Pengakuan Bartimeus

Hari Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [B]
27 Oktober 2024
Markus 10:46-52

Bartimeus adalah seorang yang buta, dan hidupnya penuh dengan penderitaan. Dunia kuno adalah tempat yang kejam dan bahkan tanpa belas kasihan bagi para penyandang disabilitas. Dalam beberapa budaya kuno, bayi yang lahir dengan ketidaksempurnaan fisik akan ditinggalkan di hutan atau dibuang ke jurang. Mereka dikutuk dan akan membawa kutukan bagi orang-orang di sekitarnya. Jika penyandang disabilitas selamat dari masa kanak-kanak, mereka akan terus terpinggirkan, dirundung dan diejek. Bartimeus mengemis, dan itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk bertahan hidup. Gerbang kota Yerikho adalah tempat yang ideal karena banyak orang yang akan melintasi jalan ini.

Namun, meskipun buta dan miskin, Bartimeus adalah orang pertama yang menyebut Yesus sebagai Putra Daud. Gelar “Putra Daud” adalah unik karena beberapa nubuat penting dalam Perjanjian Lama berbicara tentang putra Daud. Salah satu yang terkenal adalah dari 2 Samuel 7, yang mengatakan bahwa Allah akan menegakkan kerajaan putra Daud untuk selama-lamanya (ay.13). Nubuat serupa juga dapat ditemukan dalam Yesaya 9:6-7 dan Yeremia 23:5-6.

Jauh di dalam hatinya, Bartimeus tahu bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat ini. Bartimeus tahu Dia adalah Raja Israel untuk selama-lamanya. Ironisnya, tidak ada murid lain yang memanggil Yesus dengan gelar penting ini. Dibutuhkan seorang yang buta untuk melihat kebenaran. Kemudian, Yesus membenarkan pengakuan Bartimeus dan memberinya mukjizat penglihatan. Kisah ini diakhiri dengan Bartimeus yang mengikuti Yesus. Mungkin inilah alasan mengapa Markus dapat menulis kisah Bartimeus. Ia tetap menjadi pengikut Yesus bahkan setelah kematian dan kebangkitan Yesus, dan namanya dikenal oleh Gereja awal.

Bartimeus adalah salah satu dari sedikit tokoh yang mengakui identitas Yesus yang sebenarnya dalam Injil Markus. Ironisnya, tokoh-tokoh ini bukanlah pengikut Yesus. Roh-roh jahat menyebut Yesus sebagai ‘yang kudus dari Allah’ (Mrk. 1:24). Perwira Romawi, musuh orang Yahudi, mengakui Yesus sebagai Anak Allah (15:39). Perempuan dari Siria, tentunya bukan putri Israel, memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan (7:28). Satu-satunya murid yang mengakui identitas Yesus adalah Simon Petrus ketika ia mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (8:29). Namun, Petrus juga gagal memahami apa yang ia akui ketika Yesus menegurnya karena ia memiliki pemahaman yang salah tentang identitas sebagai Mesias.

Melalui Bartimeus dan tokoh-tokoh lainnya, Markus memberi kita sebuah pelajaran penting. Ya, kita adalah pengikut Kristus. Ya, kita dibaptis. Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu. Namun, itu tidak berarti kita melihat siapa Yesus. Meskipun Bartimeus buta secara fisik, ia memiliki iman yang memampukannya untuk melihat siapa Yesus sebenarnya, dan hal ini menyelamatkannya. Kita mungkin memiliki mata fisik yang sehat, tetapi apakah kita memiliki iman yang benar untuk melihat Yesus dan mengikuti-Nya?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan refleksi:
Kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Allah, tetapi apakah kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau malah kita menyembah ilah-ilah lain seperti uang, kesenangan, dan ketenaran? Kita mungkin mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja, tetapi apakah kita hidup sesuai dengan perkataan dan perintah Raja kita, atau malah apakah kita hanya melakukan apa pun yang ingin kita lakukan? Kita mengakui Yesus sebagai Juruselamat kita, tetapi apakah kita hidup sebagai orang yang telah diselamatkan dan ditebus, atau malah apakah kita masih diperbudak oleh dosa-dosa?

Yesus, Sang Imam Agung kita

Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [B]

20 Oktober 2024

Ibrani 4:14-16

Surat Ibrani menyebut Yesus sebagai Imam Agung kita. Sebagai umat Katolik, kita tidak asing dengan kata ‘imam’ karena imam adalah pemimpin liturgi atau pemimpin ibadah kita. Namun, penulis surat Ibrani tidak menyebut Yesus hanya sebagai imam biasa, melainkan sebagai Imam Agung. Mengapa penulis surat ini menyebut Yesus dengan gelar ini? Apa yang membedakan imam agung dengan imam-imam lainnya? Apakah maknanya bagi kita?

Pertama, kita perlu mengerti kata “imam”. Banyak dari kita sudah tahu bahwa seorang imam ditunjuk untuk memimpin ibadah, tetapi  ada satu tanggung jawab khusus yang hanya dapat dilakukan seorang imam dan sering kali luput dari perhatian kita. Dalam Alkitab dan banyak peradaban kuno, bagian paling penting dari ritual penyembahan adalah persembahan kurban. Pada umumnya, kurban terdiri dari persembahan sesuatu yang paling berharga kepada Tuhan. Dalam masyarakat agraris kuno, hewan seperti domba dan hasil panen seperti gandum dapat menjadi persembahan kurban. Dalam kasus pengorbanan hewan, ritual dimulai dengan umat menyerahkan hewan kepada imam, dan kemudian imam akan menyembelih hewan tersebut dengan memisahkan darah dan tubuhnya. Setelah itu, imam membawa hewan tersebut ke altar untuk dibakar sebagai simbol bahwa Tuhan telah menerima kurban tersebut. Dalam hal ini, seorang imam berfungsi sebagai perantara antara Tuhan dan umat.

Pemimpin di antara para imam disebut ‘imam agung’. Kata Ibrani untuk imam agung adalah כֹּהֵן גָּדוֹל, kohen gadol, yang secara harfiah berarti “imam besar”. Dalam bahasa Yunani, imam besar adalah ρχιερεύς, archiereus , dan dapat diterjemahkan sebagai “imam yang pertama.” Tentu saja, imam agung harus memimpin para imam lainnya dan bertanggung jawab atas seluruh sistem peribadahan. Namun, fungsi utamanya adalah menjadi perantara utama antara Tuhan dan umat. Dengan demikian, hanya dia yang dapat memimpin ibadah yang paling penting. Dalam Alkitab, hanya imam agung yang dapat mempersembahkan kurban kudus pada hari pendamaian (Yom Kippur) dan masuk ke ruang maha kudus sebagai bagian dari ritus yang membawa penebusan dosa-dosa bangsa Israel (lihat Imamat 16).

Dengan latar belakang alkitabiah ini, kita dapat lebih memahami mengapa penulis surat Ibrani menyebut Yesus sebagai Imam Agung kita. Yesus adalah pengantara tertinggi antara Allah Bapa dan kita. Selain itu, Yesus jauh lebih sempurna daripada imam agung lainnya karena Dia ilahi. Namun, Yesus juga sepenuhnya manusia, mengalami semua penderitaan dan berbagai masalah dan kelemahan manusia. Karena itu, Dia mengetahui dengan tepat pergumulan dan kegagalan kita. Namun, yang paling penting, Imam Agung kita juga menjadi kurban yang sempurna bagi Bapa ketika Dia mempersembahkan diri-Nya di kayu salib. Oleh karena itu, ketika kita datang kepada Yesus dengan kerendahan hati, kita dapat berharap dengan keyakinan bahwa Yesus akan menerima kita karena Dia mengenal kita, dan akhirnya, Dia akan membawa kita kepada Bapa dan kita menerima belas kasih.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memandang para imam di paroki/gereja kita? Apakah kita mengenali mereka sebagai orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Allah? Apakah kita tahu bahwa Ekaristi adalah kurban Yesus Kristus dan, dengan demikian, merupakan penyembahan kita yang sejati kepada Allah? Pengorbanan apakah yang kita bawa ke dalam Ekaristi? Apa yang membuat kita tidak dapat mendekati Yesus? Malu, takut, marah, kecewa, dendam, tidak pantas?

Hidup Bakti

Hari Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [B]

13 Oktober 2024

Markus 10:17-30

Gereja memahami kisah Yesus dan orang kaya ini sebagai salah satu dasar alkitabiah dari panggilan hidup bakti (consecrated life). Namun, apakah hidup bakti itu? Bagaimana kisah ini menjadi inspirasi bagi kita?

Hidup bakti adalah sebuah cara hidup yang radikal untuk mengikuti Yesus. Pada masa kini, kita dengan cepat mengenali pria dan wanita ini sebagai orang-orang yang mengenakan jubah khas, hidup selibat (tidak menikah), dan tinggal di dalam komunitas seperti pertapaan atau biara. Bentuk hidup ini disebut sebagai hidup bakti karena para pria dan wanita ‘membaktikan’ hidupnya untuk mencintai Tuhan secara lebih radikal. Namun, mengapa mereka harus menjalani kehidupan seperti ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lebih dekat kisah Yesus dan orang kaya.

Ada seorang pria yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mendasar yang kurang dalam hidupnya. Ketika Yesus datang, hatinya tahu bahwa Yesus tahu jawabannya. Ia bergegas mendatangi Yesus dan bertanya kepada-Nya bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Yesus menunjukkan perintah-perintah Allah, terutama yang berkaitan dengan mengasihi sesama (jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan hormatilah orang tuamu). Dengan segera, orang itu mengatakan kepada Yesus bahwa ia telah setia pada hukum-hukum ini. Yesus memandangnya dengan penuh perhatian dan mengasihinya karena keberaniannya untuk datang kepada-Nya. Yesus tahu bahwa orang ini tidak pernah melanggar perintah-perintah Allah, tetapi dia juga tidak memenuhi perintah pertama dan yang paling penting, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:5).”

Namun, Yesus tidak hanya mengatakan kebenaran ini secara langsung, tetapi merumuskannya kembali menjadi sesuatu yang lebih konkret dan radikal: “Kasihilah Aku (Yesus) dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”  Panggilan ini bersifat radikal karena mengharuskan orang tersebut untuk meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan berjalan bersama Yesus dalam perjalanan menuju salib. Ini radikal karena undangan Yesus bertentangan dengan pemahaman umum pada masa itu bahwa menjadi kaya adalah tanda berkat Tuhan (lihat Ul. 28:1-14; Ams. 10:22). Ini adalah hal yang radikal karena seluruh waktu, tenaga, perhatian, bahkan hidup kita adalah untuk Yesus.

