Mengapa Yesus Membenci Perceraian

Minggu ke-27 Masa Biasa
3 Oktober 2021
Markus 10:2-16

Beberapa orang menuduh Gereja ‘kolot’ karena mengajarkan pernikahan Katolik adalah monogami dan tidak terceraikan. Kita dikecam karena tidak peka dan tidak fleksibel terhadap berbagai masalah pernikahan yang mengguncang pasangan dan menuntut perceraian. Gereja Katolik disalahkan atas pernikahan yang tidak bahagia karena kita menolak untuk mendengarkan tuntutan masyarakat pasca-modern.

photocredit: John Appelagate

Namun, banyak yang lupa bahwa perceraian, perzinahan, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga lebih tua dari Yesus dan Gereja yang Dia dirikan. Hal-hal mengerikan ini telah terjadi sejak awal umat manusia. Apa yang ‘kolot’ dan menyebabkan ketidakbahagiaan tidak lain adalah dosa. Ajaran Yesus tentang pernikahan adalah radikal karena Dia melibas berbagai tembok tebal dosa dan kembali ke rencana awal Tuhan.

Ketika orang Farisi menguji Yesus dan mengungkit masalah perceraian. Mereka berharap bahwa Yesus akan berpihak pada pandangan konservatif tentang perceraian atau yang lebih terbuka. Lagi pula, Musa mengizinkan perceraian. Namun, Yesus memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan kebenaran sejati. Dia mencabut izin perceraian yang diberikan Musa. Yesus tahu betul bahwa Musa terpaksa mengeluarkan peraturan itu karena ketegaran hati dan dosa.

Yesus mengingatkan orang-orang Farisi tentang rencana awal Allah bagi pria dan wanita. Dengan mengutip Kitab Kejadian, Yesus mengajarkan bahwa pria dan wanita tidak dapat menemukan kebahagiaan sejati baik dalam ‘binatang’ atau benda, atau dalam memanipulasi pria atau wanita lain. Yesus, sebagai pencipta pernikahan, menegaskan kembali bahwa hanya dengan ‘meninggalkan ayah dan ibu’ dan ‘menjadi satu dengan istrinya’, manusia dapat menjadi satu tubuh yang utuh. Ini adalah bahasa simbolis bahwa pria dan wanita dapat menemukan kebahagiaan sejati dengan memberikan diri mereka sepenuhnya kepada satu sama lain.

Pernikahan monogami adalah institusi ilahi dan manusiawi untuk melindungi dan mendorong pasangan untuk memberikan hidup mereka sepenuhnya dan untuk mencintai secara radikal. Suami diundang untuk menjadi pria yang lebih dewasa, dan berperan sebagai pelindung, penyedia, dan pemimpin. Istri dipanggil untuk lebih mencintai, dan menjadi seseorang yang benar-benar merawat dan mendidik. Saat mereka saling memberi lebih banyak, semakin mereka tumbuh dan semakin mereka menemukan kembali diri mereka sendiri, dan semakin mereka menemukan sukacita.

Dengan pasangan yang lebih dewasa dan penuh kasih, pernikahan menjadi tempat terbaik untuk tumbuh bagi anak-anak kita. Di sinilah mereka diterima, dilindungi, dan dicintai. Di sinilah mereka belajar nilai-nilai terbaik pertama dalam hidup mereka: kasih, kesetiaan, keadilan, komitmen, dan pengorbanan.

Beberapa orang mengatakan bahwa pernikahan semacam ini terlalu rumit dan terlalu sulit untuk menjadi kenyataan. Namun, sejatinya ini adalah simple dan sangat indah. Yang membuat pernikahan menjadi rumit dan sulit adalah dosa. Kekerasan dalam rumah tangga menciptakan luka yang dalam dan traumatis, dan anak-anak kita tumbuh sebagai orang dewasa yang penuh kekerasan. Perzinaan menghancurkan kesetiaan dan kepercayaan, dan membentuk anak-anak menjadi seseorang yang tidak percaya diri. Perceraian melukai hubungan manusia secara permanen, dan membawa anak-anak kita ke dalam kekacauan.

Memang benar bahwa kehidupan pernikahan bisa sangat sulit, tetapi suami dan istri tidak pernah sendirian. Allah yang memanggil mereka ke dalam persekutuan, akan memberikan rahmat yang diperlukan. Dan dengan kasih karunia Tuhan, bahkan cobaan dan kesulitan dalam pernikahan dapat berubah menjadi kesempatan cinta dan pertumbuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Neraka itu Nyata [Begitu juga Surga]

Minggu Biasa ke-26 [B]

26 September 2021

Markus 9:38-43, 45, 47-48

Bagi Yesus, neraka itu nyata. Yesus berbicara tentang neraka tanpa keraguan. Yesus tidak ragu untuk mengatakan apa yang sangat Dia benci: neraka dan apa yang menyebabkan orang pergi ke sana. Seperti orang-orang pada zaman-Nya, Yesus menyebut kenyataan yang paling mengerikan ini sebagai ‘Gehenna’. Kata ‘Gehenna’ sendiri berasal dari Bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti ‘lembah Hinom’. Lembah ini sungguh tempat nyata yang terletak di selatan Yerusalem pada zaman Yesus. Orang-orang Yerusalem dan sekitarnya akan membuang sampah, kotoran dan limbah mereka di sana dan membakarnya. Ini adalah gunung sampah  dimana api terus membara, bau menyengat, asap beracun memenuhi tempat itu, dan barang-barang terus membusuk. Yang lebih menakutkan adalah tempat yang sama untuk penyembahan berhala dan pengorbanan anak di zaman Perjanjian Lama [2 Raj 23:10]. Karena itu, tempat itu dikutuk oleh para nabi [Yer 7:31–32] dan kemudian menjadi lambang tempat terkutuk.

Yesus menggunakan dua simbolisme yang kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”. Beberapa orang mengira kedua hal ini adalah hal-hal yang sungguh terjadi di neraka, tetapi Gereja mengajarkan bahwa gambaran-gambaran ini berbicara sesuatu yang lebih dalam. Ulat adalah hewan yang terutama bertanggung jawab atas pembusukan tubuh. Di dalam kubur, cacing atau ulat hadir untuk mengurai jenasah. Api memang baik dan bermanfaat, tetapi api juga bisa menjadi sumber kehancuran dan sakit. Jika di dalam Gehenna, ulat-ulat ini tidak mati dan api tidak berhenti, ini melambangkan kerusakan dan penderitaan yang tiada akhir.

Yesus membenci neraka karena sangat bertentangan dengan Allah dan rencana-Nya. Jika surga adalah persatuan dengan Tuhan, maka neraka adalah pemisahan dengan Tuhan. Jika ada satu hal yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan adalah dosa. Jadi, tidak heran, Yesus sangat marah dengan orang-orang yang menyebabkan orang lain berdosa dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari neraka, tetapi jika kita dengan sengaja berbuat dosa terhadap Allah, maka kita membuat penyaliban dan kematian-Nya sia-sia.

Yesus menggunakan metafora amputasi untuk menyelamatkan jiwa kita dari dosa. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dosa seperti luka gangren spiritual yang lambat laun akan menyebar ke seluruh tubuh dan menghancurkannya seluruhnya. Ini mungkin dimulai dengan hal-hal kecil, tetapi secara bertahap tumbuh besar. Tindakan drastis harus diambil untuk menyelamatkan nyawa. Kita harus memotongnya sebelum menjadi liar dan tidak dapat disembuhkan. Apa yang membuat dosa ini bahkan keji tidak hanya menyebar ke seluruh jiwa, tetapi juga sangat menular sehingga orang-orang yang imun rohaninya lemah dapat dengan mudah terinfeksi. Tak heran, Yesus malah semakin murka dengan orang-orang yang menyebarkan penyakit rohani ini.

Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu memotongnya dengan pertobatan sejati dan kerendahan hati bahwa kita adalah orang berdosa. Kita lolos dari neraka dengan mengatakan tidak kepada diri kita sendiri setiap hari dan mengatakan ya kepada Tuhan. Kita kembali kepada rahmat Allah dengan memohon belas kasihan Tuhan dan pengampunan-Nya dalam sakramen pengakuan dosa. Kita menyembuhkan luka kita melalui kehidupan doa yang sejati. Kita memulai perjalanan kita ke surga dengan memikul salib kita setiap hari dan dengan mengasihi secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Anak-anak Kecil

Minggu ke-25 Waktu Biasa [B]
19 September 2021
Markus 9:30-37

Di antara banyak ciptaan hidup, bayi manusia adalah yang paling rentan. Setelah dilahirkan, beberapa spesies hewan dapat bertahan hidup sendiri dan bahkan langsung berburu. Bayi manusia yang ditinggalkan sendiri pasti akan mati. Anak kecil tidak hanya bergantung pada orang tuanya, tetapi mereka yang paling rentan terhadap berbagai penyakit. Tanpa gizi seimbang dan pengobatan yang tepat, bayi tidak akan tumbuh menjadi dewasa secara sempurna, melainkan akan mengalami pertumbuhan yang terhambat, mengindap berbagai penyakit, dan bahkan meninggal di usia dini. Menjadi bayi dan anak kecil, itu adalah tahap terlemah dari perkembangan manusia.

photocredit: alex Pasarelu

Tanpa perawatan dan perlindungan yang cukup dari orang dewasa, anak-anak dapat menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai pelecehan. Mereka harus melewatkan pendidikan dan bekerja di tempat-tempat berbahaya tanpa istirahat dan upah yang cukup. Beberapa bahkan diculik dan dijual sebagai budak atau budak seks. Di daerah yang dilanda perang, anak laki-laki direkrut menjadi tentara anak-anak, dan dipaksa untuk melakukan kekejaman dan pembunuhan.

Kita bersyukur bahwa dengan upaya nasional dan global untuk memerangi kekerasan terhadap anak, kita dapat berharap bahwa anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang lebih baik. Sekarang, mari kita kembali ke zaman Yesus. Kita dapat membayangkan bahwa kondisinya jauh lebih buruk bagi anak-anak. Angka kematian bayi sangat tinggi, dan anak-anak dengan pertumbuhan terhambat sangat banyak. Kita juga bisa membayangkan banyak anak kehilangan orang tua mereka lebih awal, karena kelaparan, bencana, dan perang. Banyak yang harus mengangkat pedang dan membunuh atau dibunuh. Yang terburuk di antara semuanya, anak-anak ditangkap dan ditumbalkan untuk dewa-dewa palsu. Ini adalah waktu terburuk untuk hidup bagi anak-anak.

Jadi, sikap Yesus untuk menyambut dan merangkul anak-anak kecil adalah sebuah gerakan revolusioner. Instruksi Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa mereka perlu menerima dan melayani anak-anak dalam nama-Nya adalah radikal. Para murid tidak benar-benar melayani sesama sampai mereka melayani anak-anak kecil, yakni mata rantai terlemah dari masyarakat kita. Yesus sendiri mengerti bagaimana menjadi seorang anak kecil. Dia adalah bagian dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Ia lahir di sebuah gua kotor yang penuh dengan binatang. Dia mengalami menjadi lemah dan rentan di tangan Maria dan Yusuf. Mungkin, Yesus kecil kadang-kadang lapar karena Yusuf mungkin tidak membawa cukup makanan. Mungkin, Yesus harus membantu ayah angkatnya sebagai tukang kayu sejak usia dini. Jadi, Yesus dengan berani mengajarkan bahwa menyambut seorang anak kecil berarti menyambut Dia.

Ajaran radikal ini memiliki implikasi yang besar. Gereja dengan tegas mengajarkan kesucian hidup, dan membela kehidupan anak-anak kecil bahkan yang belum lahir. Mengikuti ajaran Yesus, kita sangat menentang aborsi atau pembunuhan bayi. Sejak awal, kita membangun panti asuhan untuk anak yatim, dan merawat pendidikan mereka. Banyak juga yang terlibat langsung dalam pelacakan dan pengungkapan perdagangan anak. Lebih dari itu, Gereja berusaha keras untuk membentuk dan melindungi keluarga Katolik, dan mempersiapkan pria dan wanita untuk menjadi ayah dan ibu, karena kita percaya keluarga adalah tempat terbaik untuk menyambut anak-anak, dan memastikan pertumbuhan mereka yang baik.

Menerima anak-anak kecil berarti menerima Yesus, dan mengasihi anak-anak kecil ini berarti mengasihi Kristus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuntutan yang Mustahil

Minggu ke-24 Masa Biasa [B]
12 September 2021
Markus 8:27-35

Sekali lagi, kita menjumpai perkataan Yesus yang keras. Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya dan orang-orang lain yang ingin mengikuti-Nya, dan mengatakan setidaknya tiga syarat jika mereka benar-benar berkomitmen kepada-Nya dan misi-Nya. Tiga kondisi ini adalah “sangkallah dirimu, pikul salibmu dan ikutlah Aku!” Persyaratan ini benar-benar menantang dan berat bagi semua murid Yesus dari segala zaman dan tempat. Namun, apa artinya kondisi-kondisi ini bagi para murid pertama Yesus?

Syarat pertama adalah menyangkal diri kita sendiri. Ini berarti mengatakan tidak pada diri kita sendiri, tetapi apa arti ‘menyangkal diri’ bagi Petrus, Yakobus, Yohanes dan mereka yang mendengarkan Yesus untuk pertama kalinya? Jika kita mempertimbangkan konteks sejarah, banyak murid dan pengikut Yesus mengharapkan Dia menjadi Mesias seperti raja Daud, seorang jenderal yang brilian, raja yang dominan secara politik. Yesus akan bergerak melawan pasukan Romawi dan dengan penuh kemenangan menginjak-injak mereka. Namun, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Mesias yang akan menderita dan mati, dan oleh karena itu, mereka yang ingin mengikuti-Nya harus mengatakan tidak pada cita-cita dan harapan yang mereka junjung tinggi, tidak pada alasan awal mereka mencari Yesus.

Syarat kedua adalah memikul salib mereka. Ini biasanya berarti bahwa kita harus setia menanggung berbagai kesulitan dan pengorbanan dalam mengikuti Yesus. Namun, bagi Simon, Andreas, dan murid-murid lainnya, salib tidak memiliki arti lain selain menghadapi salah satu hukuman mati paling mengerikan dalam sejarah manusia. Mereka benar-benar harus mati dengan cara yang mengerikan dalam mengikuti Yesus.

Syarat ketiga adalah mengikuti Yesus. Hal biasa ini berarti bahwa kita tidak hanya percaya kepada Yesus, tetapi kita juga harus hidup sesuai dengan ajaran dan perintah-Nya. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya pada kesempatan lain, “Tetapi orang yang mendengar dan tidak bertindak sama seperti orang yang membangun rumah di atas tanah tanpa dasar [Luk 6:49].” Namun, bagi Matius, Filipus, dan murid-murid pertamanya yang lain, mengikuti Yesus ini berarti secara harfiah berjalan bersama Yesus menuju Yerusalem. Di kota ini, Yesus akan menghadapi otoritas Yahudi dan penjajah Romawi, dan juga pertarungan terakhir-Nya dengan kekuatan kegelapan. Mengikuti Yesus berarti bahwa para murid memulai jalan salib mereka.

Pada dasarnya, Yesus meminta murid-murid-Nya untuk mempersembahkan hidup dan bahkan mati untuk Yesus. Ini adalah permintaan yang gila, namun yang lebih gila lagi adalah murid-murid-Nya benar-benar mengikuti-Nya. Mereka melepaskan gagasan tentang mesias yang salah dan memeluk Yesus sebagai Mesias yang menderita. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan Yesus ke Yerusalem, dan menyaksikan bagaimana Guru mereka disalibkan dan mati. Akhirnya, mereka sendiri memikul salib mereka dan menghadapi kematian yang mengerikan. Simon Petrus dan Andreas dipaku di kayu salib seperti Guru mereka, dan sisanya nasibnya tidak jauh berbeda. Bagaimana ini mungkin?

Jawabannya adalah bahwa meskipun tuntutan Yesus hampir tidak mungkin secara manusiawi, Tuhan memberikan rahmat yang diperlukan untuk memenuhi kondisi ini. Seperti yang Tuhan katakan kepada Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna [2 Kor 12:9].” Tanpa bantuan adikodrati, kemanusiaan kita yang lemah tidak akan mampu. Jika kemudian, para rasul yang mengandalkan rahmat Allah, dapat mempersembahkan hidup bagi Kristus dan mencapai hidup yang kekal, sekarang giliran kita untuk mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam kita sehingga Allah dapat melakukan keajaiban-keajaiban besar di dalam kita, dan akhirnya kita menerima kepenuhan. kehidupan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mukjizat untuk Dunia yang Lebih Baik

Minggu Biasa ke-23 [B]
5 September 2021
Markus 7:30-37

Dalam Injil hari ini, Yesus melakukan mukjizat yang sungguh menakjubkan. Dia menyembuhkan seseorang yang tidak bisa mendengar dan mengalami gangguan berbicara. Jika dibaca sesaat, tampaknya mukjizat ini tidak berbeda dari mukjizat Yesus yang lain, tetapi jika kita melihat lebih dekat ke dalam konteks kisah ini, kita akan menemukan detail-detail yang luar biasa.

photocredit: Aswin

Yesus berhadapan dengan seorang pria yang tidak bisa mendengar atau tunarungu, dan jika dia tidak dapat mendengar suara sejak lahir, dia tentunya tidak akan dapat berbicara juga. Kondisinya diperparah oleh adanya gangguan pada kemampuannya berbicara. Dia tidak bisa berbicara bukan hanya karena dia tidak pernah mendengar sebelumnya, tetapi juga adanya cacat di bagian mulut atau lidahnya yang membuat dia kesulitan untuk membentuk kata. Bisa kita bayangkan penderitaan yang harus dihadapi orang ini.

Detail lainnya yang menarik adalah cara Yesus menyembuhkan orang ini. Yesus tidak melakukan rutinitas seperti biasanya dalam melakukan mukjizat. Dia tidak hanya menyentuh orang yang menderita atau melakukan penyembuhan jarak jauh. Gaya-Nya kali ini agak ‘anti mainstream’. Markus menggambarkan bahwa Yesus meletakkan jari-Nya di dalam telinga sang pria, seolah-olah Dia mencoba membersihkan apa yang menghalangi saluran pendengaran. Dia juga meludahi tangannya, dan meletakkan tangannya yang basah di lidah pria itu, seolah-olah Dia mencoba melunakkan apa yang kering dan membatu. Yesus menengadah ke langit dan mengucapkan ‘Efata!’ – seolah memberi perintah pada berbagai bagian tubuh yang tertutup rapat untuk terbuka. Kemudian, mukjizat yang luar biasa terjadi!

Apa yang terjadi benar-benar luar biasa. Pria itu tidak hanya bisa mendengar, tetapi dia bisa berbicara dengan jelas. Seorang pria yang tidak bisa mendengar sejak lahir akan membutuhkan beberapa waktu untuk belajar berbicara, tetapi mukjizat yang luar biasa adalah bahwa Yesus memberi orang ini karunia bahasa. Yesus tidak hanya menyembuhkan kelemahan dan cacat tubuh, tetapi juga menerangi manusia dengan pengetahuan dan pengertian. Itu adalah mukjizat seluruh paket!

Namun, mukjizat tidak berhenti di situ. Efek dari mukjizat Yesus terpancar selama berabad-abad. Kita mungkin tidak bisa melakukan mukjizat penyembuhan seperti dalam Injil, tetapi kita selalu dapat melakukan mukjizat cinta dan belas kasihan. Sebagai murid Kristus, kita diundang untuk terus membangun tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang terpinggirkan secara khusus, para penyandang disabilitas. Jika kita melihat Alkitab, Gereja perdana juga fokus dengan bagaimana melayani mereka yang paling lemah, dan bagaimana para rasul menunjuk tujuh diakon untuk melayani para janda miskin [Kis 6]. St Yakobus dalam suratnya mengkritisi praktik di beberapa paroki kuno yang memberikan kursi kepada orang kaya dan bukan kepada orang miskin [Yakobus 2:1-5]. Budaya untuk membantu orang miskin dan terpinggirkan, dan bahkan membangun struktur seperti rumah sakit, tempat perlindungan bagi tunawisma, panti asuhan, secara dramatis dimulai dengan Yesus dan Gereja-Nya, dan semangat ini akan berlanjut sampai zaman.

Kita berterima kasih kepada saudara-saudari kita yang terus menjadi mujizat Kristus bagi mereka yang miskin, lemah dan para penyandang disabilitas. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktu dan sumber daya untuk merawat bayi terlantar, yang belajar bahasa isyarat untuk memperkenalkan Kabar Baik kepada orang-orang yang tidak dapat mendengar, dan yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi semua orang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum Allah, Tradisi dan Hati

Minggu Biasa ke-22 [B]
29 Agustus 2021
Markus 7:1-23

Orang-orang Farisi datang untuk menyelidiki Yesus, dan ini bukan hanya orang-orang Farisi dari Galilea yang sering berdebat dengan Yesus. Mereka adalah otoritas Yahudi terkemuka di Yerusalem, dan mereka datang untuk menghakimi Yesus: apakah Yesus adalah seorang Yahudi yang ortodoks atau seorang nabi palsu. Namun, kita mungkin bertanya-tanya siapakah orang-orang Farisi yang sering berdebat dengan Yesus dan murid-murid-Nya? Gerakan Farisi adalah salah satu gerakan dan kelompok keagamaan Yahudi di Palestina abad pertama. Mereka sezaman, meskipun tidak selalu dalam hubungan yang baik, dengan kelompok lain seperti Saduki, Zelot, dan Eseni. Namun, dibandingkan dengan kelompok lain, orang Farisi adalah yang paling populer dan banyak anggotanya adalah orang awam Yahudi.

photocredit: jametlene

Apa yang membuat orang-orang Farisi unik? Kita perlu memahami terlebih dahulu tentang hukum nahir dan najis dalam Perjanjian Lama. Hukum Musa memerintahkan para pria dan wanita yang memasuki tempat suci seperti Bait Allah untuk bersih atau tahir. Sebagai contoh, jika mereka bersentuhan dengan tubuh yang mati, mereka menjadi najis dan tidak diizinkan memasuki tempat suci. Oleh karena itu, mereka diharuskan melakukan ritual pembasuhan dengan air untuk membersihkan kenajisan mereka. Tujuan dari hukum tahir-najis ini bukan tentang moralitas [apa yang benar atau salah], tetapi untuk melatih bangsa Israel untuk menghormati tempat-tempat suci sebagai tempat tinggal Tuhan.

Kontribusi orang-orang Farisi ini adalah mereka bertanggung jawab untuk membawa hukum tahir-najis ini ke dalam konteks rumah tangga dan kehidupan sehari-hari orang Israel. Mereka ingin tahir, tidak hanya di Bait Allah, tetapi juga ketika mereka memasuki rumah mereka, ketika mereka makan dan minum, dan bahkan ketika mereka pergi tidur. Masalahnya adalah Musa tidak pernah memberikan hukum tentang hal-hal ini. Jadi, sebagai solusi, para guru atau rabi mengajarkan dan membuat aturan tentang hal-hal yang tidak ada di Kitab Suci untuk mendukung hidup tahir ini. Akhirnya, aturan-aturan inilah yang disebut sebagai tradisi para penatua.

Kembali kepada Yesus, kita perhatikan bahwa apa yang ditemukan oleh orang-orang Farisi dari Yerusalem adalah Yesus tidak menjalankan tradisi itu. Mereka justru tidak menemukan sedikit pun bukti bahwa Yesus melanggar Hukum Musa. Sungguh, Yesus menggenapi Hukum dengan setia. Yesus kemudian mengkritik orang-orang Farisi karena terlalu fokus pada tradisi dengan mengorbankan Firman Tuhan. Yesus mengingatkan hakekat Taurat yang sebenarnya, yaitu pembentukan hati. Hukum dan tradisi akan menjadi baik jika membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Mereka menjadi batu sandungan ketika mereka merantai kita dan menjauhkan kita dari Tuhan. Tidak ada gunanya jika kita secara seremonial bersih, tetapi hati kita tidak murni dan kotor penuh dosa.

Peringatan Yesus kepada orang Farisi selalu tepat dan relevan bagi kita. Apakah kita menjalankan agama kita hanya sebagai kumpulan tradisi, ritual, dan adat istiadat yang menjauhkan kita dari Tuhan? Apakah kita membaca Firman Tuhan untuk membantu kita memahami dan mengasihi Tuhan lebih baik atau hanya untuk pamer? Apakah kita mengumpulkan gambar, patung dan benda-benda keagamaan lainnya hanya untuk tujuan koleksi, ataukah ini membantu kita untuk memuliakan Tuhan yang telah menyempurnakan ciptaan-Nya? Apakah kita terlibat dalam berbagai pelayanan hanya untuk merasa senang dan dipuji, atau benar-benar melayani saudara-saudari kita yang membutuhkan? Apakah hati kita sungguh untuk Tuhan atau masih terus dipenuhi dengan hal-hal buruk?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman yang Mengagumkan

Minggu ke-21 Waktu Biasa [B]
22 Agustus 2021
Yohanes 6:60-69

Selama lima hari Minggu terakhir, kita telah mendengarkan Yohanes bab 6. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai roti kehidupan, dan tubuh dan darah-Nya adalah makanan sejati untuk hidup yang kekal. Injil hari ini hadir sebagai puncak dari perjalanan kita melalui Yohanes 6, dan Injil dimulai dengan tanggapan dari pendengar Yesus, “Itu adalah perkataan yang keras. Siapa yang sanggup mendengarkannya.”

photocredit: Josh Applegate

Ajaran Yesus kali ini sulit diterima karena bertentangan dengan prinsip dasar agama Yahudi. Bahkan hal ini benar-benar mengejutkan iman Yahudi mereka. Mempersembahkan daging-Nya sendiri sebagai makanan sama menjijikkannya dengan kanibalisme. Memberikan darah-Nya sebagai minuman bahkan merupakan penghujatan karena secara frontal melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan darah [Im 17:10]. Namun, Yesus bergeming.

Pengikut Yesus menghadapi dilema. Mereka telah melihat Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan memberi makan ribuan orang. Banyak dari mereka mengharapkan bahwa Yesus akan menjadi Mesias seperti Raja Daud. Namun, hal-hal tidak berjalan lancar sesuai dengan rencana mereka. Jika mereka menerima Yesus sebagai Mesias, mereka harus menerima perkataan Yesus dan memang memakan tubuh dan darah-Nya. Pada akhirnya, banyak yang tidak dapat menerima ajaran Yesus yang keras dan mungkin, mereka menganggap Dia sebagai orang gila atau bahkan orang yang kerasukan.

Hal yang menarik adalah tidak semua orang meninggalkan Yesus. Petrus, mewakili kedua belas murid, mengatakan bahwa mereka percaya pada kata-kata Yesus. Petrus mungkin tidak berbeda dari orang banyak yang gagal memahami ajaran Yesus yang keras. Namun, Petrus dapat menerima ajaran Yesus yang keras karena ia menerima siapa Yesus, yakni Yang Kudus dari Allah. Mustahil bagi Yesus, Yang Kudus dari Allah untuk berbohong. Apa yang dikatakan Putra Allah yang Ilahi pastilah nyata dan benar, betapapun misteriusnya hal itu. Ini adalah iman Petrus, dan ini harus menjadi iman kita.

Ada banyak aspek kehidupan dan iman kita yang masih menjadi tanda tanya besar bagi kita. Kita mungkin tidak dapat memahami realitas Trinitas. Kita mungkin masih menggaruk-garuk kepala setiap kali seorang imam berbicara tentang dua kodrat Kristus. Kita mungkin masih merasa pusing setiap kali seorang pengkhotbah menjelaskan tentang transubstansiasi. Namun, terlepas dari perkataan keras ini, kita percaya.

Jika kita dapat memiliki iman kepada Yesus terlepas dari perkataan yang sulit, kita dapat memiliki iman yang sama juga meskipun kehidupan yang sulit. Jika kita dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam Ekaristi, kita akan dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam hidup kita, betapa pun sulitnya hidup ini. Di masa Pandemi ini, kita sering bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan masa dan penderitaan yang mengerikan ini. Jika kita tidak memiliki iman Ekaristi, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam keputusasaan. Namun, dengan iman seperti Petrus, kita percaya bahwa Tuhan memegang kendali, dan Dia memiliki rencana yang besar bagi kita. Kita mungkin tidak mengerti arti dari penderitaan yang kita alami, tetapi kita tahu bahwa itu akan masuk akal suatu hari nanti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ibu Kita di Surga

Hari Raya Asumsi [B]

15 Agustus 2021

Lukas 1:39-56

Selain ibu saya, Bunda Maria adalah perempuan pertama dan paling penting dalam hidup saya. Saya mengenalnya sangat awal dalam hidup, dan devosi saya terus tumbuh sejak saat itu. Ketika saya pindah ke Filipina untuk formasi Dominikan, saya menyaksikan devosi yang hidup dan membara dari orang-orang Filipina terhadap Bunda kita, namun pada saat yang sama, saya juga merasakan serangan yang ganas terhadap sang Bunda. Bagaimana mungkin orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Yesus berani menyerang ibu-Nya? Bagi saya, itu tidak terpikirkan! Biasanya, tuduhan yang sering saya dengar adalah, “Mengapa berdoa kepada Maria? Mengapa begitu menghormatinya seolah-olah dia adalah tuhan?” Jelas bagi kita, umat Katolik, bahwa Maria layak mendapat kehormatan besar karena perannya dalam misteri keselamatan, tetapi juga jelas bagi kita bahwa dia adalah seorang manusia.

Pada awalnya saya ingin membelanya habis-habisan, namun ketika saya membawa ini dalam doa, saya bertanya kepada Bunda Maria, apa yang akan dia lakukan terhadap mereka yang menyerang dan mengejeknya? Dia menjawab, “Saya terus berdoa dan mengasihi mereka. Mereka juga anak-anakku.” Jawabannya membuka mata, dan saya mulai memasuki dialog dengan mereka untuk memahami alasan di balik kebencian mereka terhadap Maria. Salah satu alasan yang saya temukan adalah bahwa bagi mereka, iman pada dasarnya adalah “tentang Yesus dan saya.” Yesus adalah penyelamat dan Tuhan pribadi saya, dan hanya Dia saja sudah cukup. Maria dan orang-orang kudus lainnya adalah penghalang, Gereja dan sakramen tidak diperlukan, dan tradisi adalah beban yang tidak perlu. Ini adalah iman saja [sola fide] yang paling murni.

Saya setuju bahwa iman harus murni, tetapi tidak individualistis. Saya percaya kepada Yesus sebagai penyelamat pribadi saya, tetapi Dia juga memanggil kita ke dalam persekutuan orang-orang kudus. Jika kita meneliti Alkitab, Tuhan memanggil orang-orang dalam konteks keluarga: Adam dan Hawa, Nuh dan keluarganya, Abraham dan Sarah, Israel dan anak-anaknya, Musa bersama Harun dan Mariam, dan Daud dengan keluarganya. Sebenarnya, kata kunci ‘perjanjian’ yang menyatukan seluruh Alkitab berarti sumpah agung untuk membangun sebuah ikatan keluarga. Yesus sendiri memanggil kedua belas murid untuk menjadi figur bapa dalam kerajaan-Nya, yakni keluarga Allah.

Jika Tuhan memanggil kita ke dalam sebuah keluarga, kita tidak sendirian dalam perjalanan menuju Yesus ini. Kita memiliki saudara dan saudari di surga yang mendukung kita, dan membantu kita dengan cara yang luar biasa. Kita juga memiliki saudara dan saudari di bumi ini, dan merupakan tanggung jawab kita untuk mendukung dan membimbing mereka dalam perjalanan ini. Dogma Maria diangkat ke surga menyatakan bahwa, kita bukan hanya realitas duniawi, tetapi bagian dari keluarga surgawi, dan kabar yang menggembirakan adalah bahwa kita memiliki ibu yang baik di surga.

Saat Maria mengantisipasi kebutuhan pasangan di Kana bahkan sebelum mereka menyadarinya, Maria menjadi perantara bagi kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Saat Maria dengan setia mengikuti Putranya di bumi, Maria dengan setia menemani kita dalam perjalanan duniawi kita. Saat Maria berdiri kokoh di samping salib Putranya, Maria juga berdiri di samping kita dalam pencobaan hidup ini.

Bunda Maria, doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa St. Dominikus

Hari Raya St. Dominikus de Guzman

8 Agustus 2021

Mat 28:16-20

Hari ini, keluarga Dominikan merayakan hari raya St. Dominikus de Guzman, pendiri dan bapak Ordo Pewarta. Perayaan tahun ini sangat khusus karena kita juga memperingati 800 tahun wafatnya Dominikus. Ini adalah ‘Dies Natalis’, hari kelahirannya di surga. Dan 800 tahun sejak kematian St. Dominikus, Ordo yang ia dirikan semakin kuat dan muda.

Ordo Pewarta mungkin bukan kongregasi terbesar di Gereja Katolik, [kita hanya memiliki sekitar enam ribu saudara], tetapi tentu saja, kita terus diberkati dengan panggilan-panggilan baru. Di Indonesia sendiri, kita memiliki banyak frater-frater dalam formasi. Di Filipina, rumah formasi Dominikan dipadati oleh frater-frater.

Apa alasan di balik pertumbuhan ini? Tentu saja, ada banyak alasan yang bisa dikemukakan, namun saya dapat menyodorkan satu alasan: doa St. Dominikus sendiri. Di saat kematiannya, St Dominikus berjanji kepada saudara-saudaranya, “Jangan menangis, karena saya akan lebih berguna bagimu setelah kematian saya dan saya akan membantumu di sana lebih baik daripada selama saya hidup.” [kata-katanya ini bahkan dikutip dalam KGK 956]

Doa-doanya terbukti berfaidah. Ordonya telah menjadi bagian sejarah panjang dunia dan Gereja, dan tidak semuanya baik. Ordo juga ambil bagian dari beberapa peristiwa kelam dan memori yang menyakitkan. Bahkan, ada kalanya Ordo tampak runtuh karena bebannya sendiri atau terpecah menjadi faksi-faksi yang lebih kecil. Namun, Ordo dapat mengatasinya. Saya percaya bahwa penjelasannya tidak dapat dijelaskan dengan kekuatan manusia saja. Ini adalah belas kasihan Tuhan dan cinta Dominikus yang besar bagi saudara-saudaranya.

Yang sungguh menakjubkan bahwa St. Dominikus tidak sendirian. Dia berdoa bersama dengan orang-orang kudus Dominikan lainnya, seperti St Thomas Aquinas, St Martin de Porres, St Katarina dari Siena, dan banyak Dominikan yang telah masuk surga. Setiap hari, doa-doa mereka semakin kuat dan riuh, karena semakin banyak orang suci bergabung dengan paduan suara mereka ini.

Ordo Pewarta adalah sebuah keluarga dan komunitas, dan yang menakjubkan adalah bahwa anggotanya tidak terbatas pada mereka yang ada di bumi, tetapi juga mereka yang di surga. Saudara-saudari kita di surga melakukan hal-hal yang lebih menakjubkan lagi bagi kita. Saya mungkin sendirian di sini saat saya memberi renungan, tetapi anggota keluarga surgawi saya mendukung dan menyemangati saya. Saya mungkin sendirian dalam waktu belajar, tetapi para kudus Dominikan berada di garis depan dalam membimbing saya. Surat Ibrani berbicara tentang awan para saksi surgawi yang mengelilingi kita [Ibr 12:1], dan sebagai anggota Ordo, saya mengenal beberapa di antara mereka. Kita mungkin kecil, tapi kekuatan kita bukan hanya di dunia ini. Bahkan, pekerjaan yang lebih besar dilakukan di surga demi Ordo, Gereja dan keselamatan jiwa.

Banyak dari kita mungkin bukan anggota Ordo Dominikan, tetapi kita adalah bagian dari keluarga Allah yang lebih besar, Gereja. Ordo St. Dominikus hanya sebuah cerminan dari Gereja Kristus. Kita memiliki satu Bapa di surga, dan tidak ada sukacita yang lebih besar bagi seorang ayah kecuali melihat anak-anaknya saling membantu dan mengasihi. Selama kita membantu dan mengasihi saudara-saudara kita di bumi ini, tidak lupa kita bersyukur kepada saudara-saudara kita di surga yang senantiasa mengasihi dan mendukung kita, sampai kita bertemu di surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Makanan untuk Kehidupan Kekal

Minggu Biasa ke-18 [B]

1 Agustus 2021

Yohanes 6:24-35

Banyak orang mencari Yesus karena mereka ingin makan roti lebih banyak, mereka berharap perut mereka kenyang. Namun, Yesus mengingatkan mereka agar mereka tidak mencari makanan yang dapat binasa, melainkan makanan yang bertahan untuk hidup yang kekal. Sayangnya, mereka gagal untuk paham. Mereka mengira makanan yang Yesus beri seperti manna Perjanjian Lama yang terus-menerus diberikan kepada orang Israel di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka mengira bahwa akan ada roti bagi mereka setiap hari secara cuma-cuma. Perut mereka selalu terisi dan mereka selalu dijauhkan dari penderitaan. Namun, ini bukanlah roti yang Yesus tawarkan.

photocredit: ian dooley

Kembali ke Perjanjian Lama, kita mendengarkan kisah orang Israel yang mengeluh karena lapar. Namun, hanya beberapa jam sebelumnya, mereka baru saja menyaksikan bagaimana Tuhan melalui Musa membelah laut merah dan menghancurkan kekuatan besar Mesir. Mereka tahu betul bagaimana Tuhan membuat orang Mesir bertekuk lutut dengan 10 tulah. Namun, ketika perut mereka kosong, mereka melupakan semua ini, dan menuntut kembali ke tanah perbudakan. Mereka bahkan menuduh Tuhan merencanakan kematian mereka di padang gurun. Dalam hal naluri bertahan hidup, orang Israel terlalu bersemangat untuk memilih perbudakan, daripada tetap setia kepada Tuhan kemerdekaan.

Yesus mengingatkan kita bahwa hidup ini lebih dari sekadar mengisi perut kita. Memang, makan dan memelihara tubuh kita adalah hal yang sangat penting, tetapi bahkan makanan fisik ini juga berasal dari pemeliharaan Tuhan. Seringkali, kita terlalu sibuk mencari roti duniawi dalam berbagai bentuknya, karier yang sukses, pengaruh politik, ketenaran, dan kekayaan. Kami mencari hal-hal ini sampai kami bersedia kembali ke perbudakan dosa, dan meninggalkan Tuhan kebebasan.

Saat pandemi ini, kita mungkin menemukan diri kita berada di posisi orang Israel. Beberapa dari kita lapar karena kita baru saja kehilangan stabilitas ekonomi kita. Beberapa dari kita sedang berjuang melawan penyakit. Beberapa dari kita kehilangan anggota keluarga tercinta. Beberapa dari kita tidak dapat melakukan apa yang dulu suka dilakukan. Beberapa dari kita tidak dapat pergi ke Gereja dan melakukan pelayanan kita. Dalam kebutuhan yang mendesak ini, kita menghadapi godaan untuk mengeluh kepada Tuhan. Kita mungkin kecewa dan marah kepada Tuhan. Kita lebih siap untuk meninggalkan Tuhan. Kita dengan mudah melupakan perbuatan-perbuatan besar yang Tuhan telah lakukan dalam hidup kita. Seperti nenek moyang kita, orang Israel, kita tenggelam dalam penderitaan kita, dan menyalahkan Tuhan atas kemalangan kita. Kita melupakan Tuhan kita yang membiarkan penderitaan ini adalah Tuhan yang mengendalikan kekuatan alam.

Mari kita belajar dari orang-orang kudus. Ignatius dari Loyola adalah salah satu contoh yang sangat baik. Dia dulunya adalah seorang pria yang haus akan kemuliaan duniawi. Bahkan, dia mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuktikan kegagahannya dalam mempertahankan benteng Pamplona. Namun, ketika kakinya terluka parah, dan menjadi pincang secara permanen, ambisinya hancur. Namun, pada saat yang sama, dia membaca kehidupan Kristus dan orang-orang kudus, dan dia menyadari bahwa kemuliaan yang lebih besar yang tidak dapat ditawarkan dunia. Jalan keagungan yang sebenarnya adalah bekerja untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar. Dia meninggalkan segalanya dan bekerja untuk makanan yang tidak akan binasa. Akhirnya, dia berakhir sebagai santo.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP