Krisis Kebapaan

Hari Minggu ke-31 Masa Biasa [A]
5 November 2023
Matius 23:1-12

Salah satu krisis terbesar di zaman ini adalah krisis kebapaan. Di berbagai masyarakat, banyak anak yang hidup dan tumbuh tanpa figure ayah. Banyak survei dan penelitian menunjukkan bahwa kenyataan ini terutama melanda negara-negara barat. Namun, virus ini juga merambah ke negara-negara lain yang memiliki budaya keluarga yang kuat, termasuk Indonesia. Absennya seorang ayah dalam keluarga sangat mempengaruhi perilaku dan tumbuh anak-anak. Mereka yang tidak memiliki ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang memiliki berbagai masalah mental dan bermasalah dengan masyarakat. Dalam Injil, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyebut seorangpun sebagai bapa di muka bumi ini…” (Matius 23:9). Dalam konteks kita, perkataan Yesus ini sangat menarik. Mengapa Yesus tidak mengizinkan kita memanggil siapa pun sebagai ‘bapa’, sementara masyarakat kita sangat membutuhkan figur bapa?

Sebelum kita mendalami perkataan Yesus, kita akan memahami terlebih dahulu pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga. Ayah memiliki banyak peran yang sangat penting dan tak tergantikan, namun jika kita harus meringkasnya, ada dua tugas yang paling mendasar. Alkitab berbicara tentang dua karakter ini dalam kitab Kejadian, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk melayani (עבד) dan menjaga (שׁמר) taman itu. (Kej 2:15)” Dari ayat ini, Tuhan menugaskan Adam dengan dua tanggung jawab penting: melayani dan menjaga taman. Karena taman adalah tempat tinggal Adam dan Hawa, maka taman melambangkan rumah dan keluarga Adam. Seperti Adam, setiap pria yang menjadi seorang ayah menerima dua tugas penting ini.

Melayani (עבד – baca: abad) dapat dipahami sebagai menyediakan hal-hal yang diperlukan agar keluarga dapat berfungsi dengan baik dan bahkan berkembang. Seorang ayah tidak cukup hanya menyediakan kebutuhan material bagi anak-anaknya, tetapi juga kebutuhan emosional dan yang terpenting, kebutuhan spiritual. Banyak pria yang bekerja keras untuk keluarga mereka, tetapi ketika mereka pulang ke rumah, mereka menghabiskan waktu mereka dengan diri mereka sendiri daripada dengan anak-anak. Banyak pria yang memang menjadi pemberi nafkah yang baik, tetapi cenderung mengabaikan pertumbuhan iman anak-anak mereka. Banyak pria bahkan memiliki kesalahpahaman bahwa kebutuhan emosional dan spiritual hanyalah tugas wanita. Namun, cara mengasihi wanita dan pria itu berbeda, dan anak-anak membutuhkan keduanya untuk bertumbuh dengan sehat. Melayani berarti juga mengajarkan nilai-nilai dan moralitas yang benar, dan seringkali, hal ini paling baik diajarkan melalui teladan, bukan hanya dengan kata-kata.

Menjaga (שׁמר – baca: shamar) berarti melindungi dari bahaya, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam, baik secara fisik maupun spiritual. Seringkali, mudah untuk melindungi keluarga dari kekuatan eksternal dan yang terlihat karena kita dapat dengan mudah melihat ancamannya. Namun, melindungi dari musuh yang tidak terlihat jauh lebih sulit. Bahaya yang tidak terlihat dapat datang dalam bentuk ide-ide yang salah atau ajaran moral yang tidak benar. Para ayah membutuhkan kebenaran dan kejelasan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Para ayah juga membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan ketika mereka memberikan koreksi dan disiplin. Anak-anak yang tidak menerima disiplin cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lemah dan ragu-ragu, sementara anak-anak yang dibesarkan dalam kekerasan cenderung menjadi pria dan wanita yang suka memberontak.

Ketika Yesus berkata, “Janganlah kamu memanggil siapa pun di bumi ini sebagai bapa, kecuali Bapa yang di sorga…” Yesus tidak melarang semua pria untuk dipanggil sebagai bapa. Sebaliknya, Yesus mengingatkan kita bahwa semua pria tidak secara otomatis menjadi seorang bapa ketika mereka memiliki anak (baik secara fisik maupun sakramental). Kecuali mereka mengikuti teladan Bapa Surgawi, mereka tidak pantas menyandang gelar ‘bapa’. Melayani dan menjaga adalah dua hal yang harus dilakukan oleh setiap bapa, dan kita memiliki Bapa di surga sebagai inspirasi dan teladan kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih Sejati dan Bagaimana Kita Mengetahuinya

Minggu ke-30 dalam Masa Biasa [A]

