Making Our Heavenly Daddy Proud

The Feast of the Baptism of the Lord. January 10, 2016 [Luke 3:15-16, 21-22]

“You are my beloved Son; with you I am well pleased (Luk 2:22).”

Why do we need to be baptized? There are two simple and obvious biblical reasons. The first point is that Jesus Himself chose to be baptized and second one is that before He ascended into heaven, He commanded baptism as the requirement of salvation (see Mark 16:16). Let us focus on the first one.

Some theological discussions have arisen due to this baptism of Jesus. Why did Jesus want to receive John’s baptism that signified the repentance of sins? Was Jesus a sinner who needed repentance? Surely no! Was John superior and more powerful than Jesus? Certainly not! Jesus is sinless and thus, baptism of John is inconsequential in this respect. So, why did Jesus insist to be plunged into water?

One possible reason is that Jesus wished to present to us the most significant effects of baptism. In today’s Gospel, we see that after Jesus came up from the Jordan River, the Holy Spirit immediately descended upon Him. If we follow also Jesus in baptism, we are assured that the Holy Spirit will also come upon us and grant His many gifts and blessings. The Holy Spirit particularly renders the salvific merit of Jesus’ death and resurrection to be efficacious in us. Thus, we are cleansed from sins, both original and actual.

After the descent of the Holy Spirit, Jesus heard the voice coming from heaven, “You are my beloved Son; with you I am well pleased.” This is the second effect of baptism: we are reborn to be the children of God. Like Jesus was proclaimed to be the Son of God, we share also in this glory. When the priest pours water upon our forehead or immerse us into water, all the angels in heaven rejoice exultantly because God embraces His newly born babies. Like an earthly father is exuberant to receive the good news of his newborn child, so too our heavenly Father is well pleased with us.

At birth, we were created in the image of God, and in baptism, we are re-created specifically in the image of the Son of God, Jesus Christ. As Christians, we have the supreme privilege to be called the children of God. And as the same sons and daughters of God, we gather into one community, one family with Christ as the head who is the firstborn. The community of the children of God is what we call the Church. In baptism, we receive a immediately bonus: Church’s membership.

Now, we can see the divine privileges being offered to us in baptism for free. Yet, grace is indeed free, but it is never cheap. If we read closely, after Jesus was baptized, the first thing He did was to pray. All the unique benefits of baptism only bear fruit in our lives if we persevere in faith and prayer. Nobody will believe us as the children of God, if we never pray and communicate with our Father in heaven. Everyone will jeer at us if we claim to be Christians, but we are never actively involved in the Church. Many will raise their eyebrows if we don’t know how to love and serve each other.

In the Feast of the Baptism of the Lord, Jesus calls us once again to be renew our commitment as the children of God and even go deeper into the life of prayer and faith. God the Father is well-pleased with us and now this our turn to make our heavenly Daddy proud.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Membuat Ayah Surgawi kita Bangga

Pesta Pembaptisan Tuhan. 10 Januari 2016 [Lukas 3:15-16, 21-22]

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (Luk 2:22).”

Mengapa kita perlu dibaptis? Setidaknya ada dua alasan alkitabiah sederhana. Poin pertama adalah bahwa Yesus sendiri memilih untuk dibaptis dan yang kedua adalah bahwa sebelum Ia naik ke surga, Ia memaklumatkan bahwa pembaptisan sebagai secara keselamatan (lih. Markus 16:16). Mari kita fokus pada yang alasan yang pertama.

Beberapa pertanyaan teologis muncul tentang pembaptisan Yesus ini. Mengapa Yesus ingin menerima pembaptisan Yohanes yang menandakan pertobatan dosa? Apakah Yesus orang berdosa yang membutuhkan pertobatan? Tentunya tidak! Apakah Yohanes lebih unggul dan lebih kuat daripada Yesus? Tentu tidak! Yesus tidak berdosa dan dengan demikian, pembaptisan Yohanes adalah tidak relevan dalam hal ini. Jadi, mengapa Yesus bersikeras untuk dipermandikan?

Salah satu alasannya adalah bahwa Yesus ingin menunjukan bagi kita efek-efek paling signifikan dari pembaptisan kita. Dalam Injil hari ini, kita membaca bahwa setelah Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Roh Kudus segera turun ke atas-Nya. Jika kita mengikuti Yesus juga dalam pembaptisan, kita yakin bahwa Roh Kudus juga akan turun atas kita dan memberikan banyak karunia dan berkat-Nya. Secara khusus, Roh Kudus menjadikan rahmat keselamatan yang dari wafat dan kebangkitan Yesus bermanfaat di dalam diri kita. Dengan demikian, kita dibersihkan dari dosa, baik dosa asal dan aktual.

Setelah turunnya Roh Kudus, Yesus mendengar suara yang datang dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi; dengan Anda Aku berkenan.” Ini adalah efek kedua dari pembaptisan: kita dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah. Seperti Yesus diproklamasikan sebagai Putra Allah dalam pembaptisan, kita berbagi juga dalam kemuliaan ini. Ketika imam menuangkan air pada dahi kita atau membenamkan kita ke dalam air, semua malaikat di surga bersukacita karena Allah merangkul putra-putri-Nya yang baru lahir. Seperti ayah duniawi yang riang menerima kabar baik karena anaknya yang baru lahir, demikian juga Bapa surgawi kita sungguh berkenan dengan kita di pembaptisan kita.

Saat kita dilahir, kita diciptakan menurut citra Allah, dan dalam pembaptisan, kita diciptakan kembali secara khusus di dalam citra sang Putra Allah, Yesus Kristus. Sebagai orang Kristiani, kita memiliki hak istimewa yang amat luhur yakni dipanggil sebagai anak-anak Allah. Dan sebagai putra dan putri Allah Bapa yang sama, kita berkumpul dalam satu komunitas, satu keluarga dengan Kristus sebagai kepala dan anak yang sulung. Komunitas anak-anak Allah ini adalah yang kita sebut sebagai Gereja. Jadi, dalam pembaptisan, kita menerima bonus: keanggotaan Gereja.

Sekarang, kita dapat melihat hak ilahi yang ditawarkan kepada kita dalam pembaptisan dengan cuma-cuma. Namun, kita harus ingat kasih karunia memang diberikan secara cuma-cuma, tetapi tidak berarti murahan. Jika kita membaca dengan seksama, setelah Yesus dibaptis, hal pertama yang Dia lakukan adalah berdoa. Semua efek-efek unik pembaptisan hanya berbuah dalam hidup kita jika kita bertekun dalam iman dan doa. Tak seorang pun akan percaya kepada kita sebagai anak-anak Allah, jika kita tidak pernah berdoa dan berkomunikasi dengan Bapa kita di surga. Semua orang akan mengejek kita jika kita mengaku Kristiani, tapi kita tidak pernah terlibat aktif di Gereja. Banyak yang akan mengangkat alis mereka jika kita tidak tahu bagaimana mengasihi dan melayani sesama.

Dalam Pesta Pembaptisan Tuhan, Yesus memanggil kita sekali lagi untuk menjadi memperbaharui komitmen kita sebagai anak-anak Allah dan bahkan masuk lebih dalam ke kehidupan doa dan iman. Allah Bapa sungguh berkenan kepada kita dan sekarang giliran kita untuk membuat Ayah surgawi kita bangga.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Shocking Appearance of the Lord

The Epiphany of the Lord. January 3, 2016 [Mathew 2:1-12]

“They were overjoyed at seeing the star, 11 and on entering the house they saw the child with Mary his mother (Mat 2:10-11).”

Today we are celebrating the Epiphany of the Lord. The word Epiphany comes from the Greek word ‘epiphananie’, meaning ‘appearance’. Therefore, today is also known as the feast of the manifestation of the Lord. This celebration is considered to one of the oldest and most important because the Baby God invited not only the Jews, but also the Gentiles, represented by the three Magi, to visit and finally worship Him. In His earliest appearance, Jesus brought light to all the nations.

One little question may linger: why did the three Magi from the East follow the star? Their journey was based on an ancient belief that the birth of a great king was signified by the appearance of new star in the sky. Yet, we are never sure what ‘star’ the Magi actually saw. Was it a comet, a supernova, unusual constellation, a planet, or supernatural light? One thing we are sure of. This star possessed a greatest importance, that Gaspar, Balthazar and Melchior abandoned the comfort of their homeland, traveled thousand miles westward and faced all the dangers and uncertainties.

Yet, just like many Israelites who expected a Messiah-King, the first thing the Easterners did was to visit a palace. And just like the entire Jewish nation, they were mistaken. They discovered Herod who did not wish to have another ruler except himself and the Jewish religious leaders who did not see the star coming. There was no infant-King in that strong and richly decorated castle.

The experience of epiphany shocked everyone. The Magi, however, reacted differently from king Herod and the high priests. While Jewish leaders ignored the divine guide, and selfish Herod secretly conspired the murder of the baby, the three good men chose to learn from their mistake and move on in their journey. In fact, going away from the center of power and pride was a liberating and joyful experience for the three. Re-directing their expectation and re-aligning with the star, they finally found the baby Jesus. Yet again, the noblemen from the East were puzzled to see the great King at the most unworthy place. The Prince of Heaven was the son of a poor carpenter and a simple woman from an unassuming village, Nazareth. The Creator was born among lowly men, animals and plants at the unhygienic manger. Despite all these unexpected events, the old good men found overjoyed because they saw God. Indeed, our God is the God of surprises.

Epiphany or the appearance of the Lord in our lives will certainly jolts us, shatters our expectations and blow away our plans. Are we going to be like the Jewish leaders who dismiss the presence of God in the unlucky events? Are we going to be like Herod who was totally upset and force things according to his will? Or, like the Magi, we allow ourselves to be surprised and to embrace it as the moment of grace?

When I asked a friend on what his plans and expectations on 2016, he replied, “I don’t plan, but God plans for me!” Perhaps, in the same spirit, the best answer when some people asking me, “When will my ordination be?” my surest answer was ‘In God’s time!’ What are your plans and resolutions in 2016? Are you ready to be surprised? Are we prepared to see God and be blessed this year?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penampakan Tuhan yang Mengejutkan

Hari Raya Penampakan Tuhan. 3 Januari 2016 [Matius 2:1-12]

“Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, (Mat 2: 10-11).”

Hari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh tiga orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.

Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa tiga orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting, dan Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.

Namun, seperti banyak orang Israel yang mengharapkan Mesias sebagai raja, hal pertama yang orang-orang dari Timur lakukan adalah mengunjungi istana. Dan seperti seluruh bangsa Yahudi, mereka keliru. Mereka menemukan Herodes yang tidak ingin memiliki penguasa lain kecuali dirinya sendiri dan para pemimpin agama Yahudi yang tidak melihat bintang itu datang. Tidak ada sang Raja di dalam istana yang indah dan penuh perhiasan.

Pengalaman Epifani mengejutkan semua orang. Namun, Orang Majus menunjukkan reaksi yang berbeda dari Raja Herodes dan para imam tinggi. Sementara pemimpin Yahudi mengabaikan panduan ilahi, dan Herodes yang egois diam-diam bersekongkol untuk membunuh sang bayi, ketiga orang baik memilih untuk belajar dari kesalahan mereka dan melanjutkan perjalanan mereka. Bahkan, pergi menjauh dari pusat kekuasaan duniawi adalah pengalaman yang membebaskan dan membahagiakan bagi mereka bertiga. Memperbaharui harapan mereka dan menyelaraskan dengan sang bintang sekali lagi, mereka akhirnya menemukan bayi Yesus. Sekali lagi, para bangsawan dari Timur terkejut melihat Raja besar di tempat yang paling tidak layak. Pangeran Surga menjadi anak dari seorang tukang kayu miskin dan seorang wanita sederhana dari desa sederhana, Nazareth. Sang Pencipta terlahir diantara manusia, hewan dan tanaman di palungan tidak terlalu higienis. Meskipun semua peristiwa ini tak terduga, orang-orang bijaksana dari Timur menemukan kegembiraan karena mereka melihat Allah. Memang, Allah kita adalah Allah yang penuh kejutan.

Epifani atau penampakan Tuhan terjadi di dalam hidup kita, dan pastinya akan mengoncangkan kita, menghancurkan ekspektasi kita dan merusak rencana-rencana kita. Apakah kita akan menjadi seperti para pemimpin Yahudi yang menolak kehadiran Allah di depan mata mereka? Apakah kita akan menjadi seperti Herodes yang benar-benar marah dan memaksa sesuatu menurut kehendaknya? Atau, seperti orang Majus, kita membiarkan diri kita dikejutkan dan menerimanya sebagai momen kasih karunia?

Ketika saya bertanya pada seorang teman tentang apa rencana dan harapannya pada 2016, dia menjawab, “Saya tidak merencanakan, tapi Tuhan berencana untuk saya!” Mungkin, dalam semangat yang sama, jawaban terbaik ketika beberapa orang bertanya padaku, Kapan tahbisan?” Jawaban yang paling pasti ‘In His time!’ Apa rencana dan resolusi anda pada tahun 2016? Apakah anda siap untuk dikejutkan oleh Allah? Apakah kita siap untuk melihat Allah dalam kejutan-Nya dan akan diberkati tahun ini?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Family: The Best Thing in Life

Feast of the Holy Family of Jesus, Mary and Joseph [Luke 2:41-52] December 27, 2015

Our families are fiercely attacked than never before in any history of humanity. Divorce, infidelity, domestic violence, child abuse and labor, sexual exploitation, pornography, contraception, abortion, and dehumanizing poverty are diseases that threaten the family. It is a sacred duty of every Christian to protect the family. Yet, why we need to guard the family from all these evil?

One of the ultimate reasons is that it is within the family that we all learn the best things in life. Aside from learning to say ‘Mama’ or how to walk, we learn to love genuinely, to trust others, to be faithful to one other, to give generously, and to make true sacrifice. If we are always hesitant to love, or unwilling to share, the root causes may be in the family. We did not see these virtues strive in our family. St. Teresa of Avila herself testified in her autobiography, “If I had not been so wicked it would have been a help to me that I had parents who were virtuous and feared God, and also that the Lord granted me His favor to make me good.”

Jesus was born into a family. It was not a perfect family since Mary and Joseph was not rich and perhaps could not provide much for Jesus, but still, Mary and Joseph were the right parents for Jesus. He obeyed His Father as He saw Mary who had been obedient to God’s will in the Annunciation. He was hard-working preacher because Jesus was trained by dedicated Joseph, the carpenter. Most importantly, if Jesus was able to love fully and sacrifice Himself for our salvation, it is because He saw in Mary and Joseph who wholeheartedly willing to abandon everything for the sake of Jesus.

Family may be just the smallest unit in the society, but we need to remember our salvation comes from the family. Our journey to heaven takes its first step in our families.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keluarga: Sumber dari Hal-Hal Terbaik dalam Hidup

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf [Lukas 2:41-52] 27 Desember 2015

Di zaman ini, keluarga terus diserang dan menghadapi pencobaan yang bertubi-tubi. Perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap wanita dan anak, eksploitasi anak, pornografi, penyalahgunaan kontrasepsi, aborsi, dan kemiskinan adalah penyakit-penyakit yang terus mengancam keluarga. Ini adalah tugas kudus dari setiap orang baik Katolik maupun bukan untuk melindungi keluarga. Namun, mengapa kita perlu menjaga keluarga dari segala kejahatan ini?

Salah satu alasan utama adalah bahwa di dalam keluarga, kita semua belajar hal-hal terbaik dalam hidup. Selain belajar untuk mengatakan ‘Mama’ atau ‘Papa’ atau bagaimana cara berjalan, kita juga belajar untuk mengasihi dengan sungguh, untuk mempercayai orang lain, untuk setia kepada sesama, untuk memberi dengan murah hati, dan membuat pengorbanan yang sejati. Jika kita selalu ragu-ragu untuk mencintai, atau tidak mau untuk berbagi, akar penyebabnya mungkin ada dalam keluarga. Kita tidak melihat nilai-nilai luhur ini tumbuh berkembang di dalam keluarga kita. St Theresa dari Avila sendiri bersaksi dalam otobiografinya, “Jika saya tidak begitu jahat itu, ini karena saya dibantu dengan memiliki orang tua yang saleh dan takut akan Allah, dan juga bahwa Tuhan memberikan saya rahmat-Nya untuk membuat saya baik.”

Yesus dilahirkan di dalam sebuah keluarga. Keluarga-Nya bukanlah yang paling sempurna karena Maria dan Yusuf bukan orang kaya dan tidak bisa memberikan banyak untuk Yesus, tapi tetap saja, Maria dan Yusuf adalah orang tua yang tepat bagi Yesus. Dia taat kepada Bapa-Nya di surga sebagai Ia melihat Maria yang telah taat kepada kehendak Allah saat Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel. Yesus adalah pengkhotbah yang tekun karena Yesus dilatih oleh Yusuf, sang tukang kayu yang tekun. Dan yang paling penting, jika Yesus mampu mengasihi sepenuhnya dan mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan kita, itu karena Dia melihat Maria dan Yusuf yang sepenuh hati bersedia untuk meninggalkan segalanya demi Yesus.

Keluarga mungkin hanya unit terkecil dalam masyarakat, tetapi kita perlu mengingat bahwa keselamatan kita berasal dari keluarga. Perjalanan kita ke surga mengambil langkah pertama dalam keluarga kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elizabeth: the Spotter of the Good News

Fourth Sunday of Advent. December 20, 2015 [Luke 1:39-45]

“…for at the moment the sound of your greeting reached my ears, the infant in my womb leaped for joy (Luk 1:44).”

St. Elizabeth seemed to have this special skill that often escaped our eyes. She had this ability to spot that Mary, her relative, was with a child. That was their first encounter after years. Nobody told Elizabeth that Mary was pregnant, and surely, no cellphone and Facebook were yet available during that time for speedy communication. Mary’s pregnancy was not yet physically obvious since it was barely a month since the Annunciation. Yet, she did it. We remember that the primary intention of Mary’s visit was to prove Gabriel’s message that Elizabeth was pregnant, but it turned out that Elizabeth was the first one who recognized the Mary’s pregnancy.

Before the presence of Mary and the baby, Elizabeth’s reaction was astonishing. She did not grill Mary with investigative questions like ‘who is the father?’ or ‘why did you break the Law?’ Neither did she harbor any hatred to Mary for breaking the Jewish sacred Law, nor reporting her to authority. She chose rather to embrace Mary and to rejoice with her in the Lord. Elizabeth did not only have the ability to spot the pregnancy, but more importantly, the ability to discover the Good News.

Our world is loaded with bad news. Wars and bloody violence are raging from Sahara desert to tropical jungles in South East Asia, from North America to Syria. Our news outlets are full of this terrible information: killing within the family, abuses against women and children, and natural and man-made disasters. What is horrified is that we buy these kind of news and serve them as our breakfast. We can easily spot the problems and issues in our lives. Financial difficulties, health issues, broken relationships, name it and you have it. We are trained to see the bad news and linger in them. We, thus, become announcers of the bad news or simply the complainers or gossipers.

However, echoing the words of Antonio Cardinal Tagle, the Archbishop of Manila, in the opening of Dominican Jubilee Door in Santo Domingo Church, Metro Manila few weeks ago, “We do not need another proclaimer of the bad news. Our world has already a lot of bad news. We desperately need the preachers of good news.” No wonder if St. Dominic de Guzman is called the preacher of grace, because it is the main mission of every preacher to discover the working of God in our midst. As Sr. Mary Catherine Hilkert OP once said ‘preaching is to articulate grace’.

The Advent season gives us Elizabeth. Her ability to spot the grace among ordinary events and even among unlikely circumstances makes her a humble yet true model of preacher of the Good News. Yet, we must not forget that Elizabeth’s skill is not merely human effort, but in itself a grace of God. She was under the influenced of the Holy Spirit, when she was able to discover Jesus. Eventually, it is the grace of God within us that enables us to unearth the grace around us. In turn, the grace around us brings joy and meaning in our lives as well as strengthens the grace within us. It is all about grace.

To spot grace and to become happy is not simply a matter of choice, but it is primarily the fruits and gift of Holy Spirit. We constantly pray to God to shower us with His grace and blessings so that in the midst of various earthly concerns and problems, we may not miss Jesus this Christmas.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elisabet: Menjadi Penemu Kabar Baik

 

 

Keempat Minggu Adven. 20 Desember 2015 [Lukas 1: 39-45]

“… ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. (Luk 1:44).”

Santa Elisabet tampaknya memiliki keahlian khusus yang sering luput dari mata kita. Dia memiliki kemampuan untuk melihat bahwa Maria, saudaranya, sedang mengandung. Kunjungan Maria adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Tidak ada yang memberi tahu Elisabet tentang kehamilan Maria, dan pasti, ponsel dan Facebook yang belum tersedia pada zaman ini untuk berkomunikasi dengan cepat. Kehamilan Maria belum secara fisik tampak jelas karena itu baru saja beberapa minggu sesuah Maria menerima Kabar Baik dari Malaikat Gabriel. Namun, Elisabet bisa mengetahuinya. Kita ingat bahwa tujuan utama dari kunjungan Maria adalah untuk membuktikan pesan Gabriel bahwa Elisabet sedang mengandung, tapi ternyata Elisabet menjadi orang pertama yang memahami kehamilan Maria.

Dihadapan Maria dan sang Bayi di dalam rahimnya, reaksi Elisabet sungguh menakjubkan. Dia tidak menginvestigasi Maria dengan pertanyaan seperti ‘Siapa ayah sang bayi?’ atau ‘Mengapa kamu melanggar Hukum Taurat?’ Begitu pula dia tidak memendam kebencian kepada Maria karena dia melanggar hukum suci Yahudi, atau melaporkan Maria ke otoritas untuk diadili. Dia memilih untuk merangkul Maria dan bersukacita dengan dia di dalam Tuhan. Elisabet tidak hanya memiliki kemampuan untuk melihat kehamilan Maria, tetapi yang jauh lebih penting, kemampuannya untuk menemukan Kabar Baik.

Dunia kita penuh dengan berita buruk. Perang dan kekerasan berdarah yang mengamuk dari gurun Sahara ke hutan tropis di Asia Tenggara, dari Amerika Utara ke Suriah. Berbagai sumber berita kita penuh dengan informasi yang mengerikan: pembunuhan di dalam keluarga, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak, dan bencana alam maupun buatan manusia. Apa yang mengerikan adalah bahwa kita justru membayar untuk berita semacam ini dan menyuguhkan sebagai sarapan pagi kita. Kitapun bisa dengan mudah melihat masalah dan isu-isu dalam kehidupan kita. Kesulitan keuangan, masalah kesehatan, hubungan yang rusak, dan masih banyak lagi. Tanpa sadar kitapun dilatih untuk melihat berita buruk dan tinggal di dalamnya. Dengan demikian, kita berubah menjadi penyiar kabar buruk atau pengeluh atau tukang gosip.

Namun, menggemakan kata-kata dari Kardinal Antonio Tagle, Uskup Agung Manila, dalam pembukaan Pintu Jubilee Dominikan di Gereja Santo Domingo, Metro Manila, Kita tidak perlu tambahan penyebar kabar buruk. Dunia kita memiliki sudah banyak berita buruk. Yang kita sangat butuhkan adalah pengkhotbah kabar baik.Tak heran jika St. Dominikus de Guzman disebut sebagai pewarta rahmat, karena adalah misi utama setiap pengkhotbah untuk menemukan karya Allah di tengah-tengah kita. Sebagaimana Maria Catherine Hilkert OP pernah berkata ‘berkhotbah adalah mengartikulasikan rahmat.’

Mas Adven memberi kita santa Elisabet. Kemampuannya untuk melihat rahmat di antara peristiwa-peristiwa yang biasa dan bahkan di antara keadaan yang tidak terduga menjadikan dia seorang model dari pengkhotbah dari Kabar Baik. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kemampuan Elisabet ini bukan sekedar usaha manusia biasa, tetapi sebuah rahmat Allah. Dia berada di bawah pengaruh Roh Kudus, ketika ia mampu menemukan Yesus. Sungguhnya, ini adalah rahmat Allah dalam diri kita yang memungkinkan kita untuk mengenali rahmat di sekitar kita. Dan pada gilirannya, rahmat di sekitar kita membawa sukacita dan makna dalam kehidupan kita serta memperkuat rahmat dalam diri kita. Ini adalah semua tentang rahmat Allah.

Untuk melihat rahmat dan menjadi bahagia bukan hanya soal pilihan pribadi kita, tetapi pada dasarnya buah dan karunia Roh Kudus. Kita terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga di tengah-tengah berbagai permasalahan dan kepentingan duniawi, kita tidak kehilangan Yesus di Natal ini.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Excesses

Third Sunday of Advent. December 13, 2015 [Luke 3:10-18]

“Stop collecting more than what is prescribed (Luk 3:13).”

We often think that having more is the sure path to happiness and greatness. Surely, it feels good to own high-end gadgets in our hands, rather than to see them in the hands of our friends. That’s why we work so hard to earn money and buy a lot of things, like fashionable clothes, electronic devices, cars, and more. The more we have, the better we feel. Prosperity is happiness. No wonder books on the secret formula of success and richness are mushrooming and best sold. We spend a lot money to invite management gurus or enroll in programs with great coaches. Even, preachers of various religious groups proclaim wealth as blessing and they sound pleasing to our ears.

However, the Gospel, through John the Baptist, offers us a radical shift of perspective. John told the people to live simply, be avoid excesses and share their surplus. Prosperity is not happiness. Yet, deep inside, we do not like the idea. It is counterintuitive, countercultural and as if we swim against the current of contemporary wisdom. We want to work harder, we like to earn more, and it just feel good to have money and things we desire. Sometimes, priests, religious brothers and sisters are not immune to this temptation. We work so hard, preach a lot, do a lot of ministries and we build many new buildings for our apostolates. We unconsciously are running after another form of prosperity.

Yet, despite preaching against our desire, John is actually proclaiming a Good News, and what good is in having less? When Michelangelo was asked by the Pope, “Tell me the secret of your genius. Tell me how you have made the magnificent statue of David.” He answered, “It is simple. I just remove what is not David.” We are not less human when we stop having excesses, like excessive works, undue problems, complicated relationship, all things that are not essential. In fact, it opens up to other fresh and vibrant possibilities in life, and unforeseen opportunities to discover our true self. Let’s be honest. We are not truly sure what the key to success and happiness is. If we do, we have been as rich as Bill Gate or as powerful as Barack Obama long time ago. If adding things in our lives does not mean happiness, why don’t we just remove those unessential things all together?

John focused on the essential. When he was asked if he was the Messiah, he firmly said no, though it could have been a great opportunity. People of Israel would adore and give him the glory, but John remained firm in his decision. Because his refusal to heed the temptation, he opened up another creative possibility, he became the best man of the Bridegroom, the voice in the wilderness. He then effectively led people to Jesus.

The Advent season is a high time for us to slow down and ask ourselves, “I am working so hard, but am I doing the right thing? I have a lot of things in my hands, but are there really essential?” St. Thomas Aquinas once argued that God is so simple, and because His total simplicity, He was utterly beautiful and lovable. We were created in the image of God, and only going back to that simplicity of God, we are going to discover who we truly are. Like Michelangelo who chiseled out that is not David, we need to detach also those who are not us.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekses

Minggu Adven Ketiga. 13 Desember 2015. [Lukas 3: 10-18]

“Jangan mengambil lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (Luk 3:13)

Kita sering berpikir bahwa dengan memiliki lebih banyak adalah jalan pasti menuju kebahagiaan dan kesuksesan. Itu sebabnya kita bekerja keras untuk mendapatkan uang dan membeli banyak hal, seperti pakaian modis, gadget tercanggih, mobil terbaru, dan banyak lagi. Semakin kita miliki, semakin besar kepuasaan yang kita rasakan. Kekayaan adalah kebahagiaan. Tidak heran jika banyak buku tentang formula rahasia kesuksesan dan kekayaan menjamur dan laris manis. Kita juga menghabiskan banyak uang untuk mengundang pembicara tenar atau mendaftar di program sukses dengan coach yang hebat. Bahkan, pengkhotbah dari berbagai kelompok agama menyatakan kekayaan sebagai berkat dan mereka tampak sangat menarik untuk didengarkan.

Namun, Injil, melalui Yohanes Pembaptis, menawarkan kita perubahan perspektif radikal. Yohanes mengatakan kepada orang-orang Israel untuk hidup sederhana, menghindari ekses dan berbagi surplus mereka. Kekayaan bukanlah kebahagiaan. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tidak menyukai ide ini. Hal ini berlawanan dengan intuisi, budaya zaman ini dan seolah-olah kita berenang melawan arus kebijaksanaan kontemporer. Kita ingin bekerja lebih keras, kita ingin mendapatkan lebih, dan kita puas ketika memiliki uang dan hal-hal yang kita inginkan. Kadang-kadang, para imam dan para religius pun tidak kebal terhadap godaan ini. Kita bekerja begitu keras, melakukan banyak pelayanan dan membangun banyak gedung baru untuk kerasulan kita. Tanpa menyadari, kita terjebak dalam godaan untuk mencari kekayaan pribadi.

Namun, walaupun Yohanes menyatakan sesuatu yang kita tidak sukai, sebenarnya ia tetap memberitakan sebuah Kabar Baik. Apa yang baik saat kita tidak memiliki ekses? Ketika Michelangelo ditanya oleh Paus, “Apakah rahasia kamu? Katakan padaku bagaimana kamu bisa membuat patung David yang luar biasa indah!” Dia menjawab, Hal ini sederhana. Saya hanya menanggalkan apa saja yang bukan Daud. Kita tidak akan menjadi setengah manusia ketika kita berhenti memiliki ekses, seperti karya dan kerjaan yang berlebihan, masalah yang tidak perlu, relasi yang terlalu ruwet, semua hal-hal yang tidak penting. Bahkan, hal ini membuka kemungkinan baru dan inovatif dalam hidup, dan kesempatan yang tak terduga untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Mari kita jujur. Kita sebenarnya tidak benar-benar yakin dan tahu apa kunci keberhasilan dan kebahagiaan itu. Jika kita sungguh tahu, kita sudah sekaya Bill Gates atau sekuat Barack Obama sejak lama. Jika memiliki ekses dalam hidup kita tidak berarti kebahagiaan, mengapa kita tidak menanggalkan hal-hal tidak penting dalam hidup kita?

Yohanes memfokuskan dirinya pada yang esensial. Ketika ia ditanya apakah ia adalah Mesias, ia dengan tegas mengatakan tidak, meskipun itu adalah kesempatan besar. Orang Israel akan memuja dan memuliakan dia, tapi Yohanes tetap tegas untuk keputusannya. Karena penolakannya terhadap godaan itu, ia membuka kemungkinan kreatif lain bagi dirinya, dan dia bias menjadi orang terbaik dari mempelai pria dan suara di padang gurun. Dia kemudian secara efektif membawa kita kepada Yesus.

Masa Advent adalah waktu yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri, “Saya bekerja begitu keras, tapi apakah yang saya lakukan adalah hal yang benar? Saya memiliki banyak hal di tangan saya, tetapi apakah ini benar-benar penting?” St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa Allah sesungguhnya begitu sederhana, dan karena kesederhanaan-Nya, Dia benar-benar indah dan mulia. Kita diciptakan menurut citra Allah, dan hanya akan kembali ke kesederhanaan Allah ini, kita akan menemukan siapa kita sejatinya. Seperti Michelangelo yang menanggalkan semua hal yang bukan Daud, kita perlu melepaskan juga hal-hal yang bukan kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP