Yoke

14th Sunday in the Ordinary Week. July 9, 2017 [Matthew 11:25-30]

 “Take my yoke upon you and learn from me, for I am meek and humble of heart; and you will find rest for your selves.  (Mat 11:29)”

yoke 1Yoke is a device, usually of wood, placed on the shoulder of animals or persons to carry a burden. In agricultural settings, a yoke is used to pull a plow to make a furrow on the ground so that the soil will be ready for the seed planting. But, a yoke can be used also to drag a cart and transport various goods. Because its primary function is to carry a load or burden, a yoke turns to be a symbol of responsibility, hard work, and obligation. In our seminary in Manila, a leader among the brothers is called a decano. In the beginning of the formation year, we elect our decano, and as he assumes his responsibility, he ceremonially receives a wooden yoke from the outgoing decano. The yoke reminds him of responsibility and great task that he has to endure through the year.

In the Bible, a yoke often symbolizes a means of oppression and slavery. The yoke reminds the Israelites how they lived as slaves in Egypt. The yokes were placed upon their shoulders and they have to carry heavy materials, and to work for the construction of Egyptian colossal buildings. At the time of Jesus, the yoke has slightly evolved to symbolize tedious religious obligation. When Jesus criticized some of the Pharisees and Jewish religious leaders for putting so much emphasis on the details of the Law and rituals, and forgetting what truly the essentials, Jesus called this practice as the yoke of the Pharisees.

However, in today’s Gospel we learn that Jesus asks us to carry His yoke. Wait! Does it mean like the Pharisees, Jesus also wants us to carry a yoke of burden? Jesus clarifies further that His yoke is easy and my burden is light. So, Jesus’ yoke is just less burdensome compare to that of the Pharisess, yet it is still a yoke, a load. How then we can be truly restful if it is just a matter of changing of yoke?

To understand Jesus’ yoke, we need to know that in ancient Israel, like in our time, there are different kinds of yokes. There is a yoke for a single animal, but there is also a yoke that unites two animals together in pulling the burden. When Jesus speaks about His yoke, He is referring to this yoke for two animals or persons. When we carry the yoke of Jesus, it does not mean that Jesus simply gives us the yoke for us alone to shoulder, but we carry it together with Jesus. It is not a transferring of responsibility, but sharing of the burden. And when we feel tired and exhausted because of the heavy burden, we can rest a while since Jesus is the one who now carries the burden for us. In fact, as a carpenter, He knows best how to make a yoke more convenient to carry. That is the yoke of Jesus.

We are carrying the yoke of life with Jesus. And indeed it is a great consolation for us. We are burdened by so many problems in life and often it is too heavy to bear. Yet, we are never alone. Jesus is bearing the yoke for us, the Church is working together with us, our family and friends are one with us. This gives us rest in trial time, yet when others’ life are heavy, like Jesus, we are also helping in carrying others’ yoke, because it is only one yoke, the yoke of Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

 

Kuk

Minggu ke-14. 9 Juli 2017 [Matius 11:25-30]

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11:29)”

yoke 2Kuk adalah sebuah alat, biasanya terbuat dari kayu, yang diletakkan di bahu hewan atau orang untuk membawa beban. Di lingkungan pertanian, kuk digunakan untuk menarik bajak untuk membuat alur di tanah sehingga tanah siap untuk penanaman benih. Tapi, kuk bisa digunakan juga untuk menarik gerobak dan mengangkut berbagai barang. Karena fungsi utamanya adalah untuk membawa beban, kuk pun menjadi simbol tanggung jawab, kerja keras, dan kewajiban. Di seminari kami di Manila, pemimpin di antara para frater disebut sebagai “dekano”. Pada awal tahun formasi, kami memilih dekano, dan saat dia memulai mengembang tanggung jawabnya, dia secara seremonial menerima kuk kayu dari dekano yang lama. Kuk itu mengingatkannya akan tanggung jawab dan tugas besar yang harus dia tanggung sepanjang tahun dalam memimpin komunitas para frater.

Dalam Alkitab, kuk sering melambangkan penindasan dan perbudakan. Kuk itu mengingatkan bangsa Israel bagaimana mereka pernah hidup sebagai budak di Mesir. Kuk tersebut diletakkan di atas bahu mereka dan mereka harus membawa bahan-bahan bangunan yang berat, dan bekerja untuk mendirikan bangunan-bangunan besar Mesir. Sampai pada zaman Yesus, kuk sedikit berevolusi dan menjadi lambang dari kewajiban keagamaan yang terkadang sangat memberatkan orang-orang sederhana. Ketika Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi karena menaruh begitu banyak penekanan pada rincian Hukum dan ritual, dan melupakan apa yang hakiki, Yesus menyebut praktik ini sebagai kuk orang Farisi.

Namun, dalam Injil hari ini kita membawa bahwa Yesus meminta kita untuk memanggul kuk-Nya. Kita kemudian bertanya: Apakah itu berarti seperti orang-orang Farisi, Yesus juga menginginkan kita membawa kuk yang berat? Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa kuk-Nya mudah dan beban-Nya ringan. Jadi, kuk Yesus tidak seberat kuk versi Farisi, namun tetap saja sebuah kuk, dan sebuah beban. Lalu bagaimana kita bisa benar-benar mendapatkan istirahat jika kita harus tetap memanggul kuk?

Untuk memahami kuk Yesus, kita perlu mengetahui bahwa di Israel di zaman Yesus, ada berbagai jenis kuk. Ada kuk yang digunakan oleh seekor binatang saja, tapi ada juga kuk yang diangkut oleh dua binatang sekaligus dalam menarik beban. Ketika Yesus berbicara tentang kuk-Nya, Dia berbicara tentang kuk ganda yang dipergunakan oleh dua binatang atau manusia. Saat kita membawa kuk Yesus, ini tidak berarti bahwa Yesus hanya sekedar memindahkan kuk-Nya dari bahu-Nya ke bahu kita untuk dipikul, tapi Yesus ikut memanggul kuk kita. Ini bukanlah pemindahan tanggung jawab, tapi berbagi beban. Dan ketika kita merasa lelah dan letih karena beban berat, kita bisa beristirahat karena Yesus lah yang sekarang membawa beban bagi kita. Tentunya, sebagai seorang tukang kayu yang lihai, Yesus tahu persis bagaimana membuat kuk yang lebih nyaman untuk dipanggul dan memberikan istirahat kepada kita. Inilah kuk Yesus.

Kita membawa kuk hidupan dengan Yesus. Tentunya, ini merupakan penghiburan bagi kita. Kita terbebani oleh begitu banyak masalah dalam hidup dan seringkali terlalu berat untuk ditanggung. Namun, kita tidak pernah sendirian. Yesus menanggung kuk bersama kita. Yesus juga mengutus Gereja-Nya untuk memanggul bersama kuk kehidupan dengan kita. Dan tentunya, keluarga dan sahabat-sahabat kita bersatu dengan kita dalam memanggul kehidupan. Ini memberi kita istirahat pada masa pencobaan. Namun, ketika kehidupan sesama kita menjadi berat, seperti Yesus, kita juga dipanggil untuk mengangkat kuk sesama kita, karena ini adalah hanya satu kuk, kuk Yesus sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

, or

 

Bigger Family

13th Sunday in Ordinary Time. July 2, 2017 [Matthew 10:37-42]

 “Whoever loves father or mother more than me is not worthy of me, and whoever loves son or daughter more than me is not worthy of me (Mat 10:37).”

hungerWhen God calls us, God does not only call us privately and individually. In the Bible, God also calls us with our family, our community. God created the first man and woman not only to complete each other, but also to “multiply” or to build a human family. Noah entered the ark together with his wife and children. They were saved as a family from the flood. Abraham and Sarah were called from the land of Ur, and establish their own family and clan in the land of Canaan. When God called Moses to deliver the Israelites from slavery, God also called Aaron and Miriam, Moses’ brother and sister, to assist him in his mission. Finally, the life of Jesus of Nazareth would not be complete without the family of Mary and Joseph of Nazareth.

Surely, it is a good news for family-oriented persons. For many cultures, like Filipino and Indonesian, family is at the center of our value system. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will rescue?” Their answer is not money, important documents or jewelries, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

However, if we read today’s Gospel, Jesus made a tough demand for His disciples. In preaching the Kingdom, they had to love Jesus more than they love their family. In ancient Israel, like many Mediterranean societies, respect and honor of the parents was a sacred duty of every child. It was in fact enshrined in the Decalogue as the fourth commandment.  To the point that if a child failed to honor their parents and brought nothing but headache, he would be punished severely by the community (see Dt 21:20-21). As a Jew, He knew this too well, yet He insisted that His disciples had to be committed first to Him and His Gospel before their families. Does Jesus want to cut us from our families? Is Christ-centeredness opposed to family centeredness? Does following Jesus mean leaving our family behind?

God indeed calls us with our family and as a family, but He does not call us only for our family. As old proverb goes, “Charity begins at home, but it does not end there.” We surely love our families, but as Christians we are called to serve a bigger family of humanity and even our mother Earth. It is impossible to serve others, if our allegiance is for ourselves and a small family. Many corruptions take place because we want to enrich our families and clans at the expense of other people. To serve the bigger family of humanity, we are called to first love God who is the merciful and just Father to all, who pour rains and gives sunshine both to the good and not so good. Jesus does not want to destroy families because surely He loves Mary and Joseph, yet He loves His Father most, and this love empowers Him to give His life for all whom His Father loves.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Keluarga yang lebih besar

Minggu Biasa ke-13. 2 Juli 2017 [Matius 10: 37-42]

“Siapa pun yang mencintai ayah atau ibu lebih dari pada saya tidak layak untuk saya, dan siapa pun yang mencintai anak laki-laki atau perempuan lebih dari saya tidak layak untuk saya (Mat 10:37).”

beautiful feetKetika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak hanya memanggil kita secara individual. Dalam Alkitab, Tuhan juga memanggil kita dengan keluarga kita dan komunitas kita. Tuhan menciptakan pria dan wanita pertama yang tidak hanya untuk saling melengkapi, tapi juga “berkembang biak” atau membangun keluarga manusia. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan sebagai keluarga dari banjir besar. Abraham dan Sarah dipanggil dari tanah Ur untuk membangun keluarga dan klan mereka sendiri di tanah Kanaan. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan, Tuhan juga memanggil Harun dan Miriam, saudara laki-laki dan perempuan Musa, untuk membantu dia dalam misinya. Akhirnya, kehidupan Yesus dari Nazaret tidak akan lengkap tanpa keluarga Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Tentunya, ini adalah kabar baik bagi orang-orang yang berorientasi keluarga. Bagi banyak budaya, seperti Filipina dan Indonesia, keluarga merupakan pusat sistem nilai kita. Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina, “Jika rumah kamu terbakar, benda apa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh paling terkemuka Afrika selama masa itu, mengunjungi AS dan berbicara di hadapan para pelajar Afrika. Dengan tegas, dia mengkritik orang-orang Afrika yang mendapat banyak dukungan dari keluarga dan komunitas mereka, namun menolak untuk kembali setelah pendidikan mereka. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan terhadap Afrika.

Namun, jika kita membaca Injil hari ini, Yesus mengajukan tuntutan yang berat bagi murid-murid-Nya. Dalam pewartaan Kerajaan Allah, mereka harus lebih mengasihi Yesus daripada mengasihi keluarga mereka. Di Israel zaman itu, seperti banyak masyarakat Mediterania, penghormatan terhadap orang tua adalah tugas suci bagi setiap anak. Ini adalah perintah keempat dari sepuluh perintah Allah. Bahkan jika seorang anak gagal menghormati orang tua mereka dan terus membuat orang tua sakit kepala, dia akan dihukum berat oleh masyarakat (lih. Deu 21: 20-21). Sebagai orang Yahudi, Yesus mengetahui hal ini dengan sangat baik, namun Dia tetap pada pendirian-Nya agar murid-murid-Nya harus terlebih dahulu berkomitmen kepada Dia dan Injil-Nya melebihi keluarga mereka. Apakah Yesus ingin memutus kita dari keluarga kita? Apakah mengikuti Yesus berarti meninggalkan keluarga kita? Apakah kasih terhadap Kristus bertentangan dengan kasih bagi keluarga?

Tuhan sungguh memanggil kita dengan keluarga kita dan sebagai sebuah keluarga, tapi Dia tidak memanggil kita hanya untuk keluarga kita. Rm. Enrico Gonzales, OP guru saya di Manila selalu berkata, “Kasih dimulai di rumah, tapi tidak berakhir di sana.” Kita pasti mengasihi keluarga kita, tapi sebagai orang Kristiani kita dipanggil untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar dan juga bumi kita ini. Tidak mungkin melayani orang lain, jika kesetiaan kita adalah untuk diri kita sendiri dan keluarga kecil kita. Banyak korupsi dan kejahatan terjadi karena kita ingin memperkaya diri sendiri dan keluarga kita dengan mengorbankan orang lain. Untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar, kita dipanggil untuk pertama-tama mengasihi Tuhan yang adalah Bapa bagi semua, yang memberi hidup, menurunkan hujan dan memberikan sinar matahari kepada yang baik dan tidak begitu baik. Yesus tidak ingin menghancurkan keluarga karena pastilah Dia mengasihi Maria dan Yusuf, namun Dia mengasihi Bapa-Nya lebih dari siapapun, dan kasih ini memberdayakan Dia untuk memberikan nyawa-Nya untuk kita semua yang Bapa-Nya kasihi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Eucharist and Justice

The Solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. June 18, 2017 [John 6:51-58]

“Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life, and I will raise him on the last day. (Joh 6:51)”

Sharing Bread 2Eating is essential to our life. Nobody would deny that eating is a matter of life and death, but there is always significant different between a beggar sitting by the gate of St. Domingo church and most of us who can enjoy a full meal three times a day. The beggar will ask himself, “How can I eat today?” While, we will inquire ourselves, “Where am I going to eat today? Is the ambience of the restaurant welcoming? Is the food as tasty as Filipino delicacy? Is the food safe from any cancer-causing substance?” For some, eating is about survival, but for some other, this phenomenon has evolved into something mechanically sophisticated. The society provides us with almost unlimited options of what we are going to eat, and seemingly we are masters of these foods as we possess the authority to choose what we like and shun what we don’t. But, we actually are slowly turning to be slaves of our appetite as we shift our focus not on the essential but on the trivial, like how we satisfy our fickle cravings.

 What we eat, how we eat, and where we eat reflect who we are, as well as our society, our world. While we can afford to eat at fine-dining restaurants, yet some of our brothers and sisters can only have one instant noodle for the whole day, it means there is something wrong with us, with our world. Once I watched a movie about two young ladies eating fried chicken in one of the fast food restaurants. They were not able to consume everything and threw the leftover at the garbage can. After some time, a poor man came and took that leftover. He brought that home and served it as the dinner for his small impoverished family. Yet, before they ate, they prayed and gave thanks for the food!

 Jesus offered Himself as food in the Eucharist, and this offer becomes the sign of the radical justice and mercy of God. It is mercy because despite nobody of us deserve His most holy body and blood, and attain the fullness of life and the resurrection of the body, He continues to give this profound grace to us. It is justice because He does not discriminate. All of us, whether we are men or women, whether rich or poor, whether healthy or sick, are created in His image and likeness and thus, invited to this sacred banquet. Yes, in the Eucharist, we only receive Jesus in a tiny and tasteless host, yet the small bread that scarcely fills our biological needs, is given to all who are coming to Him seeking rest and joy.

St. Paul in his first letter to the Corinthians rebuked the Christians there. One of the major reasons was that some (presumably rich) Christians refused to share the Eucharistic meal with other (presumably poor) Christians, and they let them without food. “When you meet in one place, then, it is not to eat the Lord’s supper, for in eating, each one goes ahead with his own supper, and one goes hungry while another gets drunk. (1 Cor 11:20-21). For Paul, this was a gross injustice and an offence against the Eucharist, because as Jesus gave His body and blood for all, so Eucharist has to symbolize this God’s radical self-giving.

Are we like the Corinthians who take the Eucharist yet neglect our hungry brothers and sisters around us? Are we living our identity as God’s image, and thus, reflect God’s radical justice? Do we become more like Christ, and manifest His boundless mercy? Do the body and blood of Christ in the Eucharist have effect in us?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekaristi dan Keadilan

Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. 18 Juni 2017 [Yohanes 6: 51-58]

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman (Yoh 6:54).”

Sharing BreadTidak ada yang menyangkal bahwa makan adalah masalah hidup dan mati, tapi selalu ada perbedaan yang signifikan antara seorang pengemis yang duduk di gerbang gereja dan kebanyakan dari kita yang dapat menikmati makanan lengkap tiga kali sehari. Pengemis itu akan bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana saya bisa makan hari ini?” Sementara, kita akan bertanya kepada diri sendiri, “Ke mana saya akan makan hari ini? Apakah suasana restoran nyaman? Apakah makanannya lezat sesuai cita rasa Indonsia? Apakah makanannya aman dari zat penyebab kanker?” Bagi sebagian orang, makan adalah tentang kelangsungan hidup, namun untuk beberapa dari kita, fenomena ini telah berkembang menjadi sesuatu rumit. Pasar memberi kita pilihan yang hampir tak terbatas tentang apa yang akan kita makan, dan tampaknya kita adalah raja dari makanan ini karena kita memiliki kekuasaan untuk memilih apa yang kita sukai. Tapi, kita sebenarnya perlahan berubah menjadi budak nafsu makan kita saat kita mengalihkan fokus bukan pada hal yang esensial tapi pada hal-hal sepele seperti bagaimana kita memuaskan hasrat kita yang terus berubah-ubah.

 Apa yang kita makan, bagaimana kita makan, dan di mana kita makan mencerminkan siapa diri kita, masyarakat kita, dan dunia kita. Sementara kita bisa makan di restoran mahal, beberapa saudara-saudari kita hanya bisa memiliki satu mi instan untuk sepanjang hari. Ini artinya ada yang tidak beres dengan kita, dengan dunia kita. Suatu ketika saya menonton film pendek tentang dua wanita muda yang sedang makan ayam goreng di salah satu fast food. Mereka tidak mengkonsumsi semuanya dan membuang sisa makanan ke tong sampah. Setelah beberapa lama, seorang pria miskin datang dan mengambil sisa makanan itu. Dia membawanya pulang dan menyajikannya sebagai makan malam untuk keluarga kecilnya yang miskin. Namun, sebelum mereka makan, mereka berdoa dan mengucap syukur atas makanan tersebut!

 Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan dalam Ekaristi, dan ini menjadi tanda keadilan dan kerahiman Allah. Ini adalah tanda kerahiman karena walaupun kita tidak layak mendapatkan tubuh dan darah-Nya yang kudus, Dia terus memberikan rahmat yang luar biasa ini kepada kita. Ini adalah tanda keadilan karena Dia tidak melakukan diskriminasi. Kita semua, apakah kita laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, sehat atau sakit, diciptakan menurut citra-Nya dan dengan demikian, kita semua diundang ke perjamuan suci-Nya ini. Ya, dalam Ekaristi, kita hanya menerima Yesus di hosti yang mungil dan tawar, namun roti kecil ini diberikan kepada semua orang yang datang kepada-Nya untuk menemukan kepenuhan hidup dan sukacita.

Santo Paulus dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus menegur jemaat di sana. Salah satu alasan utamanya adalah bahwa beberapa jemat (terutama yang kaya) menolak untuk berbagi perjamuan Ekaristi dengan jemaat lain (yang lebih miskin), dan bahkan mereka membiarkan mereka tanpa makanan. “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk (1 Kor 11: 20-21).” Bagi Paulus, ini adalah ketidakadilan dan pelanggaran berat terhadap Ekaristi, karena sama seperti Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya untuk semua orang, maka Ekaristi harus melambangkan pemberian diri Allah yang radikal ini.

Apakah kita seperti jemaat Korintus yang ikut Ekaristi namun menelantarkan saudara-saudari kita yang lapar dan miskin di sekitar kita? Apakah kita menjalani identitas kita sebagai citra Allah, dan dengan demikian, mencerminkan keadilan radikal Allah? Apakah kita menjadi lebih seperti Kristus, dan mewujudkan kerahiman-Nya yang tak terbatas? Apakah tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi sungguh mengubah kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Access  

 

Fourth Sunday of Easter. May 7, 2017 [John 10:1-10]

 “I am the gate. Whoever enters through me will be saved, and will come in and go out and find pasture (Joh 10:1)”

gate of the sheep 1Jesus is not the gatekeeper, but Jesus is the gate Himself. A gate or a door gives a passage or access to a sheepfold, a house, a building or a room. It both separates and connects the insiders and the outsiders. In fact, the gate is as essential as the house itself. What is the building without a door or an entry point? It is either a construction error or it is not a sheepfold or a house at all. The gate is not only an accessory to the house, but it also defines the house itself. Is it an accessible house, locked house or not a house at all?

 Being part of the digital generation, we have our own ‘gateway’. In our familiar terms, this is the access, the connection or the networking. We use this access to communicate, to work and even to make important decisions. It turns to be part of who we are, as we crave for it, demand it, and fight for it. Sometimes, I get upset because the connection is poor inside the formation house that I cannot communicate with my family in Indonesia. A child as young as one year old knows how to manipulate an iPhone, and cries loudly when the parents try to take it away from him. Many researchers conclude that Facebook has become another new kind of addiction, as more and more millennials are spending more time on FB.  Lesley Alderman of The New York Times said that we check our cellular phone at an average of 47 to 82 times a day precisely because the access it gives us to almost everything.

Yet, it is not only about addiction or having fun. It is about our lives. A lot companies, jobs and workers are now dependent on this access, something which did not exist twenty years ago. Better connection means faster transaction, the richer the company becomes. The same access is used to control remotely unmanned machines, like drone. Some drones are used for photography, fun and researches, but others can be used to carry powerful explosives. Now, the access can either make us or destroy us.

In today’s Gospel, Jesus introduces Himself as the gate, the access or the connection to the fullness of life. Now, it is up to us whether we enter this gate and use this access, or refuse to enter and waste the connection. If we examine our daily lives, how many hours do we avail of this divine access? We might be upset if we lose our internet connection, but do we get the same feeling when we miss the connection with God? How many hours do we spend for browsing the internet, and eagerly chat with our online friends, compared to the time we use to read the Bible and worship Jesus in the Eucharist? We might be surprised that we actually only remember God on Sunday. And in fact, within the Mass, we are also preoccupied with what inside our phone!

It is one of the fundamental reasons why many of us are unhappy, restless, and at a lost despite the success, riches and other access we possess. Perhaps, it is good to disconnect first from the many connections we have, and connect to the true source of joy. If we are not finding lives meaningful, it is because we are not entering that gate that leads us to the fullness of life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Akses

Minggu Paskah keempat. 7 Mei 2017 [Yohanes 10: 1-10]

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 1).”

gate of the sheep 2Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?

 Menjadi bagian dari generasi digital, kita memiliki ‘pintu gerbang’ kita sendiri. Dalam istilah harian kita, inilah akses, koneksi atau jaringan. Kita menggunakan akses untuk berkomunikasi, bekerja dan bahkan membuat keputusan penting. Koneksi telah menjadi bagian dari diri kita, karenanya kita menginginkannya, menyanyanginya, dan memperjuangkannya. Terkadang, saya kesal karena koneksi buruk di dalam rumah formasi sehingga saya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia. Seorang anak berumur satu tahun bahkan sudah tahu bagaimana cara memanipulasi iPhone, dan menangis saat orang tuanya mencoba untuk mengambil iPhonenya tersebut. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi jenis kecanduan baru, karena semakin banyak kaum milenial menghabiskan lebih banyak waktu di FB lebih dari hal-hal esensial lainnya. Lesley Alderman dari The New York Times mengatakan bahwa kita mengecek telepon seluler kita rata-rata 47 sampai 82 kali per hari. Ini karena akses yang diberikan bagi kita ke hampir semua hal.

Namun, bukan hanya tentang kecanduan atau bersenang-senang. Akses adalah hidup kita. Banyak perusahaan, profesi dan pekerja sekarang bergantung pada akses internet ini, sesuatu yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu. Adik saya bekerja sebagai coordinator lapangan di sebuah perusahan nasional, dan dia mengkoordinasi anak buahnya, mengecek perkerjaan mereka, dan membeli kebutuhan di lapangan. Semua ini dilakukan di depan laptopnya! Koneksi yang lebih baik berarti transaksi lebih cepat, semakin kaya perusahaan tersebut. Akses yang sama digunakan untuk mengendalikan mesin tak berawak jarak jauh, seperti drone. Beberapa drone digunakan untuk fotografi, hobi dan penelitian, namun beberapa lainnya membawa bahan peledak yang kuat. Sekarang, akses ini bisa membantu kita atau menghancurkan kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu, akses atau koneksi menuju kepenuhan hidup. Sekarang, terserah kita apakah kita mau masuk ke pintu ini dan menggunakan akses ini, atau menolak untuk memasuk dan menyia-nyiakan koneksi ini. Jika kita memeriksa kehidupan kita sehari-hari, berapa jam kita memanfaatkan akses ilahi ini? Kita mungkin kesal jika kita kehilangan koneksi internet, tapi apakah kita kesal saat kita kehilangan koneksi dengan Tuhan? Berapa jam kita habiskan untuk browsing internet, dan dengan penuh semangat chatting dengan teman-teman online kita? Tetapi berapa jam kita gunakan untuk membaca Alkitab dan menyembah Yesus dalam Ekaristi? Kita mungkin terkejut bahwa kita sebenarnya hanya mengingat Tuhan pada hari Minggu. Dan faktanya, dalam Misa, kita juga sibuk dengan apa yang ada di dalam HP kita!

Ini adalah salah satu alasan mendasar mengapa banyak dari kita tidak bahagia, gelisah, dan tersesat meski sukses, kaya, dan akses lainnya yang kita miliki. Mungkin, sebaiknya lepaskan dulu banyak koneksi yang kita miliki, dan hubungkan diri kita kembali ke sumber sukacita sejati. Jika kita tidak menemukan hidup bermakna, ini karena kita tidak memasuki pintu yang membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Paradox of Resurrection

Second Sunday of Easter. April 23, 2017 [John 20:19-31]

“Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

doubting thoms 1Thomas was looking for a proof that Jesus truly rose from the dead. Not only seeing Him in person, he required another sign: touching the crucifixion marks that Jesus bore.  He was one of the Twelve, the inner cycle of Jesus’ disciples, and being one, he had the privilege to walk with Jesus, dine with Him, and witness His mighty deeds. At a first glance, he would easily recognize Jesus, his Master, but still, he demanded the marks of the nails. Why did Thomas insist on searching the wounds?

The reason is that Thomas wanted to make sure that he and other disciples were not seeing a ghost or just hallucinating. Moreover, he wanted to confirm that the person he was going to meet was truly Jesus and not an impostor. The crucifixion wounds of Jesus became a practical identification of the risen Christ. Though it is really practical, there is also a downside of it. Thomas identified Jesus primarily with His wounds. Thomas was not alone here. Often, not only doubting, we follow Thomas also in identifying other people with their wounds and weaknesses.

Napoleon Bonaparte was once a great general and he led his army to conquer Europe. Yet, in 1815, in the battle of Waterloo in present-day Belgium, Napoleon was defeated and it was sealed his fate. Waterloo gradually becomes not only the crucifixion mark of Napoleon but also a metaphor for the failures of many people. The same goes with Achilles who was a hero in Greek Mythology and the main protagonist of Homer’s epic, the Iliad. He was the most skillful warrior who brought the mighty Troy to its knees. He had only one vulnerable point in his body, his heel, and indeed, he died after the enemy shot an arrow to his heel. Even the greatest warrior has his weakness, and since then, the Achilles’ heel becomes a symbol of fatal weakness to everyone.

We have our own weaknesses, failures, and vulnerabilities. Often, we associate ourselves or other people with this wounds and marks. Bayu, who is always late; Alex, the jobless; Ram, the sickly; Andre, the obsessed; Francis, the ex-con; Peter, the impulsive denier; Thomas, the doubter; Mary, possessed by the seven demons; Judas, the betrayer; Jesus, the crucified. We are our wounds. We are as good as the mark we bear.

However, in today’s Gospel, Jesus did not rebuke Thomas for looking only for His marks. Jesus did not demand Thomas to focus on the best of Him. He even asked him to see and touch the wounds. Jesus embraced the very marks of His defeat and made it a sign of His resurrection. This has become the proof of God’s marvelous works, and the counter place between Thomas and God. It is not a ‘positive talk’ that goes “if you fail a hundred times, get up one hundred and one times!” It goes beyond it. The resurrection calls us neither to deny nor to hide our weaknesses, but to see the Lord even in these lowest situations of our lives. At times, when we are weak, our defenses are down, and it is the time, God enters our lives. At times, when we fail and lose, we fall to our knees and pray. This is the paradox of the resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Paradoks Kebangkitan

Minggu Paskah kedua. 23 April 2017 [Yohanes 20: 19-31]

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya (Yoh 20:25).”

Jesus appears to Thomas - John 20:24-29

Thomas sedang mencari bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian. Tidak cukup  baginya untuk melihat Yesus dengan matanya, Thomas membutuhkan bukti lain: menyentuh luka-luka bekas penyaliban Yesus. Thomas adalah salah satu dari dua belas rasul yang merupakan lingkaran dalam murid Yesus. Sebagai bagian dari dua belas rasul, Thomas memiliki hak istimewa untuk berjalan bersama Yesus, makan bersama-Nya, dan menyaksikan perbuatan-Nya yang perkasa. Sekilas, dia akan dengan mudah mengenali Yesus, Gurunya, tapi tetap saja dia menuntut bekas luka-luka Yesus. Mengapa Thomas bersikeras untuk mencari luka-luka itu?

Alasannya adalah bahwa Thomas ingin memastikan bahwa dia tidak melihat hantu atau hanya berhalusinasi. Selain itu, dia ingin memastikan bahwa orang yang akan dia temui benar-benar Yesus, dan bukan seorang penipu yang menyerupai Yesus. Luka-luka penyaliban Yesus menjadi bukti identifikasi Kristus yang bangkit. Meski sangat praktis, ada juga sisi negatifnya. Thomas mengidentifikasi Yesus terutama dengan luka-luka-Nya, kelemahan-Nya. Thomas tidak sendirian di sini. Seringkali, kita juga mengikuti Thomas dalam mengidentifikasi orang lain dengan luka dan kelemahan mereka.

Kita memiliki kelemahan, kegagalan, dan luka kita masing-masing. Seringkali, kita mengasosiasikan diri kita atau orang lain dengan luka dan kelemahan ini. Bayu, yang selalu terlambat; Alex, seorang pengangguran; Roy, si pesakitan; Andre, yang gemuk; Fransiskus, si pembohong; Petrus, si penyangkal; Thomas, si peragu; Maria, yang dirasuki oleh tujuh setan; Yesus, yang tersalibkan. Kita adalah luka-luka kita. Kita tidaklah lebih baik dari tanda kelemahan yang kita tanggung.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus tidak menegur Thomas karena hanya mencari tanda-tanda-Nya. Yesus tidak menuntut Thomas untuk mencari yang terbaik dari-Nya. Dia bahkan memintanya untuk melihat dan menyentuh luka-luka-Nya. Yesus merangkul tanda-tanda kekalahan-Nya dan menjadikannya tanda kebangkitan-Nya. Ini telah menjadi bukti karya Tuhan yang luar biasa, dan tempat pertemuan antara Thomas dan Tuhan. Ini bukan sekedar ‘berpikiran positif’ yang berseru ,“Jika kamu gagal seratus kali, bangunlah seratus satu kali!” Kebangkitan memanggil kita untuk tidak menyangkal atau menyembunyikan kelemahan kita, tapi untuk melihat Tuhan bahkan dalam situasi hidup kita yang paling rendah ini.

Waktu saya kelas satu SD, nilai saya merah di hampir semua mata pelajaran. Sayapun tidak naik kelas dan diminta untuk mengulang. Ini adalah sesuatu yang memalukan dan menyedihkan bagi saya dan keluarga. Kepercayaan diri saya hilang dan saya mulai berpikir bahwa saya adalah anak bodoh dan tidak memiliki masa depan. Tetapi, orang tua saya tidak menyerah. Mereka terus mendukung dan memberikan yang terbaik bagi saya. Sayapun perlahan maju dan berkembang. Melihat kembali pengalaman ini, saya bersyukur karena saya menemukan Tuhan bahkan di dalam pengalaman paling buruk dalam hidup saya. Tuhan yang bangkit hadir di dalam orang tua saya.

Di saat kita lemah dan terluka, di saat kita tidak lagi bisa membanggakan segala hal keberhasilan kita, inilah saatnya Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita. Saat kita gagal dan kalah, kita berlutut dan berdoa. Di dalam luka dan kelemahan, kita menemukan Yesus yang bangkit. Inilah paradoks kebangkitan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP