Our Catholic Faith

27th Sunday in Ordinary Time [C] – October 6, 2019 – Luke 17:5-10

mustard seed n crossIf there is one most powerful force in the universe, it will be faith. Jesus teaches us that even faith as small as a mustard seed can do the impossible. Jesus preaches that with this little faith, we can command a sycamore tree be uprooted and be planted in the sea. One of the smallest things on earth can move the most significant reality in the world. The sycamore tree has both deep, strong and widespread roots. It is just impossible to uproot it when it has grown mature. Yet, Jesus surprises further even by saying that we can replant this on the bed of the ocean. That makes it doubly impossible. Jesus is pushing his teaching on faith beyond natural human reasoning!

The question is whether Jesus is merely exaggerating the power of faith, or He is unveiling the deepest of truth of faith. To answer this question, we need to know first what is faith? Surely there are several definitions of faith. In the broadest sense, it is a belief in the divine, something that is much more powerful than us, something beyond us. In many religious traditions, this transcendence is a person that is called God. This faith makes us different those who claim themselves as atheists. In narrower sense, it refers to a belief in a particular set of teachings about the divine. In this sense, the Catholic faith is different from the Protestant Lutheran faith.

St. Thomas Aquinas reminds us that faith is basically an ascent of the intellect. This is precisely what faith is mighty. It does not rely on earthly possession, nor our biological nature, nor our emotions. If we base our faith on moods, every time, we feel unhappy or depressed, and we may lose our faith. Mother Teresa of Calcutta once wrote in her diary that she did not feel the presence of God in her life for almost ten years. If she had depended on her emotion, she would have lost her faith. If we place our faith in our bodily wellbeing, the moment we get sick, or our body weakens, we may lose faith. Padre Pio of Pietrelcina received the gift of stigmata and had to endure the excruciating pain of the crucifixion for more than 50 years. Had he relied on his body, he would have lost his faith long time ago.

It is the ascent of the intellect that makes faith unbelievably powerful. When I was ordained to both to the diaconate and to the priesthood, especially during the most essential part of the ceremony, the laying of bishop’s hands on my head, I confess that I did not feel anything but a little pressure on my head. Does it mean my ordination invalid? Fortunately, the validity of my ordination is not based on my feelings! It is the faith, my faith, my bishop’s faith, the faith of the people, the faith of the Church. It is the faith that allows the unseen, unfelt grace of God to transform my soul into a soul of Jesus, the priest.

Our Catholic faith is indeed the mustard seed that moves a mountain. It is the faith that make our ears to hear the Word of God in the ordinary pages of the Scriptures. It is the faith that opens our minds to see the Body of Christ in a small tiny bread. It is the faith that encourages us to be humble before God and confess our sins before a priest. It is the faith that empowers many Christians to persevere in persecutions and to readily give their blood for Jesus. It is the faith that enables us to sacrifice our lives for others and to love the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Katolik kita

Minggu ke-27 dalam Waktu Biasa [C] – 6 Oktober 2019 – Lukas 17: 5-10

faith n fishJika ada satu kekuatan paling dahsyat di alam semesta, ini adalah iman. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman sekecil biji sesawi dapat melakukan hal yang mustahil. Yesus menyatakan bahwa dengan iman yang kecil ini, kita dapat memerintahkan pohon ara dicabut dan ditanam di laut. Salah satu hal terkecil di bumi dapat menggerakkan realitas paling besar di dunia. Pohon ara memiliki akar yang dalam, kuat dan menyebar. Tidak mungkin mencabutnya ketika sudah dewasa. Namun, Yesus bahkan mengatakan bahwa kita tidak hanya mampu mencabutnya tetapi juga menanam kembali ini di dasar samudera. Itu membuatnya mustahilnya doble! Inilah hebatnya iman yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah apakah Yesus hanya melebih-lebihkan kekuatan iman, atau Ia sedang mengungkap kebenaran iman yang paling dalam. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu dulu apa itu iman? Tentunya ada beberapa definisi iman. Dalam arti yang lebih luas, iman adalah kepercayaan pada yang ilahi, sesuatu yang jauh lebih kuat dari kita. Dalam banyak tradisi keagamaan, yang ilahi ini adalah pribadi yang disebut Tuhan. Iman ini membuat kita berbeda dengan mereka yang mengklaim diri mereka sebagai ateis. Dalam arti yang lebih sempit, ini merujuk pada kepercayaan pada serangkaian ajaran tertentu tentang yang ilahi. Dalam pengertian ini, iman Katolik berbeda dari iman Lutheran Protestan.

Thomas Aquinas mengingatkan kita bahwa iman pada dasarnya adalah persetujuan dari akal budi dan kehendak. Inilah kenapa iman menjadi luar biasa kuat. Iman tidak bergantung pada kepemilikan duniawi, atau sifat biologis kita, atau emosi kita. Jika kita mendasarkan iman kita pada suasana hati, setiap saat kita merasa tidak bahagia atau tertekan, kita mungkin kehilangan iman kita. Bunda Teresa dari Calcutta pernah menulis dalam buku hariannya bahwa dia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya selama hampir sepuluh tahun. Jika dia hanya bergantung pada emosinya, dia akan kehilangan imannya. Jika kita menempatkan iman kita pada kesejahteraan tubuh kita, saat kita sakit, atau tubuh kita melemah, kita mungkin kehilangan iman. Padre Pio dari Pietrelcina menerima karisma stigmata dan harus menanggung rasa sakit yang luar biasa penyaliban selama lebih dari 50 tahun. Jika dia mengandalkan tubuhnya, dia akan kehilangan imannya juga.

Persetujuan akal budi inilah yang membuat iman sangat kuat. Ketika saya ditahbiskan menjadi imam, bagian yang terpenting dari upacara ini adalah penumpangan tangan uskup di atas kepala saya. Namun, saya mengakui bahwa saya tidak merasakan apa pun kecuali sedikit tekanan di kepala saya. Apakah itu berarti tahbisan saya tidak valid? Syukurnya, validitas penahbisan saya tidak didasarkan pada perasaan saya! Ini adalah iman, iman saya, iman uskup saya, iman umat, iman Gereja. Imanlah yang memungkinkan rahmat Allah yang tak terlihat dan tak terasa mengubah jiwa saya menjadi seperti jiwa Yesus, sang imam.

Iman Katolik kita memang benih sesawi yang menggerakkan gunung. Iman inilah yang membuka pikiran kita untuk melihat Tubuh Kristus dalam roti kecil putih tak berasa. Iman inilah yang mendorong kita untuk menjadi rendah hati di hadapan Allah dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan seorang imam. Iman inilah yang memberdayakan banyak orang beriman untuk bertahan dalam penganiayaan dan siap memberikan darah mereka bagi Yesus. Iman yang memampukan kita untuk mengorbankan hidup kita untuk orang lain dan untuk mengasihi sampai akhirnya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rich Man and Lazarus

Reflection on the 26th Sunday in Ordinary Time [C] – September 29, 2019 – Luke 16:19-31

LazarusOnce again, we listen to one of Jesus’s most remarkable stories. There is a rich man, and this guy is insanely wealthy. He is described as someone clothed with purple and fine linen. In ancient time, fine purple linen is an utmost luxury, and usually only nobilities could afford to buy this kind of cloth. Before the coming of synthetic coloring, purple dye is coming from snails of Mediterranean Sea, and it takes thousands of snails just to dye one ordinary garment. This rich guy is also throwing party every night. At the time of Jesus, where majority must toil to earn a little and to have something to eat, to enjoy feast every night is madly extravagant. At that time, fork, knife, and napkins were not common; thus, people are eating with their hands. In very wealthy houses, they will cleanse their hands by wiping them on hunks of bread that will be thrown away. These are pieces of bread Lazarus longs to receive.

Lazarus is a Latinized form of Eleazar, meaning “God is my help.” Yet, it seems that he does not get much help from the Lord during his lifetime. He is a beggar, and as one living with terrible hygiene, skin diseases come and plague his body. Even the dogs are licking his wounds. He is now no different from a dog! However, God is just and gives His help to Lazarus in his death. He is brought by the angels to Abraham’s bosom to receive comfort, while the superrich guy is thrown to hell.

This is a powerful story that reminds us that apathy can send us to hell. The rich guy possesses tremendous amount of wealth, and yet he closes his eyes on his brother who is greatly in distress. A deeper root of apathy is just our selfishness. We only care about ourselves. We notice how the rich guy in hell asks Lazarus to quench his thirst, his immediate need. Then, the rich guy suddenly remembers that he has other brothers and he wants Lazarus to warn them. It might be a hint of empathy, but it can be the sign of deeper selfishness. He wants only those close to him are saved. He never utters any single word of sorry to Lazarus, for being too cruel. Fr. Richard Rohr, a Franciscan spiritual writer, once says, “The ego hates losing – even to God.”

God hates apathy because apathy is directly opposed to His mercy. The word Mercy in Latin is Misericordia, and it means the heart of those who are suffering. In the Bible, if there is one thing that always moves God, it is when someone begs for mercy. Pope Benedict XVI reminds us that God is mercy, and He cannot be but merciful. Thus, apathy is simply against God; it is a rejection of heaven.

Surely, we do not have to solve all the problem of the world; neither do we have to become the wealthiest guy in the world to care for others. We just need to look outside ourselves, outside our gadgets, outside our social media, outside places and people that give us comfort. Perhaps, our kids need someone to talk with, someone who can listen without judging. Maybe, the person beside us is having a bad day, and our little smile may help significantly. After all, Mother Teresa of Calcutta once said, “We shall never know all the good that a simple smile can do.”

Let us make our mission today to say a kind word and do a kind deed to someone who needs it. As Mother Teresa once again says, “Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Kaya dan Lazarus

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [C] – 29 September 2019 – Lukas 16: 19-31

The Rich Man and Lazarus - Luke 16:19-31

Sekali lagi, kita mendengarkan salah satu kisah Yesus yang sangat mengesankan. Ada seorang yang sangat kaya. Dia digambarkan sebagai seseorang yang berpakaian jubah ungu dan halus. Pada zaman itu, kain ungu yang halus adalah kemewahan tak terbayangkan, dan biasanya hanya bangsawan yang mampu membeli kain semacam ini. Sebelum adanya pewarnaan sintetis, pewarna ungu berasal dari siput Laut Mediterania, dan dibutuhkan ribuan siput hanya untuk mewarnai satu pakaian biasa. Pria kaya ini juga mengadakan pesta setiap malam. Pada zaman Yesus, di mana mayoritas harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit dan memiliki sesuatu untuk dimakan, untuk menikmati pesta setiap malam adalah sebuah kegilaan. Pada waktu itu, orang makan masih menggunakan tangan. Di rumah-rumah orang yang sangat kaya, mereka akan membersihkan tangan mereka dengan menyekanya pada roti yang kemudian dibuang. Ini adalah potongan roti yang diterima Lazarus.

Lazarus adalah bentuk latin dari kata Ibrani Eleazar, yang berarti “Tuhan adalah pertolongan saya.” Namun, tampaknya ia tidak mendapatkan banyak bantuan dari Tuhan selama masa hidupnya. Dia adalah seorang pengemis, dan sebagai orang yang hidup dengan kebersihan yang buruk, penyakit kulit datang dan menghancurkan tubuhnya. Bahkan anjing-anjing itu menjilati luka-lukanya. Dia sekarang tidak berbeda dari seekor anjing! Namun, Tuhan itu adil dan memberikan bantuan-Nya kepada Lazarus dalam kematiannya. Dia dibawa oleh malaikat ke pangkuan Abraham untuk menerima penghiburan, sementara pria super kaya terlempar ke neraka.

Ini adalah kisah yang mengingatkan kita bahwa sikap apatis dapat mengirim kita ke neraka. Orang kaya itu memiliki kekayaan luar biasa, namun ia menutup mata pada saudaranya yang sangat kesulitan. Akar apatis yang lebih dalam sebenarnya keegoisan kita. Kita hanya peduli pada diri sendiri. Kita perhatikan bagaimana orang kaya di neraka meminta Lazarus untuk memuaskan dahaga, hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Kemudian, pria kaya itu tiba-tiba ingat bahwa ia memiliki saudara laki-laki lain dan ia ingin Lazarus memperingatkan mereka. Hal ini mungkin ada sedikit empati, tetapi hal ini bisa menjadi tanda keegoisan yang lebih dalam. Dia ingin hanya mereka yang dekat dengannya yang diselamatkan. Dia tidak pernah mengucapkan kata maaf pada Lazarus. Dia hanya memikirkan dirinya bahkan saat di neraka.

 Tuhan membenci sikap apatis karena sikap apatis secara langsung bertentangan dengan belas kasihan-Nya. Kata Belas kasih dalam bahasa Latin adalah Misericordia, dan itu berarti hati kepada mereka yang menderita. Dalam Alkitab, jika ada satu hal yang selalu menggerakkan Tuhan, itu adalah ketika seseorang memohon belas kasihan. Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa Tuhan itu belas kasihan, dan Dia tidak bisa tidak berbelas kasih. Jadi, apatis melawan Tuhan; itu adalah penolakan dari surga.

Tentunya, kita tidak harus menyelesaikan semua masalah dunia; kita juga tidak harus menjadi orang terkaya di dunia untuk memberi perhatian kita kepada sesama. Kita hanya perlu melihat ke luar diri kita sendiri, di luar gadget kita, di luar media sosial kita, di luar tempat dan orang-orang yang memberi kita kenyamanan. Mungkin, anak-anak kita membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Mungkin, orang di samping kita mengalami hari yang buruk, dan senyum kecil kita dapat membantu secara signifikan. Bagaimanapun, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Kita tidak akan pernah tahu semua kebaikan yang dapat dilakukan dengan senyum sederhana.”

Mari kita membuat misi hari ini untuk mengucapkan kata-kata baik dan melakukan perbuatan baik kepada seseorang yang membutuhkannya. Dan Bunda Teresa sekali lagi berkata, “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah untuk diucapkan, tetapi gema mereka benar-benar tak ada habisnya.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dealing with Mammon

25th Sunday in Ordinary Time [C] – September 22, 2019 – Luke 16:1-13

money for othersThere is something strange in our Gospel today. Jesus is praising the cunning steward. Why does Jesus commend his shrewd action? To understand Jesus’ words, we need to comprehend first what really takes place with this servant and his master.

There is a steward who had been entrusted by his master to take care of his master’s house and possession, and yet, instead doing his job, he prefers to squander his master’s wealth and betrays his master’s trust. Angered master does what he is expected to do. He fires his useless servant. Yet, upon this impending judgment, the servant realizes that he is not able to dig, meaning he cannot labor in the farmland or at the construction sites. He is also ashamed to become a beggar. Then, he engineers a way out. He calls all his master’s debtors and cut into half all their debts by manipulating their letter of agreement. By doing this, he is doing a favor to them and making them as their friends. This is to secure way to survive after his expulsion. Surely this is manipulation and corruption, and yet he is praised for doing so. What’s going on?

Jesus gives us an example of how smart the children of this world manage their affairs. In the time of crisis, the wicked servant is able to discern well what is most important in his life, that is his survival. For a while, the servant is attached to the wealth of his master and spending them as if this money is his. But, when he realizes he is in the great trouble, he makes the right choice. He detaches himself from his addiction from wealth and make them as a means to achieve his survival. Jesus then compares the children of this world, and the children of light. If the children of this world can use and manipulate the material possession for their earthly motives, so the children of light shall use the same wealth to attain even a loftier goal.

This teaching of Jesus is important and massive implication. We are not only allowed, but even encouraged to use the material goods and wealth in order to reach heaven. Jesus even uses a stronger term: make friends for yourself with dishonest wealth! Surely, it does not mean we can buy heaven, or we can bribe God! We cannot never do those things. These material possession and money serve us as means to live decent lives, help each other and worship God.

The problem is that we, the children of light, are not friends with wealth. We either hate money or we love money. Firstly, some of us may have a perspective that money is evil, dangerous and leading to sin. Thus, when we hate money, we detest also those who have money. The hatred of money may lead to hatred of others, and we may fail to fulfill Christ’s commandment: to love one another. Secondly, many of us love money. We are attached to earthly wealth that we forget their true purpose. We make means into the end, and end into the means. We turn our family, friends, employees, religion, even God as tools to gain more and more money. It is a disheartening reality nowadays that some people create new religions and churches to enrich themselves. We are only to love God and to love each other for the love of God, but never money. We make friends with earthly wealth in order for us to gain heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan dan Mamon

Minggu Biasa ke-25 [C] – 22 September 2019 – Lukas 16: 1-13

wealth growingAda sesuatu yang aneh dalam Injil kita hari ini. Yesus memuji pelayan yang curang itu. Mengapa Yesus memuji tindakan cerdiknya? Untuk memahami kata-kata Yesus, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi dengan hamba ini dan tuannya.

Ada seorang hamba yang telah dipercayakan oleh tuannya untuk mengurus rumah dan kepemilikan tuannya, namun, alih-alih melakukan pekerjaannya, ia lebih memilih untuk menghambur-hamburkan kekayaan tuannya dan mengkhianati kepercayaan tuannya. Tuannya tentu menjadi marah. Dia memecat hambanya yang tidak berguna itu. Namun, sebelum ia diusir oleh tuannya, sang hamba menyadari bahwa ia tidak dapat menggali, yang berarti ia tidak dapat bekerja di tanah pertanian atau di pekerjaan bangunan. Dia juga malu menjadi pengemis. Lalu, ia merekayasa jalan keluar. Dia memanggil semua orang yang berhutang pada tuannya dan menghapuskan sebagian dari  utang-utang mereka dengan memanipulasi surat perjanjian mereka. Tentunya, orang-orang ini senang hutang mereka berkurang. Dengan melakukan ini, sang hamba melakukan hal menguntungkan bagi dia dan para pengutang, dan menjadikan mereka sebagai teman mereka. Dan jika diusir oleh tuannya, dia memiliki teman untuk menampungnya dan dia bisa bertahan hidup. Sejatinya ini adalah sebuah manipulasi dan korupsi, namun ia malah dipuji karena melakukannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Yesus memberi kita hamba yang cerdik ini sebagai sebuah contoh tentang seberapa pintarnya anak-anak di dunia ini mengelola urusan mereka. Di masa krisis, hamba yang jahat mampu membedakan dengan baik apa yang paling penting dalam hidupnya, yaitu kelangsungan dan masa depan hidupnya. Pada awalnya, hamba terikat pada kekayaan tuannya dan menghambur-hamburkannya seolah-olah uang ini adalah miliknya. Tetapi, ketika dia menyadari bahwa dia berada dalam kesulitan besar, dia membuat pilihan yang tepat. Dia melepaskan diri dari kecanduannya dari kekayaan dan menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai kelangsungan hidupnya. Yesus kemudian membandingkan anak-anak dunia ini dengan anak-anak terang. Jika anak-anak di dunia ini dapat menggunakan dan memanipulasi kepemilikan materi untuk motif duniawi mereka, anak-anak terang pun seharusnya menggunakan kekayaan yang sama untuk mencapai bahkan tujuan yang lebih tinggi.

Ajaran Yesus ini memiliki implikasi penting dan masif. Kita tidak hanya diizinkan, tetapi bahkan didorong untuk menggunakan barang-barang materi dan kekayaan untuk mencapai surga. Yesus bahkan menggunakan istilah yang lebih kuat: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan kekayaan! Tentunya, itu tidak berarti kita dapat membeli surga, atau kita dapat menyuap Tuhan! Kita tidak bisa melakukan hal-hal itu. Kepemilikan materi dan uang ini ada sebagai sarana untuk hidup yang layak, membantu sesama dan menyembah Tuhan.

Masalahnya adalah kita, anak-anak terang, tidak tahu berteman dengan kekayaan. Ada dua ekstrem: entah kita benci uang atau kita cinta uang. Pertama, beberapa dari kita mungkin memiliki perspektif bahwa uang itu jahat, berbahaya dan sebuah godaan untuk dosa. Jadi, ketika kita membenci uang, kita membenci juga mereka yang punya uang. Kebencian terhadap uang dapat menyebabkan kebencian terhadap orang lain, dan kita bisa gagal memenuhi perintah Kristus: untuk saling mengasihi. Kedua, banyak dari kita cinta uang. Kita terikat pada kekayaan duniawi bahwa kita melupakan tujuan sejati kita. Kita membuat sarana menjadi tujuan, dan tujuan menjadi sarana. Kita menjadikan keluarga, teman, karyawan, agama, bahkan Tuhan kita sebagai sekedar sarana untuk mendapatkan lebih banyak uang. Adalah kenyataan yang menyedihkan saat ini bahwa beberapa orang membuat agama dan gereja baru untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kita hanya mencintai Tuhan dan mencintai sesama demi cinta Tuhan, tetapi tidak pernah uang. Kita berteman dengan kekayaan duniawi agar kita mendapatkan surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Heart of the Gospel

Reflection on the 24th Sunday in Ordinary Time [C] – September 15, 2019 – Luke 15:1-32

shepherdChapter 15 of the Gospel of Luke contains three of the most heartwarming as well as powerful parables in the entire Bible. These three parables are known as the parable of the lost sheep, the parable of the lost coin, and the parable of the prodigal son. If we look closer into these three parables, what is so stunning and astonishing is how Jesus bends, twists and stretches human logic and natural tendency to nail His point.

In ancient Israel, shepherds knew that to pastor the flock of sheep was not an easy job because they had to lead their flocks in constant search for food and water in the wilderness. Sheep was naturally dumb animal and possessed no natural defense mechanism. As a sheep looked for food, it quickly went astray and was exposed to imminent threats like wolves, hyaenas or robbers. The shepherd had to exert extra effort to watch over their sheep. Yet, occasionally, a sheep or two got lost, and the shepherd had to go into search and rescue mission.

However, Jesus tells us about a good shepherd who dares to leave the other sheep to search for a single lost sheep. Along the way, he may stumble upon life-threating dangers like robbers or pack of wolves. There is no assurance that he will find his sheep. He is practically risking his own life for this dumb sheep. What even remarkable is that after the shepherd discovers his lost animal, he rejoices exceedingly and throws a party for the finding. His mission is a huge success, and it is time to share the joy with others. It is simply heartwarming story. Then, when Jesus’ listeners are still mesmerized, Jesus drops the bomb. He points out that God is this good shepherd! God is the woman who rejoices for the small coin. God is the father who accepts and celebrates for his runaway son who returns. Through these parables, Jesus teaches us our God is merciful, and His mercy is beyond our wildest imagination. This is why they have been called “the Gospel of the Gospel” because the three parables carry the heart of the Gospel, that is the mercy of God.

Every one of us is like the lost sheep, the lost coin or the lost son. There are points in our lives we are so low and feeling meaningless. No amount of worldly happiness can fill our hearts until Jesus finds us. Carolyn Kolleger was a successful American model and movie actress. As a baby, she was baptized Catholic, but she never knew and loved her faith. As a model, she never thought anything else but herself. She also got married to Erwin Kolleger, a businessman, who enjoyed worldly pleasures. They were rich, throwing a lot of parties, drinking alcohol and even consuming drugs. Until she got pregnant. She did not want to lose her career and was pushed by her husband, she aborted the baby. She did it not only once but thrice. She got depressed, and her marriage was about to collapse. Until a priest came and helped Carolyn and Edwin. They began to meet a Catholic counselor who helped their marriage. Carolyn decided to repent and go back They were received back into the Catholic Church. She prayed the rosary and read the Bible on more regular basis, and attended the Eucharist. Eventually her husband also followed her and rebuilt their marriage and family, not based on worldly measures, but faith, hope, and love. They were blessed with four children and find true happiness.

This is our God, a compassionate and merciful God who tirelessly seeks His lost sons and daughter.

Hati dari segala Injil

Renungan pada Minggu ke-24 dalam Waktu Biasa [C] – 15 September 2019 – Lukas 15: 1-32

lost sheepBab 15 dari Injil Lukas berisi tiga perumpamaan yang paling mengharukan dan indah di seluruh Alkitab. Tiga perumpamaan ini dikenal sebagai perumpamaan tentang domba yang hilang, perumpamaan tentang koin yang hilang, dan juga perumpamaan tentang anak yang hilang. Jika kita melihat lebih dekat ke dalam ketiga perumpamaan ini, apa yang begitu menakjubkan dan mencengangkan adalah bagaimana Yesus membengkokkan, memutar dan merentangkan logika manusia dan budaya Israel untuk menyampaikan poin terdalam-Nya.

Di Israel kuno, para gembala tahu bahwa untuk menggembalakan kawanan domba bukanlah pekerjaan yang mudah karena mereka harus memimpin kawanan mereka untuk mencari makanan dan air di tanah Palestina yang gersang. Domba secara alami adalah hewan bodoh dan tidak memiliki mekanisme pertahanan alami. Ketika seekor domba mencari makanan, ia dengan mudah tersesat dan ia bisa saja menjadi mangsa serigala, atau diambil oleh perampok. Gembala harus mengerahkan upaya ekstra untuk menjaga domba mereka. Namun, kadang-kadang, satu atau dua domba tersesat, dan gembala harus pergi untuk menyelamatkannya.

Namun, Yesus memberi tahu para pendengarnya tentang seorang gembala yang berani meninggalkan domba-domba lain untuk mencari satu domba yang hilang. Sepanjang jalan, ia mungkin menemukan bahaya yang mengancam jiwanya sendiri seperti perampok atau serigala. Tidak ada jaminan dia akan menemukan domba-dombanya yang hilang. Dia praktis mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk domba bodoh ini. Yang bahkan luar biasa adalah bahwa setelah sang gembala menemukan hewannya yang hilang, ia sangat bersukacita. Misinya adalah sukses besar dan sekarang saatnya untuk berbagi sukacita dengan orang lain. Ini kisah yang mengharukan. Kemudian, ketika para pendengar Yesus masih terpesona, Yesus menerangkan poin utama-Nya. Dia menunjukkan bahwa Tuhan adalah gembala yang baik ini! Tuhan adalah wanita yang bersukacita atas koin kecil yang ia temukan. Tuhan adalah ayah yang menerima dan merayakan putranya yang durhaka yang kini kembali. Melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa Allah kita penuh belas kasihan dan kemurahan-Nya berada di luar imajinasi kita yang paling liar sekalipun. Inilah sebabnya mengapa perumpamaan ini disebut sebagai “Hati dari segala Injil” karena ketiga perumpamaan berbicara inti dari Injil yakni kerahiman Allah.

Kita masing-masing seperti domba yang hilang, koin yang hilang atau putra yang hilang. Ada waktu-waktu di dalam hidup kita, kita merasa sangat rendah dan merasa tidak berarti dan hilang. Tidak ada kebahagiaan duniawi yang dapat mengisi hati kita, sampai Yesus menemukan kita.

Carolyn Kolleger adalah model dan aktris film Amerika yang sukses. Dia dibaptis Katolik sewaktu kecil, tetapi dia tidak pernah tahu dan menghidupi imannya. Sebagai model, dia tidak pernah memikirkan hal lain selain dirinya sendiri. Dia juga menikah dengan Erwin Kolleger, seorang pengusaha, yang menikmati kesenangan duniawi. Mereka menyatakan diri sebagai orang sekuler. Mereka bergelimpangan harta, mengadakan banyak pesta, minum alkohol dan bahkan mengonsumsi narkoba. Sampai, dia hamil. Dia tidak ingin kehilangan karirnya dan didorong oleh suaminya, dia menggugurkan bayinya. Dia melakukannya bukan hanya sekali tetapi tiga kali. Akhirnya, dia mengalami depresi, dan pernikahannya hampir runtuh. Sampai, seorang pastor datang dan membantu Carolyn dan Edwin. Mereka mulai menemui seorang pembimbing rohani yang membantu pernikahan mereka. Carolyn memutuskan untuk bertobat dan kembali ke Gereja. Dia berdoa rosario dan membaca Alkitab secara lebih teratur, dan menghadiri Ekaristi. Akhirnya, suaminya juga mengikutinya, dan membangun kembali pernikahan dan keluarga mereka bukan atas dasar harta duniawi, tetapi iman, harapan, dan kasih. Mereka diberkati dengan empat anak dan menemukan kebahagiaan sejati.

Ini adalah Tuhan kita, Tuhan yang penuh belas kasih dan penyayang yang tanpa lelah mencari putra dan putri-Nya yang hilang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Learn to Be Humble

22nd Sunday in the Ordinary Time [C] – September 1, 2019 – Luke 14: 1, 7-14

humus 1Humility is actually being simple and doing simple, yet it is so simple that many of us find it difficult to be and do.  It seems paradoxical but it is the reality that we experience in our day to day life. It is because we are living in the world that is so proud with itself and it continuously influences us to become proud as well. We can practically be proud of anything. We can be proud of our personality, family and clan, personal achievements, successful careers and status in life. We can be proud of the good things we have done or even the bad things we have committed. Eventually, the awful irony in our life is when we are even proud of our humility.

Pride occupies a prominent place among the seven deadly sins or vices. It seduces people believe that we are self-sufficient and we do not need others and God. We are our own god. The Bible says that the angel of light has fallen from heaven [see Isa 14:12], and according to the Latin tradition, his name is Lucifer, the brightest angel in heaven. He and some other angels revolted against God since they were too proud to serve God that would become man. If lust aligns us with animals, pride makes us coequal with the fallen angels.

To remedy this terrible pride, humility is then chiefly necessary. But, it is simply difficult to become one since it leads us to acknowledge our true nature that we own nothing and everything we have is a gift. Humility is derived from Latin word humus which means soil. Humility brings back us to the ground after the air of pride lifts us our nose up.

Humility is also primarily important since it enables us to listen and through listening we are able to be obedient (Latin word ob-audire means to listen attentively). With pride just around the corner, it is difficult to listen since we start believing that we are the center of the universe and everything else revolves around us. Simon Tugwell, OP writes that humble prayer is just to take a break from our tyrannical and dictatorial self that occupies the center of our life and let God be God. In the same line of thought, Henry Nouwen writes that a sincere prayer is just like opening our tightly closed fist.

St. Augustine believes that humility is one of the most fundamental virtues especially in our relationship with God. He says, “Are you thinking of raising the great fabric of spirituality? Attend first of all to the foundation of humility.” It is because humility is the virtue that facilitates us in listening to God’s words and in following them. In humility, we participate in Mary’s words, “I am the servant of the Lord. Be it done to me according to your word.” And not, “I am the boss here. Be it done to me and to you according to my word.” In humility, we pray in Jesus’ prayer, “Your will be done.” And not, “Your will be changed”.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Spiritual Director of Presidium Refugis Peccatorum

Belajar untuk Rendah Hati

Minggu Biasa ke-22 Pada Masa Biasa [C] – 1 September 2019 – Lukas 14:1, 7-14

humus 2Kerendahan hati sebenarnya adalah melakukan hal yang sederhana dan menjadi orang yang sederhana, tetapi karena hal ini sangat sederhana, banyak dari kita merasa sulit untuk melakukannya. Inilah adalah paradoks yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dikarenakan kita hidup di dunia yang begitu sombong dengan dirinya sendiri, dengan segala kemajuan, kejayaan, kekayaan, dan dunia ini terus memengaruhi kita untuk menjadi angkuh. Kita bisa jadi sombong karena banyak hal. Kita bisa sombong karena kepribadian, keluarga dan klan kita, prestasi pribadi, karier dan status yang sukses dalam hidup. Kita bisa menyombongkan hal-hal baik yang telah kita lakukan atau bahkan hal-hal buruk yang telah kita lakukan. Akhirnya, ironi mengerikan dalam hidup kita adalah ketika kita bahkan menyombongkan kerendahan hati kita.

Dalam tradisi Gereja, keangkuhan atau tinggi hati menempati tempat yang menonjol di antara tujuh dosa yang mematikan. Keangkuhan membuat kita percaya bahwa kita bisa menjadi independen dan kita tidak membutuhkan orang lain dan Tuhan. Kita adalah tuhan bagi diri kita sendiri. Kitab Suci berbicara tentang seorang malaikat cahaya yang jatuh dari surga [Lih Yes 14:12]. Menurut tradisi dia bernama Lucifer, malaikat paling bercahaya di surga. Dia dan bersama komplotannya memberontak melawan Tuhan karena mereka terlalu angkuh untuk melayani Tuhan yang akan menjadi manusia. Jika hawa nafsu menyejajarkan kita dengan para binatang, kesombongan membuat kita setara dengan malaikat, tetapi malaikat yang jatuh.

Untuk mengalahkan kesombongan yang mengerikan ini, kerendahan hati sangat dibutuhkan. Tetapi, sulit untuk menjadi rendah hati karena hal ini menuntun kita untuk mengakui siapa diri kita sejatinya, bahwa kita tidak memiliki apa pun dan semua yang kita miliki adalah berkat. Kerendahan hati dalam Bahasa Latin adalah “humilitas” yang berasal dari akar kata “humus” yang berarti tanah. Kerendahan hati membawa kita kembali ke tanah setelah kita terbang dan lupa daratan.

Kerendahan hati juga sangat penting karena memungkinkan kita untuk mendengarkan dan melalui mendengarkan kita dapat taat. Dengan keangkuhan di dalam hati kita, sulit untuk mendengarkan karena kita mulai percaya bahwa kita adalah pusat alam semesta dan segala sesuatu yang lain berputar di sekitar kita. Simon Tugwell, OP menulis bahwa doa yang rendah hati memampukan kita untuk mengambil jeda dari tirani diri dan kediktatoran kita yang menempati pusat kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Sejalan dengan pemikiran ini, Henry Nouwen menulis bahwa doa yang tulus dan rendah hati sama seperti membuka kepalan tangan kita yang tertutup rapat.

Kerendahan hati adalah keutamaan yang memfasilitasi kita dalam mendengarkan kata-kata Tuhan dan mengikuti-Nya. Dalam kerendahan hati, kita berperan serta dalam kata-kata Mary, “Aku adalah hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Dan tidak, “Saya bos di sini. Jadilah kepadaku dan kepadamu sesuai dengan kata-kata saya.” Dalam kerendahan hati, kita mampu berdoa dalam doa Yesus sendiri, “terjadilah kehendak-Mu.” Dan bukan, “Kehendak-Mu akan diubah sesuai denga kehendakku.”

Tak salah jika saat St. Agustinus ditanya apakah tiga syarat untuk masuk surga, Dia menjawab, “Yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P