29 Oktober 2023

Matius 22:34-40

Cinta (atau Kasih) adalah salah satu kata yang paling sering digunakan, tetapi juga paling sering disalahpahami, bahkan disalahgunakan. Beberapa orang menggunakan kata ini untuk memanipulasi orang lain dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Beberapa orang dapat dengan mudah mengatakan “apakah kamu tidak mencintaiku lagi?” untuk mempertahankan pasangannya dalam relasi yang toxic dan penuh kekerasan.  Beberapa orang lainnya akan dengan mudah mengatakan, ‘ini karena kami saling mencintai,’ untuk membenarkan perilaku dosa mereka. Demi ‘cinta’ pada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok atau etnis lain. Demi ‘cinta’ kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri mereka sendiri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak. Namun, ini bukanlah cinta yang sejati, dan tentunya, bukan itu yang Yesus maksudkan ketika Dia mengajarkan perintah kasih. Jadi, apa yang Yesus maksudkan dengan kasih yang sejati?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu Injil kita hari ini.  Untuk memahaminya, kita memerlukan sedikit konteks. Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perintah terbesar dalam Hukum Taurat, mereka mengharapkan Yesus memilih satu dari berbagai peraturan dan perintah dalam Hukum Musa. Tradisi Yahudi menghitung ada 613 perintah dalam Hukum Musa. Dari sekian banyak kemungkinan jawaban, Yesus memilih, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Bagi banyak dari kita, jawaban Yesus ini tampaknya revolusioner, dan bahkan meninggalkan hukum Musa. Kita sering berpikir bahwa Perjanjian Lama adalah tentang Sepuluh Perintah Allah, sedangkan Perjanjian Baru adalah tentang Hukum Kasih. Namun, ini jauh dari kebenaran.

Jawaban Yesus sejatinya diambil langsung dari inti dari Perjanjian Lama. Jawaban-Nya berasal dari Ulangan 6:4-6. Dalam tradisi Yahudi, ayat-ayat ini disebut ‘Shema’. Ayat-ayat ini sangat sakral bagi orang Israel, dan mereka akan mengucapkannya beberapa kali dalam sehari sebagai doa dasar mereka. Kita mungkin bisa menyamakan ‘Shema’ ini dengan doa Bapa Kami. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga menambahkan perintah terbesar kedua, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Sekali lagi, ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Imamat 19:18).

Hal yang revolusioner dari jawaban Yesus bukanlah mengenai sumber dari pernyataan-Nya, tetapi orientasi yang sebenarnya dari semua perintah dalam Hukum Musa. Kita melakukan segala sesuatu karena kasih kita kepada Allah. Pada saat yang sama, perintah Yesus yang paling utama ini juga menjelaskan dan memberikan orientasi yang tepat tentang bagaimana kita mengasihi orang lain. Kasih kepada sesama adalah manifestasi esensial dari kasih kepada Allah dan ini dilakukan demi kasih kepada Allah (lihat KGK 1822). Cara sederhana untuk mengetahui bahwa cinta kita bagi sesama adalah cinta sejati adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah tindakan saya berkenan kepada Allah?” Jika jawabannya tidak, tentu saja tindakan kita bukanlah sebuah kasih yang sejati.

Oleh karena itu, kita tidak dapat menggunakan kata ‘cinta’ sebagai pembenaran atas perilaku dan gaya hidup berdosa kita. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang, tetapi pada kenyataannya, kita justru menjauhkannya dari Tuhan. Juga, menyakiti orang lain, apalagi yang tidak bersalah, atas nama kasih kepada Tuhan juga merupakan tindakan yang salah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi milik Allah

Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [A]

22 Oktober 2023

Matius 22:15-21

“Karena itu, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah (Mat. 22:21).” Banyak orang memahami perkataan Yesus ini sebagai persetujuan-Nya untuk membayar pajak dan, dengan demikian, untuk mendukung dan menghormati para pemimpin pemerintahan yang telah terpilih secara adil. Meskipun banyak dari kita yang tidak nyaman mengetahui bahwa uang hasil jerih payah kita diambil, kita dapat menghibur diri kita dengan mengetahui bahwa uang kita digunakan untuk mendanai berbagai proyek pemerintah untuk kesejahteraan rakyat. Memang, tidak ada yang salah dengan melihat pernyataan Yesus dalam sudut pandang ini, namun kita tidak boleh mengabaikan bagian kedua dari perkataan Yesus.

Yesus juga berkata bahwa kita harus memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah. Apakah ini berarti kita harus membayar ‘pajak’ kepada Tuhan seperti halnya kita membayar pajak kepada negara? Jawabannya adalah ya! Kita harus ingat bahwa kita bukan hanya warga dari kerajaan atau bangsa-bangsa di dunia ini, tetapi juga warga negara Kerajaan Allah. Untuk menjadi warga negara yang baik, kita harus berkontribusi pada pembangunan negara. Biasanya, kita melakukan ini dengan membayar pajak, tetapi kita juga diharapkan untuk menaati hukum negara dan terlibat dalam berbagai praktik bernegara yang baik. Demikian pula halnya dengan warga negara yang baik dari Kerajaan Allah. Kita juga berkontribusi kepada Kerajaan Allah dengan menaati hukum-hukum Kerajaan dan mempersembahkan apa yang menjadi milik Allah. Lalu pertanyaannya adalah, “Apa yang menjadi milik Allah yang harus kita berikan kepada Allah?” Apakah “mata uang” Kerajaan Allah? Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke Injil hari ini.

Ketika Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi yang berusaha menjebak-Nya, Dia mengambil sebuah koin Romawi. Dia menunjukkannya kepada orang-orang di sekeliling-Nya dan bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah yang ada di sana?” Mereka menjawab, “Kaisar.” Kemudian, Dia berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar…” Dasar dari kepemilikan adalah adanya “gambar” (dalam bahasa Yunani, εἰκών – eikon). Koin tersebut adalah milik Kaisar karena memiliki gambarnya. Dengan demikian, membayar pajak sama saja dengan mengembalikan koin yang sejak awal adalah milik Kaisar dan Kekaisaran Romawi. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga mengajarkan, “berikanlah kepada Allah apa yang menjadi milik Allah.” Dan apa yang menjadi milik Allah? Jawabannya adalah mereka yang memiliki gambar Allah. Kembali ke Kejadian 1:26, kita menemukan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan oleh karena itu, kita adalah milik Allah. Satu-satunya “mata uang” Kerajaan Allah adalah jiwa kita, hidup kita.

Namun, kita juga harus ingat bahwa kewajiban kita kepada Tuhan melebihi kewajiban kita kepada manusia. Jika kita tidak membayar pajak dan tidak mematuhi hukum negara, kita mungkin akan mendapat masalah dengan pemerintah. Namun, jika kita tidak memberikan apa yang menjadi milik Allah, kita dapat kehilangan jiwa kita selamanya. Yang pertama berkaitan dengan kelangsungan hidup kita di dunia ini, sedangkan yang kedua berkaitan dengan keselamatan kekal.

Apakah kita menjalani hidup kita sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah dengan menghindari gaya hidup yang berdosa? Apakah kita mempersembahkan pekerjaan kita sehari-hari, usaha kita sehari-hari untuk kemuliaan Allah? Apakah kita menyatukan secara rohani tubuh kita dengan Tubuh Kristus di dalam Ekaristi untuk menjadi persembahan yang paling layak? 

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rahasia Kebahagian

Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [A]
15 Oktober 2023
Matius 22:1-14
Filipi 4:12-14, 19-20

Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Filipi dengan membagikan salah satu rahasia terbesarnya, “sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan…. Aku telah belajar rahasia menghadapi kelimpahan dan kelaparan, kelimpahan dan kekurangan. (Flp. 4:11-12).” Paulus membagikan rahasia menghadapi segala situasi dalam hidupnya, dan rahasia ini membawanya pada kebahagiaan. Lalu, apa rahasia kebahagiaannya?

Seringkali, kita percaya bahwa kebahagiaan berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita bahagia ketika kita mendapatkan banyak uang atau harta benda. Kita akan sangat senang jika mendapatkan smartphone terbaru atau bisa membeli mobil baru. Kita gembira ketika kita berhasil dalam pekerjaan, bisnis, atau relasi kita. Kita yang aktif terlibat di Gereja merasa senang ketika kita mengetahui bahwa pelayanan dan kerasulan kita menghasilkan buah. Namun, ini berbeda dengan apa yang dimaksud Santo Paulus dengan kebahagiaan. Kata yang ia gunakan adalah ‘αὐτάρκης’ (autarkes), dan kata ini berarti ‘puas, cukup’. Sukacita bukanlah memiliki semua yang kita inginkan, tetapi merasa puas dan cukup dengan apa yang kita miliki.

Terlebih lagi, sang rasul menulis, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan (Flp. 4:12).” Ia mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya tahu bagaimana bertahan dan bertekun di masa-masa sulit dan cobaan, tetapi juga bagaimana menavigasi jalan kita di masa-masa kelimpahan. Pada hari Minggu sebelumnya, saya telah menulis tentang nasihat Santo Paulus di masa penderitaan, tetapi Santo Paulus juga memiliki nasihat untuk kita yang hidup dalam kelimpahan. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal duniawi dan kesuksesan, tetapi hal-hal ini juga dapat membawa kita kepada dua hal yang menghancurkan jiwa kita, yakni keserakahan dan kesombongan.

Keserakahan. Karena harta benda duniawi ini memberi kita kenyamanan dan kesenangan, mereka dapat menjebak kita ke dalam keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal yang bersifat sementara ini. Kita menjadi kecanduan pada kesenangan yang ditimbulkannya dan menginginkan kesenangan yang lebih dan lebih lagi. Kemudian, kita diperbudak karena kita menghalalkan segala cara untuk mencapai hal-hal duniawi ini. Kita menipu, mencuri, dan bahkan memanipulasi orang lain. Paulus sendiri memperingatkan kita, “Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan” (1 Tim. 6:10).

Kesombongan. Kelimpahan dapat menyebabkan sifat buruk lain yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika kita memperoleh banyak hal melalui kerja keras, kita mulai berpikir bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas pencapaian-pencapaian ini. Kita menganggap diri kita hebat dan memandang rendah orang lain. Kita lupa bahwa apa yang kita miliki adalah berkat Tuhan dan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Jadi, apa rahasia Santo Paulus untuk menghadapi dua sifat jahat ini dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan sejati? Dia menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)” Ya, Tuhan menguatkan kita untuk bertekun di masa pencobaan, tetapi kita juga harus “di dalam Kristus” di masa kelimpahan. Apa artinya? Pertama, “berada di dalam Kristus” pada masa kelimpahan berarti kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa kesuksesan dan harta benda kita pada dasarnya adalah berkat Tuhan. Ini adalah obat untuk melawan kesombongan. Kedua, “berada di dalam Kristus” pada masa kelimpahan berarti kita selalu mempertimbangkan apakah tindakan kita akan menyenangkan hati Yesus. Apakah mencuri uang akan menyenangkan hati Yesus? Apakah belanja dan pengeluaran yang berlebihan akan menyenangkan Yesus? Ini adalah obat untuk melawan keserakahan. Singkatnya, jika kita ingin bahagia, hiduplah di dalam Kristus, jalani hidup yang kudus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Janganlah Khawatir

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [A]
8 Oktober 2023
Matius 21:33-43
Filipi 4:6-9

Di akhir suratnya, Santo Paulus memerintahkan jemaat di Filipi untuk tidak khawatir. Nasihatnya tampak menghibur, namun jika kita perhatikan dengan saksama, Santo Paulus tidak hanya memberikan nasihat tetapi sebuah perintah. “Janganlah kamu kuatir! (Fil 4:6)” Namun, apakah mungkin untuk bebas dari kecemasan atau kekhawatiran? Apakah kecemasan itu? Apakah kecemasan memiliki tujuan dalam hidup kita? Dan, apa nasihat Santo Paulus untuk mengatasi kecemasan ini?

Kecemasan adalah respons alami terhadap stres atau ancaman yang dirasakan. Kecemasan memicu reaksi psikologis dan fisiologis. Kekhawatiran menyebabkan keadaan emosi yang kompleks yang ditandai dengan kegelisahan, ketakutan, kegugupan, dan bahkan kemarahan. Secara fisik, kecemasan dapat menyebabkan jantung berdebar, berkeringat dingin, tegang otot, sakit perut, dan banyak lagi. Kecemasan itu sendiri tidak berbahaya dan dapat memiliki tujuan yang baik. Kekhawatiran mendorong kita untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik saat menghadapi situasi yang rumit dan tak terduga. Namun, seringkali kecemasan cenderung berlebihan, melumpuhkan, dan bahkan bisa berujung pada gangguan mental. Kemudian, ketika kesehatan mental kita terganggu karena kecemasan yang berlebihan, maka jalan terbaik adalah berkonsultasi dengan ahlinya seperti psikiater yang kompeten. Namun, ketika tingkat kecemasan masih dalam rentang emosi yang sehat, nasihat Santo Paulus dapat sangat membantu kita untuk meredakan kecemasan. Jadi, apa saja nasihat Santo Paulus untuk kita?

Pertama, Santo Paulus menulis, “Akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang sedap didengar, semua yang manis,… pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8). Singkatnya, Santo Paulus menasihati kita untuk memikirkan hal-hal yang baik, daripada berfokus pada hal-hal yang buruk. Paulus menyadari bahwa faktor penting yang menyebabkan dan mempertahankan kecemasan adalah apa yang kita lihat, nilai dan terus kita pikirankan. Kata Yunani untuk khawatir adalah ‘μεριμνάω’ (- merimnao), dan kata ini mungkin terkait dengan kata Yunani ‘μνήμη’ (mneme), yang berarti memori. Jadi, apa yang kita simpan dalam memori kita akan mempengaruhi kita secara psikologis dan fisik. Hebatnya, fakta kuno ini tidak jauh berbeda dengan data psikiatri modern, yang mengidentifikasi bahwa fungsi kognitif kita memainkan peran penting dalam kecemasan.

Namun, ini bukan hanya tentang ‘berpikir positif’, tetapi juga melihat kehidupan melalui lensa iman. Paulus juga mengatakan bahwa untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan, kita harus menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan dalam doa dan bersyukur (lihat Flp. 4:6). Ya, menghadapi masalah dan kesulitan dapat menyebabkan kecemasan. Namun, dengan membawanya kepada Tuhan dalam doa-doa kita, kita belajar untuk percaya bahwa Tuhan akan menjaga kita.

Yang lebih penting lagi, kita perlu belajar dari Santo Paulus. Ketika menulis surat ini, ia sedang dibelenggu, dianiaya, dan menghadapi kemungkinan eksekusi. Kondisi-kondisi ini merupakan penyebab kecemasan yang berat bagi Paulus. Namun, Paulus tetap bersyukur dan bahkan bersukacita atas kondisinya. Karena ia tahu betul bahwa penderitaannya adalah bagian dari penyelenggaraan Allah dan pada akhirnya akan bermanfaat bagi Gereja (lihat Kol. 1:24; Flp. 1:21). Oleh karena itu, ia tidak berlarut-larut dalam kecemasan berlebihan atau melarikan diri dengan menyangkal imannya. Ia dengan berani menerima situasinya dan mengucap syukur kepada Allah.

Kesimpulannya, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan: pikirkanlah hal-hal yang baik dan percayalah akan pemeliharaan Tuhan atas diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertobatan dan Keselamatan

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

1 Oktober 2023

Matius 21:28-32

Dari konteks Alkitab, kita dapat dengan mudah memahami makna perumpamaan tentang dua putra pemilik kebun anggur. Anak yang awalnya menolak untuk taat kepada ayahnya tetapi akhirnya berubah hati melambangkan orang-orang Yahudi yang berdosa di depan umum, seperti pemungut cukai dan pelacur. Mereka memang orang berdosa, tetapi akhirnya mereka bertobat ketika mereka mendengar khotbah Yohanes dan Yesus. Anak yang pada awalnya mengiyakan ajakan ayahnya, tetapi pada kenyataannya tidak pergi ke kebun anggur, melambangkan para penatua dan pemimpin Israel. Mereka mendengar khotbah Yohanes dan Yesus, tetapi mereka tidak menghiraukan dan bahkan menganiaya mereka.

akira hojo

Namun, perumpamaan ini bukan hanya untuk para penatua dan pemimpin Israel pada zaman Yesus, tetapi juga untuk kita, yang memanggil Yesus sebagai Tuhan, pergi ke Gereja setiap hari Minggu, dan bahkan terlibat dalam banyak pelayanan. Perumpamaan ini sederhana dan mudah dimengerti, tetapi yang dipertaruhkan adalah keselamatan kekal kita. Pesannya jelas: setiap orang harus bertobat dan menaati kehendak Allah. Baik orang yang jauh dari Tuhan maupun mereka yang mengaku dirinya beriman dan religius, semuanya harus berjuang untuk menjadi kudus.

Kita mungkin bertanya, “Apakah tidak cukup hanya dibaptis secara Katolik?” Apakah tidak cukup baik untuk menghadiri misa setiap hari Minggu? Apakah pelayanan-pelayanan kita memiliki arti di hadapan Allah? Tentu saja, semua itu penting dalam kehidupan Kristiani kita dan juga melakukan kehendak Allah. Namun, orang-orang Farisi dan para tua-tua Yahudi pada masa Yesus melakukan hal yang kurang lebih sama. Mereka disunat saat masih bayi (seperti pembaptisan) dan belajar membaca Taurat (Kitab Suci orang Yahudi) sejak kecil. Mereka pergi ke sinagoge (tempat doa orang Yahudi) pada hari Sabat dan juga mempersembahkan kurban ketika mereka berada di Yerusalem. Mereka mungkin juga terlibat dalam banyak kegiatan keagamaan di komunitas mereka. Apa yang kita lakukan tidak jauh berbeda dengan orang-orang Farisi! Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Dari perumpamaan ini, kita mengerti bahwa elemen kuncinya adalah melakukan kehendak Bapa dan kehendak-Nya yaitu berbalik dari dosa (atau pertobatan) dan berbalik kepada Allah (atau kekudusan). Ya, kita dibaptis secara Katolik, tetapi apakah kita yakin bahwa iman Katolik adalah iman yang menyelamatkan, dan kita siap untuk membagikannya? Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu, tetapi apakah kita menyembah Allah yang benar atau pergi ke Gereja untuk mencari kenyamanan dan keuntungan pribadi? Ya, kita aktif dalam banyak komunitas dan pelayanan, tetapi apa gunanya jika kita menjadi sombong dan angkuh terhadap orang lain yang tidak dapat melayani seperti kita? Ya, kita menyebut diri kita sebagai pengikut Kristus, tetapi mungkin diam-diam kita tidak mau melepaskan perilaku dosa kita.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Pertama, dalam tradisi Katolik, kita memiliki pemeriksaan batin harian, dan ketika dilakukan dengan benar, hal ini membantu kita untuk menyadari tindakan-tindakan kita dan motif di belakangnya. Kedua, bacaan rohani memperkaya jiwa kita. Kita dapat memilih dari Alkitab, kisah dan tulisan dari orang-orang kudus, atau Katekismus Gereja Katolik. Ketiga, kita mengaku dosa secara teratur. Kita tidak boleh membiarkan dosa-dosa menumpuk di dalam hati kita dan lambat laun menumpulkan hati nurani kita. Sakramen pengakuan dosa memberikan pengampunan dan mempertajam perasaan kita akan apa yang berkenan kepada Allah dan apa yang tidak. Tentu saja, ada hal-hal lain yang dapat kita lakukan, tetapi pada dasarnya, jika kita tidak sungguh-sungguh bertobat dari dalam hati kita, kita dapat kehilangan keselamatan kekal kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup adalah Kristus

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [A]
24 September 2023
Matius 20:1-16a
Filipi 1:20c-24, 27a

Hari ini, Santo Paulus menulis kalimat sangat menarik, “Aku rindu meninggalkan dunia ini dan bersama dengan Kristus, karena itulah yang jauh lebih baik [Flp. 1:23].” Apakah St. Paulus ini ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri? Atau ada hal lain yang sebenarnya terjadi?

Kita harus memahami konteks surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi untuk menjawab pertanyaan ini. Surat kepada jemaat di Filipi adalah salah satu surat Paulus dari penjara [termasuk surat ke jemaat di Efesus dan Kolose]. Jika kita mengingat kembali kehidupan rasul besar ini, kita tahu bahwa Paulus dianiaya dan ditangkap oleh orang-orang Yahudi yang menentang pemberitaan Injil Yesus Kristus. Saat menghadapi pengadilannya, Paulus kemudian menggunakan hak istimewanya sebagai warga negara Romawi untuk mengajukan banding kepada Kaisar. Dengan demikian, dia dibawa ke Roma, ibu kota kekaisaran. Sementara dia menunggu Kaisar mendengar bandingnya, dia menjadi tahanan rumah, dan bahkan dirantai. Namun, ia diizinkan untuk terus mewartakan Injil dan mengirim surat ke berbagai komunitas. Salah satu suratnya adalah kepada jemaat di Filipi [lihat Flp. 1:14]. Dalam masa penantian ini, Paulus bisa saja dinyatakan tidak bersalah, tetapi ada kemungkinan besar Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Dari konteks ini, kita memahami bahwa Paulus tidak sedang berpikir bagaimana mengakhiri hidupnya, melainkan tentang kematiannya sebagai martir. Sementara bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup kita sendiri, menjadi martir adalah kematian yang disebabkan oleh kebencian terhadap iman. Namun, yang menarik adalah bagaimana Paulus bereaksi terhadap kematian sebagai martir. Ia tidak takut, tidak cemas berlebihan, dan bahkan tidak mengalami depresi. Sebaliknya, ia menunjukan diri penuh dengan sukacita. Bahkan, jika kita membaca surat kepada jemaat di Filipi, kita akan segera merasakan bahwa suasana umum dari surat ini adalah sukacita. Paulus menulis, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, aku berkata, Bersukacitalah (Flp. 4:4)! Hal ini sangat membingungkan. Bagaimana Paulus dapat bersukacita ketika ia dianiaya dan menghadapi kematian yang sudah dekat?

Jawabannya adalah karena Paulus telah melihat nilai sejati dari Yesus Kristus. Paulus menulis, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus [Flp. 3:8].” Paulus mengerti betapa berharganya Kristus, dan karena kebijaksanaan ini, Paulus memiliki hirarki prioritas yang benar dalam hidupnya. Segala sesuatu, termasuk kehidupan itu sendiri, haruslah di dalam Kristus dan untuk Kristus. Dengan demikian, Paulus, yang telah memberikan segalanya untuk Kristus dan hidup di dalam Kristus, bersukacita dalam menghadapi kematian karena ia tahu bahwa ia akhirnya dapat bersatu dengan Kristus.

Paulus memberi kita sebuah kiat berharga untuk keselamatan: kenali Kristus, dan betapa pentingnya Dia bagi kita. Kita perlu menetapkan prioritas kita dengan benar. Kristus dahulu, dan yang lain akan jatuh pada tempatnya. Ya, kekayaan materi memang penting, makanan dan tempat tinggal sangat penting, dan pendidikan juga penting, tetapi semua itu adalah sarana untuk hidup di dalam Kristus dan untuk Kristus. Kita mungkin kehilangan uang atau harta benda, dan itu tidak masalah, tetapi jika kita kehilangan Kristus, kita akan kehilangan keselamatan dan sukacita kekal. Saat kita kehilangan Kristus, segala kesuksesan di dunia ini akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, bersukacitalah karena bagi kita, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Koreksi Persaudaraan: Karya Amal yang terbesar

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [A]

10 September 2023

Matius 18:15-20

Mengoreksi saudara-saudari kita yang tidak hidup sesuai dengan Hukum Allah adalah sebuah tindakan kerahiman dan kasih. Dalam tradisi Katolik, koreksi persaudaraan [latin: Correctio fraterna] merupakan hal yang esensial dalam tujuh karya belas kasih rohani. Mengapa mengoreksi sesama dianggap sebagai tindakan belas kasih? Mengapa hal ini justru sulit untuk dilakukan? Di sini, saya membagikan refleksi saya tentang mengapa correctio fraterna itu penting, tetapi pada saat yang sama juga sangat sulit, serta beberapa kiat untuk melakukan tindakan belas kasih ini.

Mengoreksi saudara-saudari kita adalah sebuah karya belas kasih dan cinta karena kita ingin agar jiwa-jiwa mereka diselamatkan dari api neraka dan menikmati hidup kekal bersama Allah. Dengan demikian, bersama dengan evangelisasi, yaitu membawa orang-orang untuk mengenal dan mendekat kepada Kristus, correctio fraterna dianggap sebagai karya amal yang paling baik. Karena kita mengasihi mereka, kita bersedih ketika saudara dan saudari kita tersesat dari jalan Tuhan. Dengan demikian, kita menunjukkan kasih kita dan mengingatkan mereka untuk kembali kepada Tuhan.

Namun, meskipun mengoreksi saudara-saudari kita adalah sesuatu yang mulia dan penuh belas kasihan, itu adalah salah satu hal yang paling menantang untuk dilakukan. Ada beberapa alasan. Pertama, ketidaktahuan. Kita tidak mengetahui ajaran dasar tentang moralitas. Karena kita tidak tahu, kita dapat mengoreksi orang lain. Ini adalah masalah besar karena banyak dari kita yang belum memiliki pengetahuan yang lengkap tentang Hukum-hukum Allah. Namun, ini juga merupakan masalah yang paling mudah dipecahkan karena pengajaran dan katekese yang tepat akan sangat membantu kita.

 Kedua, rasa takut. Kasih kita tidak cukup kuat, dan rasa takut mendominasi kita. Kita takut menghadapi saudara-saudara kita karena kita tidak mau mengusik ‘ketenangan’ mereka. Kadang-kadang, kita takut bahwa kita akan merusak hubungan persahabatan kita. Kita tidak suka memiliki ‘musuh’. Oleh karena itu, kita membiarkan kesalahan mereka dengan tetap diam. Nah, ini berbahaya karena tidak hanya saudara kita yang akan kehilangan jiwa mereka, tetapi kita juga akan membahayakan keselamatan kita karena sekarang kita menjadi ‘rekan’ mereka. Hal ini sering disebut sebagai tindakan dosa karena kelalaian.

Ketiga, relativisme. Virus relativisme adalah wabah yang tak kentara namun sangat berbahaya bagi Gereja. Orang Kristen percaya pada satu Allah dan satu hukum moral yang berasal dari-Nya, tetapi relativisme mengatakan sebaliknya: tidak ada kebenaran absolut atau standar moral yang universal. Seorang relativis akan berkata, “Tindakan itu mungkin salah menurut standar saya, tetapi mungkin benar menurut standarnya.’ Dengan demikian, kita menolak untuk mengoreksi perilaku berdosa orang lain karena kita ‘menghormati’ sudut pandang mereka. Hal ini bahkan lebih berbahaya karena hal ini merusak pemahaman kita yang benar tentang agama kita dan membingungkan banyak orang lain.

Berikut adalah beberapa tips untuk correctio fraterna. Pertama, kita harus memiliki pengetahuan dasar yang kuat tentang moralitas Katolik. Jika kita ragu, kita dapat membaca katekismus Gereja Katolik atau berkonsultasi dengan para imam yang baik dan cakap di sekitar kita. Kita harus ingat bahwa correctio fraterna terutama berhubungan dengan perilaku-perilaku berdosa dan doktrin-doktrin yang salah. Kedua, kita dapat memulai dengan diri kita sendiri. Jika kita melihat orang yang kita kasihi perlu kita koreksi, kita perlu bertanya apakah saya juga perlu menerima koreksi yang sama. Ketiga, kita melakukannya dengan lemah lembut dan sabar. Seperti yang Yesus katakan, kita melakukannya secara pribadi terlebih dahulu agar tidak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak tergoda untuk menjadi sombong. Keempat, jika koreksi kita menghadapi resistansi yang kuat, kita perlu membaca Yehezkiel 33:7-9 (bacaan pertama). Meskipun melihat orang yang kita kasihi jauh dari Allah membuat kita frustrasi, kita juga harus percaya pada pemeliharaan Allah. Rencana-Nya baik dan akan berbuah pada waktunya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kurban yang Sempurna

Minggu ke-22 dalam Masa Biasa

3 September 2023

Roma 12:1-2

Matius 16:21-27

Setiap penyembahan yang benar dalam Alkitab datang dalam bentuk persembahan korban. Apakah yang dimaksud dengan korban? Pengorbanan terjadi ketika kita mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Allah, dan dalam masyarakat kuno, ternak dianggap sebagai harta yang berharga yang bisa dikurbankan. Habel mempersembahkan anak-anak sulung dari kawanan ternaknya [lihat Kej. 4:4]. Di kaki Gunung Sinai, Musa menyembelih lembu-lembu sebagai persembahan kepada Tuhan saat perjanjian antara Tuhan dan bangsa Israel ditetapkan [Lihat Kel. 24:4-5]. Namun, terkadang, pengorbanan yang tidak berdarah juga dipersembahkan. Melkisedek membawa roti dan anggur sebagai persembahan [lihat Kej. 14:18]. Bahkan, seluruh kitab Imamat mengatur ibadah kurban bangsa Israel.

Jika Ekaristi adalah ibadah kita, lalu apa yang kita persembahkan sebagai kurban di dalam Ekaristi? Tentu saja, bukan binatang atau benda-benda duniawi. Kurban kita dalam Ekaristi adalah Yesus [lihat 1 Kor 5:7]. Karena Yesus adalah ilahi dan tidak berdosa, Dia menjadi korban yang sempurna, dan akibatnya, Ekaristi adalah penyembahan yang sempurna. 

Namun, jika kita melihat bagian dari Ekaristi dengan seksama, kita akan menemukan kalimat yang diucapkan oleh imam, “berdoalah saudara-saudara, agar kurban yang kupersembahkan dan yang persembahkanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang mahakuasa.”  Hal ini menarik karena kalimat ini memberi tahu kita bahwa umat beriman yang menghadiri Ekaristi memiliki persembahan yang berbeda dengan persembahan imam. Jika kurban yang dipersembahkan oleh imam adalah Tubuh dan Darah Kristus, lalu apakah kurban umat?

Paulus membantu kita menjawab pertanyaan ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ia menulis, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati [Rm 12:1; bacaan kedua].” Persembahan kita adalah tubuh kita, hidup kita. Dan, kita mempersembahkan hidup kita dalam Ekaristi dan yang kita satukan dengan kurban Yesus Kristus, ini menjadi ibadah rohani kita.

Namun, Paulus juga menasihati agar kita tidak mempersembahkan sembarangan tubuh, tetapi tubuh yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian, adalah tugas kita untuk menjaga hidup kita dari dosa dan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa cukup percaya kepada Kristus, tetapi kita tidak menaati hukum-hukum-Nya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pergi ke Gereja setiap hari Minggu saja sudah cukup, tetapi kita melakukan kejahatan di hari-hari lainnya. Setiap hari adalah kesempatan untuk membuat hidup kita berkenan kepada Tuhan.

Terakhir, kita juga perlu mengingat bahwa penderitaan juga merupakan bagian dari hidup kita. Dengan demikian, jika kita menanggung penderitaan yang tak terhindarkan dengan kesabaran, hal ini juga dapat menjadi bagian dari persembahan hidup kita yang berkenan kepada Tuhan. Di dalam Ekaristi, hidup dan penderitaan kita dipersembahkan sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah, dan karena itu berkenan kepada Allah, hidup kita berubah menjadi berkat. Sekarang, kita tahu mengapa Allah mengizinkan penderitaan dalam hidup kita. Inilah sebabnya mengapa Yesus menegur Petrus dengan keras karena menghalangi Dia untuk memikul salib dan mati. Di dalam Kristus, pada akhirnya penderitaan bahkan dapat menjadi berkat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Seorang Wanita, dan Anjing

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa [A]
20 Agustus 2023
Matius 15:21-28

Injil hari ini sungguh mencengangkan. Bagaimana mungkin Yesus bertindak begitu keras terhadap seorang perempuan yang sedang kesusahan? Mengapa Yesus harus menyebutnya ‘anjing’? Di manakah belas kasihan Yesus?

Konteks sejarah mungkin dapat membantu kita. Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan menuju daerah Tirus dan Sidon. Kedua kota kuno ini berada di luar wilayah Israel di sebelah utara (saat ini di Lebanon). Tujuan utama dari kedatangan Yesus ke daerah ini adalah untuk beristirahat. Pelayanan yang terus menerus di Palestina menguras tenaga, dan mereka membutuhkan istirahat. Jadi, kita dapat membayangkan Yesus dan para pengikut-Nya kelelahan setelah melakukan berbagai pelayanan dan perjalanan yang panjang, tetapi tiba-tiba, seorang wanita Kanaan datang dan mengusik ketenangan mereka.

Reaksi yang umum dilakukan adalah meminta wanita itu untuk pergi, dan inilah yang disarankan oleh para murid kepada Yesus. Namun, Yesus tidak mengusir perempuan itu dan tidak mengabaikannya, melainkan memulai sebuah dialog. Kita menyadari bahwa Yesus memiliki rencana khusus untuk wanita ini. Namun, apakah tujuan-Nya bagi perempuan itu?

Pertama, Yesus mengatakan kepada perempuan itu bahwa Dia datang untuk domba-domba yang hilang dari suku Israel, yang berarti prioritas-Nya adalah bagi bangsa Israel dan bukan orang non-Yahudi. Namun, wanita itu menolak untuk menyerah dan bahkan berlutut di hadapan Yesus. Menariknya, kata Yunani yang digunakan adalah ‘προσκυνέω’ (proskuneo), dan kata ini dapat diterjemahkan sebagai ‘menyembah’. Meskipun ada penolakan, perempuan itu tetap berjuang dan bahkan menyembah Yesus. Melihat reaksi perempuan itu, Yesus pun berkata dengan kata-kata yang lebih keras, “Tidaklah patut mengambil roti anak-anak dan melemparkannya kepada anjing-anjing (Mat. 15:26).” Sekali lagi, perempuan itu menolak untuk menyerah. Di luar dugaan, ia tidak marah atau merasa terhina. Sebaliknya, ia berkata, “Benar, Tuhan, bahkan anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya (Mat. 15:27).” Karena kasihnya yang besar kepada putrinya dan iman kepada Yesus, ia tidak keberatan disamakan dengan ‘anjing’ dan bahkan merasa puas dengan apa yang tersisa. Mendengar jawaban perempuan itu, Yesus menyatakan bahwa ia memiliki iman yang besar dan akan menerima permintaannya.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang mengganjal. Apakah benar-benar sebuah penghinaan untuk menyebut wanita itu ‘anjing’? Menarik untuk diperhatikan bahwa kata Yunani yang digunakan adalah ‘κυνάριον’ (kunarion), dan itu bukan sembarang anjing, tetapi seekor anjing kecil yang biasa dipelihara di dalam rumah. Ya, ini adalah seekor anjing, tetapi ia adalah bagian dari keluarga dan sering kali disayangi. Meskipun benar bahwa orang-orang bukan Yahudi belum menjadi prioritas Yesus, namun mereka sangat dekat dengan hati-Nya. Sekarang, dengan menyadari hal ini, ‘kunarion’ dapat menjadi sebuah penghinaan atau sebuah istilah yang menunjukkan kasih sayang. Untungnya, wanita itu memutuskan untuk melihat istilah ini bukan sebagai penghinaan tetapi sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Yesus.

Kita tahu sekarang bahwa Yesus menjadikan perempuan itu sebagai model iman dalam menghadapi cobaan dan kesulitan. Melalui perempuan itu, Yesus menunjukkan bahwa diamnya Allah terhadap permintaan kita sebenarnya adalah rencana Allah bagi kita. Tanpa ujian iman, kita tidak akan bertumbuh dalam relasi kita dengan Allah. Ujian iman adalah bagian dari pendidikan Allah. Inilah cara Dia melatih orang-orang yang dikasihi-Nya. Dia menguji Abraham, menantang Musa, dan mengizinkan Daud menanggung penganiayaan. Adalah suatu kehormatan bagi kita untuk diuji oleh Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP