Minggu Prapaskah Kedua. 21 Februari 2016 [Lukas 9: 28-36]
“Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28).”
Bagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).
Peristiwa penting lainnya dimana Yesus menghabiskan waktu dalam doa adalah Transfigurasi. Dua penginjil, Matius dan Lukas, menulis kisah Transfigurasi dalam Injil mereka, tapi hanya itu Lukas yang mengatakan tujuan mengapa Yesus dan ketiga murid-Nya naik ke Gunung. Yakni untuk berdoa. Bagi Lukas, Transfigurasi adalah sebuah momen doa. Sungguh, merenungkan Injil hari ini dalam konteks doa akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan.
Pertama, Yesus mengajak para murid untuk mendaki Gunung dan berdoa. Hasrat kita untuk bertemu dengan-Nya dan berdoa sebenarnya adalah inisiatif Allah. Jika kita mampu berdoa, itu karena Tuhan memanggil kita dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Liturgi Brevir selalu dimulai dengan ayat “Ya Allah, bersegeralah membuka mulutku (Mzm 51:15).” Ini adalah keyakinan bahwa tanpa rahmat dan bantuan-Nya, kita tidak dapat berdoa. Kita, umat Katolik, membuka doa kita dengan tanda salib dan menyebutkan, “Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.” Hal ini lahir dari keyakinan bahwa terpisah dari Allah Tritunggal, kata-kata manusiawi kita akan sia-sia di dalam doa. St. Paulus menyatakan hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, “Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. (Rom 8:26).”
Kedua, Transfigurasi mengajarkan kita bahwa kadang, doa-doa kita memberikan kenikmatan dan kepuasan, tapi ini bukan yang paling penting. Kita seperti tiga murid yang sangat takjub di hadapan Yesus yang berubah wujud. Ini adalah saat ketika kita merasakan kedamaian di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita menikmati doa Rosario. Kita terinspirasi oleh homili dan merasa diperkuat oleh Komuni Kudus dalam Ekaristi. Kadang, saya menghadiri worship service sarat dengan lagu-lagu pujian dan khotbah menggebu-gebu. Sesungguhnya, hal ini memberi perasaan sangat gembira dan membebaskan apalagi bagi mereka yang memiliki banyak permasalahan dalam hidup.
Tentunya, seperti para murid, kita ingin menikmati kegembiraan dalam doa ini lebih lama lagi dan membangun ‘kemah’. Namun, Tuhan tidak ingin kita tinggal lama di sana. Dia meminta para murid untuk turun dan menghadapi dunia. Jika kita memilih tinggal dan menolak untuk turun, doa-doa kita tidak lagi tulus. Mereka menjadi candu yang membantu kita melarikan diri dari realitas hidup. Jika ini terjadi, perkataan Karl Marx bahwa ‘Agama adalah opium bagi masyarakat’ sungguh menjadi kenyataan.
St. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa Transfigurasi akan bawa akhirnya Yesus dan murid-muridnya pada sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Doa sungguhnya harus memberdayakan kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian dan kerendahan hati, dan tidak memberi kita tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ekaristi, sebagai puncak dari semua ibadah Kristiani, tidak berakhir dengan mengatakan “Tetap tinggal dan jangan pulang!” Ungkapan terakhir dalam Misa selalu dalam semangat misionaris, seperti “Pergilah, kita diutus!”. Kita diutus untuk berbagi buah dari doa-doa kita kepada sesama. Jika kita benar-benar menemukan Kristus dalam doa kita, bersama dengan Kristus, kita akan turun Gunung dan berjalan menghadapi Yerusalem kita.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Today’s Gospel shows us that the Holy Spirit led Jesus to the desert. Yes, the Holy Spirit will not spare us from the desert! The desert experience can be anything that spells dryness and emptiness in our lives and souls. Out of nowhere, a seminarian enters into a desert as he is feeling unexplainable meaninglessness in his chosen vocation. A mother begins to experience exhaustion in fulfilling her difficult mission to rear her children. Through her journals, it was revealed that even holy person like Mother Teresa of Calcutta went through ’the eclipse of God’ when she did not sense the presence of God for almost 10 years in her life.
Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.
nd taught the crowds from the boat of Simon (Luk 5:3).”
“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”



