Tuhan yang Tidak Pernah Jenuh

Minggu dalam Pekan Biasa ke-29 [16 Oktober 2016] Lukas 18: 1-8

“…namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia… (Luk 18:5)

persistent-widow-1Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.

Saat ini kita merasa lemah dan lelah, godaan akan datang dan merayu kita untuk meninggalkan komitmen yang kita telah buat. Kita bahkan digoda untuk melakukan hal-hal gila dan berbuat dosa. Kita menjadi seperti hakim dalam Injil hari ini, yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.’ Kita mulai melakukan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita menyakiti orang yang kita cintai. Kita membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Namun, kita sangat diberkati karena kita memiliki Allah yang seperti janda dalam Injil hari ini. Dia mengetuk hati kita siang dan malam sampai kita mau memberikan keadilan bagi-Nya dan sesama kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk setia dengan komitmen kita, berulang kali mendorong kita untuk bertekun dalam melakukan yang baik, dan tak henti-hentinya memanggil kita kembali setiap kali kita goyah.

Kasih dan perhatian-Nya yang tak henti-henti ini terwujud dalam cara yang sangat lembut di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia menempatkan sukacita kecil di dalam doa harian kita, meskipun kadang membosankan. Dia memberi kita keluarga dan teman-teman yang setia mendukung kita dalam waktu-waktu sulit. Dia memberikan kita dengan berkat-berkat sederhana yang kita cenderung abaikan. Salah satu faktor penopang dalam panggilan saya adalah Tuhan memberi saya sebuah komunitas. Memang, kadang-kadang hidup dalam komunitas cukup merepotkan, apalagi dengan watak yang berbeda-beda, tetapi ini juga menyediakan ekosistem dan struktur hidup untuk menopang kehidupan Dominikan saya. Frater-frater akan mengetuk pintu kamar saya agar saya tidak terlambat dalam doa, memberi kesempatan untuk berkhotbah, dan juga mengevaluasi saya agar saya berkembang, dan tentunya, mereka menkoreksi saya jika saya melakukan kesalahan. komunitas saya adalah cara Allah mengomeli saya.

Kita mungkin jenuh dengan banyak hal. Kita kelelahan dalam menjaga komitmen kita entah sebagai suami-istri atau orang tua. Kita bosan melakukan kewajiban kita sebagai pelajar atau pelayanan kita sebagai imam atau rohaniawan. Namun, kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang terus-menerus mengasihi kita dan tidak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menyerah pada diri kita sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah hanya untuk membuka mata, telinga dan hati kita kepada ‘omelan’-Nya yang tak henti. Karena Ia seperti janda yang tak kenal lelah memperjuangkan keadilan bagi-Nya dan bagi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosario dan Kita

7 Oktober 2016, Maria Ratu Rosari

rosary-2Oktober adalah bulan rosario. Izinkan saya untuk menulis tentang  doa yang sebenarnya kuno tetapi selalu baru. Mengapa Oktober adalah bulan rosario? Semuanya berawal ketika Paus Pius V, seorang Dominikan, mendedikasikan 7 Oktober sebagai pesta Maria Ratu Rosario setelah pertempuran Lepanto. Pada 7 Oktober, 1571, di Teluk Lepanto di Yunani, tentara Eropa berjuang melawan armada laut Ottoman Turki yang jauh lebih besar dan kuat, yang merencanakan untuk menyerang Eropa. Sementara pertempuran sedang berlangsung, sang Paus dan semua umat berdoa rosario meminta perantaraan Bunda Maria. Setelah berjam-jam konfrontasi, armada musuh pun dikalahkan.

Namun, devosi kepada Rosario sendiri bermula jauh lebih awal dari Paus Pius V. Doa ini adalah produk dari evolusi yang panjang. Devosi ini sebenarnya dimulai sebagai sebuah gerakan spiritual awam. Pada abad pertengahan awal, para rahib di pertapaan mendaraskan 150 Mazmur sebagai bagian dari doa harian mereka. Praktek ini sangat ideal untuk menguduskan seluruh hari mereka sebagai pembacaan Mazmur didistribusikan pada jam-jam penting pada hari itu. Namun, ini tidak berlaku bagi orang awam. Mereka tidak memiliki salinan Alkitab, apalagi kemampuan untuk membacanya. Dengan demikian, orang-orang awam yang mendambakan untuk menguduskan hidup harian mereka, mulai mendaraskan 150 ‘Bapa Kami’. Agar tidak hilang dalam meditasi, mereka juga menggunakan tali panjang dengan simpul sebanyak jumlah doa ‘Bapa Kami’. Setelah beberapa waktu, mereka berdoa 50 Bapa Kami tiga kali sehari.

Pada abad ke-12, Formula Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” menjadi bagian dari doa 150 ‘Bapa Kami’ ini. Tak lama setelah ini, meditasi pada ‘misteri’ kehidupan Yesus dan Maria mulai menjadi bagian dari devosi ini. Secara bertahap, doa ini berkembang menjadi 150 ‘Salam Maria.’ St. Dominikus de Guzman dan Ordo Pengkhotbahnya menerima mandat khusus dari Bunda Maria untuk mempromosikan  ‘Mazmur Maria’ ini. Pada abad ke-15, devosi kepada Yesus dan Maria ini memperoleh nama Rosarium (taman mawar). Pada tahun 1569, Paus Pius V mengeluarkan dekrit Consueverunt Romani Pontifices’ yang mengatur bagaimana berdoa Rosario, dengan mempertimbangkan sejarahnya panjang dan tradisi Dominikan yang ia miliki. Dia juga menegaskan bahwa rosario sebagai salah satu dari banyak cara untuk mendapatkan rahmat dan indulgensia. Doa rosario terus berkembang bahkan sampai hari ini. Inovasi terbaru adalah dari Santo Yohanes Paulus II yang menambahkan lima Misteri of Cahaya.

Bulan Oktober menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengintensifkan devosi rosario dan merenungkan peran Maria dan rosarionya dalam kehidupan Gereja dan kehidupan kita. Saya kira yang lebih penting adalah kita diingatkan bahwa rosario sebenarnya lahir dari hasrat para awam untuk menjadi kudus. Rosario berasal dari tangan-tangan sederhana para awam yang mendaraskan Bapa Kami dan Salam Maria, dan juga merenungkan misteri keselamatan di dalamnya. Kita berdoa rosario karena kita ingin untuk lebih dekat dengan Allah dengan cara yang paling sederhana. Kita berdoa rosario karena doa ini merupakan devosi yang berasal dari hati kaum awam. Ketika kita berdoa rosario, kita berdoa bersama-sama dengan Maria yang adalah seorang wanita awam. Rosario adalah hidup kaum awam, dan hati kaum awam adalah Rosario.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Imam Sebesar Biji Sesawi

Minggu dalam Pekan Biasa ke-27 [2 Oktober 2016] Lukas 17: 5-10

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…(Luk 17:6)”

mustard-seed-in-bottleMembaca Injil hari ini, tampaknya memiliki iman itu membuat kita memiliki kekuatan super. Jika saya memiliki iman, saya dapat menanam padi di dasar laut. Jika saya memiliki iman, saya bisa membuat mobil Lamborghini dari tumpukan sampah. Jika saya memiliki iman, saya bisa mengubah suara saya seindah Ed Sheeran. Tapi, iman tidak seperti itu. Iman bukanlah pertunjukan sulap untuk menghibur kita. Iman bukanlah jawaban instan bagi keinginan-keinginan kita. Namun, benar adanya bahwa bahkan iman terkecil pun dapat membuat berbedaan yang berarti dalam hidup kita.

Yesus berbicara tentang iman dalam ukuran biji sesawi, dan ini melambangkan iman kita yang kecil. Namun walaupun kecil, iman kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup kita, bahkan melakukan hal-hal yang mustahil. Benar, hidup kita praktis tidak berubah. Kita masih berjuang dengan kesulitan keuangan. Kita masih harus berurusan dengan bos yang buat stres atau dosen teror. Kita tetep harus melalui kemacetan luarbiasa setiap hari, terutama di kota-kota besar seperti Manila dan Jakarta. Kita bergulat dengan berbagai penyakit yang menjangkiti tubuh kita, dan kita tidak tahu bagaimana untuk membayar obat dan biaya perawatan. Ya, hidup kita tidak berubah, namun pada saat yang sama, iman kecil kita akan membuat hidup kita menjadi baru. Bagaimana ini mungkin?

Dengan iman, kita diberdayakan untuk percaya pada Tuhan yang tak terlihat. Jika kita mampu melihat Tuhan yang tidak terlihat, kita juga bisa menemukan kasih dan rahmat-Nya yang tak terlihat dan bekerja dalam hidup kita. Tuhan tidak tidur dan tidak membiarkan kita berjuang sendirian dengan berbagai permasalah hidup. Kita mengingat Petrus, orang yang imannya kecil, yang berusaha untuk berjalan di atas air, tapi gagal dan mulai tenggelam. Dalam iman kecilnya, ia melihat Yesus memegang tangannya dan ia diselamatkan. Seperti Petrus, kita jatuh ke samudra permasalahan dan kesulitan, tapi kita tidak tenggelam karena dengan iman kecil kita, kita melihat Yesus memegang tangan kita.

Kita belajar dari banyak orang kudus. Iman mereka tidak membuat hidup mereka lebih baik. Banyak, seperti St. Fransiskus dari Assisi dan St. Martin de Porres, tetap miskin sepanjang hidup mereka. Banyak yang masih berurusan dengan berbagai masalah, seperti Bunda Teresa Kalkuta yang berjuang untuk mempertahankan karya amal dan Kongregasi mudanya, atau St. Bernadette Soubirous yang menanggung sakit luar biasa akibat TBC tulang. Bahkan tidak sedikit juga dengan kejam disiksa dan dieksekusi karena iman ini. Tapi, iman kecil yang mereka memiliki justru membuat mereka lebih murah hati, lebih tekun, dan bahkan bahagia di tengah-tengah ini pencobaan. Sebagai St. Lorenzo Ruiz, martyr pertama Filipina dan juga Dominikan awam, berseru ketika ia hendak dieksekusi di Jepang, “Saya seorang Katolik dan sepenuh hati menerima kematian bagi Allah; jika saya memiliki seribu nyawa, semua ini akan saya persembahkan kepada-Nya. Iman tidak menghapus penderitaan kita, tetapi memberdayakan kita untuk melihat Allah yang bekerja dan ini cukup untuk mengubah siapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Kita

Minggu pada Pekan Biasa ke-26 [25 September 2016] Lukas 16: 19-31

 “Lazarus, menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. (Luk 16: 20-21).”

lazarusKetika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu. Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”

Membaca lebih teliti Injil hari ini, orang kaya dikirim ke alam maut bukan karena hal-hal baik yang ia terima dalam hidup. Bahkan, jika ini sungguh alasannya, ini akan menjadi tidak adil bagi dia dan kita. Banyak dari kita bekerja dengan tekun, dan kita layak untuk menikmati hasil kerja keras kita. Dia ada di sana bukan karena hal-hal baik yang ia terima, tetapi karena dia tidak peduli kepada Lazarus, saudaranya yang miskin dan menderita.

Jika kita memperhatikan jarak antara orang kaya dan Lazarus, ada sesuatu yang tidak biasa. Awalnya, Lazarus ada di luar pintu, tapi kemudian ketika ia makan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu, dia benar-benar berada di dalam rumah. Bahkan, Lazarus sebenarnya berada di bawah meja orang kaya tersebut. Kita bisa menduga bahwa Lazarus sebenarnya adalah anggota keluarga sang kaya. Dengan kedekatan yang ekstrim ini, sang kaya tetap bertindak seolah-olah Lazarus tidak pernah ada. Apa yang mengirimnya ke akhirat bukanlah hal-hal baik yang ia terima, tetapi ia tega mengabaikan dan masa bodoh dengan saudaranya sendiri yang miskin.

Kita mungkin memiliki nasib yang sama dengan orang kaya ini jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang miskin di sekitar kita. Bahkan, ketidakpedulian kita mungkin menjadi penyebab kemiskinan dan penderitaan mereka. Kadang-kadang, kita merasa puas setelah menyumbangkan uang bagi para pengemis, tetapi apakah ini cukup? Memang, kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ribuan pengungsi di Suriah yang dilanda perang, tetapi apakah kita melakukan sesuatu bagi mereka yang dekat dengan kita? Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan mencari uang, sehingga kitapun lupa untuk berbagi? Apakah kita menutup mata kita terhadap anggota keluarga kita yang bergulat dengan pendidikan anak-anak mereka? Apakah kita diam saja terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat kita?

Kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan hal-hal baik yang kita terima dalam hidup ini. Namun, kita ingat juga saudara-saudara kita yang berada di luar pintu kita, mereka yang hanya di bawah meja kita, menunggu sisa-sisa makanan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia yang Utuh

Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13

 Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).

dishonest-stewardKita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.

Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).

Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.

Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.

Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Satu Gembala, Satu Kawanan Domba

Minggu ke-24 pada Pekan Biasa. 11 September 2016 [Lukas 15: 1-10]

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Luk 15:6).”

lost-sheepPerumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.

Dari kebenaran ini, kita bertanya: Mengapa sebagian dari kita sesat? Mengapa sebagian dari kita tidak lagi pergi ke Gereja atau aktif di paroki? Mengapa beberapa meninggalkan Gereja? Mengapa beberapa akhirnya menjadi musuh dan pembenci Gereja? Biasanya kita akan dengan mudah menyatakan bahwa ini adalah kesalahan mereka. Namun, bukankah kita semua adalah domba dari kawanan yang sama, berbagi padang rumput yang sama dan memiliki Gembala yang sama? Jika ada saudara kita yang tersesat, kita juga ikut bertanggung jawab.

Sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka gagal dan hilang. Kita cenderung melihat mereka sebagai masalah untuk diselesaikan, objek rusak siap untuk dibuang. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudara-saudari kita, domba-domba gembalaan Yesus. Mungkin, saudara-saudari kita tidak lagi pergi ke Gereja karena kita tidak lagi peduli dengan kesulitan mereka. Mungkin, mereka meninggalkan Gereja karena hidup kita tidak lagi menjadi kesaksian iman dalam Yesus.

Kebijakan pemerintahan baru di Filipina untuk memerangi narkoba telah mencapai titik yang memprihatinkan. Lebih dari dua ribu jiwa telah melayang hanya dalam waktu dua bulan. Memang, banyak dari mereka yang terbunuh adalah pengedar skala kecil dan pengguna, dan jika kita melihat mereka hanya sebagai masalah dan hama bagi masyarakat, kematian tampaknya jawaban tercepat dan mudah. Tapi, jika kita sakit kepala, apakah kita akan memotong kepala kita? Apakah kita pernah bertanya mengapa mereka menjadi korban dari jerat narkoba? Sebagain besar dari mereka yang tewas sebenarnya adalah orang miskin. Narkoba menjadi solusi instan mencari uang atau menghilangkan lapar. Apakah kita pernah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan mereka? Ketidakpedualian kita secara tidak langsung telah menyebabkan mereka jatuh ke dalam kemiskinan, kesengsaraan dan narkoba.

Rm. Gerard Timoner III, OP, provincial kami di Filipnia, selalu mengajarkan kami bahwa  ‘brothers shepherding brothers’ atau menjadi pengembala bagi sesama frater di seminari. Ini berarti bahwa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat frater-frater di formasi tidak hanya terletak pada formator, tetapi juga pada setiap frater. Kita perlu menjadi gembala bagi sesama, terutama ketika para gembala utama tampak jauh. Baru-baru ini, ia juga berbagi dengan kami apa yang ia peroleh dari Kapitel Umum Dominikan di Bologna, Italia, bulan Agustus lalu. Dia menekankan bahwa untuk mempromosikan panggilan Dominikan tidak hanya berarti sibuk merekrut anggota baru, tetapi lebih penting adalah memperhatikan dan menjaga panggilan dari saudara-saudara kita sendiri di dalam Ordo.

Untuk menjadi domba-domba Kristus berarti bahwa kita juga adalah bagian dari kawanan domba yang lebih besar. Seperti halnya Yesus menjaga setiap dari kita, kita juga perlu untuk menjaga satu sama lain. Sebagai Gembala yang Baik mencari domba yang hilang, kita juga akan mencari saudara-saudari kita yang hilang dalam perjalanan mereka. Tentunya, tidak mudah, tapi kita akan selalu ingat bahwa mereka juga masih saudara-saudara kita, domba-domba Kristus, seperti kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Murid Yesus

Minggu pada Pekan Biasa ke-23. [4 September 2016] Lukas 14:25-33

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk 14:26).

ISRAEL-PALESTINIAN-RELIGION-CHRISTIANTY-EASTER

Menjadi seorang murid adalah jati diri penting dari pengikut Yesus. Pada masa kini, seorang murid dapat berarti seorang siswa sebuah sekolah tertentu. Seperti Frater Bayu adalah mahasiswa University of Santo Tomas, Manila. Namun, di zaman dahulu, terutama dalam tradisi Timur dan Yahudi, menjadi murid memiliki pemahaman yang berbeda. Seorang murid tidak hanya akan menerima ajaran gurunya, tapi benar-benar mengikuti sang guru kemanapun dia akan pergi dan tinggal. Murid tidak hanya akan belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga menyaksikan dan meniru bagaimana sang guru menjalani hidupnya. Mereka berbagi makan yang sama, dan mereka adalah bagian dari sukacita dan pergulatan sang guru. Dengan demikian, menjadi murid tidak hanya tentang pendidikan intelektual, tetapi merupakan formasi holistik. Pada dasarnya sang murid akan menjadi bagian hidup sang guru.

Oleh karena itu, masuk akal bagi kita sekarang, ketika Yesus menuntut agar para murid harus ‘membenci’ keluarga mereka serta kehidupan mereka. Untuk mengikuti Yesus kemanapun dia pergi berarti para murid harus meninggalkan keluarga, kehidupan dan pekerjaan yang mereka memiliki. ‘Membenci’ tidak berarti bahwa mereka membuat permusuhan dengan keluarga mereka, melainkan menjadikan mereka sebagai prioritas sekunder. Yesus adalah keluarga baru mereka, prioritas pertama mereka dan kehidupan nyata mereka sekarang.

Yesus sendiri memberi kita citra pemuridan: mengikuti Dia adalah seperti membawa salib. Untuk menjadi murid Kristus memang sulit dan menuntut radikal re-orientasi hidup kita. Namun, kabar baiknya adalah bahwa untuk menjadi murid Yesus bukanlah hal yang mustahil. Tidak sedikit pria dan wanita muda meninggalkan karir yang menjanjikan, masuk ke biara dan membaktikan diri bagi Tuhan dalam doa. Pria dan wanita awam mempersembahkan diri mereka sebagai misionaris dan dikirim ke penjuru dunia untuk berbagi sukacita Injil. Evangelizasi Filipina 400 tahun lalu hampir tidak mungkin kalau bukan karena imam-imam Spanyol yang bersemangat yang selama berbulan-bulan berlayar, mempertaruhkan nyawa mereka dan banyak yang tidak pernah kembali ke tanah air mereka. Ini adalah saudara dan saudari kita secara nyata meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus.

Namun, menjadi murid Yesus tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan keluarga kita. Mengikuti Kristus dapat terjadi dalam keluarga. Ketika seorang pria dan seorang wanita memutuskan untuk meninggalkan keluarga asal mereka, dan membangun keluarga Kristiani mereka sendiri, maka mereka telah menjadi komunitas para murid Kristus. Ketika orang tua berkomitmen dalam tugas sulit untuk membesarkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang jujur dan beriman, mereka mengikuti Kristus. Lebih mendasar, menjadi murid Kristus terlihat jelas di dalam sakramen, terutama Ekaristi. Dalam Ekaristi, kita menjadi murid yang mendengarkan ajaran-Nya dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya di hosti suci. Akhirnya, kita diutus untuk memberitakan apa yang telah kita pelajari dan hidupi dalam Ekaristi.

Kita terus berdoa agar kita dapat menjadi murid-Nya sejati dan banyak juga akan terinspirasi untuk mengikuti-Nya dan berbagi kehidupan-Nya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Koneksi

Hari Minggu Biasa ke-22 [28 Agustus 2016] Lukas 14:1, 7-14

 “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta (Luk:14:13).”

jesus dining 2Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi memiliki cara unik saat perjamuan makan. Alih-alih duduk seperti biasanya, orang-orang Yahudi akan merebahkan diri pada kursi panjang dan menyenderkan tubuh mereka pada meja yang cukup rendah di mana makanan dan anggur yang disajikan. Di dalam budaya Yunani-Romawi kuno, cara makan seperti ini adalah tanda orang yang bebas, sedangkan budak akan berdiri dan melayani para tamu. Selain merebahkan diri, posisi mereka di meja perjamuan akan menunjukkan seberapa pentingnya mereka bagi tuan rumah. Semakin dekat mereka dengan tuan rumah, semakin pentinglah dia bagi sang tuan rumah. Dengan demikian, orang yang duduk di samping tuan rumah adalah tamu yang paling penting.

Yesus melihat bahwa beberapa tamu ingin menduduki tempat penting di meja makan. Tentu saja, menempatkan diri di tempat terhormat, akan memberikan kebanggaan tersendiri, tapi lebih dari itu, semakin dekat mereka ke tuan rumah, semakin baik koneksi mereka dengan tuan rumah yang tidak lain adalah  Farisi yang terkemuka dan berpengaruh di kota tersebut.

Dari zaman dahulu hingga kini, membuat koneksi dengan seseorang yang memiliki otoritas dan kekuasaan akan memberi kita posisi yang lebih baik untuk memperbaiki kehidupan kita atau mencapai tujuan kita. Dengan koneksi yang baik, seorang pengangguran bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Dengan koneksi, seorang karyawan bisa mendapatkan promosi yang diidamkannya. Dengan koneksi, siswa dapat menikmati kepercayaan dari guru-gurunya. John Maxwell, seorang pembicara kawakan, menceritakan bagaimana ia mampu memenangkan hati istrinya Margaret, meskipun banyak pelamar tampan lainnya. Caranya sederhana: dia berhasil membuat koneksi yang baik dengan ibunya Margaret! Saya kira salah satu alasan mengapa saya memiliki kesempatan berkhotbah lebih banyak dari frater-frater yang lain adalah bahwa saya terkoneksi dengan teman-teman baik yang juga aktif di Gereja.

Yesus tidak berniat untuk menghapus koneksi semacam ini. Bahkan, Dia sendiri adalah koneksi kita dengan Bapa (lih. 1 Tim 2: 5). Dalam Injil hari ini, apa yang Yesus inginkan adalah memberi pemahaman baru kita tentang koneksi ini. Kita tidak boleh menggunakan koneksi hanya untuk mencapai rencana individu dan egois kita, melainkan untuk pemberdayaan sesama. Yesus mengajak sang tuan rumah untuk mengundang orang miskin dalam perjamuan mereka. Ini bukan hanya tentang memberi makan orang yang lapar, tapi tuan rumah yang kaya diharapkan mau membuat koneksi dengan orang yang tidak mampu. Dengan koneksi seperti ini, terbuka juga peluang bagi sang tuan rumah untuk memberdayakan mereka yang lemah baik secara ekonomi, sosial maupun politik.

Saya sangat beruntung untuk bertemu dengan misionaris awam dari Korea bernama Anna. Meninggalkan karirnya yang menjanjikan di AS, Anna memutuskan untuk melayani di Filipina. Dia menceritakan kepada saya apa yang dia lakukan untuk membantu orang-orang miskin. Dia mengumpulkan ibu-ibu miskin yang tinggal di dekat rumahnya dan menciptakan proyek mata pencaharian. Dia mengajari mereka bagaimana membuat lilin dan menjualnya di paroki-paroki terdekat. Sebagian besar ibu-ibu ini putus sekolah dan berharap pada belas kasihan suami mereka. Tapi, dengan proyek ini, mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka, mendukung keluarga mereka dan yang lebih penting lagi, ibu-ibu itu sekarang memiliki kemandirian finansial dan tidak lagi tergantung pada suami mereka. Anna membangun koneksi dengan ibu-ibu ini dan koneksi memberdayakan mereka.

Yesus memanggil kita untuk menjadi tuan rumah yang baik. Ini berarti kita yang diberkahi dengan banyak talenta dan berkat diajak untuk membangun koneksi dengan orang-orang yang belum beruntung. Hendaknya koneksi kita memberdayakan orang lain, dan tidak sekedar menguntungkan diri kita sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keselamatan: Rahmat dan Pilihan

Minggu dalam Pekan Biasa ke-21. Lukas 13: 22-30 [21 Agustus 2016]

 “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan? (Luk 13:23)”

narrow gateKeselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada sebuah kisah tentang seorang pastor mengunjungi pembuat sabun guna beli pasokan untuk parokinya. Tiba-tiba, pembuat sabun bertanya, “Apa baiknya agama? Lihatlah semua penderitaan dan kejahatan di dunia! Penderitaan tetap ada, bahkan setelah agama bertahun-tahun mengajar tentang kebaikan dan perdamaian. Kejahatan tetap ada, setelah semua doa dan khotbah. Jika agama yang baik dan benar, mengapa kita harus terus menderita?” Sang pastor diam saja. Kemudian dia melihat seorang anak bermain di selokan depan toko sabun, dan pastor berkata, “Lihatlah anak itu. Kamu mengatakan bahwa sabun membuat orang bersih, tetapi kamu melihat banyak kotoran pada anak itu. Apa baiknya sabun? Dengan semua sabun di dunia, anak itu masih kotor. Aku bertanya-tanya seberapa efektif sabun buatanmu sebenarnya?” Sang pembuat sabun pun protes, “Tapi, Pastor, sabun tidak berguna kecuali saat digunakan dengan benar.” Sang Pastor pun menjawab, “Tepat sekali!”

Untuk menjadikan rahmat keselamatan bagian hidup kita bukan pekerjaan mudah. Yesus sendiri bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk 13:24).” Hal ini sulit karena menuntut transformasi radikal dari hati kita, atau metanoia. Setiap kekuatan eksternal yang dipaksakan kepada kita, seperti aturan, hukum dan perintah, tidak akan bertahan lama. Karunia keselamatan tidak bisa dipaksakan dari luar, tetapi harus tumbuh dari dalam diri kita sehingga efeknya akan stabil dan permanen dalam diri kita.

Panggilan untuk menghidupi karya keselamatan ini sebenarnya adalah panggilan sejak dari nabi-nabi Perjanjian Lama. Para nabi mengingatkan Israel bahwa mereka memang telah dipilih oleh Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, diselamatkan dari Mesir dan tinggal di tanah terjanji. Namun, rahmat yang indah ini tidak akan bertahan kecuali mereka juga mereformasi hati mereka dan benar-benar menjadi umat Allah. Allah, melalui Nabi Yehezkiel, menuntut ini, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (Yehezkiel 36:26).”

Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghidupi keselamatan kita sehari-hari. Ya, kita bisa dibaptis sebagai Katolik atau Kristen, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita beriman kepada Allah yang Esa, tapi kita juga membaca horoskop, konsultasi peramal dan menggunakan jimat pelindung. Kita bisa dengan mudah berteriak, “God is good all the time!” tapi kita memiliki banyak keluhan dalam hidup kita. Kita diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita tetap benci dan dendam, bahkan senang ketika musuh kita tertimpa kemalangan.

 Allah akan menghapus hati berbatu dan menempatkan hati alami, jika kita membuka hati kita. Kita diselamatkan jika kita menghidupi rahmat keselamatan. Kita akan masuk ke Kerajaan-Nya, jika bersama-sama dengan Yesus, kita memasuki pintu yang sesak setiap harinya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Api Yesus

 Minggu Biasa ke-20 [14 Agustus 2016] Lukas 12:49-53

 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49)”

pentecost 2Hidup di antara gadget-gadget digital super-canggih dan berbagai teknologi nano, kegiatan membuat api tampak seperti sangat primitif dan sia-sia. Mengapa kita harus membuat api dan menyebabkan polusi jika kita memiliki lampu LED yang hemat energi di rumah kita? Namun, membuat api sebenarnya adalah salah satu penemuan manusia yang paling awal dan signifikan. Api merevolusi kehidupan nenek moyang kita dan memberi kita keuntungan besar atas makhluk lainnya. Api membawa kehangatan dan kenyamanan dalam cuaca dingin. Api melindungi kita dari predator yang lebih besar dan ganas. Api memberikan cahaya yang menghapus kegelapan. Api juga diperlukan untuk menempa penemuan dan teknologi lain, seperti berbagai alat dan senjata.

Namun, api juga dapat menimbulkan masalah serius. Hampir setiap tahun, api membakar ribuan hektar hutan Kalimantan dan menghasilkan asap berskala global. Api juga merupakan masalah serius di kota-kota padat penduduk seperti Manila. Seorang petugas pemadam kebakaran pernah melakukan seminar di seminari. Dia mengatakan bahwa api hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk membakar seluruh tubuh anak kecil. Karena ini, api telah menjadi simbol baik dari kekuatan yang dahsyat dari alam dan juga kecerdasan manusia. Api dapat membawa kehancuran berat seperti api membakar dan mengkonsumsi hampir segala sesuatu. Namun, hal itu juga memberikan kreativitas, harapan dan masa depan kemanusiaan.

Ketika Yesus berkata ia membawa api untuk dunia, Lukas menggunakan kata Yunani ‘phur’. Jika diterjemahkan kata ini berarti api besar yang membara, bukan sekedar api yang kecil. Jadi, Yesus datang ke dunia untuk membawa energi dan kekuatan transformatif yang dahsyat. Api ini dapat menghancurkan dosa-dosa dan kebiasaan buruk kita. Namun, jauh lebih penting adalah api ini memberikan energi dan memberdayakan kita untuk menjadi kreatif dalam karya dan pewartaan dan dalam kehidupan Kristiani kita. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah-lidah api. Api yang sama ini memberanikan para murid yang masih ketakutan, dan menggerakan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dengan kesegaran yang baru. Mereka membuat terobosan kreatif saat mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa, sesuai kebutuhan pendengar mereka.

Orang-orang kudus adalah orang-orang yang terbakar api Kristus. Kehidupan mereka memberikan contoh karya Roh Kudus yang selalu segar dan transformatif. Ketika St. Dominikus de Guzman melihat kebutuhan untuk memberitakan Injil dan membawa kembali para bidaah Albigensian di Perancis Selatan, iapun  mendirikan Ordo religius yang tugas utamanya adalah berkhotbah. Dan ini menjadi ordo pertama yang memiliki ke khasan ini di Gereja Katolik. Ketika para Misionaris Spanyol pertama kali datang ke Kepulauan Filipina, salah satu prioritas utama mereka adalah bagaimana memahami bahasa dan budaya lokal, sehingga pewartaan mereka dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang Filipina. Bahkan sejak abad ke-16, para misionaris Dominikan telah menghasilkan buku tata bahasa dan kamus berbagai bahasa di Filipina seperti Tagalog, Bisaya, dan Ivatan.

Ini adalah keinginan-Nya untuk membakar dunia dalam api, tetapi apakah api Kristus telah menyentuh kehidupan kita? Apakah Ekaristi dan Sakramen rekonsiliasi memperbaharui kita? Apakah kita merasakan energi untuk terlibat dalam pewartaan kabar baik, atau kita sudah merasa cukup dengan Misa Mingguan? Apakah kita memiliki ketekunan ditengah cobaan hidup? Apakah kita memungkinkan Roh untuk menghidupkan kehidupan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP