Eli, Eli, lema sabachthani?

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 9, 2017

Matthew 26:14—27:66

“Eli, Eli, lema sabachthani?” which means, “My God, my God, why have you forsaken me? (Mat 27:46)”

holy week 1Many theologians and ordinary Christians alike are baffled by these words of Jesus on the cross. If Jesus is God, how is it possible for Him to be separated from God? Why does the most compassionate God abandon His beloved Son? It simply does not make any sense. The Catechism of the Catholic Church tries to explain that it is a consequence of sin. Not that Jesus had committed any sin, but He endured the sin of the world on the cross. The greatest effect of sin is separation from God. Thus, carrying the heaviest burden of sin, Jesus could not but feel the chilling effect of alienation from His own Father.

However, for early Christians and Jews who listened to the last words of Jesus on the cross, they understood that Jesus was actually reciting the beginning line of Psalm 22. The tradition considers this as a psalm of lamentation. In fact, the Book of Psalms contains a lot of psalms of lament. Despite its sorrowful nature, this kind of psalm remains true to its form, which is a prayer inspired by the Holy Spirit. Reading closely Psalm 22, we discover that the psalmist tried to express his desperate situation because of the enemies’ assault. The attack was so intense and brutal that he felt that even God abandoned him. Yet, despite the feeling of abandonment, he kept lamenting to God as if He was just near. Indeed, the psalmist was frustrated and complaining, but even this, he turned it into a prayer. Though it was the only prayer he could utter, it was an authentic prayer, without any pretension and pride. This is the paradox: when the psalmist became honest with himself and sufferings, God was closest to him.

In the cross, Jesus felt an excruciating pain both on physical and emotional levels. His triumphal entrance to Jerusalem in which He was welcomed as the King, the Son of David and Prophet, was a jubilant event, yet in a matter of days, many people who had followed Him turned to be His enemies and shouted, “Crucify Him!”. All his great successes as a preacher, teacher and wonder maker, were scattered. He was about to die as a criminal, a shame to Himself and His family. In this extreme sorrow, He decided to pray. Not any prayer, but the prayer that is most fitting to a suffering faithful Jew: a Psalm of Lament. This is the paradox of the cross: He felt abandonment and frustration, but in this prayer, this was the moment Jesus was closest to His Father.

We share also this experience of the cross in our lives. We might face terrible financial situation and uncertainty in our works. We might have health conditions that drain our resources. We might fail in our marriages or friendships. We might just lose our beloved family member. We are misunderstood and accused of wrongdoings we never committed. We might be wronged unjustly. We suddenly lose the works or the ministries we have built on for years. It seems we cannot see any light at the end of the tunnel. Yet, even in the horrifying experiences of the cross, Jesus teaches us to pray. Not any prayer, but a prayer of lamentation, a sincere prayer that expresses deepest desires, angst and pains. It is true that our situations might not change at all, but as we articulate ourselves and our situations, we are helped to find meanings, consolation, and hope. This is the paradox: in the prayer of lament, as we strip our pride and pretentiousness, even when we are in the lowest pit of our lives, God is actually closest to us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Hari Minggu Palma – Hari Minggu Prapaskah VI – Mengenangkan Sengsara Tuhan

April 9, 2017

Matius 26: 14-27: 66

“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46)”

holy week 2Banyak teolog maupun umat awam kesulitan untuk memahami kata-kata Yesus di kayu salib ini. Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa terpisahkan dari Allah? Lalu, mengapa Allah yang penuh kasih bisa-bisanya meninggalkan Putra-Nya? Ini tidak masuk akal. Katekismus Gereja Katolik mencoba menjelaskan bahwa ini adalah konsekuensi dari dosa. Bukan karena Yesus telah melakukan dosa, tetapi Dia menanggung dosa dunia di kayu salib. Efek terbesar dari dosa adalah terpisahnya kita dari Allah. Dengan demikian, membawa beban terberat dari dosa, Yesus tidak bisa tidak merasakan efek mengerikan keterasingan dari Bapa-Nya sendiri.

Namun, bagi umat Kristiani perdana yang mendengarkan kata-kata terakhir Yesus di kayu salib ini, mereka mengerti bahwa Yesus sejatinya mendaraskan Mazmur 22. Tradisi mengkategorikan Mazmur 22 sebagai mazmur ratapan. Bahkan, Kitab Mazmur mengandung banyak mazmur ratapan. Meskipun bersifat sedih, jenis mazmur ratapan tetap merupakan sebuah doa yang terinspirasi oleh Roh Kudus. Jika kita membaca Mazmur 22 dengan teliti, kita menemukan bahwa sang pemazmur mencoba untuk mengekspresikan situasi gentingnya karena serangan musuh. Serangan itu begitu intens dan brutal sehingga ia merasa bahwa bahkan Tuhan telah meninggalkan dia. Namun, meskipun merasakan ditinggalkan, ia terus meratap dan berdoa kepada Allah seolah-olah Dia dekat dan tak pernah meninggalkannya. Memang, sang pemazmur frustrasi dan mengeluh, tapi ia mengubahnya menjadi sebuah doa. Meskipun itu satu-satunya doa yang dia daraskan, itu tetap yang doa otentik, tanpa pretensi dan keangkuhan. Inilah sebuah paradoks: ketika sang pemazmur menjadi jujur dengan dirinya sendiri, Allah menjadi sungguh dekat dengannya.

Di kayu salib, Yesus merasakan sakit yang luar biasa baik di secara fisik dan emosional. Saat Ia memasuki kota Yerusalem di mana Ia disambut sebagai Raja, Anak Daud dan Nabi, adalah peristiwa luar biasa, namun dalam hitungan hari, banyak orang yang mengikuti Dia berubah menjadi musuh-Nya dan berteriak, “Salibkan Dia!” Semua keberhasilan besar sebagai seorang pengkhotbah, guru dan pembuat muzijat, hilang dalam sekejap. Ia mati sebagai seorang kriminal, menjadi aib bagi keluarga-Nya dan bangsa-Nya. Dalam kesedihan ekstrim ini, Ia memutuskan untuk berdoa. Bukan sekedar doa, tetapi doa yang paling tepat bagi seorang Yahudi yang sedang menderita: sebuah Mazmur Ratapan. Kata-kata Mazmur 22 mengungkapkan frustrasi dan perasaan ditinggalkan oleh Allah, tetapi sebagai doa, ini sejatinya momen di mana Yesus menjadi paling dekat dengan Bapa-Nya. Ini adalah paradoks salib!

Kita juga memiliki pengalaman salib dalam hidup kita. Kita mungkin menghadapi situasi keuangan yang terpuruk dan ketidakpastian dalam pekerjaan kita. Kita mungkin memiliki kondisi kesehatan yang menguras kekuatan kita. Kita mungkin gagal dalam pernikahan atau persahabatan kita. Kita mungkin kehilangan anggota keluarga tercinta. Kita disalahpahami dan dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah kita perbuat. Kita mungkin diperlakukan dengan tidak adil. Kita tiba-tiba kehilangan proyek atau karya yang telah kita bangun selama bertahun-tahun. Kita tidak dapat melihat cahaya di ujung terowongan gelap ini. Namun, bahkan dalam pengalaman salib ini, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa. Tidak sekedar doa, tapi doa ratapan, doa yang tulus yang mengungkapkan keinginan, kecemasan dan sakit kita yang terdalam. Memang benar bahwa situasi kita mungkin tidak berubah sama sekali, tapi saat kita bisa mengartikulasikan diri kita dan situasi kita, kita dibantu untuk menemukan makna, penghiburan, dan harapan. Dalam doa ratapan, kita melucuti pretensi dan keangkuhan kita. Inilah paradoks: bahkan di dalam doa ratapan, ketika kita berada di jurang terdalam kehidupan kita, Tuhan sebenarnya paling dekat dengan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Weep

 Fifth Sunday of Lent. April 2, 2017 [John 11:1-45]

Raising-of-Lazarus-2 Today’s Gospel contains my personal favorite verse: Then, Jesus wept. It is the shortest verse in the Bible, yet it is also one of the most powerful. However, its strength does not rest on any superhuman power that can multiply bread or calm the storm, but on the humanity of Jesus.

The death of Lazarus must have been overwhelming for the family. In the ancient Jewish society, man was responsible for the survival of the family. If presumably, Lazarus was the only bread winner, Martha and Mary would have a serious problem in surviving in that troubled and difficult times. But, more than any economic difficulty, a loss of a family member due to sickness and death had always crushed the entire family. Not only Martha and Mary were uncertain of their future, they also had to endure the terrible pain of losing someone they loved dearly, a brother with whom they shared a lot of good memories, and a friend to whom they could trust and rely on. Anyone of us who has lost a beloved family member can easily commensurate with Martha and Family.

When Jesus saw Martha and Mary were grieving and weeping, Jesus was groaned and was troubled. And when He saw the tomb, He began to shed tears as well. He did not pretend that He was Ok, or He did not appear as if nothing happened. He got affected by the overwhelming emotion and suffering, and He wept. We see today Jesus who is truly human and becomes one with our humanity with its all pains, sufferings, and grief. The revelation is that before Jesus does any miracle or sign, He first becomes part of our sorrow, our humanity. This very consoling.

We are living at a time where success and happiness are the determinants of a fulfilled life. No wonder, the books or seminars on ‘positive thinking’, ‘greatness’, ‘self-help’ or ‘success’ are mushrooming. Even we and some other churches follow suit and preach the ‘Gospel of Prosperity’. I guess there is nothing wrong with being successful and rich, all are a blessing of God. It becomes problematic when we tend to focus on the happy only emotions and suppress ‘negative’ emotions by reciting ‘positive thinking mantra’ or attending praise and worship. In the face of sufferings, failures, and loss of someone we love or we are crushed by burden of life, it is but natural to feel sorrow. Many psychologists would agree that suppression of this feeling will do more harm than good. In the animation film ‘Inside Out’, life of Riley, the main protagonist, turns to be a little mess when Sadness is pushed aside, and Joy is always at the helm. But, when Joy gives away to Sadness, things begin to fall in their places. God created Sadness also, and it is for a good purpose.

Certainly Jesus does not teach us to be melancholic, nor to dwell in our grief for eternity. He teaches us what it means to be fully and truly human, with all love, joy, sorrow, hope, fear, and anger. Our faith tells us that Jesus is not only fully divine, but also fully human, and this means that when we strive to know Jesus, not only we know more about God, but also about humanity. The more we love Jesus, the more we become truly human.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Maka Menangislah Yesus

Kelima Prapaskah Minggu. 2 April 2017 [Yohanes 11: 1-45]

jesus-weptPada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.

Kematian Lazarus sepertinya sangat memukul keluarga. Dalam masyarakat Yahudi kuno, seorang pria bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan hidup keluarganya. Jika Lazarus adalah satu-satunya pria di keluarga tersebut, Marta dan Maria akan menghadapi masalah serius dalam kelangsungan hidup mereka. Tapi, lebih dari kesulitan ekonomi, hilangnya anggota keluarga karena sakit dan kematian selalu selalu membenamkan seluruh keluarga. Tidak hanya Marta dan Maria ragu akan masa depan mereka, tetapi mereka juga harus menanggung rasa sakit dari kehilangan seseorang yang mereka kasihi, saudara yang mereka andalkan, dan memori-memori indah bersamanya. Siapa pun dari kita yang telah kehilangan anggota keluarga tercinta dapat dengan mudah bersimpati dengan Martha dan Maria.

Ketika Yesus melihat Marta dan Maria yang berduka dan menangis, Yesus mengerang dan sangat terharu. Dan ketika Dia melihat kubur Lazarus, Ia mulai meneteskan air mata. Dia tidak berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, atau Ia tidak tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terlibat di dalam emosi dan penderitaan Martha dan Maria, dan diapun menangis. Kita melihat sekarang Yesus yang benar-benar manusia dan menjadi satu dengan kemanusiaan kita dengan segenap rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Dan Kabar gembira bagi kita semua adalah sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia pertama-pertama menjadi bagian dari kesedihan dan kemanusiaan kita. Dan ini sungguh sebuah penghiburan.

Kita hidup dalam zaman di mana kesuksesan dan kebahagiaan menjadi penentu hidup. Tak heran, banyak buku atau seminar tentang ‘positive thinking’, ‘self-help’ atau ‘sukses’ tumbuh seperti jamur. Bahkan kita dan beberapa gereja lainnya ikut arus dan memberitakan ‘Injil Kemakmuran’. Saya kira tidak ada yang salah dengan menjadi sukses dan kaya, semua adalah berkat dari Tuhan. Tetapi, ini menjadi bermasalah ketika kita cenderung untuk fokus pada perasaan senang dan bahagia, tetapi menekan emosi-emosi ‘negatif’ dengan mengucapkan mantra ‘positive thinking’ atau menghadiri Praise and Worship. Dalam menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kehilangan serta saat diterpa badai kehidupan, sangatlah alamiah untuk merasa sedih. Banyak psikolog setuju bahwa menekan perasaan ini sebenarnya berdampak tidak baik pada kesehatan kita secara menyeluruh. Dalam film animasi Inside Out, kehidupan Riley, sang protagonis utama, ternyata menjadi berantakan ketika Sadness dikesampingkan, dan Joy selalu diunggulkan. Tapi, ketika Joy memberikan tempat bagi Sadness, hidup Riley mulai berjalan dengan baik. Tuhan tidak hanya menciptakan emosi bahagia saja tapi juga emosi sedih, dan ini adalah untuk tujuan yang baik.

Tentu saja Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi melankolis, atau untuk terus bersedih sepanjang masa. Dia mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia yang penuh dan sejati, dengan semua kasih, sukacita, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kemarahan. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya sepenuhnya ilahi, tetapi juga sepenuhnya manusia, dan ini berarti bahwa ketika kita berusaha untuk mengenal Yesus, tidak hanya kita tahu lebih banyak tentang Allah, tetapi juga tentang kemanusiaan kita. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita menjadi benar-benar manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Blindness and Vision of Faith

Fourth Sunday of Lent. March 26, 2017 [John 9:1-41]

“it is so that the works of God might be made visible through him. (Joh 9:3)”

jesus_heals_a_blind_man_by_eikonikBlindness is the most dreadful disability for many of us. It is the loss of vision, living in total darkness for our entire lives. Blindness is the inability to see the beauty of the world and people who love us. In the Old Testament, blindness puts one in great disadvantages. The well-known story of Isaac who was tricked by his own son Jacob so that he might get his blessing began with Isaac losing his eyesight. Blind people are also hindered from fulfilling their religious duties. The Law of Moses dictates that the blind cannot offer sacrifice to the Lord,p; even blind animals can not be offered to the Lord! (see Lev 21-22). Blindness was associated with sinners. (see Deu 28:29). That is why Jesus’ disciples asked whether the man’s blindness was caused by his sin or his parents’ sin.

The healing of a blind person in the Old Testament is rare, but the prophets foretold that the Messianic age will be marked by the healing of the blind and the crippled. Thus, in the Gospels, we read many stories of the blind cured by Jesus, and this tells us that Jesus is the long-expected Messiah and that His kingdom has begun. In the Gospel of John, the stories of healing a blind person occurred rarely, but John devoted the entire chapter 9 to one unnamed blind man. This man was healed by Jesus on the Sabbath day. Unfortunately, healing on the Sabbath is forbidden by the Law, and the Pharisees logged a series of inquiries on the man, questioning the authority of Jesus. The man was convinced that despite the violation of the Sabbath’s rest, Jesus was holy because no sinner can heal. The story ended with him expelled from the synagogue. The irony in the story is that as the blind was able to see and believe in Jesus, the some Pharisees continued living in darkness and did not believe in Jesus.

The story of the blind man reminded me of the story of Louis Braille. Louis lost his vision at a very young age because a sharp object accidently pierced his eyes. Yet, he was determined to learn to navigate the world with the other senses left. His father made him a cane, his brother taught him echolocation, the village priest taught him to recognize trees by touch and birds by their song, and his mother taught him to play dominoes by counting the dots with his fingertips. He wanted to read and learn more, but it was practically impossible. After some time, he received the news that Charles Barbier, an army commander invented a military communication code using patterns of dots to represent sounds. Louis adopted the system for himself, yet he felt the coding was yet too slow. So, instead of representing sound, he engineered a dot system that represented letters. He punched the dots on the paper by a sharp and small tool akin to an awl, a tool that caused his blindness. At the age of 15, he invented the Braille alphabet. His determination has helped countless people with blindness and low visibility to read and see the world of ideas.

Certainly, our eyes are fine because we are able to read this reflection! But, the real question is, in this Lenten season, whether our eyes help us to see what matters most in life. Do we appreciate the gift of sight that we have? Does our vision lead us to a deeper faith? Have we helped others to see Jesus?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Samaritan Woman

Third Sunday of Lent. John 4:5-42 [March 19, 2017]

“Many of the Samaritans of that town began to believe in him because of the word of the woman (Jn 4:39)”

samaritan-woman-at-the-wellMany of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

Secondly, this Samaritan is a woman. The ancient Jewish society, just like many ancient cultures, placed women as second class citizens. They were treated as objects, either owned by the patriarch or the husband. They could be easily divorced by their husbands if they could not bear a child. Despite some outstanding and exceptional women due to their noble birth and wealth, women generally were discriminated from the public and religious sphere. Many could neither study the Torah nor have a voice of their own. No wonder, many Jews praised the Lord because they were born not as a woman!

However, in today’s Gospel, Jesus talked to a Samaritan woman. Not only talking, He asked for water. Not only did he asked for water, He revealed Himself for the first time as the Living Water as well as the Messiah. The conversation transformed her.  While many Jews refused to believe in Jesus, the Samaritan woman believed. Not only did she become a believer, she turned to be a preacher of faith. She spread the Good News to her townsfolk and they came to Jesus because of her. The Gospel of John narrates to us that even a Samaritan and a woman can be chosen by Jesus to be His preacher. The effects of her preaching were unprecedented. The Samaritans began to make peace with other Jews, the disciples who also believe in Jesus.

We are living in a better world. Women can enjoy the same rights that men enjoy almost in all aspects. Indonesia, a country with the largest Muslim population in the world, used to have a woman president. In the Philippines, many major positions are occupied by women, like Chief Justice, Senators, and even military general. Yet, still many women are subject to various forms of exploitation: human trafficking, prostitution, domestic violence, and abuses. Following Jesus means standing up against injustice against women.

The Gospel also points out to us that women are capable of preaching the faith. Surely, women cannot preach in the pulpit, but many of them are responsible for faith growth in many Christ-centered communities. I still remember how my mother taught me the basic prayers and the rosary. She also encouraged me as an altar server to love the Eucharist. In Indonesia, it is a practice in many parishes for priests to receive their daily meals from the people, and many women are doing their best to provide for the priests. Some religious sisters and lay women have contributed to my philosophical and theological formation, and they were great professors. Over and above these, many women have generously supported the Church and her Evangelization mission, through their resources, time, effort and prayer. From the depth of our hearts, we thank them.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The God of Transfiguration

Second Sunday of Lent (Year A). March 12, 2017 [Matthew 17:1-9]

“They were coming down from the mountain… (Mat 17:9)”

transfiguration-jesusmafa-438In the Bible, the mountain is the place where God meets His people. On Mount Horeb, Moses saw the burning bush and received his calling to lead Israel out of Egypt’s slavery (see Exo 3). On Mount Sinai, after the liberation of the Hebrews, Moses met the Lord and received the Law in the Mount Sinai (see Exo 19). Again on Mount Horeb, Elijah discovered the gentle presence of God (1 Kings 19:11-15).

Psalmists also considered the mountain as the Lord’s dwelling place (like Psa 3:5; 24:3). In fact, one of the titles of the Lord is El Shaddai, and one of its probable meaning is: the Lord, the strong mountain (Gen 17:1).

In today’s Gospel, Jesus led the three disciples up to the high mountain. There, he was transfigured. His face was shining like a sun and his cloth turned to be white as light. Then two great figures of Old Testament, Moses and Elijah appeared and conversed with Jesus. Finally, the bright cloud covered them and a voice was heard, “This is my beloved Son, with whom I am well pleased; listen to him.” The disciples were so terrified and overwhelmed. Turning back to the ordinary form, Jesus touched them and assured them, “Rise and do not be afraid.” Then they went down from the mountain and continued their journey to Jerusalem.

The Old Testament motif takes place once again in the New Testament, but looking closely, there are several striking differences. Firstly, people climb the Mountain to see God, but when the disciples were there, they saw Jesus transfigured instead. The episode becomes an early sign of Jesus’ divinity in the New Testament. Secondly, Moses and Elijah were representing the best of Old Testament: the Law and the Prophet. Yet, Moses and Elijah were also the very characters that encountered God on the mountain. They reappeared in the transfiguration because they wanted to tell us that Jesus was the God they had encountered in the mountains. Thirdly, Jesus did not stay forever on the mountain, but He went down and continued His life among His disciples and other Israelites. This is a life-changing revelation: our God does not stay and sit nicely on the high mountain, but He goes down and is staying with us, in our ordinariness of life.

Sometimes we are expecting to encounter the glorious God only on the high mountain. For some feel God in the charismatic worship meetings. Others encounter God in the great retreats and long recollections. Nothing’s wrong with these noble devotions and religious practices. Yet, the danger is that we begin to dichotomize the religious life that is limited to the church or rituals and our daily lives outside the church. We must not forget the point of transfiguration that our God is also dwelling among us. Jesus is with us in our family and our efforts in raising our children. The Lord is present in our workplaces as we toil for our daily bread. He embraces us in the moment of trials and pains. He is never far, and we are never alone. And He is our God.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP