Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kembali ke Hati

Minggu Biasa ke-6 [A]

16 Februari 2020

Matius 5: 17-37

heart 1Yesus dituduh tidak setia dengan Hukum Musa dan tradisi. Dia tidak lagi meminta murid-murid-Nya untuk melakukan ritual pembasuhan, dan banyak tradisi lain [Mat 15: 2]. Yesus menyembuhkan orang bahkan pada hari Sabat [Markus 3: 1-6]. Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal [Markus 7:19]. Dan yang paling parah adalah ketika Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk minum darah-Nya [lihat Im 17:14; Mat 26: 27-28]. Apakah Yesus melanggar dan mengubah Hukum Musa?

Hari ini, Yesus membuat pernyataan tegas terhadap para penuduh-Nya, “Jangan mengira bahwa aku datang untuk menghapuskan Taurat, tetapi untuk menggenapinya.” Pertanyaan sekarang adalah bagaimana Yesus menggenapi Hukum Taurat? Jawaban Yesus sederhana: dengan kembali ke rencana Allah yang paling awal, atau dengan kembali ke essensi. Namun, untuk kembali ke esensi, Yesus harus membongkar banyak tambahan-tambahan yang tidak perlu yang melekat pada Hukum Allah yang paling dasar. Yesus harus menghilangkan banyak hal yang tidak penting. Namun, di sisi lain, Dia juga meletakan hal-hal essensi ini pada standar yang lebih tinggi.

Logika dasarnya adalah: sebelum kita mengesampingkan hal yang tidak penting, kita perlu tahu dulu apa yang esensial itu. Bagi Yesus, apa yang penting dan rencana awal Allah? Membaca Kitab Suci dengan cermat, kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan ingin kita berbagi kehidupan dan kebahagiaan ilahi-Nya. Untuk berbagi hidup ini, pria dan wanita harus memberikan hati mereka sepenuhnya kepada Tuhan. Dan, Yesus mengerti bahwa untuk memberikan hati kita bagi Tuhan, kita perlu memurnikan hati kita ini. “… karena dari hati datang segala yang jahat … [Mar 7:21]” dan “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah [Mat 5: 8].” Tidak heran, dalam Injil hari ini, untuk memenuhi Hukum Taurat, kita perlu memurnikan hati kita dari semua emosi dan pikiran negatif. Kita harus membersihkan hati kita dari kemarahan, kebencian, dan pembalasan yang berkepanjangan, karena hal-hal ini akan melahirkan kekerasan dan kejahatan yang lebih buruk. Kita akan membersihkan hati kita dari nafsu karena itu hanya mengarah pada amoralitas seksual. Bahkan Yesus membenci perceraian karena itu adalah hasil dari kekerasan hati kita.

Suatu ketika, ketika saya masih seorang frater di Manila, saya berkesempatan mendengarkan sharing dari beberapa orang yang telah menjadi korban pelecehan sexual. Di sana saya bertemu Rio [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri ketika dia berusia sekitar 10 tahun. Insiden itu membuatnya sangat trauma, ia tumbuh dengan berbagai masalah, dan situasinya membuatnya putus asa. Dia pernah berusaha bunuh diri, tetapi untungnya, teman-temannya datang untuk menyelamatkannya. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika dia mendengar ayahnya terserang stroke dan membuatnya lumpuh, dia memutuskan untuk pulang dan merawat ayahnya. Saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya kembali dan memaafkan ayahnya? Dia mengatakan bahwa itu benar-benar sulit karena kemarahan dan kebencian, tetapi dia menyadari bahwa dia harus memaafkan ayahnya bukan karena ayahnya memintanya, tetapi karena dia ingin mendapatkan kedamaian hati. Sekarang, dia kembali untuk memurnikan hatinya dengan kasih pengorbanan terhadap ayahnya.

Apakah kita mau menyingkirkan hal-hal yang tidak essensi di hati kita? Apakah kita bersedia mempersembahkan hati kita kepada Tuhan? Apakah hati kita sungguh murni untuk dipersembahkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Garam Kristus

Minggu Kelima dalam Waktu Biasa [A]

9 Februari 2020

Matius 5: 13-16

salt making 2Membaca dengan teliti, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah mungkin jika garam kehilangan rasa asinnya?” Dalam pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menemukan garam yang hambar. Namun, ketika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan terkejut bahwa garam yang kehilangan rasanya adalah kenyataan sehari-hari. Di Israel kuno, orang-orang akan pergi ke Laut Mati, laut yang memiliki kadar garam paling tinggi di bumi, dan mengambil bongkahan-bongkahan garam yang terbentuk di sekitar danau. Kemudian, mereka akan dimasukkan ke dalam kantong kecil, seperti kantong teh, dan ketika dibutuhkan untuk bumbu, kantong itu akan dicelupkan ke dalam air atau sup. Setelah digunakan berulang-ulang, garam akan kehilangan rasa asinnya karena kandungan kimia yang tidak sempurna. Bongkahan garam pun berubah menjadi batu biasa, dan akan dibuang dan diinjak-injak.

Garam adalah bumbu yang sangat penting, tetapi karena jumlahnya sedikit, kita tidak menghiraukannya. Ketika saya masih di seminari menengah, salah satu pantang Prapaskah di seminari adalah makan makanan yang dimasak tanpa garam. Rasanya benar-benar ngak enak. Saya memaksakan diri untuk menelan makanan, tetapi itu hanya membuat saya merasa ingin muntah. Saya tidak pernah berpikir bahwa makanan tanpa garam hampir tidak bisa dimakan.

Bagi banyak dari kita, garam hanyalah bumbu yang biasa saja. Namun, bagi sebagian orang, garam berarti hidup dan mati. Dari waktu ke waktu, kita mengalami diare. Penyakit itu sendiri sebenarnya mudah diobati, tetapi jika tidak cepat ditangani, hal ini bisa mematikan karena menyebabkan orang mengalami dehidrasi parah. Salah satu cara tradisional untuk mengobatinya adalah “oralit” atau larutan rehidrasi oral. Ini adalah minum air dalam jumlah yang tepat dengan tambahan gula dan garam. Bagaimana garam kecil menyelamatkan nyawa orang!

Namun, kita perlu mengingat bahwa garam adalah bumbu dan bukan menu utama. Seseorang tidak dapat bertahan hidup hanya dengan garam saja. Terlalu banyak garam dalam tubuh kita akan menyebabkan tekanan darah tinggi, dan tekanan darah tinggi bisa berakibat fatal bagi banyak organ tubuh kita. Yesus menyebut kita “garam” karena kita dipanggil untuk memberikan citarasa yang pas pada sang Roti Kehidupan. Ketika saya masih belajar di Manila, saya diperkenalkan dengan salah satu sarapan favorit orang Filipina, “pan de sal.” Ini adalah bahasa Spanyol untuk “roti garam” karena sedikit garam ditambahkan ke tahap akhir pembuatan adonan roti ini. Bentuk rotinya sederhana, namun enak dan gurih, dan membuat orang ketagihan.

Seperti garam di Pan de Sal, misi kita sebagai umat Kristiani adalah membawa Yesus kepada orang lain dan menjadikan orang lebih merindukan Yesus. Ini adalah pekerjaan yang sulit karena hidup dan tindakan kita harus pas, tidak terlalu asin, dan tidak hambar. Semakin kita menarik perhatian pada diri kita sendiri, semakin banyak orang akan merasa “terlalu asin.” Namun, tanpa melakukan upaya kita, Kristus akan tampak “hambar.”

Setiap kali kita pergi ke Misa, kita menerima Tubuh Kristus dalam bentuk roti putih, kecil, dan tanpa rasa, sebuah hosti. Mengapa tidak berasa? Karena saat kita pulang, kita perlu menjadi rasa bagi Roti hidup ini. Jadi, bukan lagi kita, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita (lihat Gal 2:20).

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Tua Ideal Yesus 

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

2 Februari 2020

Lukas 2: 22-40

presentation 1Jika kita diberi kesempatan untuk memilih orang tua kita sendiri, orang tua ideal seperti apa yang akan menjadi pilihan kita? Mungkin, beberapa akan lebih suka orang tua miliarder, supaya hidup terjamin, mendapatkan Pendidikan terbaik, dan masa depan cerah. Mungkin sebagian dari kita ingin menjadi anak-anak raja. Jadi, memiliki darah ningrat, dan orang-orang memanggil kita sebagai pangeran, puteri atau bangsawan. Mungkin kita ingin dilahirkan dari megabintang Korea, karena kita ingin menjadi yang tercantik atau paling tampan.

Namun, jika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada Tuhan, apa yang akan menjadi pilihan-Nya? Pilihannya jelas, Yusuf dan Maria. Tapi kenapa? Yusuf dan Maria tidak kaya, dan bahkan miskin. Mereka hanya mampu membeli burung merpati, persembahan orang miskin. Memang, Yusuf adalah keturunan raja Daud, tetapi dalam kenyataannya, ia adalah seorang tukang kayu sederhana dari desa yang tidak dikenal, Nazareth. Saya tetap percaya bahwa Yusuf itu tampan dan Maria cantik! Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kekayaan, ketenaran, dan kecantikan fisik sebagai kriteria Allah bagi orang tua-Nya. Jadi, apa?

Jika kita melihat lebih dekat Injil hari ini dan beberapa ayat lainnya, kita dapat menemukan karakter terbaik dari Yusuf dan Maria sebagai pasangan dan orang tua adalah cinta dan iman mereka kepada Tuhan. Maria dan Yusuf mengetahui dengan baik Hukum Allah dan mereka dengan setia mematuhi Hukum-Nya.

Pesta hari ini secara tradisional disebut sebagai Yesus dipersembahkan di Bait Allah [Presentation]. Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Suci. Mengapa Yusuf dan Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci? Karena mereka sadar akan Hukum Taurat bahwa setiap anak sulung akan dikuduskan bagi Tuhan karena mereka adalah milik Tuhan [lihat Kel 13: 2]. Hari ini juga disebut pesta Pemurnian Maria [Purification of Mary]. Dia dimurnikan bukan karena dia berdosa, tetapi karena menurut Hukum Musa, setiap wanita yang melahirkan akan menjadi “tidak bersih” secara ritual atau tidak layak untuk penyembahan, dan dia harus menjalani 40 hari periode pemurnian, dan pada hari ke-40, dia mempersembahkan korban kepada imam [Im 12: 1-8].

Yesus tidak peduli dengan kondisi ekonomi, status sosial, atau penampilan fisik orang tua-Nya. Yesus mencari apakah orang tua-Nya benar-benar mencintai Allah, apakah orang tua-Nya tahu dan mematuhi hukum Allah, dan apakah orang tua-Nya memiliki iman kepada Allah. Mengapa karakteristik ini penting bagi orang tua Yesus? Karena Yesus memahami warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah iman, karena uang hanya dapat memberi Anda keamanan dalam kehidupan ini, tetapi iman akan membawa kita ke surga.

Tugas utama orang tua bukan hanya menyediakan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, tidak hanya mengirim anak-anak mereka ke sekolah, dan tidak hanya membawa mereka ke dokter ketika mereka sakit, tetapi terutama berjalan bersama mereka ke surga. Seperti Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Allah, maka kita juga mempersembahkan anak-anak kita kepada Allah.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerajaan Allah

Minggu Ketiga pada Masa Biasa [A]

26 Januari 2020

Matius 4: 12-17

giving waterSetelah penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Yesus meninggalkan Nazaret, kampung halamannya, dan pindah ke kota yang lebih ramai dan lebih besar, Kapernaum. Sebenarnya, Yesus melakukan urbanisasi. Langkah strategis Yesus ini tentu saja untuk mendukung misi-Nya. Dengan populasi yang padat dan dengan akses yang lebih baik ke kota-kota lain, Yesus dapat melayani lebih banyak orang dengan cara yang lebih efisien.

Namun, pergerakan Yesus dari Nazareth ke Kapernaum bukan hanya tentang strategi marketing. Yesus menggenapi nubuat Yesaya. “Tanah Zebulon dan negeri Naphtali … orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar …” Banyak dari kita tidak tahu apa itu Zebulon dan Naphtali, dan kita cenderung melewati ayat-ayat ini. Namun, untuk orang Yahudi abad pertama, nubuat ini sangat penting karena Allah akan mengumpulkan dua belas suku Israel yang hilang, dan membangun kembali Kerajaan Israel.

Mari kita lihat kembali ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Tuhan berjanji bahwa takhta Daud akan bertahan selamanya, namun setelah masa pemerintahan Salomon, putra Daud, kerajaan Daud terjadi perang saudara dan terpecah menjadi dua. Setelah beberapa ratus tahun, kedua kerajaan ini, satu per satu, dihancurkan oleh musuh. Kedua belas suku Israel itu tersebar di antara bangsa-bangsa lain. Di antara suku-suku Israel, hanya Yehuda dan Benyamin yang dapat kembali ke tanah Israel, sementara sisanya hilang. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus tahu betul bahwa salah satu misi Mesias yang dinantikan adalah memulihkan Kerajaan dan mengumpulkan suku-suku Yehuda yang hilang.

Yesus, sang Mesias, memang datang untuk memenuhi harapan ini, dan tidak heran jika hal pertama yang Dia lakukan adalah memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan ini disebut sebagai Kerajaan Allah karena Kerajaan ini dijanjikan oleh Allah, dibangun oleh Allah, dan diperintah oleh Allah. Ini adalah kerajaan Daud yang dipulihkan, dan jauh lebih besar dari kerajaan Daud yang pertama.

Namun, ada perbedaan mendasar antara kerajaan Daud dan Yesus. Kerajaan Daud didirikan untuk memerangi musuh-musuh Israel. Kerajaannya dipenuhi bangsawan, jenderal, dan tentara. Kerajaan yang diwarnai oleh persaingan politik, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan. Akhirnya, tidak ada bedanya dengan kerajaan lain di dunia. Sama seperti serial TV “Game of Thrones”. Dan seperti kerajaan duniawi lainnya, kerajaan Daud pasti akan hancur juga.

Kerajaan Allah pada dasarnya pergi ke arah yang berlawanan. Itu adalah Kerajaan yang dibangun di atas iman kepada Allah, pelayanan dan kasih bagi orang lain, bahkan sampai pada titik pengorbanan. Ketika kita dibaptiskan, kita menjadi anggota Kerajaan ini, dan pada kenyataannya, kita diubah menjadi anak-anak Allah, memanggil Dia sebagai Bapa kita. Namun, meskipun pewaris Kerajaan, kita bukan pangeran, raja atau jenderal. Kita adalah pelayan bagi sesama. Semakin tinggi posisi kita di Kerajaan, semakin banyak kasih dan pelayanan yang akan kita berikan. Itulah sebabnya para romo tidak memiliki istri, karena mereka sibuk melayani orang-orang! Tidak heran St. Yohanes dari Salib akan berkata, “di masa senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita atas dasar harta duniawi dan keberhasilan manusia, tetapi lebih pada seberapa besar kita telah mengasihi.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Mengabaikan Yesus

Minggu Kedua dari Masa Biasa [A]

19 Januari 2020

Yohanes 1: 29-34

joseph marie lagrangeKita memulai masa biasa pada tahun liturgi ini. Di Gereja Katolik, kita memiliki tiga siklus tahun liturgi: A, B, dan C. Di setiap tahun, kita memiliki serangkaian bacaan yang berbeda. Pada tahun A, bacaan Injil terutama dari Injil Matius, sementara tahun B dari Markus dan tahun C dari Lukas. Injil Yohanes tidak memiliki tahun yang khusus, tetapi bacaan dari Yohanes tersebar di sepanjang tahun, terutama di masa Paskah.

Bacaan pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama dan secara tematis terkait dengan bacaan Injil. Sementara bacaan kedua berasal dari surat-surat para rasul seperti St. Petrus, St. Yohanes dan surat kepada orang-orang Ibrani, namun mayoritas bacaan kedua berasal dari surat-surat St. Paul. Bacaan kedua memiliki urutannya sendiri dan tidak harus secara tematis terkait dengan Injil. Alasan di balik mengapa kita memiliki pengaturan liturgi semacam ini adalah untuk membantu kita untuk membaca Kitab Suci bersama dengan Gereja. Jika kita dengan setia menghadiri misa setiap hari Minggu, atau bahkan setiap hari, dan memperhatikan bacaan, kita akan memiliki pemahaman umum yang baik tentang Kitab Suci dan khususnya kehidupan dan karya Yesus.

Namun, tidak semua Alkitab ada dalam tahun liturgi ini. Jika kita pergi setiap hari untuk berpartisipasi dalam Ekaristi selama tiga tahun, kita hanya mendengarkan sekitar 30 persen dari Alkitab. Kita masih memiliki 70 persen untuk menyelesaikan Alkitab! Karena itu, sangat disarankan agar kita mengambil inisiatif untuk membaca Alkitab sendiri. Tiga hingga empat bab sehari, dan semoga, dalam waktu satu tahun, kita dapat membaca seluruh Alkitab.

Salah satu “penyakit berat” yang menjakiti umat Katolik dewasa ini adalah ketidaktahuan akan Kitab Suci. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang Katolik apakah mereka memiliki Alkitab, mereka dengan mantab menjawab bahwa mereka memiliki Alkitab, dan pada kenyataannya, mereka memiliki lebih dari satu Alkitab di rumah. Namun, ketika saya menanyakan apakah mereka membaca Alkitab secara teratur, hanya sedikit yang akan menjawab dengan yakin.

Tugas membaca Alkitab semakin sulit di zaman kita karena generasi muda atau genarasi milenial dan generasi Z, meskipun berpendidikan tinggi, lebih suka bermain gadget elektronik daripada membaca buku. Ya, sekarang mudah untuk menginstal Alkitab di ponsel kita, tetapi meluangkan waktu untuk membacanya adalah hal lain. Dengan begitu banyak aplikasi lain yang bersaing dalam perangkat genggam kita, membaca Firman Tuhan dengan mudah dikesampingkan, dan bahkan kadang-kadang kita lupa ada Kitab Suci di HP kita.

St. Heronimus mengingatkan kita bahwa mengabaikan Kitab Suci adalah sama saja dengan mengabaikan Kristus. Memang, sangat mudah untuk mengatakan “Aku cinta Yesus”, tetapi dalam kenyataannya, kita mengabaikan Dia karena kita tidak pernah membaca atau mendengarkan dengan penuh perhatian Kitab Suci. Santo Paulus di awal surat pertamanya kepada jemaat Korintus mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk orang-orang kudus. Dan kekudusan bagi Paulus tidak lain adalah hidup di dalam Kristus, tetapi bagaimana kita dapat hidup di dalam Kristus, jika kita tidak mengenal Kristus, lebih buruk mengabaikannya? Membaca Alkitab setiap hari dapat menjadi tindakan sederhana namun konkret untuk mengasihi Yesus, dan pada kenyataannya, jalan menuju kekudusan saat kita menjadi semakin mirip Kristus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yesus Harus Dibaptis

Pembaptisan Tuhan [A] – 12 Januari 2020 – Mat 3: 13-17

baptism of the lordSatu pertanyaan yang selalu membingungkan para pembaca Kitab Suci adalah mengapa Yesus harus dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang dibaptiskan oleh Yohanes harus terlebih dahulu mengakui keberdosaan dan ketidaklayakan mereka, dan baptisan air menjadi tanda nyata berpaling dari dosa dan memulai kehidupan yang baru dan lebih baik. Namun, kita semua tahu bahwa Yesus tidak berdosa [lih. Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Apakah ini berarti Yesus berdosa? Apakah Yohanes Pembaptis lebih besar dari Yesus?

Injil Matius telah menunjukkan dengan jelas bahwa Yohanes Pembaptis tidak layak untuk membaptiskan Yesus dan ialah membutuhkan baptisan Yesus. Namun, Yesus sendiri yang bersikeras untuk dibaptiskan oleh Yohanes. Mengapa? Yesus memberi tahu Yohanes, “untuk menggenapi semua kebenaran.” Kata-kata Yesus ini tentu sulit untuk dipahami, dan banyak teolog muncul dengan tafsiran yang berbeda untuk memahami tindakan dan kata-kata Yesus dalam baptisan ini.

 St Agustinus dari Hippo, salah seorang Bapa Gereja terbesar, mengatakan kepada kita dalam khotbahnya, “Juruselamat ingin dibaptis bukan agar Dia sendiri dapat dibersihkan, tetapi untuk menyucikan air bagi kita.” Santo Agustinus menunjuk kepada kita bahwa Yesus memasuki air untuk mempersiapkan sakramen baptis sehingga setiap orang yang dibaptis dalam nama Tritunggal akan menerima rahmat pengampunan dan kehidupan baru. Sementara itu Katekismus Gereja Katolik mencatat bahwa penyerahan Yesus kepada baptisan Yohanes adalah tindakan pengosongan diri [CCC 1224].

Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI telah mengungkap beberapa yang menarik dalam bukunya, Jesus of Nazareth, bahwa Yesus menerapkan kata “baptisan” juga untuk Sengsara, Kematian, dan Kebangkitan-Nya [lihat Mrk 10:38; Luk 12:50]. Dari sini, kita menemukan bahwa keinginan Yesus untuk dibaptiskan oleh Yohanes karena pembaptisan Yesus menjadi tindakan simbolis dari Salib-Nya. Sebagaimana Yesus perlu dibaptis, maka Ia perlu melalui penderitaan dan kematian untuk mencapai kebangkitan dan membawa keselamatan bagi semua. Dari saat pembaptisan di sungai Yordan, Yesus telah menginjakkan kaki menuju Kalvari.

Jadi, apa arti semua diskusi alkitabiah dan teologis bagi kita? Semakin dalam kita mengerti arti Pembaptisan Tuhan, kita juga akan semakin dalam mengerti arti pembaptisan kita juga. Jika baptisan berarti jalan Salib-Nya, maka kita semua yang telah dibaptis, baik saat bayi atau dewasa, akan ambil bagian dalam salib Yesus. Kita beruntung bahwa kita hidup dengan nyaman sebagai umat Kristiani, tetapi bagi banyak orang, menjadi umat Kristiani berarti mengalami diskriminasi, penganiayaan, dan bahkan kematian. Ini mungkin mengejutkan, tetapi umat Kristiani tetap menjadi orang yang paling teraniaya di dunia. Bagi kita yang lebih beruntung, kita dapat memanifestasikan baptisan kita dengan hidup secara otentik sebagai murid Kristus: menjadi jujur ​​meskipun ada kemungkinan kehilangan keuntungan duniawi, untuk terus mengasihi di tengah banyak penderitaan, dan untuk menjadi rendah hati ​​meskipun hidup tanpa ketenaran.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perziarahan Sejati

Hari Raya Epiphani – 5 Januari 2020 – Matius 2:1-12

three magi 2Perjalanan tiga orang bijak dari Timur menjadi symbol dari kerinduan terdalam manusia untuk kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Balthazar, Melchior dan Gaspar, sebagaimana tradisi menyebut mereka, bukanlah orang Yahudi ataupun Kristiani. Dalam naskah kuno Yunani dari Injil, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan mereka adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis’ atau ‘penyihir’, dan melakukan magis/sihir adalah kejahatan di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33:6). Meskipun kita tidak bisa memastikan apakah mereka sungguh penyihir apa bukan, satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda-tanda zaman dan mengikuti sang bintang. Karena itu, mereka sering dituduh sebagai astrolog, pembaca bintang untuk memprediksi perilaku manusia dan masa depan, hal yang dilarang banyak agama, tapi saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya adalah astronom. Seperti pelaut yang menatap bintang-bintang dan berharap bahwa bintang-bintang ini akan membimbing mereka pulang, orang majus ini juga melihat bintang dan percaya bahwa mereka akan berjalan di jalan yang benar.

Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai “bangsa-bangsa lain” atau “kafir”, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, dan orang-orang yang dipercaya akan binasa karena mereka jauh dari Hukum Allah. Namun, Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap mereka yang dengan tulus mencari Dia. Sungguh, tiga majus ini menjadi salah satu dari antara orang-orang pertama kepada siapa Allah memilih untuk menampakan diri-Nya, dan bersama-sama dengan mereka adalah para gembala sederhana. Anehnya, orang-orang istimewa ini bukanlah orang Yahudi yang terpelajar, bangsawan kaya raya ataupun Raja Herodes yang agung.

Perjalanan dari orang-orang bijak secara tepat bisa kita dianggap sebagai sebuah perziarahan karena mereka memiliki Tuhan sebagai tujuan akhir mereka. Ini bukanlah sekedar piknik untuk menyegarkan diri sendiri. Ini bukanlah wisata pendidikan untuk menambah pengetahuan. Tentunya, ini bukanlah perjalanan bisnis untuk membuat mereka kaya. Injil menyatakan bahwa mereka mencari “Raja orang Yahudi yang baru lahir” dan berniat untuk memberi penghormatan. Namun, mengapa mereka harus memberikan hormat kepada bayi yang lemah ini sementara ada banyak raja-raja yang lebih berkuasa di sekitar mereka? Hal ini karena mereka sadar bahwa Raja ini bukanlah seorang panglima perang maupun politisi yang haus akan kekuasaan, tapi Raja yang akan memenuhi keinginan hati: sebuah kepenuhan hidup dan kebijaksanaan sejati. Mereka memang mencari Allah dan ini membuat mereka benar-benar bijaksana.

Jauh di dalam lubuk hati kita, selalu ada kerinduan untuk kebahagiaan sejati dan kepenuhan yang sempurna. Namun, kita sering seperti Herodes Agung yang mengunci dirinya sendiri di dalam istana buatan manusia karena kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri, dalam kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Hal ini hanya membawa kita pada kekosongan dan frustasi. Perziarahan tiga orang bijak dari timur harus menjadi perziarahan kita juga. Tiga orang majus ini memberi kita contoh otentik dengan melihat jawabannya tidak dalam diri kita sendiri tetapi hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita dapat menemukan sukacita kita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukan Keluarga Sempurna

Pesta Keluarga Kudus –  29 Desember 2019 – Matius 2: 13-23

holy family 2Jika kita diberi pilihan untuk memilih orang tua kita, orang tua seperti apa yang kita inginkan? Mungkin, sebagian dari kita ingin memiliki orang tua yang kaya. Beberapa dari kita mungkin berhasrat untuk memiliki orang tua yang berupa cantik, tampan atau berotak jenius. Beberapa dari kita mungkin ingin dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan berpengaruh secara politis. Ini adalah impian-impian kita yang sangat wajar. Namun, yang mengejutkan, ini bukanlah pilihan yang Allah buat ketika Dia memilih orang tua-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya yang indah, Allah memilih Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Yusuf adalah keturunan Raja Daud yang terkenal, tetapi Kerajaan Daud sudah tidak ada di zaman Yusuf. Dia juga seorang tukang kayu dan meskipun bekerja keras, profesi ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Maria adalah seorang wanita muda biasa dari desa yang tidak dikenal bernama Nazareth. Yusuf dan Maria adalah orang sederhana, bahkan orang miskin yang hidup di masa ketika sebagian besar orang Israel menderita karena penindasan kekaisaran Romawi. Di mata dunia, pasangan ini bukan apa-apa.

Namun, Tuhan kita adalah Tuhan memberi kejutan, dan Dia memiliki hobi untuk mengacaukan “tatanan dunia yang mapan.” Bagi Tuhan, kriteria penting untuk menjadi orang tua-Nya bukanlah kekayaan, popularitas, atau darah. Tuhan tidak membutuhkan hal-hal ini. Jadi, apa dasar dari pilihan-Nya?

Kriteria mendasar adalah iman kepada Tuhan. Yusuf dan Maria tidak memiliki apa pun di dunia ini, tetapi keduanya adalah pria dan wanita beriman, atau pria dan wanita Allah. Yusuf disebut sebagai “orang yang tulus hati,” yang berarti dia adalah orang yang mengenal Hukum Taurat dan menaati mereka dengan setia. Yusuf mencintai Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Terlebih lagi, ketika Gabriel menampakkan diri kepada Yusuf dan mengungkapkan rencana Tuhan, Yusuf segera bangkit dan mengikuti instruksi Malaikat tanpa ada pertanyaan. Maria pada dasarnya melakukan hal yang sama. Ketika Gabriel memberi tahu dia tentang rencana Tuhan bahwa dia akan menjadi ibu Tuhan, Maria tidak mengerti, tetapi dia tidak hanya memberikan persetujuannya, tetapi dia menerima rancangan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Yusuf dan Maria tahu betul bahwa saat mereka mengambil bagian dalam jalan Tuhan, mereka harus menyerahkan rencana, impian, dan harapan mereka sendiri. Namun, iman mereka lebih besar daripada ketakutan atau kesombongan mereka, dan mereka percaya bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan terbaik, meski mereka tidak mengerti. Ini adalah tipe orang tua yang Tuhan pilih.

Seperti Yusuf dan Maria, saya percaya bahwa sikap pertama yang harus dimiliki setiap orang tua adalah iman kepada Tuhan. Setiap anak adalah karunia, namun karunia ini akan mengubah orang tua yang menerimanya. Ketika seorang anak memasuki kehidupan orang tua mereka, suami dan istri juga akan memasuki kehidupan pengorbanan. Terkadang, saya sedih mendengar keputusan beberapa pasangan Katolik yang menolak untuk memiliki anak. Kita memahami bahwa tentunya sulit untuk membesarkan anak-anak, tetapi penolakan kita untuk menerima karunia dari Tuhan mungkin menunjukkan kurangnya iman kita, bahkan keegoisan kita, obsesi kita terhadap rencana, karier, dan ambisi kita.

Tuhan tidak membutuhkan pasangan yang sempurna untuk membesarkan Putranya, Ia lebih memilih seorang pria dan wanita yang memiliki iman.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keindahan Natal

Vigili Natal –  24 Desember 2019 – Lukas 2: 1-14

nativity scene 2Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Namun, jika kita kembali ke zamannya Yusuf dan Mary, ke Palestina abad pertama, kita akan menemukan kesederhanaan Natal ini memiliki maknanya sangat dalam. Kemungkinan besar, Yusuf dan Mary tidak beristirahat di kandang, tetapi di dalam gua batu karena ini adalah hal umum yang ditemukan di Bethlehem yang terletak daerah pegunungan Yudea. Di dalam gua batu itu hangat dan terkadang cukup luas, sehingga para gembala menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman dan hangat untuk domba-domba mereka di malam hari. Palungan yang disediakan untuk domba bukan terbuat dari kayu, tetapi batu. Kadang-kadang, kita melihat Bayi Yesus telanjang dada di palungan, tetapi St. Lukas menggambarkan bahwa Yesus dibungkus dengan lampin. Ini adalah hal wajar bahwa bayi yang baru lahir akan dibersihkan, dan kemudian dibalut oleh kain untuk menjaga bayi tetap hangat, terlindungi dan nyaman.

Kita menemukan bahwa Yesus dilahirkan di sebuah gua batu, dibaringkan pada palungan batu dan terbungkus kain. Tiga hal ini menunjuk pada peristiwa yang lebih besar dalam kehidupan Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya. Kita ingat setelah penyaliban, tubuhnya ditutupi kain, dimasukkan ke dalam makam batu, dan diletakkan di atas batu besar. Namun, kuburan batu dimana Yesus dimakamkan adalah makam yang sama tempat Yesus bangkit dari kematian. Sejak awal kehidupan Yesus di bumi ini, misi-Nya telah dinubuatkan.

Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa. Yesus ditempatkan di palungan, dan palungan tidak lain adalah tempat untuk memberi makan hewan. Sejak awal, Yesus sudah persembahkan kepada kita sebagai makanan yang akan memuaskan mereka yang datang kepada-Nya. Lalu, “jenis makanan” apa Yesus itu? Bukan kebetulan bahwa Yesus lahir di Bethlehem. Kata Bethlehem berasal dari dua kata Ibrani: “Beth” yang berarti “rumah” dan “Lehem” yang berarti “roti”; dengan demikian, Bethlehem adalah rumah roti. Yesus diberikan kepada kita sebagai roti, dan memang, Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti hidup [Yoh 6:35]. Menarik juga untuk bertanya mengapa para gembala adalah orang pertama yang diundang untuk melihat Yesus. Salah satu jawaban yang menarik adalah bahwa para gembala adalah orang pertama yang menyadari kelahiran seekor anak domba. Dengan datangnya para gembala, Bayi Yesus yang kudus ini adalah anak domba yang baru lahir. Tak salah jika Yesus akan disebut sebagai Anak Domba Allah [Yohanes 1:29]. Di Israel kuno, domba juga merupakan hewan kurban utama di Bait Allah. Bayi Yesus datang untuk memberi makan kita, dan Dia datang sebagai roti hidup dan korban yang menyelamatkan kita.

Meskipun baik untuk merayakan Natal dengan liburan atau perayaan meriah, cara terbaik untuk merayakan Natal tidak lain adalah dengan merayakan Ekaristi dimana Yesus telah memberikan diri seutuhnya kepada kita manusia. Bersama-sama kita merenungkan kesederhanaan dan kerendahan hati Allah yang datang kepada kita sebagai bayi, dan untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas. Inilah keindahan Natal, yang dipilih Tuhan untuk mencintai kita sampai akhir.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP