Minggu Paskah ketiga. Yohanes 21:1-19 [8 April 2016]
Membaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, ‘Friend in need is friend indeed.’
Yesus bertanya, “Petrus, apakah kamu mengasihiku secara radikal dan total?” Namun, Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau sebagai sahabat.” Yesus menuntut kasih yang radikal atau ‘agepe’ tiga kali, dan tiga kali juga, Petrus hanya bisa memberikan Yesus kasih persahabatan atau ‘philia’. Hal ini tampaknya sebuah penyangkalan Petrus terhadap Yesus. Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI dengan rendah hati membela Petrus bahwa pada saat itu, ‘phileo’ adalah terbaik yang dapat Petrus berikan.
Dialog kasih antara Yesus dan Petrus juga adalah dialog kita dengan Tuhan. Yesus menuntut kita kasih yang radikal dan tanpa pamrih. Tapi, mengasihi itu sungguh sulit. Seorang teman bercerita bagaimana ia memiliki keinginan untuk melayani di Gereja, namun ia adalah tulang punggung keluarga dan harus bekerja 12 jam sehari, termasuk akhir pekan. Bagimana kita bisa mengasihi Allah, ketika hidup kita berantakan? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan, ketika pernikahan kita luluh lantah, ketika anak kita masuk rehabilitasi karena kecanduan atau penjara karena kenakalan remaja mereka? Bagaimana kita bisa menkasihi ketika pekerjaan atau bisnis kita berantakan, dan teman-teman kita yang meninggalkan kita sendirian? Bagaimana kita bisa menkasihi Tuhan jika kita dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita kasihi begitu banyak? Saat gagal mengasihi dan dikasihi, kita berhenti mengasihi dan terkunci dalam isolasi sempit buatan kita sendiri.
Namun, ketika Petrus gagal memenuhi harapan Yesus, Yesus tidak marah. Dia tidak pernah mengatakan, “Kamu adalah sebuah kegagalan dan kesalahan.” Sebaliknya, Dia bahkan memberi Petrus tanggung jawab yang lebih besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu benar betapa sulitnya untuk mengasihi. Dia sendiri harus mati di salib hanya untuk membuktikan kasih-Nya bagi kita. Namun, Dia tidak melihat ini sebagai kegagalan. Dia yang telah memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, tahu persis potensi kita untuk mengasihi. Petrus pun yang terus bergulat untuk mengasihi Yesus, akhirnya membuktikan kasihnya kepada Yesus dengan setia mengembalakan domba-domba-Nya sampai akhir hayatnya. Petrus pun disalibkan karena ia menolak untuk meninggalkan umat Kristiani di Roma.
Ketika kita gagal untuk mengasihi Allah, Dia tidak meninggalkan kita, dan pada kenyataannya, Dia memberi kita lebih banyak misi untuk menkasihi. Mengapa? Karena Yesus tahu persis bahwa hanya melalui kesulitan ini, kita dapat memperluas kemampuan kita untuk menkasihi. Kasih tanpa cobaan dan kesengsaraan adalah kasih dangkal dan lemah. St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Jadi, ketika kita berjuang untuk menkasihi di dalam kehidupan, kita akan ingat bahwa bukan kita yang menkasihi, tapi Allah sendiri di dalam kita.
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Di dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?
Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.
Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.
Bagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).
Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.
“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”