Pria ini tidak pernah merugikan orang lain, mencuri apalagi membunuh, mungkin juga pergi ke sinagoge setiap hari Sabat untuk beribadat, dan sesekali pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Bait Allah. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia terpanggil untuk mengasihi Allah secara total. Sayangnya, ketika Yesus menawarkan kesempatan itu kepadanya, ia menghindar karena ia memiliki banyak harta. Apakah orang ini akan dihukum? Tentu tidak! Dia tidak akan dihukum dan akan tetap menjadi pewaris hidup yang kekal. Tetapi ia juga tidak dapat memenuhi kerinduan terdalamnya untuk mengasihi Allah secara radikal.

Pada masa kini, mengikuti Yesus secara radikal ini termanifestasi dalam diri pria dan wanita yang secara total memberikan diri mereka kepada Yesus dan Gereja. Para pria dan wanita ini tidak menikah, sehingga mereka dapat mendedikasikan waktu mereka untuk berdoa dan melayani. Mereka bekerja atau menerima donasi bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk mendukung kehidupan dan pelayanan mereka. Akhirnya, mereka dengan bebas menyerahkan kebebasan mereka untuk mengasihi Allah dan umat-Nya lebih penuh. Namun, Gereja memahami bahwa panggilan ini bukan untuk semua orang.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah secara total dan radikal? Apakah kita mengasihi Allah terlebih dahulu, atau kita mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu? Apakah yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Uang, kekayaan, profesi, ketenaran, hobi, atau hal-hal lain? Apakah kita dipanggil ke dalam hidup bakti? Apakah kita siap untuk menjawab ya atas panggilan Yesus?

Mengapa Musa mengizinkan perceraian?

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [B]
6 Oktober 2024
Markus 10:2-16

Orang-orang Farisi sekali lagi menguji Yesus. Kali ini, mereka mengajukan pertanyaan tentang perceraian. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia ‘mengubah’ hukum perceraian. Mengapa Yesus “menghapus” hukum perceraian?

Yesus menjawab para Farisi dengan menanyakan dasar dari hukum perceraian ini. Orang-orang Farisi menunjuk Musa sebagai sumber hukum karena dia mengizinkan perceraian selama sang suami memberikan surat cerai kepada istri (lihat Ul. 24:1). Kemudian, Yesus membalas, “Karena kekerasan hatimu, maka Ia menuliskan perintah ini kepadamu. Tetapi sejak awal penciptaan, ‘Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan’.” (Mar 10:5-6) Yesus menegaskan bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah, tetapi Musa terpaksa mengizinkannya karena “kekerasan hati” bangsa Israel. Namun, apakah kekerasan hati ini?

Kita perlu tahu bahwa bangsa Israel pada zaman Musa sangat terbiasa dengan praktik-praktik hidup Mesir kuno, termasuk perceraian. Di Mesir kuno, pernikahan pada dasarnya adalah acara pribadi, bukan agama. Pasangan itu sendiri yang mengatur pernikahan. Mereka akan menceraikan pasangan mereka jika mereka tidak lagi melihat pernikahan mereka menguntungkan. Tapi perceraian bukanlah satu-satunya solusi. Jika seorang pria merasa istri pertamanya tidak lagi menarik, ia dapat menikahi istri yang lain tanpa harus menceraikan istri pertamanya.

Ketika Tuhan membebaskan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan memperkenalkan kembali kehendak-Nya bahwa pernikahan itu kudus dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi pria dan wanita. Pernikahan tidak hanya didorong oleh faktor biologis atau budaya, tetapi juga didirikan oleh Allah sendiri. Oleh karena itu, Allah menetapkan bahwa pernikahan haruslah monogami dan tidak dapat diceraikan. Namun, memperkenalkan rencana awal Allah kepada bangsa Israel kuno terbukti sulit. Memang, bangsa Israel secara fisik telah dibebaskan dari Mesir, tetapi mentalitas mereka tetap diperbudak. Orang Israel mungkin dapat menerima pernikahan monogami, tetapi menambahkan persyaratan lain, yaitu ‘tidak boleh bercerai’ terlalu berlebihan dan terlalu cepat bagi mereka. Musa tahu bahwa jika dipaksakan, bangsa Israel akan melakukan lebih banyak pemberontakan, dan bahkan para pria akan membunuh istri mereka untuk menyingkirkan mereka. Oleh karena itu, Musa mentolerir perceraian selama hak-hak para wanita terlindungi melalui surat cerai.

Sekarang, ratusan tahun setelah Musa, Tuhan menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk membawa kehendak asli Tuhan ke dalam pernikahan. Oleh karena itu, Yesus datang bukan untuk ‘mengubah’ hukum perceraian, melainkan untuk memperkenalkan kembali kehendak Allah yang asli. Selain itu, Yesus juga membawa Roh Kudus untuk menciptakan kembali hati manusia, dari hati batu menjadi hati yang lembut. Sekarang, pilihan ada di tangan kita. Akankah kita mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup dan pernikahan kita dengan mengandalkan kasih karunia-Nya, atau sebaliknya, akankah kita menjadi keras kepala dan mengikuti rancangan kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi
Apakah kita berhati keras dan menolak kehendak Allah dalam hidup kita? Bagaimana kita memahami pernikahan? Apakah pernikahan merupakan kebutuhan biologis, konvensi sosial, atau sesuatu yang dilembagakan secara ilahi? Bagaimana perasaan kita tentang pernikahan? Apakah itu sebuah beban, kewajiban, atau berkat? Apa yang ingin kita capai dalam pernikahan? Apakah kesenangan, kesejahteraan, kenyamanan, atau kekudusan? Apa yang kita lakukan ketika kita menghadapi kesulitan dalam pernikahan? Apakah kita melihat pernikahan tanpa perceraian sebagai sebuah kutukan atau jalan menuju surga?

Dosa dan Kasih Allah

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa

29 September 2024

Markus 9:38-48

Beberapa orang tidak suka berbicara tentang dosa. Beberapa orang berpikir bahwa dosa tidak lagi relevan di dunia modern. Konsep ini merupakan pembatasan terhadap kebebasan dan kreativitas manusia. Sebagian orang lainnya melihatnya sebagai karangan Gereja untuk mengendalikan umatnya, terutama melalui rasa takut. Mereka yang berdosa akan dihukum di neraka! Yang lain menganggap bahwa berbicara tentang dosa tidak sesuai dengan Allah, yang adalah kasih. Bagi beberapa imam dan pengkhotbah, topik ini bahkan menjadi tabu untuk diwartakan. Namun, ini semua adalah kesalahpahaman. Pemahaman yang benar tentang dosa akan membawa kita pada penghargaan lebih penuh akan kasih Allah. Lalu bagaimana kita harus memahami konsep dosa?

Pertama, pemahaman dasar tentang dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, dan Allah membuat hukum-Nya bukan untuk membatasi kebebasan kita, tetapi justru sebaliknya. Hukum-hukum itu dibuat untuk melindungi kita dari bahaya, ancaman, dan bencana. Ini adalah tanda kasih Allah. Setiap pelanggaran terhadap hukum Allah membawa konsekuensi yang menghancurkan. Itu menghancurkan diri kita sendiri, orang lain, dan dunia. Aborsi membunuh bayi-bayi tak berdosa, menghancurkan panggilan kudus menjadi seorang ibu, dan memperlakukan tubuh perempuan yang suci sebagai alat belaka. Pornografi dan masturbasi tampaknya tidak terlalu menjadi masalah karena merupakan sesuatu yang ‘pribadi’. Tapi masturbasi menyebabkan masalah kesehatan mental karena kita semakin membutuhkan lebih banyak hormon dopamin (hormon kesenangan) untuk memuaskan kita. Kita tidak lagi bisa puas dengan hal-hal yang biasanya memuaskan kita, dan kita menjadi ketagihan. Sekali lagi, hal ini menyebabkan kita melihat tubuh kita dan orang lain hanya sebagai alat untuk memberikan kesenangan. Dengan mengikuti hukum-hukum Tuhan, kita tidak hanya menghindari bahaya dalam hidup kita tetapi juga berjalan di jalan kebahagiaan sejati.

Kedua, dosa adalah kontradiksi dari kasih Allah. Allah itu kasih, dan Dia mengasihi kita melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Sebagai sang Kekasih Ilahi, Dia menghendaki hal-hal yang terbaik terjadi pada kita, dan Dia menghendaki kita untuk bersatu dengan-Nya sebagai satu-satunya yang dapat memuaskan hasrat kita yang tak terbatas. Namun, cinta sejati tidak memaksa dan memberikan kebebasan untuk memilih dan mengasihi Dia. Robot dapat mematuhi semua perintah kita, tetapi tidak ada kasih karena robot tidak memiliki kebebasan. Seekor anjing Labrador dapat mematuhi kita dan memberikan pelukan penuh emosi, tetapi ini bukanlah cinta sejati, melainkan insting seekor anjing untuk melekat pada pemiliknya untuk bertahan hidup. Kita memiliki kebebasan sejati. Sayangnya, kita menyalahgunakan kebebasan kita untuk memilih sesuatu yang lebih rendah dari Allah dan, dengan demikian, melanggar hukum-Nya. Oleh karena itu, dosa adalah pilihan radikal untuk berpaling dari Tuhan. Neraka bukanlah hukuman Allah, melainkan keputusan kita untuk terpisah dari Allah, kebahagiaan sejati kita.

Oleh karena itu, ketika membaca Injil, kita segera menyadari bahwa jika ada satu hal yang paling dibenci oleh Yesus, itu adalah dosa. Dia tahu betul apa itu dosa dan apa akibatnya bagi kita manusia. Adam dan Hawa berdosa, dan mereka membawa seluruh umat manusia ke dalam spiral kegilaan dan keputusasaan. Yesus datang ke dunia ini untuk menawarkan pengampunan dosa dan menunjukkan kasih Allah di kayu salib sehingga kita dapat tergerak untuk bertobat. Yesus mengasihi dan dekat dengan orang-orang berdosa karena Dia menghendaki mereka untuk menerima pengampunan Allah.

Oleh karena itu, mewartakan tentang dosa dan pertobatan serta berdoa bagi orang-orang berdosa adalah turut ambil bagian dalam misi Yesus dan kasih Allah. Namun, jika kita menghindar dari memberitakan pertobatan dan bahkan mempromosikan konsep yang salah tentang dosa, kita mungkin pantas untuk dilempar ke laut dengan batu kilangan.”

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami konsep dosa? Apakah kita berbicara tentang dosa dan pertobatan, atau apakah kita berusaha menghindarinya? Apakah kita terus mengevaluasi dan mengoreksi diri kita sendiri? Apakah kita sering mengunjungi sakramen pengakuan dosa? Apakah kita mengundang orang lain untuk merefleksikan kasih dan pertobatan Allah?

Keagungan yang Sejati

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [B]

22 September 2024

Markus 9:30-37

Pertanyaan tentang menjadi besar atau agung adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benak para murid dan juga di benak kita. Apakah yang dimaksud dengan menjadi besar? Apakah kebesaran yang sesungguhnya? Apa yang membuat kita menjadi hebat? Apakah Yesus mengajarkan kita untuk mengejar keagungan, atau apakah Dia menghindarinya?

Para murid berdebat di antara mereka sendiri, “Siapakah yang terbesar? Dan pertanyaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan karena Yesus menyatakan jati diri-Nya. Dalam bab sebelumnya, Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia adalah Kristus atau Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Namun, Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa Mesias ini harus mengalami penolakan, penderitaan, dan kematian. Sayangnya, para murid tidak memahami kebenaran ini dan tetap bertahan dalam keyakinan lama mereka. Mereka mengira Yesus adalah Mesias seperti Raja Daud, yang akan memimpin Israel menuju kemenangan melawan musuh-musuh mereka. Mesias tidak hanya harus membebaskan Israel dari penindasan Romawi, tetapi juga membawa kemakmuran ekonomi, kebebasan beragama, dan pembaharuan. Berpikir bahwa seorang Mesias akan menderita dan kalah adalah hal yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima.

Namun, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajarkan tentang arti keagungan yang sebenarnya. Yesus tidak menentang gagasan kebesaran atau memiliki otoritas atau kekuasaan. Sebaliknya, Yesus menjelaskan bahwa untuk mencapai kebesaran yang sejati, seseorang harus menggunakan kuasa dan otoritasnya untuk melayani dan menjadi yang terakhir. Namun, apa yang dimaksud dengan melayani? Apakah cukup dengan bergabung dan melibatkan diri kita dalam program-program amal atau kerasulan? Apakah melayani sekedar berarti memberikan sumbangan kepada orang miskin atau Gereja?

Setelah Yesus mengajar para murid tentang keagungan yang sejati, Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah para murid-Nya dan memberkati anak itu. Dia berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia tidak menyambut Aku, melainkan Dia yang mengutus Aku.” Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk menjadi besar adalah dengan menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus. Lalu, di manakah kita menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus? Jawabannya adalah di dalam keluarga.

Menjadi orang tua, ayah, dan ibu adalah panggilan keagungan sejati. Menerima anak-anak kecil yang lemah dalam sukacita, membesarkan mereka dalam iman, dan akhirnya mempersembahkan mereka kepada Tuhan, semua ini membutuhkan pengorbanan seumur hidup. Hal ini secara praktis mengubah kita menjadi hamba yang rendah hati. Kebesaran ini tidak membuat kita menjadi terkenal, kaya secara materi, berkuasa secara politik, atau cantik secara fisik. Bahkan, kita menjadi sebaliknya! Tetapi hal ini memungkinkan kita untuk menerima Yesus dan Bapa dalam hidup kita. Yesus tampaknya berbicara tentang masa depan di mana anak-anak kecil ditolak dan bahkan dibunuh.

Akhirnya, keagungan sejati tidak ada di bumi ini, melainkan di surga. Tidak heran jika dalam tradisi Katolik, orang-orang kudus terbesar di surga adalah Maria, ibu Yesus, dan Yusuf, ayah angkat Yesus. Baik Maria maupun Yusuf menerima bayi kecil Yesus dalam hidup mereka dan membesarkan-Nya dengan penuh kasih dan sukacita. Mereka menjadi contoh utama kebesaran sejati.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami keagungan sejati? Apakah kita berusaha untuk menjadi hebat? Apakah kita melayani orang lain? Bagaimana caranya? Apakah kita juga berkorban untuk orang lain? Apa saja yang kita korbankan? Apakah kita menyadari menjadi orang tua sebagai panggilan hebat? Bagi para orang tua, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kita? Pengorbanan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita? Apakah kita sadar bahwa kita harus membawa anak-anak kita kepada Allah? Bagi mereka yang belum menikah, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kecil dalam hidup kita?

Sola Fide dan Surat Yakobus

Hari Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [B]

15 September 2024

Yakobus 2:14-18

Ketika Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik, ia mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa asli Jerman. Namun, ia tidak hanya menerjemahkan tetapi juga memilah-milah kitab-kitab dalam Alkitab. Dia menempatkan beberapa kitab di bagian lampiran, bukan di tempat biasanya, dan salah satunya adalah Surat Yakobus. Ia menjuluki surat tersebut sebagai ‘surat jerami’.  Untungnya, orang-orang Kristen pada umumnya tidak mengikuti rekomendasi Luther ini, dan tetap melihat surat itu sebagai kanonik atau bagian dari Kitab Suci. Pertanyaannya: mengapa Luther ingin menghapus surat ini dari Alkitab?

Alasan Luther melihat surat St. Yakobus sebagai ‘jerami’ atau tidak berguna adalah karena surat tersebut tidak sesuai dengan teologinya atau pemikirannya. Dalam kata pengantar untuk terjemahan Perjanjian Baru yang dibuatnya pada tahun 1522, ia berkomentar bahwa surat tersebut ‘tidak memiliki sifat Injili sama sekali’. Ia menilai bahwa surat tersebut bertentangan dengan keyakinannya akan keselamatan hanya melalui iman (dalam bahasa Latin, sola fide). Salah satu ayat yang menentang ide sola fide adalah Yakobus 2:24. “Kamu tahu, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”

Untuk memahami lebih jauh apa yang dimaksud oleh ayat ini, pertama-tama kita harus memahami ‘sola fide’. Martin Luther percaya bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Ketika kita berdosa, bagi Luther, kodrat kita benar-benar hancur, dan kita ditakdirkan untuk masuk neraka. Namun, pengorbanan Yesus di salib menyembunyikan kodrat kita yang rusak ini, dan kita dibenarkan karena Allah tidak melihat kita, tetapi Yesus di salib yang menutupi kebobrokan kita. Yang perlu kita lakukan adalah memiliki iman atau percaya kepada janji keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Luther menyangkal bahwa perbuatan yang kita lakukan, tidak peduli seberapa baik perbuatan itu, akan bermanfaat bagi pembenaran kita.

Sementara itu, Yakobus, saudara Tuhan kita dan juga uskup Yerusalem, menulis suratnya sekitar 1500 tahun sebelum Luther. Memang, ia tidak secara khusus menulis untuk menentang Luther, tetapi secara kebetulan, ia menulis untuk menentang mereka yang memiliki mentalitas seperti Luther. Selain membahas beberapa masalah dalam komunitasnya, seperti diskriminasi terhadap orang miskin, terutama dalam perayaan Ekaristi (2:1-6) dan pelanggaran Sepuluh Perintah Allah (2:6-13), Yakobus juga mengkritik beberapa orang yang mengklaim beriman kepada Yesus Kristus tetapi mengabaikan perbuatan cinta kasih. Iman yang didasarkan pada akal budi dan keyakinan tidaklah cukup untuk keselamatan. Yakobus mengajarkan bahwa iman yang menyelamatkan akan terwujud dalam kasih. Di sini, Yakobus sependapat dengan Santo Paulus yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi melalui “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6).

Akhirnya, Yakobus juga mengajarkan apa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Siapakah Aku?” Simon Petrus dengan tepat menjawab, “Engkau adalah Kristus.” Namun, pengakuan iman Petrus mengandung kebenaran yang lebih mendasar. Yesus mengajarkan bahwa mereka harus memikul salib mereka untuk mengikuti Kristus. Iman kepada Yesus mensyaratkan salib kita, yaitu pengorbanan kasih. Tidaklah cukup membiarkan Yesus memikul salib-Nya sementara kita duduk manis dan menyaksikan pengorbanan-Nya. Kita juga perlu mengambil bagian dalam salib-Nya.

Surat Yakobus adalah pengingat untuk tidak memilih ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan teologi kita, melainkan untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus, yang diturunkan kepada para rasul.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita beriman kepada Allah? Bagaimana kita memahami iman kita? Apakah kita menghidupi iman kita dalam karya kasih? Apa saja perbuatan kasih yang kita lakukan untuk mengekspresikan iman kita? Apakah kita mampu menjelaskan iman kita kepada orang-orang yang bertanya? Apakah kita membagikan iman kita? Bagaimanakah kita membagikan iman kita? Apakah orang-orang menjadi lebih dekat dengan Allah karena iman kita? Atau Apakah orang-orang menjauh dari Allah karena kita?

Firman yang Menyelamatkan

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [B]

8 September 2024

Markus 7:31-37

Yesus melakukan banyak mukjizat, dan Ia melakukannya dengan berbagai cara. Kadang-kadang, Ia menggunakan kontak fisik untuk melakukan mukjizat. Namun, cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan kata-kata. Yesus menghardik dan mengusir setan dengan perkataan-Nya (Mar. 1:25). Yesus menyembuhkan dan mengampuni dosa orang lumpuh dengan perkataan-Nya (Mar 2:5). Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang tuli dengan mengatakan ‘Efata’ (Mar 7:34), dan masih banyak lagi mukjizat-mukjizat lainnya. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus memilih menggunakan sabda-Nya untuk melakukan mukjizat-Nya? Apakah hanya sekedar untuk menyatakan fakta, atau ada sesuatu yang lebih dari itu?

Dengan melakukan mukjizat melalui sabda-Nya, Yesus menyatakan bahwa sabda-Nya memiliki otoritas yang sama dengan sabda Allah. Pada mulanya, Tuhan menciptakan dunia melalui firman-Nya yang penuh kuasa, bahkan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan. “Jadilah terang,” dan terang itu pun jadi. Ketika Yesus berkata, “Enyahlah!”, setan-setan itu terikat dan taat pada perkataan-Nya. Ketika Yesus berkata, “Talitakum,” seorang gadis muda dibangkitkan dari kematian. Ketika Yesus berkata, “Efata!” seorang yang tuli dan bisu dapat mendengar dan berbicara. Sabda Yesus mengungkapkan identitas dan otoritas ilahi-Nya.

Sama seperti Allah membagikan kuasa firman-Nya kepada Adam, sehingga Adam dapat menamai makhluk-makhluk lain dan memiliki otoritas atas mereka, demikian pula Yesus membagikan firman-Nya yang penuh kuasa kepada Gereja-Nya. Yesus berkata kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga dan apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 16:19).”  Mengikat dan melepaskan adalah istilah para rabi untuk otoritas mengajar, dan Petrus, sang Paus pertama, mengajar dengan menggunakan kata-kata yang mengikat kita bahkan sampai di surga. Yesus juga berkata kepada murid-murid-Nya, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menahan dosa orang, dosanya tetap ada (Yoh. 20:22-23).” Dengan mengambil bagian dalam sabda ilahi Yesus, para rasul berbagi misi untuk menyembuhkan dan menguduskan.

Sebagaimana Yesus mewariskan firman ilahi-Nya kepada para rasul-Nya, para rasul juga mewariskan firman yang sama kepada para penerus mereka dari generasi ke generasi. Kita, Gereja Katolik, memiliki kata-kata ilahi ini. Setiap kali seorang imam mengulangi kata-kata konsekrasi, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, Yesus hadir secara nyata dalam Ekaristi. Setiap kali, dalam pengakuan dosa, seorang imam mengucapkan, “Aku melepaskan engkau dari dosa-dosamu,” dosa-dosa kita sungguh diampuni.  Setiap kali, seorang imam (atau bahkan seorang awam) menuangkan air ke dahi kita dan berkata, “Yohanes, aku membaptismu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin,” kita terlahir sebagai ciptaan baru.  

Namun, firman ilahi ini bukan hanya milik para imam. Kata-kata ini adalah milik setiap anggota Gereja-Nya. Ketika seorang pria dan seorang wanita mengucapkan persetujuan dan janji pernikahan mereka, maka terciptalah kesatuan pernikahan yang tak terlihat namun tak terpisahkan. Ketika orang tua memberkati anak-anak mereka dengan tanda salib di dahi mereka, berkat Tuhan sungguh ada pada anak-anak ini. Misi kita adalah untuk menguduskan dunia, dan kita diperlengkapi untuk memenuhi tugas ini karena Yesus telah mempercayakan firman ilahi-Nya kepada kita.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita menggunakan kata-kata kita? Apakah kita membangun dan memberkati orang lain dengan kata-kata kita? Apakah kita menyakiti dan menghancurkan orang lain dengan kata-kata kita? Bagaimana kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan melalui kata-kata kita? Apakah kata-kata favorit kita? Apakah itu kata-kata yang baik dan membangun? Apakah firman Allah mengubah kita? Apakah kita sering mendengar dan membaca firman Allah dalam Alkitab?

Memahami Hukum Tahir-Najis

Hari Minggu ke-22 dalam Masa Biasa [B]

1 September 2024

Markus 7:1-8, 14-15, 21-23

Orang-orang Farisi mengkritik Yesus dan murid-murid-Nya karena tidak membasuh tangan sebelum makan. Kritik ini bukan berasal dari kepedulian mereka terhadap higenitas, melainkan untuk menghakimi ketaatan Yesus pada hukum tahir-najis, terutama berdasarkan tradisi para tua-tua. Namun, apakah hukum tahir-najis itu? Mengapa hal itu begitu penting bagi orang Farisi? Lalu, mengapa Yesus memilih untuk tidak mematuhinya?

Meskipun tidak sepenuhnya tentang moralitas (tentang tindakan yang baik atau salah), hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum tahir-najis menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual bersih (tahir) atau kotor (najis). Artinya, ketika orang Yahudi tahir, mereka akan diizinkan untuk memasuki area Bait Allah di Yerusalem dan kemudian mempersembahkan kurban. Ketika mereka dapat mempersembahkan kurban, mereka menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang Yahudi. Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal seperti mayat, cairan tubuh (darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (babi, unta, serangga tertentu, dll) dan penyakit kulit (kusta). Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pemurnian, biasanya dengan membasuh diri dengan air. Dengan demikian, hukum tahir-najis bermaksud untuk memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Namun, pada zaman Yesus, hukum tahir-najis meluas hingga ke luar Bait Allah dan bahkan mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Hukum tahir-najis menjadi penanda identitas bangsa Yahudi, yang membuat mereka berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, orang Yahudi harus selalu tahir, bahkan ketika mereka berada jauh dari Bait Allah, dan satu kelompok yang paling ketat menerapkannya adalah orang Farisi. Hukum tahir-najis juga berkembang dan menjadi kompleks karena para guru atau para rabbi menambahkan interpretasi mereka. Hukum tahir-najis menjadi sebuah sistem yang rumit yang mencekik orang-orang sederhana dan bukannya membantu mereka untuk menjadi layak bagi Bait Allah, tempat kediaman Tuhan.

Yesus menyadari tujuan sebenarnya dari hukum tahir-najis, dan dengan demikian, Yesus tidak mengikuti ekses yang dipaksakan oleh orang-orang Farisi. Namun, Yesus tidak hanya menentang ajaran orang Farisi yang berlebihan, Dia juga menyatakan bahwa hukum tahir-najis telah mencapai tujuannya. Jika tujuan dari hukum tahir-najis adalah untuk menjaga orang-orang yang tidak layak memasuki Bait Allah karena Bait Allah adalah tempat kudus Tuhan, tetapi sekarang, Yesus, Tuhan yang telah menjadi manusia, tidak lagi berada di Bait Allah, tetapi di tengah-tengah umat-Nya. Dia menyentuh orang kusta dan membuatnya menjadi tahir. Dia menjamah perempuan dengan pendarahan dan membuatnya menjadi tahir. Akhirnya, Yesus akan mati di kayu salib, dan tubuh-Nya akan menjadi sumber kenajisan, namun Dia bangkit, dan tubuh-Nya menjadi sumber kekudusan.

Yesus adalah Imanuel, Tuhan beserta kita. Tidak ada lagi hukum tahir-najis. Namun, Yesus juga mengajarkan dengan tegas bahwa meskipun kita tidak lagi terikat oleh hukum tahir-najis, berbuat dosa atau terpisah dari Allah tetap menjadi pilihan kita. Sekarang, setiap detik dalam hidup kita, setiap tempat yang kita datangi, dan semua yang kita lakukan adalah kesempatan untuk bersama dengan Yesus atau jauh dari-Nya.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Di mana dan kapan kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita sadar bahwa Tuhan menyertai kita? Apakah kita sadar bahwa setiap pilihan adalah kesempatan untuk memuliakan Dia? Apakah kita mengotak-kotakkan Tuhan hanya di Gereja atau di waktu-waktu doa? Apakah kita sadar bahwa dosa-dosa membuat kita najis dan jauh dari Allah? Apakah kita tahu bahwa kita tidak dapat menerima perjamuan kudus ketika kita bertahan dalam dosa-dosa berat kita? Apakah saya pergi ke pengakuan dosa secara teratur?

Tunduklah pada Suamimu (?)

Hari Minggu ke-21 dalam Waktu Biasa [B]
25 Agustus 2024
Efesus 5:21-32

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus memerintahkan para istri untuk tunduk pada suami mereka, tidak hanya dalam hal ekonomi atau membesarkan anak tetapi dalam segala hal. Ajaran Santo Paulus ini tampak ketinggalan zaman, tidak relevan lagi dan bahkan salah. Bukankah perempuan dan laki-laki itu setara? Mengapa para istri harus taat kepada suami dalam segala hal? Apakah para wanita hanyalah budak dari suami mereka?

Pertama, kita perlu mengetahui konteks historis dari Paulus. Pada masa itu, wanita memang dianggap tidak setara dengan pria. Kecuali beberapa perempuan yang luar biasa, perempuan diperlakukan sebagai milik laki-laki. Sementara pria bekerja di luar, wanita tinggal di rumah. Para istri harus mengurus rumah, melahirkan anak, dan membesarkan mereka. Umumnya, perempuan tidak memiliki hak atas warisan, apalagi memiliki hak politik. Itu adalah waktu yang buruk bagi perempuan untuk hidup.

Paulus menyadari situasi ini dan menantangnya. Bagaimana? Dia menulis surat yang tidak hanya ditujukan kepada suami, tetapi juga ditujukan kepada para istri! Pada waktu itu, wanita tidak menerima surat, dan jika mereka menerima surat, surat itu harus melalui suami mereka. Dengan tindakan sederhana ini, Paulus tidak hanya menantang mentalitas budaya pada masa itu`, tetapi juga menegaskan tujuan awal Allah. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej. 1:27).” Baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah.

Namun, Paulus juga mengakui bahwa meskipun pria dan wanita memiliki martabat yang sama, mereka memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Secara biologis, pria secara fisik lebih kuat dan, dengan demikian, bertanggung jawab untuk melindungi dan menafkahi. Sebagai perbandingan, perempuan memiliki karakter untuk memberi dan memelihara kehidupan. Baik pria maupun wanita saling melengkapi satu sama lain. Pada saat yang sama, hubungan timbal balik ini menciptakan sebuah komunitas kecil bernama pernikahan, dan keluarga. Dan, seperti kelompok atau komunitas lainnya, pernikahan mengandaikan adanya tatanan dan hirarki agar dapat berfungsi dengan baik. Kata ‘tunduk’ yang digunakan oleh Santo Paulus dalam bahasa Yunani adalah ‘ὑποτάσσω (hupotasso)’ yang secara harafiah berarti ‘di bawah pada sebuah tatanan’. Oleh karena itu, ‘tunduk’ berarti berada di bawah tatanan yang tepat. Tidak heran jika Santo Paulus memulai dengan sebuah perintah kepada suami dan istri, “Hendaklah kamu tunduk yang satu kepada yang lain sebagai tanda hormatmu kepada Kristus!” karena keduanya, suami dan istri, harus berada di bawah tatanan yang benar. Namun, tatanan macam apa?

Di sinilah kontribusi unik Paulus. Suami dan istri adalah seperti hubungan antara Yesus dan Gereja, mempelai-Nya. Seperti Yesus, suami adalah kepala dan figur otoritas. Namun, Paulus juga mengingatkan kita bahwa tatanan yang mengatur Yesus dan Gereja-Nya adalah kasih. Demikian juga, otoritas yang diberikan kepada para pria adalah untuk mengasihi istri mereka. Pria mengasihi istri mereka sampai mati, dan hanya dengan kematian mereka dapat memimpin istri mereka dalam kekudusan. Tanpa mati terhadap diri mereka sendiri, otoritas pria berubah menjadi tatanan yang penuh teror, dan wanita akan memberontak. Pernikahan menjadi tidak bahagia dan bahkan runtuh. Hanya ketika pria dan wanita menundukkan diri mereka pada tatanan kasih, mereka akan mencapai tujuan pernikahan, yaitu kekudusan.

Surabaya
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:
Untuk para suami: bagaimana Engkau mengasihi istrimu? Apakah Engkau rela mati untuk istrimu? Siap mati untuk Kesombongan, kemarahan, keegoisan? Apakah pernah Engkau menyakiti istrimu? Apakah Engkau meminta maaf kepada istrimu ketika Engkau melakukan kesalahan? Apakah Engkau memimpin istrimu ke dalam kekudusan? Bagaimana Engkau memimpin istrimu ke dalam kekudusan? Apakah Engkau seorang kepala/pemimpin keluarga yang baik?

Untuk para istri: bagaimana Engkau mengasihi suamimu? Apakah Engkau menaati suamimu? Apakah Engkau menolong suamimu untuk menjadi suami dan ayah yang baik? Bagaimana Engkau menolong suamimu untuk hidup dalam kekudusan? Apakah Engkau pernah menyakiti hati suamimu?