Minggu ke-19 dalam Waktu Biasa [C] – 11 Agustus 2019 – Lukas 12: 32-48
Di Israel kuno, tuan rumah sering meninggalkan rumah mereka untuk perjalanan bisnis atau menghadiri pertemuan sosial seperti pernikahan. Mereka akan mempercayakan rumah dan harta benda mereka kepada seorang hamba yang adalah hamba utama. Dan kita perlu ingat bahwa ini adalah dunia tanpa telepon seluler, internet dan GPS. Dengan demikian, para pelayan tidak tahu dengan pasti waktu kedatangan dari tuan mereka. Bisa jadi jam 8 malam, tengah malam atau bahkan dini hari. Sikap terbaik seorang pelayan dalam skenario ini adalah untuk selalu waspada dan siap menghadapi kedatangan tuannya.
Namun, bersiap tidak dipahami seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu di dekat pintu, dan hanya membuka pintu ketika tuannya mengetuk. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala… (Luk. 12:35)” Di Israel kuno, orang-orang mengenakan jubah [tunik] sebagai pakaian sehari-hari. Ini adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, dari leher hingga kaki. Ketika orang-orang bekerja, mereka mengikat pinggang mereka, untuk memastikan bahwa tunik mereka tidak akan menghalangi kerja mereka. Singkatnya, Yesus mengingatkan bahwa para pelayan tetap melakukan pekerjaan mereka walaupun tuan mereka tidak ada, memastikan bahwa rumah sudah rapi, dan siap untuk menerima perintah apa pun sewaktu-waktu tuan mereka tiba. Ini adalah kesiapan yang Yesus minta dari para murid-Nya termasuk kita.
Kesiapsiagaan semacam ini secara alami datang dari pengakuan rendah hati tentang siapa kita. Jika hamba menerima bahwa dia adalah hamba dan dia sadar bahwa rumah itu milik tuannya, dia tidak akan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan mengabaikan pekerjaannya, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik meskipun tuannya sedang tidak ada. Jadi, kita juga perlu mengenali siapa diri kita dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan identitas kita dengan baik. Satu hal yang menghambat kita mengenali siapa diri kita adalah keangkuhan. Saat kita dipenuhi kesombongan, Kita mulai bertingkah seperti tuhan dan kita mulai melakukan apa pun yang kita suka, bahkan untuk memprediksi akhir dunia dengan penuh percaya diri.
Berdasarkan Kitab Suci, Gereja selalu percaya bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya dalam kemuliaan dan membawa penghakiman terakhir ke dunia. Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang sebagai Raja, dan mereka yang bernubuat bahwa mereka tahu kapan, adalah sebuah hoax yang berbahaya. Pada tahun 1997, Marshall Applewhite meramalkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh pesawat ruang angkasa alien dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah “memindahkan” jiwa mereka ke planet lain dengan melakukan bunuh diri. Marshall dan 36 pengikut pun bunuh diri, namun alien tidak pernah datang menyerang dan kehancuran bumi tidak pernah terjadi. Marshall bertingkah seperti tuhan dan dia membawa malapetaka bagi dirinya dan para pengikutnya.
Kesiapan untuk kedatangan Yesus berarti kita menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita mencintai dan menaati Bapa kita, dan merawat ciptaan lain karena Tuhan juga memperhatikan mereka. Jika kita adalah murid Tuhan, kita dengan setia mengikuti-Nya dan terus-menerus belajar dari-Nya. Jika kita adalah ayah, kita mencintai, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Jika kita adalah ibu, kita mencintai, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Dan ketika Tuhan benar-benar datang, kita mungkin salah satu dari mereka “Hamba yang setia dan bijaksana [lihat Luk 12:42]”
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hari ini, kita merayakan pesta St. Dominikus de Guzman. St. Dominikus dilahirkan sekitar tahun 1170 di Caleruega, Kastilia, Spanyol. Sebagai seorang kudus, ia tidak setenar rekannya, Santo Fransiskus dari Assisi, mungkin karena ia tidak menulis buku atau meninggalkan tulisan apa pun yang akan menggemakan spiritualitasnya. Mungkin inilah alasan mengapa kita tidak memiliki pemahaman yang solid dan sistematis tentang Spiritualitas Dominikan.
Kita semua dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan sama ketika kita mati, kita tidak akan membawa apa pun. Ayub pernah berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai memperoleh banyak hal dan harta benda. Ketika kita mulai mengakumulasi, kita mulai terikat pada barang-barang materi ini. Beberapa dari kita terobsesi dalam mengumpulkan tas, sepatu, dan baju, beberapa lainnya dengan barang-barang yang lebih mahal seperti perangkat elektronik, mobil dan bahkan mobil. Kita mulai percaya ini adalah milik kita, dan kita dapat memilikinya bahkan sampai kita masuk surga.
Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.
Perjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengirim tujuh puluh murid-Nya untuk bermisi. Bukan hanya dua belas murid, tetapi tujuh puluh. Sementara kita terbiasa dengan misi Dua Belas Rasul yang lebih terkenal, Lukas memberi tahu kita tentang misi tujuh puluh murid yang kurang terkenal. Kita tidak yakin siapa orang-orang ini, tetapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen, dedikasi, dan semangat yang sama seperti Petrus, Yohanes, Andreas dan Matius. Mereka mengikuti Yesus, meninggalkan segalanya dan bersedia dikirim ke misi yang sulit untuk memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Kisah tujuh puluh murid memberi kita petunjuk tentang murid Yesus yang berdedikasi dan lebih banyak secara jumlah, namun terlupakan. Sementara Dua Belas Rasul mewakili tokoh-tokoh terkenal dari Gereja seperti paus dan para uskup, tujuh puluh murid mengingatkan kita akan para imam, biarawan-biarawati, kaum awam yang tak terkenal namun tak terhitung jumlahnya, dan yang tanpa lelah membangun Tubuh Kristus.
Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!
Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!
Hari ini kita merayakan hari raya Pentakosta, hari raya Roh Kudus yang datang dalam bentuk lidah api dan memenuhi hati para murid. Pertanyaannya yang bisa kita angkat adalah: Mengapa kita menyebut hari ini sebagai Pentakosta? Mengapa Roh Kudus datang hanya 50 hari setelah Yesus bangkit dari kematian?