Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mamon

Minggu pada Pekan Biasa ke-8 (Tahun A) 26 Februari 2017 [Matius 6:24-34]

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat 6:24)

slaveMamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.

Bukan hal baru di banyak negara, pejabat pemerintah terlibat dalam korupsi besar-besaran, sementara warga biasa harus bekerja keras dan membayar pajak. Di Brazil, Filipina dan negara-negara lain, petani-petani kecil diusir dari rumah dan tanah mereka oleh tuan tanah yang serakah. Kita juga menghadapi Realitas suram perdagangan manusia yang terselubung namun  sangat besar. Anak-anak dan perempuan diculik dan diperdagangkan sebagai komoditas, digunakan sebagai pengantar narkoba atau objek seks. Sementara yang lain menghadapi kematian karena organ tubuh mereka dijual di pasar gelap. Hutan dan pegunungan yang indah hancur karena penebangan liar dan pertambangan ilegal. Hal ini menyebabkan kehancuran ekologi, satwa terancam punah, sungai dan laut menjadi situs limbah beracun raksasa, dan tanah menjadi sangat tandus dan mati.

Penyembahan Mamon tidak hanya berlangsung di luar sana, tapi tanpa disadari, hal ini juga menjadi malapetaka di rumah dan keluarga kita sendiri. Siapa di antara kita yang kecanduan kerja dan mulai mengesampingkan tanggung jawab kita dalam keluarga dan mengabaikan kesehatan kita? Siapa di antara kita mulai berpikir bahwa memberikan uang kepada anak-anak kita sudah cukup untuk pertumbuhan mereka? Kadang-kadang, para imam dan rohaniawan terjebak dalam mentalitas yang sama. Kami melakukan pelayanan seolah-olah tidak ada hari esok. Kita mulai menyisihkan dasar-dasar seperti doa, studi, dan komunitas.

St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kekayaan dan uang tidak dapat memuaskan kerinduan terdalam kita. Dia berpendapat bahwa tujuan kekayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita yang fana, tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual dan tertinggi kita. Masalah sebenarnya terjadi ketika kita keliru dan menjadikan kekayaan sebagai pemenuhan keinginan kita yang tak terbatas. Kita membuat Mamon tuhan. Kita meninggalkan Allah yang benar dan semua masalah serius pun dating karena kita mulai menjadi seperti Mamon, tidak rasional, tidak berpikir dan tidak hidup.

Yesus memanggil kita untuk kembali ke Allah yang benar. Bentuk lain dari mamon, seperti kekayaan, uang, gadget, properti, mobil, sex, prestise, pekerjaan hanya menyeret kita ke dalam perbudakan dan kesengsaraan. Sulit memang karena kenikmatan instan yang kita terima, namun, hal ini perlu karena hanya Tuhan yang bisa membawa kita kebahagiaan sejati dan pembebasan. Kita dibebaskan dari ilusi keperkasaan kita, dari berlebihan ego-sentrisme kita. Tidak hanya kita dibebaskan, tetapi juga keluarga dan masyarakat kita, lingkungan kita dan bumi kita juga terbebaskan. Ingin membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik? Lepaskanlah mamon dan biarkan Allah menjadi Allah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih, bukan untuk yang Lemah Hati

Ketujuh Minggu Biasa (Tahun A). 19 Februari 2017 [Matius 5: 38-48]

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat 5:44)”

love-your-enemies-2Cinta kasih bukanlah untuk orang yang lemah hatinya. Mengasihi itu sulit, bahkan bagi mereka yang seharusnya kita cintai secara alami dan mudah. Kadang-kadang, kita menyesal telah mengikat diri dalam pernikahan dengan seseorang yang moody, banyak tuntutan dan tidak lagi menarik. Kadang-kadang, kita ingin menendang keluar anak-anak yang menjadi keras kepala dan susah diatur. Kadang-kadang, kita, kaum berjubah, juga berpikir bahwa kita telah memasuki Kongregasi atau biara yang salah.

Namun, Yesus ingin kita pergi lebih jauh, dan bahkan mengasihi musuh kita. Jika kita kesulitan untuk mengasihi orang yang dekat dengan hati kita, bagaimana mungkin untuk mengasihi mereka yang kita benci? Bagaimana kita akan mengasihi orang-orang yang memberi banyak masalah di kantor atau di sekolah? Apakah bisa untuk bersikap baik kepada orang-orang yang menyebarkan gosip jahat tentang kita? Mengapa kita harus bersikap baik kepada orang-orang yang telah menipu kita dan bahkan mengeksploitasi kita? Apakah kita perlu memaafkan mereka yang telah melakukan tindak kekerasan dan memberi kita pengalaman traumatis yang permanen?

Meskipun sangat sulit untuk mengasihi, bahkan hampir tidak mungkin, Yesus tetap pada pendirian-Nya. Dia tahu siapa kita, jauh lebih baik kita mengetahui diri kita sendiri. Kita diciptakan dalam citra Allah. Dan St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Oleh karena itu, kita dibuat dalam citra Kasih. Ini adalah identitas kita untuk mengasihi, dan hanya dalam mengasihi kita menemukan kebahagiaan. Namun, bagaimana kita mengasihi orang yang kita benci?

Ketika Yesus memerintahkan untuk mengasihi, Injil sengaja memilih kata agape’ untuk kasih. Dalam bahasa Yunani, Agape sedikit berbeda dari jenis cinta yang lain seperti philia dan eros. Jika philia dan eros adalah cinta yang lahir dari perasaan ketertarikan kita yang alamiah untuk seseorang, agape pada dasarnya berasal dari kekuatan kehendak, keberanian dan kebebasan. Lebih mudah untuk mencintai seseorang kita sukai, tapi kita tidak diciptakan hanya dalam citra philia dan eros, kita adalah citra dari Agape. Kita memiliki kemampuan dalam diri kita untuk mengasihi meskipun ada perasaan tidak menyenangkan terhadap seseorang.

St. Thomas Aquinas mendefinisikan bahwa ‘mengasihi adalah kemauan untuk berbuat baik pada orang lain. Kita tidak perlu merasa baik kepada seseorang, untuk berbuat baik kepadanya. Dalam tradisi Gereja, kita memiliki berbagai karya belas kasih, dan semua ini tidak bisa jalan jika hanya berdasarkan emosi. Banyak keuskupan dan paroki di Filipina secara aktif membantu rehabilitasi pecandu obat terlarang di masyarakat. Tentunya, tidak ada yang suka dengan pecandu, beberapa bahkan ingin mereka mati, tapi kenapa yang para anggota Gereja terus membantu mereka, meskipun dikritik? Karena Yesus ingin kita mengasihi mereka.

Kasih sejati itu sulit dan bukan untuk mereka yang lemah hati. Kasih ini menuntut keberanian, kekuatan, dan pengorbanan. Namun, tanpa kasih, apa gunanya hidup? Danny Thomas, seorang aktor dan produser kawakan, mengatakan, “Semua dilahirkan karena suatu alasan, tetapi kita semua tidak mengetahui apa. Sukses dalam hidup tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan dalam hidup atau capai untuk diri sendiri. Hidup adalah apa yang Anda lakukan untuk orang lain.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih Baik Dari Farisi

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa. 12 Februari 2017 [Matius 5: 20-37]

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)”

pharisees2Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, orang-orang Farisi tidak seutuhnya jahat. Dalam zaman Yesus, mereka memiliki peran penting, yakni merevolusi masyarakat Yahudi. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa Hukum Taurat, berbagai ritual dan praktek devosi dari Bait Allah di Yerusalem ke komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga Yahudi di Israel. Banyak orang-orang Farisi mengelola rumah-rumah ibadat setempat di berbagai penjuru Palestina dan memastikan bahwa orang-orang akan melaksanakan dengan baik Hukum Taurat dan tradisi, seperti Sabat dan ritual pembersihan. Berbeda dengan imam yang bertugas di Bait Allah, orang-orang Farisi adalah orang-orang awam yang mencintai Hukum Taurat di dalam kesederhanaan hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, ketika Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, kasta imam juga menghilang, tapi budaya dan agama Yahudi terus hidup karena orang-orang Farisi ini yang adalah orang-orang awam.

Yesus mengkritik mereka bukan karena mereka mencintai Hukum Taurat dan tradisi, tetapi bagaimana mereka ‘menginterpretasi’ Hukum tersebut. Tak diragukan lagi orang-orang Farisi mencintai Hukum Musa, tetapi bahayanya adalah mereka bisa jatuh ke dalam fundamentalisme. Mereka memutlakkan setiap huruf Hukum Taurat dan tradisi, dan melupakan tujuan utama Hukum tersebut: melayani: Allah dan sesama manusia. Untuk menjadi fundamentalis itu mudah karena kita memilih untuk mengikuti huruf-huruf mati yang tertera di Kitab suci. Jauh lebih sulit untuk berdialog dengan Dia yang ada di balik huruf-huruf tersebut dan mereka yang ada di depan huruf-huruf tersebut.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang bertindak seperti orang Farisi. Seperti mereka, kita mengasihi Tuhan, Hukum-Nya dan Gereja-Nya, tapi kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Saya sedih ketika tidak sedikit orang berdebat tentang bagaimana menerima Ekaristi Kudus, berlutut, berdiri, dengan tangan atau langsung ke mulut. Beberapa menuduh misa Karismatik itu sesat. Beberapa lainnya menyatakan bahwa Misa Latin sebagai ultra-konservatif. Saya juga sedih dengan seorang teman dan juga apologis Katolik muda di Filipina yang rajin berdebat di internet, namun tidak melakukan apa-apa untuk membantu ibunya yang sedang sakit. Ya, Kitab Suci dan Liturgi merupakan bagian penting dari iman kita dan juga sarana keselamatan, tetapi jika kita terpecah-belah dan menjadi fundamentalis-fundamentalis kecil, kita melepas tujuan utama iman kita.

Kita lupa untuk mengubah kasih kita kepada Allah dan Gereja-Nya ke dalam kasih bagi orang lain. St. Dominikus de Guzman menjual buku-bukunya yang mahal terbuat dari kulit binatang sehingga ia bisa memberi makan orang-orang miskin, dan berkata, “Apakah kamu mau saya belajar dari ini kulit mati ini ketika kulit hidup mati kelaparan?” Siapa di antara kita yang terlibat memberi makan orang miskin sekitar kita? Siapa di antara kita melakukan sesuatu yang berarti bagi korban ketidakadilan di masyarakat? Siapa di antara kita memiliki kesabaran terhadap saudara dan saudari kita yang bermasalah dalam keluarga atau masyarakat? Ingat bahwa kita dipanggil untuk melampaui kebenaran orang-orang Farisi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Mengapa Garam?

Minggu Ke-5 dalam Pekan Biasa. 5 Februari 2017 [Matius 5:13-16]

Kamu adalah garam dunia (Mat 5:13).

PrintYesus mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Yesus tidak berkata kita ‘seperti’ garam dunia. Keduanya sangat berbeda, seperti ‘saya adalah Bayu’ jauh berbeda dengan ‘saya seperti Bayu.’ Kalimat pertama memberi hubungan esensial antara subjek dan predikat, sedangkan kalimat kedua hanya hubungan kesamaan yang sementara. Yesus pun tahu persis hal ini.

Yesus melihat bahwa menjadi garam dunia adalah bagian sangat penting dan menentukan dari identitas dan misi para murid-Nya. Kita tidak bisa menjadi garam dunia hanya pada hari kerja dan berubah menjadi gula dalam akhir pekan. Kita adalah garam setiap detik dari kehidupan kita. Ini adalah apa yang kita sebut panggilan. Menjadi garam dunia adalah panggilan kita.

Biasanya, garam digunakan sebagai bumbu. Kita tidak suka jika makanan terlalu asin, tapi kita lebih tidak suka jika makanan hambar. Saat saya masih di Seminari Mertoyudan, kita makan makanan tanpa garam sebagai bentuk pantang dan puasa pada masa Pra-Paskah. Sungguh, rasanya benar-benar mengerikan. Tapi karena kami lapar, santapan tetap saja habis. Ini adalah saat saya menghargai pentingnya garam. Menjadi garam, kita harus membuat perbedaan di dunia dengan perbuatan baik kita, namun tidak ‘terlalu asin’ sehingga kita hanya menarik perhatian untuk diri kita sendiri. Sekali lagi, kita berbuat baik sepanjang waktu, tidak hanya ketika orang lain melihat kita, tidak hanya ketika kita merasa baik dan termotivasi, tidak hanya ketika kita mengharapkan imbalan. Seorang ibu tentu tidak akan berbuat baik kepada anak-anaknya hanya Senin sampai Jumat. Atau ayah hanya akan membesarkan anak berpotensi sukses dan menelantarkan yang lain.

Namun, kita juga bertanya: mengapa kita harus menjadi garam? Kita menyadari bahwa selain untuk bumbu, garam praktis tidak memiliki nilai gizi. Bahkan beberapa ilmuwan menghubungkan kelebihan garam dengan masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi. Mengapa tidak sesuatu yang lebih bermanfaat seperti nasi, pasta, atau mie? Jawabannya sebenarnya sederhana: bukan panggilan kita untuk menjadi sumber nutrisi utama dan kehidupan. Ini milik Yesus. Maka tidak salah jika dalam Injil Yohanes, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Roti Hidup (Yoh 6:35). Ia adalah sumber kehidupan yang sejati, bukan kita. Di Filipina, kita memiliki roti populer bernama  pandesal’ (secara harfiah berarti roti garam). Ini adalah roti kecil yang terbuat dari tepung, ragi, telur, gula dan garam. Sebenarnya terasa sedikit manis daripada asin. Jumlah garamnya pun tidak signifikan, tetapi garam tetap ada untuk meningkatkan cita rasa roti, membuatnya semakin nikmat di lidah. Jadi garam bukanlah hal yang sebenarnya, melainkan roti.

Seperti garam, bukan kita yang memberikan hidup, tetapi panggilan kita adalah untuk membawa Yesus kepada orang lain sehingga mereka dapat memiliki hidup. Kebaikan kita bukan untuk menarik pujian bagi diri kita sendiri, tetapi melalui perbuatan baik kita, Tuhan akan semakin terasa di kehidupan banyak orang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukan Keramaian tetapi Menjadi Murid

Minggu Ke-4 pada Masa Biasa. 29 Januari 2017 [Matius 5: 1-12]

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya (Mat 5:1).”

sermon-on-the-mount-2Injil Matius bab 5 sampai 7 dikenal sebagai khotbah Yesus di Bukit. Bagian ini berisi ajaran-ajaran dan perumpamaan Yesus yang sangat terkenal seperti 8 Sabda Bahagia, dan tentang mengasihi musuh kita. Sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun duduk. Posisi ini sebenarnya melambangkan otoritas Yesus untuk mengajar. Di Bukit, Yesus adalah guru, dan sebagai guru yang baik, Dia akan mengharapkan mereka yang datang kepada-Nya untuk mendengarkan-Nya dengan penuh perhatian. Maka, sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun naik ke bukit untuk memisahkan diri dari kerumunan. Yesus tahu bahwa menjadi bagian dari kerumunan adalah sangat mudah dan biasanya terdorong oleh motif-motif egois seperti ingin segera disembuhkan, untuk diberi makan dan dihibur. Alasannya sangat dangkal, mereka menjadi kerumunan karena tertarik dengan pemimpin karismatik seperti Yesus, namun saat kebutuhan mereka terpenuhi atau sang pemimpin tidak lagi memuaskan, kerumunan pun akan secara alami membubarkan diri.

Khotbah di Bukit dimaksudkan bukan untuk kerumunan, tapi untuk sekelompok kecil orang yang akan duduk di sekitar Yesus dan mendengarkan Dia dengan penuh perhatian. Ini adalah para murid. Memang, hubungan guru-murid adalah salah satu yang paling mendasar bagi kita, umat Kristiani. Jika kita mencari Yesus hanya untuk kepuasaan emosional dan keuntungan ekonomis, kita hanya bagian dari kerumunan. Dan ini bukan panggilan kita. Yesus memanggil kita ke dalam hubungan yang lebih berakar dan dewasa dengan-Nya. Dia ingin kita menjadi murid-Nya, untuk mendengarkan-Nya dan mengikuti-Nya.

Namun, untuk menjadi murid di zaman ini adalah sungguh menantang. Kita adalah bagian dari generasi digital. Kita adalah orang-orang yang memegang iPhone atau Android terbaru di tangan kita, mengakses internet 24 jam dan terekspos pada saluran TV yang tak terhitung jumlahnya. Kita bergerak dari satu program TV ke yang lain, mengunjungi dari satu website ke yang lain, menggunakan satu aplikasi ke yang lain, pergi dari satu hiburan ke yang lainnya dengan cepat dan mudah. Akibatnya, rentang perhatian banyak orang terutama orang-orang muda menurun secara tajam. Saya sendiri mengajar Teologi dan Kitab Suci kepada rekan-rekan muda di Filipina, dan saya harus selalu kreatif, menarik dan menggunakan berbagai metode dan multimedia. Saat orang-orang muda ini kehilangan minat mereka, mereka tidak akan mendengarkan dan segera sibuk dengan hal lain. Jadi, tak heran jika orang zaman ini tidak tahan homili yang panjang dan membosankan. Beberapa memilih misa dengan pengkhotbah yang lebih baik, beberapa memilih untuk mencari paroki lain, orang lain memutuskan untuk pindah ke gereja-gereja lainnya, dan sisanya merasa misa tidak lagi berarti.

Tentu saja itu adalah tantangan bagi para pewarta seperti saya sendiri untuk meningkatkan kemampuan dalam berkhotbah, menjadi lebih menarik dan peka terhadap kebutuhan pendengar kontemporer. Namun, benar juga bahwa kita semua adalah para murid Kristus, dan kita diundang untuk memiliki kerendahan hati dan telinga yang mendengarkan. Yesus dan Gereja-Nya bukan taman hiburan global. Kita datang kepada Yesus bukan sebagai orang mencari kebahagiaan instan. Jika tidak, kita memperlakukan Yesus sebagai narkoba belaka, dan kita adalah pecandu! Kita berdoa agar kita terus mendengarkan Dia bahkan di saat kita tidak merasa menyenangkan. Kita berdoa agar kita melampaui mentalitas kerumunan dan menjadi benar murid-murid Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kapernaum

Minggu ketiga di Masa Biasa. 22 Januari 2017 [Matius 4: 12-23]

“Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13).

capernaum

Yesus memulai karya-Nya saat Ia pindah ke kota lain di Galilea. Dari kampung halamannya Nazareth ke Kapernaum yang lebih besar dan lebih padat penduduk. Yesus pun melakukan urbanizasi! Nazaret adalah kecil dan sedikit penghuni, sementara Kapernaum adalah salah satu pusat industri perikanan di Danau Galilea. Di kota ini, orang-orang datang, berkumpul, dan berinteraksi satu sama lain. Jika Yesus memulai misi-Nya di Nazaret, mungkin, Ia akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan misi-Nya. Kapernaum memberi keuntungan penting bagi Yesus. Di kota ini, Yesus lebih mudah untuk mengumpulkan orang-orang, berkhotbah dan menarik pengikut. Sebagai kota pelabuhan, Kapernaum memberikan mobilitas kepada Yesus untuk pergi ke tempat-tempat lain di sekitar Galilea. Dan, Kapernaum juga menyediakan Yesus tempat tinggal dan sumber daya lain untuk karya-Nya. Alasan Yesus untuk bermigrasi adalah hal praktis namun sangat menentukan.

Ketika St. Dominikus memulai ordonya, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim kelompok saudara-saudaranya yang kecil dan rapuh ke kota-kota universitas besar seperti Paris dan Bologna. Keputusannya dikritik sebagai tindakan yang ceroboh dan berbahaya. Tapi, dia berteguh karena ia percaya,  “Biji yang tersimpan akan membusuk!” Dominikus benar-benar mampu berpikir seperti Yesus. Di kota-kota besar inilah, para saudara tidak hanya mampu untuk belajar, tetapi juga untuk berkhotbah dan mengundang orang-orang untuk menjadi bagian dari komunitas. Dominikus pun memberi instruksi yang sangat jelas sebelum ia mengirim saudara-saudaranya: “untuk belajar, berkhotbah dan membangun komunitas.”

Masa kita ditandai dengan mega migrasi. Banyak orang pindah dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dan dari satu benua ke benua lain dengan kemudahan dan kecepatan. Dan seperti Yesus, kita bermigrasi untuk tujuan praktis dan manusiawi. Kita pergi ke berbagai tempat karena pekerjaan kita, keluarga kita, belajar atau untuk mencapai impian kita. hidup saya sebagai seorang seminaris dan Dominikan juga ditandai dengan gerakan yang konstan. Sejak usia empat belas tahun, saya meninggalkan kota saya Bandung untuk masuk seminari menengah di Magelang. Kemudian, dari Indonesia ke Manila di Filipina. Saat saya adik saya menikah beberapa pekan lalu, saya menyaksikan bahwa dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pindah bersama istrinya.

Kembali ke Injil hari ini, Matius tidak hanya melihat migrasi Yesus sebagai solusi praktis untuk pelayanan-Nya, tetapi sebagai pemenuhan janji Allah: “orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ketika Yesus melakukan perjalanan dari satu tempat ke yang lain, Ia membawa cahaya dan mereka dapat melihat Allah yang telah datang. Setelah pindah, Yesus segera memberitakan Kabar Baik dan memanggil Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai murid-murid-Nya. Yesus menggunakan hal-hal praktis dan temporal bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk misi. Dan Dia setia pada hal ini sampai akhir. Diapun akhirnya menggunakan salib, sebuah sarana praktis penyiksaan dan penghinaan, sebagai sarana untuk  menunjukan kasih dan keselamatan Allah.

Misi yang sama telah diberikan kepada kita. Ketika kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kita membawa juga terang Kristus. Sebagai pasangan yang baru menikah, kita dipanggil untuk mencerahkan keluarga baru kita. Sebagai pekerja, kita bertugas untuk menolak apa yang jahat di tempat kerja. Sebagai orang yang hidup di bumi ini, kita akan bertanggung jawab terhadap ciptaan di tanah kita berdiri. Kita dipanggil untuk mengunakan sarana yang temporal untuk Tuhan bukan sekedar memuaskan diri kita sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Anak Domba-Domba Allah

Kedua Minggu dalam Masa Biasa. 15 Januari 2017 [Yohanes 1: 29-34]

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29).”

buffet-lamb-of-godYohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Gelar ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi dan kita setia mendaraskan atau menyanyikan ‘Anak Domba Allah’ sebelum kita menerima komuni. Tapi, apa artinya? Mengapa harus anak domba? Bukan orangutan, jerapah atau komodo? Mengapa hewan, bukan tanaman, buah atau ponsel? Untuk membuatnya lebih dimengerti, kita harus kembali ke ritual perjamuan Paskah bangsa Yahudi.

Perjamuan Paskah pertama terjadi sebelum bangsa Ibrani melepaskan diri dari perbudakan Mesir. Setiap keluarga harus menyembelih domba yang tak bercacat, mengoleskan darahnya di palang pintu, dan memanggang domba itu sebelum seluruh keluarga mengkonsumsinya. Cerita berlanjut bahwa malaikat Allah datang untuk mengambil anak sulung bangsa Mesir, namun, ia melewati rumah keluarga Ibrani karena darah Anak Domba ini (lihat Kel 12). Peristiwa bersejarah ini kemudian dilembagakan dan menjadi perayaan tahunan bagi orang-orang Yahudi, bahkan sampai hari ini.

Sekarang, Yohanes Pembaptis mewartakan wahyu baru: Yesus adalah Anak Domba, tidak hanya setiap domba seremonial, melainkan dari Allah. Domba Allah ini memiliki misi yang lebih unggul yang pertama domba Paskah: untuk menghapus dosa dunia. Domba ini akan dikorbankan di kayu salib dan darah-Nya akan dicurahkan untuk keselamatan kita. Seperti domba Paskah dikonsumsi oleh orang-orang Yahudi, Anak Domba Allah juga disantap dalam Ekaristi. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi kita untuk mengingat Yesus sebagai Anak Domba Allah tepat sebelum kita menyantap Tubuh-Nya dalam Misa.

Namun, benar juga bahwa bagi banyak dari kita, domba tidak memiliki makna yang mendalam. Siapa di antara kita memiliki pengalaman menyentuh hewan berkaki empat ini? Saya sendiri harus mengakui tidak memiliki pengalaman langsung dengan mamalia imut ini, kecuali ketika saya memakannya di restoran! Namun, kita semua tahu apa artinya berkorban untuk orang-orang yang kita cintai. Seorang istri setia merawat suaminya yang semakin tua dan sakit-sakitan. Orang tua memberikan semua usaha, waktu dan uang mereka agar anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan terbaik. Seorang wanita meninggalkan karir yang menjanjikan, memasuki biara dan melayani orang miskin dan tunawisma sepanjang hidupnya. Pengorbanan mendatangkan rasa sakit, itu melepaskan hal-hal terbaik yang kita miliki, waktu, hidup dan masa depan kita. Namun, tidak ada jaminan semua pengorbanan akan dihargai sepenuhnya. Tapi, kita terus berkorban karena kita tahu bahwa ini adalah untuk yang terbaik dari orang yang kita cintai. Jika kita diberdayakan untuk memberikan diri kita sebagai korban, kita telah menjadi anak domba kecil Allah. Kita mengorbankan diri kita sendiri karena Yesus telah mengorbankan diri-Nya bagi kita dan membuat pengorbanan kita sendiri bermakna dan berbuah.

Setiap kali, kita berpartisipasi dalam Ekaristi, kita ingat Seseorang telah mengasihi kita begitu besar dan mengorbankan diri-Nya bagi kita, dan kita masih menerima buah-buahnya sampai hari ini. Sekarang, kita juga dipanggil untuk menjadi anak domba kecil Allah untuk orang lain.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bintang

Hari Raya Penampakan Tuhan. 8 Januari 2017 [Matius 2:1-12]

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia (Mat 2:2).”

graphics-epiphanyHari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh orang-orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.

Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa orang-orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting sehingga Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.

Sekarang jika kita melihat langit malam, kita dapat mengamati jutaan bintang. Kemudian, kita mungkin bertanya apa yang membuat bintang Yesus ini berbeda dari cahaya-cahaya yang lain? Orang Majus adalah ahli dalam bidang astronomi, atau ilmu tentang objek langit, dan mereka mampu untuk membedakan bintang mana yang akan membawa mereka ke Raja yang baru lahir. Bintang ini tidak hanya bersinar seperti yang lainnya, tetapi juga menerangi dan memberi panduan. Seperti nelayan yang berpengalaman, sebelum adanya GPS, mereka akan menggantungkan hidup mereka pada cahaya bintang-bintang, dan di antara miliaran bintang di langit, hanya sedikit yang benar-benar menunjukkan mereka arah yang benar dan membawa mereka kembali ke pelabuhan.

Kita semua dipanggil untuk menjadi bintang. Tapi godaan adalah kita sekedar bersinar dan menarik orang lain pada diri kita sendiri. Kita gagal untuk mengenali bahwa cahaya yang Allah telah berikan kepada kita adalah untuk menerangi dan membimbing orang lain kepada Yesus. Ketika St. Thomas Aquinas ditanya apa yang membuat Ordonya lebih menonjol dari Kongregasi lainnya, ia menjawab bahwa seperti halnya lebih baik untuk menerangi daripada sekedar bersinar, jadi lebih baik untuk berbagi buah kontemplasi daripada hanya sekedar berkontemplasi. Tentu saja, para Benediktin tidak akan setuju! Salah satu fitur utama dalam patung St. Dominikus adalah bintang di dahinya. Tentu saja, ini adalah simbol dari bimbingan dan arahan bagi siapa saja yang mencari Allah. Tak heran jika St. Dominikus kurang terkenal dibandingkan Dominikan lain seperti St. Thomas Aquinas, St. Katarina dari Siena atau St. Martin de Porres, karena sampai akhir hidupnya, seperti bintang yang membimbing, hidupnya selalu menunjuk kepada Allah.

Untuk memiliki cahaya tidaklah cukup. Kita mungkin menjadi bintang yang hanya bersinar terang. Kita beralih menjadi bintang kampus, bintang perusahaan, bintang paroki atau bahkan pengkhotbah bintang. Tentu saja, untuk menerima banyak perhatian dari banyak orang memberikan kepuasan, tapi ini bukan tujuan sebenarnya dari cahaya kita. Epifani adalah penampakan dari Tuhan, tapi siapa di antara kita telah mencoba untuk menutupi-Nya dengan cahaya kita yang menyilaukan? Berapa banyak dari kita yang membawa orang lain kepada Yesus? Namun, ini belum terlambat. Epifani adalah waktu bagi kita untuk menyelaraskan kembali dengan tujuan sejati dari cahaya kita: tidak hanya bersinar, tapi untuk menerangi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tahun Baru yang Sesungguhnya

Hari Raya Maria Bunda Allah. 1 Januari 2017. Lukas 2: 16-21

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkanny (Luk 2:19).”

happy-new-year-2017Hari ini, dunia merayakan tahun baru. Dan, banyak dari kita merayakannya dengan berpesta, menonton kembang api, menari dan menyanyi. Namun, hari ini, Gereja memutuskan untuk melawan arus dan merayakan sesuatu yang berbeda, Maria Bunda Allah. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari raya kewajiban yang berarti kita harus pergi ke gereja suka atau tidak. Saya ingat menghadiri Ekaristi pada 1 Januari di paroki saya di Bandung, dan sang imam tidak pernah sekalipun memberi ucapan Selamat Tahun Baru kepada jemaat sampai misa selesai!

Kita mungkin bertanya, “Mengapa kita harus masih merayakan Bunda Allah pada awal tahun?” Pertama, mengingat Maria sebagai ibu Yesus dalam konteks Natal adalah sesuatu yang tepat secara theologis dan liturgis. Jadi, tepat seminggu setelah kelahiran Kristus, kita menghormati wanita yang telah mempersembahkan rahimnya, tubuhnya dan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kedua, kita diingatkan bahwa awal yang benar tidak hanya sesuatu yang ditandai di dalam kalender kita, atau dengan perayaan-perayaan besar penuh kesenangan. Awal yang sejati terjadi di dalam diri kita. Seperti dalam proses kehamilan dan melahirkan, pada mulanya, perubahan ini tidak begitu jelas. Hal ini terjadi di dalam rahim, dan dibutuhkan beberapa waktu sebelum embrio tumbuh lebih besar dan membuat kehadirannya terasa. Proses ini sulit, tidak mudah untuk dipahami, dan kadang-kadang menyakitkan. Namun, di dalam rahim ini ada hidup yang membawa masa depan, yang belum begitu jelas, namun menarik dan penuh harapan.

Ketika Malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria, dia menjadi bingung dan takut.  Maria tahu jika ia berkata ya, hidupnya aka ada dalam bahaya besar. Tidak seperti beberapa masyarakat modern dimana perempuan yang belum menikah dan hamil adalah sesuatu yang lumrah, komunitas Yahudi kuno siap untuk menghukum pelanggaran ini. Maria mengandung praktis di luar nikah, dan dia harus menanggung semua konsekuensinya. Ia akan membawa aib untuk keluarganya, tunangannya, Joseph, dan dirinya sendiri. Bayinya mungkin akan disebut anak haram. Dan akhirnya, dia dan bayinya bisa dirajam sampai mati. Namun, imannya kepada Allah lebih besar dari ketakutannya. Diapun berani menerima dalam rahimnya, bayi kecil yang akan menjadi masa depan dunia.

Pada tahun 2006, misi Dominikan di Indonesia dimulai dalam kesederhanaan. Kami hanya terdiri dari dua imam, Pastor Adrian dan Robini, dan rekan Filipina, Rm. Terry dan seorang misionaris awam, Ms. Jemely. Praktis kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada institusi, tidak ada rumah, tidak ada uang. Kami bahkan tinggal di rumah kecil dan sederhana di dalam seminari keuskupan di Kalimantan. Kami harus bekerja keras hanya untuk mendukung kehidupan kami sehari-hari dan kami bergantung pada kemurahan hati banyak orang. Tak seorang pun di antara kami yakin apa yang masa depan akan bawa kepada kami. Tetapi, kami terus beriman kepada Allah. Sekarang, setelah 10 tahun, kami telah tumbuh secara signifikan. Kami memiliki dua rumah yang stabil di Pontianak dan Surabaya. Sekarang kita melayani banyak orang melalui berbagai karya kerasulan. Tentu saja, orang-orang muda dan berbakat datang dan bergabung dengan kami.

Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman kepada Allah karena bagi-Nya, tidak ada yang mustahil. Masa depan mungkin tidak pasti, menakutkan dan gelap, tetapi “bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan terus melengkapinya sampai hari Kristus Yesus (Fil 1:6). Ini adalah semangat Tahun Baru yang benar, sebuah jiwa dari perubahan nyata, sebuah iman yang menjiwai kita untuk bergerak maju.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP