Hari Raya Maria Bunda Allah. 1 Januari 2017. Lukas 2: 16-21
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkanny (Luk 2:19).”
Hari ini, dunia merayakan tahun baru. Dan, banyak dari kita merayakannya dengan berpesta, menonton kembang api, menari dan menyanyi. Namun, hari ini, Gereja memutuskan untuk melawan arus dan merayakan sesuatu yang berbeda, Maria Bunda Allah. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari raya kewajiban yang berarti kita harus pergi ke gereja suka atau tidak. Saya ingat menghadiri Ekaristi pada 1 Januari di paroki saya di Bandung, dan sang imam tidak pernah sekalipun memberi ucapan Selamat Tahun Baru kepada jemaat sampai misa selesai!
Kita mungkin bertanya, “Mengapa kita harus masih merayakan Bunda Allah pada awal tahun?” Pertama, mengingat Maria sebagai ibu Yesus dalam konteks Natal adalah sesuatu yang tepat secara theologis dan liturgis. Jadi, tepat seminggu setelah kelahiran Kristus, kita menghormati wanita yang telah mempersembahkan rahimnya, tubuhnya dan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kedua, kita diingatkan bahwa awal yang benar tidak hanya sesuatu yang ditandai di dalam kalender kita, atau dengan perayaan-perayaan besar penuh kesenangan. Awal yang sejati terjadi di dalam diri kita. Seperti dalam proses kehamilan dan melahirkan, pada mulanya, perubahan ini tidak begitu jelas. Hal ini terjadi di dalam rahim, dan dibutuhkan beberapa waktu sebelum embrio tumbuh lebih besar dan membuat kehadirannya terasa. Proses ini sulit, tidak mudah untuk dipahami, dan kadang-kadang menyakitkan. Namun, di dalam rahim ini ada hidup yang membawa masa depan, yang belum begitu jelas, namun menarik dan penuh harapan.
Ketika Malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria, dia menjadi bingung dan takut. Maria tahu jika ia berkata ya, hidupnya aka ada dalam bahaya besar. Tidak seperti beberapa masyarakat modern dimana perempuan yang belum menikah dan hamil adalah sesuatu yang lumrah, komunitas Yahudi kuno siap untuk menghukum pelanggaran ini. Maria mengandung praktis di luar nikah, dan dia harus menanggung semua konsekuensinya. Ia akan membawa aib untuk keluarganya, tunangannya, Joseph, dan dirinya sendiri. Bayinya mungkin akan disebut anak haram. Dan akhirnya, dia dan bayinya bisa dirajam sampai mati. Namun, imannya kepada Allah lebih besar dari ketakutannya. Diapun berani menerima dalam rahimnya, bayi kecil yang akan menjadi masa depan dunia.
Pada tahun 2006, misi Dominikan di Indonesia dimulai dalam kesederhanaan. Kami hanya terdiri dari dua imam, Pastor Adrian dan Robini, dan rekan Filipina, Rm. Terry dan seorang misionaris awam, Ms. Jemely. Praktis kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada institusi, tidak ada rumah, tidak ada uang. Kami bahkan tinggal di rumah kecil dan sederhana di dalam seminari keuskupan di Kalimantan. Kami harus bekerja keras hanya untuk mendukung kehidupan kami sehari-hari dan kami bergantung pada kemurahan hati banyak orang. Tak seorang pun di antara kami yakin apa yang masa depan akan bawa kepada kami. Tetapi, kami terus beriman kepada Allah. Sekarang, setelah 10 tahun, kami telah tumbuh secara signifikan. Kami memiliki dua rumah yang stabil di Pontianak dan Surabaya. Sekarang kita melayani banyak orang melalui berbagai karya kerasulan. Tentu saja, orang-orang muda dan berbakat datang dan bergabung dengan kami.
Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman kepada Allah karena bagi-Nya, tidak ada yang mustahil. Masa depan mungkin tidak pasti, menakutkan dan gelap, tetapi “bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan terus melengkapinya sampai hari Kristus Yesus (Fil 1:6).” Ini adalah semangat Tahun Baru yang benar, sebuah jiwa dari perubahan nyata, sebuah iman yang menjiwai kita untuk bergerak maju.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP




Jika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.


Mengapa banyak orang datang menemui Yohanes Pembaptis dan mendengarkan dia? Saya percaya bahwa orang-orang Yahudi ini lapar akan kebenaran. Mungkin kebenaran ini tidak nyaman dan menyakitkan untuk didengar, tetapi mereka ingin dan perlu mendengarkannya. Mereka bosan mendengarkan pemimpin mereka, seperti orang-orang Farisi dan Saduki, yang tidak jujur dan hidup dalam kemunafikan. Mereka kelelahan oleh banyak kewajiban agama, namun tidak menemukan inspirasi dan contoh yang baik dari pemimpin mereka. Yohanes datang dan mewartakan kebenaran dengan kesederhanaan dan integritas, dan orang Israel tahu bahwa mereka harus mendengarnya.
Kita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.
Perayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.
Dalam banyak agama-agama kuno, kuil adalah tempat suci. Hal ini karena dewa atau dewi mereka dianggap tinggal di sana dan orang-orang pun bisa melayani dan menyembah dewa-dewa mereka di kuil-kuil ini. Dengan demikian, banyak ritual kultus untuk menghormati dewa-dewa mereka berlangsung di kuil-kuil ini. Kuil ini menjadi tanda yang kasat mata dari kehadiran ilahi di antara manusia. Zeus terasa hidup di kuilnya di Gunung Olympus, atau dewa-dewi Roma terasa hadir di Pantheon.
Bulan November didedikasikan sebagai bulan para kudus di surga dan juga bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Bulan ini dimulai dengan Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan peringatan jiwa-jiwa orang-orang beriman pada 2 November. Kita, keluarga Dominikan, merayakan hari raya semua orang kudus Dominikan pada 7 November dan bagi jiwa-jiwa keluarga Dominikan pada 8 November. Perayaan besar Gereja ini bermula kepada Paus Bonifasius IV di abad ke-7, namun akarnya sebenarnya ada pada Tuhan Yesus Kristus sendiri.
