Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]
26 Maret 2023
Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penyembuhan Orang Buta dan Pembaptisan

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [A]
19 Maret 2023
Yohanes 9:1-41

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes. Secara naluriah, Gereja melihat ketujuh mukjizat ini sebagai simbol dari tujuh sakramen. Lalu, kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir ini yang kita dengarkan Minggu ini berhubungan dengan sakramen apa? Jawabannya adalah sakramen Pembaptisan. Dan, karena tema dasar dari masa Prapaskah adalah pembaptisan, Gereja pun tidak ragu-ragu untuk menempatkan bacaan ini pada masa suci ini. Namun, benarkah mukjizat ini berhubungan dengan pembaptisan? Dan bagaimana kita sungguh tahu?

Kisah ini dimulai dengan Yesus dan para murid yang melihat seorang yang menderita kebutaaan sejak lahir. Kemudian, murid-murid-Nya mulai bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta (Yoh 9:2)? Murid-murid Yesus percaya bahwa penderitaan yang dialami orang ini adalah akibat dari dosa-dosa pribadinya, atau setidaknya dosa orang-tuanya. Namun, Yesus menunjukkan bahwa baik orang yang buta ini maupun orang tuanya tidak melakukan sebuah dosa yang menyebabkan kebutaan. Meskipun penderitaan dan kematian memang berkaitan dengan dosa, tetapi hubungan tersebut tidaklah sejajar, melainkan sebuah misteri. Orang itu tidak melakukan dosa, tetapi ia menanggung konsekuensi dari dosa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Gereja mengajarkan kondisi ini sebagai dosa asal. Setiap keturunan Adam dan Hawa dilahirkan ke dunia sebagai ‘musuh’ Allah. Sejak dalam kandungan ibu kita, kita adalah ‘orang berdosa’, bukan karena kita melakukan dosa pribadi, tetapi karena kita jauh dari Allah dan tidak memiliki persahabatan rohani dengan-Nya. Oleh karena dosa asal tersebut, kita rentan terhadap berbagai penderitaan dan juga bergumul dengan concupiscentia (lihat juga renungan saya dua minggu yang lalu). Kondisi pria yang buta ini menjadi simbol dari kondisi dosa asal.

Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta ini? Yesus meludah ke tanah dan membuat tanah liat dengan ludah-Nya, lalu mengoleskan tanah liat tersebut ke matanya. Lalu, Dia meminta orang buta itu untuk membasuh dirinya dengan air. Mengapa Yesus melakukan pengobatan yang aneh dan tidak higienis seperti itu? Jawabannya ada di Perjanjian Lama. Yesus melakukan apa yang Allah lakukan di kisah penciptaan manusia. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengunakan tanah. Ada sebuah tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Allah menggunakan air liur-Nya untuk membuat tanah menjadi lebih mudah dibentuk. Yesus melakukan hal yang sama di sini. Dia membawa orang yang buta menjadi sembuh dengan ‘menciptakannya kembali’. Kemudian, kesembuhan menjadi nyata ketika orang itu membasuh dirinya dengan air.

Apa yang terjadi pada orang yang disembuhkan itu, juga terjadi pada setiap orang saat pembaptisan. Apa yang kita lihat di mata kita, adalah seseorang dibasuh dengan air, tetapi secara rohani, Tuhan sedang membentuk kita menjadi ciptaan yang baru. Semua dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi, dibersihkan. Jiwa kita diubah menjadi serupa dengan Kristus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, bukan dalam arti kiasan, tetapi dalam arti yang sesungguhnya.

Terakhir, menjelang akhir cerita, Yesus bertanya kepada orang itu, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Lalu, orang itu menyatakan imannya kepada Yesus dan menyembah Dia. Iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari baptisan. Tidak masalah, jika kita percaya sebelum pembaptisan (seperti dalam kasus baptisan orang dewasa) atau setelah pembaptisan (dalam kasus baptisan bayi). Namun, yang terpenting adalah baptisan hanyalah permulaan, dan iman kita harus terus bertumbuh.

