Concupiscentia

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [A]
5 Maret 2023`
Matius 17:1-9

Masa Prapaskah ditandai dengan tindakan silih serta latihan rohani yang intensif seperti pantang, puasa dan amal. Salah satu tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kelemahan jiwa atau ‘Concupiscentia’, yaitu kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa karena kodrat kita yang terluka (sering disebut juga sebagai ‘kedagingan’ kita). Namun, mengapa kita masih memiliki kelemahan ini jika kita telah ditebus? Bahkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dengan tegas mengatakan, “… kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:10).” Namun, kenapa kita masih bergulat dengan kedagingan kita?

photocredit: Nicolai Chernichenko

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan misteri iman. Seperti misteri-misteri iman lainnya, realitas penebusan dan juga keberadaan ‘Concupiscentia’ adalah sebuah kenyataan, tetapi alasan di balik realitas tersebut sebagian besar masih tersembunyi karena kebenaran-kebenaran tersebut lebih besar daripada kemampuan akal budi kita. Namun, bukan berarti kita tidak mengerti sama sekali. Melalui para teolog dan orang-orang kudusnya, Gereja telah merefleksikan masalah ini selama dua ribu tahun, dan mengajarkan bahwa ‘Concupiscentia’, yakni cenderungan pada kejahatan, tetap ada dalam diri manusia karena Tuhan memanggil kita ke dalam peperangan rohani (lih. KGK 405).

Kehadiran ‘Concupiscentia’ membuka kesempatan bagi kita untuk menjalankan keutamaan-keutamaan dan bertumbuh dalam kekudusan melalui berbagai latihan rohani. Dengan demikian, meskipun ‘Concupiscentia’ tetap ada setelah pembaptisan, hal ini bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi untuk menjalani hidup yang kudus, dan pada kenyataannya membuat perjalanan kita menjadi lebih bermakna. Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat melawan keinginan-keinginan yang tidak teratur ini dan bertumbuh dalam kekudusan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus bertransfigurasi di atas gunung. Bagi Petrus, Yohanes dan Yakobus, ini adalah pengalaman yang luar biasa yang dipenuhi dengan sukacita. Mereka tidak ingin kehilangan pengalaman yang menggembirakan ini, dan dengan demikian, Petrus mengusulkan untuk membangun tenda agar mereka dapat tinggal lebih lama di atas gunung. Namun, Yesus tidak tinggal lama dalam keadaan ilahi-Nya, tetapi memanggil para murid-Nya untuk turun dan mengikuti-Nya. Ke mana? Setelah transfigurasi, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem di mana penderitaan dan kematian-Nya telah menanti. Yesus sangat memahami, “tidak ada kebangkitan tanpa salib”. ‘Concupiscentia’ adalah salah satu salib kita di dunia ini, dan ini bisa menjadi sarana menuju kekudusan.

Seorang teman baik saya pernah bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ‘Concupiscentia’ tetap ada di dalam jiwa kita? Bukankah akan lebih baik dan lebih mudah bagi kita jika ‘kedagingan’ itu dihilangkan pada saat pembaptisan?” Saya dapat membayangkan bahwa tanpa ‘Concupiscentia’, kita tidak perlu lagi berurusan dengan banyak godaan. Hidup akan jauh lebih mudah dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang tidak lagi melakukan hal-hal jahat karena egoism dan hawa nafsu. Situasi tanpa ‘Concupiscentia’ ini, kurang lebih sama dengan kondisi orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Ini adalah sebuah Firdaus!

Namun, kemudian, saya menyadari bahwa bahkan tanpa adanya ‘Concupiscentia’, orang tua pertama kita tetap saja jatuh dalam dosa. Tidak adanya ‘Concupiscentia’ tidak secara otomatis mencegah kita jatuh ke dalam dosa. Faktanya, pada saat kita berbuat dosa di luar kebebasan total kita dan tanpa pengaruh ‘Concupiscentia’, kita akan jatuh dengan sangat keras, sama seperti Adam dan Hawa. Mungkin untuk mencegah kita mengalami apa yang dialami oleh orang tua pertama kita, Allah mengizinkan ‘Concupiscentia’ untuk tetap ada.

Pada akhirnya, kita masih menghadapi sebuah misteri ini, tetapi kita percaya bahwa kehadiran ‘Concupiscentia’ pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Masa Prapaskah, Adam dan Yesus

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [A]
26 Februari 2023
Matius 4:1-11

Sekarang kita berada di hari Minggu pertama masa Prapaskah. Bagi sebagian dari kita, masa Prapaskah sudah menjadi sebuah rutinitas tahunan. Kita berpantang makan daging atau hal-hal lain yang membuat kita nyaman dan berpuasa setidaknya dua kali dalam setahun (Rabu Abu dan Jumat Agung). Kita juga diminta untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa dan didorong untuk beramal lebih banyak. Warna dan suasana liturgi juga berubah di gereja-gereja kita. Dan di banyak paroki, pengakuan dosa juga tersedia. Beberapa dari kita mungkin tidak benar-benar mengerti mengapa kita harus melakukan hal-hal ini, tetapi karena kita adalah orang Katolik dan orang lain mempraktikkannya, kita juga melakukannya. Beberapa dari kita mungkin menyadari alasan di balik berbagai olah rohani ini karena kita mendengarkan katekese yang diberikan oleh para imam atau katekis awam, atau penjelasan yang diberikan di media sosial. Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk mendidik umat beriman pada masa yang indah ini (lihat juga katekese dan refleksi saya di tahun-tahun sebelumnya). Namun, kita masih bertanya-tanya mengapa kita harus terus melakukan hal-hal ini setiap tahun?

Jawabannya terletak pada kodrat manusia kita yang terluka. Berbicara tentang kodrat manusia, kita harus kembali kepada orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Dalam bacaan pertama Minggu ini, kita menemukan bagaimana Adam diciptakan dari debu tanah dan menerima nafas kehidupan. Tidak hanya itu, Tuhan menempatkan mereka di taman yang dekat dengan Allah sendiri. Hal ini menjadi simbol bahwa mereka hidup dalam keselarasan dengan Tuhan, alam semesta dan diri mereka sendiri. Ini adalah kondisi rahmat yang asli (original state of grace). Namun, terlepas dari semua hak istimewa itu, Adam dan Hawa, yang berasal dari tanah, berani menentang Tuhan semesta alam. Sungguh, dosa mereka layak berbuah kematian. Namun, Tuhan berbelas kasih, mencegah kematian, dan memberikan kesempatan kedua bagi pria dan wanita. Sayangnya, dosa telah melukai jiwa mereka dan menghancurkan persahabatan mereka dengan Tuhan. Kodrat yang terluka sekarang menjadi lemah terhadap godaan dan cenderung melakukan lebih banyak dosa.

Sayangnya, Adam bukan hanya seorang individu yang terisolasi. Ia merupakan kepala umat manusia. Oleh karena itu, Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bacaan kedua Minggu ini), mengungkapkan kebenaran bahwa dampak dari dosa Adam mengalir ke seluruh umat manusia. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).” Ketika kita dikandung, kita menerima kodrat manusia yang terluka. Kita berada dalam kondisi yang jauh dari Allah. Tradisi Katolik kita menyebutnya sebagai ‘dosa asal’.

Namun, kita tidak perlu putus asa. Juga dalam surat yang sama, St. Paulus memberitakan kabar baik bahwa Yesus telah menyelamatkan kita dan membawa kita kembali ke dalam persahabatan dengan Allah, yaitu kondisi rahmat (state of grace). “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi rahmat Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm. 5:15).”

Lalu, pertanyaannya yang tetap ada: “Jika kita sudah ditebus, mengapa kita masih harus melakukan olah rohani yang intensif di masa Prapaskah? Ya, kita telah ditebus, tetapi jiwa kita masih memiliki beberapa kelemahan karena dampak dari dosa asal. Kita masih memiliki kecenderungan dan ketidakteraturan untuk melakukan dosa (para theolog menyebutnya sebagai ‘concupiscentia’ – KGK 405). Oleh karena itu, untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kedagingan, dunia, dan iblis, dan semakin hidup di dalam rahmat, Yesus memberi kita tiga kiat berikut ini: berpuasa, berdoa secara intensif, dan beramal. (Untuk mengetahui mengapa ketiga hal ini harus dilakukan, lihatlah renungan saya tahun lalu).

Namun, ada satu pertanyaan yang tersisa: “Mengapa Allah mengizinkan ‘concupiscentia’ untuk tetap ada di dalam jiwa kita meskipun ada kita sudah ditebus?” Nantikan jawabannya Minggu depan!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi lemah?

Minggu ke-7 dalam Waktu Biasa [A]
19 Februari 2023
Matius 5:38-48

Pada hari Minggu ini, kita akan menemukan salah satu ajaran moral Yesus yang paling kontroversial. Karena ajaran ini, kita, umat Kristiani, sering dituduh sebagai orang yang lemah, bodoh, dan tunduk pada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita. Namun pada saat yang sama, ketika kita mencoba memperjuangkan keadilan, lawan-lawan kita dengan mudah menggunakan ayat-ayat ini untuk melemahkan kita. Mereka menuduh kita tidak berbelas kasih dan tidak tahu mengampuni. Jadi, bagaimana kita memahami ajaran ini? Apakah ini berarti bahwa seorang istri harus pasrah saja dengan perlakuan kasar suaminya? Apakah itu berarti kita harus menutup mata terhadap kejahatan dan ketidakadilan di sekitar kita?

Yesus membuka pengajaran-Nya dengan mengutip Hukum Taurat Musa, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi (lih. Kel. 21:24).” Bagi telinga orang modern, hukum ini terdengar kejam dan primitif, tetapi tujuan sebenarnya dari hukum ini adalah untuk mencegah pembalasan yang berlebihan. Ketika seseorang mencuri seekor domba, ia harus mengembalikan seekor domba atau hal yang setara. Musuh-musuhnya tidak dapat menuntut seluruh rumahnya sebagai ganti seekor domba. Hukum ini bertujuan untuk menumbukan rasa keadilan, untuk mengekang eskalasi kekerasan yang tidak perlu.

Kemudian, Yesus mengubah hukum Musa ini dengan mengucapkan ajaran baru, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat!” Bagi Yesus, kita harus lebih dari sekadar mencari pembalasan yang setimpal. Namun, apakah itu berarti kita harus menerima semua dengan pasrah dan pasif? Jika kita melihat lebih dalam ke dalam Perjanjian Lama, kita akan menemukan ajaran yang serupa seperti Amsal 24:29, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan berbuat kepadanya seperti yang diperbuatnya kepadaku.” (lihat juga Yes 50:6). Dengan demikian, ajaran Yesus untuk tidak membalas kejahatan bukanlah ajaran yang unik bagi Yesus. Jadi, apakah Yesus benar-benar memperbaharui Hukum Taurat Musa?

Ajaran Yesus yang inovatif bukanlah tentang menerima kejahatan secara pasif, melainkan secara aktif menaklukkan kejahatan dengan kebaikan. Kita dapat memahami hal ini jika kita memperhatikan dengan seksama contoh yang Yesus berikan. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu (Mat 5:40).” Baju (bahasa Yunani: χιτών, chiton) biasanya merupakan kain sederhana yang dipakai untuk menutupi tubuh, sedangkan jubah (bahasa Yunani: ἱμάτιον, himation) merupakan pakaian yang lebih mahal, dan dikenakan di atas baju. Jadi, Yesus mengatakan bahwa jika seseorang meminta pakaian sederhana kita, jangan hanya memberikan pakaian yang biasa saja, tetapi juga pakaian yang lebih berharga. Tindakan ini pasti akan membingungkan banyak orang, tetapi ini juga menunjukkan ketulusan dan upaya kita untuk mengakhiri permusuhan, serta membuka kemungkinan rekonsiliasi dan bahkan persahabatan.

Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya harus mengakui bahwa tidak ada resep tunggal untuk semua orang. Penerapannya tergantung pada konteks dan kebijaksanaan kita. Salah satu contoh kasus yang baik adalah Santo Yohanes Paulus II dan Ali Agca. Pada tanggal 13 Mei 1981, Ali berusaha membunuh Paus di Lapangan St. Petrus, Roma. Dia menembak beberapa kali dan melukai bapa suci. Namun mukjizat terjadi. Paus lolos dari maut, dan selamat dari upaya jahat tersebut. Ali ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Apa yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II terhadap Ali? Dia memaafkan Ali dan bahkan mengunjunginya di penjara. Tindakan ini cukup berani, karena Ali bisa saja menyerang Paus dan membunuhnya. Namun, pertemuan itu berlangsung dengan baik, dan keduanya berjabat tangan. Ya, Ali diampuni, tapi, apakah itu berarti Ali bisa langsung keluar dari penjara? Tidak sama sekali, Ali tetap menjalani hukuman penjara selama dua puluh tahun, karena itu adalah keadilan, tetapi pada saat yang sama, rekonsiliasi terjadi.

Menjadi pengikut Yesus sungguh sulit karena kita tidak hanya mencari keadilan, tetapi juga harus membawa musuh-musuh kita lebih dekat kepada Yesus. Namun, dengan rahmat Allah, hal ini bisa terjadi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum Allah dan Hati yang Setia

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa
12 Februari 2023
Matius 5:17-37

Setelah kita mendengar pengajaran Yesus tentang kunci kebahagiaan (Sabda Bahagia) dan identitas kita (sebagai Garam Dunia dan Terang Dunia), kini kita masuk ke dalam inti ajaran moral Yesus. Di sini, Yesus menegaskan bahwa Dia tidak meniadakan ‘Hukum Taurat dan kitab para nabi’ (nama tradisional dari Perjanjian Lama), tetapi menggenapinya. Ajaran-ajaran Yesus tidak bertentangan dengan Perjanjian Lama, tetapi Dia menyempurnakan dan mentransformasikannya. Namun, mengapa Yesus harus menyempurnakannya?

Alasan pertama adalah karena banyak hukum dalam Perjanjian Lama yang diberikan oleh Tuhan untuk membentuk bangsa Israel sebagai bangsa yang kudus. Di sini, kudus berarti ‘dipisahkan’ untuk Tuhan Allah saja. Bangsa Israel kuno hidup di tengah-tengah bangsa-bangsa lain yang menyembah banyak dewa-dewi, dan hidup dalam perilaku yang tidak bermoral. Tuhan Israel adalah satu-satunya Tuhan yang benar, dan Dia ingin agar bangsa Israel menyembah Dia saja dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, Dia memberikan Sepuluh Perintah Allah. Mereka tidak boleh menyembah dewa-dewi lain (berhala), dan mereka tidak boleh hidup menurut kebiasaan bangsa-bangsa lain, seperti melakukan pembunuhan, perzinaan, pencurian, dan hal-hal jahat lainnya.

Namun, hukum-hukum Tuhan di Perjanjian Lama tidak hanya mengenai moralitas, tetapi juga berbagai detail dalam kehidupan liturgi (misalnya, Kitab Imamat) dan juga perilaku bermasyarakat (misalnya, Kitab Ulangan). Hukum dan peraturan Allah dalam Perjanjian Lama sangat banyak dan terperinci. Mengapa ada begitu banyak aturan? Bukankah 10 Perintah Allah saja sudah cukup untuk membentuk Israel sebagai bangsanya Allah?

Salah satu alasan mendasarnya adalah ketegaran hati. Pembentukan bangsa Israel sebagai umat Allah terbukti merupakan proses yang sulit. Ketika mereka jatuh ke dalam gaya hidup penyembahan berhala dan kembali berdosa dengan mengikuti jalan bangsa-bangsa lain, Tuhan menempatkan hukum-hukum baru yang lebih ketat. Pada saat yang sama, Allah memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu seperti mengizinkan perceraian (Ul. 24:1-4). Ini juga karena ketegaran hati bangsa Israel.

Yesus paham betul bahwa jika hati kita tidak dibentuk dengan benar, maka banyaknya peraturan akan sia-sia. Oleh karena itu, Yesus berkata, “Karena dari hati timbul segala macam pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, fitnah (Mat. 15:19).” Hukum dan peraturan pada umumnya adalah baik karena memandu kita untuk melakukan sesuatu dengan benar. Hukum dan peraturan juga melindungi kita dari bahaya, serta memberikan kejelasan di tengah-tengah kebingungan. Namun, tidak peduli seberapa baik hukum itu, selama hati manusia keras dan tegar, kita akan selalu menemukan cara untuk membengkokkan hukum.

Jadi, bagaimana kita dapat memiliki hati yang lembut dan mau diperbarui? Faktor pertama dan yang paling penting adalah rahmat Allah. Hanya rahmat-Nya yang dapat membuat hati kita yang keras menjadi hati yang hidup dan baru (lihat Yeh. 36:26). Inilah sebabnya mengapa kehidupan sakramental benar-benar fundamental, terutama melalui partisipasi dalam Ekaristi kudus setiap hari Minggu (bahkan lebih baik lagi, setiap hari) dan pengakuan dosa secara teratur.

Kedua, hati dibentuk oleh keutamaan, dan keutamaan tidak lain adalah kebiasaan yang baik. Memang benar bahwa membentuk kebiasaan yang baik bisa jadi sangat sulit, namun kita selalu dapat memulai dengan langkah yang sederhana namun konsisten. Daripada mengucapkan kata-kata buruk dan kasar saat kita marah, kita bisa berhenti sejenak dan memilih alternatif lain yang lebih baik, seperti mendoakan mereka yang membuat kita marah. Kita juga bisa bereksplorasi dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Terakhir, hati kita perlu dibimbing oleh rasionalitas yang benar. Adalah tindakan bijaksana untuk berusaha memahami alasan dan latar belakang di balik hukum-hukum yang kita ikuti. Mengetahui bahwa hukum (terutama Hukum Allah) ada untuk kebaikan kita, membuat kita lebih mudah untuk mengikutinya. Tuhan adalah Bapa yang sempurna dan Dia membuat Hukum-Nya agar putra-putri-Nya mencapai kedewasaan yang sejati.

“Ya Tuhan, ciptakanlah hati yang murni dan setia di dalam diriku!”

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Engkaulah Terang Dunia

Minggu ke-5 Waktu Biasa [A]
5 Februari 2023
Matius 5:13-16

Setelah Yesus membuka pengajaran-Nya di bukit dengan Sabda Bahagia, Ia melanjutkan dengan menjelaskan identitas murid-murid-Nya. “Engkau adalah terang dunia.” Mengapa Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai terang dunia? Terang adalah salah satu tema penting dalam Alkitab. Kembali ke kisah penciptaan, salah satu hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah terang. “Jadilah terang! Dan terang itu jadi (Kejadian 1:1).” Sekali lagi, mengapa terang menjadi topik penting dalam Alkitab?

Ini ada hubungannya dengan kodrat dasar manusia itu sendiri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk cahaya atau terang. Hidup kita bergantung pada cahaya di sekitar kita. Yang paling penting adalah cahaya matahari, tetapi juga cahaya yang berasal dari sumber-sumber lain baik yang alami maupun buatan. Kita membutuhkan cahaya untuk menavigasi dunia kita. Untuk bekerja, bergerak, membaca, menggunakan gadget adalah beberapa aktivitas yang bergantung pada cahaya. Mata kita, salah satu organ yang paling kompleks dalam tubuh kita, pada dasarnya adalah reseptor (penerima) cahaya yang baik. Cahaya tidak hanya menjadi dasar untuk navigasi dan aktivitas kita, tetapi juga sangat penting untuk pertumbuhan dan fungsi biologis kita. Cahaya matahari yang tepat membantu tubuh kita menghasilkan beberapa senyawa kimia penting, seperti vitamin D dan hormon dopamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan depresi, penurunan fungsi kognitif dan gangguan siklus bangun-tidur (ritme sirkadian).

Allah yang menciptakan kita dan juga terang, sangat mengetahui hubungan antara manusia dan terang. Oleh karena itu, Yesus menyebut kita sebagai terang dunia. Seperti halnya terang bagi tubuh kita, adalah misi kita untuk membantu orang lain di sekitar kita untuk menavigasi kehidupan mereka menuju kebahagiaan sejati (silakan cek refleksi saya minggu lalu mengenai kebahagiaan) dan bertumbuh menjadi pribadi dewasa dan kudus.

Namun, bagaimana cara kita menjadi terang dunia? Yesus memberikan jawabannya, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16).” Kita diharapkan untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain, dan perbuatan baik dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dalam tradisi Katolik, kita memiliki tujuh karya kasih jasmani dan juga rohani. Karya-karya tersebut contohnya adalah memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang sakit, mengajar orang lain tentang iman, mengingatkan orang lain untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Kita juga dapat memulai perbuatan baik kita dari rumah dan keluarga, seperti memberi makan anak-anak kita dengan makanan yang sehat, dan mengajar anak-anak kita dalam iman dan moralitas.
Namun, kita juga harus berhati-hati karena sebagai terang, godaannya adalah untuk bersinar dan menarik orang lain kepada diri kita sendiri, bukannya menuntun mereka kepada Kristus. Kita harus ingat bahwa terang kita adalah agar orang lain dapat ‘memuliakan Bapa kita yang di surga’ bukan memuliakan diri kita sendiri. Bahaya kedua adalah kita kehabisan bahan bakar. Kita merasa lelah setelah melakukan banyak pekerjaan baik. Solusinya bisa sesederhana dengan beristirahat dan tidur yang cukup, serta pola hidup yang sehat, atau mungkin kita perlu mengatur ulang prioritas hidup kita. Namun, secara rohani, kita harus ingat bahwa terang yang sejati adalah Kristus sendiri. Dia berkata, “Akulah terang dunia (Yoh 8:12).” Kita adalah terang dunia karena kita ada di dalam Kristus dan berpartisipasi dalam dan merefleksikan terang-Nya (lih. Gal 2:20). Kita tidak boleh lupa untuk menyatukan diri kita dalam terang yang sejati melalui doa-doa kita dan sakramen-sakramen kudus, terutama Ekaristi.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Bahagia dan Kebahagian Sejati

Minggu ke-4 dalam Masa Biasa [C]
29 Januari 2023
Matius 5:1-12

Yesus memulai pengajaran-Nya di Injil Matius dengan Sabda Bahagia. Gereja telah mengakui bahwa Sabda Bahagia bukanlah sembarang ajaran Yesus, tetapi ‘inti dari khotbah Yesus’ (lihat KGK 1716). Sabda Bahagia menjadi dasar karena menjawab kerinduan yang paling mendasar dari setiap manusia: kerinduan akan kebahagiaan. Jika kita ingin benar-benar bahagia, maka kita perlu menghidupi Sabda bahagia ini.

Namun, jika kita membacanya dengan cermat, kita mungkin menyadari bahwa instruksi dalam Sabda Bahagia bertolak belakang dengan hasrat kita akan kebahagiaan. Selama ini, kita percaya bahwa memiliki lebih banyak harta akan membuat kita bahagia, tetapi Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang miskin di hadapan Allah. Kita ingin tertawa dan merasa ‘senang’, tetapi kemudian, Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah untuk mereka yang berduka. Kita tahu bahwa menjadi berkuasa dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan orang lain membuat kita merasa puas dan sebuah kenikmatan, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang lemah lembut, murah hati dan pembawa damai. Kita ingin dibebaskan dari segala kesulitan dalam hidup kita, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang dianiaya demi kebenaran. Sabda Bahagia Yesus bertentangan dengan logika manusia!

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa jika bangsa Israel setia menaati Hukum Taurat, mereka akan diberkati dengan tanah, hasil panen dan ternak yang melimpah, anak-anak yang banyak, dan perlindungan dari para musuh. Begitu juga sebaliknya, jika orang Israel melanggar hukum Taurat, mereka akan dikutuk dan dengan demikian, kehilangan semua berkat ini (lihat Ulangan 28). Jadi, Sabda Bahagia Yesus bahkan tidak sejalan dengan berkat-berkat Perjanjian Lama ini!

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Yesus kehilangan akal sehat-Nya? Untungnya, Gereja memberikan kita jawabannya, “[Sabda Bahagia] mengangkat janji-janji yang telah diberikan kepada umat pilihan sejak Abraham. Sabda bahagia menyempurnakan janji-janji itu, karena tidak hanya diarahkan kepada pemilikan satu tanah saja, tetapi kepada Kerajaan surga… Sabda Bahagia mengekspresikan panggilan umat beriman yang terkait dengan kemuliaan Sengsara dan Kebangkitan-Nya (KGK 1716-7).”

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati tidak berhenti di dunia ini, tetapi harus mencapai tujuan akhirnya di dalam Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, terkadang kita menerima berkat duniawi, tetapi terkadang, kita mengalami ‘kutukan’ duniawi. Namun, semua itu hanya bersifat sementara, dan bukan ukuran kebahagian sejati. Bahkan, berkat-berkat materi dapat menjadi kutukan jika kita kecanduan dan melakukan banyak hal jahat untuk mendapatkannya. Dan, kemalangan dan penderitaan kita di dunia ini dapat berubah menjadi berkat rohani, jika kita menanggungnya dengan sabar dan menyatukannya dengan Sengsara Kristus dalam doa-doa kita.

Apakah itu berarti kita tidak boleh bekerja untuk menjadi kaya dan sukses? Kita harus bekerja dan menjadi sukses dalam hidup, tetapi dengan cara-cara yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita tidak mencuri atau menipu, maka pekerjaan dan harta benda kita akan menjadi berkat yang sejati.

Apakah ini berarti kita harus menerima penderitaan dan ketidakadilan secara pasrah dan pasif? Sama sekali tidak! Kita harus melakukan yang terbaik juga untuk melawan ketidakadilan di antara kita dan meringankan penderitaan sesama. Bahkan, diam saja dihadapan kejahatan bukan hanya bodoh, tetapi juga membuat kita menjadi peserta dalam kejahatan itu. Namun, kita juga tahu bahwa terkadang, ada kesulitan-kesulitan dalam hidup yang entah apa yang kita lakukan, kesulitan-kesulitan itu akan tetap ada. Inilah salib kita, dan kita harus membawanya kepada Yesus.

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengingatkan kita bahwa hasrat kita akan kebahagiaan berasal dari Allah, dan dengan demikian, hanya Allah yang dapat memenuhinya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yohanes dan Yesus

Minggu ke-3 dalam Masa Biasa (A)
22 Januari 2023
Matius 4:12-23

Matius, sang Penginjil, menunjukkan bahwa Yesus memulai pewartaan publik-Nya setelah Yohanes Pembaptis ditangkap. Mengapa Yesus mengambil keputusan ini? Ada beberapa alasan. Yang pertama adalah Yesus menggenapi apa yang dinubuatkan oleh Yohanes sendiri, ” Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3:30).” Yohanes sangat populer, dan banyak orang mengikutinya dan menganggapnya sebagai nabi Allah, tetapi pelayanannya terhenti setelah dia dipenjara karena dia menegur Herodes yang menikahi istri saudaranya sendiri (Mat. 14:1-12). Ketika Yohanes tidak lagi dapat berkhotbah, dan meredup, Yesus datang, membawa Kabar Baik dan mulai bersinar.

Alasan lain yang menarik adalah bahwa Yohanes berfungsi sebagai cermin kehidupan dan pelayanan Yesus. Apa yang Yohanes lakukan dan alami, akan dilakukan dan dialami oleh Yesus, tetapi dengan skala yang jauh lebih besar. Pembuahan Yohanes merupakan sebuah mukjizat, karena Zakharia dan Elisabet dianggap sudah terlalu tua untuk memiliki seorang anak. Kehadiran Yesus dalam rahim bahkan tidak ada bandingannya karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Yohanes memiliki banyak pengikut dan murid, dan banyak orang juga yang mengikut Yesus, dan beberapa di antaranya menjadi murid-murid dekat-Nya. Baik Yohanes maupun Yesus sama-sama memberitakan pertobatan, tetapi perbedaannya juga jelas. Yohanes berkhotbah untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, sementara Yesus berkhotbah untuk membangun Kerajaan Allah dan keselamatan.

Yohanes membaptis sebagai tanda lahiriah dari pertobatan batin, sedangkan Yesus memberikan pengampunan dosa yang sejati. Yohanes membuktikan pewartaannya melalui gaya hidupnya, Yesus membuktikan Injil-Nya melalui mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baik Yohanes maupun Yesus dianiaya dan dieksekusi karena mereka memberitakan pertobatan dan kebenaran, dan dengan demikian, bertentangan dengan otoritas. Namun, Yesus bangkit dan naik ke surga, sementara Yohanes, yang walaupun sudah berada di surga, masih menunggu kebangkitan badannya.

Ketika saya bertemu dengan Romo Gerard Timoner, Pemimpin tertinggi Ordo Dominikan, di Roma, ia menguraikan sebuah fakta menarik tentang Yohanes dan Yesus. Ulang tahun Yohanes adalah 24 Juni, sedangkan Yesus 25 Desember. Yang menarik bukan hanya karena tanggalnya yang berbeda enam bulan, tetapi juga karena fenomena alam yang terjadi di sekitar tanggal-tanggal tersebut. Ulang tahun Yohanes dekat dengan titik balik matahari musim panas (summer solstice). Hal ini terjadi ketika kemiringan sumbu bumi paling condong ke arah matahari, sehingga menghasilkan periode siang hari terpanjang sepanjang tahun (bagi kita yang hidup di negara tropis seperti Indonesia, hampir tidak terasa perbedaannya). Namun, setelah titik balik matahari ini, hari-hari akan semakin pendek (sinar matahari akan berkurang). Sementara itu, hari kelahiran Kristus berada di dekat titik balik matahari musim dingin (winter solstice), hari terpendek dalam setahun. Namun, setelah titik balik matahari ini, hari-hari semakin panjang. Fenomena ini juga menggenapi apa yang Yohanes katakan, “Dia harus bertambah, tetapi aku harus berkurang”

Apa artinya bagi kita? Ketika kita memulai perjalanan kita melalui Masa Biasa, kita dipanggil untuk menjadi seperti Yohanes Pembaptis. Kita harus menjadi cerminan Kristus dalam hidup kita. Kita mungkin memiliki panggilan yang berbeda di dunia ini, seperti kaum awam, suami-istri, orang tua, imam, atau biarawan/biarawati, tetapi dalam cara hidup kita, kita harus mencerminkan Kristus. Apakah orang lain melihat Yesus ketika mereka melihat kita? Apakah kita membawa kedamaian, pertobatan, dan kebenaran kepada orang lain seperti yang Yesus lakukan? Apakah kita membawa orang lain kepada Yesus dan tidak tergoda untuk menarik orang lain kepada diri kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yohanes tidak mengenal Yesus

Minggu ke-2 dalam Masa Biasa [A]
15 Januari 2023
Yohanes 1:29-35

Membaca Injil hari ini, mungkin ada beberapa pertanyaan dalam benak kita, “Mengapa Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia?” dan “Mengapa Yohanes mengatakan bahwa dia tidak mengenal Yesus dan Yesus telah ada sebelum Yohanes?” Kita tahu pasti bahwa Yohanes adalah kerabat Yesus dan, pada kenyataannya, dia lahir enam bulan lebih dulu dari Yesus. Dalam refleksi kali ini, saya tidak akan lagi menulis tentang identitas Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah’ karena saya sudah pernah membahasnya dua tahun yang lalu [silakan cek refleksi saya tertanggal 17 Januari 2021]. Dengan demikian, kita mencoba menjawab pertanyaan kedua. “Mengapa Yohanes tidak mengenal Yesus?”

Kita tahu dari Injil Lukas bahwa Maria dan Elisabet, ibu Yohanes, adalah kerabat dekat, dan Maria bahkan hidup sekitar tiga bulan di tempat Elisabet dan Zakaria, suaminya [Luk 1:39-56]. Kelahiran Yohanes dan Yesus bahkan terkait erat. Kadang-kadang, saya menemukan benda seni rohani yang menggambarkan Yohanes dan Yesus sedang bermain bersama sebagai anak-anak kecil. Tentunya, ini berasal dari imajinasi dan kreativitas para seniman Kristiani. Lalu, mengapa tiba-tiba Yohanes mengatakan ‘dia tidak mengenal Yesus’?

Jawabannya mungkin ditemukan dalam kehidupan awal Yohanes yang dicatat dalam Injil Lukas. Lukas menulis bahwa Yohanes bertumbuh di dalam Roh, dan ia berada di padang gurun sampai hari Yohanes menampakkan diri di depan umum kepada Israel (lihat Luk 1:80). Jadi, Yohanes mungkin mendengar tentang Yesus dari orang tuanya waktu kecil, tetapi kemungkinan besar mereka tidak pernah bertemu secara pribadi karena Yohanes berada di padang gurun sejak ia masih sangat muda. Mengapa di padang gurun? Bagaimana seorang anak kecil bisa bertahan hidup di padang gurun? Sejumlah ahli berpendapat bahwa Yohanes, sejak kecil, masuk ke dalam salah satu komunitas Eseni. Eseni adalah kelompok keagamaan di dalam bangsa Yahudi yang berkembang pada zaman Yohanes, dan mereka terkenal karena ketaatan mereka yang ketat terhadap Hukum Musa. Mereka juga terkenal karena mereka hidup sebagai komunitas di padang gurun, memisahkan diri dari dunia.

Hal menarik lainnya adalah bahwa Yohanes mengatakan bahwa Yesus ‘sudah ada’ sebelum dia. Namun, kita tahu Yohanes lahir lebih awal daripada Yesus. Di sini, Yohanes tidak mengacu pada tanggal lahir kronologis dan usia biologis. Dengan ilham ilahi, Yohanes bersaksi bahwa Yesus telah ada bahkan sebelum dia, dan bahkan sebelum segala sesuatu yang lain ada. Hal ini sesuai dengan prolog Injil keempat (lihat Yoh 1:1-14). Bahkan sebelum Yesus dilahirkan ke dalam dunia dan mengambil kodrat manusia, Ia sudah ada bersama dengan Bapa dan Roh Kudus dalam kekekalan. Yohanes Pembaptis mengakui identitas keilahian Yesus.

Apa yang kita pelajari dari kesaksian Yohanes? Banyak di antara kita yang mungkin hanya tahu sedikit tentang Yesus. Kita mungkin merayakan hari ulang tahun-Nya setiap tahun dan mengenali wajah-Nya (karena kain kafan Turin), dan akrab dengan beberapa kisah dan ajaran-Nya, tetapi kita tidak tahu banyak tentang Dia. Bahkan bagi banyak ahli Kitab Suci dan teolog yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mempelajari kehidupan Yesus, Yesus tetap menjadi misteri. Namun, kita tidak perlu khawatir: bahkan Yohanes, saudara Yesus, tidak tahu banyak tentang Yesus!

Memang benar bahwa Yohanes hanya tahu sedikit sekali tentang Yesus, tetapi apa yang ia kenali adalah hal yang paling penting, yaitu Yesus itu Allah. Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa kita harus berhenti mengenal Yesus, dan cukup percaya bahwa Dia ilahi. Sebaliknya, kita diundang untuk mengenal-Nya dengan lebih baik dan lebih dalam, dan pada saat yang sama, kita tidak boleh melupakan hal yang mendasar: identitas ilahi-Nya. Jika tidak, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam godaan bahwa Yesus adalah segala hal, kecuali ilahi. Dalam studi kita, kita dapat menemukan bahwa Yesus adalah seorang nabi yang hebat, penyembuh yang luar biasa, pengusir setan yang kuat, guru yang benar, tetapi jika kita gagal untuk mengakui keilahian-Nya, semuanya akan sia-sia. Jadikanlah Yohanes teladan kita.

Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emas, Mur dan Kemenyan

Epifani [A]
8 Januari 2023
Matius 2:1-12

Kisah orang Majus memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi kisah petualangan yang luar biasa. Kisah ini dimulai dengan perjalanan panjang dan penuh tantangan orang-orang Majus dari timur yang mencari harta karun yang besar, yaitu Raja yang baru lahir. Ada juga bintang misterius yang membimbing mereka. Kemudian, tokoh antagonis, dalam diri Herodes, muncul. Dia tampaknya seorang pria yang suka menolong dan tulus, tetapi diam-diam menyembunyikan niat jahatnya dan berencana untuk menghancurkan Raja sejati. Kemudian kejutan! Para Majus menemukan sang Raja mereka pada kondisi yang paling tak terduga: bukan di istana, tapi di rumah sederhana, bukan dalam kekayaan, tetapi dari keluar sederhana, bukan raja biasa, tapi Sang Imanuel, Allah-bersama-kita. Kemudian, sebagai penutup, orang-orang Majus berhasil lolos dari raja gila karena mereka diperingatkan dalam mimpi dan kembali ke negara mereka sendiri melalui jalan yang berbeda dan lebih aman.

Matius adalah seorang narator yang jenius, dan mengizinkan kita, para pembacanya, untuk menjadi bagian dari cerita ini. Sebagian besar dari kita bisa dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan orang-orang Majus. Ia juga membiarkan beberapa elemen ceritanya ‘tidak lengkap’ sehingga kita bisa mengisinya dengan interpretasi dan imajinasi kita. Salah satunya adalah tiga persembahan orang Majus. Lalu, mengapa mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur?

Salah satu jawaban paling awal berasal dari St. Irenaeus (sekitar 200 M). Dia mengatakan bahwa tiga persembahan itu mewakili identitas dan misi Kristus. Emas adalah salah satu logam yang paling berharga, dan ini menjadi simbol dari Kristus Sang Raja. Kemenyan berkualitas tinggi juga merupakan sesuatu yang berharga digunakan untuk ritual keagamaan, dan ini menjadi simbol keilahian dan imamat Kristus. Sementara itu, mur adalah rempah-rempah berharga yang digunakan dalam penguburan (lihat Yoh 19:39), dan ini merujuk pada kematian dan kodrat manusia Yesus. St. Thomas Aquinas dari abad ke-13, dalam tafsirannya tentang Injil Matius, menjelaskan bahwa pemberian-pemberian ini memiliki tujuan yang lebih praktis. Emas adalah untuk membantu Keluarga Kudus yang berkekurangan secara finansial. Mur mungkin digunakan untuk menghangatkan tubuh bayi, dan kemenyan untuk menghilangkan bau tidak enak.

Penafsiran lain yang menarik adalah bahwa emas, mur, dan kemenyan adalah bahan yang digunakan dalam alkimia dan sihir kuno. Orang Majus (dari kata ‘magos’ dan akar kata ‘magic’) diyakini terlibat dalam kegiatan sihir, tetapi ketika mereka menemukan Yesus, mereka memutuskan untuk meninggalkan hal-hal ini dan menemukan cara baru dalam hidup mereka. Dengan demikian, karunia-karunia ini melambangkan pertobatan orang Majus kepada iman yang sejati.

Namun, secara pribadi saya cenderung ke arah penafsiran yang paling sederhana. Orang Majus mempersembahkan benda-benda ini karena hal-hal ini adalah benda-benda yang paling berharga yang mereka miliki saat itu. Mereka mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki kepada Raja sejati. Ini adalah sikap yang tepat untuk menghormati sang raja dan juga menyembah Tuhan. Di dalam Alkitab, tindakan penyembahan melibatkan persembahan yang terbaik yang kita miliki kepada Tuhan. Orang Majus menemukan Allah yang benar dan menyembah-Nya. Hal ini mengubah hidup mereka dan membawa sukacita dan keselamatan bagi mereka.

Kisah Epifani menyadarkan kita bahwa umat manusia memiliki tujuan, yaitu untuk menemukan Tuhannya. Kita sangat diberkati karena kita telah menemukan Allah kita. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita ingin menyembah Dia? Apa yang akan kita persembahkan kepada-Nya? Apakah kita bersedia memberikan hal-hal yang paling berharga dalam hidup kita? Apakah kita ingin hidup kita diubahkan? Sampai kita mempersembahkan emas, mur, dan kemenyan kita, itu belum mencapai akhir yang bahagia dan mulia.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Matius dan Injilnya

Minggu Pertama Adven (A)
27 November 2022
Matius 24:37-44

Masa Adven menandai awal tahun liturgi Gereja. Kali ini, kita memasuki tahun Matius (tahun A) karena sebagian besar hari Minggu tahun ini, kita akan mendengarkan dan merenungkan bersama teks-teks dari Injil Matius. Sekarang, karena kita akan berziarah bersama dengan Matius, marilah kita mengenal sang penginjil ini dan Injilnya.

Asal-usul, komposisi dan kepengarangan Injil ini telah menjadi bahan diskusi dan perdebatan yang tak ada habisnya di antara para ahli kitab suci modern. Namun, tradisi panjang Gereja Katolik dengan tegas menyatakan bahwa rasul Matius adalah penulisnya, dan banyak saksi kuno, seperti Santo Irenaeus (sekitar tahun 130-200), Santo Klemens dari Aleksandria (sekitar tahun 150-215) dan Uskup Eusebius dari Kaisarea (sekitar tahun 260 – 340) bersaksi bahwa Matius memang penulisnya.

Karakteristik yang menarik dari Injil Matius adalah karakter Yahudinya. Dipercaya bahwa pembaca asli dari Injil Matius adalah orang-orang Kristen Yahudi mula-mula. Matius banyak mengutip dari Perjanjian Lama (sekitar 60 kutipan). Ia menempatkannya dari awal sampai akhir, dari ‘… mereka akan menyebut-Nya Imanuel’ (Mat 1:23, bdk. Yes 8:10), sampai ‘Eli, Eli lema sebachtani (Mat 27:46, bdk. Mzm 22:1)’. Tidak hanya dari Perjanjian Lama, Matius juga menggunakan tradisi Yahudi pada masa Yesus, seperti tradisi tentang ‘kursi Musa’ (Mat 23:2). Jelas, Matius ingin mengajarkan bahwa Yesus adalah penggenapan janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama. Seorang filsuf dan teolog Katolik, Peter Kreeft, merangkum Injil Matius sebagai ‘Injil dari seorang Yahudi, untuk orang Yahudi tentang Mesias Yahudi’.

Namun, meskipun sangat Yahudi, Matius tetap teguh bahwa Yesus bukan hanya Juruselamat orang Yahudi saja, tetapi untuk semua orang. Hanya dalam Matius, kita memiliki kisah tentang orang-orang Majus, yang menjadi perwakilan bangsa-bangsa, yang datang dan menyembah bayi Yesus (Mat 2). Dalam Matius juga, Yesus memerintahkan para murid, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Dari Israel, untuk dunia.

Karakter lain dari Injil Matius adalah bahwa Injil Matius adalah Injil Gereja. Tentu saja, ketiga Injil lainnya juga untuk Gereja, namun hanya dalam Matius, kata ‘Gereja’ (ἐκκλησία) keluar dari mulut Yesus. Pertama, ketika Yesus akan mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (Mat 16:13-20) dan kedua, ketika Yesus mengajarkan koreksi persaudaraan di antara para anggota Gereja (Mat 18:17). Injil menjadi piagam dasar Gereja kita, Gereja yang didirikan Yesus. Tidak heran mengapa Injil Matius menjadi favorit banyak orang kudus.

Kembali ke kisah hidup Matius, kita tahu bahwa ia adalah seorang mantan pemungut cukai (Mat 9:9-13). Yesus memanggilnya dan ia bangkit, meninggalkan segala sesuatu, dan mengikuti Yesus. Namun, ia tidak benar-benar meninggalkan segalanya. Ia membawa serta kapasitas intelektual dan keahliannya sebagai pemungut cukai dan menggunakannya untuk menulis Injil dan membawa orang lebih dekat kepada Yesus.

Masa Adven mempersiapkan kita untuk kedatangan Yesus, dan undangan adalah apa yang akan kita persembahkan kepada Yesus ketika Dia datang. Jika Matius memberikan hidupnya dan keahliannya dalam menulis kepada Yesus, apa yang akan kita persembahkan kepada Yesus di Masa Adven ini?
Dalam masa Adven ini juga, saya mengundang Anda untuk membaca seluruh Injil Matius. Mari kita habiskan satu pasal untuk setiap hari di Masa ini, sebagai bagian dari latihan rohani kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP