Bait Allah

Minggu dalam Pekan Biasa ke-33 [13 November  2016] Lukas 21:5-19

 “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan (Luk 21:6)”

jesus-teaching-at-the-temple-2Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci.  Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.

Israel mengadopsi pola pikir yang hampir sama dan mereka membangun kuil-kuil mereka sendiri untuk Allah Israel. Bedanya tentunya adalah mereka tidak menyembah berhala, tetapi Allah yang benar. Awalnya, mereka memiliki beberapa kuil besar seperti di Bethel (lih. Kej 35: 1), Shiloh (lih. Yos 18: 1), dan Sikhem (lih. Kej 12:6). Namun, ketika Daud dan Salomo mencoba untuk mengkonsolidasikan suku-suku Israel menjadi satu bangsa yang bersatu, penyembahan Yahweh kemudian dipusatkan di kuil atau Bait Allah di Yerusalem. Akhirnya, Bait Yerusalem menjadi satu-satunya kuil di tanah Israel.

Di pusat Bait ini, ada tempat yang paling sakral bagi bangsa Yahudi yakni tempat Maha Kudus. Sekali setahun, hanya imam besar dapat masuk ke tempat ini dan mempersembahkan korban perdamaian bagi bangsa Israel. Yesus sendiri menyebut Bait Allah sebagai tempat Bapa-Nya. Tidak salah jika sang pemazmur bermadah bahwa ini adalah rumah Tuhan dan ke sana, suku-suku Israel datang, suku-suku-Nya Tuhan (Mzm 122: 4). Di zaman Yesus, Bait Allah telah secara struktural direnovasi dan dihiasi oleh Raja Herodes Agung. Tidak hanya ini menjadi situs paling suci bagi orang Yahudi, tapi mungkin ini adalah bangunan paling indah di Yerusalem. Karena keindahannya, pentingnya dan kesuciannya, orang Israel selalu berpikir bahwa Bait Allah tidak terhancurkan.

Namun, Yesus bernubuat bahwa Bait Allah yang megah inipun akan dihancurkan. Orang-orang Yahudi yang menghormati Bait Allah tentunya terkejut. Untuk mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Bait Allah sama saja dengan mengatakan hal buruk terhadap Tuhan sendiri yang tinggal di dalamnya. Tidak heran Yesus pun dituduh telah menghujat Allah, dan memang ini adalah salah satu tuduhan terhadap Yesus saat Ia dianiaya oleh penguasa Yahudi. Yesus kemudian disalibkan, dan pada tahun 70 Masehi, empat puluh tahun setelah Kristus meninggal, Bait Allah pun mengikuti nasib yang serupa dengan Yesus. Para prajurit Romawi di bawah jendral Titus merebut Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah. Nubuat Yesus berubah menjadi kenyataan. Apa yang masih hari ini adalah Tembok  bagian Barat dari Bait Allah, yang dikenal juga sebagai Tembok Ratapan.

Maka kita mungkin bertanya pada diri sendiri: Apakah kuil atau bait suci kita? Apa yang menjadi simbol kehadiran dan berkat Allah dalam hidup kita? Apa bagian dari hidup kita, yang kita berpikir, sangat penting dan tidak bisa dihancurkan? Apakah ini prestasi, kesuksesan, kekayaan kita atau status dan gelar dalam hidup kita? Apakah ini kita keluarga, persahabatan dan bahkan praktik-praktik keagamaan kita? Namun, semua hal ini bisa dihancurkan dalam seketika.

Memang, Bait Allah Yerusalem telah dihancurkan, tapi itu tidak berarti Tuhan juga hilang. Benar, Bait Allah selalu dikaitkan dengan Yang Mahatinggi, tetapi sebuah kuil atau Bait Allah ini bukanlah Allah itu sendiri. Ketika Yesus disalibkan, para murid berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, tetapi mereka salah. Yang berakhir adalah ekspektasi-ekspektasi semu mereka dan ide-ide yang salah tentang Yesus. Sungguh, Tuhan akan membiarkan simbol terbesar dari diri-Nya dalam hidup kita untuk dihancurkan, itu tidak berarti Tuhan kita hilang. Ini berarti bahwa Dia memanggil kita untuk mengatur kembali kehidupan kita, mencari sekali lagi yang paling penting dalam hidup, untuk tidak memuja diri kita sendiri tetapi Dia, Allah yang hidup, dan untuk menjalin hubungan yang lebih benar dan lebih dalam dengan-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Kita: Allah Orang-Orang yang Hidup

Minggu dalam Pekan Biasa ke-32. [6 November 2016] Lukas 20: 27-38

 “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”(Luk 20:36)

all-saints-dayBulan November didedikasikan sebagai bulan para kudus di surga dan juga bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Bulan ini dimulai dengan Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan peringatan jiwa-jiwa orang-orang beriman pada 2 November. Kita, keluarga Dominikan, merayakan hari raya semua orang kudus Dominikan pada 7 November dan bagi jiwa-jiwa keluarga Dominikan pada 8 November. Perayaan besar Gereja ini bermula kepada Paus Bonifasius IV di abad ke-7, namun akarnya sebenarnya ada pada Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan kebenaran kebangkitan orang-orang yang telah meninggal. Kebenaran ini menyatakan bahwa kehidupan tidak berakhir dengan kematian, tetapi dirubah. Mungkin latar belakang dari Injil hari ini adalah kritik Yesus terhadap para Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan dan juga kepada mereka yang menyembah dewa-dewa penguasa dunia orang mati. Di banyak peradaban kuno, banyak orang menyembah dewa-dewa kematian karena mereka takut kuasa maut yang bisa menghancurkan kehidupan dan menghapus eksistensi manusia dengan seketika. Orang-orang Yunani memiliki Hades, orang-orang Romawi menyembah Pluto dan orang-orang Mesir menghormati Osiris. Namun, Yesus mengungkapkan kebenaran fundamental yang berbeda: Allah kita bukanlah Allah orang-orang mati, tetapi orang-orang hidup. Allah kita tetap memberikan kehidupan kepada kita meskipun kematian fisik yang kita alami. Ini berarti bahwa kita bukanlah sekedar manusia-manusia yang menunggu kematian dan keputusasaan. Kita dikasihi bahkan saat kita tidak lagi hidup di dunia ini. Lalu, ketika Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi satu dengan yang lainnya, kasih ini bukan hanya untuk sesama kita yang masih hidup, tetapi juga untuk saudara-saudari kita yang telah mendahului kita.

Dalam tradisi Romawi kuno, pemakaman terletak jauh dari kota. Mereka menyebutnya sebagai ‘necropolis’, secara harfiah kota orang-orang mati, karena orang mati tidak ada hubungannya lagi dengan yang hidup. Namun, umat beriman awal memilih untuk melakukan liturgi mereka di dalam katakombe, atau pemakaman bawah tanah. Benar, itu adalah tempat persembunyian dari otoritas Romawi yang menganiaya umat beriman, tetapi juga berasal dari iman mereka bahwa mereka benar-benar berdoa untuk dan dengan saudara-saudari yang telah meninggal. Di banyak gereja, tanah pemakaman berada di dalam kompleks gereja. Bahkan di tempat kita di Manila, tempat pemakaman para romo dan bruder Dominikan tepat di samping seminari kita. Tempat istirahat permanen mereka hanya beberapa meter dari tempat istirahat sementara kami! Kedekatan ini mengingatkan kami akan ikatan persaudaraan dan kasih di antara kami. Kita diingatkan untuk berdoa bagi mereka dan meneladani mereka yang setia sampai mati, dan mereka juga berdoa untuk kita dari surga.

Mengikuti ajaran Yesus, Gereja percaya bahwa mereka yang tidak lagi bersama kita, masih bagian dari Gereja. Bagi mereka yang di surga adalah anggota dari Gereja yang mulia, mereka di api penyucian adalah bagian dari Gereja yang menderita, dan kita di bumi ini merupakan bagian dari Gereja yang berziarah. Namun, semua adalah Gereja yang satu dan sama, mengakui iman yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Karena semua adalah anggota dari tubuh Kristus, kita bersatu erat dalam Kristus dan kasih-Nya. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi kita untuk mengasihi saudara-saudari kita yang telah mendahului kita melalui doa-doa kita, dan kita percaya mereka yang di surga terus membantu kita dalam doa mereka.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Saat Yesus Melihat Kita…

Minggu ke-31 pada Pekan Biasa. 30 Oktober 2016 [Lukas 19: 1-10]

 “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk 19:5)

zacchaeus-2

Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi nyata bagi Zakheus. Dalam Injil hari ini, kita membaca bahwa Zakheus sebenarnya tidak berniat untuk bawa Yesus untuk tinggal di rumahnya, apalagi untuk mereformasi hidupnya. Setelah melakukan banyak mujizat, Yesus telah menjadi sensasi bagi bangsa Yahudi, dan banyak orang, termasuk Zakheus, bersemangat untuk melihat Yesus yang melintas di tengah kota. Namun, ia bertubuh pendek dan orang-orang yang lebih tinggi menghalangi dia. Zakheus ternyata cukup gigih dan ia memutuskan untuk memanjat pohon ara.

Namun, ketika Yesus melihat Zakheus, Dia memanggil namanya dan juga ingin tinggal di rumahnya. Zakheus pun sangat tersentuh oleh aksi yang tak terduga namun sungguh bermakna dari Yesus. Inipun membawa transformasi dalam diri Zakheus. Salah satu tanda-tanda nyata pertobatannya adalah ia menjadi sangat murah hati. Dulu dia mengambil keuntungan dari orang miskin, sekarang dia berikan kembali kepada mereka yang miskin dengan berlimpah. Lebih penting lagi, dengan murah hati ia menyerahkan dirinya kepada Yesus saat ia menyambut Dia di rumah dan hidupnya.

Namun, transformasi tidak hanya terjadi pada Zakheus. Hal ini juga terjadi di dalam diri Yesus. Dia sebenarnya berjalan menuju Yerusalem untuk menghadapi sengsara dan wafat-Nya. Yerikho adalah sebuah kota yang tidak jauh dari Yerusalem, dan dengan demikian, para peziarah akan melewati Yerikho dan beristirahat sejenak. Mencermati teks, kita menemukan bahwa maksud awal Yesus adalah sekedar melewati Yerikho. Dia tidak berencana untuk tinggal lama di Yerikho. Namun, ketika ia melihat Zakheus, dia mengubah rencana-Nya. Apa yang membuat Yesus mengubah rencana-Nya?

Menjadi seorang pemungut cukai, Zakheus dinilai sebagai pendosa publik. Menjadi pemungut cukai, ia terlibat dalam malapraktek pajak dan korupsi, dan dia juga dianggap sebagai kolaborator Kekaisaran Romawi, musuh dari orang Yahudi. Tidak hanya, seorang pemungut cukai biasa, ia adalah sang kepala, dan tentu semua mata di Yerikho menatapnya dengan kebencian. perawakannya yang pendek mungkin tidak hanya berarti batasan biologis, tetapi juga melambangkan statusnya dalam masyarakat. Tapi, Yesus mampu melihat ke kedalaman jiwa Zakheus dan menemukan jati dirinya yang sejati. Meskipun tertutup dosa dan kelemahan, Yesus dapat melihat citra Allah yang indah dalam Zakheus.

Yesus tidak hanya memanggil Zakheus. Dia juga ingin tinggal di tempat Zakheus. Dalam masyarakat Yahudi, seorang Yahudi yang baik akan menghindari kontak dengan orang-orang berdosa, karena takut ia akan tercemar. Tapi, Yesus menentang praktek ini, dan justru berbagi makanan yang sama dari meja yang sama di bawah atap yang sama dengan Zakheus. Dengan masuk ke rumahnya dan makan bersama-sama dengan dia, Yesus menunjukkan semua orang bahwa Dia memiliki belas kasih, dan ingin menjadi bagian dari kehidupan Zakheus. Hanya ketika Yesus menyatakan kasih-Nya, Zakheus mulai mengubah dirinya.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah kita, tapi pertemuan ini juga mengubah Yesus lebih dahulu. Allah kita bukanlah Allah yang pasif, yang duduk di takhtanya menunggu orang untuk datang dan menyembah-Nya. Dia mengambil inisiatif dan memeluk kita lebih dahulu dengan cara yang tak pernah kita dibayangkan. Ketika Dia melihat kita, Ia menemukan citra-Nya, dan ini adalah citra Allah yang ada sejak penciptaan. Meskipun terkubur dalam dosa dan kelemahan, Yesus tidak pernah kehilangan pandangan dari keindahan ini. Yesus berani mengubah rencana-Nya untuk kita, apakah kita berani juga untuk mengubah rencana kita untuk Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Doa yang Benar?

Minggu di Pekan Biasa ke-30 [23 Oktober 2016] Lukas 18: 9-14

 “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa kepada dirinya sendiri, begini, ‘Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu ,..” (Luk 18:11)

Minggu lalu, Yesus mengingatkan kita untuk berdoa tanpa lelah. Tapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari ketekunan dalam doa. Ini ada hubungannya dengan cara kita berdoa. Tidak hanya kuantitas, tetapi juga kualitas. Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita memiliki doa yang berkualitas?

Suatu hari, saya menemukan sebuah postingan Facebook yang bertuliskan, “Berdoalah bukan karena kamu membutuhkan sesuatu, tetapi karena kamu punya banyak hal yang perlu kamu syukuri.” Benar, semua yang saya miliki adalah karunia Allah. Saya bukan apa-apa tanpa Dia, dan sudah layak dan sepantasnya bersyukur kepada-Nya. Bahkan, bentuk ibadah tertinggi di Gereja adalah Ekaristi. Kata Ekaristi sebenarnya berarti ‘syukur’. Saya pun me-like postingan tersebut. Namun, ketika saya membaca perumpamaan dalam Injil hari ini, saya menyadari bahwa orang Farisi pun melakukan doa syukur. Bahkan, dalam bahasa Yunani, Ketika orang Farisi bersyukur, ia menggunakan kata ‘eucharisto’, akar kata dari Ekaristi. Sementara pemungut cukai dibenarkan karena ia memohon belas kasihan dan pengampunan. Apakah ini berarti doa permohonan lebih baik dan lebih efektif daripada doa syukur dan doa-doa jenis lainnya?

Namun, jika kita membaca dengan cermat, ada beberapa detail yang menarik dalam Perumpamaan ini. Yang pertama adalah orang Farisi berdoa sebagai pembenaran diri, menunjukkan perbuatan baiknya, dan merasa lebih baik dari yang lain, terutama pemungut cukai. Farisi sudah merasa diri benar, oleh karenanya ia tidak lagi membutuhkan pembenaran dari Allah. Sedangkan, pemungut cukai merendahkan diri, mengakui bahwa ia adalah orang berdosa dan membutuhkan belas kasihan Allah. Dengan demikian, doa membutuhkan disposisi yang tepat. Kerendahan hati adalah dasar dari doa. Sungguh, Daud sendiri bermadah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mzm 51:17)

Detail kedua yang sering kita lewatkan adalah orang Farisi ini sebenarnya berdoa kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah (perhatikan Luk 18:11 di atas). Benar bahwa ia menyebut Allah, tetapi ia berbicara dengan dirinya sendiri. Dia mempersembahkan doa kepada dirinya bukan kepada Allah. Jika kemudian doa adalah komunikasi kita dengan Allah, orang Farisi ini menghancurkan makna doa yang sesungguhnya. Mungkin, dengan menyebut Allah, ia ingin Allah menjadi penonton dan mendengarkan litani keberhasilannya, tetapi tidak benar-benar untuk membangun hubungan dengan Allah. Tentu, kegiatan semacam ini memuaskan rasanya, tapi ini bukanlah sebuah doa. Apa yang orang Farisi lakukan bukanlah doa yang sejati, tapi pujian bagi dirinya sendiri.

Kita mungkin mendengar Ekaristi Kudus setiap hari, berdoa brevir dengan tekun, dan mendaraskan rosario. Kita juga bisa mengikuti pertemuan doa Karismatik atau ‘Praise and Worship’. Kita juga dapat menghadiri Misa Tradisional Latin, atau kita memilih untuk melakukan mediasi dan kontemplasi. Namun, dari perumpamaan hari ini, kita bertanya kepada diri sendiri, apakah doa kita adalah doa yang benar? Apakah kita berdoa karena kita merasa hebat dan puas tentang hal itu? Apakah kita berdoa karena kita bangga dengan prestasi kita? Apakah kita berdoa karena kita lebih saleh dari yang lain? Apakah doa kita membuat kita lebih dekat kepada Allah atau hanya untuk diri kita sendiri? Adalah kerendahan hati dasar doa kita? Doa kita harus memiliki kuantitas dan kualitas. Kita berdoa dengan ketekunan dan disposisi yang tepat. Tapi lebih dari ini, doa kita harus menjadi doa yang benar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan yang Tidak Pernah Jenuh

Minggu dalam Pekan Biasa ke-29 [16 Oktober 2016] Lukas 18: 1-8

“…namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia… (Luk 18:5)”

persistent-widow-1Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.

Saat ini kita merasa lemah dan lelah, godaan akan datang dan merayu kita untuk meninggalkan komitmen yang kita telah buat. Kita bahkan digoda untuk melakukan hal-hal gila dan berbuat dosa. Kita menjadi seperti hakim dalam Injil hari ini, yang ‘tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.’ Kita mulai melakukan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita menyakiti orang yang kita cintai. Kita membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Namun, kita sangat diberkati karena kita memiliki Allah yang seperti janda dalam Injil hari ini. Dia mengetuk hati kita siang dan malam sampai kita mau memberikan keadilan bagi-Nya dan sesama kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk setia dengan komitmen kita, berulang kali mendorong kita untuk bertekun dalam melakukan yang baik, dan tak henti-hentinya memanggil kita kembali setiap kali kita goyah.

Kasih dan perhatian-Nya yang tak henti-henti ini terwujud dalam cara yang sangat lembut di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia menempatkan sukacita kecil di dalam doa harian kita, meskipun kadang membosankan. Dia memberi kita keluarga dan teman-teman yang setia mendukung kita dalam waktu-waktu sulit. Dia memberikan kita dengan berkat-berkat sederhana yang kita cenderung abaikan. Salah satu faktor penopang dalam panggilan saya adalah Tuhan memberi saya sebuah komunitas. Memang, kadang-kadang hidup dalam komunitas cukup merepotkan, apalagi dengan watak yang berbeda-beda, tetapi ini juga menyediakan ekosistem dan struktur hidup untuk menopang kehidupan Dominikan saya. Frater-frater akan mengetuk pintu kamar saya agar saya tidak terlambat dalam doa, memberi kesempatan untuk berkhotbah, dan juga mengevaluasi saya agar saya berkembang, dan tentunya, mereka menkoreksi saya jika saya melakukan kesalahan. komunitas saya adalah cara Allah mengomeli saya.

Kita mungkin jenuh dengan banyak hal. Kita kelelahan dalam menjaga komitmen kita entah sebagai suami-istri atau orang tua. Kita bosan melakukan kewajiban kita sebagai pelajar atau pelayanan kita sebagai imam atau rohaniawan. Namun, kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang terus-menerus mengasihi kita dan tidak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menyerah pada diri kita sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah hanya untuk membuka mata, telinga dan hati kita kepada ‘omelan’-Nya yang tak henti. Karena Ia seperti janda yang tak kenal lelah memperjuangkan keadilan bagi-Nya dan bagi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosario dan Kita

7 Oktober 2016, Maria Ratu Rosari

rosary-2Oktober adalah bulan rosario. Izinkan saya untuk menulis tentang  doa yang sebenarnya kuno tetapi selalu baru. Mengapa Oktober adalah bulan rosario? Semuanya berawal ketika Paus Pius V, seorang Dominikan, mendedikasikan 7 Oktober sebagai pesta Maria Ratu Rosario setelah pertempuran Lepanto. Pada 7 Oktober, 1571, di Teluk Lepanto di Yunani, tentara Eropa berjuang melawan armada laut Ottoman Turki yang jauh lebih besar dan kuat, yang merencanakan untuk menyerang Eropa. Sementara pertempuran sedang berlangsung, sang Paus dan semua umat berdoa rosario meminta perantaraan Bunda Maria. Setelah berjam-jam konfrontasi, armada musuh pun dikalahkan.

Namun, devosi kepada Rosario sendiri bermula jauh lebih awal dari Paus Pius V. Doa ini adalah produk dari evolusi yang panjang. Devosi ini sebenarnya dimulai sebagai sebuah gerakan spiritual awam. Pada abad pertengahan awal, para rahib di pertapaan mendaraskan 150 Mazmur sebagai bagian dari doa harian mereka. Praktek ini sangat ideal untuk menguduskan seluruh hari mereka sebagai pembacaan Mazmur didistribusikan pada jam-jam penting pada hari itu. Namun, ini tidak berlaku bagi orang awam. Mereka tidak memiliki salinan Alkitab, apalagi kemampuan untuk membacanya. Dengan demikian, orang-orang awam yang mendambakan untuk menguduskan hidup harian mereka, mulai mendaraskan 150 ‘Bapa Kami’. Agar tidak hilang dalam meditasi, mereka juga menggunakan tali panjang dengan simpul sebanyak jumlah doa ‘Bapa Kami’. Setelah beberapa waktu, mereka berdoa 50 Bapa Kami tiga kali sehari.

Pada abad ke-12, Formula “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” menjadi bagian dari doa 150 ‘Bapa Kami’ ini. Tak lama setelah ini, meditasi pada ‘misteri’ kehidupan Yesus dan Maria mulai menjadi bagian dari devosi ini. Secara bertahap, doa ini berkembang menjadi 150 ‘Salam Maria.’ St. Dominikus de Guzman dan Ordo Pengkhotbahnya menerima mandat khusus dari Bunda Maria untuk mempromosikan  ‘Mazmur Maria’ ini. Pada abad ke-15, devosi kepada Yesus dan Maria ini memperoleh nama Rosarium (taman mawar). Pada tahun 1569, Paus Pius V mengeluarkan dekrit ‘Consueverunt Romani Pontifices’ yang mengatur bagaimana berdoa Rosario, dengan mempertimbangkan sejarahnya panjang dan tradisi Dominikan yang ia miliki. Dia juga menegaskan bahwa rosario sebagai salah satu dari banyak cara untuk mendapatkan rahmat dan indulgensia. Doa rosario terus berkembang bahkan sampai hari ini. Inovasi terbaru adalah dari Santo Yohanes Paulus II yang menambahkan lima Misteri of Cahaya.

Bulan Oktober menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengintensifkan devosi rosario dan merenungkan peran Maria dan rosarionya dalam kehidupan Gereja dan kehidupan kita. Saya kira yang lebih penting adalah kita diingatkan bahwa rosario sebenarnya lahir dari hasrat para awam untuk menjadi kudus. Rosario berasal dari tangan-tangan sederhana para awam yang mendaraskan Bapa Kami dan Salam Maria, dan juga merenungkan misteri keselamatan di dalamnya. Kita berdoa rosario karena kita ingin untuk lebih dekat dengan Allah dengan cara yang paling sederhana. Kita berdoa rosario karena doa ini merupakan devosi yang berasal dari hati kaum awam. Ketika kita berdoa rosario, kita berdoa bersama-sama dengan Maria yang adalah seorang wanita awam. Rosario adalah hidup kaum awam, dan hati kaum awam adalah Rosario.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Imam Sebesar Biji Sesawi

Minggu dalam Pekan Biasa ke-27 [2 Oktober 2016] Lukas 17: 5-10

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…(Luk 17:6)”

mustard-seed-in-bottleMembaca Injil hari ini, tampaknya memiliki iman itu membuat kita memiliki kekuatan super. Jika saya memiliki iman, saya dapat menanam padi di dasar laut. Jika saya memiliki iman, saya bisa membuat mobil Lamborghini dari tumpukan sampah. Jika saya memiliki iman, saya bisa mengubah suara saya seindah Ed Sheeran. Tapi, iman tidak seperti itu. Iman bukanlah pertunjukan sulap untuk menghibur kita. Iman bukanlah jawaban instan bagi keinginan-keinginan kita. Namun, benar adanya bahwa bahkan iman terkecil pun dapat membuat berbedaan yang berarti dalam hidup kita.

Yesus berbicara tentang iman dalam ukuran biji sesawi, dan ini melambangkan iman kita yang kecil. Namun walaupun kecil, iman kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup kita, bahkan melakukan hal-hal yang mustahil. Benar, hidup kita praktis tidak berubah. Kita masih berjuang dengan kesulitan keuangan. Kita masih harus berurusan dengan bos yang buat stres atau dosen teror. Kita tetep harus melalui kemacetan luarbiasa setiap hari, terutama di kota-kota besar seperti Manila dan Jakarta. Kita bergulat dengan berbagai penyakit yang menjangkiti tubuh kita, dan kita tidak tahu bagaimana untuk membayar obat dan biaya perawatan. Ya, hidup kita tidak berubah, namun pada saat yang sama, iman kecil kita akan membuat hidup kita menjadi baru. Bagaimana ini mungkin?

Dengan iman, kita diberdayakan untuk percaya pada Tuhan yang tak terlihat. Jika kita mampu melihat Tuhan yang tidak terlihat, kita juga bisa menemukan kasih dan rahmat-Nya yang tak terlihat dan bekerja dalam hidup kita. Tuhan tidak tidur dan tidak membiarkan kita berjuang sendirian dengan berbagai permasalah hidup. Kita mengingat Petrus, orang yang imannya kecil, yang berusaha untuk berjalan di atas air, tapi gagal dan mulai tenggelam. Dalam iman kecilnya, ia melihat Yesus memegang tangannya dan ia diselamatkan. Seperti Petrus, kita jatuh ke samudra permasalahan dan kesulitan, tapi kita tidak tenggelam karena dengan iman kecil kita, kita melihat Yesus memegang tangan kita.

Kita belajar dari banyak orang kudus. Iman mereka tidak membuat hidup mereka lebih baik. Banyak, seperti St. Fransiskus dari Assisi dan St. Martin de Porres, tetap miskin sepanjang hidup mereka. Banyak yang masih berurusan dengan berbagai masalah, seperti Bunda Teresa Kalkuta yang berjuang untuk mempertahankan karya amal dan Kongregasi mudanya, atau St. Bernadette Soubirous yang menanggung sakit luar biasa akibat TBC tulang. Bahkan tidak sedikit juga dengan kejam disiksa dan dieksekusi karena iman ini. Tapi, iman kecil yang mereka memiliki justru membuat mereka lebih murah hati, lebih tekun, dan bahkan bahagia di tengah-tengah ini pencobaan. Sebagai St. Lorenzo Ruiz, martyr pertama Filipina dan juga Dominikan awam, berseru ketika ia hendak dieksekusi di Jepang, “Saya seorang Katolik dan sepenuh hati menerima kematian bagi Allah; jika saya memiliki seribu nyawa, semua ini akan saya persembahkan kepada-Nya.” Iman tidak menghapus penderitaan kita, tetapi memberdayakan kita untuk melihat Allah yang bekerja dan ini cukup untuk mengubah siapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Kita

Minggu pada Pekan Biasa ke-26 [25 September 2016] Lukas 16: 19-31

 “Lazarus, menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. (Luk 16: 20-21).”

lazarusKetika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu.” Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”

Membaca lebih teliti Injil hari ini, orang kaya dikirim ke alam maut bukan karena hal-hal baik yang ia terima dalam hidup. Bahkan, jika ini sungguh alasannya, ini akan menjadi tidak adil bagi dia dan kita. Banyak dari kita bekerja dengan tekun, dan kita layak untuk menikmati hasil kerja keras kita. Dia ada di sana bukan karena hal-hal baik yang ia terima, tetapi karena dia tidak peduli kepada Lazarus, saudaranya yang miskin dan menderita.

Jika kita memperhatikan jarak antara orang kaya dan Lazarus, ada sesuatu yang tidak biasa. Awalnya, Lazarus ada di luar pintu, tapi kemudian ketika ia makan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu, dia benar-benar berada di dalam rumah. Bahkan, Lazarus sebenarnya berada di bawah meja orang kaya tersebut. Kita bisa menduga bahwa Lazarus sebenarnya adalah anggota keluarga sang kaya. Dengan kedekatan yang ekstrim ini, sang kaya tetap bertindak seolah-olah Lazarus tidak pernah ada. Apa yang mengirimnya ke akhirat bukanlah hal-hal baik yang ia terima, tetapi ia tega mengabaikan dan masa bodoh dengan saudaranya sendiri yang miskin.

Kita mungkin memiliki nasib yang sama dengan orang kaya ini jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang miskin di sekitar kita. Bahkan, ketidakpedulian kita mungkin menjadi penyebab kemiskinan dan penderitaan mereka. Kadang-kadang, kita merasa puas setelah menyumbangkan uang bagi para pengemis, tetapi apakah ini cukup? Memang, kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ribuan pengungsi di Suriah yang dilanda perang, tetapi apakah kita melakukan sesuatu bagi mereka yang dekat dengan kita? Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan mencari uang, sehingga kitapun lupa untuk berbagi? Apakah kita menutup mata kita terhadap anggota keluarga kita yang bergulat dengan pendidikan anak-anak mereka? Apakah kita diam saja terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat kita?

Kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan hal-hal baik yang kita terima dalam hidup ini. Namun, kita ingat juga saudara-saudara kita yang berada di luar pintu kita, mereka yang hanya di bawah meja kita, menunggu sisa-sisa makanan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia yang Utuh

Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13

 “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).”

dishonest-stewardKita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, “Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, “Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.

Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).

Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.

Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.

Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Satu Gembala, Satu Kawanan Domba

Minggu ke-24 pada Pekan Biasa. 11 September 2016 [Lukas 15: 1-10]

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Luk 15:6).”

lost-sheepPerumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.

Dari kebenaran ini, kita bertanya: Mengapa sebagian dari kita sesat? Mengapa sebagian dari kita tidak lagi pergi ke Gereja atau aktif di paroki? Mengapa beberapa meninggalkan Gereja? Mengapa beberapa akhirnya menjadi musuh dan pembenci Gereja? Biasanya kita akan dengan mudah menyatakan bahwa ini adalah kesalahan mereka. Namun, bukankah kita semua adalah domba dari kawanan yang sama, berbagi padang rumput yang sama dan memiliki Gembala yang sama? Jika ada saudara kita yang tersesat, kita juga ikut bertanggung jawab.

Sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka gagal dan hilang. Kita cenderung melihat mereka sebagai masalah untuk diselesaikan, objek rusak siap untuk dibuang. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudara-saudari kita, domba-domba gembalaan Yesus. Mungkin, saudara-saudari kita tidak lagi pergi ke Gereja karena kita tidak lagi peduli dengan kesulitan mereka. Mungkin, mereka meninggalkan Gereja karena hidup kita tidak lagi menjadi kesaksian iman dalam Yesus.

Kebijakan pemerintahan baru di Filipina untuk memerangi narkoba telah mencapai titik yang memprihatinkan. Lebih dari dua ribu jiwa telah melayang hanya dalam waktu dua bulan. Memang, banyak dari mereka yang terbunuh adalah pengedar skala kecil dan pengguna, dan jika kita melihat mereka hanya sebagai masalah dan hama bagi masyarakat, kematian tampaknya jawaban tercepat dan mudah. Tapi, jika kita sakit kepala, apakah kita akan memotong kepala kita? Apakah kita pernah bertanya mengapa mereka menjadi korban dari jerat narkoba? Sebagain besar dari mereka yang tewas sebenarnya adalah orang miskin. Narkoba menjadi solusi instan mencari uang atau menghilangkan lapar. Apakah kita pernah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan mereka? Ketidakpedualian kita secara tidak langsung telah menyebabkan mereka jatuh ke dalam kemiskinan, kesengsaraan dan narkoba.

Rm. Gerard Timoner III, OP, provincial kami di Filipnia, selalu mengajarkan kami bahwa  ‘brothers shepherding brothers’ atau menjadi pengembala bagi sesama frater di seminari. Ini berarti bahwa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat frater-frater di formasi tidak hanya terletak pada formator, tetapi juga pada setiap frater. Kita perlu menjadi gembala bagi sesama, terutama ketika para gembala utama tampak jauh. Baru-baru ini, ia juga berbagi dengan kami apa yang ia peroleh dari Kapitel Umum Dominikan di Bologna, Italia, bulan Agustus lalu. Dia menekankan bahwa untuk mempromosikan panggilan Dominikan tidak hanya berarti sibuk merekrut anggota baru, tetapi lebih penting adalah memperhatikan dan menjaga panggilan dari saudara-saudara kita sendiri di dalam Ordo.

Untuk menjadi domba-domba Kristus berarti bahwa kita juga adalah bagian dari kawanan domba yang lebih besar. Seperti halnya Yesus menjaga setiap dari kita, kita juga perlu untuk menjaga satu sama lain. Sebagai Gembala yang Baik mencari domba yang hilang, kita juga akan mencari saudara-saudari kita yang hilang dalam perjalanan mereka. Tentunya, tidak mudah, tapi kita akan selalu ingat bahwa mereka juga masih saudara-saudara kita, domba-domba Kristus, seperti kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP