Misteri Trinitas, Misteri Kasih

Hari Raya Tritunggal Mahakudus. 22 Mei 2016 [Yohanes 16:12-15]

Roh itu datang, yaitu Dia yang menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbing-Nya untuk mengenal seluruh kebenaran. (Yoh 16:13).”

Holy Trinity 1Misteri Tritunggal Mahakudus adalah ajaran yang paling mendasar tetapi juga yang paling sulit untuk dimengerti. Pemikir-pemikir besar Gereja, seperti Santo Agustinus dari Hippo, St. Thomas Aquinas dan Karl Rahner telah berusaha untuk memahami misteri ini, tetapi penjelasan mereka menabrak dinding raksasa. Suatu hari, ketika St. Agustinus sedang berjalan di sepanjang pantai, bermeditasi tentang misteri Tritunggal Mahakudus, uskup yang kudus ini melihat seorang anak kecil menggali lubang di pasir. Dia datang mendekat dan melihat bahwa anak itu mencoba untuk memindahkan air laut ke dalam lubang kecil. St Agustinus kemudian mengatakan kepada anak itu bahwa apa yang ia lakukan adalah sia-sia. Tiba-tiba anak kecil itu menjawab, Sama halnya dengan apa yang kamu lakukan, ketika kamu mencoba mengerti Tritunggal di dalam kepalamu yang kecil.’

Namun, kita tidak boleh putus asa. Untuk mendapatkan gambaran yang sedikit lebih jelas tentang Tritunggal, kita mencoba melihat bahwa misteri Tritunggal sebagai misteri Kasih. Kata ‘Misteri’ berarti sesuatu yang kita tidak dapat sepenuhnya pahami, namun kita tahu bahwa kenyataan ini begitu benar dan tak terbantahkan. Kasih adalah misteri karena seringkali kita tidak bisa benar-benar memahami kasih, tapi kita yakin bahwa kasih itu nyata dan tak terbantahkan. Sebagai orang tua, kita mengasihi anak-anak kita, kita merawat mereka, dan menginginkan hal-hal yang terbaik bagi mereka, namun seringkali kita tidak mengerti mengapa mereka tidak menghargai kita, dan sering menjadi sulit untuk dikasihi. Seorang pemuda yang jatuh cinta dengan seorang gadis, seringkali kesulitan untuk mendapatkan hatinya, tapi dia tahu bahwa kasih dan cintanya bagi sang gadis itu benar adanya. Bahkan, bagi pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun, kadang-kadang, mereka masih menghadapi jalan berbatu dan gagal untuk memahami satu sama lain, tetapi lagi-lagi, mereka tidak pernah meragukan kasih mereka satu sama lain.

Trinitas adalah kasih. Uskup Robert Baron dari Los Angeles, menjelaskan bahwa kasih sejati selalu melibatkan yang mengasihi, yang menerima kasih, dan kasih itu sendiri yang menyatukan mereka berdua. Di dalam kasih, ada dinamis yang indah dari tiga kasih. Kasih adalah salah satu, namun juga adalah tiga. Di dalam Trinitas, Allah Bapa mengasihi Allah Putra dengan total, dan Allah Putra mengasihi Allah Bapa secara radikal, dan kasih yang menyatukan Allah Bapa dan Putra adalah Allah Roh Kudus. Tidak heran, St. Yohanes menulis bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:6). Kasih sejati bukan tentang teori, tapi transformasi kehidupan. Kita bisa membahas tentang Tritunggal selama berjam-jam, namun percuma jika kita gagal untuk membantu pengemis menderita kelaparan yang sangat membutuhkan makanan. St. Thomas Aquinas telah menulis tentang Allah dengan sangat baik. Tulisannya tentang Tritunggal tetap menjadi pedoman bagi siswa teologi yang berusaha untuk memahami lebih baik misteri ini. Pada akhir hidupnya, Tuhan di kayu salib menampakkan diri kepada Thomas dan bertanya apa yang ia harapkan sebagai imbalan atas kerja kerasnya. St. Thomas dengan rendah hati menjawab, Hanya Engkau Tuhan, hanya Engkau.’ Bagi Thomas, semua apa yang ia tulis seperti jerami dibandingkan dengan Kasih ia secara pribadi temui.

Sungguh, Tritunggal Mahakudus adalah misteri yang tidak terselami, tetapi setiap kali kita peduli terhadap sesama, membantu teman-teman kita, mengampuni musuh-musuh kita dan mengasihi secara total, Trinitas menjadi nyata dan menampakan diri dalam diri kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Koneksi

Hari Raya Pentakosta. 15 Mei 2016 [Yohanes 14: 15-16,23-25]

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah Para Rasul 2: 4).”

pentecostPertama kalinya saya menghadiri pertemuan doa Karismatik Katolik adalah sekitar 10 tahun yang lalu di Singapura. Pertemuan ini ditandai dengan musik yang upbeat dan doa yang intensif. Di tengah ibadat dan disaat doa-doa semakin intens, tiba-tiba saya menyaksikan beberapa peserta mulai mengalami sesuatu yang tidak biasa dan mengucapkan kata-kata tidak jelas. Awalnya, saya tercengang, tapi saya segera menyadari bahwa mereka sedang berbicara dalam bahasa roh. Phenomena ini merujuk pada seseorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan mulai bernubuat sesuai kehendak Roh. Fenomena ini sudah ada sejak Gereja berdiri. St. Paulus sendiri menulis “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. (1 Kor 14: 2)”

Awalnya, saya berpikir bahwa fenomena bahasa Roh ini adalah apa yang terjadi pada hari Pentakosta pertama. Ketika Bunda Maria dan para murid berkumpul di hari ke-lima puluh setelah kebangkitan Yesus dan Roh Kudus turun atas mereka dan memenuhi mereka dengan kuasa-Nya. Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun, saya salah, mereka tidak berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus menganugerahkan karunia yang berbeda. Ini adalah karunia bahasa pengertian dan pemahaman. Para Rasul tidak berbicara bahasa yang aneh tapi diberdayakan untuk mengkomunikasikan dengan jelas Injil Yesus Kristus. Umat dari berbagai daerah seperti Suriah, Asia Kecil (Turki), Semenanjung Arab, Afrika Utara, bahkan Eropa, tentu berbicara dalam banyak bahasa, tapi mereka mampu memahami para rasul yang sebenarnya orang asli Palestina. Roh memampukan mereka untuk membangun koneksi.

Pentakosta dan karunia bahasa berbicara realitas yang lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia adalah Roh yang menyatukan kita. Dia menyembuhkan perpecahan dan kecenderungan kita untuk menjadi egois. Dalam Pentakosta, Roh menghapus kutukan Menara Babel dalam Buku Kejadian 11. Ini adalah kisah simbolis tentang keinginan egosentris manusia untuk mengalahkan Tuhan, untuk menjadi setara dengan Allah, dengan membangun sebuah menara super tinggi yang dapat mencapai Tuhan dengan upaya mereka sendiri. Namun, ambisi manusia dan keserakahan akan kekuasaan membawa perpecahan dan keruntuhan bagi umat manusia. Mungkin, salah satu pencitraan modern dari Menara Babel adalah TV series yang paling diantisipasi Game of Thrones. Seri ini dengan cerdas menceritakan bagaimana nafsu manusia untuk menjadi raja di Tahta Besi membuai berbagai karakter dalam seri tersebut untuk menggunakan berbagai trik licik dan kotor untuk menghancurkan saingan mereka. Tujuh Kerajaan, sebelumnya bersatu, terbagi, jatuh dan mereka pun saling menghancurkan.

John Maxwell dalam bukunya, Everyone Communicates, Few Connects, berpendapat bahwa kepemimpinan sejati hanya mungkin jika sang pemimpin memiliki kemampuan sang untuk membangun koneksi dengan orang lain. Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah juga mengatakan, “Jika Anda ingin memenangkan seseorang untuk tujuan Anda, meyakinkanlah dia bahwa Anda adalah temannya yang tulus.” Namun, fondasi dari kemampuan membangun koneksi adalah kita mau menjadikan orang lain sebagai tujuan kita dan bukan diri kita sendiri. Ini berarti menyisihkan ambisi kosong dan hasrat kita untuk mendapatkan semua hal bagi diri kita sendiri dan kita membuat orang lain, kekhawatiran mereka, perjuangan mereka menjadi bagian dari hidup kita. Ini adalah karya Roh Kudus: menyembuhkan, mempersatukan dan memberdayakan kita.

Roh Kudus datang agar kita sekali lagi mampu membangun koneksi dengan Tuhan dan satu sama lain, koneksi yang rusak oleh dosa Adam dan Menara Babel. Memang benar bahwa tidak selalu kita mengalami bahasa roh atau perasaan ‘high’ seperti yang dialami pada pertemuan doa karismatik, tetapi ini tidak berarti Roh Kudus tidak berkerja. Bahkan, kebanyakan, Dia bekerja dalam keheningan dan cara-cara yang sederhana. Dia bekerja ketika kita menjadi lebih tekun dan tabah dalam penderitaan hidup. Dia bekerja ketika kita lebih sabar mengasihi mereka yang sering memberi kita masalah. Dia memberi kita kegembiraan sederhana dalam realisasi-realisasi kecil dari berbagai berkat yang kita terima saat ini. Saya percaya saat anda membaca refleksi ini dan menemukan makna, ini adalah pekerjaan-Nya di dalam kita.

Saat kita merayakan Pentakosta, kita berdoa agar kita dapat terus membuka diri kepada kasih karunia Roh Kudus dan mengijinkan Dia untuk membuat hidup kita berbuah.

  Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Berkat

Pesta Kenaikan Tuhan Yesus. 5 Mei 2016 [Lukas 24: 46-53]

“Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Luk 24:51).”

ascension n cross

Cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan adalah dengan memberkati. Setiap kali saya berangkat ke Filipina dan melanjutkan formasi, orang tua saya akan memeluk dan memberkati saya dengan menandai dahi dengan tanda salib kecil. Rekan-rekan Filipina memiliki tradisi ‘Mano Po’ di awal dan akhir perjumpaan dengan orang-orang yang dituakan. Mereka akan memegang tangan orang tua mereka, dan menempatkannya di dahi mereka. Hal ini, saya percaya, adalah sebuah tanda dari berkat dan hormat. Setiap kali seorang frater Dominikan di Manila akan ditahbiskan, malam sebelumnya ia akan menerima berkat dari komunitas dan ia akan berlutut dan semua frater dan romo berdoa bersama dan memberkati dia. Pada akhirnya, setiap perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat dan perutusan.

Namun, apa arti dari memberkati? Dalam bahasa Latin, memberkati adalah ‘benedicere’. Kata ini berasal dari dua kata Latin lainnya: bene (baik) dan dicere (mengucapkan). Dengan demikian, untuk memberkati adalah untuk mengucapkan kata yang baik. Karena kata cenderung menjadi daging, kita berharap bahwa kata-kata baik yang kita ucapkan pada giliran akan menjadi kenyataan juga. Jika kita teliti dengan seksama kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1, kita melihat Allah melakukan tiga tindakan terhadap ciptaan-Nya: menciptakan, melihat kebaikan dan memberkati. Ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah memastikan bahwa ciptaan-Nya adalah baik dan karena kebaikan ini, Iapun memberkati mereka. Memberkati tidak hanya tindakan manusia, tetapi juga ilahi. Memberkati tidak hanya mengucapkan yang baik, tetapi juga menemukan hal yang baik. Memberkati ini tidak hanya bersabda dengan kata-kata yang baik dan bagus, tetapi berharap hal-hal baik ini menjadi kenyataan.

Seperti Bapa telah memberkati ciptaan-Nya sebelum Ia beristirahat di hari ketujuh, sang Putra juga memberkati para murid yang dikasihi-Nya sebelum Ia naik ke surga. Ketika Tuhan memberkati Adam dan Hawa, Ia mengatakan, “Jadilah subur dan bertambah banyaklah! (Kej 1:28 – terjemahan sendiri)” Berkat Tuhan mengartikulasikan, menegaskan dan meremajakan kebaikan dalam diri kita. Karena kebaikan kita ditegaskan kembali, berkat memberdayakan pria dan wanita untuk berbuah, bahagia dan bermurah hati dengan sesama. Berkat Tuhan mengubah kita menjadi berkat juga bagi sesama.

Untuk memberkati adalah panggilan kita sebagai murid-murid Kristus. Catherine Marie Hilkert, OP pernah berkata bahwa ‘pewartaan’ adalah mengartikulasikan rahmat, maka tidak salah jika pewartaan dimengerti sebagai mengartikulasikan kebaikan. Sayangnya, bukannya berkat, kita memilih untuk mengutuk. Dalam bahasa Latin, mengutuk adalah ‘maledicere’, untuk berbicara buruk. Sama seperti berkat, kata-kata buruk cenderung menjadi daging. Keluarga rusak karena kita lupa untuk mengatakan berkat, dan fokus pada saling menyalahkan. Intoleransi, kekerasan dan bahkan terorisme berlatar belakang agama mulai di mimbar suci. Sayangnya, di saat pemilu, dari Amerika Serikat sampai ke Indonesia dan Filipina, para politisi yang mengejar posisi saling mengumpat, saling tuduh, dan mempekerjakan trik jahat. Seolah-olah kehilangan akal sehat, para pemilih berubah menjadi pendukung fanatik dan emotional, rela melakukan apa saja untuk calon yang mereka kagumi.

Dunia kita telah rusak dan cacat akibat kutukan yang kita ucapkan. Adam dan Hawa mengatakan tidak kepada Allah dan menyalahkan satu sama lain. Sebagai keturunan mereka, kita meneruskan kutukan yang menghancurkan ini. Kita sangat membutuhkan berkat untuk membatalkan lingkaran setan ini. Kemudian, Yesus datang dan memeluk segala kutuk di salib-Nya dan membuat kita berbuah lagi dalam kebangkitan-Nya. Sekarang, Ia naik ke surga dan sebelum Dia pergi, Dia memastikan bahwa berkat-Nya tetap tinggal. Kenaikan-Nya mengingatkan kita bahwa kita memiliki misi untuk mengartikulasikan kebaikan dan membiarkan diri kita menjadi berkat bagi sesama. Hanya dengan menjadi berkat, kita dapat menyembuhkan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan dunia ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Menjadi Kasih Allah

Minggu Paskah Keenam. 1 Mei 2016 [Yohanes 14: 23-29]

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

keep calm jesus loves youSuatu hari, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu personel keamanan di biara kami Santo Domingo. Saya bertanya jika dia melihat Tuhan saat ini, pertanyaan apa yang akan ia berikan kepada Allah? Pertanyaan di luar dugaan saya. Dalam bahasa Tagalog, ia akan mengatakan, Panginoon, Mahal mo ba ako? [Tuhan, apakah Engkau mengasihi aku?] Terkejut dengan pertanyaannya, saya bertanya lebih lanjut, Mengapa pertanyaan itu? Dia menjawab, ‘Frater, saya orang miskin dan hidup dengan banyak permasalahan. Kadang-kadang, saya tidak merasakan kehadiran dan cinta-Nya. Saya menyadari bahwa pertanyaannya adalah valid dan juga pertanyaan dari banyak orang.

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Di akhir pembicaraan saya dengan sang satpam, saya memberikan dia sebungkus makanan yang saya bawa dari mal. Setelah menerima makanan, dia berkata kepada saya, ‘Bolehkah saya berbagi makanan ini dengan beberapa anak-anak miskin di luar Gereja?’ Tindakannya membuat saya terkejut tapi sangat menyejukan hati. Menjadi seorang satuan pengamanan di Metro Manila, adalah pekerjaan yang berbahaya dengan penghasilan kecil, ditambah lagi begitu banyak masalah yang ia harus hadapi, namun kemiskinannya tidak mencegah dia untuk berbagi berkat sederhana yang ia memiliki, kasih yang ia terima. Memang, dia mempertanyakan kasih Allah, tetapi ia sendiri tidak pernah berhenti mengasihi orang lain. Pria sederhana ini telah menjadi perwujudan kasih Allah bagi sesama. Kasih Allah mengubah perlahan-lahan sesuai dengan citra-Nya, dan tanpa kita sadari, kita juga telah menjadi perwujudan dari kasih-Nya kepada sesama.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Perintah Baru: Kasih

Minggu Paskah Kelima. 24 April 2016 [Yohanes 13: 31-33a, 34-35]

 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34).”

god-is-loveAllah memberikan Hukum-Nya yang pertama di Gunung Sinai. Dengan Musa dan bangsa Israel, Dia membuat perjanjian bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Dan agar bisa hidup sebagai Jemaat yang kudus, Allah memberi mereka hukum dan perintah. Hukum ini terkenal sebagai Sepuluh Perintah Allah (Kel 19-20). Kemudian, beberapa abad setelah Musa, di kota tua Yerusalem, Allah memberikan perintah baru-Nya. Kali ini, Hukum-Nya lebih sederhana namun jauh lebih radikal. Yesus memberikan kepada para murid-Nya perintah teragung: saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi mereka.

Yohanes disebut sebagai murid yang terkasih. Mungkin, ini karena ia dikasihi oleh Yesus dengan mendalam, tapi saya percaya, hal ini juga karena di antara para murid, Yohanes lah yang paling bergulat untuk memahami kasih Yesus baginya dan bagi kita semua. Kasih Yesus sangat mencengangkan. Dalam budaya Isreal yang berasaskan gigi ganti gigi, mengampuni musuh tidaklah terpikirkan, tapi Yesus meminta murid-Nya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh, untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh mereka! Ketika masyarakat Israel membenci orang-orang berdosa, pemungut pajak, dan pelanggar hukum Taurat, Yesus menyambut mereka. Namun, Ia sendiri menuntut dari mereka untuk bertobat dan menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna. Ketika Dia ditinggalkan sendirian, disiksa dan disalibkan, Ia memanifestasikan kasih terbesar-Nya saat Dia mengampuni kita semua. Ini tidak berhenti di situ. Yesus yang bangkit dan memperbaharui kasih-Nya bagi para murid-Nya yang rapuh dan gagal mengasihi-Nya. Yohanes kemudian menyimpulkan di dalam suratnya, sungguh Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dia tidak hanya penuh kasih, penuh pengampunan dan kemurahan hati tapi Ia adalah kasih itu sendiri.

Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta, meskipun Dia sempurna dan mandiri? Karena kasih sejati itu berarti berbagi. Mengapa Allah terus menjaga dan memelihara ciptaan-Nya? Karena kasih berarti peduli. Mengapa Allah membuat kita manusia menurut citra-Nya? Karena kasih melahirkan kasih yang lain. Mengapa Allah memberi kita kebebasan meskipun kita cenderung menyalahgunakan kebebasan ini? Karena kasih tidaklah nyata kecuali ada kebebasan.

Mengasihi sungguh sulit dan penuh pengorbanan. Orang tua berjuang untuk memahami dan peduli dengan anak remaja mereka yang terlibat dalam kecanduan narkoba. Seorang istri berjuang mempertahankan pernikahannya yang mulai runtuh karena suaminya yang tidak setia. Seorang imam paroki berusaha untuk mendidik jemaatnya dalam iman meskipun begitu banyak kritik dan kesalahpahaman yang harus ia hadapi. Film Of Gods and Of Man adalah kisah nyata dari komunitas rahib Trappist di Aljazair, dan mereka akhirnya diculik dan dibunuh pada 1996 oleh teroris. Dalam satu pertemuan, mereka berdebat apakah akan meninggalkan biara dan penduduk desa Muslim yang mereka layani, atau tetap bertahan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu  rahib muda berkata kepada Prior, “Saya tidak menjadi seorang rahib untuk mati.” Dan sang Prior menjawab kembali, Tapi kamu telah memberikan kehidupan kamu saat masuk biara. Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal dan terus mengasihi sampai akhir.

Suatu kali, saya menghadapi krisis yang mendalam tentang panggilan saya. Jujur, saya bingung: baik menjadi awam maupun imam adalah panggilan suci dan bermartabat. Kemudian, formator saya akan memberikan nasihat berharga: Bayu, pilihlah jalan yang menuntunmu pada penderitaan dan pengorbanan yang lebih besar, karena disana kamu akan mengasihi lebih besar.” Sungguh, mengasihi adalah sulit, tetapi hanya melalui kasih, kita bisa menjadi Murid Kristus, dan mencerminkan citra-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Gembala yang Baik

Minggu Paskah Keempat. 17 April 2016 [Yohanes 10: 27-30]

“Domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh 10:27).”

pope francis crossSalah satu citra terindah Yesus adalah Gembala yang Baik. Citra ini bahkan lebih indah ketika kita mencoba untuk melihat situasi Palestina pada zaman Yesus. Hidup sebagai seorang gembala adalah sulit dan melelahkan. Rumput terbatas dan domba akan terus berkelana. Karena tidak ada pagar pembantas, gembala akan memantau domba-dombanya sepanjang waktu, jika tidak, domba akan hilang. Medan di Yudea kasar dan berbatu, dan ini memaksa gembala mengerahkan energi ekstra. Selain itu, tugas gembala juga berbahaya. Hewan liar, terutama serigala, siap untuk menyerang dan melahap domba. Tidak hanya predator liar, perampok dan pencuri juga ingin membajak domba-dombanya.

Domba di Yudea diternakan terutama untuk wol. Jadi, gembala bisa hidup bersama dengan domba-dombanya untuk bertahun-tahun. Tak heran jika ia tahu baik setiap domba, karakter, dan bahkan fitur fisik mereka yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti si ‘kaki kecil’ atau si ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba menjadi begitu akrab dengan suara gembala. H.V. Morton, seorang sarjana Alkitab,  menceritakan pertemuannya dengan dua gembala yang berbagi gua yang sama untuk melindungi ternak mereka di malam hari. Bagaimana mereka akan memisahkan domba mereka? Di pagi hari, satu gembala berdiri beberapa meter dari gua dan dengan hanya menyuarakan suaranya yang khas, domba-dombanya segera berlari ke arahnya. Sementara domba milik gembala lainnya tetap di gua!

Gembala yang baik adalah simbol dari dedikasi, pengorbanan, dan kasih sejati. Tak heran jika bangsa Israel melihat Tuhan sebagai gembala mereka. Mazmur 23 adalah salah satu puisi terindah di Alkitab, menggambarkan Allah sebagai Gembala yang Baik. Ingat bahwa beberapa pemimpin besar Israel sejatinya adalah gembala. Musa sedang mengembalakan ternak ayah mertuanya saat dia dipanggil oleh Allah dalam semak yang terbakar (Kel 3). David juga sedang mengurus domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia menjadi raja (1 Sam 16).

Yesus memahami hal ini dan Dia mengambil identitas ini pada dirinya sendiri. Tidak hanya gembala biasa, Dia adalah Gembala yang Baik. Dia mengenal kita sebagai pribadi unik dan berharga. Dia merawat kita, dan mencari kita jika kita tersesat. Ia melindungi kita dari berbagai bahaya. Bahkan Dia bersedia menyerahkan nyawa-Nya hanya untuk menyelamatkan kita.

Sekarang, kita bukanlah domba biasa. Kita adalah manusia, dengan kecerdasan dan kehendak bebas. Maka, untuk menjadi domba Kristus, kita perlu menjadi sesuatu yang lebih. Ini berarti bahwa kita juga dipanggil untuk menjadi gembala yang baik. Seorang imam adalah gembala yang baik untuk umatnya. Seorang suami atau istri adalah gembala yang baik bagi pasangannya. Orang tua adalah gembala yang baik bagi anak-anak mereka. Fr. Gerard Timoner, OP, provinsi kita, pernah mengingatkan kita bahwa ‘saudara-penggembalaan-saudara’ harus semangat kita formasi kita.

Menjadi seorang gembala yang baik tidak pernah mudah. Seperti Kristus, kita akan memberikan diri kita secara total kepada orang lain. Tapi, hanya dalam  pemberian total, hidup kita menemukan maknanya. John Maxwell, guru kepemimpinan, pernah berkata bahwa keberhasilan manusia tidak berdasarkan berapa banyak orang melayaninya, tapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Sementara, Zig Ziglar, pembicara inspirasional besar Amerika, mengingatkan kita bahwa kita bisa mendapatkan segala sesuatu kita inginkan di dalam hidup jika kita cukup membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada dasarnya, kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Gembala Baik, kita adalah citra Gembala yang Baik. Maka, tujuan dan misi dalam hidup kita addalah menjadi gembala yang baik dan merawat domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Minggu Paskah ketiga. Yohanes 21:1-19 [8 April 2016]

jesus n peter 2aMembaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, Friend in need is friend indeed.’

Yesus bertanya, “Petrus, apakah kamu mengasihiku secara radikal dan total?” Namun, Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau sebagai sahabat.” Yesus menuntut kasih yang radikal atau ‘agepe’ tiga kali, dan tiga kali juga, Petrus hanya bisa memberikan Yesus kasih persahabatan atau ‘philia’. Hal ini tampaknya sebuah penyangkalan Petrus terhadap Yesus. Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI dengan rendah hati membela Petrus bahwa pada saat itu, ‘phileo’ adalah terbaik yang dapat Petrus berikan.

Dialog kasih antara Yesus dan Petrus juga adalah dialog kita dengan Tuhan. Yesus menuntut kita kasih yang radikal dan tanpa pamrih. Tapi, mengasihi itu sungguh sulit. Seorang teman bercerita bagaimana ia memiliki keinginan untuk melayani di Gereja, namun ia adalah tulang punggung keluarga dan harus bekerja 12 jam sehari, termasuk akhir pekan. Bagimana kita bisa mengasihi Allah, ketika hidup kita berantakan? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan, ketika pernikahan kita luluh lantah, ketika anak kita masuk rehabilitasi karena kecanduan atau penjara karena kenakalan remaja mereka? Bagaimana kita bisa menkasihi ketika pekerjaan atau bisnis kita berantakan, dan teman-teman kita yang meninggalkan kita sendirian? Bagaimana kita bisa menkasihi Tuhan jika kita dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita kasihi begitu banyak? Saat gagal mengasihi dan dikasihi, kita berhenti mengasihi dan terkunci dalam isolasi sempit buatan kita sendiri.

Namun, ketika Petrus gagal memenuhi harapan Yesus, Yesus tidak marah. Dia tidak pernah mengatakan, “Kamu adalah sebuah kegagalan dan kesalahan.” Sebaliknya, Dia bahkan memberi Petrus tanggung jawab yang lebih besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu benar betapa sulitnya untuk mengasihi. Dia sendiri harus mati di salib hanya untuk membuktikan kasih-Nya bagi kita. Namun, Dia tidak melihat ini sebagai kegagalan. Dia yang telah memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, tahu persis potensi kita untuk mengasihi. Petrus pun yang terus bergulat untuk mengasihi Yesus, akhirnya membuktikan kasihnya kepada Yesus dengan setia mengembalakan domba-domba-Nya sampai akhir hayatnya. Petrus pun disalibkan karena ia menolak untuk meninggalkan umat Kristiani di Roma.

Ketika kita gagal untuk mengasihi Allah, Dia tidak meninggalkan kita, dan pada kenyataannya, Dia memberi kita lebih banyak misi untuk menkasihi. Mengapa? Karena Yesus tahu persis bahwa hanya melalui kesulitan ini, kita dapat memperluas kemampuan kita untuk menkasihi. Kasih tanpa cobaan dan kesengsaraan adalah kasih dangkal dan lemah. St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Jadi, ketika kita berjuang untuk menkasihi di dalam kehidupan, kita akan ingat bahwa bukan kita yang menkasihi, tapi Allah sendiri di dalam kita.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Luka-Luka Yesus

Minggu Paskah Kedua – Minggu Kerahiman Ilahi. 3 April 2016 [Yohanes 20:19-31]

 “Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya(Yoh 20:25).”

wounds of jesusDi dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Thomas mencari luka-luka Yesus karena ia bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dengan luka-luka yang diterima Yesus di salib. Thomas sebenarnya sedang mencari dirinya sendirinya dan tidak hanya Yesus. Jauh di dalam jiwanya, Thomas mengakui bahwa ia adalah luka-luka Kristus. Thomas yang pernah berkata, “Marilah kita pergi untuk mati bersama-Nya (Yoh 11:16)!”, tapi ia akhirnya melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali. Yudas menjual-Nya dengan harga seorang budak. Selebihnya meninggalkan-Nya ke tangan para pembunuh-Nya. Kisah-kisah para murid adalah kisah kegagalan, kelemahan dan pengkhianatan. Mereka telah menyalibkan Yesus. Mereka adalah luka-luka Kristus.

Kita juga adalah luka-luka Kristus. Kita adalah kisah kegagalan, keegoisan dan ketidaksetiaan. Kita mungkin telah mengkhianati teman-teman kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita mungkin telah melakukan kekerasan bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai. Kita mungkin telah berbohong untuk melindungi reputasi baik kita dan menutupi kesalahan kita. Dalam bukunya, Blood and Earth, Kevin Bales menulis tentang bagaimana hasrat kita untuk barang-barang yang lebih murah mendorong perbudakan manusia modern di negara-negara dunia ketiga. Siapa tahu bahwa telepon selular yang kita gunakan untuk membaca refleksi ini, sebenarnya, adalah hasil kerja dari orang-orang yang bekerja di kondisi yang tidak manusiawi di Afrika dan Asia. Dan siapa tahu pola konsumsi makanan kita sebenarnya telah merusak jutaan hektar tanah dan menyakiti sang bumi.

Sama seperti para murid, kita lemah, tak berdaya dan terluka. Kita telah menyalibkan Yesus dan kita menyadari luka-luka Yesus adalah diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa pesan dari Paskah. Ya, kita adalah luka-luka, tapi kita adalah luka-luka Kristus yang bangkit. Ya, kita lemah, rapuh dan berdosa, tapi kita tidak kehilangan harapan karena kita tidak menanggung luka-luka ini sendirian. Yesus menanggung kita, dan semua ketidaksempurnaan kita, dan mengubah hal-hali ini di dalam kebangkitan-Nya. Pada Januari 2015, Paus Fransiskus mengunjungi kota Tacloban, Filipina yang luluh lantah oleh topan Yolanda, dan dia sangat sedih dengan kehancuran ia lihat dan akan ribuan hidup yang telah hilang di kejadian ini. Di hadapan kehancuran total ini, Paus Fransiskus menunjukkan tangannya kepada Tuhan di salib, dan berkata kepada para penduduk Tacloban,

 “Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tetapi Tuhan tahu harus berkata apa bagimu. Beberapa dari kalian telah kehilangan bagian dari keluarga kalian. Yang bisa saya lakukan adalah berdiam diri dan berjalan dengan kalian semua dengan hati saya yang diam. Banyak dari kalian telah bertanya kepada Tuhan – mengapa Tuhan? Dan kepada setiap dari kita, Kristus menjawab dengan hati-Nya dari salib. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kalian. Mari kita lihat kepada Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia mengerti kita karena ia menjalani semua cobaan dan penderitaan yang telah kita alami.

Thomas hanya terfokus pada luka, tetapi ketika ia mulai menyentuh Yesus dan melihat Tuhan yang Bangkit, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita menjadi seorang Kristiani bukan untuk melarikan diri dari penderitaan dunia ini atau juga menjadi putus asa, tapi untuk menghadapi cobaan hidup dengan penuh harapan karena walaupun kita lemah, rapuh dan berdosa, Yesus yang telah mengalami yang terburuk dari dunia ini, tapi akhirnya bangkit dan membawa kita bersama-sama didalam tubuh-Nya yang mulia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Melihat Makam yang Kosong

Minggu Paskah. 27 Maret 2016 [Yohanes 20:1-9]

Maka masuklah juga murid yang dikasihi Yesus, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya (Yoh 20:8).

 Apa yang Kamu lihat dalam kubur yang kosong? Melihat kubur yang kosong, Maria Magdalena  ketakutan, sedih dan bingung. Dimana Yesus? Apakah Dia dipindah ke makam lainnya? Apakah seseorang mencuri tubuh-Nya? Petrus, pemimpin para rasul, tidak mengerti kenapa kubur menjadi kosong dan pulang kebingungan. Semua hal-hal yang terjadi di sekitar mereka sungguh sangat menyedihkan. Yesus dikhianati, ditolak, disiksa, disalib dan sekarang dia hilang!

Dulu Ia adalah seorang pengkhotbah karismatik, tapi kemudian, Ia mati. Dulu Ia adalah seorang pemimpin inspirasional, tapi kemudian Ia dikubur. Dulu Dia disambut sebagai raja dan Mesias, namun kemudian Dia disalibkan oleh orang-orang yang menyambut Dia. Bahkan makam di mana tubuhnya terbaring, tidak luput dari kekejaman ini. Semua harapan hancur, semua mimpi pudar, dan semuanya hanya kekosongan dan kegelapan, seperti kubur yang kosong.

Ketika semuanya tampak begitu tidak masuk akal dan putus asa, satu satu murid tidak menyerah. Ia adalah murid yang mengasihi Yesus dan dikasihi Yesus. Sungguh, kasih menjadi titik nadir perubahan. Hanya mata kasih yang dapat menembus kubur yang kosong dan paling gelap dan melihat makna di dalamnya. Bagi mereka yang mengasihi, Yesus tidak hilang, dan bahkan tidak mati. Ia hidup, hadir dan penuh bersemangat. Paskah adalah sebuah perayaan akan iman kita yang mengusir kehampaan makna, akan harapan yang menang atas keputusasaan. Dan semua ini, hanya mungkin bila ada kasih yang mengalahkan segalanya. Seperti St. Paulus yang berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13). “

Paskah adalah waktu bagi kita untuk belajar untuk melihat dengan mata sang rasul yang mengasihi Yesus, untuk melihat melalui mata kasih. Sebagai sang rasul melihat Tuhan yang bangkit di kubur yang kosong, kita akan melihat Kristus yang bangkit di dalam kekosongan hidup ini. Dengan mata kasih, seorang ibu tidak akan melihat bayi di dalam rahimnya hanya sebagai penyusup atau beban berat, tapi sebuah hidup yang memegang masa depan yang cerah. Dengan mata kasih, seorang istri tidak akan melihat suaminya yang tua, sakit-sakitan dan penuh dengan ketidaksempurnaan sebagai sebuah kesalahan, tapi sebuah jiwa pemberani yang telah mendedikasikan hidupnya bagi dia.

Pada tahun 2006, setelah presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, memenangkan pemilu, dia mengadakan operasi Murambatsvina, ‘pembersihan sampah.’ Ia memerintahkan pembongkaran rumah-rumah mereka yang menolak untuk memilih dia selama pemilu. Lebih dari 700.000 orang menyaksikan rumah mereka dibuldoser. Mereka menjadi pengungsi di tanah air mereka sendiri dan harus memulai hidup mereka lagi dari puing-puing reruntuhan. Di tengah-tengah kehancuran ini, ada sebuah tenda plastik kecil, bernama ‘the Young Generation Pre-School.’ Ini adalah rumah bagi seorang wanita muda bernama Evelyn, dan dia menggunakan tenda ini sebagai sekolah. Ada sekitar belasan murid-muridnya di bawah usia delapan tahun, hampir semua mengidap HIV-positif dan TB. Kadang-kadang ada makanan untuk makan, tetapi biasanya, tidak ada. Namun, Evelyn tidak pernah menyerah mengurus anak-anak ini dan bahkan anak-anak menyanyikan lagu-lagu menyambut gembira setiap kali ada tamu yang mengunjungi mereka. Romo Timothy Radcliffe, OP pernah mengunjungi dan melihat kondisinya, ia bertanya mengapa dia melakukan itu. Dia hanya punya satu alasan sederhana bahwa dia menkasihi anak-anak begitu banyak dan memang menemukan makna dan sukacita dalam apa yang dia lakukan.

Paskah adalah waktu ketika Yesus bangkit, mengalahkan kematian, memperbaharui kemanusiaan kita rusak dan dunia yang remuk. Dan semua ini berawal di kubur yang kosong. Sekarang pertanyaan adalah: Apa yang Kamu lihat di kubur yang kosong?

 Selamat Hari Paskah!

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP

Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9). Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP