Hamba yang Setia dan Bijaksana

Minggu ke-19 dalam Waktu Biasa [C] – 11 Agustus 2019 – Lukas 12: 32-48

faithful servantDi Israel kuno, tuan rumah sering meninggalkan rumah mereka untuk perjalanan bisnis atau menghadiri pertemuan sosial seperti pernikahan. Mereka akan mempercayakan rumah dan harta benda mereka kepada seorang hamba yang adalah hamba utama. Dan kita perlu ingat bahwa ini adalah dunia tanpa telepon seluler, internet dan GPS. Dengan demikian, para pelayan tidak tahu dengan pasti waktu kedatangan dari tuan mereka. Bisa jadi jam 8 malam, tengah malam atau bahkan dini hari. Sikap terbaik seorang pelayan dalam skenario ini adalah untuk selalu waspada dan siap menghadapi kedatangan tuannya.

Namun, bersiap tidak dipahami seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu di dekat pintu, dan hanya membuka pintu ketika tuannya mengetuk. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala… (Luk. 12:35)” Di Israel kuno, orang-orang mengenakan jubah [tunik] sebagai pakaian sehari-hari. Ini adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, dari leher hingga kaki. Ketika orang-orang bekerja, mereka mengikat pinggang mereka, untuk memastikan bahwa tunik mereka tidak akan menghalangi kerja mereka. Singkatnya, Yesus mengingatkan bahwa para pelayan tetap melakukan pekerjaan mereka walaupun tuan mereka tidak ada, memastikan bahwa rumah sudah rapi, dan siap untuk menerima perintah apa pun sewaktu-waktu tuan mereka tiba. Ini adalah kesiapan yang Yesus minta dari para murid-Nya termasuk kita.

Kesiapsiagaan semacam ini secara alami datang dari pengakuan rendah hati tentang siapa kita. Jika hamba menerima bahwa dia adalah hamba dan dia sadar bahwa rumah itu milik tuannya, dia tidak akan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan mengabaikan pekerjaannya, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik meskipun tuannya sedang tidak ada. Jadi, kita juga perlu mengenali siapa diri kita dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan identitas kita dengan baik. Satu hal yang menghambat kita mengenali siapa diri kita adalah keangkuhan. Saat kita dipenuhi kesombongan, Kita mulai bertingkah seperti tuhan dan kita mulai melakukan apa pun yang kita suka, bahkan untuk memprediksi akhir dunia dengan penuh percaya diri.

Berdasarkan Kitab Suci, Gereja selalu percaya bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya dalam kemuliaan dan membawa penghakiman terakhir ke dunia. Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang sebagai Raja, dan mereka yang bernubuat bahwa mereka tahu kapan, adalah sebuah hoax yang berbahaya. Pada tahun 1997, Marshall Applewhite meramalkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh pesawat ruang angkasa alien dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah “memindahkan” jiwa mereka ke planet lain dengan melakukan bunuh diri. Marshall dan 36 pengikut pun bunuh diri, namun alien tidak pernah datang menyerang dan kehancuran bumi tidak pernah terjadi. Marshall bertingkah seperti tuhan dan dia membawa malapetaka bagi dirinya dan para pengikutnya.

Kesiapan untuk kedatangan Yesus berarti kita menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita mencintai dan menaati Bapa kita, dan merawat ciptaan lain karena Tuhan juga memperhatikan mereka. Jika kita adalah murid Tuhan, kita dengan setia mengikuti-Nya dan terus-menerus belajar dari-Nya. Jika kita adalah ayah, kita mencintai, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Jika kita adalah ibu, kita mencintai, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Dan ketika Tuhan benar-benar datang, kita mungkin salah satu dari mereka “Hamba yang setia dan bijaksana [lihat Luk 12:42]”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dominikus, Sang Cahaya Gereja

Pesta St. Dominikus de Guzman – Pendiri Ordo Pewarta

8 Agustus 2019

Stampita Front Dominikus(1)Hari ini, kita merayakan pesta St. Dominikus de Guzman. St. Dominikus dilahirkan sekitar tahun 1170 di Caleruega, Kastilia, Spanyol. Sebagai seorang kudus, ia tidak setenar rekannya, Santo Fransiskus dari Assisi, mungkin karena ia tidak menulis buku atau meninggalkan tulisan apa pun yang akan menggemakan spiritualitasnya. Mungkin inilah alasan mengapa kita tidak memiliki pemahaman yang solid dan sistematis tentang Spiritualitas Dominikan.

Menurut tradisi, St. Dominikus disebut sebagai cahaya Gereja. Dan mengapa? St. Dominikus hidup di zaman ketika Gereja menghadapi musuh dari luar dan konflik dari dalam. Kaum Bidaah, khususnya kaum Albigentian, menyerang Gereja tanpa henti, dan Gereja dilemahkan oleh para imam tidak siap secara intelektual maupun secara mental. Banyak orang Katolik yang bingung, dan tidak ada yang menerangkan iman yang benar kepada mereka. Itu adalah masa yang gelap bagi Gereja.

Dominikus, yang sangat mencintai Gereja-Nya, menanggapi panggilan zamannya dan memberikan hidupnya bagi pencerahan jiwa-jiwa yang hidup dalam kegelapan dan untuk membawa kembali kepada domba-domba yang hilang ke kandang Gereja. Namun, untuk mencapai tujuan itu, ia harus berada dalam hubungan yang mendalam dengan Yesus, Sang Terang Dunia yang sejati. Karena itu, kehidupan doanya dan mati raganya sangat luar biasa. Alih-alih beristirahat, ia menghabiskan malam dalam vigili, menolak untuk makan makanan enak, dan tidur di lantai. Dominikus juga mengerti bahwa untuk menjelaskan iman, ia harus belajar dengan tekun dan menghidupi Injil. Ia menjadi miskin, sama seperti Yesus miskin demi Kerajaan Allah. Dominikus menjadi pengkhotbah, sama seperti Yesus adalah pengkhotbah sejati. Dominikus mempersembahkan dirinya sebagai “lentera,” sebuah instrumen yang lemah namun membawa cahaya yang bersinar terang dan menerangi dengan jelas dalam gelap. Dia adalah cahaya bagi Gereja karena dia membawa dalam dirinya Sang Terang Dunia.

Para putra-putri St. Dominikus selalu memiliki ikatan mendalam dengan Maria, Bunda Allah. Salah satu alasan mengapa kita dekat dengannya adalah karena kita berpartisipasi dalam misinya yang juga membawa Terang Kebenaran dan merefleksikan Cahaya yang sejati. Nyanyian Maria yang ditulis dalam Injil Lukas secara tradisional disebut sebagai Magnificat [Luk 1:46]. Judul ini berasal dari kata Latin pertama yang muncul di kidung tersebut, “Magnificat anima mea Dominum.” Bahasa Yunani aslinya adalah “μεγαλύνω” [megaluno], secara harafiah berarti membuat menjadi besar. Idenya seperti kaca pembesar yang mengintensifkan cahaya dan panas matahari, dan dengan demikian, memancarkan energi yang kuat dan dapat membakar. Maria bukanlah sumber cahaya, tetapi sang penerima. Namun, Maria tidak secara pasif merefleksikan cahaya, tetapi dia secara aktif mengumpulkannya dan menjadikan lebih terfokus. Melalui Maria, terang Kristus menjadi lebih kuat, bertenaga dan berdaya guna.

Mengikuti jejak Dominikus dan Bunda Maria, kita juga dipanggil untuk membawa Terang Kristus dan membagikan-Nya di dalam bentuk yang lebih dahsyat dan penuh daya. Dalam kata-kata St Thomas Aquinas, “Lebih baik untuk menerangi daripada hanya untuk bersinar … [S.T. II. II. 188]. “

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketamakan

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [C] – 4 Agustus 2019 – Lukas 12: 13-21

fool rich manKita semua dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan sama ketika kita mati, kita tidak akan membawa apa pun. Ayub pernah berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai memperoleh banyak hal dan harta benda. Ketika kita mulai mengakumulasi, kita mulai terikat pada barang-barang materi ini. Beberapa dari kita terobsesi dalam mengumpulkan tas, sepatu, dan baju, beberapa lainnya dengan barang-barang yang lebih mahal seperti perangkat elektronik, mobil dan bahkan mobil. Kita mulai percaya ini adalah milik kita, dan kita dapat memilikinya bahkan sampai kita masuk surga.

Keterikatan semacam ini berakar pada sifat buruk yang lebih besar dan lebih jahat: ketamakan. St Thomas Aquinas mendefinisikan keserakahan atau ketamakan sebagai “keinginan yang tidak teratur akan kekayaan atau uang”. Keinginan untuk kekayaan dan kepemilikan bukanlah sesuatu yang jahat karena pada dasarnya, uang dan barang adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidup. Namun, masalah muncul ketika kita mulai tidak bisa melihat mana yang sarana dan mana yang tujuan. Keserakahan memasuki hidup kita ketika kita membuat uang sebagai tujuan kita dan bukan lagi sarana. Kita mulai mengukur kebahagiaan dan arti hidup kita dalam hal kekayaan yang kita akumulasikan. Ketika kita menempatkan kekayaan sebagai tolok ukur kebahagiaan kita, semua masalah lain akan membanjiri hidup kita. Ketika kita tidak memiliki cukup uang, kita menjadi khawatir, tetapi ketika kita memiliki lebih dari cukup uang, kita juga cemas bagaimana agar orang lain tidak mencurinya. Kita berpikir bahwa semakin banyak kita miliki, semakin bahagialah kita, tetapi kebenaran adalah semakin banyak yang kita dapatkan, semakin kita merasa kurang. Sebuah pepatah Romawi kuno pernah mengatakan bahwa hasrat akan kekayaan seperti minum air laut; semakin banyak Anda minum, semakin Anda haus.

Yang memuakkan tentang ketamakan ini adalah hal ini membawa dosa-dosa lain. St. Thomas menyebutkan pengkhianatan, korupsi, penipuan, kecemasan, ketidak pekaan terhadap sesama, dan bahkan kekerasan sebagai anak-anak keserakahan. Film Slumdog Millionaire (2008) menceritakan kepada kita kisah Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan ini. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian religius di daerah kumuh di India, mereka terpaksa tinggal di TPA. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Satu adegan khusus yang mengungkapkan manifestasi mengerikan dari keserakahan adalah seorang bocah lelaki dengan suara bagus, Arwind, dibutakan. Jamal kemudian berkomentar, “Penyanyi tunanetra mendapat gaji dua kali lipat.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film tersebut tidak sepenuhnya fiksi, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.

Jadi bagaimana kita akan menyembuhkan ketamakan ini? Jika keserakahan membuat kita membalikkan antara sarana dan tujuan, respons kita haruslah mengembalikan urutan yang benar: menjadikan kekayaan sebagai sarana kita untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jika kita diberkati dengan banyak uang, kita memuji Tuhan, dan menggunakan harta ini untuk lebih memuji Tuhan. Jika kita tidak memiliki cukup uang, kita dipanggil untuk lebih percaya kepada pemeliharaan Allah. Ini adalah waktu untuk menggunakan kepemilikan duniawi kita untuk melakukan “investasi surgawi” yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (Luk. 12:33)

Rm. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Marta, Marta

Minggu Biasa ke-16 [C] – 21 Juli 2019 – Lukas 10:38-42

martha-and-mary-1Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.

Dalam Injil hari ini, kita bertemu Marta dan Maria dari Bethania. Mereka berdua melayani Yesus dan mereka melakukannya sesuai dengan karakter unik mereka sendiri. Maria lebih pendiam dan mungkin seorang introvert, memilih untuk tetap dekat dengan Tuan dan mendengarkan-Nya. Sementara Marta, yang sebagian besar aktif dan mungkin ekstrovert, lebih suka memberi Yesus akomodasi terbaik. Keduanya ingin membuat Yesus merasa disambut dengan cara mereka sendiri. Namun, ada sedikit masalah. Tampaknya Yesus pilih kasih. Dia lebih menyukai Maria daripada Marta dan memberi tahu Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik.

Tentunya Yesus tidak pilih kasih, dan tentu saja itu bukan karena Maria lebih cantik dari Marta! Namun, kita masih harus menjelaskan pilihan Yesus. Pertama, kita perlu melihat bahwa keduanya baik, tetapi yang satu lebih baik dari yang lain karena sebuah alasan. Apakah tindakan mendengarkan lebih baik daripada memberi keramahan? Dalam konteks Yahudi kuno, memberikan keramahan pada seorang tamu adalah salah satu nilai utama. Kita ingat bagaimana Lot menawarkan bahkan putrinya sendiri untuk melindungi tamunya [lihat Kejadian 19]! Dengan standar ini, Marta melakukan hal yang lebih baik, tetapi Yesus berpendapat lain. Mengapa?

Sekali lagi, kita perlu lebih memahami Kitab Suci kita. Tindakan mendengarkan adalah tindakan mendasar baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Setiap orang Yahudi yang saleh di zaman Yesus maupun di zaman sekarang, setiap hari mendaraskan doa syahadat yang mereka sebut sebagai “Shema Israel” – itu diambil langsung dari Ul 6: 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tindakan mendengarkan tidak hanya berarti mendengar suara dan menerima informasi, tetapi juga untuk mematuhi apa telah didengarkan. Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Mat 7:24)” Maria mengambil bagian yang lebih baik karena dia telah mendengarkan Yesus yang adalah TUHAN, dan dia mendengarkan karena dia mengasihi TUHAN.

Marta memiliki sedikit masalah dengan pelayanannya karena dia memaksakan jalannya kepada Maria, mungkin dia berpikir cara pelayanannya adalah yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, Marta menjadi terlalu terbebani dalam pelayanannya, dan Yesus menunjukkan bahwa Marta sendiri penuh kecemasan dan khawatir dengan banyak hal. Marta kehilangan tujuan pelayanannya; dia kehilangan Yesus dalam proses melayani. Betapa malang ya!

Belajar dari Maria dan Marta, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya pelayanan kita? Kemana kita akan pergi dengan banyak kegiatan yang kita miliki di Gereja? Apakah kita mendengar suara Kristus dalam pelayanan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Yesus dalam pelayanan kita atau pada akhirnya kita melayani diri kita sendiri?”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Samaria yang berbelas kasih

Minggu Biasa Kelima belas [C] – 14 Juli 2019 – Lukas 10: 25-27

do it anywayPerjalanan dari Yerikho ke Yerusalem terkenal berbahaya. Jalan itu sempit, terjal, dipenuhi belokan mendadak sehingga jalan itu menjadi tempat favorit para perampok untuk menyergap setiap pejalan yang tidak siap. Beberapa penjahat sering melakukan kekerasan, bahwa mereka tidak hanya mengambil semua barang dari para korban, tetapi mereka juga akan memukuli mereka tanpa ampun. Hingga awal abad kedua puluh, beberapa turis dan peziarah menjadi korban ketika mereka melewati jalan ini. Setelah mobil para turis dirampok, para perampok akan dengan cepat melarikan diri sebelum polisi datang.

Ketika ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “siapakah sesama kita yang akan kita kasihi?” Yesus menyodorkan tiga model. Mereka adalah seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria. Imam dan orang Lewi adalah kelompok istimewa dalam masyarakat Yahudi kuno. Mereka ditahbiskan untuk melayani di Bait Suci Yerusalem. Para imam yang merupakan keturunan Harun, akan menerima pengorbanan dari orang-orang Yahudi dan mempersembahkannya kepada Tuhan di altar. Sementara itu orang-orang Lewi mendapat tugas untuk mengurus Bait Allah, untuk melakukan pelayanan liturgi lainnya dan membantu para imam. Baik imam dan orang Lewi mewakili sekelompok orang terpilih yang mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, Hukum Taurat dan Bait Allah. Tanpa keraguan, mereka sangat mencintai agama mereka. Sementara itu, orang Samaria mewakili apa yang dibenci orang Yahudi. Orang-orang Yahudi memandang rendah orang-orang Samaria karena mereka dianggap sebagai produk perkawinan antara orang-orang Yahudi yang sesat dan bangsa-bangsa kafir lainnya. Orang Samaria juga dianggap sebagai para penyembah berhala karena menyembah Tuhan Yahwe tapi dengan tambahan dewa-dewa kecil lainnya.

Menurut standar agama Yahudi, imam dan orang Lewi jauh mengungguli orang Samaria, tetapi Yesus menjatuhkan bom nuklir ketika Ia menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan dalam cerita. Kita mungkin bertanya mengapa imam dan orang Lewi menolak untuk membantu? Salah satu alasannya adalah bahwa imam harus menjauh dari darah atau mayat apa pun, jika tidak ia akan najis selama tujuh hari dan ia ingin melayani Bait Suci [lihat Bil 19:11]. Lewi tampaknya sedikit lebih baik ketika dia mendekati korban, tetapi dia mengurungkan niatnya mungkin karena dia takut orang itu hanya menjadi umpan untuk menyergapnya. Tetapi, orang Samaria datang dan membantu tanpa ragu-ragu. Tidak hanya datang menyelamatkannya, orang Samaria memastikan bahwa sang korban akan disembuhkan dan pulih, meskipun ia harus menghabiskan uangnya sendiri.

Menempatkan diri pada posisi orang Samaria, kita tahu bahwa keputusannya untuk membantu korban yang adalah orang Yahudi adalah sangat berani dan bahkan gegabah. Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan? Bagaimana jika dia kehabisan uang? Bagaimana jika korban tidak pernah mengucapkan terima kasih dan bahkan lebih membencinya? Namun, inilah arti mengasihi sesama kita. Mencintai seseorang berarti menunjukkan belas kasihan dan menunjukkan belas kasihan berarti memberi melampaui apa yang sudah seharusnya.

Salah satu karya yang tak terlupakan yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta adalah membangun rumah bagi orang yang kritis. Suatu hari, dia berjalan melewati rumah sakit dan melihat seorang wanita sangat sakit. Sang suster bergegas membawanya ke rumah sakit. Namun, orang di rumah sakit menolaknya, mengatakan, “tidak ada ruang untuknya di rumah sakit!” Bunda Teresa tetap berada di luar rumah sakit, memeluk wanita yang sekarat itu sampai dia menghembuskan nafas terakhir. Sejak itu, suster Teresa berjanji bahwa dia akan memastikan bahwa orang dapat meninggal dengan martabat. Pada hari-hari awal karyanya ini, Bunda Teresa diejek dan dikritik, namun ia dan saudara-saudaranya bertahan karena mereka tahu bagi mereka yang kritis, ini mungkin merupakan belas kasih terakhir yang mereka terima sebelum mereka meninggal.

 Jika kita mengharapkan imbalan besar, itu bukan kasih, tapi investasi. Jika kita hanya ingin dihargai setelah berbuat baik, itu bukan kasih, itu hanya pamer. Jika kita tidak ingin terluka, itu bukan kasih, itu tidak lebih dari omong kosong. Kasih sesungguhnya itu tangguh, belas kasihan itu sesuatu yang heroik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tujuh Puluh

Minggu ke-14 dalam Waktu Biasa [C] – 7 Juli 2019 – Lukas 10: 1-12, 17-20

two disciplesDalam Injil hari ini, Yesus mengirim tujuh puluh murid-Nya untuk bermisi. Bukan hanya dua belas murid, tetapi tujuh puluh. Sementara kita terbiasa dengan misi Dua Belas Rasul yang lebih terkenal, Lukas memberi tahu kita tentang misi tujuh puluh murid yang kurang terkenal. Kita tidak yakin siapa orang-orang ini, tetapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen, dedikasi, dan semangat yang sama seperti Petrus, Yohanes, Andreas dan Matius. Mereka mengikuti Yesus, meninggalkan segalanya dan bersedia dikirim ke misi yang sulit untuk memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Kisah tujuh puluh murid memberi kita petunjuk tentang murid Yesus yang berdedikasi dan lebih banyak secara jumlah, namun terlupakan. Sementara Dua Belas Rasul mewakili tokoh-tokoh terkenal dari Gereja seperti paus dan para uskup, tujuh puluh murid mengingatkan kita akan para imam, biarawan-biarawati, kaum awam yang tak terkenal namun tak terhitung jumlahnya, dan yang tanpa lelah membangun Tubuh Kristus.

Kita mungkin juga bertanya mengapa tujuh puluh? Jika Dua Belas rasul mewakili dua belas suku Israel, apa yang akan dilambangkan dengan tujuh puluh? Ketika kita kembali ke Perjanjian Lama, tujuh puluh juga merupakan angka penting. Ini adalah jumlah total keturunan Yakub atau Israel yang bermigrasi ke Mesir [Kej. 46:27]. Tujuh puluh adalah jumlah para penatua yang dipilih untuk membantu Musa dalam memimpin Israel dan untuk mempersembahkan korban saat mereka masih di padang gurun [Kel 24: 1]. Menurut tradisi Yahudi, tujuh puluh juga merupakan jumlah bangsa yang turun dari nabi Nuh [lihat Kej 11]. Dengan memilih dan menugaskan tujuh puluh murid-Nya, Yesus mengirimkan pesan-Nya kepada dunia bahwa Ia sedang membangun Israel yang Baru, lengkap dengan para pemimpinnya, dan Israel ini akan mencakup semua orang dari segala bangsa.

Satu pelajaran penting yang dapat kita dapat dari tujuh puluh murid ini adalah kerendahan hati. Ketika para murid kembali dengan sukacita karena misi mereka berhasil, Yesus memberi mereka kata-kata yang cukup aneh, “Saya melihat Setan jatuh seperti kilat dari langit!” Salah satu interpretasi adalah bahwa para murid telah menjadikan Setan dan kerajaannya tidak berdaya dalam nama Yesus. Keberhasilan murid adalah kegagalan Setan. Penjelasan kedua adalah godaan kesombongan. Menurut tradisi Bapa Gereja, Setan dulunya adalah malaikat tertinggi yang jatuh dari surga karena dia terlalu sombong untuk melayani Tuhan yang menjadi manusia. Dengan demikian, Yesus mengingatkan para murid bahwa misi mereka pada dasarnya adalah misi Yesus, dan mereka bukan apa-apa tanpa Kristus. Yang jauh lebih penting adalah nama-nama mereka dituliskan di surga daripada sekedar menyombongkan keberhasilan mereka.

Kerendahan hati adalah kebajikan utama dari identitas semua murid Yesus, sementara ambisi dan keangkuhan membunuh identitas kita sebagai murid. Lucifer dulunya adalah salah satu dari seraphim, malaikat tertinggi di surga, dan nama Lucifer sendiri berarti “pembawa Cahaya.” Tentunya, tidak ada masalah dengan melayani Tuhan, tetapi ketika Lucifer tahu tentang rencana Allah untuk menjadi manusia, dan dilahirkan dari seorang wanita, dan mati untuk keselamatan umat manusia, dia tidak bisa menerimanya. Bagaimana bisa Tuhan dan makhluk spiritual seperti malaikat melayani makhluk rendahan dan berdosa seperti manusia? Dalam kesombongannya, dia menolak rencana Tuhan; dia menolak untuk melayani Tuhan. “Non Serviam.” Dia dan para pengikutnya kemudian diusir dari surga, dan Lucifer berubah menjadi Setan, kepala para roh jahat.

Ketika kita melayani Tuhan dalam kerendahan hati, seringkali kita tidak mendapatkan penghargaan, kita tidak menerima kemuliaan, dan kita dilupakan, tetapi kita yakin bahwa nama kita tertulis di surga.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tanpa Melihat ke Belakang

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [C] – 30 Juni 2019 -Lukas 9: 51-62

carrying cross 3Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?

Kita dapat mengungkap jawabannya di awal pembacaan Injil hari ini. Yesus tahu waktu-Nya telah tiba bagi-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Dia telah mengarahkan wajah-Nya ke kota ini yang akan menganiaya, menyiksa, dan membunuh-Nya. Jalan salib Yesus telah dimulai, dan bagi mereka yang ingin mengikuti-Nya, bukan lagi waktunya untuk terhibur oleh mukjizat-mukjizat-Nya atau terinspirasi oleh khotbah-khotbah-Nya. Mereka yang berhasrat untuk mengikuti Yesus, juga harus memikul salib mereka bersama Yesus, dan berjalan bersama Yesus ke Kalvari. Mereka tidak bisa tidak menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan menjadikan misi Yesus sebagai perhatian utama mereka.

Namun, kita perlu mengklarifikasi juga ucapan Yesus yang mungkin terdengar terlalu keras. Ketika Yesus berkata, “Biarkan orang mati menguburkan yang mati,” orang tua dari yang bersangkutan sebenar masih hidup, dan dia ingin mengikuti Yesus setelah orang tuanya meninggal, yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ini menjadi sebuah alasan halus untuk tidak mengikuti Yesus. Ketika Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Yesus sebenarnya mengingatkan para pendengar-Nya tentang kisah Elia yang memanggil Elisa untuk mengikutinya [1Raj 19:19 -21]. Ketika seorang nabi memanggil, orang yang dipanggil harus segera merespons. Kalau tidak, kesempatan itu hilang untuk selamanya. Yesus juga menunjukkan kisah istri Lot. Ketika kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh Tuhan, malaikat itu memerintahkan Lot dan keluarganya untuk lari dan tidak melihat ke belakang, namun, istrinya melihat ke belakang. Dia menjadi tiang garam [Kej 19:26]. Seseorang tidak dapat secara efektif mengikuti kata-kata Tuhan dan memiliki kehidupan baru di dalam Kristus jika dia selalu melihat ke belakang dan melekatkan dirinya pada masa lalu. Para petani Yahudi juga tahu betul ironi bahwa ketika seseorang membajak tanah dan terus melihat ke belakang untuk mengecek hasilnya, dia hanya akan merusak seluruh ladang. Ketika seseorang fokus dalam tujuan dan keputusannya, ia akan mendapatkan hasil terbaik.

Ada kisah tentang seorang malaikat yang menampakkan diri kepada John. Malaikat itu berkata, “John, Tuhan memanggilmu untuk melayani Dia.” John berkata, “Tidak sekarang, aku masih 18 tahun, dan aku ingin fokus pada studiku.” Kemudian, malaikat itu datang lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang, aku hanya 30, dan aku punya karier.” Kemudian, malaikat itu muncul lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang. Saya baru berusia 40 tahun, dan saya punya keluarga. ”Kemudian, malaikat itu kembali untuk terakhir kalinya ketika Yohanes berusia 70 tahun. Yohanes berkata,“ Sekarang, saya siap untuk menjawab panggilan Tuhan.” Malaikat itu menjawab, “Ya, Tuhan memanggil kamu, tetapi tidak untuk melayani Dia, tetapi untuk menghadap Dia di surga!”

Seorang Kristiani yang memiliki banyak alasan untuk tidak mengikuti Yesus, dia bukanlah seorang Kristiani sejati. Hanya ketika kita mengikuti Dia dengan tekad, berjalan di jalan salib-Nya tanpa alasan, menjadikan Dia sebagai prioritas utama kita, kita dapat dengan rendah hati mengatakan bahwa kita adalah murid-murid-Nya.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Memakan Tuhan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [23 Juni 2019] Lukas 9: 11-17

VATICAN-POPE-MEMORIALHari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!

Pada saat itu, saya hanya tahu bahwa penerimaan hosti yang kudus diperlukan untuk melengkapi perayaan Ekaristi, dan juga menerima berkat, tetapi saya tidak pernah benar-benar memahami makna mendalam dari misteri agung ini. Bagi saya, cukuplah bahwa saya menghadiri misa dan mengonsumsi hosti yang dikuduskan. Hal ini telah menjadi rutinitas dan tradisi, dari Minggu ke Minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Mungkin banyak dari kita berpikiran yang sama dengan saya bahwa  ini hanyalah sekedar tradisi yang dihidupi sebagai seorang Katolik. Sampai saat kita menjadi orang tua dan kita juga membawa anak-anak kita untuk komuni pertama mereka. Dan ketika seseorang bertanya kepada kita, “mengapa Anda membawa anak-anak Anda ke komuni pertama?” Jawaban kita mungkin seperti, “Ya, kami ingin anak-anak kami seperti kami. Ini adalah tradisi keluarga. ”Jawabannya sederhana, tetapi terlalu sederhana sehingga memunculkan lebih banyak pertanyaan, seperti: Mengapa Tubuh dan Darah Yesus? Kenapa harus Tuhan harus dimakan?

Kita sering lupa untuk menyadari bahwa roti dan anggur yang kudus ini telah menjadi adalah Yesus Kristus yang seutuhnya, dengan segala kemanusian dan keilahian-Nya. Jadi, Tuhan sungguh menawarkan diri-Nya untuk dimakan. Kenapa harus memakan Tuhan? Jawabannya ada di Perjanjian Lama kita. Pertama, kita ingat bahwa orang tua pertama kita jatuh karena sebuah tindakan yakni makan. Sekarang, dalam Ekaristi, Tuhan menggunakan tindakan makan yang sama untuk memulihkan putra-putri dari Adam dan Hawa dalam rahmat. Kedua, di tengah taman Eden, ada dua pohon, yakni pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang adalah pohon terlarang, dan pohon kehidupan [Kej 2:9]. Sayangnya, orang tua pertama kami memilih untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dengan demikian, untuk mengembalikan manusia kepada rahmat, sekarang Allah memberikan kepada kita buah-buah dari pohon kehidupan, dari pohon salib Kristus. Ketiga, kita ingat Paskah pertama adalah tentang kisah bagaimana Allah membebaskan orang-orang Ibrani dari perbudakan di Mesir. Paskah dimulai dengan penyembelihan anak domba, dan darahnya dipercikkan di pintu rumah orang Israel sehingga anak sulung mereka akan diselamatkan dari kematian. Namun, penyembelihan dan percikan darah bukanlah puncak dari Paskah Yahudi. Orang-orang Ibrani harus memakan domba untuk menuntaskan Paskah pertama mereka [Kel 12:8]. Sekarang, Yesus, Anak Domba Allah, telah dikorbankan di atas kayu salib, namun itu bukanlah puncaknya. Seperti Paskah Ibrani, kita perlu mengonsumsi Anak Domba Allah untuk menuntaskah Paskah Baru kita, yakni Ekaristi.

Ada begitu banyak tema dan aspek yang dapat kita renungkan tentang Ekaristi, dan khususnya hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Ekaristi, khususnya penerimaan Komuni Kudus bukan hanya rutinitas hari Minggu kita, sebuah tradisi keluarga. Itu adalah rencana esensial Allah untuk keselamatan kita, agar kita bisa menerima kepenuhan hidup, bersekutu dengan Allah, Tritunggal Maha kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Allah Tritunggal

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [Yohanes 16: 12-15] 16 Juni 2019

sign of the cross 2Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!

Tapi jangan kawatir! Pemikir-pemikir terhebat di Gereja, seperti St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, dan Benediktus XVI, telah mencoba untuk menyelami misteri ini, namun mereka hanya menyentuh permukaan Kebenaran terbesar ini. Ini adalah inti dari iman kita, namun ini adalah ajaran Gereja yang paling sulit untuk dimengerti dan juga terkadang sulit diwartakan. Namun, jika ini adalah misteri yang tak terselami, mengapa kita harus terus merenungkan, menghidupi, dan merayakannya? Karena kita telah diciptakan dalam citra Allah Tritunggal.

Seringkali, kita menganggap Tritunggal sebagai realitas yang sangat jauh, tetapi kita lupa bahwa kehidupan keagamaan kita sehari-hari sebagai orang Katolik adalah kehidupan di dalam Trinitas. Kita dibaptis, kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ketika kita memulai doa kita, kita mulai dengan tanda salib. Tanda salib suci ini tidak hanya menunjukkan kemenangan Yesus, tetapi pada dasarnya adalah Nama Suci Tritunggal. Setelah kita membuat tanda salib untuk membuka Misa Kudus, imam akan menyapa umat dengan mengatakan, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.” Ini adalah formula Tritunggal yang berasal dari St. Paulus sendiri (lihat 2 Korintus 13:13). Pada doa Syukur Agung, yang adalah doa inti di Misa, sang imam atas nama Gereja, meminta Bapa untuk mengirimkan Roh Kudus-Nya agar Dia dapat mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Di jantung Ekaristi, yang adalah sumber dan puncak dari liturgi kita, adalah Tritunggal Mahakudus. Apa yang saya sebutkan hanyalah puncak gunung es tentang bagaimana Tritunggal sungguh meresapi ibadah dan doa kita.

Tantangan sebenarnya adalah untuk hidup dan merayakan Tritunggal dalam kehidupan kita sehari-hari. Aturan doa kita harus menjadi aturan hidup kita juga. “Lex orandi, Lex vivendi”. Kalau tidak, kita akan jatuh ke dalam perangkap mentalitas ganda. Kita menjadi orang Kristiani hanya pada hari Minggu, tetapi kita menjadi orang yang tidak pernah mengenal Tuhan pada hari lain. Seorang munafik!

Hidup dalam Tritunggal berarti memanifestasikan kehidupan kita sehari-hari bahwa kita adalah citra Allah, citra Tritunggal. Jika Tritunggal adalah Allah keadilan, apakah kita bertindak adil terhadap diri kita sendiri, sesama kita, dan terhadap bumi kita? Jika Tritunggal adalah Tuhan kerahiman, apakah kita berbelas kasihan dan menjadikan tujuh karya kerahiman sebagai pola hidup kita? [memberi makan yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, melindungi yang tidak memiliki rumah, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan mengubur yang meninggal]? Jika Tritunggal adalah Tuhan yang adalah kasih, apakah kita mencintai orang-orang terburuk dalam hidup kita dan mengampuni orang yang menyakiti kita? Jika Tritunggal adalah Allah Kebenaran, apakah kita terus mencari kebenaran di sekitar kita atau kita mudah percaya pada hoaks?

Kita adalah orang-orang yang hidup dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan kita dengan penuh keyakinan menanti hari kita dipersatukan dengan Allah Tritunggal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pentakosta dan Hukum Baru

Minggu Pentakosta [9 Juni 2019] Yohanes 20: 19-23

pentecost mafaHari ini kita merayakan hari raya Pentakosta, hari raya Roh Kudus yang datang dalam bentuk lidah api dan memenuhi hati para murid. Pertanyaannya yang bisa kita angkat adalah: Mengapa kita menyebut hari ini sebagai Pentakosta? Mengapa Roh Kudus datang hanya 50 hari setelah Yesus bangkit dari kematian?

Iman kita bukan hanya ketaatan yang buta dan bodoh, tetapi iman yang mencari pengertian. Pencarian kita akan jawaban membawa kita kembali ke Perjanjian Lama. Dalam tradisi dan sejarah Yahudi, hari raya Pentakosta atau juga dikenal sebagai hari Tujuh Minggu adalah hari di mana mereka merayakan pemberian Hukum Taurat di Sinai. Lima puluh hari setelah hari Sabat Paskah Yahudi, orang-orang Israel berkumpul dan merayakan hari raya Pentakosta. Dalam Kitab Keluaran, kita akan menemukan bahwa sehari setelah tujuh minggu dari eksodus dari Mesir, Tuhan Allah menampakkan diri di Gunung Sinai, membuat perjanjian dengan Israel dan memberi mereka Hukum Taurat untuk mengatur umat-Nya. Jika Paskah Yahudi memperingati pembebasan mereka, hari raya Tujuh Minggu menunjuk pada hari Tuhan memberikan Hukum-Nya kepada Musa dan Israel di Sinai. Jadi, jika lima puluh hari setelah eksodus dari Mesir, orang Israel menerima Hukum Musa, para murid Yesus, lima puluh hari sejak hari kebangkitan menerima Roh Kudus, Hukum Kristus yang baru, yang tertulis dalam hati dan jiwa kita.

Untuk memahami Pentakosta, kita perlu memahami aspek formatif Hukum. Ketika Tuhan memberikan perjanjian dengan bangsa Israel, Dia menuntut mereka berperilaku seperti umat-Nya dan tidak mengikuti contoh bangsa-bangsa sekitar mereka. Untuk memfasilitasi ini, Allah memberi Israel seperangkat Hukum untuk dipatuhi. Sejatinya, Hukum Taurat adalah untuk membentuk bangsa Israel sebagai umat Allah. Dengan mengingat hal ini, kita sekarang dapat melihat pentingnya Pentakosta bagi para murid Yesus. Roh Kudus turun ke atas dan berdiam di dalam para murid sebagai Hukum Baru, dan sebagaimana Hukum Lama membentuk bangsa Israel yang lama, Hukum Baru adalah untuk membangun Israel Baru, yakni Gereja. Itulah sebabnya Pentakosta juga sebagai hari Gereja terbentuk atau hari lahir Gereja.

Menerima Roh Kudus di dalam hati kita adalah hak istimewa yang sangat besar, namun ini juga berarti kita juga harus hidup dalam Roh. Jika Israel kuno menyebut diri mereka sebagai umat Allah karena mereka mematuhi Hukum, maka kita dapat mengenali diri kita sendiri sebagai Umat Allah ketika kita mengikuti Roh. Namun, hidup dalam Roh bukanlah sekedar tentang bahasa roh atau bergabung dengan kelompok-kelompok Karismatik. St. Paulus dengan jelas menyatakan untuk hidup dalam Roh berlawanan dengan desakan kedagingan kita. Ketika kita melepaskan diri dari perbuatan kedagingan seperti amoralitas, penyembahan berhala, kebencian, perpecahan, kemarahan dan kecemburuan [Gal 5:19], kita sudah berjalan dalam Roh, dan ini bahkan lebih sulit daripada berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus telah memberikan kepada kita tujuh karunia-Nya, tetapi apakah kita berusaha untuk menjadi bijaksana, pengertian, saleh, tekun, berpengetahuan dalam iman, takut untuk menyinggung Tuhan [lihat Yesaya 11: 1]? Ini akan menjadi kehilangan terbesar kita jika kita merayakan Pentakosta, namun kita hidup seolah-olah kita tidak pernah menerima Roh Kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP