Minggu Paskah keempat. 7 Mei 2017 [Yohanes 10: 1-10]
“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 1).”
Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?
Menjadi bagian dari generasi digital, kita memiliki ‘pintu gerbang’ kita sendiri. Dalam istilah harian kita, inilah akses, koneksi atau jaringan. Kita menggunakan akses untuk berkomunikasi, bekerja dan bahkan membuat keputusan penting. Koneksi telah menjadi bagian dari diri kita, karenanya kita menginginkannya, menyanyanginya, dan memperjuangkannya. Terkadang, saya kesal karena koneksi buruk di dalam rumah formasi sehingga saya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia. Seorang anak berumur satu tahun bahkan sudah tahu bagaimana cara memanipulasi iPhone, dan menangis saat orang tuanya mencoba untuk mengambil iPhonenya tersebut. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi jenis kecanduan baru, karena semakin banyak kaum milenial menghabiskan lebih banyak waktu di FB lebih dari hal-hal esensial lainnya. Lesley Alderman dari The New York Times mengatakan bahwa kita mengecek telepon seluler kita rata-rata 47 sampai 82 kali per hari. Ini karena akses yang diberikan bagi kita ke hampir semua hal.
Namun, bukan hanya tentang kecanduan atau bersenang-senang. Akses adalah hidup kita. Banyak perusahaan, profesi dan pekerja sekarang bergantung pada akses internet ini, sesuatu yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu. Adik saya bekerja sebagai coordinator lapangan di sebuah perusahan nasional, dan dia mengkoordinasi anak buahnya, mengecek perkerjaan mereka, dan membeli kebutuhan di lapangan. Semua ini dilakukan di depan laptopnya! Koneksi yang lebih baik berarti transaksi lebih cepat, semakin kaya perusahaan tersebut. Akses yang sama digunakan untuk mengendalikan mesin tak berawak jarak jauh, seperti drone. Beberapa drone digunakan untuk fotografi, hobi dan penelitian, namun beberapa lainnya membawa bahan peledak yang kuat. Sekarang, akses ini bisa membantu kita atau menghancurkan kita.
Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu, akses atau koneksi menuju kepenuhan hidup. Sekarang, terserah kita apakah kita mau masuk ke pintu ini dan menggunakan akses ini, atau menolak untuk memasuk dan menyia-nyiakan koneksi ini. Jika kita memeriksa kehidupan kita sehari-hari, berapa jam kita memanfaatkan akses ilahi ini? Kita mungkin kesal jika kita kehilangan koneksi internet, tapi apakah kita kesal saat kita kehilangan koneksi dengan Tuhan? Berapa jam kita habiskan untuk browsing internet, dan dengan penuh semangat chatting dengan teman-teman online kita? Tetapi berapa jam kita gunakan untuk membaca Alkitab dan menyembah Yesus dalam Ekaristi? Kita mungkin terkejut bahwa kita sebenarnya hanya mengingat Tuhan pada hari Minggu. Dan faktanya, dalam Misa, kita juga sibuk dengan apa yang ada di dalam HP kita!
Ini adalah salah satu alasan mendasar mengapa banyak dari kita tidak bahagia, gelisah, dan tersesat meski sukses, kaya, dan akses lainnya yang kita miliki. Mungkin, sebaiknya lepaskan dulu banyak koneksi yang kita miliki, dan hubungkan diri kita kembali ke sumber sukacita sejati. Jika kita tidak menemukan hidup bermakna, ini karena kita tidak memasuki pintu yang membawa kita pada kepenuhan hidup.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Lukas menceritakan kisah Perjalanan ke Emaus dengan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah instruksi kateketis tentang Ekaristi. Kedua murid tersebut sebenarnya melarikan diri dari Yerusalem. Setelah kematian guru mereka, situasi berubah menjadi berbahaya bagi kehidupan mereka. Mereka takut pada penguasa Yahudi, dan harapan dan impian mereka untuk memiliki seorang Mesias hancur berantakan. Lebih baik mereka pergi dan kembali ke kehidupan yang dulu. Namun, Yesus dengan mengejutkan datang, menyembuhkan luka-luka mereka, dan menunjuk mereka kembali sebagai rasul-rasul-Nya. Mari kita lihat beberapa rincian Injil hari ini dan bagaimana narasi ini berbicara tentang Ekaristi.


Jika kita membaca narasi Kebangkitan di keempat Injil, kita akan menemukan bahwa setiap Penginjil memiliki cerita unik tersendiri. Namun, walaupun berbeda, ada beberapa hal-hal serupa di dalam narasi Kebangkitan, seperti kubur yang kosong, kehadiran para wanita, hadirnya malaikat diikuti oleh Yesus yang bangkit, dan para wanita mewartakan Kabar Baik bagi murid-murid lainnya. Mari kita fokus pada satu fitur yang biasanya luput dari perhatian kita. Saksi pertama dari kebangkitan bukanlah seorang laki-laki, tapi para perempuan. Pertanyaanya sekarang: Di mana para murid laki-laki? Di mana para pria yang berjanji untuk mengorbankan nyawa mereka demi Yesus? Jawabannya: Mereka bersembunyi, lari dan ketakutan.
Banyak teolog maupun umat awam kesulitan untuk memahami kata-kata Yesus di kayu salib ini. Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa terpisahkan dari Allah? Lalu, mengapa Allah yang penuh kasih bisa-bisanya meninggalkan Putra-Nya? Ini tidak masuk akal. Katekismus Gereja Katolik mencoba menjelaskan bahwa ini adalah konsekuensi dari dosa. Bukan karena Yesus telah melakukan dosa, tetapi Dia menanggung dosa dunia di kayu salib. Efek terbesar dari dosa adalah terpisahnya kita dari Allah. Dengan demikian, membawa beban terberat dari dosa, Yesus tidak bisa tidak merasakan efek mengerikan keterasingan dari Bapa-Nya sendiri.
Pada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.
Kebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Dalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).
Pencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?