Kita tidak tahu apa yang dilakukan orang tersebut setelah kesembuhan yang diterimanya, tetapi kita dapat percaya bahwa ia menjadi murid Yesus dan mengikuti Dia. Setelah pembaptisan dan iman awal kepada Yesus, Gereja mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kekudusan kita. Kita bertumbuh dalam iman melalui hidup di dalam Kristus, menghindari dosa, melakukan karya amal, dan menerima sakramen-sakramen lainnya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscentia

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [A]
5 Maret 2023`
Matius 17:1-9

Masa Prapaskah ditandai dengan tindakan silih serta latihan rohani yang intensif seperti pantang, puasa dan amal. Salah satu tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kelemahan jiwa atau ‘Concupiscentia’, yaitu kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa karena kodrat kita yang terluka (sering disebut juga sebagai ‘kedagingan’ kita). Namun, mengapa kita masih memiliki kelemahan ini jika kita telah ditebus? Bahkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dengan tegas mengatakan, “… kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:10).” Namun, kenapa kita masih bergulat dengan kedagingan kita?

photocredit: Nicolai Chernichenko

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan misteri iman. Seperti misteri-misteri iman lainnya, realitas penebusan dan juga keberadaan ‘Concupiscentia’ adalah sebuah kenyataan, tetapi alasan di balik realitas tersebut sebagian besar masih tersembunyi karena kebenaran-kebenaran tersebut lebih besar daripada kemampuan akal budi kita. Namun, bukan berarti kita tidak mengerti sama sekali. Melalui para teolog dan orang-orang kudusnya, Gereja telah merefleksikan masalah ini selama dua ribu tahun, dan mengajarkan bahwa ‘Concupiscentia’, yakni cenderungan pada kejahatan, tetap ada dalam diri manusia karena Tuhan memanggil kita ke dalam peperangan rohani (lih. KGK 405).

Kehadiran ‘Concupiscentia’ membuka kesempatan bagi kita untuk menjalankan keutamaan-keutamaan dan bertumbuh dalam kekudusan melalui berbagai latihan rohani. Dengan demikian, meskipun ‘Concupiscentia’ tetap ada setelah pembaptisan, hal ini bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi untuk menjalani hidup yang kudus, dan pada kenyataannya membuat perjalanan kita menjadi lebih bermakna. Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat melawan keinginan-keinginan yang tidak teratur ini dan bertumbuh dalam kekudusan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus bertransfigurasi di atas gunung. Bagi Petrus, Yohanes dan Yakobus, ini adalah pengalaman yang luar biasa yang dipenuhi dengan sukacita. Mereka tidak ingin kehilangan pengalaman yang menggembirakan ini, dan dengan demikian, Petrus mengusulkan untuk membangun tenda agar mereka dapat tinggal lebih lama di atas gunung. Namun, Yesus tidak tinggal lama dalam keadaan ilahi-Nya, tetapi memanggil para murid-Nya untuk turun dan mengikuti-Nya. Ke mana? Setelah transfigurasi, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem di mana penderitaan dan kematian-Nya telah menanti. Yesus sangat memahami, “tidak ada kebangkitan tanpa salib”. ‘Concupiscentia’ adalah salah satu salib kita di dunia ini, dan ini bisa menjadi sarana menuju kekudusan.

Seorang teman baik saya pernah bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ‘Concupiscentia’ tetap ada di dalam jiwa kita? Bukankah akan lebih baik dan lebih mudah bagi kita jika ‘kedagingan’ itu dihilangkan pada saat pembaptisan?” Saya dapat membayangkan bahwa tanpa ‘Concupiscentia’, kita tidak perlu lagi berurusan dengan banyak godaan. Hidup akan jauh lebih mudah dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang tidak lagi melakukan hal-hal jahat karena egoism dan hawa nafsu. Situasi tanpa ‘Concupiscentia’ ini, kurang lebih sama dengan kondisi orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Ini adalah sebuah Firdaus!

Namun, kemudian, saya menyadari bahwa bahkan tanpa adanya ‘Concupiscentia’, orang tua pertama kita tetap saja jatuh dalam dosa. Tidak adanya ‘Concupiscentia’ tidak secara otomatis mencegah kita jatuh ke dalam dosa. Faktanya, pada saat kita berbuat dosa di luar kebebasan total kita dan tanpa pengaruh ‘Concupiscentia’, kita akan jatuh dengan sangat keras, sama seperti Adam dan Hawa. Mungkin untuk mencegah kita mengalami apa yang dialami oleh orang tua pertama kita, Allah mengizinkan ‘Concupiscentia’ untuk tetap ada.

Pada akhirnya, kita masih menghadapi sebuah misteri ini, tetapi kita percaya bahwa kehadiran ‘Concupiscentia’ pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Masa Prapaskah, Adam dan Yesus

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [A]
26 Februari 2023
Matius 4:1-11

Sekarang kita berada di hari Minggu pertama masa Prapaskah. Bagi sebagian dari kita, masa Prapaskah sudah menjadi sebuah rutinitas tahunan. Kita berpantang makan daging atau hal-hal lain yang membuat kita nyaman dan berpuasa setidaknya dua kali dalam setahun (Rabu Abu dan Jumat Agung). Kita juga diminta untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa dan didorong untuk beramal lebih banyak. Warna dan suasana liturgi juga berubah di gereja-gereja kita. Dan di banyak paroki, pengakuan dosa juga tersedia. Beberapa dari kita mungkin tidak benar-benar mengerti mengapa kita harus melakukan hal-hal ini, tetapi karena kita adalah orang Katolik dan orang lain mempraktikkannya, kita juga melakukannya. Beberapa dari kita mungkin menyadari alasan di balik berbagai olah rohani ini karena kita mendengarkan katekese yang diberikan oleh para imam atau katekis awam, atau penjelasan yang diberikan di media sosial. Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk mendidik umat beriman pada masa yang indah ini (lihat juga katekese dan refleksi saya di tahun-tahun sebelumnya). Namun, kita masih bertanya-tanya mengapa kita harus terus melakukan hal-hal ini setiap tahun?

Jawabannya terletak pada kodrat manusia kita yang terluka. Berbicara tentang kodrat manusia, kita harus kembali kepada orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Dalam bacaan pertama Minggu ini, kita menemukan bagaimana Adam diciptakan dari debu tanah dan menerima nafas kehidupan. Tidak hanya itu, Tuhan menempatkan mereka di taman yang dekat dengan Allah sendiri. Hal ini menjadi simbol bahwa mereka hidup dalam keselarasan dengan Tuhan, alam semesta dan diri mereka sendiri. Ini adalah kondisi rahmat yang asli (original state of grace). Namun, terlepas dari semua hak istimewa itu, Adam dan Hawa, yang berasal dari tanah, berani menentang Tuhan semesta alam. Sungguh, dosa mereka layak berbuah kematian. Namun, Tuhan berbelas kasih, mencegah kematian, dan memberikan kesempatan kedua bagi pria dan wanita. Sayangnya, dosa telah melukai jiwa mereka dan menghancurkan persahabatan mereka dengan Tuhan. Kodrat yang terluka sekarang menjadi lemah terhadap godaan dan cenderung melakukan lebih banyak dosa.

Sayangnya, Adam bukan hanya seorang individu yang terisolasi. Ia merupakan kepala umat manusia. Oleh karena itu, Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bacaan kedua Minggu ini), mengungkapkan kebenaran bahwa dampak dari dosa Adam mengalir ke seluruh umat manusia. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).” Ketika kita dikandung, kita menerima kodrat manusia yang terluka. Kita berada dalam kondisi yang jauh dari Allah. Tradisi Katolik kita menyebutnya sebagai ‘dosa asal’.

Namun, kita tidak perlu putus asa. Juga dalam surat yang sama, St. Paulus memberitakan kabar baik bahwa Yesus telah menyelamatkan kita dan membawa kita kembali ke dalam persahabatan dengan Allah, yaitu kondisi rahmat (state of grace). “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi rahmat Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm. 5:15).”

Lalu, pertanyaannya yang tetap ada: “Jika kita sudah ditebus, mengapa kita masih harus melakukan olah rohani yang intensif di masa Prapaskah? Ya, kita telah ditebus, tetapi jiwa kita masih memiliki beberapa kelemahan karena dampak dari dosa asal. Kita masih memiliki kecenderungan dan ketidakteraturan untuk melakukan dosa (para theolog menyebutnya sebagai ‘concupiscentia’ – KGK 405). Oleh karena itu, untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kedagingan, dunia, dan iblis, dan semakin hidup di dalam rahmat, Yesus memberi kita tiga kiat berikut ini: berpuasa, berdoa secara intensif, dan beramal. (Untuk mengetahui mengapa ketiga hal ini harus dilakukan, lihatlah renungan saya tahun lalu).

Namun, ada satu pertanyaan yang tersisa: “Mengapa Allah mengizinkan ‘concupiscentia’ untuk tetap ada di dalam jiwa kita meskipun ada kita sudah ditebus?” Nantikan jawabannya Minggu depan!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi lemah?

Minggu ke-7 dalam Waktu Biasa [A]
19 Februari 2023
Matius 5:38-48

Pada hari Minggu ini, kita akan menemukan salah satu ajaran moral Yesus yang paling kontroversial. Karena ajaran ini, kita, umat Kristiani, sering dituduh sebagai orang yang lemah, bodoh, dan tunduk pada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Namun pada saat yang sama, ketika kita mencoba memperjuangkan keadilan, lawan-lawan kita dengan mudah menggunakan ayat-ayat ini untuk melemahkan kita. Mereka menuduh kita tidak berbelas kasih dan tidak tahu mengampuni. Jadi, bagaimana kita memahami ajaran ini? Apakah ini berarti bahwa seorang istri harus pasrah saja dengan perlakuan kasar suaminya? Apakah itu berarti kita harus menutup mata terhadap kejahatan dan ketidakadilan di sekitar kita?

Yesus membuka pengajaran-Nya dengan mengutip Hukum Taurat Musa, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi (lih. Kel. 21:24).” Bagi telinga orang modern, hukum ini terdengar kejam dan primitif, tetapi tujuan sebenarnya dari hukum ini adalah untuk mencegah pembalasan yang berlebihan. Ketika seseorang mencuri seekor domba, ia harus mengembalikan seekor domba atau hal yang setara. Musuh-musuhnya tidak dapat menuntut seluruh rumahnya sebagai ganti seekor domba. Hukum ini bertujuan untuk menumbukan rasa keadilan, untuk mengekang eskalasi kekerasan yang tidak perlu.

Kemudian, Yesus mengubah hukum Musa ini dengan mengucapkan ajaran baru, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat!” Bagi Yesus, kita harus lebih dari sekadar mencari pembalasan yang setimpal. Namun, apakah itu berarti kita harus menerima semua dengan pasrah dan pasif? Jika kita melihat lebih dalam ke dalam Perjanjian Lama, kita akan menemukan ajaran yang serupa seperti Amsal 24:29, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan berbuat kepadanya seperti yang diperbuatnya kepadaku.” (lihat juga Yes 50:6). Dengan demikian, ajaran Yesus untuk tidak membalas kejahatan bukanlah ajaran yang unik bagi Yesus. Jadi, apakah Yesus benar-benar memperbaharui Hukum Taurat Musa?

Ajaran Yesus yang inovatif bukanlah tentang menerima kejahatan secara pasif, melainkan secara aktif menaklukkan kejahatan dengan kebaikan. Kita dapat memahami hal ini jika kita memperhatikan dengan seksama contoh yang Yesus berikan. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu (Mat 5:40).” Baju (bahasa Yunani: χιτών, chiton) biasanya merupakan kain sederhana yang dipakai untuk menutupi tubuh, sedangkan jubah (bahasa Yunani: ἱμάτιον, himation) merupakan pakaian yang lebih mahal, dan dikenakan di atas baju. Jadi, Yesus mengatakan bahwa jika seseorang meminta pakaian sederhana kita, jangan hanya memberikan pakaian yang biasa saja, tetapi juga pakaian yang lebih berharga. Tindakan ini pasti akan membingungkan banyak orang, tetapi ini juga menunjukkan ketulusan dan upaya kita untuk mengakhiri permusuhan, serta membuka kemungkinan rekonsiliasi dan bahkan persahabatan.

Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya harus mengakui bahwa tidak ada resep tunggal untuk semua orang. Penerapannya tergantung pada konteks dan kebijaksanaan kita. Salah satu contoh kasus yang baik adalah Santo Yohanes Paulus II dan Ali Agca. Pada tanggal 13 Mei 1981, Ali berusaha membunuh Paus di Lapangan St. Petrus, Roma. Dia menembak beberapa kali dan melukai bapa suci. Namun mukjizat terjadi. Paus lolos dari maut, dan selamat dari upaya jahat tersebut. Ali ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Apa yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II terhadap Ali? Dia memaafkan Ali dan bahkan mengunjunginya di penjara. Tindakan ini cukup berani, karena Ali bisa saja menyerang Paus dan membunuhnya. Namun, pertemuan itu berlangsung dengan baik, dan keduanya berjabat tangan. Ya, Ali diampuni, tapi, apakah itu berarti Ali bisa langsung keluar dari penjara? Tidak sama sekali, Ali tetap menjalani hukuman penjara selama dua puluh tahun, karena itu adalah keadilan, tetapi pada saat yang sama, rekonsiliasi terjadi.

Menjadi pengikut Yesus sungguh sulit karena kita tidak hanya mencari keadilan, tetapi juga harus membawa musuh-musuh kita lebih dekat kepada Yesus. Namun, dengan rahmat Allah, hal ini bisa terjadi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum Allah dan Hati yang Setia

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa
12 Februari 2023
Matius 5:17-37

Setelah kita mendengar pengajaran Yesus tentang kunci kebahagiaan (Sabda Bahagia) dan identitas kita (sebagai Garam Dunia dan Terang Dunia), kini kita masuk ke dalam inti ajaran moral Yesus. Di sini, Yesus menegaskan bahwa Dia tidak meniadakan ‘Hukum Taurat dan kitab para nabi’ (nama tradisional dari Perjanjian Lama), tetapi menggenapinya. Ajaran-ajaran Yesus tidak bertentangan dengan Perjanjian Lama, tetapi Dia menyempurnakan dan mentransformasikannya. Namun, mengapa Yesus harus menyempurnakannya?

Alasan pertama adalah karena banyak hukum dalam Perjanjian Lama yang diberikan oleh Tuhan untuk membentuk bangsa Israel sebagai bangsa yang kudus. Di sini, kudus berarti ‘dipisahkan’ untuk Tuhan Allah saja. Bangsa Israel kuno hidup di tengah-tengah bangsa-bangsa lain yang menyembah banyak dewa-dewi, dan hidup dalam perilaku yang tidak bermoral. Tuhan Israel adalah satu-satunya Tuhan yang benar, dan Dia ingin agar bangsa Israel menyembah Dia saja dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, Dia memberikan Sepuluh Perintah Allah. Mereka tidak boleh menyembah dewa-dewi lain (berhala), dan mereka tidak boleh hidup menurut kebiasaan bangsa-bangsa lain, seperti melakukan pembunuhan, perzinaan, pencurian, dan hal-hal jahat lainnya.

Namun, hukum-hukum Tuhan di Perjanjian Lama tidak hanya mengenai moralitas, tetapi juga berbagai detail dalam kehidupan liturgi (misalnya, Kitab Imamat) dan juga perilaku bermasyarakat (misalnya, Kitab Ulangan). Hukum dan peraturan Allah dalam Perjanjian Lama sangat banyak dan terperinci. Mengapa ada begitu banyak aturan? Bukankah 10 Perintah Allah saja sudah cukup untuk membentuk Israel sebagai bangsanya Allah?

Salah satu alasan mendasarnya adalah ketegaran hati. Pembentukan bangsa Israel sebagai umat Allah terbukti merupakan proses yang sulit. Ketika mereka jatuh ke dalam gaya hidup penyembahan berhala dan kembali berdosa dengan mengikuti jalan bangsa-bangsa lain, Tuhan menempatkan hukum-hukum baru yang lebih ketat. Pada saat yang sama, Allah memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu seperti mengizinkan perceraian (Ul. 24:1-4). Ini juga karena ketegaran hati bangsa Israel.

Yesus paham betul bahwa jika hati kita tidak dibentuk dengan benar, maka banyaknya peraturan akan sia-sia. Oleh karena itu, Yesus berkata, “Karena dari hati timbul segala macam pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, fitnah (Mat. 15:19).” Hukum dan peraturan pada umumnya adalah baik karena memandu kita untuk melakukan sesuatu dengan benar. Hukum dan peraturan juga melindungi kita dari bahaya, serta memberikan kejelasan di tengah-tengah kebingungan. Namun, tidak peduli seberapa baik hukum itu, selama hati manusia keras dan tegar, kita akan selalu menemukan cara untuk membengkokkan hukum.

Jadi, bagaimana kita dapat memiliki hati yang lembut dan mau diperbarui? Faktor pertama dan yang paling penting adalah rahmat Allah. Hanya rahmat-Nya yang dapat membuat hati kita yang keras menjadi hati yang hidup dan baru (lihat Yeh. 36:26). Inilah sebabnya mengapa kehidupan sakramental benar-benar fundamental, terutama melalui partisipasi dalam Ekaristi kudus setiap hari Minggu (bahkan lebih baik lagi, setiap hari) dan pengakuan dosa secara teratur.

Kedua, hati dibentuk oleh keutamaan, dan keutamaan tidak lain adalah kebiasaan yang baik. Memang benar bahwa membentuk kebiasaan yang baik bisa jadi sangat sulit, namun kita selalu dapat memulai dengan langkah yang sederhana namun konsisten. Daripada mengucapkan kata-kata buruk dan kasar saat kita marah, kita bisa berhenti sejenak dan memilih alternatif lain yang lebih baik, seperti mendoakan mereka yang membuat kita marah. Kita juga bisa bereksplorasi dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Terakhir, hati kita perlu dibimbing oleh rasionalitas yang benar. Adalah tindakan bijaksana untuk berusaha memahami alasan dan latar belakang di balik hukum-hukum yang kita ikuti. Mengetahui bahwa hukum (terutama Hukum Allah) ada untuk kebaikan kita, membuat kita lebih mudah untuk mengikutinya. Tuhan adalah Bapa yang sempurna dan Dia membuat Hukum-Nya agar putra-putri-Nya mencapai kedewasaan yang sejati.

