Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9). Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Sang Perempuan

Minggu Prapaskah Kelima. 13 Maret 2016 [Yohanes 8: 1-11]

Jawab sang perempuan, ‘Tidak ada, Tuhan.’”

jesus and woman caught in adultery 5Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.

Injil kita hari ini jarang dilihat sebagai kisah seorang perempuan yang dieksploitasi oleh beberapa kelompok laki-laki Yahudi yang adalah pemuka agama, tapi hal ini benar-benar terjadi. Kitab Imamat telah mengatur bahwa baik laki-laki dan perempuan yang berzinah harus dihukum mati (Im 20:10), tetapi orang-orang Farisi hanya membawa paksa sang perempuan. Tujuan mereka sangat jelas: untuk menjebak Yesus, dan selebihnya adalah sarana untuk mencapai tujuan ini, termasuk jika mereka harus menggunakan dan merajam sang perempuan. Di sinilah terletak alasan mendasar mengapa banyak perempuan selalu menjadi korban pelanggaran dan kekerasan: objektifikasi dan depersonalisasi perempuan. Perempuan yang berzina ini telah kehilangan kepribadian dan menjadi sekedar alat bagi orang-orang Farisi dalam mencapai tujuan mereka. Saya percaya motif ini jugalah yang memgaruhi kaum lelaki dari berbagai generasi. Para laki-laki yang tak berhati menjadikan perempuan sebagai objek kepuasan seksual, tenaga kerja yang murah, atau sebuah langkah menuju kesuksesan.

Yesus harus menghentikan hal ini. Tidak hanya Dia menyelamatkan sang perempuan yang adalah korban, tapi ia harus menantang mentalitas korup dan dominasi kasar kaum adam ini. Dia kemudian menulis di tanah. Apa yang Ia tulis telah menjadi subyek perdebatan dan diskusi selama berabad-abad, dan tak seorang pun benar-benar tahu apa yang Yesus tulis. Namun, dugaan saya adalah Yesus menulis, Di mana lelaki yang berzinah? Kok hanya sang perempuan? Yesus membaca niat jahat para Farisi yang tidak hanya ditujukan kepada-Nya tetapi juga kepada sang perempuan. Mereka merencanakan kematian bagi Yesus dan sang perempuan, dan Hukum Yahudi mengatakan bahwa pembunuh dan mereka yang merencanakan pembunuhan harus dihukum mati (Im 21:14). Tentunya, pembunuhan adalah perbuatan yang jauh lebih jahat dari perzinahan. Ketika Yesus berkata,Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu,” Yesus paham benar motivasi jahat mereka untuk membunuh-Nya dan sang perempuan. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga patut dihukum mati dan mereka harusnya melempar batu kepada diri mereka sendiri. Kalah dalam pertempuran, mereka pun meninggalkan Yesus dan sang perempuan.

Namun, cerita tidak berakhir di sana. Yesus memiliki satu misi lagi. Setelah dijadikan sekedar objek dan kehilangan harga dirinya oleh dosa dan para lelaki kejam itu, Yesus memulihkan martabatnya dengan memberikan suara kembali kepadanya. Yesus tidak mengungkap nama sang perempuan, tapi Yesus memungkinkan dia untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Dia menjawab Yesus, “Tidak ada, Tuhan.” Sungguh, tidak ada lagi laki-laki yang akan membuatnya sebagai obyek belaka dan tidak ada lagi yang akan menurunkan derajatnya. Dia adalah putri perempuan dari Allah dan dia akan tetap sebagai demikian.

Kita hidup dua ribu tahun setelah Yesus, namun banyak perempuan masih menjadi korban objektifikasi dan depersonalisasi. Seperti Yesus berjuang untuk sang perempuan, kita akan juga berjuang bagi para perempuan di sekitar kita. Jika Yesus mampu mengekspos eksploitasi perempuan pada zaman-Nya, kita akan juga mengekspos berbagai bentuk pelanggaran di sekitar kita. Jika Yesus memulihkan martabat sang perempuan, kita juga akan menghormati martabat para perempuan di sekitar kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Belas Kasih: Sebuah Kesempatan Kedua

Minggu Pra-Paskah ketiga. Lukas 13:1-9 [28 Februari 2016]

“Mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:9)”

jesus n fig tree 2Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.

Dalam pembelajaran saya tentang belas kasih, saya menemukan sebuah cerita tentang seorang prajurit Perancis muda yang melarikan diri dari tugasnya sebagai pasukan Napoleon, tapi ia segera tertangkap. Dia diadili di mahkamah militer, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Mendengar hal ini, sang ibu memohon Napoleon untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Napoleon mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan sang anak sungguh melampaui batas; keadilan menuntut hidupnya. Sang ibu menangis dan memohon belas kasihan. Napoleon menjawab bahwa anaknya tidak pantas mendapat belas kasihan. Dan sang ibu pun berkata, “Aku tahu bahwa ia tidak layak mendapat belas kasihan, tetapi jika ia layak mendapatkannya, ini bukanlah belas kasihan.”

Kerahiman Allah mengalir dari kasih-Nya. Namun, karena Allah begitu mengasihi kita, Dia juga memungkinkan kita tumbuh dalam kebebasan. Tuhan memberi kita kesempatan kedua, tapi terserah kita untuk meraih kesempatan ini atau menyia-nyiakannya. St. Agustinus pun pernah berkata, “Allah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Dia tidak menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan demikian, musuh terbesar dari belas kasihan adalah hilangnya harapan akan belas kasih Allah. Kita berasumsi bahwa kita tidak lagi tidak lagi mampu berubah. Kita menolak kesempatan kedua dari Allah karena kita melihatnya sebagai sama sekali tidak berguna. Sungguh, untuk menabur benih keputusasaan adalah pekerjaan sang Jahat. Penulis, pengacara, ekonom, dan aktor Ben Stein mengatakan, Jiwa manusia tidak pernah selesai ketika dikalahkan. Ia selesai ketika menyerah. Kegagalan dan kelemahan kita mengkondisikan kita untuk percaya bahwa kita tidak berharga, dan saat kita meragukan belas kasihan Allah, sang jahat telah menang atas kita.

Inggris bisa saja kalah dari Jerman dalam Perang Dunia II, jika bukan karena Winston Churchill. Dia adalah perdana menteri Inggris selama masa tergelap Perang Dunia II. Dia pernah ditanya oleh seorang wartawan tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler yang membombardir Inggris siang dan malam. Dengan lugas, ia berkata, Senjata terbesar Inggris adalah selalu harapan.” Sungguh harapan adalah senjata terbesar kita melawan sang jahat.

Paus Fransiskus, melalui inisiatifnya menyatakan tahun ini sebagai Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, dan beliau membuka pintu-pintu kerahiman di berbagai penjuru dunia sehingga setiap orang dapat merasakan kasih dan kemurahan hati Allah. Namun, kita tidak akan pernah menerima anugerah ini, kecuali kita memutuskan melewati ambang pintu ini. Kita perlu percaya bahwa rahmat-Nya mengalahkan segalanya keterbatasan kita, dan Kasih-Nya menghapus banyak dosa. Ketika Paus Fransiskus mengunjungi AS pada bulan September 2015, ia bertemu dengan para tahanan di sana dan ia mengingatkan mereka untuk tidak kehilangan harapan akan belas kasih Allah, “Marilah kita melihat ke Yesus, yang mencuci kaki kita. Dia adalah ‘jalan, dan kebenaran, dan hidup. Dia datang untuk menyelamatkan kita dari kebohongan yang mengatakan bahwa kita tidak bisa beruhah. Dia membantu kita di dalam perjalanan sepanjang jalan kehidupan dan kepenuhan. Semoga kekuatan kasih dan kebangkitan-Nya selalu menjadi jalan yang kamu mencapai kehidupan baru.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Turun Gunung

Minggu Prapaskah Kedua. 21 Februari 2016 [Lukas 9: 28-36]

“Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28).”

 

transfigurationBagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).

Peristiwa penting lainnya dimana Yesus menghabiskan waktu dalam doa adalah Transfigurasi. Dua penginjil, Matius dan Lukas, menulis kisah Transfigurasi dalam Injil mereka, tapi hanya itu Lukas yang mengatakan tujuan mengapa Yesus dan ketiga murid-Nya naik ke Gunung. Yakni untuk berdoa. Bagi Lukas, Transfigurasi adalah sebuah momen doa. Sungguh, merenungkan Injil hari ini dalam konteks doa akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan.

Pertama, Yesus mengajak para murid untuk mendaki Gunung dan berdoa. Hasrat kita untuk bertemu dengan-Nya dan berdoa sebenarnya adalah inisiatif Allah. Jika kita mampu berdoa, itu karena Tuhan memanggil kita dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Liturgi Brevir selalu dimulai dengan ayat Ya Allah, bersegeralah membuka mulutku (Mzm 51:15).” Ini adalah keyakinan bahwa tanpa rahmat dan bantuan-Nya, kita tidak dapat berdoa. Kita, umat Katolik, membuka doa kita dengan tanda salib dan menyebutkan, Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.” Hal ini lahir dari keyakinan bahwa terpisah dari Allah Tritunggal, kata-kata manusiawi kita akan sia-sia di dalam doa. St. Paulus menyatakan hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. (Rom 8:26).”

Kedua, Transfigurasi mengajarkan kita bahwa kadang, doa-doa kita memberikan kenikmatan dan kepuasan, tapi ini bukan yang paling penting. Kita seperti tiga murid yang sangat takjub di hadapan Yesus yang berubah wujud. Ini adalah saat ketika kita merasakan kedamaian di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita menikmati doa Rosario. Kita terinspirasi oleh homili dan merasa diperkuat oleh Komuni Kudus dalam Ekaristi. Kadang, saya menghadiri worship service sarat dengan lagu-lagu pujian dan khotbah menggebu-gebu. Sesungguhnya, hal ini memberi perasaan sangat gembira dan membebaskan apalagi bagi mereka yang memiliki banyak permasalahan dalam hidup.

Tentunya, seperti para murid, kita ingin menikmati kegembiraan dalam doa ini lebih lama lagi dan membangun ‘kemah’. Namun, Tuhan tidak ingin kita tinggal lama di sana. Dia meminta para murid untuk turun dan menghadapi dunia. Jika kita memilih tinggal dan menolak untuk turun, doa-doa kita tidak lagi tulus. Mereka menjadi candu yang membantu kita melarikan diri dari realitas hidup. Jika ini terjadi, perkataan Karl Marx bahwa ‘Agama adalah opium bagi masyarakat’ sungguh menjadi kenyataan.

St. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa Transfigurasi akan bawa akhirnya Yesus dan murid-muridnya pada sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Doa sungguhnya harus memberdayakan kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian dan kerendahan hati, dan tidak memberi kita tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ekaristi, sebagai puncak dari semua ibadah Kristiani, tidak berakhir dengan mengatakan Tetap tinggal dan jangan pulang! Ungkapan terakhir dalam Misa selalu dalam semangat misionaris, seperti Pergilah, kita diutus!”. Kita diutus untuk berbagi buah dari doa-doa kita kepada sesama. Jika kita benar-benar menemukan Kristus dalam doa kita, bersama dengan Kristus, kita akan turun Gunung dan berjalan menghadapi Yerusalem kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Allah di Padang Gurun

Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]

“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”

jesus temptation 2Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.

Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.

Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.

Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.

Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan dan Pewartaan

 

Minggu ke-5 dalam Masa Biasa. 7 Februari 2016 [Lukas 5:1-11]

 

calling of peter“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”

 

Setiap orang memiliki kisah panggilannya sendiri. Entah itu seorang imam, biarawan atau orang awam, kita memiliki momen-momen yang membuka mata kita akan tujuan hidup kita sesaui kehendak Allah. Seorang imam Dominikan dari Filipina menceritakan bahwa panggilannya di Ordo Pengkhotbah dimulai gara-gara mantan pacarnya mengajaknya untuk berdoa di Gereja Santo Domingo, Quezon City. Ketika mereka ada di sana, ia melihat kelompok para frater Dominikan memasuki Gereja untuk berdoa. Ia terkagum-kagum dengan penampilan mereka dan ia mulai jatuh cinta dengan jubah Dominikan. Akhirnya iapun memilih masuk dan menjadi imam. Bagi para awam, kisah panggilan mungkin tidak selalu dramatis, tetapi ada titik-titik penting yang membawa kita untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat dalam keluarga, tempat kerja atau Gereja.

Injil hari ini menceritakan kisah panggilan Simon Petrus. Kisah ini muncul di keempat Injil dan hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya Simon Petrus di antara para rasul. Lukas memberi kita latar belakang yang sedikit berbeda dari penginjil lainnya. Dia tidak memulai kisahnya dengan Petrus yang sibuk bekerja sebagai nelayan, tetapi dengan Yesus yang berkhotbah dan mengajar. Simon tentunya terinspirasi oleh khotbah Yesus, dan hal ini menjelaskan mengapa Simon siap sedia ketika Yesus memintanya untuk bertolak ke tempat yang dalam, meskipun faktanya bahwa Petrus adalah seorang nelayan berpengalaman dan Yesus adalah anak seorang tukang kayu. Seperti kisah Petrus, semua kisah panggilan berakar di dalam pewartaan Firman Allah.

Setiap kali saya berbicara kepada Dominikan awam, saya selalu menjelaskan bahwa pewartaan pertama mereka harus terjadi di dalam keluarga. Sebelum kita memiliki program pelayanan bagi masyarakat miskin atau kunjungan ke penjara, keluarga harus menjadi misi pertama kita. Untuk mengajar dan membesarkan anak kita menjadi seorang Kristiani yang baik tentunya sulit luar biasa, tetapi jika para orang tua menolak untuk melakukannya ini, siapa lagi yang akan melakukannya? Bahkan, panggilan imamat dan biarawan dapat sangat berkurang jika evangelisasi dalam keluarga gagal. Panggilan dan iman saya tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Saya selalu ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya berdoa rosario, dan ayah saya membawa kami ke Gereja setiap hari Minggu sebagai keluarga. Mereka mendidik saya juga dengan teladan mereka sebagaimana mereka menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan dan kasih. Saya mengasihi Tuhan dan Gereja, karena saya melihat bagaimana orang tua saya juga mengasihi Tuhan dan Gereja.

Ketika St. Dominikus mendirikan Ordo Pengkhotbah, kongregasi pertama dalam Gereja Katolik, yang memiliki orientasi aktif dalam evangelisasi, dia tidak menghapuskan kehidupan berkomunitas. Sebaliknya, ia menjadikan hal ini sebagai unsur penting dari kehidupan Dominikan karena sebelum kita pergi keluar, komunitas kita adalah misi pewartaan pertama kita. Sebuah pewartaan yang baik di komunitas pasti menjaga dan memelihara panggilan para anggotanya. Jujur, saya sangat sedih ketika saya mendengar bahwa frater atau suster meninggalkan biara karena mereka tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam komunitas mereka. Atau, anak-anak memiliki prilaku bermasalah karena orang tua mereka tidak memberi teladan yang baik. Ini adalah tanda kegagalan kita sebagai pewarta.

Yesus mengingatkan bahwa panggilan kita berakar, terpelihara dan berkembang di dalam pewartaan Injil. Kita memiliki pemanggilan yang berbeda dengan kisah-kisah yang unik, tetapi sebagai Romo Timothy Radcliffe, OP pernah katakan, kita mungkin masuk ke Ordo (atau panggilan sebagai awam) untuk alasan yang tidak tepat, tapi kita harus tinggal karena alasan yang tepat. Kita percaya bahwa salah satu yang alasan yang tepat adalah pewartaan Kabar Baik di antara kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tidak Ada yang Mustahil

Minggu Biasa ke-4. 31 Januari 2016 [Lukas 4:21-30]

“Bukankah Ia ini anak Yusuf? (Luk 4:22)”

Kata ‘mustahil’ tidak ada di dalam kosa kata Yesus. Dia melipatgandakan roti dan memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia berjalan di atas air dan menenangkan badai. Ia menyembuhkan wanita dengan perdarahan, membuka mata Bartimeus, dan mengusir setan. Dia mengampuni perempuan yang berzina dan menantang legalisme dari pihak berwenang. Dia membangkitkan Lazarus dan Dia sendiri bangkit dari kematian.

Namun, kata-kata seperti ‘tidak mungkin’ dan ‘tidak bisa’ tampaknya menjadi pola pikir orang-orang Nazaret. Ketika mereka melihat Yesus datang dan memberitakan Firman Tuhan dengan otoritas, orang Nazaret heran dan mereka mulai menyerang Yesus. Mereka mungkin berkata, Mustahil! Dia adalah Yesus, anak dari Joseph, tukang kayu miskin. Dia itu biasa-biasa saja dan tidak memiliki kemampuan. Memangnya dia pikir dirinya siapa? Tuhan?’ Rahmat Tuhan ada di depan mata mereka, tapi mereka menutup hati mereka, membatasi kemungkinan mereka untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya mereka mengkotakan diri di dalam pikiran yang sempit, mereka juga mencoba untuk memaksakan keterbatasan mereka pada Yesus. Ketika Yesus menolak untuk dibatasi oleh pikiran mereka yang sempit, mereka berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Oleh karena ini, Yesus tidak berbuat banyak di kampung halaman-Nya sendiri.

Yesus sendiri menjelaskan bahwa penolakan akan rahmat Tuhan telah menjadi masalah kuno bangsa Israel. Nabi-nabi besar seperti Elia dan Elisa bisa saja melakukan perbuatan-perbuatan besar bagi Israel, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka ditolak. Ironisnya, justru orang-orang bukan Israel yang malah percaya dan menerima rahmat dari mereka. Sekarang, mentalitas yang membatasi ini bukanlah milik orang Israel semata. Tanpa kita sadari, mental kerdil ini dapat merayap masuk ke dalam hidup kita. Kita mungkin mendengarkan Sabda Tuhan setiap hari Minggu dalam perjamuan Ekaristi, tetapi apakah kita membuka diri terhadap Firman untuk terpenuhi di dalam hidup kita? Kita bernyanyi dan memuji Tuhan pada Sunday Worship, tetapi apakah saat kita pulang, kita bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kita? Tahun ini, kita merayakan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, tapi apakah ini membantu kita menjadi lebih berbelas kasih kepada sesama? Kadang-kadang kita seperti ‘Shoe’, tokoh utama dalam komik ‘Shoe’ oleh Jeff MacNelly. Ketika Shoe akan menjadi pelempar bola di pertandingan bisbol, teman satu timnya mengatakan, Kamu harus percaya pada lemparan bolamu yang melengkung. Sangat mudah baginya untuk mengatakan itu,” Shoe menggerutu. “Ketika aku harus percaya pada diri sendiri, aku adalah seorang agnostik.”

Seorang teman baik saya melakukan hal yang luar biasa di usia muda. Dia menyelesai pendidikan S3 pada usia 27 di Jepang. Apa yang membuat dia lebih luar biasa adalah ia menolak tawaran menggiurkan dari perusahaan besar dan memilih menjadi guru sukarelawan sekolah dasar di pedalaman. Dia saat ini melayani masyarakat di Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, di daerah perbatasan. Beberapa hari yang lalu dia mengirim pesan dan mengatakan betapa sulitnya untuk mengajar, terutama ketika orang tidak benar-benar menghargai betapa pentingnya pendidikan. Saya terdiam, tidak memiliki kata-kata penghiburan, tapi ia segera menjawab, Mengasihi itu sulit. Jawabannya membuat saya tersenyum karena saya tahu bahwa meskipun situasi sungguh sulit, dia tidak putus asa dan tidak pernah berhenti mengasihi. Dalam Kabar Sukacita, malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria, Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1:37).” Diciptakan dalam citra Allah, kita tidak akan membatasi kasih karunia Allah, pertumbuhan kita di dalam iman dan kemampuan kita untuk mengasihi. Saat kita percaya dan membuka diri kita pada rahmat, hal-hal luarbiasa yang kita pikir ‘mustahil’ sungguh akan terjadi di dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Membuat Ayah Surgawi kita Bangga

Pesta Pembaptisan Tuhan. 10 Januari 2016 [Lukas 3:15-16, 21-22]

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (Luk 2:22).”

Mengapa kita perlu dibaptis? Setidaknya ada dua alasan alkitabiah sederhana. Poin pertama adalah bahwa Yesus sendiri memilih untuk dibaptis dan yang kedua adalah bahwa sebelum Ia naik ke surga, Ia memaklumatkan bahwa pembaptisan sebagai secara keselamatan (lih. Markus 16:16). Mari kita fokus pada yang alasan yang pertama.

Beberapa pertanyaan teologis muncul tentang pembaptisan Yesus ini. Mengapa Yesus ingin menerima pembaptisan Yohanes yang menandakan pertobatan dosa? Apakah Yesus orang berdosa yang membutuhkan pertobatan? Tentunya tidak! Apakah Yohanes lebih unggul dan lebih kuat daripada Yesus? Tentu tidak! Yesus tidak berdosa dan dengan demikian, pembaptisan Yohanes adalah tidak relevan dalam hal ini. Jadi, mengapa Yesus bersikeras untuk dipermandikan?

Salah satu alasannya adalah bahwa Yesus ingin menunjukan bagi kita efek-efek paling signifikan dari pembaptisan kita. Dalam Injil hari ini, kita membaca bahwa setelah Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Roh Kudus segera turun ke atas-Nya. Jika kita mengikuti Yesus juga dalam pembaptisan, kita yakin bahwa Roh Kudus juga akan turun atas kita dan memberikan banyak karunia dan berkat-Nya. Secara khusus, Roh Kudus menjadikan rahmat keselamatan yang dari wafat dan kebangkitan Yesus bermanfaat di dalam diri kita. Dengan demikian, kita dibersihkan dari dosa, baik dosa asal dan aktual.

Setelah turunnya Roh Kudus, Yesus mendengar suara yang datang dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi; dengan Anda Aku berkenan.” Ini adalah efek kedua dari pembaptisan: kita dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah. Seperti Yesus diproklamasikan sebagai Putra Allah dalam pembaptisan, kita berbagi juga dalam kemuliaan ini. Ketika imam menuangkan air pada dahi kita atau membenamkan kita ke dalam air, semua malaikat di surga bersukacita karena Allah merangkul putra-putri-Nya yang baru lahir. Seperti ayah duniawi yang riang menerima kabar baik karena anaknya yang baru lahir, demikian juga Bapa surgawi kita sungguh berkenan dengan kita di pembaptisan kita.

Saat kita dilahir, kita diciptakan menurut citra Allah, dan dalam pembaptisan, kita diciptakan kembali secara khusus di dalam citra sang Putra Allah, Yesus Kristus. Sebagai orang Kristiani, kita memiliki hak istimewa yang amat luhur yakni dipanggil sebagai anak-anak Allah. Dan sebagai putra dan putri Allah Bapa yang sama, kita berkumpul dalam satu komunitas, satu keluarga dengan Kristus sebagai kepala dan anak yang sulung. Komunitas anak-anak Allah ini adalah yang kita sebut sebagai Gereja. Jadi, dalam pembaptisan, kita menerima bonus: keanggotaan Gereja.

Sekarang, kita dapat melihat hak ilahi yang ditawarkan kepada kita dalam pembaptisan dengan cuma-cuma. Namun, kita harus ingat kasih karunia memang diberikan secara cuma-cuma, tetapi tidak berarti murahan. Jika kita membaca dengan seksama, setelah Yesus dibaptis, hal pertama yang Dia lakukan adalah berdoa. Semua efek-efek unik pembaptisan hanya berbuah dalam hidup kita jika kita bertekun dalam iman dan doa. Tak seorang pun akan percaya kepada kita sebagai anak-anak Allah, jika kita tidak pernah berdoa dan berkomunikasi dengan Bapa kita di surga. Semua orang akan mengejek kita jika kita mengaku Kristiani, tapi kita tidak pernah terlibat aktif di Gereja. Banyak yang akan mengangkat alis mereka jika kita tidak tahu bagaimana mengasihi dan melayani sesama.

Dalam Pesta Pembaptisan Tuhan, Yesus memanggil kita sekali lagi untuk menjadi memperbaharui komitmen kita sebagai anak-anak Allah dan bahkan masuk lebih dalam ke kehidupan doa dan iman. Allah Bapa sungguh berkenan kepada kita dan sekarang giliran kita untuk membuat Ayah surgawi kita bangga.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keluarga: Sumber dari Hal-Hal Terbaik dalam Hidup

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf [Lukas 2:41-52] 27 Desember 2015

Di zaman ini, keluarga terus diserang dan menghadapi pencobaan yang bertubi-tubi. Perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap wanita dan anak, eksploitasi anak, pornografi, penyalahgunaan kontrasepsi, aborsi, dan kemiskinan adalah penyakit-penyakit yang terus mengancam keluarga. Ini adalah tugas kudus dari setiap orang baik Katolik maupun bukan untuk melindungi keluarga. Namun, mengapa kita perlu menjaga keluarga dari segala kejahatan ini?

Salah satu alasan utama adalah bahwa di dalam keluarga, kita semua belajar hal-hal terbaik dalam hidup. Selain belajar untuk mengatakan ‘Mama’ atau ‘Papa’ atau bagaimana cara berjalan, kita juga belajar untuk mengasihi dengan sungguh, untuk mempercayai orang lain, untuk setia kepada sesama, untuk memberi dengan murah hati, dan membuat pengorbanan yang sejati. Jika kita selalu ragu-ragu untuk mencintai, atau tidak mau untuk berbagi, akar penyebabnya mungkin ada dalam keluarga. Kita tidak melihat nilai-nilai luhur ini tumbuh berkembang di dalam keluarga kita. St Theresa dari Avila sendiri bersaksi dalam otobiografinya, “Jika saya tidak begitu jahat itu, ini karena saya dibantu dengan memiliki orang tua yang saleh dan takut akan Allah, dan juga bahwa Tuhan memberikan saya rahmat-Nya untuk membuat saya baik.”

Yesus dilahirkan di dalam sebuah keluarga. Keluarga-Nya bukanlah yang paling sempurna karena Maria dan Yusuf bukan orang kaya dan tidak bisa memberikan banyak untuk Yesus, tapi tetap saja, Maria dan Yusuf adalah orang tua yang tepat bagi Yesus. Dia taat kepada Bapa-Nya di surga sebagai Ia melihat Maria yang telah taat kepada kehendak Allah saat Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel. Yesus adalah pengkhotbah yang tekun karena Yesus dilatih oleh Yusuf, sang tukang kayu yang tekun. Dan yang paling penting, jika Yesus mampu mengasihi sepenuhnya dan mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan kita, itu karena Dia melihat Maria dan Yusuf yang sepenuh hati bersedia untuk meninggalkan segalanya demi Yesus.

Keluarga mungkin hanya unit terkecil dalam masyarakat, tetapi kita perlu mengingat bahwa keselamatan kita berasal dari keluarga. Perjalanan kita ke surga mengambil langkah pertama dalam keluarga kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elisabet: Menjadi Penemu Kabar Baik

 

 

Keempat Minggu Adven. 20 Desember 2015 [Lukas 1: 39-45]

“… ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. (Luk 1:44).”

Santa Elisabet tampaknya memiliki keahlian khusus yang sering luput dari mata kita. Dia memiliki kemampuan untuk melihat bahwa Maria, saudaranya, sedang mengandung. Kunjungan Maria adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Tidak ada yang memberi tahu Elisabet tentang kehamilan Maria, dan pasti, ponsel dan Facebook yang belum tersedia pada zaman ini untuk berkomunikasi dengan cepat. Kehamilan Maria belum secara fisik tampak jelas karena itu baru saja beberapa minggu sesuah Maria menerima Kabar Baik dari Malaikat Gabriel. Namun, Elisabet bisa mengetahuinya. Kita ingat bahwa tujuan utama dari kunjungan Maria adalah untuk membuktikan pesan Gabriel bahwa Elisabet sedang mengandung, tapi ternyata Elisabet menjadi orang pertama yang memahami kehamilan Maria.

Dihadapan Maria dan sang Bayi di dalam rahimnya, reaksi Elisabet sungguh menakjubkan. Dia tidak menginvestigasi Maria dengan pertanyaan seperti ‘Siapa ayah sang bayi?’ atau ‘Mengapa kamu melanggar Hukum Taurat?’ Begitu pula dia tidak memendam kebencian kepada Maria karena dia melanggar hukum suci Yahudi, atau melaporkan Maria ke otoritas untuk diadili. Dia memilih untuk merangkul Maria dan bersukacita dengan dia di dalam Tuhan. Elisabet tidak hanya memiliki kemampuan untuk melihat kehamilan Maria, tetapi yang jauh lebih penting, kemampuannya untuk menemukan Kabar Baik.

Dunia kita penuh dengan berita buruk. Perang dan kekerasan berdarah yang mengamuk dari gurun Sahara ke hutan tropis di Asia Tenggara, dari Amerika Utara ke Suriah. Berbagai sumber berita kita penuh dengan informasi yang mengerikan: pembunuhan di dalam keluarga, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak, dan bencana alam maupun buatan manusia. Apa yang mengerikan adalah bahwa kita justru membayar untuk berita semacam ini dan menyuguhkan sebagai sarapan pagi kita. Kitapun bisa dengan mudah melihat masalah dan isu-isu dalam kehidupan kita. Kesulitan keuangan, masalah kesehatan, hubungan yang rusak, dan masih banyak lagi. Tanpa sadar kitapun dilatih untuk melihat berita buruk dan tinggal di dalamnya. Dengan demikian, kita berubah menjadi penyiar kabar buruk atau pengeluh atau tukang gosip.

Namun, menggemakan kata-kata dari Kardinal Antonio Tagle, Uskup Agung Manila, dalam pembukaan Pintu Jubilee Dominikan di Gereja Santo Domingo, Metro Manila, Kita tidak perlu tambahan penyebar kabar buruk. Dunia kita memiliki sudah banyak berita buruk. Yang kita sangat butuhkan adalah pengkhotbah kabar baik.Tak heran jika St. Dominikus de Guzman disebut sebagai pewarta rahmat, karena adalah misi utama setiap pengkhotbah untuk menemukan karya Allah di tengah-tengah kita. Sebagaimana Maria Catherine Hilkert OP pernah berkata ‘berkhotbah adalah mengartikulasikan rahmat.’

Mas Adven memberi kita santa Elisabet. Kemampuannya untuk melihat rahmat di antara peristiwa-peristiwa yang biasa dan bahkan di antara keadaan yang tidak terduga menjadikan dia seorang model dari pengkhotbah dari Kabar Baik. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kemampuan Elisabet ini bukan sekedar usaha manusia biasa, tetapi sebuah rahmat Allah. Dia berada di bawah pengaruh Roh Kudus, ketika ia mampu menemukan Yesus. Sungguhnya, ini adalah rahmat Allah dalam diri kita yang memungkinkan kita untuk mengenali rahmat di sekitar kita. Dan pada gilirannya, rahmat di sekitar kita membawa sukacita dan makna dalam kehidupan kita serta memperkuat rahmat dalam diri kita. Ini adalah semua tentang rahmat Allah.

Untuk melihat rahmat dan menjadi bahagia bukan hanya soal pilihan pribadi kita, tetapi pada dasarnya buah dan karunia Roh Kudus. Kita terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga di tengah-tengah berbagai permasalahan dan kepentingan duniawi, kita tidak kehilangan Yesus di Natal ini.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP