Blessing, a Difference We Make

The Ascension Sunday. May 8, 2016 [Luke 24:46-53]

“As he blessed them he parted from them and was taken up to heaven (Luk 24:32).”

The Ascension - Luke 24:50-51
The Ascension – Luke 24:50-51

The best way to say goodbye is to bless. Every time I would leave for the Philippines and continue my formation, my parents would hug and bless me as they mark my forehead with a small sign of the cross. My Filipino friends have this ‘Mano Po’ tradition at the beginning and the end of an encounter with their elderly or people they respect. They will hold the hand of their elders, and place it on their forehead.  This is, I believe, a beautiful sign of honor and blessing. The Dominicans in Europe used to have this habit of asking blessing to their prior before they leave for mission. Indeed, it is the motto of Dominican to ‘praise, bless and preach’. Ultimately, every Eucharist celebration ends with the final blessing.

Yet, what is blessing all about? In Latin, blessing is ‘benedicere’. The word is a composition of two other Latin words: ‘bene (good)’ and ‘dicere (to speak)’. Thus, to bless is to speak good word. Since the word tends to become flesh, we wish that the good word we utter for our beloved turn to be a reality as well. If we look closely the story of creation in Genesis 1, we discover God did threefold acts: creating, seeing goodness and blessing the creations. When God created the universe, God made sure that His creations were good and because of this goodness, He blessed them. Blessing is not simply human act, but also divine. It is not simply saying good, but also discovering good. It is not only wishing good and nice words, but hoping good things to happen.

As the Father has blessed the creations before He rested in the seventh day, the Son also blessed His beloved disciples before He ascended into His resting abode. When God blessed Adam and Eve, He said, “Be fertile and multiply! (Gen 1:28)” God’s blessing names, affirms and rejuvenates the goodness in us. Because of our goodness is reaffirmed, it empowers man and woman to be fruitful, joyful and generous. God’s blessing transforms us into blessing also for others.

 To bless is our vocation as the disciples of Christ. Catherine Marie Hilkert, OP once said that preaching is naming grace, then it is also true that preaching is naming goodness. Unfortunately, instead blessing, we choose to curse. In Latin, cures is ‘maledicere’, to speak bad. Just like blessing, bad words tend to become flesh. Families are broken because we forget to say blessing, and focus on blaming. Religious intolerance, violence and even terrorism begin at the holy pulpit. Sadly, in time of election, from far West, the United States to the far East, Indonesia and the Philippines, politicians running for the offices engage in mudslinging, trade accusations, and employ nasty tricks. Defying reason, the people turn to be fanatic, frantic and partial supporters, willing to do anything for the candidate they admire.

Our world has been fractured and disfigured due to the curses we utter. Adam and Eve said no to God and passed the blame to each other. As their offspring, we continue this destructive curse. We desperately need blessing to undo this vicious cycle. Then, Jesus came and embraced all the bad things in His cross and made them fruitful again in His resurrection. Now, He ascends into Heaven and before He goes, He makes sure that His blessing remains. Ascension reminds us that we have the mission to name goodness and allow ourselves to become blessings to others. Only by becoming a blessing, we may heal ourselves, our family, our society and our world.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Berkat

Pesta Kenaikan Tuhan Yesus. 5 Mei 2016 [Lukas 24: 46-53]

“Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Luk 24:51).”

ascension n cross

Cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan adalah dengan memberkati. Setiap kali saya berangkat ke Filipina dan melanjutkan formasi, orang tua saya akan memeluk dan memberkati saya dengan menandai dahi dengan tanda salib kecil. Rekan-rekan Filipina memiliki tradisi ‘Mano Po’ di awal dan akhir perjumpaan dengan orang-orang yang dituakan. Mereka akan memegang tangan orang tua mereka, dan menempatkannya di dahi mereka. Hal ini, saya percaya, adalah sebuah tanda dari berkat dan hormat. Setiap kali seorang frater Dominikan di Manila akan ditahbiskan, malam sebelumnya ia akan menerima berkat dari komunitas dan ia akan berlutut dan semua frater dan romo berdoa bersama dan memberkati dia. Pada akhirnya, setiap perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat dan perutusan.

Namun, apa arti dari memberkati? Dalam bahasa Latin, memberkati adalah ‘benedicere’. Kata ini berasal dari dua kata Latin lainnya: bene (baik) dan dicere (mengucapkan). Dengan demikian, untuk memberkati adalah untuk mengucapkan kata yang baik. Karena kata cenderung menjadi daging, kita berharap bahwa kata-kata baik yang kita ucapkan pada giliran akan menjadi kenyataan juga. Jika kita teliti dengan seksama kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1, kita melihat Allah melakukan tiga tindakan terhadap ciptaan-Nya: menciptakan, melihat kebaikan dan memberkati. Ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah memastikan bahwa ciptaan-Nya adalah baik dan karena kebaikan ini, Iapun memberkati mereka. Memberkati tidak hanya tindakan manusia, tetapi juga ilahi. Memberkati tidak hanya mengucapkan yang baik, tetapi juga menemukan hal yang baik. Memberkati ini tidak hanya bersabda dengan kata-kata yang baik dan bagus, tetapi berharap hal-hal baik ini menjadi kenyataan.

Seperti Bapa telah memberkati ciptaan-Nya sebelum Ia beristirahat di hari ketujuh, sang Putra juga memberkati para murid yang dikasihi-Nya sebelum Ia naik ke surga. Ketika Tuhan memberkati Adam dan Hawa, Ia mengatakan, “Jadilah subur dan bertambah banyaklah! (Kej 1:28 – terjemahan sendiri)” Berkat Tuhan mengartikulasikan, menegaskan dan meremajakan kebaikan dalam diri kita. Karena kebaikan kita ditegaskan kembali, berkat memberdayakan pria dan wanita untuk berbuah, bahagia dan bermurah hati dengan sesama. Berkat Tuhan mengubah kita menjadi berkat juga bagi sesama.

Untuk memberkati adalah panggilan kita sebagai murid-murid Kristus. Catherine Marie Hilkert, OP pernah berkata bahwa ‘pewartaan’ adalah mengartikulasikan rahmat, maka tidak salah jika pewartaan dimengerti sebagai mengartikulasikan kebaikan. Sayangnya, bukannya berkat, kita memilih untuk mengutuk. Dalam bahasa Latin, mengutuk adalah ‘maledicere’, untuk berbicara buruk. Sama seperti berkat, kata-kata buruk cenderung menjadi daging. Keluarga rusak karena kita lupa untuk mengatakan berkat, dan fokus pada saling menyalahkan. Intoleransi, kekerasan dan bahkan terorisme berlatar belakang agama mulai di mimbar suci. Sayangnya, di saat pemilu, dari Amerika Serikat sampai ke Indonesia dan Filipina, para politisi yang mengejar posisi saling mengumpat, saling tuduh, dan mempekerjakan trik jahat. Seolah-olah kehilangan akal sehat, para pemilih berubah menjadi pendukung fanatik dan emotional, rela melakukan apa saja untuk calon yang mereka kagumi.

Dunia kita telah rusak dan cacat akibat kutukan yang kita ucapkan. Adam dan Hawa mengatakan tidak kepada Allah dan menyalahkan satu sama lain. Sebagai keturunan mereka, kita meneruskan kutukan yang menghancurkan ini. Kita sangat membutuhkan berkat untuk membatalkan lingkaran setan ini. Kemudian, Yesus datang dan memeluk segala kutuk di salib-Nya dan membuat kita berbuah lagi dalam kebangkitan-Nya. Sekarang, Ia naik ke surga dan sebelum Dia pergi, Dia memastikan bahwa berkat-Nya tetap tinggal. Kenaikan-Nya mengingatkan kita bahwa kita memiliki misi untuk mengartikulasikan kebaikan dan membiarkan diri kita menjadi berkat bagi sesama. Hanya dengan menjadi berkat, kita dapat menyembuhkan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan dunia ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

God’s Love Transforms

Sixth Sunday of Easter. May 1, 2016 [John 14:23-29]

“Whoever loves me will keep my word, and my Father will love him, and we will come to him and make our dwelling with him (Jn 14:23).”

god love never failsOne day, I had an opportunity to converse with one of our security personnel at our convent of Santo Domingo. I asked him if he sees God, what question would he ask of God? His answer went beyond my expectation. In Filipino, he would say, ‘Panginoon, Mahal mo ba ako?’ [Lord, do you love?] Surprised by his question, I inquired further, ‘Why that question?’ He replied in Filipino, ‘Brother, I am poor person with a lot of problems. Sometimes, I don’t really feel His presence and love.’ I realized that his question is not only single isolated case, but question of many people.

At times, we are asking the good Lord, why is life full of suffering and problems despite our faithfulness to God. We attend mass every Sunday, we pray the rosary everyday, and we never fail to be good Catholics, yet our lives seems never getting better. We continue to face many problems, from financial problems, health issues to relationship brokenness. We then ask God, ‘Lord, do you love me?’

The Gospel constantly tells us that God loves us. But, often we do not see how God loves us. Why? Because we expect a different kind of love. We expect that if we are good, we are obeying His rules, then everything will be fine. But, God is not like a spiritual ATM that grants instantly our wishes as we insert correct spiritual card of prayers and place the right spiritual code of living. But rather, God’s love works deep inside us and transforms us into His own love. God is not created in our image, then we need to stop forcing Him to be like us. Our prayers, our good works, and our faithfulness to God does not mean to give us an instant solution to our problems, but they are God’s ways to gradually form us to be like Him.

Jesus’ love did not liberate Israelites from the oppressions of the Roman Empire, nor He give them prosperity that the Jews longed for. His love rather transformed those people around Him to love like God. The disciples, despite their weakness and sufferings, gradually became more and more loving, and finally made a final sacrifice for the love of Jesus and others. Peter, the leader as well the most problematic apostle, denied and ran away from Jesus, but he progressively learned to love like Jesus. When the final moment came, he gave also his life for Christ and the Christians in Rome.

As I bide a goodbye to Manong guard and went back to seminary, I handed him a food I brought from the mall. Upon receiving the food, he said to me, “Can I share this food with some of the poor kids outside the Church?” His gesture astounded me and yet was heartwarming. Being a security guard in Metro Manila, was a dangerous job with little earning, plus so many problems I had to carry, yet his poverty did not prevent him to share a little blessing he had, a little love he received. He questioned the love of God, but he himself never stopped loving others. This simple man has become the embodiment of God’s love for others. The love of God transforms us more and more into His image, and without realizing it, we also have become the embodiment of His love to others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Kasih Allah

Minggu Paskah Keenam. 1 Mei 2016 [Yohanes 14: 23-29]

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

keep calm jesus loves youSuatu hari, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu personel keamanan di biara kami Santo Domingo. Saya bertanya jika dia melihat Tuhan saat ini, pertanyaan apa yang akan ia berikan kepada Allah? Pertanyaan di luar dugaan saya. Dalam bahasa Tagalog, ia akan mengatakan, Panginoon, Mahal mo ba ako? [Tuhan, apakah Engkau mengasihi aku?] Terkejut dengan pertanyaannya, saya bertanya lebih lanjut, Mengapa pertanyaan itu? Dia menjawab, ‘Frater, saya orang miskin dan hidup dengan banyak permasalahan. Kadang-kadang, saya tidak merasakan kehadiran dan cinta-Nya. Saya menyadari bahwa pertanyaannya adalah valid dan juga pertanyaan dari banyak orang.

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Di akhir pembicaraan saya dengan sang satpam, saya memberikan dia sebungkus makanan yang saya bawa dari mal. Setelah menerima makanan, dia berkata kepada saya, ‘Bolehkah saya berbagi makanan ini dengan beberapa anak-anak miskin di luar Gereja?’ Tindakannya membuat saya terkejut tapi sangat menyejukan hati. Menjadi seorang satuan pengamanan di Metro Manila, adalah pekerjaan yang berbahaya dengan penghasilan kecil, ditambah lagi begitu banyak masalah yang ia harus hadapi, namun kemiskinannya tidak mencegah dia untuk berbagi berkat sederhana yang ia memiliki, kasih yang ia terima. Memang, dia mempertanyakan kasih Allah, tetapi ia sendiri tidak pernah berhenti mengasihi orang lain. Pria sederhana ini telah menjadi perwujudan kasih Allah bagi sesama. Kasih Allah mengubah perlahan-lahan sesuai dengan citra-Nya, dan tanpa kita sadari, kita juga telah menjadi perwujudan dari kasih-Nya kepada sesama.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A New Commandment: Love

Fifth Sunday of Easter. April 24, 2016 [John 13:31-33a, 34-35]

 “I give you a new commandment: love one another. As I have loved you, so you also should love one another (Jn 13:34).”

love one anotherThe first time God gave His commandment was on the Mount Sinai. To Moses and the Israelites, He made His covenant that He will be their God and they will be His People. And to live as a Holy People, God gave them the Law, famously called the Ten Commandment (Exo 19-20). Then, centuries after Moses, at the Upper Room, in old city Jerusalem, God gave His new commandment. This time, His Law is simpler and yet, more radical than the old one. Jesus handed to them the greatest command: Love one another as He has loved them.

John was called the beloved. Perhaps, it is because he was loved by Jesus in special way, but I believe, it is because among other disciples, John is the one who struggled the most to understand Jesus’ love for him and for all of us. Jesus’ love is extremely puzzling. In the culture of tooth-for-tooth retaliation, to forgive an enemy is unthinkable, but Jesus asked them to forgive them seventy times seven, to love them and pray for them! When society abhorred sinners, tax-collectors, and law-breakers, Jesus welcome them. Yet, He Himself demanded from them to repent and be perfect as the Father is perfect. When He was left alone, tortured and crucified, He manifested His greatest love as He forgave His tormentors. It does not stop there. The risen Lord came back and precisely to renew His love for His scattered and hopeless disciples. John then concluded in his letter, indeed God is love (1 John 4:8). He is not only loving, merciful, and forgiving, but love itself.

Why did God create universe, despite He is actually perfect and self-sufficient? Because Love cannot but share itself. Why did God trouble Himself by taking close care of His creations? Because Love means caring. Why did God make us human in his image? Because lLve begets another love. Why did God give us freedom despite the fact that we tend to abuse this freedom? Because Love cannot be true unless there is freedom.

Love is difficult and indeed, often full of sacrifices. Parents are struggling to understand and caring their teenage kids who are involved in drug addiction. A wife is fighting for her marriage that begins to crumble because of her husband’s secret affair. A parish priest is giving his best effort to educate his parishioners in faith despite so many criticism and misunderstanding against him. The movie Of Gods and Of Man is a true story of a community of French Trappist monks in Algeria, and they were eventually kidnapped and murdered in1996 by the terrorists. In one meeting, they were arguing whether to leave the monastery and the Muslim villagers they served, or stay and face uncertain future. One of the younger monks said to the Prior, “I did not become a monk to die.” And the prior answered back, “But you have already given away your life.” They finally decided to stay and continue to love until the end.

One time, I faced a profound crisis in my vocation. Honestly, I was confused: both to be a lay and a priest are holy and dignified call. Then, my formator would give this precious advice: “Bayu, choose the path that offers you more sufferings, because there, you may love more.” Indeed, love is tough and demanding, but only through loving, we can become the Disciples of Christ, that reflects His very image.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Perintah Baru: Kasih

Minggu Paskah Kelima. 24 April 2016 [Yohanes 13: 31-33a, 34-35]

 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34).”

god-is-loveAllah memberikan Hukum-Nya yang pertama di Gunung Sinai. Dengan Musa dan bangsa Israel, Dia membuat perjanjian bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Dan agar bisa hidup sebagai Jemaat yang kudus, Allah memberi mereka hukum dan perintah. Hukum ini terkenal sebagai Sepuluh Perintah Allah (Kel 19-20). Kemudian, beberapa abad setelah Musa, di kota tua Yerusalem, Allah memberikan perintah baru-Nya. Kali ini, Hukum-Nya lebih sederhana namun jauh lebih radikal. Yesus memberikan kepada para murid-Nya perintah teragung: saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi mereka.

Yohanes disebut sebagai murid yang terkasih. Mungkin, ini karena ia dikasihi oleh Yesus dengan mendalam, tapi saya percaya, hal ini juga karena di antara para murid, Yohanes lah yang paling bergulat untuk memahami kasih Yesus baginya dan bagi kita semua. Kasih Yesus sangat mencengangkan. Dalam budaya Isreal yang berasaskan gigi ganti gigi, mengampuni musuh tidaklah terpikirkan, tapi Yesus meminta murid-Nya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh, untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh mereka! Ketika masyarakat Israel membenci orang-orang berdosa, pemungut pajak, dan pelanggar hukum Taurat, Yesus menyambut mereka. Namun, Ia sendiri menuntut dari mereka untuk bertobat dan menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna. Ketika Dia ditinggalkan sendirian, disiksa dan disalibkan, Ia memanifestasikan kasih terbesar-Nya saat Dia mengampuni kita semua. Ini tidak berhenti di situ. Yesus yang bangkit dan memperbaharui kasih-Nya bagi para murid-Nya yang rapuh dan gagal mengasihi-Nya. Yohanes kemudian menyimpulkan di dalam suratnya, sungguh Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dia tidak hanya penuh kasih, penuh pengampunan dan kemurahan hati tapi Ia adalah kasih itu sendiri.

Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta, meskipun Dia sempurna dan mandiri? Karena kasih sejati itu berarti berbagi. Mengapa Allah terus menjaga dan memelihara ciptaan-Nya? Karena kasih berarti peduli. Mengapa Allah membuat kita manusia menurut citra-Nya? Karena kasih melahirkan kasih yang lain. Mengapa Allah memberi kita kebebasan meskipun kita cenderung menyalahgunakan kebebasan ini? Karena kasih tidaklah nyata kecuali ada kebebasan.

Mengasihi sungguh sulit dan penuh pengorbanan. Orang tua berjuang untuk memahami dan peduli dengan anak remaja mereka yang terlibat dalam kecanduan narkoba. Seorang istri berjuang mempertahankan pernikahannya yang mulai runtuh karena suaminya yang tidak setia. Seorang imam paroki berusaha untuk mendidik jemaatnya dalam iman meskipun begitu banyak kritik dan kesalahpahaman yang harus ia hadapi. Film Of Gods and Of Man adalah kisah nyata dari komunitas rahib Trappist di Aljazair, dan mereka akhirnya diculik dan dibunuh pada 1996 oleh teroris. Dalam satu pertemuan, mereka berdebat apakah akan meninggalkan biara dan penduduk desa Muslim yang mereka layani, atau tetap bertahan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu  rahib muda berkata kepada Prior, “Saya tidak menjadi seorang rahib untuk mati.” Dan sang Prior menjawab kembali, Tapi kamu telah memberikan kehidupan kamu saat masuk biara. Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal dan terus mengasihi sampai akhir.

Suatu kali, saya menghadapi krisis yang mendalam tentang panggilan saya. Jujur, saya bingung: baik menjadi awam maupun imam adalah panggilan suci dan bermartabat. Kemudian, formator saya akan memberikan nasihat berharga: Bayu, pilihlah jalan yang menuntunmu pada penderitaan dan pengorbanan yang lebih besar, karena disana kamu akan mengasihi lebih besar.” Sungguh, mengasihi adalah sulit, tetapi hanya melalui kasih, kita bisa menjadi Murid Kristus, dan mencerminkan citra-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be a Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter. April 17, 2016 [John 10:27-30]

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me (Jn 10:27).”

good shepherdOne of the loveliest images of Jesus is the Good Shepherd. It is even more beautiful when we try to bring ourselves to Palestine in the time of Jesus.  Life as a shepherd is tough and tiresome. Grass was scarce and the sheep constantly wondered. Since there was not protective fence, the shepherd was bound to watch his sheep for all time, otherwise the sheep would go astray. The terrain in Judea was rough and rocky, and these forced the shepherd to exert extra energy. Not only constant, shepherd’s duty was also dangerous. Wild animals, especially wolfs, were ready to attack and devour the meek sheep. Not only wild predators, robbers and thieves were eager to pirate the sheep.

The sheep in Judea were raised primarily for wool. Thus, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knew well each individual sheep, its characters, and even its unique physical features. He would call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears’. Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd. H.V. Morton, a bible scholar, once narrated his encounter with two shepherds who shared the same cave to shelter their flocks at night. How would they sort them out? In the morning, one shepherd stood some distance and simply voiced a peculiar sound. His sheep recognized the sound immediately, and they ran toward him, while the sheep belonged to the other shepherd remained in the cave!

 Good shepherd is a symbol of providential care, sacrifice, and true love. No wonder if ancient Israelites saw God as their shepherd. Psalm 23 is one of the loveliest poems in the bible, describing God as the Good Shepherd. Remember that some great leaders of Israel were actually shepherds. Moses was tending to his father-in-law flocks when he was called by God in the burning bush (Exo 3). David also was taking care of his father’s sheep when Samuel came and anointed him king (1 Sam 16).

Jesus understood this and He took this identity upon himself. Not only any shepherd, He is the Good Shepherd. He knows us individually as unique and precious. He takes care of us constantly, and search us if we go astray. He protects us from any harm and danger. Even He is willing to give up His life just to save us.

Now, we are not merely animals just like any other sheep. We are human being, with intellect and freedom. To be the sheep of Christ takes another profound form. It means that we are also called to become a good shepherd. A priest is a good shepherd to his faithful. A husband or wife is a good shepherd to each other. Parents are good shepherds to their children. Fr. Gerard Timoner, OP, our provincial, once reminded us that ‘brother-shepherding-brother’ should be our spirit of our formation.

Being a good shepherd is never easy, just like Christ, we shall give our all to others. But, only in giving ourselves that our lives finds its meaning. John Maxwell, leadership guru, once said that the success of man is not how many people serve him, but how many people whom he serves. Meanwhile Zig Ziglar, great American inspirational speaker, reminds us that we can get everything in life we want if we help enough people get what they want. Fundamentally, we were created in the image of God, and if our God is the Good Shepherd, we are the image of the Good Shepherd. It is our purpose and mission in life to be a good shepherd and grow our sheep.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Gembala yang Baik

Minggu Paskah Keempat. 17 April 2016 [Yohanes 10: 27-30]

“Domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh 10:27).”

pope francis crossSalah satu citra terindah Yesus adalah Gembala yang Baik. Citra ini bahkan lebih indah ketika kita mencoba untuk melihat situasi Palestina pada zaman Yesus. Hidup sebagai seorang gembala adalah sulit dan melelahkan. Rumput terbatas dan domba akan terus berkelana. Karena tidak ada pagar pembantas, gembala akan memantau domba-dombanya sepanjang waktu, jika tidak, domba akan hilang. Medan di Yudea kasar dan berbatu, dan ini memaksa gembala mengerahkan energi ekstra. Selain itu, tugas gembala juga berbahaya. Hewan liar, terutama serigala, siap untuk menyerang dan melahap domba. Tidak hanya predator liar, perampok dan pencuri juga ingin membajak domba-dombanya.

Domba di Yudea diternakan terutama untuk wol. Jadi, gembala bisa hidup bersama dengan domba-dombanya untuk bertahun-tahun. Tak heran jika ia tahu baik setiap domba, karakter, dan bahkan fitur fisik mereka yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti si ‘kaki kecil’ atau si ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba menjadi begitu akrab dengan suara gembala. H.V. Morton, seorang sarjana Alkitab,  menceritakan pertemuannya dengan dua gembala yang berbagi gua yang sama untuk melindungi ternak mereka di malam hari. Bagaimana mereka akan memisahkan domba mereka? Di pagi hari, satu gembala berdiri beberapa meter dari gua dan dengan hanya menyuarakan suaranya yang khas, domba-dombanya segera berlari ke arahnya. Sementara domba milik gembala lainnya tetap di gua!

Gembala yang baik adalah simbol dari dedikasi, pengorbanan, dan kasih sejati. Tak heran jika bangsa Israel melihat Tuhan sebagai gembala mereka. Mazmur 23 adalah salah satu puisi terindah di Alkitab, menggambarkan Allah sebagai Gembala yang Baik. Ingat bahwa beberapa pemimpin besar Israel sejatinya adalah gembala. Musa sedang mengembalakan ternak ayah mertuanya saat dia dipanggil oleh Allah dalam semak yang terbakar (Kel 3). David juga sedang mengurus domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia menjadi raja (1 Sam 16).

Yesus memahami hal ini dan Dia mengambil identitas ini pada dirinya sendiri. Tidak hanya gembala biasa, Dia adalah Gembala yang Baik. Dia mengenal kita sebagai pribadi unik dan berharga. Dia merawat kita, dan mencari kita jika kita tersesat. Ia melindungi kita dari berbagai bahaya. Bahkan Dia bersedia menyerahkan nyawa-Nya hanya untuk menyelamatkan kita.

Sekarang, kita bukanlah domba biasa. Kita adalah manusia, dengan kecerdasan dan kehendak bebas. Maka, untuk menjadi domba Kristus, kita perlu menjadi sesuatu yang lebih. Ini berarti bahwa kita juga dipanggil untuk menjadi gembala yang baik. Seorang imam adalah gembala yang baik untuk umatnya. Seorang suami atau istri adalah gembala yang baik bagi pasangannya. Orang tua adalah gembala yang baik bagi anak-anak mereka. Fr. Gerard Timoner, OP, provinsi kita, pernah mengingatkan kita bahwa ‘saudara-penggembalaan-saudara’ harus semangat kita formasi kita.

Menjadi seorang gembala yang baik tidak pernah mudah. Seperti Kristus, kita akan memberikan diri kita secara total kepada orang lain. Tapi, hanya dalam  pemberian total, hidup kita menemukan maknanya. John Maxwell, guru kepemimpinan, pernah berkata bahwa keberhasilan manusia tidak berdasarkan berapa banyak orang melayaninya, tapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Sementara, Zig Ziglar, pembicara inspirasional besar Amerika, mengingatkan kita bahwa kita bisa mendapatkan segala sesuatu kita inginkan di dalam hidup jika kita cukup membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada dasarnya, kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Gembala Baik, kita adalah citra Gembala yang Baik. Maka, tujuan dan misi dalam hidup kita addalah menjadi gembala yang baik dan merawat domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do You Love Me?

Third Sunday of Easter. John 21:1-19 [April 8, 2016]

jesus n peterReading today’s Gospel in original Greek, we get to appreciate more the dialogue between Jesus and Peter. In English translation, both Jesus and Peter expressed themselves in the same word ‘love’, but in Greek, the word Jesus employed is ‘agapao’ while Peter’s is ‘phileo’. ‘Agapao’ or ‘agape’ refers to unconditional and radical love that every Christian should exemplify. This love is based on freewill and discipline, not just affections. This love empowers to love, to forgive and to have mercy even to our enemies. While ‘phileo’ or ‘philia’ is the reciprocal love of friendship. It is coming from both natural liking as well as firm decision. We make friends with whom we feel close, yet we exert also efforts to get close and understand them. As an old adage say, ‘friend in indeed is friends indeed.

Jesus asked, “Peter, do you unconditionally and radically love me?” yet Peter answered, “Lord, you know that I love you as my friend.” Jesus demanded radical love of ‘agape’ for three times, and for three times, Peter could only give Jesus the love of friendship or ‘philia’. This seems another Peter’s outright denial of Jesus. But, Pope Emeritus Benedict XVI humbly defended his predecessor that at that very moment, ‘phileo’ was his very best.

The dialogue of love between Jesus and Peter is also our dialogue with the Lord. Jesus demands from us that radical and selfless love for Him. But, it is difficult. It is hard to give time in service in the Church, when we are also struggling with our daily life and financial status. A friend told me how he has desire to serve, yet he is the ‘breadwinner’ of the family and has to work 12 hours a day. It is also difficult to love God, when our lives are in mess. How can we love God, when our marriage is falling, when our children entered rehabilitation due to drug-addiction or in jail for their juvenile delinquency? How can we love when our job or business is falling apart? How can we love God if we are betrayed and hurt by persons we love so much? We stop loving and enter into our own self-confinement.

Yet, when Peter failed to meet Jesus’ hope, Jesus was not angry. He never said, ‘You are a failure. You are a mistake.’ Rather, He gave Peter a tremendous responsibility, ‘Tend and Feed my sheep.’ Jesus knows well it is difficult to love. He himself has to die the most brutal death just to prove His love for us. Yet, He does not see us as a failure despite our shortcomings and difficulties in loving. He who has given us the ability to love, knows exactly our potential to love. Indeed, Peter who was struggling to love Jesus, finally proved his love to Jesus as he tended His sheep to the last moment of his life. Peter was crucified upside down, because he refused to abandon Jesus’ sheep in Rome.

When we fail to love God, He did not abandon us, and in fact, He gives us even more mission to love because Jesus is aware that only through this hardship, we may expand our ability to love. Love without trials and tribulations is shallow and weak kind of love. St. John reminded us that God is love (1 John 4:8). Thus, when we struggle to love through thick and thin of lives, we shall remember that it is not us who love, but God himself.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Minggu Paskah ketiga. Yohanes 21:1-19 [8 April 2016]

jesus n peter 2aMembaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, Friend in need is friend indeed.’

Yesus bertanya, “Petrus, apakah kamu mengasihiku secara radikal dan total?” Namun, Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau sebagai sahabat.” Yesus menuntut kasih yang radikal atau ‘agepe’ tiga kali, dan tiga kali juga, Petrus hanya bisa memberikan Yesus kasih persahabatan atau ‘philia’. Hal ini tampaknya sebuah penyangkalan Petrus terhadap Yesus. Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI dengan rendah hati membela Petrus bahwa pada saat itu, ‘phileo’ adalah terbaik yang dapat Petrus berikan.

Dialog kasih antara Yesus dan Petrus juga adalah dialog kita dengan Tuhan. Yesus menuntut kita kasih yang radikal dan tanpa pamrih. Tapi, mengasihi itu sungguh sulit. Seorang teman bercerita bagaimana ia memiliki keinginan untuk melayani di Gereja, namun ia adalah tulang punggung keluarga dan harus bekerja 12 jam sehari, termasuk akhir pekan. Bagimana kita bisa mengasihi Allah, ketika hidup kita berantakan? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan, ketika pernikahan kita luluh lantah, ketika anak kita masuk rehabilitasi karena kecanduan atau penjara karena kenakalan remaja mereka? Bagaimana kita bisa menkasihi ketika pekerjaan atau bisnis kita berantakan, dan teman-teman kita yang meninggalkan kita sendirian? Bagaimana kita bisa menkasihi Tuhan jika kita dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita kasihi begitu banyak? Saat gagal mengasihi dan dikasihi, kita berhenti mengasihi dan terkunci dalam isolasi sempit buatan kita sendiri.

Namun, ketika Petrus gagal memenuhi harapan Yesus, Yesus tidak marah. Dia tidak pernah mengatakan, “Kamu adalah sebuah kegagalan dan kesalahan.” Sebaliknya, Dia bahkan memberi Petrus tanggung jawab yang lebih besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu benar betapa sulitnya untuk mengasihi. Dia sendiri harus mati di salib hanya untuk membuktikan kasih-Nya bagi kita. Namun, Dia tidak melihat ini sebagai kegagalan. Dia yang telah memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, tahu persis potensi kita untuk mengasihi. Petrus pun yang terus bergulat untuk mengasihi Yesus, akhirnya membuktikan kasihnya kepada Yesus dengan setia mengembalakan domba-domba-Nya sampai akhir hayatnya. Petrus pun disalibkan karena ia menolak untuk meninggalkan umat Kristiani di Roma.

Ketika kita gagal untuk mengasihi Allah, Dia tidak meninggalkan kita, dan pada kenyataannya, Dia memberi kita lebih banyak misi untuk menkasihi. Mengapa? Karena Yesus tahu persis bahwa hanya melalui kesulitan ini, kita dapat memperluas kemampuan kita untuk menkasihi. Kasih tanpa cobaan dan kesengsaraan adalah kasih dangkal dan lemah. St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Jadi, ketika kita berjuang untuk menkasihi di dalam kehidupan, kita akan ingat bahwa bukan kita yang menkasihi, tapi Allah sendiri di dalam kita.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP