Minggu Biasa ke-27 [8 Oktober 2017] Matius 21: 33-43
“Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur… (Mat 21:33)”
Kebun anggur merupakan citra yang dekat dengan hati orang Israel. Nabi Yesaya menggunakan metafora ini untuk menggambarkan relasi Israel dan Allah mereka (lihat Yesaya 5: 1-8). Konsisten dengan nabi agung ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang kebun anggur versi-Nya sendiri untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya. Tuhan adalah pemilik kebun anggur yang adil dan juga murah hati, dan kita adalah para pekerja-Nya. Sekarang, terserah kepada kita untuk bekerja keras untuk Tuhan di kebun anggur-Nya dan menerima panen berlimpah, atau bermalas-malasan, dan akhirnya diusir dari kebun anggur.
Namun, ada cara lain untuk membaca perumpamaan ini. Selama tiga hari Minggu berturut-turut, kita mendengarkan perumpamaan yang menampilkan kebun anggur dan orang-orang yang terlibat dalam kebun anggur ini. Jika ada satu kesamaan dari ketiga perumpamaan tersebut, ini adalah hubungan yang sulit dan sering kali bermasalah antara pemilik kebun dan para pekerja.
Di Israel masa lalu, pemilik tanah yang besar mempekerjakan para buruh atau menyewakan tanah mereka kepada petani. Pada akhir hari, para pekerja menerima upah mereka, atau saat panen, penyewa mendapatkan bagian dari panen tersebut. Di sinilah situasi sering menjadi sangat sulit dan penuh konflik. Sang pemilik menginginkan keuntungan tertinggi dari tanah mereka, sementara para pekerja menginginkan penghasilan terbesar dari usaha mereka. sering kali, buruh tani Israel menerima upah yang kecil atau bagian yang sangat kecil dari panen. Dengan pendapatan yang sangat kecil, mereka masih harus membayar pajak yang tinggi kepada penjajah Romawi dan juga sumbangan ke Bait Allah. Apa yang tersisa hampir tidak cukup untuk memberi makan keluarga mereka. Tentunya, pekerja yang tidak puas dan lapar sangat rentan terhadap aksi kekerasan terhadap sesama dan pemilik tanah. Namun, tidak semua pemilik lahan adalah buruk. Mereka yang baik akan memberi upah yang lebih dari cukup, namun mereka juga harus menghadapi masalah seperti beberapa pekerja yang cenderung malas, kasar terhadap rekan kerja, dan bahkan terlibat dalam pencurian panen.
Di zaman ini, kita tampaknya menghadapi masalah yang lebih kompleks dalam kaitannya dengan pemilik modal, pekerja dan pekerjaan. Dengan jaringan dan komunikasi global, perusahaan Amerika dapat mempekerjakan tenaga kerja Filipina yang bekerja di Manila yang melayani pelanggan dari Eropa. Dengan mobilitas yang hampir tidak terbatas, jutaan pekerja dari Indonesia atau Filipina mencoba peruntungannya di negara-negara Timur Tengah. Dengan pengembangan teknologi otomasi, banyak kerja manual secara bertahap digantikan oleh robot. Semakin banyak orang lebih memilih untuk membeli barang atau layanan secara Online. Salah satu perdebatan terpanas yang sekarang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah penggunaan intelletualitas buatan (Artificial Intellegence) untuk memberi keputusan bagi kasus-kasus hak asasi manusia di Pengadilan Internasional. Artificial Intellegence telah menjadi begitu canggih sehingga bisa memprediksi putusan hakim manusia. Kini, profesi manusia yang membutuhkan keahlian yang kompleks seperti hakim bahkan bisa digantikan oleh Artificial Intellegence. Banyak profesi yang tren di masa lalu telah punah, dan banyak profesi baru pun bermunculan. Namun, terlepas dari kemajuan dan kompleksitas ini, kita tetap menghadapi masalah mendasar: apakah yang memperkerjakan dan yang diperkerjakan memberikan apa yang diharapkan dan menerima apa yang menjadi hak mereka?
Oleh karena itu, perumpamaan Yesus tidak hanya relevan untuk masa ini, tetapi juga terus menantang pemahaman mendasar tentang martabat kita sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya. Sebagai pekerja, apakah sikap kita di tempat kerja mencerminkan sikap yang baik para pengikut Yesus? Sebagai pemilik atau atasan, apakah kita mewujudkan keseimbangan antara keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya? Akhirnya, sebagai rekan kerja Tuhan, apakah kita bekerja untuk dunia yang lebih baik bagi kita dan generasi masa depan, atau kita hanya ingin mencapai kepentingan egois dan keserakahan kita?
(Catatan: hari ini adalah hari raya Bunda Maria Ratu Rosario La Naval de Manila, dan setiap pagi saya berdoa dihadapannya memohon inspirasi yang membimbing saya dalam menulis refleksi Mingguan ini. Semoga Sang Bunda terus membimbing dan menemani kita dalam perjalanan iman kita.)
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Bernardus dari Clarivaux pernah berpendapat bahwa Jalan menuju neraka dibuat dengan niat baik. Ucapannya mungkin terdengar agak mengerikan, tapi dia berbicara sebuah kebenaran. Jika kita hanya memiliki niat baik atau rencana yang luar, tapi kita tidak pernah bergerak untuk memulai langkah pertama, tidak akan terjadi apa-apa. Kita ingin fokus pada pendidikan kita, namun kita terus terganggu oleh status di Facebook, Online chat, atau menonton ribuan video di YouTube, maka kita tidak akan membuat kemajuan. Kita ingin menyelesaikan banyak pekerjaan di tempat kerja, tapi perhatian dan energi kita terkonsumsi oleh begitu banyak hal-hal lain. Maka, niat baik kita tetaplah sebuah niat.
Yesus adalah seorang pencerita yang luar biasa. Perumpamaan Yesus hari ini tidak hanya mengejutkan kita dengan akhir yang tak terduga, tapi juga membuat kita bertanya-tanya. Kita berharap para pekerja yang bekerja sepanjang hari akan mendapatkan upah yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlambat datang. Namun, itu tidak terjadi. Semua mendapat upah yang sama. Pemilik kebun anggur menjelaskan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan dengan para pekerja, tapi di dalam lubuk hati kita, kita merasa ada sesuatu yang salah.
Mengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.
Yesus mengerti bahwa komunitas manusia, termasuk komunitas murid-murid-Nya sendiri, atau Gereja, akan selalu dipengaruhi oleh kelemahan manusia dan dosa. Bahkan di dalam komunitas yang berorientasi pada Kristus, seperti biara, paroki, dan berbagai pelayanan dan kelompok di Gereja, tak dapat dihindari bahwa kita saling menyakiti. Dengan demikian, Yesus menguraikan sebuah prosedur rekonsiliasi untuk mengatasi kesalahpahaman, pertengkaran, dan konflik. Ini dimulai dengan dialog pribadi atau empat mata, kemudian ketika hal itu tidak berhasil, kita meminta bantuan seorang saksi atau mediator, dan masih belum berhasil, kita naik ke tingkat komunitas.
Kita mendengar sebuah pertukaran kata-kata yang paling panas dalam Injil, dan ini tidak tanggung-tanggung karena melibatkan Yesus dan Simon Petrus. Sang Rasul menegur Yesus karena telah menyatakan kepada murid-murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh, tetapi bangkit pada hari ketiga. Sebaliknya, Yesus menegur Petrus dan memanggilnya “Setan”. Mengapa pertengkaran yang hebat ini terjadi antara Yesus, yang adalah Tuhan yang maha pengasih, dan muridnya yang terpuji, Simon yang baru saja dinyatakan sebagai batu karang Gereja?
Yesus bertanya kepada murid-murid siapakah Dia, dan Simon menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Simon Petrus menjawab dengan benar, dan Yesus sendiri mengungkapkan bahwa jawabannya tidak berasal dari kelemahan manusiawi, namun dari Bapa di surga. Dulu saya berpikir bahwa pewahyuan ini terjadi secara instan di dalam pikiran Simon. Seperti Archimedes yang menemukan Hukum Hidrostatis, Simon juga berteriak “Eureka! Aku telah menemukannya!”


Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.
Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.