Jesus’ Shalom

Second Sunday of Easter (Divine Mercy Sunday) [April 8, 2018] John 20:19-31

“Jesus came and stood in their midst and said to them, “Peace be with you.”  (Jn. 20:19)

jesus n people
photo by Harry Setianto SJ

Fear is a natural and basic human emotion. Fear plays an important role in human survival because it alerts us of impending dangers or evil, and moves us to avoidance. The science of anatomy would locate the source of this emotion inside our amygdala, a primitive part of our brain that we share with other animals. Yet, unlike animals that simply flee in the presence of a predator, with our complex brain, we also face a complex kind of fear as we perceive a complex meaning of danger. We do not only fear predators, but we fear also losing our jobs, sickness, and our terror teachers or bosses. We are afraid of height (acrophobia), of small spaces (claustrophobia), and even of banana (Bananaphobia)! Because of our superior mind, our fear is even enlarged as we can anticipate far away dangers or even that does not exist yet. This creates anxiety and worriedness.

 

In the Gospel, we discover that Jesus’ disciples are afraid. They fear the “Jews.” They may be accused of stealing the body of Jesus by the Roman soldiers and Jewish authorities who discover the empty tomb. Or, simply the disciples are anxious about their future, of what will be of them after the death and the news of Jesus’ resurrection. Shall they disband themselves, go back to their former way lives, or shall they remain together? Will Jesus come and get even with them? Overcome by fear and uncertainty, they lock themselves. They are paralyzed, their hearts shrink, and they glue themselves to safe yet fragile things. Like the disciples, fear freezes us and lock us in our comfort zone. Fear of getting hurt, we stop loving. Fear of failures, we no longer pursue our dreams. Fear of being manipulated, we refuse to help others. Fear of betrayal, we shun commitments.

However, fear does not have the last say. Despite the locked room, the Lord enters in their midst. The first word He says is Peace, in Hebrew, “Shalom.” Then, Jesus shows his wounds to them, a proof that He is truly Jesus, their teacher, who was crucified and risen. Seeing the Lord, joy explodes in their hearts, and they fear no more. Jesus’ Shalom is powerful and empowering. Jesus’ Shalom gives inner strength in the face of uncertain future. Jesus’ Shalom gives the courage to embrace sufferings and trials.

Jesus is truly risen and appears to the disciples, but this does not change the disciples’ situations. Their future remains uncertain. The hostile Jewish authorities still attempt to shut them down. The Roman soldiers may arrest them. They do not know yet how to sustain their small community. Their situations remain bleak, but one thing has changed. They are no longer afraid. With His Shalom in their hearts, Jesus breathes His Holy Spirit on them and sends them on a mission to forgive. As they have been forgiven and received mercy, they become the missionaries of peace, as they bring forgiveness to others. As the stone door of the tomb cannot stop the risen Lord, now the locked doors cannot hinder the empowered disciples.

Jesus’ Shalom is the grace of resurrection for all of us. True that our situations and problems do not change much, but fear can no longer freeze us. We are called to go out from our locked rooms and become the missionaries of peace and mercy. Despite the pain, failure, and frustration, we continue to love, serve and commit because this is who we are, the people who have received Jesus’ Shalom, God’s mercy and the Holy Spirit. We are not afraid because we are Easter People!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Shalom

Minggu Paskah Kedua (Minggu Kerahiman Ilahi) [8 April 2018] Yohanes 20: 19-31

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!. ” (Yoh. 20:19)

Jesus n moon
photo by Harry Setianto, SJ

Ketakutan adalah emosi manusia yang alami dan mendasar. Takut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup manusia karena emosi ini memperingatkan kita akan datangnya bahaya, dan menggerakkan kita untuk menghindarnya. Ilmu anatomi menunjukan bahwa sumber emosi ini ada di dalam amygdala, bagian primitif dari otak yang juga dimiliki oleh hewan lain. Namun, tidak seperti binatang yang melarikan diri di hadapan predator, dengan otak yang lebih kompleks, kita juga menghadapi jenis ketakutan yang kompleks. Kita tidak hanya takut pada pemangsa, tetapi kita juga takut kehilangan pekerjaan, akan penyakit, dan kehilangan orang yang kita kasihi. Ada yang takut akan ketinggian (acrophobia), akan ruang kecil (claustrophobia), dan bahkan terhadap pisang (Bananaphobia)! Karena pikiran kita yang superior, ketakutan kita bahkan membesar karena kita bisa mengantisipasi bahaya yang masih jauh atau bahkan yang sesungguhnya belum ada. Inilah dasar dari kecemasan dan kekhawatiran.

 

Dalam Injil, para murid Yesus ketakutan. Mereka takut pada “orang Yahudi.” Mereka mungkin takut akan ditangkap karena dituduh mencuri tubuh Yesus oleh tentara Romawi dan penguasa Yahudi yang menemukan kuburan yang kosong. Para murid juga mungkin cemas akan masa depan mereka, apa yang akan terjadi setelah kematian dan berita tentang kebangkitan Yesus. Haruskah mereka membubarkan diri, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, atau apakah mereka akan tetap bersama? Akankah Yesus datang dan membalas mereka? Dikuasai oleh rasa takut dan ketidakpastian, mereka mengunci diri. Mereka lumpuh, hati mereka mengkerut, dan mereka merekatkan diri pada hal-hal yang aman namun rapuh. Seperti para murid, rasa takut membekukan kita dan mengunci kita di zona nyaman kita. Takut terluka, kita berhenti mengasihi. Takut akan kegagalan, kita tidak lagi mengejar impian kita. Takut dimanipulasi, kita menolak membantu orang lain. Takut pengkhianatan, kita menghindari komitmen.

Namun, rasa takut tidak memiliki kata terakhir akan hidup kita. Meskipun ruangan terkunci, Tuhan masuk di tengah-tengah mereka. Kata pertama yang Dia katakan adalah “Damai”, dalam bahasa Ibrani, “Shalom.” Kemudian, Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada mereka, sebuah bukti bahwa Dia benar-benar Yesus, guru mereka, yang disalibkan dan bangkit. Melihat Tuhan, sukacita memenuhi hati mereka, dan mereka tidak takut lagi. Shalom Yesus mengampuni dan memberdayakan. Shalom Yesus memberikan kekuatan batin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Shalom Yesus memberikan keberanian untuk menerima penderitaan dan cobaan.

Yesus benar-benar bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, tetapi ini tidak mengubah situasi para murid. Masa depan mereka tetap tidak pasti. Otoritas Yahudi masih berusaha untuk menghancurkan mereka. Para prajurit Romawi setiap saat dapat menangkap mereka. Komunitas mereka sangat kecil dan lemah. Situasi mereka tetap suram, tetapi satu hal telah berubah. Mereka tidak takut lagi. Dengan Shalom-Nya di dalam hati para murid, Yesus menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka dan mengirim mereka dalam misi untuk mengampuni. Karena mereka telah diampuni dan menerima belas kasihan, mereka menjadi misionaris perdamaian dan mereka membawa pengampunan kepada orang lain. Seperti pintu batu kubur tidak dapat menghentikan Tuhan yang bangkit, sekarang pintu yang terkunci tidak dapat menghalangi para murid yang diberdayakan.

Shalom Yesus adalah anugerah kebangkitan bagi kita semua. Benar bahwa situasi dan masalah kita tidak banyak berubah, tetapi rasa takut tidak bisa lagi membekukan kita. Kita dipanggil untuk keluar dari kamar kita yang terkunci dan menjadi misionaris perdamaian dan belas kasihan. Meskipun sakit, gagal, dan penuh dengan frustrasi, kita terus mengasihi, melayani dan berkomitmen karena ini adalah siapa kita sesungguhnya, orang-orang yang telah menerima Shalom Yesus, belas kasihan Tuhan dan Roh Kudus. Kita tidak takut karena kita adalah umat yang tertebus!

Shalom!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Resurrection and Love

Easter Sunday [April 1, 2018] John 20:1-10

… he saw and believed (Jn. 20:8)

light and child
photo by Harry Setianto, SJ

Today is the Easter morn! Today is the day the Lord has risen! Today is the day death has been defeated! Today is the day of resurrection! Yet, how do we understand Jesus’ resurrection and our resurrection? What does it mean when we say that death has been conquered?

 

We all know that we are going to die. We just do not know when, where and how, but we are sure that death will come. We remain anxious and afraid of the reality of suffering and death. It seems that death has not been defeated? It is true that sometimes death can be a liberation. A pious lady in her fifties once told a priest that she prayed that the Lord would take her when she was still beautiful. Then, the priest remarked, “How come you are still here!”

The usual occasion preachers speak of resurrection is the funeral mass! The resurrection has become a kind of pain reliever for the bereaved families and relatives. We are assured that the death of our beloved ones is not the final destiny. There is the blissful afterlife waiting, and we shall join our Lord in the resurrection. Though our preachers speak the consoling truth, the way we preach it tends to reduce the eternal life as a permanent retirement place, and the resurrection as extremely remote reality. Another priest once admitted that he was not that handsome, and thus he planned that in the day of resurrection, he would quickly snatch the body of handsome Canadian singer, Justin Bieber! The resurrection is only good for the dead, and it does not mean much for us the living. But, resurrection is really for all of us, here and now.

Going back to the first resurrection in the garden, no Gospel describes how the resurrection takes place. It simply cannot. Yet, there is an empty tomb, and Jesus’ body is missing. Peter is greatly puzzled. Mary Magdalene is weeping bitterly. Only one disciple understands. He is the disciple who loves dearly Jesus and whom Jesus loves. Despite death and emptiness, love endures. Through the eyes of love, the disciple is able to see the resurrection.

Love and its relation to the resurrection go back to the story of human creation in the book of Genesis. We are created in the image of God (Gen 1:26). If God is love (1 Jn 4:8), then we are made in the image of love. More than other creatures, we are designed with the ability to love and to receive love. Not only having the ability to love one another, our nature is even gifted with the ability to be loved by God and to love God. No other creation on earth is able to participate in this most beautiful love affair with the Lord. Unfortunately, sin destroys this love relationship with God and seriously damages our ability to love and be loved. The history of humankind turns to be the history of sins, suffering, and death. Husband and wife hurt each other, brothers kill each other, men exploit women, women sell their children, and men destroy nature. We need redemption.

Out of His immense love, God becomes man so that He may begin His work of redemption. This redemption culminates in Jesus’ resurrection. One of the greatest graces of resurrection is our ability to love God and to receive God’s love is restored. Thus, John the Beloved Disciple is able to see through the empty tomb and believe in the risen Lord. Just as the grace of resurrection heals John, so the same grace heal us and restore our ability to love God. In the midst of emptiness of life, we are empowered to see the risen Lord. Despite the absurdity of life, we are enabled to transform our sorrows and pains into the opportunity to love more and serve better. Despite pain and death, love endures.

Blessed Easter! Happy Resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Arti Kebangkitan bagi Kita yang Hidup

Minggu Paskah [1 April 2018] Yohanes 20: 1-10

… dia melihat dan percaya (Yoh 20: 8)

jump of joy
Photo by Harry Setianto, SJ

Tuhan telah bangkit! Kematian telah dikalahkan! Paskah adalah kemenangan kita semua! Ini adalah sukacita Hari Raya Paskah, dan pada hari ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memahami arti sebuah kebangkitan? Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa kematian telah ditaklukkan?

 

Walaupun maut telah dikalahkan, kita semua tetap akan mati. Kita hanya tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana, tetapi kita yakin bahwa kematian akan datang. Kita tetap cemas dan takut akan realitas penderitaan dan kematian. Tampaknya kematian belum sungguh-sungguh dikalahkan? Memang benar bahwa terkadang kematian bisa menjadi sebuah pembebasan. Seorang wanita paruh baya yang saleh bercerita kepada pastor parokinya bahwa dia berdoa agar Tuhan akan memanggilnya ketika dia tampak masih cantik dan sebelum dia terlihat tua, keriput dan jelek. Kemudian, sang pastor pun berkomentar, “Lalu, kenapa kamu masih di sini!”

Jika kita perhatikan, para imam biasanya berkhotbah tentang kebangkitan saat misa arwah! Kebangkitan telah menjadi semacam penghilang rasa sakit bagi keluarga dan kerabat yang berduka. Kita yakin bahwa kematian mereka yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan baru yang menanti, dan kita akan bergabung dengan Allah kita dalam hari kebangkitan. Meskipun para pastor kita berkhotbah tentang kebenaran yang menghibur, cara kita mewartakan kebangkitan cenderung menjadikan kehidupan kekal sebagai tempat pensiun yang permanen, dan kebangkitan sebagai realitas yang sangat jauh dari kehidupan yang sekarang. Seorang imam pernah menyatakan bahwa dia diciptakan tidak begitu tampan, dan karena itu dia merencanakan bahwa pada hari kebangkitan, dia akan segera mengambil tubuh penyanyi Kanada yang terkenal, Justin Bieber! Kebangkitan itu hanya untuk mereka yang sudah meninggal, dan itu tidak berarti banyak bagi kita yang masih hidup. Namun, kebangkitan Yesus di hari Paskah benar-benar untuk kita semua yang masih hidup di dunia.

Jika kita membaca kembali ke kebangkitan Yesus, Injil tidak menjelaskan bagaimana kebangkitan itu terjadi. Namun, ada kubur yang kosong, dan tubuh Yesus hilang. Petrus sangat bingung. Maria Magdalena menangis dengan sedih. Hanya ada satu murid yang mengerti. Dia adalah murid yang sangat mengasihi Yesus dan yang dikasihi Yesus. Meskipun menghadapi kematian dan kekosongan, cinta kasih tidak pernah hilang. Melalui mata kasih, murid ini dapat melihat kebangkitan.

Kasih dan kebangkitan memiliki hubungan yang erat, bahkan jejaknya kembali ke kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Kita diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Jika Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), kita diciptakan menurut citra kasih. Oleh karena itu, melebihi makhluk-makhluk lain, kita dirancang dengan kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengasihi satu sama lain, kita juga dikaruniai kemampuan untuk dikasihi oleh Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan. Tidak ada ciptaan lain di bumi yang dapat berpartisipasi dalam kisah kasih paling indah dengan Tuhan. Sayangnya, dosa menghancurkan kisah kasih dengan Tuhan ini, dan secara serius merusak kemampuan kita untuk mengasihi dan dikasihi. Sejarah umat manusia berubah menjadi sejarah dosa, penderitaan, dan kematian. Suami dan istri saling menyakiti, saudara saling membunuh, pria mengeksploitasi wanita, wanita menjual anak-anak mereka, dan manusia merusak alam. Manusia membutuhkan penebusan.

Sungguh, Allah dalam kasih-Nya menjadi manusia untuk memulai karya penebusan, dan penebusan Yesus ini mencapai puncaknya dalam kebangkitan-Nya. Salah satu anugerah yang terbesar dari kebangkitan adalah kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan dikasihi Allah dipulihkan. Saat Yohanes sang murid terkasih mampu melihat lebih jauh dari sekedar kubur yang kosong, dan percaya kepada Tuhan yang bangkit, Injil memberikan kita sebuah tanda bahwa rahmat kebangkitan telah bekerja. Jika Yohanes disembuhkan, karunia yang sama menyembuhkan kita juga dan memulihkan kemampuan kita untuk mengasihi Allah. Di tengah-tengah kekosongan hidup, kita diberdayakan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Terlepas dari absurditas kehidupan, kita dimampukan untuk mengubah kesedihan dan rasa sakit kita menjadi kesempatan untuk mencintai lebih banyak dan melayani dengan lebih baik. Meskipun sakit dan mati, cinta tetap bertahan. Ini adalah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, Ini adalah hari Paskah!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Spirit of Pentecost

Pentecost Sunday. June 4, 2017 [John 20:19-23]

“Receive the Holy Spirit. Whose sins you forgive are forgiven them… (Jn 20:22-23)”

pentecost holy spiritPentecost is the commemoration of the descent of the Holy Spirit upon the first disciples in the upper room. The usual images we have in our mind are usually dramatic and vivid. The disciples gathered in the upper room, suddenly the strong wind filled the room, followed by the appearance of the tongues of fire. Inspired by the Holy Spirit, the disciples began to speak various languages, and proclaimed the Gospel. This depiction of Pentecost comes from the Acts of Apostles (our first reading today). The same Acts tells us that Pentecost took place 50 days after Easter Sunday (Pentecost itself simply means ‘50’ in Greek).

However, the outpouring of the Holy Spirit in today’s Gospel from John gives us a slightly different image from that of the Acts. It is less dramatic, less lively, and less miraculous. There was no strong wind, no tongues of fires that rested on the disciples’ heads, no awesome ability to speak various languages. Only Jesus and His disciples. Yet, if we look closely on Jesus’ actions and words as well as the context of the story, the Pentecost that it represents is a poignant and transformative image.

The disciples locked themselves inside the room because of fear of the Jews. Their master just was executed, and they were afraid that the Jewish authorities and the Roman soldiers would also arrest them. But, it is also possible that they were actually afraid that risen Jesus would get back on them. They deserted Jesus when He was seized, persecuted and sentenced to death. They ran away when He was humiliated on the cross and died as a shameful criminal. It was a payback time, and Jesus could throw them to fire of hell in an instant. Yet, Jesus came not to exact vengeance, but to offer peace. He came not to satisfy His wrath, but to give them the Holy Spirit. This Spirit is the spirit of forgiveness, the power to heal, and the energy to unity. It also the Spirit of mission, of their being sent by Jesus. Indeed, Jesus bore the wounds in His body, but despite His wounds and pains, Jesus forgave them and empowered them to forgive in His Holy Spirit. Jesus showed them that violence only breeds violence, and vengeance causes more harm, and only forgiveness can bring true peace.

In our world today, many of us are hurt by violent words and actions of others, aggravated by the silence of good people. The natural tendency is to be angry and seek for justice. Yet, often, what happens is that we nurture the anger and hatred, and wait until the right time to vent this wrath in even more violent ways. But, keeping anger and hatred destroys nobody except ourselves. We become restless, stressed, and sick. Without realizing it, we become just like those who have hurt us. Pentecost is not just a commemoration of what happened in early Christianity, we need Pentecost right now and here. We pray for the Holy Spirit who empowers us to forgive others and ourselves, for the Spirit of Jesus who brings true peace and justice, for the Spirit of God who heals our brokenness.

Blessed Pentecost!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Pentakosta

Hari Raya Pentakosta. 4 Juni 2017 [Yohanes 20: 19-23]

Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni (Yoh 20: 22-23).”

apperance of jesusPentakosta adalah peringatan turunnya Roh Kudus atas para murid di ruang atas. Gambaran yang ada di dalam pikiran kita biasanya dramatis dan nyata. Murid-murid berkumpul di ruang atas, tiba-tiba angin kencang memenuhi ruangan, diikuti oleh munculnya lidah-lidah api. Terinspirasi oleh Roh Kudus, para murid mulai berbicara dalam berbagai bahasa, dan memberitakan Injil. Gambaran Pentakosta ini benar adanya karena ini berasal dari Kisah Para Rasul (bacaan pertama kita hari ini). Sebenarnya, Kisah Para Rasul juga mengatakan bahwa Pentakosta terjadi 50 hari setelah hari Minggu Paskah (Pentakosta sendiri berarti ’50’ dalam bahasa Yunani).

Namun, pencurahan Roh Kudus dalam Injil hari ini yang berasal dari Injil Yohanes memberi kita gambaran yang sedikit berbeda dengan Kisah Para Rasul. Gambarannya kurang dramatis, kurang hidup, dan kurang menakjubkan. Tidak ada angin kencang, tidak ada lidah api yang melayang di kepala murid-murid, tidak ada kemampuan mengagumkan untuk berbicara dalam berbagai bahasa. Hanya Yesus dan murid-murid-Nya. Namun, jika kita melihat secara dekat tindakan dan kata-kata Yesus serta konteks cerita ini, Pentakosta dalam Injil Yohanes adalah sangat kuat dan transformatif.

Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena takut pada orang Yahudi. Guru mereka baru saja dieksekusi, dan mereka takut bahwa penguasa Yahudi dan tentara Romawi juga akan menangkap mereka. Tapi, mungkin saja mereka benar-benar takut karena Yesus yang bangkit akan kembali kepada mereka dan membuat perhitungan. Mereka meninggalkan Yesus saat Ia ditangkap, dianiaya dan dijatuhi hukuman mati. Mereka lari dan menyangkal-Nya saat Dia dipermalukan di kayu salib dan mati sebagai penjahat yang memalukan. Itu adalah saatnya bagi Yesus untuk menuntut balas, dan Yesus bisa saja melemparkan mereka ke api neraka dalam sekejap. Namun, Yesus datang tidak untuk membalas dendam, tapi untuk membawa kedamaian. Dia datang untuk tidak memuaskan murka-Nya, tetapi untuk memberi mereka Roh Kudus. Roh ini adalah roh pengampunan, kekuatan untuk menyembuhkan, dan energi yang menyatukan kesatuan. Memang, Yesus menanggung luka-luka di tubuh-Nya, namun terlepas dari luka dan penderitaan-Nya, Yesus mengampuni mereka dan memberdayakan mereka untuk mengampuni diri-sendiri dan satu sama lain di dalam kekuatan Roh Kudus-Nya. Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa kekerasan hanya melahirkan kekerasan, dan balas dendam menyebabkan lebih banyak kerugian, dan hanya pengampunan yang dapat membawa kedamaian sejati.

Di dunia kita saat ini, banyak dari kita terluka oleh kata-kata dan tindakan orang lain. Kecenderungan alamiah kita adalah marah dan mencoba mencari keadilan. Namun, seringkali, yang terjadi adalah kita menumbuhkan kemarahan dan kebencian, dan menunggu sampai waktu yang tepat untuk melampiaskan kemarahan ini dengan cara yang lebih jahat lagi. Tapi, sesungguhnya menyimpan kemarahan dan kebencian tidak menghancurkan siapa pun kecuali diri kita sendiri. Kita menjadi gelisah, stres, dan sakit. Tanpa disadari, kita menjadi seperti orang yang telah menyakiti kita.

Pentakosta bukan hanya peringatan tentang apa yang terjadi di awal Gereja, kita membutuhkan Pentakosta sekarang. Kita berdoa agar Roh Kudus memberdayakan kita untuk mengampuni orang lain dan diri kita sendiri, karena hanya Roh Yesus yang membawa kedamaian dan keadilan yang sejati, karena hanya Roh Allah yang menyembuhkan luka-luka kita. Kita berdoa agar Roh Kudus memampukan kita menjadi murid-murid-Nya yang juga membawa pengampunan dan damai, karena hanya dengan Roh Kebenaran, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat kita, bangsa kita dan dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.

Salam Pentakosta!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leaving Jesus

Ascension Sunday. May 28, 2017 [Matthew 28:16-20]

“Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit (Mat 28:18)”

ascension 2

However, in the Gospel of Matthew, we have a fundamentally different story of Ascension. In fact, Matthew has technically no story of Ascension. In the last part of Matthew’a Gospel, neither Jesus was taken into heaven nor did He leave. What Jesus did was to send the disciples to make disciples of all nations, to baptize them and to teach them. It is actually the disciples who are moving away from Jesus. The Gospel of Matthew ends with Jesus’ promise that He will be with His disciples until the end of time. It is clear that in Matthew, Jesus never left His disciples. As the disciples were moving on with their new lives as apostles, Jesus remained and journey together with them.

I entered the minor seminary as early as 14. As I was leaving my home, it was not easy both for me and my parents. There were psychological anxieties and emotional longings to go home. But, the feelings subsided after some time, and a big factor was that my parents allowed and supported my decision to be away from them. They set me free and allowed me to go as a mature man creating his own destiny. Yet, I also realize that they actually never leave me. Biologically speaking, I have in my body the genes of my parents. Not only that, my actions reflect the upbringing that they provided me. From them, I learn the love for God and the Church, discipline and hard work, and basic leadership skills. What people see is me, but what I give them are coming from my parents.

In Ascension, Jesus does not keep us under His arms, He does not suppress our growth, and He does not want that we remain childish permanently. Jesus sets us, His disciples, free and empowers us to become men and women who forge our own paths. We need to leave Jesus so we may become His mature and free apostles. Yet, He never leaves us. We bring Jesus with us because Jesus has formed us in His image. As we receive Jesus from our parents, teachers, catechists, and priests, and after living with Jesus as His disciples, now it is our turn to preach and share Jesus to others, as we make all nations His disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Meninggalkan Yesus

(Edisi Khusus Kenaikan Yesus Kristus)

28 Mei 2017 [Matius 28: 16-20]

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…(Mat 28:19)”

ascension koreanGambaran tentang Kenaikan Yesus yang ada dalam benak kita adalah Yesus yang diangkat ke langit, sementara para murid dengan penuh doa memperhatikan-Nya menghilang secara perlahan-lahan. Tidak salah jika disebut ‘Kenaikan’ Yesus karena Kristus yang telah bangkit akhirnya naik ke surga, kembali kepada Bapa-Nya. Di dalam film Risen, Kenaikan Yesus digambarkan sedikit berbeda. Yesus tidak diangkat ke surga, tapi Dia hanya berdiri di hadapan para murid-Nya, dan tiba-tiba cahaya yang menyilaukan datang dan menelan Yesus, dan Diapun menghilang dari pandangan mereka. Meskipun memiliki rincian yang berbeda, Kenaikan Yesus berbicara kepada kita tentang Yesus yang memisahkan diri dari murid-murid-Nya, dan meninggalkan mereka karena Ia harus kembali kepada Bapa-Nya.

Namun, dalam Injil Matius, kita memiliki kisah Kenaikan yang berbeda. Sebenarnya, secara teknis, Matius tidak memiliki kisah Kenaikan. Di bagian terakhir Injil Matius, Yesus tidak naik ke surga atau Ia pergi meninggalkan para murid-Nya. Apa yang Yesus lakukan adalah mengutus murid-murid untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka dan mengajar mereka. Yang terjadi sebenarnya adalah murid-murid yang meninggalkan Yesus. Injil Matius berakhir dengan janji Yesus bahwa Ia akan menyertai murid-murid-Nya sampai akhir zaman. Jelas bahwa di dalam Injil Matius, Yesus tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya, tetapi para murid lah yang meninggalkan Yesus untuk mewartakan Injil. Saat para murid melanjutkan hidup baru mereka sebagai rasul, Yesus terus berjalan bersama mereka.

Saya memasuki seminari menengah Mertoyudan sejak usia 14 tahun. Permisahan tidaklah mudah bagi saya dan orang tua saya. Ada kecemasan psikologis dan kerinduan emosional untuk pulang ke rumah. Tapi, syukurlah perasaan itu mereda, dan faktor besar yang membuat saya bertahan adalah orang tua saya mengizinkan dan mendukung keputusan saya untuk meninggalkan mereka. Mereka membebaskan saya pergi agar saya bisa menjadi pria dewasa yang akan membentuk hidup dan masa depannya sendiri. Namun, saya juga menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Secara biologis, saya memiliki gen dari orang tua saya. Secara rohani, saya selalu ada dalam doa mereka. Tidak hanya itu, berbagai tindakan saya mencerminkan didikan yang mereka berikan. Dari mereka, saya belajar untuk mencintai Tuhan dan Gereja, disiplin dan kerja keras. Apa yang orang lihat adalah saya, tapi apa yang saya berikan berasal dari orang tua saya. Mereka tidak pernah meninggalkan saya walaupun saya meninggalkan mereka.

Dalam Kenaikan, Yesus tidak mengekang kita, Dia tidak menekan pertumbuhan kita, dan Dia tidak ingin kita menjadi kanak-kanak selamanya. Yesus membebaskan kita, murid-murid-Nya, dan memberdayakan kita untuk menjadi pria dan wanita yang mampu menempa jalan kita sendiri di dunia. Kita harus meninggalkan Yesus supaya kita bisa menjadi rasul-Nya yang dewasa, bebas dan inovatif. Namun, sejatinya Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kita membawa Yesus bersama kita karena Yesus telah membentuk kita menurut gambar-Nya. Sewaktu kita menerima Yesus dari orang tua, guru, katekis, dan imam, dan setelah hidup bersama Yesus sebagai murid-murid-Nya, sekarang giliran kita untuk mewartakan dan membagikan Yesus kepada orang lain. Ini adalah saatnya bagi kita untuk menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Meet the Holy Spirit

Sixth Sunday of Easter. May 21, 2017 [John 14:15-21]

“I will ask the Father, and he will give you another Advocate to be with you always, (Joh 14:15)”

paraclete 2Have you seen a spirit? When the word ‘spirit’ is mentioned, what image does appear in your mind? Perhaps, scary ghosts from some urban legends or Hollywood horror movies. The word ‘spirit’ conjures terrifying and often creepy images because it is related with the dead, the afterlife, and unexplained paranormal phenomenon. The Church herself warrants the existence of evil spirit or the demons, as the Church fights them through the ministry of exorcism.

However, in the bible, spirit is not frightening, and in fact, it is a fundamental concept and reality. In Hebrew language, spirit is ‘ruah’. This word ‘ruah’ is closely related to breath, air or wind. Spirit is like an air. It is formless and invisible, but all things are filled and surrounded by it. Spirit is like a wind. It cannot be controlled, but it is a powerful force that shapes nature. And spirit is like a breath. We cannot see and touch it, yet it fills us with life. Early in the story of creation, the Spirit of God was already introduced, as this Spirit swept over the waters (Gen 1:2). This ‘breath’ appeared once again in the story of human creation. God then breathed to his nostril the breath of life and man came to life (Gen 2:7). Then, when men and women became wicked, God would take away His ‘spirit’ from them and they would go back to earth (see Gen 6:3). From here, we can learn that the spirit is the power behind creation. It is the source of life in us. Moreover, it connects us with the Divine. Yet, because of sins, it might be lost, and man and woman shall go back to earth.

In today’s Gospel, Jesus taught that this Spirit of God is not just an inanimate force, but He is also a person. Jesus introduced Him as another Advocate. The word ‘another’ is significant, because the first Advocate is actually Jesus Himself (see 1 John 2:1). When Jesus went to the Father, the Spirit shall continue the works of Jesus and stand as His witness. As the divine Advocate, He will help, defend, strengthen, console and teach those who have faith in Jesus. It is important also to note that the Spirit is given in the context of keeping Jesus’ commandment. What is the new and greatest commandment of Jesus? “Love one another. As I have loved you, so you also should love one another (Jn 13:34).” The Spirit aids us in loving God and one another. In fact, He is our very power and capacity to love. Without Him, it is just impossible to love like Jesus.

Now we learn that the presence of the Holy Spirit is not only during the charismatic prayer meetings where someone begins to speak in tongue, but His presence and activity are permeating our lives. When we wake up in the morning and we are reminded to pray, He is in us. When we are hated and persecuted, yet we still proclaim the truth, He is in us. When living becomes laborious and painful, but we continue to love, He is in us. He is our Advocate, the third person in the holy Trinity, the Holy Spirit

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP.

Inilah Roh Kudus

Minggu Paskah keenam. 21 Mei 2017 [Yohanes 14: 15-21]

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yoh 14:15).

paraclete3Pernahkah kamu melihat roh? Atau, jika anda kata roh disebutkan, gambaran apa yang muncul di benak Anda? Mungkin, hantu-hantu menakutkan dari beberapa cerita-cerita atau film horor Hollywood, atau sesuatu yang diluar kekuatan manusia dan tidak bisa dijelaskan. Kata ‘roh’ seringkali memunculkan gambaran yang mengerikan dan menyeramkan karena selalu berhubungan dengan kematian, dunia akhirat, dan fenomena paranormal yang tidak dapat dijelaskan.

Namun, dalam Alkitab, roh sejatinya tidak menakutkan, dan faktanya, ini adalah konsep dan kenyataan yang mendasar. Dalam bahasa Ibrani, roh adalah ‘ru’ah’. Kata ‘ru’ah’ ini erat kaitannya dengan nafas, udara atau angin. Roh itu seperti udara. Ini tidak berbentuk dan tak terlihat, tapi semua benda terisi dan dikelilingi olehnya. Roh itu seperti angin. Ini tidak bisa dikendalikan, tapi adalah kekuatan dahsyat yang membentuk alam. Dan roh itu seperti nafas. Kita tidak bisa melihat dan menyentuhnya, namun ini memenuhi kita dengan kehidupan. Pada awal kisah penciptaan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (lih. Kej 1: 2). ‘Nafas ilahi’ ini muncul juga dalam kisah penciptaan manusia. Tuhan kemudian menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidungnya dan manusia menjadi hidup (lih. Kej 2:7). Kemudian, ketika pria dan wanita menjadi jahat, Tuhanpun mengambil kembali ‘roh’-Nya dari mereka dan mereka akan kembali menjadi debu (lih. Kej 6: 3). Dari sini, kita bisa mengerti bahwa roh adalah kekuatan di balik ciptaan. Roh adalah sumber kehidupan kita. Selain itu, roh juga menghubungkan kita dengan Yang Ilahi. Namun, karena dosa, roh akan diambil, dan manusia akan kembali menjadi debu.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan bahwa Roh Allah ini bukan hanya sebuah kekuatan alamiah yang tak bernyawa, tapi Roh Allah ini adalah juga pribadi yang hidup. Yesus memperkenalkan Dia sebagai Penolong yang lain. Kata ‘yang lain’ sangat penting, karena Sang Penolong pertama sebenarnya adalah Yesus sendiri (lih. 1 Yoh 2: 1). Ketika Yesus pergi kepada Bapa, Roh Kudus akan melanjutkan misi Yesus dan menjadi saksi-Nya. Sebagai Penolong ilahi, Dia akan membantu, membela, menguatkan, menghibur dan mengajarkan kita yang memiliki iman kepada Yesus. Penting juga untuk dicatat bahwa Roh ini diberikan untuk membantu kita mematuhi perintah Yesus. Apakah perintah Yesus yang baru dan terbesar? “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh 13:34).” Roh Kudus ada untuk membantu kita dalam mengasihi Allah dan sesama. Sesungguhnya, Dia adalah kekuatan dan kemampuan kita untuk mengasihi. Tanpa Dia, tidak mungkin bagi kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Sekarang kita mengerti bahwa kehadiran Roh Kudus tidak hanya selama pertemuan doa karismatik di mana seseorang mulai berbicara dalam bahasa roh, namun kehadiran dan aktivitas-Nya memenuhi kehidupan kita. Saat kita bangun di pagi dan kita diingatkan untuk berdoa, Dia ada di dalam kita. Bila kita dibenci dan dianiaya, namun kita terus menyatakan kebenaran, Dia ada di dalam kita. Saat mencintai menjadi sulit dan menyakitkan, tapi kita terus mencintai, Dia ada di dalam kita. Dia adalah Penolong kita, pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus, Sang Roh Kudus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP.