Minggu Pantekosta [A]
31 Mei 2020
Yohanes 20: 19-23
“Selamat ulang tahun!” Hari ini adalah hari raya Pentekosta, dan hari ini adalah kelahiran Gereja. Kita harus bersukacita karena Gereja kita bertambah dalam usia, tetapi semakin kuat, bijaksana dan kreatif dalam memberitakan Kabar Baik. Namun, pertanyaannya adalah mengapa kita merayakan ulang tahun Gereja pada hari Minggu Pentekosta?
Untuk menjawab ini, kita perlu memahami makna alkitabiah dari perayaan Pentekosta dan apa yang terjadi pada para murid pada saat Roh Kudus turun ke atas mereka. Kata Pentekosta berarti “yang kelima puluh”, dan hari raya Pentekosta terjadi pada hari kelima puluh setelah Minggu Paskah. Namun, pesta Gereja itu sendiri pada awalnya adalah sebuah festival keagamaan Yahudi: Hari Raya Shavuot atau Hari Raya Tujuh Minggu. Perayaan itu berlangsung tujuh minggu setelah perayaan akbar Paskah. Bersama-sama dengan Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah perayaan perziarahan utama yang mengharuskan setiap pria Yahudi untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem. Awalnya, ini adalah perayaan agrikultural. Orang-orang Israel bersyukur atas panen yang berhasil dan mempersembahkan hasil panen mereka kepada Tuhan. Namun, itu juga memiliki makna religius. Dalam perayaan Shavuot, orang Israel memperingati pemberian Hukum dan pembuatan perjanjian dengan Tuhan Allah di Gunung Sinai.
Ini menjelaskan mengapa banyak orang dari berbagai bangsa berkumpul di sekitar tempat para murid: mereka adalah peziarah Pentekosta. Perayaan ini juga menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang identitas Roh Kudus: Mengapa Roh Kudus harus menampakkan diri-Nya sebagai api, dan tidak dengan citra yang lain seperti merpati? Jika kita kembali ke peristiwa di gunung Sinai itu sendiri, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Ketika Allah membuat perjanjian-Nya dan menyerahkan Hukum-Nya, Dia menampakkan diri-Nya kepada seluruh Israel sebagai api [lihat Kel 19:18]. Roh Kudus hadir dalam api hanya karena Dia adalah Allah yang sama yang memanifestasikan diri-Nya di Sinai. Hari Minggu Pentekosta mengungkapkan kebenaran mendasar tentang Roh Kudus bahwa Parakletos yang dijanjikan itu adalah Tuhan.
Di Sinai, orang Israel menerima Hukum dan masuk ke dalam perjanjian dengan Tuhan. Allah menjadikan mereka “kerajaan imamat dan bangsa yang kudus [lihat Kel 19: 6]. Bangsa Israel menjadi bangsa yang kepemilikan Tuhan. Dalam Pentekosta yang baru, Roh Kudus turun ke atas para murid dan menanamkan dalam diri mereka Hukum Cinta Kasih yang Baru. Dia membentuk mereka untuk menjadi Umat Allah yang baru [lihat Pet 2: 9]. Komunitas baru keluarga Allah telah lahir hari ini!
Namun, umat Allah baru ini bahkan lebih besar. Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Pentekosta membalikkan efek negatif dari menara Babel [lihat Kejadian 11: 1-9]. Ketika orang-orang begitu bangga pada diri mereka sendiri dan berusaha menjadi seperti Tuhan dengan kekuatan mereka, berbagai bahasa berubah menjadi kutukan yang memecah belah mereka. Namun, dengan Roh Kudus yang mengubah hati dan menanamkan kerendahan hati, bahasa menjadi berkat yang menyatukan orang-orang yang berbeda.
Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah melahirkan Gereja. Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah memanggil kita untuk menjadi bagian dari umat Allah yang baru.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa adalah bagian mendasar dari kehidupan Yesus. Dia berdoa secara teratur, dan terutama ketika Dia bersiap untuk merangkul peristiwa-peristiwa yang menentukan, seperti Pembaptisan di Sungai Yordan [Lukas 3:21], pemilihan kedua belas rasul [Lukas 6:12], transfigurasi [Lukas 9:28], dan jalan salib-Nya [Mat 26:36-44]. Namun, kita jarang mendengar apa yang Yesus katakan dalam doa-doanya. Dalam Injil Sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] kita cukup beruntung mendengar doa Yesus yang pendek dan emosional di Taman Getsemani sebelum Dia memasuki sengsara-Nya. Namun, penginjil Yohanes memastikan bahwa kita akan menemukan apa yang Yesus doakan dan hal ini jauh lebih panjang daripada yang pernah kita dengar sebelumnya.
Dalam perjamuan terakhir, Yesus berjanji kepada murid-murid bahwa Ia akan mengirim penolong yang lain untuk bersama mereka selamanya. Siapa penolong yang lain ini?
Kita telah menutup gereja-gereja kita untuk pelayanan publik untuk beberapa minggu sekarang. Kita beralih ke misa livestreaming, dan kita belajar untuk menyesuaikan diri dan mengutamakan kesehatan dan kehidupan kita. Tetapi, kita menyadari bahwa hati kita tetap gelisah. Kita ingin melihat Yesus dalam Sakramen Mahakudus, kita berhasrat untuk menerima-Nya dalam Ekaristi, kita ingin melayani-Nya di paroki dan komunitas, dan kita kehilangan sakramen pengakuan dosa. Kita tidak yakin kapan akan berakhir dan kembali normal.
Hari ini adalah hari Minggu Paskah keempat dan secara tradisional juga disebut sebagai Minggu Gembala yang Baik. Bacaan Injil berbicara tentang Yesus yang memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu gerbang domba dan juga Gembala yang Baik. Mazmur tanggapan diambil dari mazmur 23 yang menyatakan bahwa “Tuhanlah gembalaku.” St. Petrus dalam Suratnya mengatakan bahwa kita adalah domba-Nya yang hilang, tetapi sekarang telah kembali kepada Yesus sang Gembala [lih. 1 Pet 2:25].
Hari Minggu Paskah kedua juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ditetapkan pada tahun 2000 oleh St. Yohanes Paulus II yang memiliki devosi khusus kepada kerahiman Ilahi yang diwahyukan kepada St. Faustina. Meskipun perayaan liturgi ini sendiri adalah sesuatu yang baru, kebenaran akan kerahiman Ilahi adalah sesuatu yang mendasar dalam Alkitab dan Tradisi Suci. Jika ada satu karakter Allah yang paling penting, ini tidak lain adalah kerahiman-Nya. Dalam Perjanjian Lama, setidaknya ada dua kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai kerahiman. Yang satu adalah rāḥam dan yang lainnya adalah ḥeṣedh.
Hari ini adalah hari kebangkitan Yesus. Hari ini adalah hari Yesus mengalahkan dosa dan maut. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Tidak mengherankan di antara perayaan liturgi Gereja, Paskah adalah yang termegah, terpanjang dan paling spektakuler. Inilah saatnya gereja dibanjiri oleh umat beriman. Inilah saatnya umat paroki terlibat dalam banyak kegiatan, persiapan, dan pelayanan. Inilah saatnya keluarga berkumpul dan merayakan. Inilah saatnya para imam menerima lebih banyak berkat!
Jika ada satu hal yang menyatukan orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan agama, ini adalah penderitaan. Dengan coronavirus yang menyebar sangat cepat, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, muda dan tua, kaya dan miskin, dan bangsawan dan rakyat jelata, dan awam dan klerus jatuh tersungkur dan gemetar. Memang, virus mikroskopis ini telah meluluh lantahkan kehidupan banyak orang. Orang-orang sakit kerah, rumah sakit kewalahan, kota-kota terisolasi, keluarga-keluarga terpisah, pekerja-pekerja menganggur, pemerintah-pemerintah tak berdaya, dan gereja-gereja kosong. Penderitaan memaksa kita untuk mengakui kelemahan manusiawi kita dan semua yang kita banggakan, ternyata hampa.
Di antara lima indra manusia, indra peraba [sentuhan] adalah yang paling dasar dan fondasi bagi indra yang lainnya. Indra penglihatan perlu bersentuhan dengan spektrum cahaya. Indra perasa perlu bersentuhan dengan bahan kimia dalam makanan. Indra pendengaran harus menerima getaran suara di udara. Sentuhan menjadikan kita manusia, makhluk yang bertubuh. Tidak mengheran jika banyak pengalaman traumatis [bahkan masalah mental] berakar pada sentuhan yang kurang diterima atau tidak seharusnya diterima.