“Ya Tuhan, ciptakanlah hati yang murni dan setia di dalam diriku!”

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Engkaulah Terang Dunia

Minggu ke-5 Waktu Biasa [A]
5 Februari 2023
Matius 5:13-16

Setelah Yesus membuka pengajaran-Nya di bukit dengan Sabda Bahagia, Ia melanjutkan dengan menjelaskan identitas murid-murid-Nya. “Engkau adalah terang dunia.” Mengapa Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai terang dunia? Terang adalah salah satu tema penting dalam Alkitab. Kembali ke kisah penciptaan, salah satu hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah terang. “Jadilah terang! Dan terang itu jadi (Kejadian 1:1).” Sekali lagi, mengapa terang menjadi topik penting dalam Alkitab?

Ini ada hubungannya dengan kodrat dasar manusia itu sendiri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk cahaya atau terang. Hidup kita bergantung pada cahaya di sekitar kita. Yang paling penting adalah cahaya matahari, tetapi juga cahaya yang berasal dari sumber-sumber lain baik yang alami maupun buatan. Kita membutuhkan cahaya untuk menavigasi dunia kita. Untuk bekerja, bergerak, membaca, menggunakan gadget adalah beberapa aktivitas yang bergantung pada cahaya. Mata kita, salah satu organ yang paling kompleks dalam tubuh kita, pada dasarnya adalah reseptor (penerima) cahaya yang baik. Cahaya tidak hanya menjadi dasar untuk navigasi dan aktivitas kita, tetapi juga sangat penting untuk pertumbuhan dan fungsi biologis kita. Cahaya matahari yang tepat membantu tubuh kita menghasilkan beberapa senyawa kimia penting, seperti vitamin D dan hormon dopamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan depresi, penurunan fungsi kognitif dan gangguan siklus bangun-tidur (ritme sirkadian).

Allah yang menciptakan kita dan juga terang, sangat mengetahui hubungan antara manusia dan terang. Oleh karena itu, Yesus menyebut kita sebagai terang dunia. Seperti halnya terang bagi tubuh kita, adalah misi kita untuk membantu orang lain di sekitar kita untuk menavigasi kehidupan mereka menuju kebahagiaan sejati (silakan cek refleksi saya minggu lalu mengenai kebahagiaan) dan bertumbuh menjadi pribadi dewasa dan kudus.

Namun, bagaimana cara kita menjadi terang dunia? Yesus memberikan jawabannya, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16).” Kita diharapkan untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain, dan perbuatan baik dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dalam tradisi Katolik, kita memiliki tujuh karya kasih jasmani dan juga rohani. Karya-karya tersebut contohnya adalah memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang sakit, mengajar orang lain tentang iman, mengingatkan orang lain untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Kita juga dapat memulai perbuatan baik kita dari rumah dan keluarga, seperti memberi makan anak-anak kita dengan makanan yang sehat, dan mengajar anak-anak kita dalam iman dan moralitas.
Namun, kita juga harus berhati-hati karena sebagai terang, godaannya adalah untuk bersinar dan menarik orang lain kepada diri kita sendiri, bukannya menuntun mereka kepada Kristus. Kita harus ingat bahwa terang kita adalah agar orang lain dapat ‘memuliakan Bapa kita yang di surga’ bukan memuliakan diri kita sendiri. Bahaya kedua adalah kita kehabisan bahan bakar. Kita merasa lelah setelah melakukan banyak pekerjaan baik. Solusinya bisa sesederhana dengan beristirahat dan tidur yang cukup, serta pola hidup yang sehat, atau mungkin kita perlu mengatur ulang prioritas hidup kita. Namun, secara rohani, kita harus ingat bahwa terang yang sejati adalah Kristus sendiri. Dia berkata, “Akulah terang dunia (Yoh 8:12).” Kita adalah terang dunia karena kita ada di dalam Kristus dan berpartisipasi dalam dan merefleksikan terang-Nya (lih. Gal 2:20). Kita tidak boleh lupa untuk menyatukan diri kita dalam terang yang sejati melalui doa-doa kita dan sakramen-sakramen kudus, terutama Ekaristi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Bahagia dan Kebahagian Sejati

Minggu ke-4 dalam Masa Biasa [C]
29 Januari 2023
Matius 5:1-12

Yesus memulai pengajaran-Nya di Injil Matius dengan Sabda Bahagia. Gereja telah mengakui bahwa Sabda Bahagia bukanlah sembarang ajaran Yesus, tetapi ‘inti dari khotbah Yesus’ (lihat KGK 1716). Sabda Bahagia menjadi dasar karena menjawab kerinduan yang paling mendasar dari setiap manusia: kerinduan akan kebahagiaan. Jika kita ingin benar-benar bahagia, maka kita perlu menghidupi Sabda bahagia ini.

Namun, jika kita membacanya dengan cermat, kita mungkin menyadari bahwa instruksi dalam Sabda Bahagia bertolak belakang dengan hasrat kita akan kebahagiaan. Selama ini, kita percaya bahwa memiliki lebih banyak harta akan membuat kita bahagia, tetapi Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang miskin di hadapan Allah. Kita ingin tertawa dan merasa ‘senang’, tetapi kemudian, Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah untuk mereka yang berduka. Kita tahu bahwa menjadi berkuasa dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan orang lain membuat kita merasa puas dan sebuah kenikmatan, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang lemah lembut, murah hati dan pembawa damai. Kita ingin dibebaskan dari segala kesulitan dalam hidup kita, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang dianiaya demi kebenaran. Sabda Bahagia Yesus bertentangan dengan logika manusia!

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa jika bangsa Israel setia menaati Hukum Taurat, mereka akan diberkati dengan tanah, hasil panen dan ternak yang melimpah, anak-anak yang banyak, dan perlindungan dari para musuh. Begitu juga sebaliknya, jika orang Israel melanggar hukum Taurat, mereka akan dikutuk dan dengan demikian, kehilangan semua berkat ini (lihat Ulangan 28). Jadi, Sabda Bahagia Yesus bahkan tidak sejalan dengan berkat-berkat Perjanjian Lama ini!

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Yesus kehilangan akal sehat-Nya? Untungnya, Gereja memberikan kita jawabannya, “[Sabda Bahagia] mengangkat janji-janji yang telah diberikan kepada umat pilihan sejak Abraham. Sabda bahagia menyempurnakan janji-janji itu, karena tidak hanya diarahkan kepada pemilikan satu tanah saja, tetapi kepada Kerajaan surga… Sabda Bahagia mengekspresikan panggilan umat beriman yang terkait dengan kemuliaan Sengsara dan Kebangkitan-Nya (KGK 1716-7).”

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati tidak berhenti di dunia ini, tetapi harus mencapai tujuan akhirnya di dalam Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, terkadang kita menerima berkat duniawi, tetapi terkadang, kita mengalami ‘kutukan’ duniawi. Namun, semua itu hanya bersifat sementara, dan bukan ukuran kebahagian sejati. Bahkan, berkat-berkat materi dapat menjadi kutukan jika kita kecanduan dan melakukan banyak hal jahat untuk mendapatkannya. Dan, kemalangan dan penderitaan kita di dunia ini dapat berubah menjadi berkat rohani, jika kita menanggungnya dengan sabar dan menyatukannya dengan Sengsara Kristus dalam doa-doa kita.

Apakah itu berarti kita tidak boleh bekerja untuk menjadi kaya dan sukses? Kita harus bekerja dan menjadi sukses dalam hidup, tetapi dengan cara-cara yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita tidak mencuri atau menipu, maka pekerjaan dan harta benda kita akan menjadi berkat yang sejati.

Apakah ini berarti kita harus menerima penderitaan dan ketidakadilan secara pasrah dan pasif? Sama sekali tidak! Kita harus melakukan yang terbaik juga untuk melawan ketidakadilan di antara kita dan meringankan penderitaan sesama. Bahkan, diam saja dihadapan kejahatan bukan hanya bodoh, tetapi juga membuat kita menjadi peserta dalam kejahatan itu. Namun, kita juga tahu bahwa terkadang, ada kesulitan-kesulitan dalam hidup yang entah apa yang kita lakukan, kesulitan-kesulitan itu akan tetap ada. Inilah salib kita, dan kita harus membawanya kepada Yesus.

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengingatkan kita bahwa hasrat kita akan kebahagiaan berasal dari Allah, dan dengan demikian, hanya Allah yang dapat memenuhinya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yohanes dan Yesus

Minggu ke-3 dalam Masa Biasa (A)
22 Januari 2023
Matius 4:12-23

Matius, sang Penginjil, menunjukkan bahwa Yesus memulai pewartaan publik-Nya setelah Yohanes Pembaptis ditangkap. Mengapa Yesus mengambil keputusan ini? Ada beberapa alasan. Yang pertama adalah Yesus menggenapi apa yang dinubuatkan oleh Yohanes sendiri, ” Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3:30).” Yohanes sangat populer, dan banyak orang mengikutinya dan menganggapnya sebagai nabi Allah, tetapi pelayanannya terhenti setelah dia dipenjara karena dia menegur Herodes yang menikahi istri saudaranya sendiri (Mat. 14:1-12). Ketika Yohanes tidak lagi dapat berkhotbah, dan meredup, Yesus datang, membawa Kabar Baik dan mulai bersinar.

Alasan lain yang menarik adalah bahwa Yohanes berfungsi sebagai cermin kehidupan dan pelayanan Yesus. Apa yang Yohanes lakukan dan alami, akan dilakukan dan dialami oleh Yesus, tetapi dengan skala yang jauh lebih besar. Pembuahan Yohanes merupakan sebuah mukjizat, karena Zakharia dan Elisabet dianggap sudah terlalu tua untuk memiliki seorang anak. Kehadiran Yesus dalam rahim bahkan tidak ada bandingannya karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Yohanes memiliki banyak pengikut dan murid, dan banyak orang juga yang mengikut Yesus, dan beberapa di antaranya menjadi murid-murid dekat-Nya. Baik Yohanes maupun Yesus sama-sama memberitakan pertobatan, tetapi perbedaannya juga jelas. Yohanes berkhotbah untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, sementara Yesus berkhotbah untuk membangun Kerajaan Allah dan keselamatan.

Yohanes membaptis sebagai tanda lahiriah dari pertobatan batin, sedangkan Yesus memberikan pengampunan dosa yang sejati. Yohanes membuktikan pewartaannya melalui gaya hidupnya, Yesus membuktikan Injil-Nya melalui mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baik Yohanes maupun Yesus dianiaya dan dieksekusi karena mereka memberitakan pertobatan dan kebenaran, dan dengan demikian, bertentangan dengan otoritas. Namun, Yesus bangkit dan naik ke surga, sementara Yohanes, yang walaupun sudah berada di surga, masih menunggu kebangkitan badannya.

Ketika saya bertemu dengan Romo Gerard Timoner, Pemimpin tertinggi Ordo Dominikan, di Roma, ia menguraikan sebuah fakta menarik tentang Yohanes dan Yesus. Ulang tahun Yohanes adalah 24 Juni, sedangkan Yesus 25 Desember. Yang menarik bukan hanya karena tanggalnya yang berbeda enam bulan, tetapi juga karena fenomena alam yang terjadi di sekitar tanggal-tanggal tersebut. Ulang tahun Yohanes dekat dengan titik balik matahari musim panas (summer solstice). Hal ini terjadi ketika kemiringan sumbu bumi paling condong ke arah matahari, sehingga menghasilkan periode siang hari terpanjang sepanjang tahun (bagi kita yang hidup di negara tropis seperti Indonesia, hampir tidak terasa perbedaannya). Namun, setelah titik balik matahari ini, hari-hari akan semakin pendek (sinar matahari akan berkurang). Sementara itu, hari kelahiran Kristus berada di dekat titik balik matahari musim dingin (winter solstice), hari terpendek dalam setahun. Namun, setelah titik balik matahari ini, hari-hari semakin panjang. Fenomena ini juga menggenapi apa yang Yohanes katakan, “Dia harus bertambah, tetapi aku harus berkurang”

Apa artinya bagi kita? Ketika kita memulai perjalanan kita melalui Masa Biasa, kita dipanggil untuk menjadi seperti Yohanes Pembaptis. Kita harus menjadi cerminan Kristus dalam hidup kita. Kita mungkin memiliki panggilan yang berbeda di dunia ini, seperti kaum awam, suami-istri, orang tua, imam, atau biarawan/biarawati, tetapi dalam cara hidup kita, kita harus mencerminkan Kristus. Apakah orang lain melihat Yesus ketika mereka melihat kita? Apakah kita membawa kedamaian, pertobatan, dan kebenaran kepada orang lain seperti yang Yesus lakukan? Apakah kita membawa orang lain kepada Yesus dan tidak tergoda untuk menarik orang lain kepada diri kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP