Yang Kudus

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah [C]

2 Februari 2025

Lukas 2:22-40

Hari ini, kita merayakan Pesta Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah, sebuah peristiwa di Injil ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus yang baru lahir di Bait Allah di Yerusalem. Namun, mengapa Yesus harus dipersembahkan di Bait Allah?

Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah karena Dia adalah anak sulung Maria. Menurut Hukum Musa, semua anak sulung laki-laki, baik manusia maupun hewan, harus dikuduskan bagi Tuhan (lihat Kel 13:1-2; 11-16). Kata “dikuduskan” atau dijadikan kudus (bahasa Ibrani: kados) berarti menjadi milik Tuhan. Cara yang paling umum untuk menguduskan sesuatu adalah melalui pengorbanan, yang menandakan transisi dari alam biasa ke alam ilahi.

Tentu saja, pengorbanan darah hanya diperlukan untuk hewan ternak, seperti domba atau kambing. Hewan-hewan ini disembelih dan dibakar di altar, yang menandakan peralihan hidup dari dunia ini ke alam ilahi. Namun, tidak semua hewan harus disembelih. Dalam kasus hewan pekerja, seperti keledai, dan anak sulung manusia, mereka dibawa ke Bait Allah dan dipersembahkan kepada imam. Kemudian, pemilik atau orang tua diharuskan untuk menebus anak sulung mereka dengan mempersembahkan hewan untuk dikorbankan sebagai gantinya. Untuk menebus Yesus, Yusuf dan Maria mempersembahkan sepasang burung tekukur atau merpati, kurban yang biasa dipersembahkan oleh orang miskin.

Mengapa anak sulung harus dikuduskan bagi Tuhan? Kitab Keluaran (pasal 12) menceritakan bahwa sebelum bangsa Israel meninggalkan Mesir, tulah kesepuluh yang membunuh anak-anak sulung Mesir terjadi. Anak-anak sulung Israel pun sebenarnya bisa terbunuh karena tulah ini, namun mereka diselamatkan oleh kurban Paskah, yakni anak domba tidak bercacat yang disembelih, darahnya dioleskan pada tiang-tiang pintu, dan dagingnya dipanggang dan dimakan. Dengan cara ini, anak domba Paskah dikorbankan untuk menebus anak-anak sulung Israel dari kematian.

Yang menarik adalah Lukas tidak pernah mengatakan bahwa Yesus “ditebus”. Ya, Dia memang dipersembahkan, dan Maria serta Yusuf memang membawa hewan kurban, tetapi kata “tebus” tidak ada dalam cerita ini. Tampaknya Lukas sengaja menghilangkan kata ini untuk menekankan bahwa Yesus tidak pernah ditebus. Dia telah dikuduskan untuk menjalankan perannya sebagai anak sulung yang sejati, sang Domba Paskah, yang akan dikorbankan agar kita dapat ditebus dari dosa dan maut.

Sebagai umat Kristinani, kita tidak lagi mengikuti ritual pengudusan anak sulung seperti yang diuraikan dalam Keluaran 13. Alasannya adalah karena kita semua telah dikuduskan bagi Tuhan melalui sakramen pembaptisan kita. Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, Yesus adalah Anak Domba Paskah (1 Kor. 5:7) yang menyelamatkan kita dari dosa dan maut serta menebus kita bagi Allah. Sekarang, kita adalah milik Tuhan, dan sebagai milik Tuhan, kita adalah kudus. Inilah sebabnya mengapa Santo Paulus, dalam surat-suratnya (1 Kor 1:2; Ef 1:1; Flp 1:1), tidak menyebut anggota Gereja sebagai orang Kristen, tetapi sebagai “orang-orang kudus.” Sebagai orang-orang yang dikuduskan bagi Allah, kita dipanggil untuk hidup kudus, karena Allah itu kudus (Im 11:44).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

Apakah kita sadar bahwa kita telah dikuduskan bagi Tuhan? Apakah yang dimaksud dengan kekudusan? Apakah kita hidup sebagai umat Allah yang kudus? Bagaimana kita menghidupi kehidupan yang kudus dalam rutinitas kita sehari-hari? Apakah kita menolong orang lain untuk bertumbuh dalam kekudusan? Jika ya, bagaimana caranya?

Siapakah Teofilus?

Hari Minggu ke-3 dalam Masa Biasa [C]
26 Januari 2025
Lukas 1:1-4; 4:14-21

Lukas mendedikasikan Injilnya kepada seorang yang bernama Teofilus, tetapi siapakah dia sebenarnya? Dan mengapa Lukas mendedikasikan Injilnya kepadanya?

Ada beberapa teori yang menarik tentang Teofilus. Teori yang paling banyak diterima adalah bahwa ia adalah sponsor Lukas dalam menulis Injilnya. Dua ribu tahun yang lalu, memproduksi sebuah buku sangatlah mahal. “Kertas” dibuat dari kulit binatang atau dari papirus, tanaman yang hanya tumbuh di sepanjang Sungai Nil di Mesir. Selain itu, Lukas juga harus menanggung “biaya penelitian”. Tidak seperti penginjil lainnya, Lukas bukanlah saksi mata dari peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus. Oleh karena itu, untuk membuat dokumen yang terpercaya secara historis, ia harus melakukan perjalanan dan mewawancarai para saksi mata, seperti beberapa rasul dan Maria, ibu Yesus.

Karena tidak ada mesin cetak pada saat itu, Lukas harus menulis tangan teksnya atau menyewa seorang stenografer atau penyalin, yang secara signifikan meningkatkan biaya.
Injil Lukas adalah Injil terpanjang dari keempat Injil (berisi paling banyak jumlah kata). Lukas juga menulis Kisah Para Rasul. Bersama-sama, kedua karya ini mencakup hampir sepertiga dari seluruh Perjanjian Baru. Tidak heran jika Lukas membutuhkan dukungan finansial dari luar biasa untuk proyeknya yang mahal ini.

Lukas menyebut Teofilus sebagai “κράτιστος” (kratistos), yang biasanya diterjemahkan sebagai “yang mulia”. Gelar ini biasanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki status dan pangkat yang tinggi. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Teofilus lebih dari sekadar mampu untuk mendukung Lukas dalam menulis Injil. Tetapi pertanyaan berikutnya muncul: Apa hubungan Teofilus dengan Yesus? Apakah ia seorang murid yang telah dibaptis dan anggota Gereja perdana? Ataukah dia hanya seorang yang kebetulan ingin belajar tentang kehidupan Yesus?

Jika Teofilus adalah seorang beriman yang telah dibaptis, Lukas mungkin menulis Injilnya untuk memperdalam pengetahuan Teofilus tentang Yesus. Mungkin Teofilus akan menggunakan Injil ini untuk mengajar komunitas Kristiani lokal atau parokinya. Namun, jika Teofilus belum dibaptis, Injil dapat berfungsi sebagai sarana penginjilan, memperkenalkan Kristus kepadanya dan dengan penuh harapan menuntun dia dan keluarganya kepada iman.

Teori lain yang menarik adalah bahwa nama “Teofilus” tidak merujuk kepada satu orang saja, melainkan kepada semua orang percaya. “Teofilus” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: “Theos” (yang berarti ‘Tuhan’) dan ‘Philos’ (yang berarti ‘teman’ atau ‘orang yang mengasihi sebagai teman’). Oleh karena itu, Teofilus merujuk kepada siapa pun yang mengasihi Tuhan dan ingin memiliki persatuan dengan-Nya. Dalam hal ini, Teofilus mewakili semua umat Kristiani di sepanjang zaman yang mencari persahabatan yang lebih dalam dengan Tuhan dengan belajar dan mengontemplasikan kehidupan Yesus melalui Injil Lukas. Dengan cara ini, Lukas mendedikasikan karyanya untuk kita semua.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya Teofilus, dan kita harus menunggu sampai kita sampai di surga untuk mengetahuinya. Namun, dari Lukas dan Teofilus, kita belajar bahwa misi evangelisasi sangatlah sulit. Namun, mereka juga menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam misi keselamatan ini. Ada yang menawarkan talenta mereka dalam bentuk tulisan, ada yang mengajar, dan ada juga yang memberikan berbagai bentuk dukungan. Meskipun setiap orang dapat memberikan waktu dan tenaga mereka, beberapa orang dipanggil untuk berkhotbah kepada khalayak ramai, sementara yang lain dipanggil untuk membesarkan keluarga mereka dalam iman. Masing-masing dari kita dapat menjadi Teofilus dengan cara kita sendiri – seseorang yang mengasihi Allah dan ingin agar Dia dikenal oleh orang lain.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:
Sudahkah kita membaca seluruh Injil Lukas? Apa episode favorit saya dalam Injil Lukas? Dan mengapa? Apa yang kita lakukan untuk berkontribusi dalam karya evangelisasi? Apakah kita membantu membawa Allah lebih dekat kepada orang lain? Bagaimana caranya?

Yesus dan Maria, Tamu Pernikahan Kita

Minggu Kedua dalam Masa Biasa [C]
19 Januari 2025
Yohanes 2:1-12

Dalam setiap pernikahan, kita tentu mengharapkan mempelai pria dan wanita menjadi pusat perhatian. Bagaimanapun juga, ini adalah pernikahan mereka – momen paling membahagiakan bagi mereka. Namun, kisah pernikahan di Kana di Galilea menawarkan perspektif yang berbeda, yang sering kali diabaikan. Apakah itu?

Pernikahan di Kana bukan tentang kedua mempelai. Bahkan, nama mereka tidak pernah disebutkan, dan mereka hampir tidak muncul dalam cerita. Satu-satunya momen mempelai pria disebutkan adalah ketika dia dipuji karena menyediakan anggur berkualitas tinggi yang melimpah. Sebaliknya, kisah Injil ini berfokus pada Yesus dan interaksi-Nya dengan Maria, ibu-Nya. Kisah ini mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang pernikahan Kristiani yang sering kali tidak terlihat oleh mata.

Kisah ini dimulai dengan sebuah pengantar: Ibu Yesus, Yesus sendiri, dan para murid diundang ke pesta pernikahan. Detail ini memiliki makna yang mendalam. Siapa yang kita undang ke pesta pernikahan kita? Terlalu sering, kita hanya berfokus pada diri kita sendiri-mempersiapkan tempat, merencanakan acara, memilih makanan, dan memilih pakaian pernikahan yang sempurna. Kita menjadi sibuk untuk menyenangkan kerabat, teman, dan tamu. Namun, apakah kita memprioritaskan untuk mengundang Yesus dan ibu-Nya dalam pernikahan kita?

Banyak dari kita mungkin menjawab, “Ya! Kami mengundang Yesus ke pernikahan kami karena pernikahan kami dilangsungkan di Gereja!” Namun, apakah Yesus benar-benar hadir di dalam hati kita? Bagi sebagian orang, pernikahan diadakan di gereja hanya karena kita beragama Katolik. Yang lainnya memilih pernikahan di gereja karena keindahan atau prestisenya. Banyak yang mengikuti kursus persiapan pernikahan hanya karena kewajiban, memenuhi persyaratan keuskupan untuk mendapatkan izin pernikahan di gereja. Namun, berapa banyak dari kita yang secara sadar dan sepenuh hati berusaha untuk benar-benar mengundang Yesus dalam pernikahan kita? Apakah kita mempersiapkan diri secara rohani retret atau pengakuan dosa sebelum menerima sakramen pernikahan? Apakah kita memohon rahmat dan bimbingan-Nya saat kita memulai perjalanan sakral ini?

Kisah pernikahan di Kana juga menyoroti peran Maria yang unik. Dia menyadari bahwa anggur hampir habis dan memberitahukan Yesus tentang masalah tersebut. Setelah berdiskusi singkat, dia menginstruksikan para pelayan: “Lakukanlah segala sesuatu yang diperintahkan-Nya kepadamu.” Kemudian Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama. Peristiwa ini menunjukkan keterlibatan Maria yang mendalam dalam pernikahan tersebut. Ia bukan hanya seorang tamu biasa; ia memiliki akses ke dalam kehidupan rumah tangga dan mengetahui kebutuhan praktis, seperti kekurangan anggur. Alih-alih memberi tahu mempelai pria atau keluarganya, ia justru berpaling kepada Yesus. Karena kasih-Nya kepada ibu-Nya, Yesus menggunakan sumber daya sederhana yang tersedia – air – dan mengubahnya menjadi anggur terbaik.

Kebenaran ini sangat dalam dan indah. Jika kita menginginkan “anggur terbaik” dalam pernikahan kita, penting untuk tidak hanya mengundang Yesus dan Maria ke hari pernikahan kita, tetapi juga menyambut mereka di “dapur” kita, dan mengizinkan mereka untuk terlibat dalam momen-momen keseharian dalam hidup kita. Injil mengingatkan kita bahwa anggur terbaik berasal dari air biasa. Dengan cara yang sama, berkat terbesar dalam pernikahan sering kali muncul dari tindakan kasih yang sederhana dan tak terlihat bagi pasangan dan anak-anak kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi
Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengundang Yesus dan Maria ke dalam pernikahan, keluarga, dan kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa Yesus telah melakukan mukjizat dalam pernikahan kita? Sudahkah kita mempercayakan pernikahan dan keluarga kita dalam pemeliharaan Maria?

Apakah yang dimaksud dengan Pembaptisan?

Pembaptisan Tuhan [C]

12 Januari 2025

Lukas 3:15-16, 21-22

Yesus memulai misi pewartaan-Nya setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Demikian pula, kita memulai kehidupan baru kita sebagai anak-anak Allah dan mengikuti Yesus di jalan salib-Nya melalui sakramen baptis. Namun, apakah sebenarnya baptisan itu, dan mengapa pembaptisan dikaitkan dengan permulaan dari sesuatu yang begitu penting?

Ritual Kemurnian Yahudi

Kata Yunani “βαπτίζειν” (baptizein) pada mulanya berarti “mencelupkan ke dalam air” atau “membasuh dengan air.” Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, kata βαπτίζειν merujuk pada ritual pemurnian atau pentahiran (lih. Yudit 12:7). Apakah ritual pentahiran dalam Perjanjian Lama ini? Untuk memahaminya, kita perlu menyadari bahwa Israel kuno menganut hukum tahir-najis.

Meskipun tidak sepenuhnya bersifat moral, hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum ini menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual murni/tahir atau najis. Ketika orang Yahudi dianggap “tahir”, mereka dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan kurban. Dengan mempersembahkan kurban, mereka dapat menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat, seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Allah dan sesama.

Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal, seperti: jenazah, cairan tubuh (misalnya, darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (misalnya, babi, unta, atau serangga tertentu), dan beberapa penyakit kulit. Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pentahiran, biasanya dengan membasuh dengan air (βαπτίζειν). Dengan demikian, hukum tahir-najis memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Pembaptisan Yohanes

Yohanes Pembaptis memperkenalkan sebuah perubahan yang signifikan. Pembaptisannya (pembasuhan dengan air) bukan lagi sebuah ritual pentahiran tetapi sebuah simbol pertobatan. Bagi Yohanes, yang terpenting bukanlah menjadi bersih atau tahir secara ritual tetapi hidup bermoral benar di hadapan Tuhan. Dengan demikian, tidak ada artinya menjalani ritual pentahiran sementara terus hidup dalam dosa.

Yohanes mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia membaptis dengan air sebagai simbol pertobatan, tetapi seseorang yang lebih besar darinya akan datang untuk membaptis di dalam Roh Kudus dan api. Apa artinya dibaptis “dalam Roh Kudus dan api”? Sepanjang sejarah Gereja, frasa ini mendapatkan banyak tafsiran. St. Yohanes Krisostomus mengajarkan bahwa baptisan Yesus merujuk pada Pentakosta, di mana Roh Kudus turun seperti api dan memenuhi para murid Yesus dengan berbagai rahmat. Origen, di sisi lain, berpendapat bahwa baptisan dalam Roh Kudus adalah untuk mereka yang percaya dan bertobat, sementara baptisan dalam api adalah untuk mereka yang menolak untuk percaya dan bertobat.

Ajaran Gereja tentang Pembaptisan

Meskipun penafsirannya berbeda-beda, sangat penting untuk menerima baptisan Yesus, dan Yesus membaptis kita melalui tubuh-Nya, Gereja. Dengan demikian, sakramen baptis  yang dilakukan oleh Gereja, berasal dari Yesus dan penting untuk keselamatan (1 Pet 3:21). Baptisan ini juga memberikan rahmat pengudusan kepada jiwa (2 Pet 1:4) dan mengubah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Tidak seperti baptisan Yohanes, yang merupakan tanda pertobatan secara eksternal, baptisan Yesus – yang diberikan melalui Gereja-Nya – benar-benar mengubah jiwa kita dan memampukan kita untuk hidup layak di hadapan Allah.

Tambahan: Apakah Pembaptisan Selalu Berarti ditenggelamkan?

Kata βαπτίζειν dalam Alkitab tidak selalu berarti seluruh tubuh masuk air. Sebagai contoh, dalam Markus 7:4-8, βαπτίζειν digunakan untuk menggambarkan ritual pembasuhan bagian tubuh tertentu, seperti tangan, atau bahkan pembasuhan perkakas. Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembaptisan adalah sah baik dilakukan dengan memasukkan seluruh tubuh ke dalam air atau dengan menuangkan air ke kepala (KGK 1239-1240).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi dan Panduan

Sudahkah kita menerima baptisan Yesus yang dilakukan melalui Gereja-Nya? Apakah kita mendorong anggota keluarga, kerabat, dan teman-teman untuk dibaptis? Apakah kita menyadari rahmat yang luar biasa yang kita terima melalui baptisan? Apakah kita menghidupi semangat baptisan kita dalam kehidupan sehari-hari?

Peziarah dengan Harapan

Epifani [C]

5 Januari 2025

Matius 2:1-12

Hanya Matius yang mencatat kisah orang Majus dari Timur, dengan hanya 12 ayat (sekitar 1,12% dari Injilnya). Namun, umat Kristiani dari generasi ke generasi selalu melihat kisah ini sangat menarik dan penuh dengan misteri. Siapakah orang-orang Majus ini? Benarkah mereka berjumlah tiga orang? Dari mana tepatnya mereka datang dari Timur? Apakah “bintang” yang mereka lihat? Apa makna di balik pemberian mereka? Sementara pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi, ada satu hal yang membuat kita tidak berbeda dengan para Majus. Apakah itu?

Kenapa kita bisa terpikat oleh kisah perjalanan orang Majus karena kita juga sejatinya sedang melakukan perjalanan. Setiap hari, kita melakukan perjalanan, dari rumah ke sekolah atau tempat kerja, dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari Minggu, kita melakukan perjalanan ke gereja. Terkadang, kita menjelajahi tempat-tempat baru untuk berlibur atau berziarah. Di lain waktu, kita terpaksa untuk pergi ke tempat-tempat yang kita tidak sukai, seperti rumah sakit karena kita sakit. Sejatinya, hidup kita itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Dari saat kita meninggalkan rahim ibu kita, hingga kita mencapai tujuan akhir kita, kita terus bergerak melintasi ruang dan waktu. Kita adalah peziarah di dunia ini. Jauh di dalam hati, tidak jarang kita bertanya, “Ke mana saya pergi? Apakah perjalanan saya memiliki tujuan?”

Kisah para Majus memberikan kita jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ketika para Majus menemukan “bintang” sang Raja yang baru lahir, mereka tahu bahwa mereka harus menemukan-Nya. Namun, mereka bisa saja salah menafsirkan arti bintang itu. Di sepanjang perjalanan, mereka bisa saja menghadapi potensi bahaya dan tantangan yang tak terduga. Risikonya sangat besar. Namun, mereka tidak menyerah. Sebagai peziarah sejati, mereka terus maju dengan satu harapan untuk menemukan Dia yang paling mereka dambakan.

Matius hanya memberikan sedikit rincian tentang perjalanan mereka, dan membiarkan imajinasi kita mengambilnya selebihnya. Namun, kita dapat merasakan betapa terkejutnya mereka ketika mereka gagal menemukan Raja yang baru lahir di Yerusalem. Mereka mungkin berharap bahwa Raja itu adalah putra Herodes, raja yang sedang berkuasa pada saat itu. Meskipun mengalami kegagalan, mereka tidak hilang harapan dan terus melanjutkan perjalanan mereka. Rasa terkejut mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka menemukan Raja mungil di rumah Yusuf dan Maria yang sederhana. Sekali lagi, walaupun di luar bayangan mereka, mereka tidak berhenti berharap bahwa kelak, bayi ini sungguh akan menjadi raja besar, dan mereka memberikan penghormatan dan persembahan. Para Majus menjadi orang non-Israel pertama yang menerima Yesus. Perjalanan mereka mengingatkan kita akan kata-kata Santo Paulus: “Pengharapan tidak mengecewakan” (Roma 5:5).

Seperti orang Majus, kita juga adalah peziarah di dunia ini. Terkadang, kita merasa tidak yakin dengan jalan kita, dikelilingi oleh ketidakpastian. Terkadang, perjalanan kita tampak tidak berarti, terutama ketika kita lelah atau tersesat. Seringkali, kita takut menghadapi tantangan dan bahaya. Namun, jauh di dalam lubuk hati kita, kita tahu bahwa kita harus terus melangkah maju, karena sebuah pengharapan bahwa perjalanan kita menuju Yesus akan menghasilkan buah sejati. Karena Dialah yang paling dirindukan oleh hati kita. Gabriel Marcel, seorang filsuf Katolik, dengan indah mengungkapkan hal ini dalam bukunya Homo Viator, “Saya berpikir bahwa harapan bagi jiwa adalah seperti bernapas bagi organisme hidup. Di mana harapan tidak ada, jiwa menjadi kering dan layu…” Kita adalah peziarah di bumi ini, dan kita berjalan bukan karena takut atau putus asa, tetapi karena pengharapan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

Apakah kita sadar bahwa kita adalah pendatang di bumi ini, bukan penghuni tetap? Apakah kita mengenali tujuan kita yang sebenarnya? Upaya apa yang kita lakukan untuk tetap berada di jalan yang benar? Bagaimana kita menanggapi tantangan dan masalah dalam perjalanan kita? Bagaimana kita dapat menjaga harapan kita tetap hidup selama perjalanan panjang ini?

Hidup yang Tersembunyi, Hidup yang Kudus

Pesta Keluarga Kudus [C]

29 Desember 2024

Lukas 2:41-52

Yesus tidak muncul di dunia sebagai seorang pria dewasa secara tiba-tiba, dan Dia juga tidak turun dari langit seperti alien. Sebaliknya, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai seorang anak dalam keluarga Yusuf dan Maria. Menariknya, sebagian besar peristiwa dalam keluarga ini, yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun, tetap tersembunyi. Apa yang Yesus lakukan selama masa itu? Mengapa Dia memilih untuk tetap tersembunyi selama tahun-tahun ini?

Sedikit informasi yang kita miliki berasal dari Santo Lukas, yang mengatakan bahwa Yesus tunduk pada otoritas Yusuf dan Maria dan bertumbuh dalam usia dan kebijaksanaan (Lukas 2:52). Intinya tidak ada perbedaan mendasar antara kanak-kanak Yesus dan anak-anak lainnya. Yesus mengalami dan bertindak seperti seorang Israel pada zaman-Nya. Sebagai seorang bayi, Yesus menerima kasih dan perhatian dari Maria. Dia belajar berbicara, berjalan, dan bermain. Sebagai seorang anak kecil, Dia mungkin membantu Maria melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan teman sebaya dan kerabat-Nya. Ketika Dia menjadi cukup kuat, Dia membantu Yusuf dalam pekerjaannya dan belajar pertukangan, sebagai bagian dari usaha keluarga. Sebagai keturunan Daud, Yusuf kemungkinan besar bertanggung jawab untuk mengajar Yesus membaca, terutama Taurat.

Sebagai seorang pemuda, Yesus membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Dari waktu ke waktu, mereka mungkin melakukan perjalanan ke kota-kota besar terdekat, seperti Sepphoris, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan. Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus tidak hanya belajar membaca Taurat, tetapi juga menafsirkan dan mengajarkan Hukum Musa di bawah bimbingan Yusuf. Yesus muda kemungkinan besar mengamati ayah angkat-Nya berdiskusi dan berdebat tentang ajaran-ajaran Taurat dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat setempat. Mungkin Dia bahkan mendengarkan Yusuf ketika dia berkhotbah di sinagoge di Nazaret.

Dari kisah ini, kita melihat bahwa tidak ada yang luar biasa dari kehidupan tersembunyi Yesus, Maria, dan Yusuf. Semuanya tampak biasa saja. Seandainya Yesus lahir di zaman ini, Dia akan tumbuh besar dengan melakukan banyak hal yang biasa kita lakukan. Namun, adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa apa yang Yesus lakukan di Nazaret tidak ada gunanya. Yesus tidak hanya sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya ilahi. Keilahian-Nya menguduskan setiap aspek kemanusiaan-Nya, termasuk saat-saat yang paling biasa dalam hidup-Nya. Apa pun yang Yesus lakukan-baik bekerja, makan, atau bahkan beristirahat-adalah kudus dan menyelamatkan.

Melalui misteri Inkarnasi, Yesus berbagi dalam kemanusiaan kita. Karena itu, kita dapat berbagi dalam keilahian-Nya melalui rahmat. Banyak dari kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sesekali diselingi oleh momen-momen yang luar biasa. Namun, melalui Yesus dan kehidupan-Nya yang tersembunyi, segala sesuatu yang kita lakukan – bahkan tugas-tugas terkecil dan paling biasa – dapat menjadi sarana pengudusan dan keselamatan jika dilakukan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Hal-hal kecil yang tidak terlihat yang kita lakukan dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja dapat menguduskan kita jika kita melakukannya dengan kasih. Penderitaan dan rasa sakit yang kita alami juga dapat menguduskan kita jika kita menanggungnya dengan sabar dan tanpa dosa. Pada akhirnya, kekudusan dari hal-hal yang biasa menjadi mungkin ketika kita menyatukannya dengan kurban Yesus yang hidup di dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita menyadari bahwa Yesus hadir bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam hidup kita berkontribusi pada kekudusan kita? Apakah kita tahu bahwa Allah melihat tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi yang kita lakukan untuk orang tua, anak-anak, dan bahkan orang asing?

Natal yang Dingin Namun Penuh Berkah

Kelahiran Tuhan Kita [C]

25 Desember 2024

Lukas 2:1-14

Saya bersyukur memperoleh kesempatan untuk belajar di Roma, dan salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah merayakan Natal di kota yang abadi ini. Perbedaan yang mencolok dari perayaan natal di Indonesia langsung terasa: Natal di Roma terasa dingin. Berasal dari negara yang berada di garis khatulistiwa, di mana suhu udara relatif konstan sepanjang tahun, mengalami bulan Desember sebagai musim dingin (dengan suhu berkisar antara 8°C hingga -1°C) merupakan hal yang sangat baru. Ketika saya merayakan Natal di musim dingin ini, pikiran pertama saya adalah Bethlehem juga sangat dingin ketika Yesus lahir.

Beberapa orang yang tidak percaya berpendapat bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember, dengan alasan bahwa cuaca terlalu dingin bagi para gembala untuk menjaga domba-domba mereka di padang rumput (Luk 2:8). Meskipun Desember memang merupakan musim dingin di Israel, namun dinginnya tidak mencegah orang untuk tetap berada di luar rumah. Penelusuran cepat di internet menunjukkan bahwa suhu malam hari di Bethlehem-Yerusalem rata-rata sekitar 7-8°C. Lagi pula, domba-domba biasanya dipelihara di luar ruangan, dan para gembala, yang terbiasa dengan kondisi seperti ini, pasti sudah siap untuk bertahan di lingkungan yang dingin.

Para gembala mungkin sudah siap menghadapi cuaca dingin, tapi bagaimana dengan bayi Yesus? Meskipun musim dingin di Israel tidak sedingin di banyak negara Eropa, faktanya musim dingin di Bethlehem tetap dingin dan menggigil. Sensasi pertama yang mungkin dirasakan oleh bayi Yesus ketika meninggalkan kehangatan rahim Maria adalah rasa dingin. Tentu saja, Maria dan Yusuf telah melakukan yang terbaik untuk melindungi dan menjaga Dia tetap hangat, tetapi suhu yang rendah tidak dapat sepenuhnya dihindari. Rasa dingin ini akan semakin terasa karena Yesus tidak dilahirkan di ruang bersalin yang modern dan nyaman, melainkan di tempat yang sederhana untuk hewan – sebuah gua, seperti yang dikatakan oleh tradisi.

Namun, kerendahan hati inilah yang menjadi inti dari Natal: Imanuel, Allah beserta kita. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh yang tersembunyi di surga, yang sesekali mengirim malaikat untuk berinteraksi dengan kita. Dia hadir secara intim, menjadi salah satu dari kita, manusia. Sejak saat pembuahan-Nya, Dia merasakan, mengalami, dan menanggung segala sesuatu yang kita alami dan lakukan. Dinginnya malam Natal itu hanyalah permulaan. Yesus akan merasakan lapar dan haus, rasa sakit dan kesedihan, sama seperti kita. Dia juga merasakan kehangatan dan kasih Maria dan Yusuf. Dia bertumbuh dan belajar untuk hidup seperti kita. Dia tahu siapa kita karena Dia telah menjadi salah satu dari kita.

Memang benar bahwa kita sering berdoa agar Tuhan menyingkirkan permasalahan, rasa sakit, dan kesedihan kita, namun tampaknya pergumulan ini terus berlanjut. Dalam kebijaksanaan ilahi-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan ini terjadi, meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti alasannya. Namun, melalui misteri Natal, kita yakin akan satu kebenaran yang mendalam: Yesus mengetahui penderitaan kita. Dia ikut merasakannya dan menanggungnya bersama kita. Inilah Injil kita, inilah Natal kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Natal!

Kisah Dua Orang Ibu

Minggu ke-4 Masa Adven [C]

22 Desember 2024

Lukas 1:39-45

Maria dan Elisabet adalah dua wanita yang paling kuat di dalam Alkitab. Namun, kekuatan mereka tidak berasal dari kekuatan fisik. Maria adalah seorang wanita muda dan lembut, sementara Elisabet sudah lanjut usia. Kekuatan mereka yang luar biasa terletak pada komitmen mereka yang teguh untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka dipanggil untuk menjadi ibu. Namun, bagaimana mereka melihat panggilan mereka sebagai ibu? Dan apa hidup mereka masih relevan bagi kita sekarang?

Menjadi seorang ibu sering kali dipandang sebagai perkembangan alamiah dalam kehidupan seorang wanita. Setelah menikah, umumnya seorang wanita akan mengandung dan melahirkan anak. Tubuh wanita mengalami transformasi yang luar biasa untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi bayi yang sedang tumbuh. Perubahan fisiologis ini tidak hanya banyak tetapi juga bertahap, beradaptasi dengan kebutuhan bayi selama kehamilan. Aktivitas jantung, paru-paru, ginjal, dan organ-organ lainnya meningkat secara signifikan untuk mendukung ibu dan anak. Selain itu, tubuh memproduksi hormon-hormon baru yang memengaruhi berbagai organ, metabolisme, dan kondisi psikologis. Bahkan setelah melahirkan, tubuh ibu tidak langsung kembali ke kondisi sebelum hamil, melainkan terus bertransformasi untuk mendukung bayi yang baru lahir. Sebagai contoh, tubuh memproduksi ASI, yang volume dan nutrisinya, terus berubah menyesuaikan kebutuhan bayi.

Terlepas dari keajaiban proses ini, karena proses kehamilan terjadi di mana-mana dan di setiap waktu, tidak sedikit orang yang memandangnya hanya sebagai fungsi biologis yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita sebagai spesies. Beberapa orang melihat tubuh wanita hanya sebagai alat reproduksi belaka atau melihat rahim tidak lebih dari sebuah wadah sementara untuk bayi. Perspektif yang salah terhadap tubuh dan hubungan ibu-anak ini telah mendorong beberapa orang untuk mengambil keputusan ekstrem, termasuk aborsi. Alasan untuk keputusan tersebut beragam – ketakutan akan populasi yang berlebihan, kekhawatiran akan peningkatan emisi karbon, tantangan ekonomi, atau hanya sekedar ketidaknyamanan yang dirasakan karena memiliki anak.

Di sinilah Maria dan Elisabet menjadi sangat relevan bagi kita. Mereka memahami risiko yang ada dalam situasi unik mereka. Maria, meskipun telah bertunangan dengan Yusuf, hamil tanpa keterlibatan seorang pria pun. Ia berisiko dituduh berzinah, sebuah kejahatan yang dapat dihukum rajam menurut hukum Taurat (Ulangan 22:22-24). Di sisi lain, Elisabet menghadapi bahaya fisik akibat kehamilan di usia tua, yang dapat membahayakan nyawanya. Terlepas dari risiko-risiko tersebut, kedua perempuan ini tetap menjalankan peran mereka sebagai ibu. Mengapa? Karena kedua wanita ini menyadari bahwa kehamilan mereka bukan hanya proses biologis, namun percaya bahwa menjadi ibu adalah kehendak Tuhan bagi mereka – sebuah panggilan suci. Mereka percaya bahwa Tuhan yang memanggil mereka ke dalam misi kudus ini juga akan menopang dan memenuhi kebutuhan mereka.

Kekudusan adalah kunci kebahagiaan sejati. Inilah sebabnya mengapa pertemuan antara Maria dan Elisabet ditandai dengan sukacita dan bukannya ketakutan atau kecemasan. Di dunia saat ini, di mana memiliki anak sering kali dipandang sebagai beban dan bukan sebagai berkat, tindakan iman, atau sumber sukacita, Maria dan Elisabet menjadi tanda pengharapan. Keberanian dan iman mereka mengilhami kita untuk melihat menjadi seorang ibu sebagai panggilan ilahi dan sumber kebahagiaan yang mendalam.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

  1. Bagaimana kita memandang kehamilan? Apakah kehamilan hanyalah sebuah proses biologis, peristiwa sosial-budaya, beban ekonomi, atau panggilan ilahi untuk menjadi kudus?
  2. Untuk para ibu: Bagaimana Anda memandang anak-anak Anda? Bagaimana Anda mengasuh mereka dan membimbing mereka dalam perjalanan hidup mereka?
  3. Untuk laki-laki: Peran apa yang Anda mainkan dalam mendukung ibu hamil atau ibu yang merawat bayi mereka?

Bersukacitalah, Tetapi Mengapa?

Minggu ke-3 Masa Adven [B]

15 Desember 2024

Lukas 3:10-18

Sekarang kita berada di hari Minggu ketiga masa Adven, yang juga dikenal sebagai Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah sebuah kata dalam bahasa Latin yang berarti ”Bersukacitalah!” Nama ini berasal dari antifon pembuka Misa, yang diambil dari Flp. 4:4-5, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, sekali lagi aku akan berkata: Bersukacitalah. Hendaklah kelembutanmu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Namun, mengapa kita harus bersukacita di masa Adven ini?

Kedatangan Tuhan pada dasarnya adalah alasan untuk bersukacita. Pada hari Minggu pertama masa Adven, kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa menakutkan seputar kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir zaman, “kuasa-kuasa langit akan goncang (Luk 21:26).” Namun, ketakutan ini hanya akan dirasakan oleh mereka yang tidak mengasihi Yesus, yaitu mereka yang takut akan penghakiman-Nya. Bagi mereka yang mengasihi Yesus dan hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, kedatangan-Nya adalah alasan untuk bersukacita, karena kita yakin bahwa kita akan bersama dengan-Nya.

Tetapi mengapa kita mengalami sukacita yang mendalam ketika kita bersama Yesus? Kita bisa membandingkannya dengan hubungan kita dengan orang-orang yang kita kasihi. Ketika kita mengasihi seseorang, kita ingin dekat dan berbagi waktu bersama mereka. Ikatan ini memberikan kita sukacita dan kedamaian. Ketika kita mengasihi anak-anak kita, kita ingin bersama dan menghabiskan waktu bersama mereka. Pengalaman ini membawa sukacita dalam hati kita. Sama halnya dengan Yesus. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus, kita rindu untuk bersatu dengan-Nya, dan ketika kita memeluk Yesus, kita menerima sukacita yang didambakan oleh hati kita. Semakin dalam kita mengasihi Yesus, semakin dalam pula sukacita yang kita alami ketika Dia datang.

Akan tetapi, hal yang sebaliknya juga benar. Jika kita tidak mengasihi Yesus sebagaimana mestinya, atau bahkan membenci Yesus, maka kita tidak akan bersukacita atas kedatangan-Nya. Sebaliknya, kita akan takut akan kedatangan-Nya. Tetapi apakah yang dimaksud dengan “membenci” Yesus? Hal ini bisa jadi lebih halus daripada yang kita pikirkan.

  • Meninggalkan Yesus: Kita “membenci” Yesus ketika kita meninggalkan-Nya atau tidak lagi percaya kepada-Nya.
  • Lebih mengasihi hal-hal lain: Kita “membenci” Yesus juga ketika kita lebih memprioritaskan hal-hal lain seperti kekayaan, popularitas, dan kesenangan daripada Yesus.
  • Mengasihi diri sendiri secara berlebihan: Mungkin, yang paling tidak disadari, kita “membenci” Yesus ketika kita mengasihi diri kita sendiri secara berlebihan dan tidak teratur. Pusat kehidupan kita tidak lain adalah diri kita sendiri, dengan kata lain, kita menjadi narsis. Kita harus sangat berhati-hati dengan cinta yang berlebihan kepada diri kita sendiri karena kita mungkin tidak menyadarinya. Kita selalu pergi ke Gereja atau aktif dalam banyak organisasi di paroki, tetapi motivasi sebenarnya adalah agar kita dapat dilihat orang lain sebagai pria atau wanita yang saleh.

Kita bersukacita karena kita mengasihi Yesus. Yesus mengerti betapa sulitnya berada jauh dari orang yang sangat kita kasihi. Oleh karena itu, Ia datang kepada kita melalui Firman-Nya dan di dalam Ekaristi. Meskipun ini bukanlah persatuan yang sempurna, ini cukup bagi kita untuk bersukacita di dalam Tuhan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita mengasihi Yesus di atas segalanya? Bagaimana kita mengasihi Yesus dalam konteks kita sebagai orang tua, pasangan, anak, profesional, atau pelajar? Apakah kita lebih mengasihi diri kita sendiri daripada Yesus? Apakah kita mengajar orang lain untuk mengasihi Yesus?

Mengapa Yohanes Pembaptis?

Minggu Kedua Masa Adven [C]

8 Desember 2024

Lukas 3:1-6

Pada hari Minggu kedua masa Adven, Gereja memberikan Yohanes Pembaptis sebagai teladan dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan. Tetapi mengapa Yohanes selalu dipilih sebagai teladan? Jawabannya adalah karena ada banyak hal yang kita bisa pelajari dan teladani dari Yohanes. Khususnya dalam Injil Lukas, kita melihat bahwa Yohanes mendahului Yesus dan mempersiapkan jalan-Nya dalam tiga tahap penting. Jadi, apakah ketiga tahap tersebut?

1) Melalui Kelahiran Yohanes. Yohanes adalah anak dari Zakharia dan Elisabet. Karena Elisabet dan Maria dari Nazaret adalah saudara, maka hal ini menjadikan Yohanes dan Yesus sebagai satu keluarga besar. Dalam Injil Lukas, kelahiran Yohanes digambarkan sebagai jawaban atas doa orang tuanya. Kelahirannya adalah sebuah mukjizat, karena terjadi ketika Zakharia dan Elisabet sudah tua dan dianggap mandul. Kelahiran yang ajaib ini menjadi gambaran dari kelahiran yang lebih besar lagi, yaitu kelahiran Yesus. Sementara Yohanes dikandung meskipun orang tuanya sudah tua, Yesus dikandung oleh Roh Kudus dan tanpa campur tangan laki-laki. Kelahiran Yohanes menggenapi janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama (seperti kepada Abraham dan Sara, Kej. 17-18; Elkana dan Hana, 1 Sam. 1:1-20), sementara kelahiran Yesus meresmikan era Perjanjian Baru.

2) Melalui Pewartaan Yohanes. Injil hari ini berbicara tentang Yohanes yang memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa (Lukas 3:3). Hal ini menggenapi nubuat Yesaya, yang menubuatkan bahwa seorang nabi besar akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Yesaya 40:3). Yohanes mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan adalah melalui pertobatan. Tanpa pertobatan, perayaan Adven dan Natal kita akan menjadi dangkal. Tidak ada artinya menghias rumah kita atau menikmati makanan bersama orang-orang terdekat jika kita tidak terlebih dahulu berusaha untuk memperbaharui hidup kita.

3) Melalui Kematian Yohanes. Kematian Yohanes terjadi di tangan para algojo Herodes. Ia telah menegur Herodes, penguasa Galilea, karena hidup dalam dosa, yakni mengambil istri saudaranya dan menceraikan istrinya sendiri. Hal ini membuat Herodes dan istrinya geram. Ketika ada kesempatan, Herodes, untuk menyenangkan hati istrinya, memerintahkan untuk mengeksekusi Yohanes (Luk 9:7-9; Mar 6:14-29; Mat 14:1-12). Yohanes dipenggal karena ia dengan setia memberitakan kebenaran, menyerukan pertobatan. Yesus juga pada akhirnya akan disalibkan karena memberitakan kebenaran Injil dan memanggil para pemimpin Yahudi di Yerusalem untuk bertobat. Pelajaran yang dapat kita ambil bukan hanya tentang bagaimana Yohanes wafat, tetapi juga tentang bagaimana ia hidup, yakni dengan setia memberitakan kebenaran, bahkan dengan mengorbankan nyawanya. Kita juga diundang untuk tidak hanya mengubah hidup kita sendiri, tetapi juga mendorong orang lain untuk bertobat, bahkan saat kita menghadapi penolakan.

Yohanes adalah pendahulu Yesus, di dalam kelahiran, kehidupan, dan kematiannya. Sepanjang hidupnya, Yohanes mempersiapkan jalan bagi Yesus. Inilah sebabnya mengapa Yohanes menjadi salah satu teladan terbaik dalam Alkitab yang dapat kita ikuti selama masa Adven ini.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

– Terinspirasi oleh Yohanes Pembaptis, bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita pada masa Adven ini?

– Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari teladan Yohanes?

– Seperti Yohanes, apakah kita bersedia mengundang keluarga, kerabat, dan teman-teman kita untuk bertobat dan membantu membawa mereka lebih dekat kepada Yesus?