [Lukas 1:1-4; 4:14-21]

 

“setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, Theophilus (Luk 1: 3)”

 

Fundamentalisme adalah keputusan kita untuk memeluk sebuah pandangan atau paham sebagai satu-satunya yang benar dan akibatnya, yang lain dianggap sebagai salah dan bahkan harus dimusnahkan. Meskipun kita dengan mudah mengasosiasikan fundamentalisme dengan agama, fundamentalisme dapat terjadi juga di berbagai aspek dari masyarakat. Ada fundamentalisme agama, politik, ilmu pengetahuan/science dan bahkan fundamentalisme ekonomi. Science tentunya baik dan bermanfaat bagi umat manusia, tetapi ketika beberapa orang membuat science, terutama teori-teori tertentu, sebagai satu-satunya jalan untuk mengetahui kebenaran, maka kita memiliki fundamentalisme. Ekonomi sungguhnya diperlukan bagi masyarakat untuk berfungsi, tetapi ketika kita melihat keuntungan sebagai satu-satunya hal yang penting dan bahkan mengorbankan nyawa manusia dan lingkungan hidup untuk ini, maka kita telah jatuh ke dalam fundamentalisme.

Hari ini, kita mendengarkan awal Injil menurut Lukas. Dia sedikit berbeda dari penginjil lain karena ia sengaja menempatkan di prolognya metodologi petulisan Injilnya: aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur.” Mungkin karena Lukas, sebagai tradisi mengatakan, adalah seorang dokter dan sebagai dokter, ia dilatih untuk bekerja secara teratur dan menggunakan metode ilmiah yang tersedia pada zamannya. Dalam Lukas, kita bisa menemukan bahwa kisah Yesus ditulis berdasarkan penelitian menyeluruh dan prosedur yang ketat dari waktu itu. Singkatnya, Lukas menulis tentang iman dengan metode ilmiah. Yesus lahir dari seorang wanita, namun Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus. Ia menderita dan wafat, namun ia juga bangkit. Dia benar-benar manusia, namun juga benar-benar Allah. Injil terlahir sungguh untuk mencabut setiap bentuk fundamentalisme dari jiwa Theophilus.

Saat ini saya belajar di Institute of Preaching di Quezon City, Metro Manila, dan di sana, kami belajar bagaimana mewartakan iman dibantu oleh berbagai ilmu pengetahuan seperti retorika, hermeneutika (studi penafsiran), psikologi dan banyak lagi. Kitab Hukum Kanonik telah mengatur bahwa setiap imam masa depan harus mengambil setidaknya empat tahun Teologi. Teologi, menurut definisi yang sederhana, adalah ‘science of God’. Kita mencoba untuk terjun ke dalam misteri Allah melalui berbagai metode ilmiah. Dengan demikian, pelatihan imam yang saya terima adalah untuk mengusir segala bentuk fundamentalisme keagamaan dalam diri saya.

Di jantung Ordo Dominikan adalah Kebenaran. Dan St. Thomas Aquinas, seorang Dominikan dan salah satu pemikir terbesar, telah menunjukkan kepada kita bahwa Kebenaran ini dapat ditemukan juga di filsuf pagan seperti Plato dan Aristoteles, pada sarjana Yahudi dan Muslim, dan teolog lain yang memiliki pandangan yang bertentangan. Dalam opus-nya, Summa Theologiea, kita dapat dengan mudah melihat bagaimana ia dengan nyaman dan teratur mengumpulkan semua pandangan, baik yang pro dan contra, menjadi kesatuan yang indah. St. Thomas mengajarkan kita untuk tidak memonopoli kebenaran, tetapi dengan kerendahan hati, belajar juga dari orang lain, terutama mereka yang berbeda dari kita.

Sekarang, kita mungkin menyadari bahwa kita tidak merangkul absolutisme agama dan pandangan ekstrim, tapi fundamentalisme masih bisa merambat masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita menjadi suami yang keras kepala yang berpikir bahwa kita selalu benar, ketika kita menjadi orang tua yang mendominasi dan yang menolak untuk mendengarkan anak-anak kita, kita adalah fundamentalis. Ketika seorang imam bertindak seperti raja dan semua umatnya harus mematuhi, ketika suster pimpinan berprilaku seperti ratu dan memperlakukan lainnya seperti pelayannya, ini adalah fundamentalisme. Kita harus ingat bahwa kita Katolik dan menjadi seorang Katolik fundamentalis sebenarnya kontradiksi. Katolik berarti universal, pria dan wanita bagi semua orang, dan kita tidak boleh dibatasi oleh bentuk-bentuk fundamentalisme.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Against Fundamentalism

Third Sunday in the Ordinary Time. January 24, 2016 [Luke 1:1-4; 4:14-21]

“I too have decided, after investigating everything accurately anew, to write it down in an orderly sequence for you, most excellent Theophilus (Luk 1:3)”

Fundamentalism is man’s decision to hold a particular view as the only one that is right and consequently, the others are considered as dissenting views and even dead wrong. Though we easily associate fundamentalism with religions, fundamentalism can take place also in other realms of our human society. There are religious, politic, scientific and even economic fundamentalism. Science doubtless is good and beneficial for humankind, but when some people make science, especially certain theories, as the only way to know the truth, then we have fundamentalism. Economics is necessary for human society to function, but when people consider profit as the only thing that matters and even sacrifice other human lives and environment for this, then we have fundamentalism.

Today, we listen to the beginning of the Gospel according to Luke. He slightly differed from other evangelists because he intentionally placed in his prologue his methodology of writings: “investigating everything accurately anew, to write it down in an orderly sequence.” It may be because Luke, as the tradition says, was a physician and being one, he was trained to work in orderly fashion and use the available methods and scientific tools in his own time. In Luke, we may discover that even the story of Jesus was written based on a thorough research and rigorous procedures of that time. In short, Luke comfortably wrote about faith in scientific manners. Jesus was born from a woman, yet He was conceived by the power of the Holy Spirit. He suffered and died, yet He also resurrected. He was truly divine, yet truly human. The Gospel was born precisely to uproot any fundamentalism in the heart of Theophilus.

I am currently studying at the Institute of Preaching in Quezon City, Metro Manila, and there, we learn how to preach our faith aided by various human sciences like rhetorics, hermeneutics (study of interpretation), psychology and more. The Code of Canon Law has legislated that every future priest shall take at least four years of Theology. Theology, by simple definition, is ‘science of God’. We try to plunge into the mystery of God through various scientific methods. Thus, my priestly training is to drive away any form of religious fundamentalism in me.

In the heart of the Dominican Order is the Truth. And St. Thomas Aquinas, a Dominican and one of the greatest Christian thinkers, has showed to us that event this Truth can be discovered in pagan philosophers like Plato and Aristotle, in Jewish and Muslim scholars, and other theologians who had opposing views. In his opus, Summa Theologiea, we can easily see how he comfortably and orderly gathered all the views, both against and for his main argument, into single unity. St. Thomas taught us not to monopolize truth, but with humility, to learn also from the others, especially those who are different from us.

Now, we may be aware that we don’t subscribe to any religious absolutism and extreme views, but fundamentalism still can creep in our daily lives. When we become stubborn husbands who think that we are always right, when we become domineering parents who refuse to listen to our children, those are fundamentalism. When a priest acts like a king and all his parishioners have to obey, when a sister superior behaves like an empress and treats other like her servants, these are fundamentalism. We must remember that we are Catholic and being a fundamentalist Catholic is actually contradiction in term. Catholic means universal, man and woman for all, and we must not be limited by any form of fundamentalism.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We Are Brave

Second Sunday in the Ordinary Time. January 17, 2016. [John 2:1-11]

“Woman, how does your concern affect me (Jn 2:4)?”

We desperately needs courageous people. Our world is torn by so many violence and evil deeds. Wars are raging in many nations. Millions are fleeing their homelands, and facing hunger, exhaustion and uncertainty of their future. Poverty consumes lives across the globe and forces people to horrendous human trafficking. The earth is getting warmer and this causes a tidal wave of destruction to all creatures. In desperation, the world needs brave people to bring a better tomorrow.

However, there is a subtle yet crucial distinction between courage and insanity. Some people called themselves ‘bold and fearless’ as they blew themselves up in Jakarta and shot people at random few days ago. Some people tag themselves as the ‘brave men of God’ as they slaughter the children and turn young women as their sex slaves in the Middle East and Africa. Others exalt themselves as the ‘fighters of freedom and choice’ by aborting innocent and defenseless babies in America and Europe. Yet, what is courage all about?

Today’s Gospel drives home a powerful message. The host was running out of wine. The servants were panicking. The lovely wedding was at the edge of embarrassment and disaster. That was a bad news. A brave woman came into the scene. She implored the Lord of Heaven to help the couple, but she was coldly denied. “Woman, how does your concern affect me?” Adding salt to the wound, this Lord of Heaven is her own Son. Yet, instead succumbing into despair, our mother showed us the true meaning of courage. She pushed herself to the limit and defied even God Himself to save the crumbling humanity. Jesus was moved by her courage and compassion, and the true God came out in the wedding of Cana. The first sign: the ordinary water was turned into the best wine. From Mary, we learn that courage is only genuine if it does not only push us to very limit of our existence but also it is for building up human society and the earth.

Some people, believing doing things in the name of God, destroy human lives and exploit the mother earth. Yet, Mother Mary has taught us even to ‘defy’ our false and poisonous conception of ourselves, of others and of God. The real courage is when we dare to plunge ourselves into the vast sea of human problems and refuse to oversimplify them into one-fit-all answer. It is pretty stupid and even blasphemous to say “God is the only solution and thus, everyone who does not follow our God, is as good as dead.” As we struggle to find the better ways of living in this earth, we join Mary in pushing our own limit of existence and in defying our little gods inside us. The world needs courageous people and it needs people who dare to sacrifice their ego for a better future of our earth.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP