Hari Raya Kristus Raja [25 November 2018] Yohanes 18: 33-37
“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untukitulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Akumemberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaranmendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37)”

Tahun Liturgi Gereja diakhiri dengan drama dua raja: Pilatus dan Yesus. Pilatus mewakili negara adidaya pada masa itu, Kekaisaran Romawi. Ini adalah kerajaan yang begitu besar dominasi militernya dan semua kerajaan lain bertekuk lutut menghormati sang Kaisar Roma, raja dari segala raja. Di Yerusalem dan Yudea, Pilatus menjadi wajah dari kerajaan yang dilandasi oleh budaya intimidasi dan kekerasan ini. Pilatus adalah seorang pemimpin yang brutal, yang mencuri dari rakyatnya dan mengeksekusi orang bahkan tanpa pengadilan. Tentunya, dia menganggap dirinya sebagai ‘raja’ dari Yerusalem dan siapa saja yang berdiri di jalannya, akan ia hancurkan.
Kita juga terus digoda untuk menjadi bagian dari kerajaan ini. Kadangkala seorang suami menolak untuk mendengarkan istrinya dan memaksakan kehendak-Nya dalam keluarga melalui kekuatan fisiknya. Atau, tidak aman dengan diri mereka sendiri, orang-orang yang lebih besar menggertak anak-anak yang lebih kecil dan lebih lemah di sekolah. Sayangnya, itu terjadi tidak hanya di sekolah tapi di hampir di mana-mana: keluarga, tempat kerja dan bahkan dunia maya. Joseph Stalin, diktator Uni Soviet menggertak Gereja dengan mengatakan, “Berapa banyak divisi tank yang Paus miliki?” Machiavelli, seorang filsuf Itali, bahkan pernah menyimpulkan bahwa ketertiban dalam masyarakat sebenarnya dibangun di atas ketakutan dan kekerasan
Namun, kita memiliki Yesus, sang Raja. Namun, raja macam apakah Yesus? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak pernah mengenakan mahkota emas, kecuali mahkota duri tertanam di kepalanya (Mat 27:29)? Jika Ia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki takhta kekaisaran kecuali palungan yang kotor di Betlehem dan kayu salib yang mengerikan (Luk 2: 7 dan Markus 15:30)? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki tentara yang tangguh? Ironisnya, Ia hanya memiliki kelompok pengikut yang naif yang akhirnya tercerai berai: salah satu dari mereka bahkan menjual-Nya seharga 30 keping perak, harga seorang budak, yang lain menyangkal Dia tiga kali dan sisanya melarikan diri menyelamatkan diri merek sendiri? Apakah Yesus benar-benar seorang raja?
Membaca Injil kita hari ini dengan seksama, Yesus berkata bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Ini berarti bahwa kerajaan-Nya tidak sesuai dengan standar dunia ini. Kerajaan-Nya tidak dibangun di atas kekuatan senjata, dominasi militer, atau kemenangan di dalam perang. Dengan demikian, Dia adalah raja tanpa mahkota emas, dan kerajaannya tidak memiliki angkatan bersenjata. Yesus lebih lanjut mengungkapkan bahwa Dia datang untuk bersaksi tentang kebenaran (Yoh 18:37), dan memang, Dia adalah Sang Kebenaran (Yoh 14:6). Dia adalah raja yang memerintah kerajaan kebenaran, dan rakyatnya adalah mereka yang mendengarkan dan menjadi saksi dari kebenaran. Nya adalah Kerajaan yang membalikkan nilai-nilai kerajaan duniawi. Kerajaan ini tidak dibangun di atas tipu daya, korupsi, atau manuver politik yang sesat, tetapi pada belas kasih, keadilan dan kejujuran. Kerajaan ini mewujudkan cinta kasih sejati bagi sesama bahkan bagi mereka yang kita anggap musuh, pelayanan bagi semua orang terutama untuk orang miskin, dan penyembahan Tuhan yang benar.
Di pengakhir tahun liturgi ini, adalah sebuah penyelenggaraan Ilahai bahwa Gereja memilih bacaan Injil ini untuk kita renungkan. Di sepanjang tahun liturgi, kita datang ke Gereja dan mendengarkan banyak pembacaan dari Kitab Suci terutama Injil. Kita mendengarkan Yesus sendiri, dan kita dihadapkan pada berbagai aspek dari Kebenaran yang berasal dari Yesus. Sekarang, dihadapan dua raja ini, adalah waktu bagi kita untuk memutuskan apakah kita menjadi bagian dari kerajaan Pilatus, atau kita mendengarkan Kebenaran dan mengikuti Yesus.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Pada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.
Hari-hari ini, saya sedang mempersiapkan tahbisan diakonat saya. Diakon sendiri adalah tahap transisi sebelum saya menjadi seorang imam. Terlepas dari kenyataan bahwa diakonat adalah masa transisi, seorang Diakon itu sendiri adalah masa hidup yang penting dalam kehidupan Gereja. Uskup Virgilio David, DD dari Kalookan, Metro Manila, mengingatkan 15 diakon Yesuit yang baru saja ditahbiskan Oktober lalu bahwa kita jangan melihat Diakon hanya sebagai langkah pertama menuju tingkat yang lebih tinggi, seperti imam dan uskup. Diakon adalah inti dalam lapisan lingkaran konsentris yang membentuk pelayanan tertahbis di Gereja. Diakon menjadi inti dari lingkaran pelayanan ini dan tanpa inti ini, para imam dan uskup akan runtuh. Ini adalah fondasi tempat kita membangun kepemimpinan di Gereja. Namun, mengapa Diakon harus ditempatkan sebagai inti dan menjadi fondasi?
Saya mengucapkan kaul lebih dari delapan tahun yang lalu bersama dengan 12 frater lainnya. Salah satu momen paling menyentuh dalam ritual profesi religius ini adalah ketika Romo Provinsial bertanya kepada kami, “Apa yang kamu cari?” Dan kami semua bersujud dan berbaring di lantai, sambil berseru, “Belas kasih Tuhan dan juga komunitas!” Setelah beberapa saat, Pastor Provinsi meminta kami untuk berdiri, dan kami mulai mengucapkan kaul kami di hadapannya. Saat saya mengingat momen yang penting ini, saya merenungkan dalam hati saya, “Mengapa harus meminta belas kasih?” Mengapa kita tidak memilih keutamaan lainnya? Mengapa tidak keadilan, yang adalah salah satu keutamaan penting dalam tradisi Kristiani? Mengapa tidak cinta kasih, yang adalah keutamaan terbesar dari semua keutamaan?
“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Pepatah ini berasal dari bangsawan Inggris, Lord Acton dalam suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 1887. Lord Acton mengamati bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan mutlak atas orang lain cenderung menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengeksploitasi bawahan mereka. Ini terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus dan murid-murid-Nya sendiri menyaksikan para pemimpin korup ini pada zaman mereka dan akhirnya, menjadi korban kekuasaan yang korup tersebut.
Kita menemukan setidaknya tiga episode dalam Alkitab di mana Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa Dia mengasihi seseorang. Yang pertama adalah Yesus yang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus (Yohanes 11: 5). Yang kedua adalah kasih Yesus bagi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34). Yang ketiga dan menjadi fokus kita hari ini adalah Yesus yang mengasihi orang muda kaya yang mencari kehidupan kekal (Mrk 10:21).
Jika ada satu doa yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia, itu adalah pendarasan rosario. Pada 1571, melalui doa rosario tanpa henti, liga negara-negara Katolik yang dipanggil oleh Paus Pius V mampu menghentikan kemajuan militer dari kerajaan Ottoman ke Eropa Barat di perang Lepanto, dekat Yunani. Pada tahun 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak kecil di Fatima, dan salah satu pesannya adalah berdoa rosario untuk kedamaian dunia. Melalui pendarasaan rosario secara nasional, Austria terbebas dari rezim komunis pada tahun 1955. Pada tahun 1960, dipimpin oleh wanita-wanita Katolik yang turun ke jalan sambil berdoa rosario, Brasil juga terhindar dari komunisme.
Ketika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa meyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.
Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [daikon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.