Iman dan Citra Allah

Minggu Paskah kelima. 14 Mei 2017 [Yohanes 14: 1-12]

 “ Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku (Yoh 14: 1)”

faithYesus hendak meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali kepada Bapa-Nya. Para murid bingung dan tidak mengerti. Beberapa takut kehilangan Mesias dan guru mereka. Beberapa tidak mengerti dengan tindakan dan perkataan Yesus. Namun, terlepas dari kebingungan dan ketakutan ini, Yesus mengingatkan mereka agar tidak merasa cemas dan tetap memiliki iman kepada Allah dan kepada-Nya.

Situasi yang dialami para murid Yesus ini sebenarnya adalah situasi yang kita alami juga saat ini. Kita menghadapi banyak permasalahan dan kitapun gelisah. Ada banyak hal yang datang mencobai kita dan kita tidak mengerti mengapa. Kita tidak tahu mengapa begitu banyak penderitaan dan kejahatan menimpa bangsa kita. Kita tidak mengerti mengapa orang baik ditindas dan mereka yang telah melakukan perbuatan jahat tampaknya memiliki kehidupan yang baik. Kita tidak mengerti mengapa kita kehilangan pekerjaan atau usaha kita; mengapa kita mengalami masalah keuangan; mengapa kita kehilangan anggota keluarga kita; Mengapa kita bergulat dengan masalah kesehatan. Kita terus bertanya mengapa.

Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak gelisah dan percaya kepada Allah dan Yesus. Ya, kita mengaku sebagai orang beriman, sudah dibaptis dan ke gereja setiap minggu. Namun, apakah kita benar-benar memiliki iman kepada Allah atau kita sebenarnya beriman kepada citra Allah yang kita ciptakan di dalam hati kita? Mungkin, kita cenderung melihat Tuhan sebagai sang pemecah masalah instan yang akan menangani semua masalah kita kapan saja kita membutuhkan-Nya, atau sebagai sang pemberi hukum tertinggi yang harus dipatuhi setiap saat. Namun, di masa-masa sulit, kita melihat Allah tidak menyelesaikan masalah kita secara instan, atau kita terus mengalami ketidakadilan dan Dia tampaknya tidak berbuat apa. Kita gelisah karena Allah kita atau citra Allah kita tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika iman kita adalah keteguhan hati untuk berpegang pada citra Allah tertentu, ini bukanlah iman yang benar, tapi fundamentalisme. Entah kita pada akhirnya akan kehilangan iman kepada Allah atau kita akan mulai memaksa diri kita dan orang lain untuk memiliki citra Allah kita. Melalui pencobaan dan kesulitan dalam hidup, citra Allah kita yang lama dan tidak lagi memadai ditantang oleh Allah sendiri dan kita diundang untuk menemukan kembali Allah yang benar sekali lagi, yang lebih hidup dan membebaskan. Kita akan kehilangan iman kita kepada Tuhan jika kita hanya berpegangan pada citra-citra tua dan menolak untuk membuka diri kita kepada ‘banyak tempat tinggal’ yang Tuhan siapkan untuk kita. Yesus meminta kita untuk percaya kepada Allah, dan bukan di dalam diri kita sendiri maupun dalam citra Allah yang kita ciptakan. Iman yang benar berarti mengetahui bahwa Tuhan akan menghancurkan citra-citra kita tentang Dia namun, tetap percaya bahwa ini semua untuk kebaikan kita. Memang benar, seringkali kita tidak mengerti, tapi karena kita terus memiliki iman, dan kita akan menemukan Tuhan yang lebih hidup dan membebaskan. Dia mungkin datang sebagai Tuhan yang diam, yang memungkinkan kita untuk terus bertanya; sebagai Allah yang penuh kejutan, yang menyentuh kita pada saat yang paling tak terduga; sebagai Tuhan yang bersahaja, yang berjalan bersama kita dalam perjuangan sehari-hari kita; dan masih banyak lagi citra-Nya di luar imajinasi kita.

Apa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi sekarang? Apa citra Allah yang kita miliki di dalam hati kita sekarang? Apakah kita memiliki iman kepada Allah atau dalam diri kita sendiri?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Akses

Minggu Paskah keempat. 7 Mei 2017 [Yohanes 10: 1-10]

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 1).”

gate of the sheep 2Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?

 Menjadi bagian dari generasi digital, kita memiliki ‘pintu gerbang’ kita sendiri. Dalam istilah harian kita, inilah akses, koneksi atau jaringan. Kita menggunakan akses untuk berkomunikasi, bekerja dan bahkan membuat keputusan penting. Koneksi telah menjadi bagian dari diri kita, karenanya kita menginginkannya, menyanyanginya, dan memperjuangkannya. Terkadang, saya kesal karena koneksi buruk di dalam rumah formasi sehingga saya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia. Seorang anak berumur satu tahun bahkan sudah tahu bagaimana cara memanipulasi iPhone, dan menangis saat orang tuanya mencoba untuk mengambil iPhonenya tersebut. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi jenis kecanduan baru, karena semakin banyak kaum milenial menghabiskan lebih banyak waktu di FB lebih dari hal-hal esensial lainnya. Lesley Alderman dari The New York Times mengatakan bahwa kita mengecek telepon seluler kita rata-rata 47 sampai 82 kali per hari. Ini karena akses yang diberikan bagi kita ke hampir semua hal.

Namun, bukan hanya tentang kecanduan atau bersenang-senang. Akses adalah hidup kita. Banyak perusahaan, profesi dan pekerja sekarang bergantung pada akses internet ini, sesuatu yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu. Adik saya bekerja sebagai coordinator lapangan di sebuah perusahan nasional, dan dia mengkoordinasi anak buahnya, mengecek perkerjaan mereka, dan membeli kebutuhan di lapangan. Semua ini dilakukan di depan laptopnya! Koneksi yang lebih baik berarti transaksi lebih cepat, semakin kaya perusahaan tersebut. Akses yang sama digunakan untuk mengendalikan mesin tak berawak jarak jauh, seperti drone. Beberapa drone digunakan untuk fotografi, hobi dan penelitian, namun beberapa lainnya membawa bahan peledak yang kuat. Sekarang, akses ini bisa membantu kita atau menghancurkan kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu, akses atau koneksi menuju kepenuhan hidup. Sekarang, terserah kita apakah kita mau masuk ke pintu ini dan menggunakan akses ini, atau menolak untuk memasuk dan menyia-nyiakan koneksi ini. Jika kita memeriksa kehidupan kita sehari-hari, berapa jam kita memanfaatkan akses ilahi ini? Kita mungkin kesal jika kita kehilangan koneksi internet, tapi apakah kita kesal saat kita kehilangan koneksi dengan Tuhan? Berapa jam kita habiskan untuk browsing internet, dan dengan penuh semangat chatting dengan teman-teman online kita? Tetapi berapa jam kita gunakan untuk membaca Alkitab dan menyembah Yesus dalam Ekaristi? Kita mungkin terkejut bahwa kita sebenarnya hanya mengingat Tuhan pada hari Minggu. Dan faktanya, dalam Misa, kita juga sibuk dengan apa yang ada di dalam HP kita!

Ini adalah salah satu alasan mendasar mengapa banyak dari kita tidak bahagia, gelisah, dan tersesat meski sukses, kaya, dan akses lainnya yang kita miliki. Mungkin, sebaiknya lepaskan dulu banyak koneksi yang kita miliki, dan hubungkan diri kita kembali ke sumber sukacita sejati. Jika kita tidak menemukan hidup bermakna, ini karena kita tidak memasuki pintu yang membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emaus dan Ekaristi

Minggu Paskah ketiga. 30 April 2017 [Lukas 24: 13-35]

“…Ia memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia… (Luk 24: 30-31)”

emmaus 1Lukas menceritakan kisah Perjalanan ke Emaus dengan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah instruksi kateketis tentang Ekaristi. Kedua murid tersebut sebenarnya melarikan diri dari Yerusalem. Setelah kematian guru mereka, situasi berubah menjadi berbahaya bagi kehidupan mereka. Mereka takut pada penguasa Yahudi, dan harapan dan impian mereka untuk memiliki seorang Mesias hancur berantakan. Lebih baik mereka pergi dan kembali ke kehidupan yang dulu. Namun, Yesus dengan mengejutkan datang, menyembuhkan luka-luka mereka, dan menunjuk mereka kembali sebagai rasul-rasul-Nya. Mari kita lihat beberapa rincian Injil hari ini dan bagaimana narasi ini berbicara tentang Ekaristi.

Bermula dengan Yesus datang kepada dua murid dalam bergulatan. Diapun mendengarkan dan menyimak semua kekhawatiran, kegagalan, dan kecemasan para murid-Nya. Inisiatif ini datang dari Yesus. Setelah mendengarkan cerita mereka, Dia mulai menjelaskan Kitab Suci. Dia menjelaskan bagaimana kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya telah menjadi pemenuhan kitab suci. Bagian ini secara tradisional disebut ‘kerygma’ atau ‘proklamasi’. Kemudian Dia menghubungkan makna kerygma ini dengan kehidupan murid-murid-Nya. Apa yang terjadi di sini adalah bagian pertama dari Misa, yakni Liturgi Sabda: Tuhan mengumpulkan kita umat-Nya dengan segala kegembiraan dan kesedihan kita dan kemudian, Dia memelihara kita dengan Firman-Nya.

Berikutnya adalah pemecahan roti. Namun, sebelum hal ini terjadi, para murid harus melakukan peran mereka dalam mengundang Yesus untuk tinggal bersama mereka. Inisiatif berasal dari Tuhan, tapi kita perlu melakukan usaha kita untuk berpartisipasi dalam karya-Nya dan menjadikannya berbuah. Kemudian, Yesus mengambil roti itu, memberkatinya, memecahkannya dan membagikannya kepada para murid. Tindakan-tindakan ini mengingatkan para murid Yesus akan Perjamuan Terakhir. Sebenarnya, pemecahan roti adalah nama kuno dan alkitabiah untuk Ekaristi. Tujuan dasar Ekaristi adalah untuk menghadirkan Kristus yang sejati, dan sungguh, para murid dapat mengenali Dia di sini. Ini adalah Ekaristi pertama setelah Kebangkitan, dan ini membawa penyembuhan dan pengampunan. Ini memberi makna pada kehidupan yang bermasalah dan pemulihan kepada harapan para murid yang hancur. Kemudian, setelah mendengarkan Firman dan menyantap Tubuh-Nya, hati para murid terbakar dan mereka kembali ke Yerusalem untuk mewartakan Yesus yang telah bangkit. Pertemuan dengan Tuhan yang bangkit selalu membawa kepada misi dan pemwartaan. Ini menggambarkan paruh kedua Misa, liturgi Ekaristi.

Lukas menulis Injilnya lebih dari 1900 tahun yang lalu, dan sungguh menakjubkan bahwa struktur dasar Ekaristi tetap bertahan sampai hari ini. Tentu saja, ada juga banyak perubahan di sepanjang jalan, seperti misalnya transformasi dari Misa Latin tradisional menjadi MIsa Vatikan II, bentuk Ekaristi yang kita miliki saat ini. Namun, kita masih setia pada apa yang benar-benar penting dan mendasar: pemberitaan Firman dan pemecahaan Roti. Kita sungguh terberkati bahwa kita adalah anggota Gereja yang dengan setia bertemu dengan Yesus, dalam Firman dan Ekaristi, sama seperti kedua murid di dalam Injil dan seperti jemaat pertama di zaman Lukas. Sekarang tantangan bagi kita adalah untuk terus hidup sebagai manusia Ekaristi dalam kehidupan kita sehari-hari, pria dan wanita yang diberdayakan oleh Firman dan Tubuh-Nya dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Paradoks Kebangkitan

Minggu Paskah kedua. 23 April 2017 [Yohanes 20: 19-31]

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya (Yoh 20:25).”

Jesus appears to Thomas - John 20:24-29

Thomas sedang mencari bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian. Tidak cukup  baginya untuk melihat Yesus dengan matanya, Thomas membutuhkan bukti lain: menyentuh luka-luka bekas penyaliban Yesus. Thomas adalah salah satu dari dua belas rasul yang merupakan lingkaran dalam murid Yesus. Sebagai bagian dari dua belas rasul, Thomas memiliki hak istimewa untuk berjalan bersama Yesus, makan bersama-Nya, dan menyaksikan perbuatan-Nya yang perkasa. Sekilas, dia akan dengan mudah mengenali Yesus, Gurunya, tapi tetap saja dia menuntut bekas luka-luka Yesus. Mengapa Thomas bersikeras untuk mencari luka-luka itu?

Alasannya adalah bahwa Thomas ingin memastikan bahwa dia tidak melihat hantu atau hanya berhalusinasi. Selain itu, dia ingin memastikan bahwa orang yang akan dia temui benar-benar Yesus, dan bukan seorang penipu yang menyerupai Yesus. Luka-luka penyaliban Yesus menjadi bukti identifikasi Kristus yang bangkit. Meski sangat praktis, ada juga sisi negatifnya. Thomas mengidentifikasi Yesus terutama dengan luka-luka-Nya, kelemahan-Nya. Thomas tidak sendirian di sini. Seringkali, kita juga mengikuti Thomas dalam mengidentifikasi orang lain dengan luka dan kelemahan mereka.

Kita memiliki kelemahan, kegagalan, dan luka kita masing-masing. Seringkali, kita mengasosiasikan diri kita atau orang lain dengan luka dan kelemahan ini. Bayu, yang selalu terlambat; Alex, seorang pengangguran; Roy, si pesakitan; Andre, yang gemuk; Fransiskus, si pembohong; Petrus, si penyangkal; Thomas, si peragu; Maria, yang dirasuki oleh tujuh setan; Yesus, yang tersalibkan. Kita adalah luka-luka kita. Kita tidaklah lebih baik dari tanda kelemahan yang kita tanggung.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus tidak menegur Thomas karena hanya mencari tanda-tanda-Nya. Yesus tidak menuntut Thomas untuk mencari yang terbaik dari-Nya. Dia bahkan memintanya untuk melihat dan menyentuh luka-luka-Nya. Yesus merangkul tanda-tanda kekalahan-Nya dan menjadikannya tanda kebangkitan-Nya. Ini telah menjadi bukti karya Tuhan yang luar biasa, dan tempat pertemuan antara Thomas dan Tuhan. Ini bukan sekedar ‘berpikiran positif’ yang berseru ,“Jika kamu gagal seratus kali, bangunlah seratus satu kali!” Kebangkitan memanggil kita untuk tidak menyangkal atau menyembunyikan kelemahan kita, tapi untuk melihat Tuhan bahkan dalam situasi hidup kita yang paling rendah ini.

Waktu saya kelas satu SD, nilai saya merah di hampir semua mata pelajaran. Sayapun tidak naik kelas dan diminta untuk mengulang. Ini adalah sesuatu yang memalukan dan menyedihkan bagi saya dan keluarga. Kepercayaan diri saya hilang dan saya mulai berpikir bahwa saya adalah anak bodoh dan tidak memiliki masa depan. Tetapi, orang tua saya tidak menyerah. Mereka terus mendukung dan memberikan yang terbaik bagi saya. Sayapun perlahan maju dan berkembang. Melihat kembali pengalaman ini, saya bersyukur karena saya menemukan Tuhan bahkan di dalam pengalaman paling buruk dalam hidup saya. Tuhan yang bangkit hadir di dalam orang tua saya.

Di saat kita lemah dan terluka, di saat kita tidak lagi bisa membanggakan segala hal keberhasilan kita, inilah saatnya Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita. Saat kita gagal dan kalah, kita berlutut dan berdoa. Di dalam luka dan kelemahan, kita menemukan Yesus yang bangkit. Inilah paradoks kebangkitan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebangkitan dan Spiritualitas Dominikan

(Edisi Khusus Paskah)

Minggu Paskah. 16 April 2017 [Yohanes 20:1-10}

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur (Joh 20:1).”

women at the tomb 2Jika kita membaca narasi Kebangkitan di keempat Injil, kita akan menemukan bahwa setiap Penginjil memiliki cerita unik tersendiri. Namun, walaupun berbeda, ada beberapa hal-hal serupa di dalam narasi Kebangkitan, seperti kubur yang kosong, kehadiran para wanita, hadirnya malaikat diikuti oleh Yesus yang bangkit, dan para wanita mewartakan Kabar Baik bagi murid-murid lainnya. Mari kita fokus pada satu fitur yang biasanya luput dari perhatian kita. Saksi pertama dari kebangkitan bukanlah seorang laki-laki, tapi para perempuan. Pertanyaanya sekarang: Di mana para murid laki-laki? Di mana para pria yang berjanji untuk mengorbankan nyawa mereka demi Yesus? Jawabannya: Mereka bersembunyi, lari dan ketakutan.

Saat Yesus dikhianati dan ditangkap, para murid laki-laki menyelamatkan diri, tetapi para murid perempuan setia mengikuti jalan salib Yesus. Mereka berada di sekitar Yesus yang tersalib. Mereka menyaksikan kematian-Nya. Mereka membawa-Nya ke kubur. Mereka kembali ke kubur untuk memberi-Nya ritus penguburan yang layak. Karena kesetiaan mereka, mereka menerima kehormatan menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan-Nya. Tidak hanya saksi, mereka adalah para pewarta pertama kebangkitan-Nya.

Fitur ini menjadi bagian penting dari spiritualitas Dominikan. Salah satu orang kudus pelindung dari Ordo Pengkhotbah adalah St. Maria Magdalena, dan dia dipilih karena kita menghormatinya sebagai pewarta pertama kebangkitan Yesus, seorang rasul kepada para rasul, seorang pewarta kepada para pewarta. Dengan menjadikannya sebagai santa pelindung Ordo, kita mengakui bahwa tugas pewartaan tidak hanya terbatas pada kaum tertahbis, tapi ini adalah misi milik semua, baik pria maupun wanita, baik kaum tertahbis maupun orang awam. Biara pertama yang St. Dominikus didirikan berada di Prouille, Perancis, dan ini adalah sebuah biara bagi wanita. Bagi kita, pewartaan merupakan usaha keluarga. Semua saudara-saudari mengambil bagian dan berkontribusi dalam misi pewartaan yang adalah mengartikulasikan rahmat di antara kita.

Sementara hanya para imam Dominikan yang dapat memberikan homili dalam Misa, ini tidak berarti bahwa para bruder, suster, frater maupun awam tidak bisa mewartakan. Kami, para frater di formasi di Manila, aktif terlibat dalam memberi retret dan rekoleksi, memproduksi video katekese di media sosial, dan memiliki kelompok band untuk lagu-lagu rohani. Para susters kami adalah pengajar-pengajar unggul. Beberapa dari mereka Sr. Mary Catherine Hilkert, OP dan Sr. Helen Alford, OP adalah profesor di universitas-universitas besar di Amerika Serikat dan Eropa. Banyak juga Dominikan awam yang menjadi pewarta awam, aktif di pelayanan katekesis Gereja dan kampus ministri. Namun yang paling penting, mereka menjadi pewarta kepada anak-anak mereka dan mendidik mereka untuk menjadi seorang Katolik yang dewasa dan berkomitmen.

Namun, bagi Dominikan, pewartaan tidak terbatas dalam pelayanan Firman, tetapi juga mengambil berbagai bentuk, tergantung pada kebutuhan umat Allah. Rm. Mike Deeb, OP adalah delegasi permanen Ordo bagi PBB di Genewa. Dengan posisinya, dia mengingatkan perwakilan negara-negara yang teruskan mengabaikan berbagai isu keadilan seperti perdagangan manusia, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan banyak lagi. James MacMillan adalah seorang Dominikan awam dan komposer terkenal dari Skotlandia. Dia mengarang lagu-lagu misa ketika Paus Benediktus XVI mengunjungi Inggris pada tahun 2010. Sr. Katarina Pajchel, OP adalah seorang suster dan juga fisikawan. Dia terlibat dalam projek ATLAS, percobaan fisika partikel di Large Hadron Collider. Ini hanya beberapa nama Dominikan yang menjadi pewarta dengan cara unik mereka sendiri, tentunya masih banyak lagi.

Inti dari spiritualitas Dominikan adalah keyakinan bahwa kita masing-masing dipanggil untuk menyaksikan Kebangkitan-Nya dan untuk membawa Kabar Baik ini ke semua orang. Kabar yang lebih baiknya adalah anda tidak perlu menjadi anggota keluarga Dominikan untuk menjadi pewarta kebangkitan. Kita semua, baik kaum tertahbis maupun awam, baik lelaki maupun perempuan, Dominikan ataupun bukan memiliki misi yang sama, dan bersama-sama kita mewujudkan misi ini sebagai satu keluarga Allah.

Selamat Paskah!

 

Frater Valetinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Hari Minggu Palma – Hari Minggu Prapaskah VI – Mengenangkan Sengsara Tuhan

April 9, 2017

Matius 26: 14-27: 66

“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46)”

holy week 2Banyak teolog maupun umat awam kesulitan untuk memahami kata-kata Yesus di kayu salib ini. Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa terpisahkan dari Allah? Lalu, mengapa Allah yang penuh kasih bisa-bisanya meninggalkan Putra-Nya? Ini tidak masuk akal. Katekismus Gereja Katolik mencoba menjelaskan bahwa ini adalah konsekuensi dari dosa. Bukan karena Yesus telah melakukan dosa, tetapi Dia menanggung dosa dunia di kayu salib. Efek terbesar dari dosa adalah terpisahnya kita dari Allah. Dengan demikian, membawa beban terberat dari dosa, Yesus tidak bisa tidak merasakan efek mengerikan keterasingan dari Bapa-Nya sendiri.

Namun, bagi umat Kristiani perdana yang mendengarkan kata-kata terakhir Yesus di kayu salib ini, mereka mengerti bahwa Yesus sejatinya mendaraskan Mazmur 22. Tradisi mengkategorikan Mazmur 22 sebagai mazmur ratapan. Bahkan, Kitab Mazmur mengandung banyak mazmur ratapan. Meskipun bersifat sedih, jenis mazmur ratapan tetap merupakan sebuah doa yang terinspirasi oleh Roh Kudus. Jika kita membaca Mazmur 22 dengan teliti, kita menemukan bahwa sang pemazmur mencoba untuk mengekspresikan situasi gentingnya karena serangan musuh. Serangan itu begitu intens dan brutal sehingga ia merasa bahwa bahkan Tuhan telah meninggalkan dia. Namun, meskipun merasakan ditinggalkan, ia terus meratap dan berdoa kepada Allah seolah-olah Dia dekat dan tak pernah meninggalkannya. Memang, sang pemazmur frustrasi dan mengeluh, tapi ia mengubahnya menjadi sebuah doa. Meskipun itu satu-satunya doa yang dia daraskan, itu tetap yang doa otentik, tanpa pretensi dan keangkuhan. Inilah sebuah paradoks: ketika sang pemazmur menjadi jujur dengan dirinya sendiri, Allah menjadi sungguh dekat dengannya.

Di kayu salib, Yesus merasakan sakit yang luar biasa baik di secara fisik dan emosional. Saat Ia memasuki kota Yerusalem di mana Ia disambut sebagai Raja, Anak Daud dan Nabi, adalah peristiwa luar biasa, namun dalam hitungan hari, banyak orang yang mengikuti Dia berubah menjadi musuh-Nya dan berteriak, “Salibkan Dia!” Semua keberhasilan besar sebagai seorang pengkhotbah, guru dan pembuat muzijat, hilang dalam sekejap. Ia mati sebagai seorang kriminal, menjadi aib bagi keluarga-Nya dan bangsa-Nya. Dalam kesedihan ekstrim ini, Ia memutuskan untuk berdoa. Bukan sekedar doa, tetapi doa yang paling tepat bagi seorang Yahudi yang sedang menderita: sebuah Mazmur Ratapan. Kata-kata Mazmur 22 mengungkapkan frustrasi dan perasaan ditinggalkan oleh Allah, tetapi sebagai doa, ini sejatinya momen di mana Yesus menjadi paling dekat dengan Bapa-Nya. Ini adalah paradoks salib!

Kita juga memiliki pengalaman salib dalam hidup kita. Kita mungkin menghadapi situasi keuangan yang terpuruk dan ketidakpastian dalam pekerjaan kita. Kita mungkin memiliki kondisi kesehatan yang menguras kekuatan kita. Kita mungkin gagal dalam pernikahan atau persahabatan kita. Kita mungkin kehilangan anggota keluarga tercinta. Kita disalahpahami dan dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah kita perbuat. Kita mungkin diperlakukan dengan tidak adil. Kita tiba-tiba kehilangan proyek atau karya yang telah kita bangun selama bertahun-tahun. Kita tidak dapat melihat cahaya di ujung terowongan gelap ini. Namun, bahkan dalam pengalaman salib ini, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa. Tidak sekedar doa, tapi doa ratapan, doa yang tulus yang mengungkapkan keinginan, kecemasan dan sakit kita yang terdalam. Memang benar bahwa situasi kita mungkin tidak berubah sama sekali, tapi saat kita bisa mengartikulasikan diri kita dan situasi kita, kita dibantu untuk menemukan makna, penghiburan, dan harapan. Dalam doa ratapan, kita melucuti pretensi dan keangkuhan kita. Inilah paradoks: bahkan di dalam doa ratapan, ketika kita berada di jurang terdalam kehidupan kita, Tuhan sebenarnya paling dekat dengan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Maka Menangislah Yesus

Kelima Prapaskah Minggu. 2 April 2017 [Yohanes 11: 1-45]

jesus-weptPada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.

Kematian Lazarus sepertinya sangat memukul keluarga. Dalam masyarakat Yahudi kuno, seorang pria bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan hidup keluarganya. Jika Lazarus adalah satu-satunya pria di keluarga tersebut, Marta dan Maria akan menghadapi masalah serius dalam kelangsungan hidup mereka. Tapi, lebih dari kesulitan ekonomi, hilangnya anggota keluarga karena sakit dan kematian selalu selalu membenamkan seluruh keluarga. Tidak hanya Marta dan Maria ragu akan masa depan mereka, tetapi mereka juga harus menanggung rasa sakit dari kehilangan seseorang yang mereka kasihi, saudara yang mereka andalkan, dan memori-memori indah bersamanya. Siapa pun dari kita yang telah kehilangan anggota keluarga tercinta dapat dengan mudah bersimpati dengan Martha dan Maria.

Ketika Yesus melihat Marta dan Maria yang berduka dan menangis, Yesus mengerang dan sangat terharu. Dan ketika Dia melihat kubur Lazarus, Ia mulai meneteskan air mata. Dia tidak berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, atau Ia tidak tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terlibat di dalam emosi dan penderitaan Martha dan Maria, dan diapun menangis. Kita melihat sekarang Yesus yang benar-benar manusia dan menjadi satu dengan kemanusiaan kita dengan segenap rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Dan Kabar gembira bagi kita semua adalah sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia pertama-pertama menjadi bagian dari kesedihan dan kemanusiaan kita. Dan ini sungguh sebuah penghiburan.

Kita hidup dalam zaman di mana kesuksesan dan kebahagiaan menjadi penentu hidup. Tak heran, banyak buku atau seminar tentang ‘positive thinking’, ‘self-help’ atau ‘sukses’ tumbuh seperti jamur. Bahkan kita dan beberapa gereja lainnya ikut arus dan memberitakan ‘Injil Kemakmuran’. Saya kira tidak ada yang salah dengan menjadi sukses dan kaya, semua adalah berkat dari Tuhan. Tetapi, ini menjadi bermasalah ketika kita cenderung untuk fokus pada perasaan senang dan bahagia, tetapi menekan emosi-emosi ‘negatif’ dengan mengucapkan mantra ‘positive thinking’ atau menghadiri Praise and Worship. Dalam menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kehilangan serta saat diterpa badai kehidupan, sangatlah alamiah untuk merasa sedih. Banyak psikolog setuju bahwa menekan perasaan ini sebenarnya berdampak tidak baik pada kesehatan kita secara menyeluruh. Dalam film animasi Inside Out, kehidupan Riley, sang protagonis utama, ternyata menjadi berantakan ketika Sadness dikesampingkan, dan Joy selalu diunggulkan. Tapi, ketika Joy memberikan tempat bagi Sadness, hidup Riley mulai berjalan dengan baik. Tuhan tidak hanya menciptakan emosi bahagia saja tapi juga emosi sedih, dan ini adalah untuk tujuan yang baik.

Tentu saja Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi melankolis, atau untuk terus bersedih sepanjang masa. Dia mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia yang penuh dan sejati, dengan semua kasih, sukacita, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kemarahan. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya sepenuhnya ilahi, tetapi juga sepenuhnya manusia, dan ini berarti bahwa ketika kita berusaha untuk mengenal Yesus, tidak hanya kita tahu lebih banyak tentang Allah, tetapi juga tentang kemanusiaan kita. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita menjadi benar-benar manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP