Hari Minggu Prapaskah Keempat [A]
22 Maret 2020
Yohanes 9: 1-41
Dalam menyembuhkan orang buta, Yesus melakukan sesuatu yang agak tidak biasa: Ia meludah ke tanah, membuat tanah liat dengan air liurnya, dan mengolesi tanah liat itu di mata orang buta tersebut. Saat ini kita sedang melawan Covid-19, jenis virus korona yang menyebar dengan cepat, kita dididik bahwa salah satu media kontaminasi adalah tetesan manusia seperti air yang keluar dari mulut kita. Ketika air yang sudah terkontaminasi dengan virus bersentuhan dengan mulut, hidung dan mata, itu menjadi titik awal berjangkitnya si virus di tubuh kita.
Namun, hari in, Yesus menggunakan media yang dipakai virus ini untuk menyebar dan mengubahnya menjadi jalan penyembuhan baik kebutaan fisik maupun spiritual. Memang, tindakan pembalikan semacam ini adalah pola favorit Yesus. St. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel, dalam homilinya, menyebutkan bahwa tiga cara yang digunakan oleh iblis untuk menghancurkan umat manusia adalah sarana yang sama yang digunakan oleh Yesus untuk menyelamatkan umat manusia. Tiga cara iblis adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, wanita yaitu Hawa yang tidak taat, dan kematian Adam yang membawa serta semua keturunannya. Yesus kemudian mengubah tiga sarana ini menjadi sarana keselamatan-Nya: untuk pohon pengetahuan, ada pohon salib, untuk Hawa, ada Maria yang setia, dan untuk kematian Adam, ada kematian Yesus yang menyelamatkan kita semua. Iblis mengira dia bisa mengakali Tuhan, tetapi sesungguhnya, Tuhanlah yang memiliki kemenangan akhir.
Dalam Kejadian 2, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia bertindak seperti seorang seniman atau pematung. Dalam tradisi Yahudi kuno, Tuhan mengambil tanah, dan kemudian agar bisa dibentuk, Dia menggunakan ludah-Nya sendiri untuk membuat tanah liat. Tindakan Yesus dalam menyembuhkan orang buta membawa kita kembali ke kisah penciptaan ini. Yesus tidak hanya menyembuhkan, tetapi Dia menciptakan kembali manusia itu seturut citra-Nya sendiri. Bahkan sarana keburukan dan penyakit dapat diubah menjadi sarana keindahan dan keselamatan.
Virus covid-19 telah menghancurkan banyak aspek kehidupan manusia. Virus ini menyebarkan ketakutan dan kepanikan. Virus ini memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan drastis, termasuk “lockdown” kota-kota dan menghentikan kegiatan perekonomian. Virus ini memisahkan orang dari sahabat dan orang yang mereka kasihi. Orang beriman diwajibkan untuk menjauhi rumah Tuhan. Ini adalah waktu yang menyakitkan dan membingungkan bagi banyak dari kita. Bahkan beberapa dari kita akan menangis, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”
Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Yesus selalu dapat menggunakan sarana-sarana kematian dan kehancuran yang sama untuk menjadi sara keselamatan-Nya. Kita meminta Tuhan untuk membuka mata iman kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui masa krisis ini, dan saat mata kita terbuka, kita bisa melihat betapa banyaknya kebaikan ditengah-tengah kita.
Kita berterima kasih atas berkat Tuhan yang menjelma sebagai berbagai praktisi medis kita yang mempertaruhkan nyawanya untuk merawat mereka yang sakit; untuk pejabat pemerintah kita yang bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah penyebaran virus; untuk para sukarelawan yang menyumbangkan sumber daya mereka sendiri untuk membantu memerangi penyakit ini; untuk para imam dan pelayan Gereja yang melayani kebutuhan rohani umat meskipun ada banyak keterbatasan. Doa saya juga tertuju bagi seorang imam Italia yang membuat pengorbanan terakhir saat dia meminta untuk tidak dirawat sehingga mesin pernapasan yang terbatas dapat digunakan oleh yang lebih muda dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita melihat Yesus sebagai beberapa figur. Beberapa orang menganggap Dia sebagai guru, beberapa memanggilnya sebagai sahabat, dan beberapa yang lain hanya akan menyatakan Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, sedikit yang kita ketahui bahwa Injil memperkenalkan Dia sebagai mempelai laki-laki.
The Church has selected the story of Transfiguration as the reading of the second Sunday of Lent. We may ask how this kind of powerful story may fit into the entire season of Lent. The key is that the Transfiguration is fundamentally linked to the Cross of Jesus. In Luke’s version of the transfiguration, Jesus was talking to Moses and Elijah about His “exodus.” This reminds the ancient Israelites who exited Egypt, walked through the desert, and entered the Promised Land. Yet, the real end of the exodus is the city of Jerusalem, and eventually the holy Temple where God dwelled among His people. Just like the ancient Israelites, Jesus’ exodus has to end in Jerusalem.
Gereja telah memilih kisah Transfigurasi sebagai Injil Minggu Prapaskah kedua. Kita mungkin bertanya bagaimana kisah kemuliaan semacam ini dapat masuk ke dalam seluruh konteks Prapaskah. Kuncinya adalah bahwa Transfigurasi secara mendasar terkait dengan Salib Yesus. Dalam versi transfigurasi dari Lukas, Yesus berbicara kepada Musa dan Elia tentang “eksodus” -nya. Ini mengingatkan kita akan bangsa Israel kuno yang keluar dari Mesir, berjalan melewati padang pasir, dan memasuki Tanah Perjanjian. Namun, akhir eksodus yang sebenarnya adalah kota Yerusalem, dan akhirnya Bait suci tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel kuno, eksodus Yesus harus berakhir di Yerusalem.
Hari Minggu Prapaskah pertama dimulai dengan kisah Yesus di padang gurun, berpuasa dan dicobai oleh iblis. Matius memberi kita lebih banyak perincian dalam kisah pencobaan, dan dari Matius, kita menemukan tiga pencobaan Kristus. Mengapa Setan menggoda Yesus? Kenapa tiga godaan?
Jesus is accused of unfaithful to the Law of Moses and the traditions of the elders. He no longer requires His disciples to performs ceremonial washings and many traditions of the elders [Mat 15:2]. Jesus heals people even during the Sabbath [Mark 3:1-6]. Jesus declares that all food is clean [Mark 7:19]. The worst part is when Jesus commands His disciples to drink His blood [see Lev 17:14; Mat 26:27-28]. Is Jesus breaking and changing the Law of Moses?
Yesus dituduh tidak setia dengan Hukum Musa dan tradisi. Dia tidak lagi meminta murid-murid-Nya untuk melakukan ritual pembasuhan, dan banyak tradisi lain [Mat 15: 2]. Yesus menyembuhkan orang bahkan pada hari Sabat [Markus 3: 1-6]. Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal [Markus 7:19]. Dan yang paling parah adalah ketika Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk minum darah-Nya [lihat Im 17:14; Mat 26: 27-28]. Apakah Yesus melanggar dan mengubah Hukum Musa?
Reading carefully, we may wonder, “Is it possible if the salt loses it, saltiness?” In everyday experience, we never experience tasteless salt. However, when we go back to the time of Jesus, we will be surprised that a salt losing its taste is a daily reality. In ancient Israel, the people would go to the Dead Sea, the saltiest body of water on earth, and gathered the “pillar of salt” formed surrounding the lake. Then, they would put inside a small bag, like a teabag”, and when it was needed for seasoning, the bag would be dipped into the water or soup. After some repeated use, the salt would lose its saltiness due to the chemical impurities. It turned to be nothing but an ordinary pebble, and shall be thrown away and trampled underfoot.
Membaca dengan teliti, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah mungkin jika garam kehilangan rasa asinnya?” Dalam pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menemukan garam yang hambar. Namun, ketika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan terkejut bahwa garam yang kehilangan rasanya adalah kenyataan sehari-hari. Di Israel kuno, orang-orang akan pergi ke Laut Mati, laut yang memiliki kadar garam paling tinggi di bumi, dan mengambil bongkahan-bongkahan garam yang terbentuk di sekitar danau. Kemudian, mereka akan dimasukkan ke dalam kantong kecil, seperti kantong teh, dan ketika dibutuhkan untuk bumbu, kantong itu akan dicelupkan ke dalam air atau sup. Setelah digunakan berulang-ulang, garam akan kehilangan rasa asinnya karena kandungan kimia yang tidak sempurna. Bongkahan garam pun berubah menjadi batu biasa, dan akan dibuang dan diinjak-injak.