Selamat Hari Ibu!

Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah [1 Januari 2019] Lukas 2: 16-21

mary and jesus - javanese 2Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja menempatkan Hari Raya Maria, Bunda Allah pada tanggal 1 Januari, atau pada Tahun Baru. Orang mungkin berpikir bahwa Gereja ingin kita menghadiri misa pada hari pertama tahun baru ini. Bagi mereka yang ingin memiliki liburan panjang, ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi bagi sebagian dari kita yang ingin diberkati sepanjang tahun, itu adalah ide yang bagus. Namun, pasti ada sesuatu yang lebih dalam mengapa tanggal 1 Januari.

Salah satu alasan adalah bahwa Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan tahun yang baru berlalu dengan rasa syukur, ketika kita mengingat berkat-berkat yang telah kita terima, dan dengan demikian, kita dapat melihat ke depan dengan iman dan harapan. Dalam Injil, Maria digambarkan sebagai seseorang yang selalu menyimpan hal-hal di hatinya dan merenungkannya (lihat Luk 2:19). Seperti Maria, kita diminta untuk berhenti sebentar pada hari penting tahun ini dan merenungkan karya Tuhan dalam hidup kita.

Alasan lain yang saya pikir lebih mendasar adalah bahwa sudah sepantutnya untuk mengakhiri oktaf Natal dengan Perayaan Maria Bunda Allah. “Oktaf” berarti delapan, dan dalam liturgi Gereja, itu berarti delapan hari perayaan memperingati momen besar di Gereja seperti Paskah dan Natal. Seperti oktaf Natal dimulai dari tanggal 25 Desember hingga 1 Januari. Jika pada hari Natal, kita merayakan kelahiran Yesus, pada hari terakhir oktaf, kita memperingati perempuan yang melahirkan Yesus. Tanpa seorang ibu yang menerima bayi di dalam rahimnya, mengandung bayinya selama sembilan bulan, dan mempertaruhkan hidupnya saat melahirkan, seorang bayi tidak akan dilahirkan. Singkatnya, tanpa Maria, tidak akan ada Yesus.

Menjadi seorang ibu adalah bagian alami dari menjadi seorang perempuan, namun meskipun alami, ini tetap merupakan proses yang sangat sulit bagi seorang perempuan. Saya bukan seorang perempuan, tetapi saya dapat mengatakan bahwa ini adalah hidup penuh pengorbanan. Kenapa? Karena untuk merawat dan membesarkan Diakon Bayu menyebabkan banyak tekanan darah tinggi! Memang benar bahwa tidak semua ibu sempurna. Beberapa memiliki kelemahan dan kesalahan, tetapi fakta bahwa seorang ibu telah memutuskan untuk melahirkan anaknya, ia telah mempertaruhkan nyawanya bagi sang anak.

Sekarang jika menjadi ibu dari seorang manusia adalah luar biasa sulit, bagaimana dengan menjadi Bunda Allah? Kita bisa belajar dari Maria sendiri. Dia hamil di luar nikah, dan orang-orang bisa saja merajam dia sampai mati. Dia melahirkan Yesus di kandang yang kotor tanpa bantuan medis professional, dan ini sangat berbahaya. Dia membesarkan Yesus yang seringkali Dia tidak mengerti tingkah laku Yesus. Pada akhirnya, dia akan menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana putra satu-satunya dihina, disiksa, dan disalibkan. Betapa pengalaman yang menyakitkan untuk mengubur anaknya sendiri! Nubuat Simeon bahwa pedang akan menembus jiwa Maria menjadi kenyataan (lihat Luk 2:35).

Memang, Maria paling diberkati di antara para wanita, bahkan di antara semua manusia, tetapi walaupun diberkati ini tidak berarti hidupnya menjadi mudah. Justru sebaliknya! St. Teresa dari Avila pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia memberikan begitu banyak penderitaan kepada orang-orang kudus-Nya. Tuhan menjawab bahwa itu adalah cara-Nya memperlakukan sahabat-sahabat-Nya. Kemudian, St Teresa menjawab, “Itulah sebabnya Tuhan tidak memiliki banyak sahabat!”

Menjadi seorang ibu adalah berkat, tetapi berkat Tuhan tidak berarti hidup yang mudah. Berkat Tuhan yang sesungguhnya adalah kesempatan dan kemampuan untuk mengasihi lebih dalam. Mengasihi terlepas dari tantangan dan cobaan hidup, untuk memberi bahkan saat kita tidak punya, dan  berkorban saat kita tidak siap. Pada Tahun Baru ini, kita merayakan Maria sebagai seorang ibu, dan juga keibuan setiap perempuan. Itu adalah Hari Ibu di Gereja. Kita berdoa untuk setiap ibu agar mereka diberkati dengan rahmat cinta kasih, dan kita juga berkati dengan rahmat yang sama di tahun baru ini.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Yusuf

Pesta Keluarga Kudus [30 Desember 2018] Lukas 2: 41-52

St.-JosephMinggu ini, kita merayakan pesta Keluarga Kudus Nazareth. Peristiwa terakhir dalam Alkitab yang menghadirkan Keluarga Kudus adalah ketika Yesus ditemukan di Bait Allah. Setelah peristiwa ini, Yusuf tidak lagi muncul dalam Alkitab, dan menurut tradisi, ia meninggal bahkan sebelum ia dapat melihat Yesus mewartakan Injil. Karena ini adalah episode terakhir di mana Yusuf terlibat dalam narasi, kita akan merenungkan Injil hari ini dan belajar dari St. Yusuf.

Dalam Injil hari ini, kita menemukan kesalahan fatal dari Yusuf dan Maria. Mereka membiarkan Yesus hilang! Sebuah kecerobohan! Namun, apakah Yusuf dan Maria benar-benar ceroboh? Melihat lebih dalam konteks mereka, kecerobohan bukanlah jawabannya. Ketika Yusuf dan Maria pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, mereka tidak pergi sendiri, tetapi bersama sanak saudara dari Nazareth. Bepergian bersama mungkin memperlambat mereka, tetapi memberi perlindungan dari perampok dan menjaga ketersediaan makanan. Tanggung jawab merawat anak-anak juga dibagi di antara orang-orang dewasa. Lagi pula, Yesus berusia dua belas tahun dan cukup besar untuk merawat anggota kelompok yang lebih muda. Tentunya, ini bukan kecerobohan, tetapi kepercayaan yang diberikan kepada Yesus yang memungkinkan Yesus untuk tetap tinggal di Yerusalem. Sebagai orang tua yang berdedikasi, Yusuf dan Maria kembali ke Yerusalem dan mencari Yesus dengan cemas. Mencari seorang anak laki-laki di ibu kota Yerusalem yang besar sama halnya seperti menemukan jarum di gunung jerami, tetapi, akhirnya, mereka berhasil menemukan-Nya: Yesus ada di tengah-tengah para guru Hukum Taurat di Bait Allah, berdiskusi dan memberi jawaban yang sangat cerdas.

Ketika Maria bertanya kepada Yesus mengapa Dia tidak pulang bersama mereka, jawaban Yesus sangat membingungkan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lk. 2:49) Maria tidak mengerti dengan jawaban-Nya, dan sang Bunda merenungkan semua hal ini di dalam hatinya. Tetapi, bagaimana dengan Yusuf, ayah angkat Yesus? Apa yang akan menjadi reaksi dan perasaannya ketika dia mendengar, “… Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Apakah Yusuf akan menghukum Yesus karena Dia tidak menghormati orang tua-Nya? Apakah dia akan marah setelah Yesus pergi tanpa izin? Akankah Yusuf memungkiri Yesus setelah Yesus tampaknya menolak memanggilnya sebagai seorang ayah?

Meskipun, sulit untuk menentukan karena Yusuf adalah pria yang pendiam, saya yakin Yusuf tidak akan melakukan hal-hal yang kejam ini karena dia adalah orang yang cinta damai. Ketika Yusuf tahu Maria hamil di luar nikah, ia bisa saja melempar batu pertama. Namun, ia memilih belas kasihan dan menyelamatkan Maria dari dendam pembalasan. Karena dia berbelas kasih kepada Maria, maka dia akan berbelas kasih kepada Yesus. Namun, beranjak dari reaksi awal ini, saya percaya bahwa Yusuf bersyukur dan bangga dengan Yesus. Namun, mengapa dia harus bersyukur dan bangga? Kita ingat bahwa Yusuf digambarkan sebagai orang “tulus hati” atau dalam bahasa Yunani, “diatheke”. Dia adalah orang benar bukan hanya karena dia tahu dengan baik Hukum Allah, dan menaatinya, tetapi karena dia sangat mencintai Allah. Salah satu tugas dasar seorang ayah Yahudi adalah mengajar anak-anaknya untuk belajar dan mencintai Hukum Allah. Jadi, Jika Yesus mampu menjawab para guru, salah satu alasan mendasar adalah karena Yusuf telah mengajar-Nya dengan baik. Selain itu, Yesus lebih memilih untuk terlibat dengan urusan Bapa-Nya. Ini berarti Yusuf tidak hanya mengajarkan kepada Yesus teknis dari Hukum Taurat, tetapi pada dasarnya, untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

St. Yusuf menjadi contoh bagi setiap pria, terutama bagaimana membesarkan anak-anak. Tugas pertama dan terpenting dari setiap ayah adalah membawa anak-anak mereka kepada Tuhan dan mengajar mereka untuk mencintai Tuhan, dan untuk mengasihi sesama demi Tuhan. Dan bagaimana cara melakukannya? Seperti St. Yusuf, kita perlu mengajar anak-anak kita dengan memberi contoh dan kesaksian hidup.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Ibu

Hari Minggu Keempat Adven [23 Desember 2018] Lukas 1: 46-56

“Berbahagialah Anda yang percaya bahwa apa yang diucapkan kepada Anda oleh Tuhan akan digenapi.” (Luk 1:45)

The Visitation - Mary and Elizabeth meet - Luke 1:39-45Injil hari ini benar-benar indah. Kita memiliki dua protagonis. Mereka adalah wanita, dan mereka berdua sedang hamil. Siapa mereka? Maria dan Elizabeth. Namun, mengapa cerita mereka indah? Tentunya, wajar bagi wanita untuk hamil. Hanya dengan melihat lebih dekat kisah mereka berdua, kita baru bisa melihat keindahan sejati dari kisah mereka.

Pertama adalah Maria. Dia masih muda, dan pada saat yang sama, dia juga hamil tanpa suami. St Yosef memang suami Maria, tetapi ia bukan bapak bayi yang dikandung oleh Maria. Mungkin, di zaman kita, jika seorang wanita hamil tanpa suami, ini adalah peristiwa yang tidak tidak baik, tetapi hidup terus berlanjut bagi sang wanita dan anak. Namun, jika kita kembali ke zaman di saat Maria hidup, wanita yang hamil di luar nikah akan menjadi aib besar bagi keluarga dan komunitasnya. Dia akan diusir dari komunitas, dan kadang-kadang, dia juga akan dirajam sampai mati. Maria memahami bahwa ketika dia menerima kehendak Allah, untuk menjadi bunda Yesus, dia sebenarnya menghadapi kematian.

Kedua adalah Elizabeth. Dia bersuami, jadi tidak ada yang akan merajam dia, tetapi situasinya juga sulit. Dia terlalu tua untuk hamil. Saya pernah bertanya kepada teman dokter, mengapa hamil diusia tua cukup beresiko? Ia mengatakan bahwa ketika kita semakin tua, tubuh dan otot kita juga semakin lemah. Dengan otot yang lebih lemah, seorang ibu akan mengalami kesulitan saat proses melahirkan, dan ini bisa sangat berbahaya bagi bayi dan ibu. Saya kemudian bertanya, mengapa tidak operasi caesar? Ia mengatakan bahwa itu juga sulit dilakukan. Ketika kita semakin tua, jantung kita melemah. Jika kita menjalani operasi dengan jantung yang tidak kuat, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak akan pernah bangun lagi. Seperti Maria, Elizabet juga menghadapi kematian.

Jika Maria dan Elizabeth tahu bahwa itu berbahaya dan bahkan mematikan untuk hamil, mengapa mereka masih mengikuti kehendak Tuhan?

Jawabannya adalah atas nama Elizabeth dan suaminya, Zakharia. Zakharia berasal dari kata Ibrani “Zakar”, yang berarti mengingat. Sementara itu, Elizabeth membentuk dua kata Ibrani, Eli dan Sabat, yang berarti janji atau janji Allah. Jadi jika kita menggabungkan kedua nama itu, Zakaria-Elisabet, itu berarti “Tuhan mengingat janji-Nya” atau “Tuhan menggenapi janji-Nya.”

Elizabeth mengerti bahwa ia bisa saja kehilangan nyawanya jika ia mengandung, tetapi ia tetap mengikuti kehendak Allah, karena ia mengerti bahwa sang bayi adalah penggenapan dari janji Allah. Maria melakukan perjalanan dari Nazaret ke Yudea. Tapi, mengapa Maria harus berjalan sangat jauh? Maria ingin menyaksikan bagaimana Tuhan memenuhi janji-Nya kepada Elizabeth. Saat Maria melihat Elizabeth, Maria mengerti bahwa bayi di dalam rahimnya juga merupakan pemenuhan janji Allah.

Setiap anak, memang setiap dari kita adalah pemenuhan janji Allah. Maria dan Elizabeth tidak pernah melihat bayi di dalam rahim mereka hanya sebagai ketidaknyamanan dalam hidup atau sampah yang dapat dibuang kapan saja. Namun, untuk menerima bayi-bayi ini sebagai sebuah penggenapan janji Tuhan, Maria dan Elizabeth harus menjadi wanita yang berani dan tangguh karena mereka akan banyak berkorban termasuk mengorbankan hidup mereka sendiri.

Pertanyaannya untuk kita semua: Siapa di antara kita yang tidak berasal dari rahim seorang wanita? Kita semua di sini karena seorang ibu. Memang, tidak semua ibu sempurna. Beberapa dari mereka tidak kaya, ada yang kurang perhatian, ada juga yang bukan contoh yang baik. Namun, fakta bahwa kita ada di sini sekarang, ini berarti ada seorang wanita dalam hidup kita, dengan menghadapi segala resiko dan bahaya, telah memutuskan untuk dengan berani menerima kita sebagai sebuah pemenuhan janji Allah. Kepada semua ibu, terima kasih banyak.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Terpecah

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Adven [16 Desember 2018] Lukas 3: 10-18

kneeling 2Pertanyaan kedua yang diajukan uskup agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu sudah cukup terpecah dan remuk?” Sekali lagi pertanyaannya ini mengherankan. Kita ingin menjadi utuh dan sempurna. Kita ingin mendapatkan lebih banyak dalam hidup, menjadi kaya, sehat dan cantik. Kita ingin diterima secara sosial, dan dihormati dan memiliki pencapaian yang dapat dibanggakan. Kita ingin menjadi seseorang. Kita ingin orang lain menyebut kita sebagai dokter terkenal, pengusaha kreatif, atau pengacara yang sukses. Atau bagi kita, orang-orang yang melayani di Gereja, kita suka orang-orang menganggap kita sebagai pengkhotbah yang disukai, imam pembangun, atau suster yang terampil dan berpendidikan.

Namun, kita sering lupa bahwa orang yang kita layani adalah orang-orang yang terpecah dan remuk. Mereka terpecah dalam banyak aspek kehidupan. Ada yang remuk secara finansial, ada yang bergulat dengan masalah kesehatan, dan banyak yang dihancurkan oleh pengalaman traumatis dalam keluarga. Ada yang berurusan dengan kemarahan dan ketidakstabilan emosi, dan ada pula yang menghadapi depresi dan keputusasaan. Beberapa terluka, dan beberapa lainnya dipaksa untuk melukai. Banyak menjadi korban dari ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia. Dan kita semua diremukkan oleh dosa. Kita melayani orang-orang yang terpecah dan remuk, dan kecuali kita cukup remuk seperti mereka, pelayanan kita sekedar superfisial dan bahkan menjadi sebuah kemunafikan.

Oleh karena itu, sebagai pelayan Gereja, kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita cukup disiplin dalam hidup studi dan membolehkan tuntutan kehidupan akademis memaksa kita untuk berlutut dan terus memohon kepada sang Kebenaran untuk menerangi kita? Apakah kita cukup sabar dalam kehidupan di komunitas dan memungkinkan berbagai kepribadian dan konflik di seminari, biara atau komunitas untuk membentuk kita, untuk membuat kita menyadari bahwa hidup jauh lebih besar daripada diri kita sendiri, dan memperkaya kita? Apakah kita cukup ulet dalam pelayanan kita dan memungkinkan orang-orang yang kita layani untuk menantang dunia kecil kita, untuk menghadapkan kita dengan kegagalan, dan kenyataan bahwa bukan mereka yang dilayani, tetapi kita? Apakah kita cukup rendah hati dalam doa kita dan membiarkan Tuhan mengendalikan hidup kita?

Di ditengah-tengah liturgi Ekaristi kita adalah Firman dan Tubuh yang dipecah-pecah. Firman Tuhan dalam kitab suci dibaca, dan sang pewarta ‘memecah-mecah’ sang Sabda menjadi kata-kata yang lebih relevan dan bermakna bagi umat Allah. Tubuh Kristus dalam hosti putih yang dikuduskan dipecah-pecah agar menjadi cukup untuk semua orang. Ini adalah Firman Allah dan Tubuh Kristus yang dipecah-pecah untuk umat-Nya yang juga terpecah dan remuk. Yesus menyelamatkan dan menjadikan kita kudus dengan menjadi satu dengan kita, dengan diremukan bagi kita. Dia adalah Tuhan yang terpecah bagi saudara-saudari-Nya yang remuk redam.

Kita adalah para pelayan Tuhan, dan pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita mau mengakui dan menerima ketidaksempurnaan kita sendiri? Apakah kita cukup kuat untuk mengakui bahwa kita lemah? Apakah cukup terpecah dan remuk sehingga kita dapat berbagi diri kita secara total kepada saudara-saudari kita? Apakah kita mau seperti Kristus yang diremukan agar banyak orang bisa memiliki hidup?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lemah

Minggu Kedua dalam Masa Adven [9 Desember 2018] Lukas 3: 1-6

processionSaat pentahbisan saya, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan bertanya kepada saya, “Apakah kamu cukup lemah?” Pertanyaannya tidak terduga dan bahkan membalikan nalar karena sering kita merasa bahwa kekuatan dan talenta yang kita miliki adalah hal yang penting dalam hidup kita, dan menunjukan siapa diri kita sesungguhnya sebagai milik kita. Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang berprestasi. Kita memamerkan bahwa kita memiliki pendidikan yang baik, pekerjaan yang berpenghasilan tinggi, atau rupa yang cantik. Mental ‘superior’ ini tidak hanya mempengaruhi orang awam yang bergulat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga orang-orang berjubah yang putih berjalan di koridor Gereja. Para klerus, serta biarawan dan biarawati, tidaklah kebal terhadap hasrat untuk mendapatkan persetujuan dan rasa kelayakan.

Saya harus mengakui juga bahwa formasi kami dalam kehidupan religius diwarnai dengan ‘roh’ semacam ini juga. Studi adalah penting dalam tradisi Dominikan, dan kami berjuang untuk memenuhi tuntutan akademis baik di bidang filsafat, teologi dan ilmu lainnya. Mereka yang cerdas dan mendapat nilai tinggi, akan mendapat menghargai, tetapi mereka yang nilainya buruk, harus siap mundur dari formasi. Doa dan kehidupan komunitas adalah dasar dalam spiritualitas kami, dan kami hidup untuk memenuhi ekspectasi di seminari atau biara, seperti mengikuti doa dan berbagai kegiatan komunitas secara regular. Mereka yang memenuhi standar bisa lulus evaluasi untuk pentahbisan atau pengucapan kaul, tetapi mereka yang sering terlambat atau tidak hadir, dianggap tidak memiliki panggilan. Pewartaan adalah identitas kami, dan kami memberikan segalanya dalam pelayanan kami. Mereka yang berhasil dalam kerasulan menjadi teladan, tetapi mereka yang tidak mampu dan banyak mengalami kegagalan mungkin bertanya-tanya apakah mereka sungguh bagian dari Ordo Pewarta.

Pentahbisan adalah bagi yang layak, yang berarti bagi mereka yang memenuhi semua persyaratan. Namun, uskup agung Socrates yang baik mengingatkan kita bahwa terlalu mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri, kita dapat menghambat rahmat Allah dalam diri kita. Ketika kita menjadi terlalu tampan, orang-orang mulai memusatkan perhatian pada kita, daripada keindahan liturgi. Ketika kita berkhotbah terlalu lihai, orang-orang mulai mengagumi kita daripada Kebenaran Firman. Ketika kita mengajar dengan begitu cemerlang, kita lebih bersinar dari Kebijaksanaan yang menjadi manusia. Kita lupa bahwa semua kekuatan dan bakat yang kita miliki adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Apa yang kita miliki, adalah kelemahan.

Namun, hanya dalam kelemahan kita bahwa kekuatan Tuhan bersinar terang. Dia memanggil Musa yang adalah seorang pembunuh dan buronan, untuk membebaskan Israel dari perbudakan. Dia memanggil Yunus, seorang nabi yang pemberontak, untuk menyelamatkan Niniwe. Dia memilih Simon Petrus, yang mengkhianati Yesus, untuk menjadi pemimpin Gereja-Nya. Dia menunjuk Paulus, orang Farisi dan penganiaya Gereja perdana, untuk menjadi rasulnya yang hebat. Dia memilih Maria, seorang wanita muda yang miskin dan tidak penting, untuk menjadi bunda dari Tuhan.

Apakah kita cukup lemah untuk membiarkan kekuatan Allah bekerja di dalam kita? Apakah kita cukup agar keindahan Tuhan bersinar melalui kita? Apakah kita cukup lemah supaya orang lain melihat kebijaksanaan Tuhan di dalam kita? Apakah kita cukup lemah untuk mengakui bahwa kita lemah?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Karunia Pentahbisan

Hari Minggu Pertama Adven [2 Desember 2018] Lukas 21: 25-28, 34-36

prostrationSaya telah berada di formasi Ordo Dominikan di Filipina selama lebih dari 12 tahun, dan jika saya menambahkan empat tahun formasi seminari kecil saya di Indonesia, totalnya sampai 16 tahun! Ini sangat panjang karena lebih dari separuh hidup saya berada di formasi. Jika kita percaya bahwa semuanya memiliki tujuan, saya bertanya pada diri sendiri, “apa tujuan dari formasi yang sangat panjang ini?” Mengapa saya harus tetap berada dalam kehidupan formasi dengan suka dan dukanya? Mengapa saya harus menghabiskan banyak waktu dalam belajar? Mengapa saya harus bertekun dalam doa?

Jawabannya ternyata tidak sulit untuk ditemukan. Ini karena saya ingin menjadi imam secara khusus seorang imam Dominikan. Namun, tidak hanya sekedar imam Dominikan, tetapi seorang imam Dominika yang kudus, setia  dan juga dewasa. Jawabannya tampak sederhana, tetapi setiap kata dalam jawaban ini membawa pemahaman dan konsekuensi yang sangat besar. Memiliki tujuan yang begitu mulia ini mungkin menjelaskan mengapa formasi saya harus sangat panjang.

Namun, setelah melewati lebih dari 16 tahun dalam formasi, berjuang menghadapi banyak ujian yang sulit, menghadiri doa dan latihan rohani yang tak terhitung jumlahnya, melibatkan diri dalam kegiatan komunitas, saya sekarang berdiri di depan ambang pintu yang akan merubah hidup saya selamanya, yakni pentahbisan. Melihat ke belakang, saya sadar bahwa saya telah berkembang dan bertumbuh. Namun, benar juga bahwa saya mengalami banyak kegagalan dan bahkan melakukan kebodohan yang tak terkatakan. Puji Tuhan, bahwa meskipun kekurangan ini, saya masih hidup!

Dengan jujur mengevaluasi hidup saya, saya menyadari bahwa saya tidak layak untuk pentahbisan ini. Saya dapat membanggakan beberapa pencapaian saya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Saya bisa menunjukkan diri sebagai seorang frater yang menjalani kehidupan religius dengan baik. Saya bisa membanggakan berbagai kerasulan yang saya berikan. Saya bisa membanggakan penghargaan yang saya terima di setiap kelulusan. Namun, hal-hal ini hanyalah sekedar angin yang datang dan pergi!

Namun, mengapa pentahbisan ini tetap berada dalam jangkauan saya meskipun ketidaklayakan saya? Saya sadar bahwa panggilan ke menjadi seorang daikon ataupun imam adalah sebuah karunia. Dalam Filosofi yang diuraikan oleh St. Thomas Aquinas, manusia bukanlah mahkluk yang mutlak. Keberadaan bukanlah hak manusia dan kapan saja manusia bisa kehilangan eksistensinya. Semua tergantung pada sang sumber dari segala kehidupan, Tuhan sendiri. Pada dasarnya hidup saya bukan hak atau keharusan, tapi karunia. Keberadaan saya adalah anugerah Tuhan dan begitu juga tahbisan saya. Ini bukan karunia berdasarkan sistem point, jika tidak, itu disebut upah. Ini bukan karunia yang saya bisa tuntut berdasarkan hak saya. Itu bukanlah karunia yang datang dari warisan saya atau yang dapat saya beli di Gereja. Ini adalah karunia yang sungguh cuma-cuma. Tuhan dalam misteri belas kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, telah memutuskan untuk memberikan saya karunia yang indah ini. Menerima karunia ini walaupun ketidaklayakan saya, saya hanya bisa bersyukur.

Karunia ini tidak hanya berbicara tentang saya, sang penerima. Akhirnya ini menunjuk pada sang pemberi. Karunia menunjukkan bagaimana sang pemberi menghargai sang penerima. Semakin berharga karunianya, semakin berharga sang penerima bagi sang pemberi. Sebuah hadiah yang sederhana melambangkan niat baik dari sang pemberi, tetapi karunia yang menuntut pengorbanan sang pemberi, tentu saja luar biasa. Karunia pentahbisan mengungkapkan siapa Allah saya. Dia adalah Tuhan yang melihat di luar kelemahan dan kekurangan saya, yang menganggap saya sebagai milik-Nya yang berharga, yang berani berbagi kehidupan dan misi-Nya dengan saya. Sungguh, saya senantiasa bersyukur memiliki Allah yang adalah kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Raja

Hari Raya Kristus Raja [25 November 2018] Yohanes 18: 33-37

“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untukitulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Akumemberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaranmendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37)”

Tahun Liturgi Gereja diakhiri dengan drama dua raja: Pilatus dan Yesus. Pilatus mewakili negara adidaya pada masa itu, Kekaisaran Romawi. Ini adalah kerajaan yang begitu besar dominasi militernya dan semua kerajaan lain bertekuk lutut menghormati sang Kaisar Roma, raja dari segala raja. Di Yerusalem dan Yudea, Pilatus menjadi wajah dari kerajaan yang dilandasi oleh budaya intimidasi dan kekerasan ini. Pilatus adalah seorang pemimpin yang brutal, yang mencuri dari rakyatnya dan mengeksekusi orang bahkan tanpa pengadilan. Tentunya, dia menganggap dirinya sebagai ‘raja’ dari Yerusalem dan siapa saja yang berdiri di jalannya, akan ia hancurkan.

Kita juga terus digoda untuk menjadi bagian dari kerajaan ini. Kadangkala seorang suami menolak untuk mendengarkan istrinya dan memaksakan kehendak-Nya dalam keluarga melalui kekuatan fisiknya. Atau, tidak aman dengan diri mereka sendiri, orang-orang yang lebih besar menggertak anak-anak yang lebih kecil dan lebih lemah di sekolah. Sayangnya, itu terjadi tidak hanya di sekolah tapi di hampir di mana-mana: keluarga, tempat kerja dan bahkan dunia maya. Joseph Stalin, diktator Uni Soviet menggertak Gereja dengan mengatakan, “Berapa banyak divisi tank yang Paus miliki?” Machiavelli, seorang filsuf Itali, bahkan pernah menyimpulkan bahwa ketertiban dalam masyarakat sebenarnya dibangun di atas ketakutan dan kekerasan

Namun, kita memiliki Yesus, sang Raja. Namun, raja macam apakah Yesus? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak pernah mengenakan mahkota emas, kecuali mahkota duri tertanam di kepalanya (Mat 27:29)? Jika Ia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki takhta kekaisaran kecuali palungan yang kotor di Betlehem dan kayu salib yang mengerikan (Luk 2: 7 dan Markus 15:30)? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki tentara yang tangguh? Ironisnya, Ia hanya memiliki kelompok pengikut yang naif yang akhirnya tercerai berai: salah satu dari mereka bahkan menjual-Nya seharga 30 keping perak, harga seorang budak, yang lain menyangkal Dia tiga kali dan sisanya melarikan diri menyelamatkan diri merek sendiri? Apakah Yesus benar-benar seorang raja?

Membaca Injil kita hari ini dengan seksama, Yesus berkata bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Ini berarti bahwa kerajaan-Nya tidak sesuai dengan standar dunia ini. Kerajaan-Nya tidak dibangun di atas kekuatan senjata, dominasi militer, atau kemenangan di dalam perang. Dengan demikian, Dia adalah raja tanpa mahkota emas, dan kerajaannya tidak memiliki angkatan bersenjata. Yesus lebih lanjut mengungkapkan bahwa Dia datang untuk bersaksi tentang kebenaran (Yoh 18:37), dan memang, Dia adalah Sang Kebenaran (Yoh 14:6). Dia adalah raja yang memerintah kerajaan kebenaran, dan rakyatnya adalah mereka yang mendengarkan dan menjadi saksi dari kebenaran. Nya adalah Kerajaan yang membalikkan nilai-nilai kerajaan duniawi. Kerajaan ini tidak dibangun di atas tipu daya, korupsi, atau manuver politik yang sesat, tetapi pada belas kasih, keadilan dan kejujuran. Kerajaan ini mewujudkan cinta kasih sejati bagi sesama bahkan bagi mereka yang kita anggap musuh, pelayanan bagi semua orang terutama untuk orang miskin, dan penyembahan Tuhan yang benar.

Di pengakhir tahun liturgi ini, adalah sebuah penyelenggaraan Ilahai bahwa Gereja memilih bacaan Injil ini untuk kita renungkan. Di sepanjang tahun liturgi, kita datang ke Gereja dan mendengarkan banyak pembacaan dari Kitab Suci terutama Injil. Kita mendengarkan Yesus sendiri, dan kita dihadapkan pada berbagai aspek dari Kebenaran yang berasal dari Yesus. Sekarang, dihadapan dua raja ini, adalah waktu bagi kita untuk memutuskan apakah kita menjadi bagian dari kerajaan Pilatus, atau kita mendengarkan Kebenaran dan mengikuti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan di Hari Akhir


Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [18 November 2018]

Markus 13: 24-32

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk. 13:26)

Buku terakhir di Alkitab dikenal juga sebagai Kitab Wahyu. Dalam Bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “apokalopsis” yang berarti penyingkapan atau pewahyuan. Literatur “apokaliptik” merupakan karya-karya tulis mengungkap rahasia peristiwa masa depan, dan biasanya, ini adalah kejadian-kejadian dramatis di akhir dunia. Injil kita hari Minggu ini diambil dari Markus pasal 13, dan bab ini juga dikenal sebagai apokaliptik kecil.

Markus 13 berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Namun, ketika kita membaca lebih seksama, kita menemukan beberapa peristiwa yang menyedihkan dan bahkan mengerikan yang akan mendahului kedatangan Yesus yang mulia ini. Bait Allah Yerusalem akan dihancurkan, pengikut-pengikut Yesus akan mengalami penganiayaan, dan matahari, bulan, dan objek-objek angkasa lainnya tak lagi berfungsi. Zaman ini akan menjadi waktu yang mengerikan bagi manusia untuk hidup.

Bagi pembaca modern seperti kita, Injil kita hari ini tidak terdengar optimis sama sekali. Sebenarnya, kita mungkin mempertanyakan apakah ini adalah Kabar Baik tentang keselamatan atau kisah mimpi buruk yang sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil? Bagi banyak dari kita yang menghadiri misa Mingguan dengan setia, kita mendengarkan kisah apokaliptik kecil ini di akhir setiap tahun liturgi Gereja. Karena kita mendengar kisah ini dari tahun ke tahun, kisah apokaliptik ini telah kehilangan giginya, dan kita tidak lagi takut dengan hal-hal yang akan terjadi. Toh nyatanya, kita masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, literatur apokaliptik memiliki dampak dan makna yang berbeda bagi umat Kristiani pertama, yang adalah pembaca pertama Injil Markus. Bagi Gereja Perdana, apokaliptik tidak berarti cerita horror akhir dunia yang menakutkan, melainkan sebuah pesan harapan. Umat ​​Kristiani awal adalah minoritas kecil di kekaisaran Romawi yang besar. Karena mereka teguh dalam keyakinan mereka untuk menyembah Allah yang esa, dan menolak untuk menyembah Kaisar Roma dan dewa-dewa Romawi, mereka terus menerus menjadi subjek pelecehan, penganiayaan dan bahkan menjadi martir.

Salah satu penganiayaan yang paling brutal terhadap umat Kristiani terjadi di bawah perintah Kaisar Nero. Dia menyalahkan umat Kristiani atas api yang membakar sebagian Kota Roma. Dia memerintahkan agar umat Kristiani untuk ditangkap dan disiksa. Beberapa menjadi umpan binatang buas. Beberapa dimakan oleh anjing-anjing lapar. Lainnya dibakar hidup-hidup untuk menerangi Kota Roma di malam hari. Dalam masa keputusasaan ini, Markus pasal 13 memberi mereka Injil pengharapan. Tidak peduli apa yang terjadi pada umat Kristiani, apakah itu diskriminasi, penganiayaan, bencana, atau bahkan akhir dunia, mereka yakin bahwa Allahlah yang memegang kendali; Dia yang berkuasa dan memiliki kata terakhir.

Fakta bahwa kita dapat membaca refleksi kecil ini berarti bahwa kita hidup dalam zaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan umat Kristiani yang dianiaya. Namun, pesan dari literatur apokaliptik tetap relevan bagi kita semua. Menghadapi tantangan dan kerja harian, kejadian yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, dan berbagai masalah dan kerumitan hidup, kita cenderung frustrasi, dan kehilangan harapan. Semakin banyak orang muda saat ini yang dengan mudah mengalami depresi, dan sebagian, sayangnya, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena kita tidak lagi tahu bagaimana berharap. Dalam bukunya, “Crossing the Threshold of Hope”, St. Yohanes Paulus II ditanya apakah sang paus pernah meragukan hubungannya dengan Tuhan, terutama dalam masa sulit dalam hidupnya. Jawabannya sederhana namun penuh pengharapan, “Jangan takut!” Gereja adalah sekolah yang mengajar anak-anaknya untuk berani berharap karena pada akhirnya, Tuhanlah yang memiliki kata akhir, dan kita tidak perlu takut.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Ahli Hukum Taurat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [11 November 2018] Markus 12: 38-44

[Para ahli Taurat] yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Markus 12:40)

jesus n scribesPada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.

Namun, Yesus tidak hanya mengkritik mereka karena sikap narsis ini, Dia dengan serius mengecam tindakan ketidakadilan mereka, terutama karena mereka “menelan rumah para janda.” Pada zaman Yesus hidup, para janda (bahasa Ibrani “almanah”) dianggap sebagai salah satu bagian masyarakat Yahudi yang paling miskin dan lemah. Mereka adalah wanita yang tidak hanya kehilangan suaminya, tetapi juga jatuh miskin karena mereka tidak lagi  memiliki sarana penopang hidup. Mereka beruntung jika keluarga dan kerabat mereka merawat mereka, tetapi pada masa-masa sulit, mereka dibiarkan terlantar. Hukum Musa menyatakan bahwa para janda, bersama dengan anak-anak yatim dan orang asing harus dilindungi (lihat Ul. 10:18).

Karena para ahli Taurat adalah salah satu anggota masyarakat yang paling dihormati dan kaya, itu adalah pilihan logis untuk mempercayakan pelayanan kepada para janda Yahudi kepada mereka. Sayangnya, alih-alih membantu dan membela para janda, beberapa ahli Taurat menindas dan mencuri dari para janda miskin ini. Mencuri itu jahat, tetapi merampas dari orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka pada kita adalah kejahatan yang jauh lebih besar. Namun, hal ini bukanlah yang terburuk. Setelah dengan sempurna menyembunyikan tindakan ketidakadilan mereka, beberapa ahli Taurat tanpa malu pergi ke Bait Allah dan membaca doa yang panjang. Ini adalah kemunafikan!

Ketika hari pentahbisan saya semakin dekat, beberapa frater dan teman-teman mulai memanggil saya dengan sapaan kehormatan seperti “reverend” (- yang dihormati). Harus diakui, saya tidak nyaman. Saya berharap bahwa orang-orang tetap memanggil saya sebagai frater atau “Brother”. Namun, ini telah menjadi tradisi umum bagi para awam memanggil mereka yang telah tertahbis. Saya hanya bisa berdoa dan berhasrat bahwa saya tidak akan seperti beberapa ahli Taurat “narsistik” dan gila akan pujian orang-orang dan semua kenyamanan hidup. George Weigel, seorang penulis Katolik Amerika, dalam artikel terbarunya, menelusuri akar kemarahan umat Katolik terhadap para klerus di AS. Dia menulis bahwa memang benar bahwa banyak para romo dan uskup yang baik dan kudus, tetapi umat tidak lagi tahan dengan sikap narsisisme yang diperlihatkan sejumlah oknum klerus di Amerika.

Belajar dari ahli-ahli Taurat, narsisisme adalah benih yang tertanam dalam hati mereka yang tertahbis. Jika dibiarkan benih ini tumbuh menjadi tindakan-tindakan ketidakadilan yang tersembunyi. Dan dari kejahatan ketidakadilan, kaum berjubah putih bisa hidup dalam kemunafikan. Adalah harapan saya bahwa kita terus berdoa, mendukung dan bahkan mengoreksi saudara-saudara kita yang adalah hamba Allah dan umat-Nya. Tanpa rahmat Allah, kerendahan hati dan doa serta bantuan para umat awam, para diakon, imam, dan uskup kita mungkin bisa menjadi seperti ahli Taurat yang narsis dan munafik.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Diakon

Renungan pada Hari Minggu ke-31 dalam Masa Biasa [4 November 2018] Markus 12: 28-31

“Kamu harus mengasihi Tuhan, Tuhanmu… Yang kedua adalah ini: ‘Kamu harus mencintai sesamamu seperti dirimu sendiri.’ Tidak ada perintah lain yang lebih besar dari ini. “(Mrk. 12: 30-31)

ordination 4Hari-hari ini, saya sedang mempersiapkan tahbisan diakonat saya. Diakon sendiri adalah tahap transisi sebelum saya menjadi seorang imam. Terlepas dari kenyataan bahwa diakonat adalah masa transisi, seorang Diakon itu sendiri adalah masa hidup yang penting dalam kehidupan Gereja. Uskup Virgilio David, DD dari Kalookan, Metro Manila, mengingatkan 15 diakon Yesuit yang baru saja ditahbiskan Oktober lalu bahwa kita jangan melihat Diakon hanya sebagai langkah pertama menuju tingkat yang lebih tinggi, seperti imam dan uskup. Diakon adalah inti dalam lapisan lingkaran konsentris yang membentuk pelayanan tertahbis di Gereja. Diakon menjadi inti dari lingkaran pelayanan ini dan tanpa inti ini, para imam dan uskup akan runtuh. Ini adalah fondasi tempat kita membangun kepemimpinan di Gereja. Namun, mengapa Diakon harus ditempatkan sebagai inti dan menjadi fondasi?

Paus Benediktus XVI dalam surat apostoliknya “Omnium in Mentem” memperjelas lebih lanjut identitas dasar seorang Diakon. Dia menulis, “Diakon diberdayakan untuk melayani umat Allah dalam pelayanan liturgi, sabda, dan kasih.” Para diakon adalah hati dari semua pelayan Gereja baik yang ditahbiskan maupun yang tidak ditahbiskan karena diakon melakukan dan mengingatkan kita akan tugas paling dasar dari setiap pelayan Gereja: untuk melayani dan mengasihi Allah dan umat-Nya. Kata Diakon berasal dari kata Yunani, “diakoneo” yang berarti melayani, dan karena itu, Diakon adalah seorang pelayan. Jika kita kembali ke bab pertama Injil Markus, orang pertama yang melayani Yesus, Sang Allah yang menjadi manusia, adalah ibu mertua Petrus (Mar 1:31). Dia melayani Yesus karena dia telah dipulihkan dari sakit. Ini bukan pelayanan yang dilakukan karena takut atau kebutuhan egois semata, tetapi atas syukur dan cinta kasih. Jadi, melayani dan mengasihi berada pada inti kehidupan seorang Diakon.

Dalam Injil hari ini, Yesus bertemu dengan seorang ahli Hukum Taurat yang bertanya tentang hukum yang paling utama. Dalam Hukum Taurat Musa, selain dari Sepuluh Perintah Allah, bangsa Yahudi memiliki ratusan lebih peraturan. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Dengan mengingat hukum cinta kasih Yesus ini, kita sekarang dapat melihat mengapa peran diakon merupakan hal mendasar dalam Gereja. Diakon adalah mereka yang dipanggil dan diberdayakan untuk memenuhi hukum kasih Yesus. Diakon melayani dan mengasihi Allah dan umat-Nya, baik dalam konteks ibadah dan kehidupan sehari-hari. Meskipun benar bahwa diakon adalah salah satu pelayan yang ditahbiskan di Gereja, setiap pengikut Kristus juga dipanggil untuk menjadi “Diakon,” untuk melayani Allah dan umat-Nya berdasarkan cinta kasih. Tanpa hati seorang Diakon, yang merupakan inti dari pelayanan Gereja, setiap orang Kristiani, baik awam ataupun klerus, akan kehilangan identitas dan gagal untuk memenuhi hukum Kristus paling mendasar, hukum cinta kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP